Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 67


__ADS_3

Aku minta maaf ya...


Telat update...


Soalnya reviewnya lama, gagal terus jadi terpaksa buat lagi


Pengennya, malam pertama Daniel nggak aku skip tapi apa daya, Mpok Ton tidak juga meluluskan nya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Jadi terima apa adanya ya asal bisa up terus๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Happy reading...


Bella mengigit jari telunjuk saat Daniel menjelajahi punggung terbukanya. Lenguhan lolos begitu saja dari bibir Bella, membuat Daniel semakin tidak bisa menahan hasratnya lagi.


"Kita lanjutkan di dalam." Tanpa persetujuan, Daniel mengangkat tubuh Bella lalu menidurkannya di atas ranjang sederhana miliknya.


Tatapannya Daniel begitu nanar, dan di balas dengan wajah tegang Bella dengan mata bulatnya.


"Lanjutkan apa Kak?" Tanyanya pelan.


"Aku ingin seperti tadi lagi sayang." Bella bernafas lega mendengar itu. Dia fikir Daniel akan menagih malam pertamanya, namun ternyata tidak.


Daniel berbaring di sampingnya, mengusap pipinya lalu melahap bibirnya dengan tangan yang sibuk membelai.


Bella memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut itu hingga tanpa sadar tangan Daniel menarik bra miliknya dan membuangnya sembarangan.


"Kenapa selalu di buang begitu Kak." Matanya membulat seraya menyilangkan kedua tangannya. Mencoba menutupi dadanya yang kini menjadi tontonan indah untuk mata nakal Daniel.


"Nanti ku belikan."


"Begitu terus dari tadi." Celetuk Bella tidak di dengarkan.


Daniel mencumbu tangan kecilnya, membuat Bella perlahan menurunkannya. Memperlihatkan dada yang cukup besar untuk ukuran gadis seumurannya, membuat Daniel gelap mata dan langsung melahapnya secara bergantian.


Bibir Bella setengah terbuka, sesekali mendongak, menikmati permainan bibir Daniel yang melenakan. Tangannya mengusap kasar rambut tebal itu dan meremasnya lembut. Menginginkan lidah Daniel lebih menusuknya lagi dan lagi.


Daniel sendiri terbawa suasana saat aroma khas tubuh Bella melalui rongga hidungnya. Dia menghirupnya kuat dan tanpa sadar belaian tangannya sampai pada milik Bella.


Sontak saja Bella merapatkan pahanya karena tidak ingin Daniel tahu, jika dia cukup bersih untuk di masuki.


"Apa ini sayang?" Tanya Daniel penuh hasrat. Tersenyum penuh tipu daya, merencanakan sebuah rayuan ampuh agar Bella mau memberikan jatah malam pertamanya.


"Aku belum cukup bersih." Jawab Bella lirih. dia merasa bodoh karena tidak menutup itu dengan baik.


"Ini sudah bersih, kamu sudah tidak memakainya. Biarkan aku melihatnya." Daniel duduk, melepaskan dress Bella seluruhnya lalu celana pendeknya dan menyisakan kain tipis berbentuk segitiga.


"Kak. Aku takut." Cegah Bella tidak membuat Daniel berhenti. Dia menyentuhnya, membuat kaki Bella menegang.


"Takut apa? Aku tidak akan melakukannya tanpa izin." Tapi akan ku buat kamu memintanya padaku sayang...


Tangan Daniel mulai mengusap, menekan dengan sorot mata hangat, menatap Bella yang terlihat menikmati permainannya. Tangannya yang terasa basah, membuat Daniel tahu jika Bella siap untuk di masuki.


"Boleh aku melihatnya?"


"Tidak." Jawab Bella cepat.


"Hanya melihat saja, ini terlihat lain dari milikku sayang." Bella mendengus mendengar itu.


"Ya jelas lain Kak."


"Hehe. Maka dari itu, biarkan aku melihatnya."


"Tidak!"


"Hm baik." Daniel kembali berbaring dan tidak ingin memaksa." Kita berciuman saja." Ucapnya seraya melepaskan kaosnya lalu merapatkan tubuhnya.


Gleg!


Bella menelan salivanya kasar, menahan godaan gumpalan otot yang ada di hadapannya terasa hangat nan keras.


Saat bibirnya akan berprotes, Daniel melahapnya lagi dengan cara yang lebih ekstrim sebab kulit keduanya saling bersentuhan. Ciuman itu turun dan terus turun membuat Bella kehilangan akal sehat dan membiarkan Daniel melepas kain berbentuk segitiga.


Bella mengigit bibir bawahnya, merasakan sensasi geli luar biasa di bawah sana. Sesekali maniknya menatap sayu, ke arah Daniel yang tengah mencumbu miliknya.


"Basah sekali di sini, aku suka." Bibir Bella bungkam, tidak dapat menolak, sebab dia ingin itu. Ingin Daniel menyentuhnya lebih dari itu.


"Rasanya sangat aneh." Lenguh Bella merapatkan pahanya. Tubuhnya bergerak tidak beraturan sehingga Daniel menjadi tidak tahan dan melepaskan celananya begitu saja.


"Ini pertama untukku sayang." Ucap Daniel saat sudah menindih tubuh Bella dengan benda menggeras yang ada di bawah.


"I itu apa Kak?" Tanya Bella merasa aneh dengan benda panjang yang ada di sekitar pahanya.


"Milikku dan akan menjadi milikmu." Daniel kembali mencumbu, memberikan rangsangan agar Bella lebih rileks. Sehingga dia akan melakukan tanpa paksaan.


"Gatal sekali Kak." Ucap Bella parau, tubuhnya bergerak tidak beraturan menginginkan pelepasan yang sengaja tidak Daniel berikan.


"Aku berjanji sakitnya akan sebentar." Daniel memposisikan miliknya, sementara Bella merasa tegang setengah mati. Otot-ototnya terasa kaku, padahal Daniel baru memulainya." Rileks sayang." Pinta Daniel.


"Bagaimana bisa rileks jika nantinya akan sobek."


"Aku akan pelan-pelan."


"Pelan?" Bella menunduk namun Daniel menghalangi pandangannya.


"Jangan di lihat dan di fikirkan, rasakan saja." Bella menatap wajah tampan yang tengah menahan hasrat setengah mati. Masih berusaha memintanya untuk memberikan izin. Apalagi wajah tampan itu adalah milik suaminya, yang memang seharusnya wajib di layani.


"Tidak akan sampai mati kan Kak." Tanya Bella seraya tersenyum getir sebab ketakutannya tidak juga surut.


"Aku berjanji, kamu akan memintanya terus padaku jika sudah tahu rasanya."


"Katanya sakit."


"Sakit sedikit lalu sudah tidak." Daniel masih menekan hasratnya meski rasanya sudah sampai ke perbatasan.


"Jangan tinggalkan aku meskipun aku tidak seksi." Daniel terkekeh mendengar ucapan konyol Bella yang di rasa sangat tidak penting." Serius Kak!!" Imbuhnya kesal.


"Tidak akan sayang." Jawab Daniel tidak ingin memperpanjang pertanyaan.


"Hm lakukan." Dengan keberanian yang tersisa, Bella mengucapkannya meski jantungnya berpacu hebat.


"Maafkan aku sayang." Daniel menunduk, memposisikan miliknya lalu mendorongnya pelan.


"Ahh Kak." Tentu saja nyeri hebat di rasakan, padahal benda panjang itu belum sepenuhnya masuk." Rasanya panas. Cabut saja!!" Pinta Bella berusaha memberontak namun Daniel menghimpit tubuhnya.


"Syuuuuutttttt... Baby, percaya padaku. Ini hanya di awal." Jawab Daniel dengan nafas berat, bibirnya setengah terbuka memperlihatkan kesan seksi sehingga membuat Bella terhipnotis.


Astaga Kak Daniel.. Tampan sekali.. Dengan sadar, Bella mengalungkan kedua tangannya lalu melahap bibir berahang keras tersebut.


Daniel membalasnya dan berusaha mendorongnya lagi dengan nafas tersengal. Nyeri semakin terasa, hingga Bella melepaskan ciuman dan beralih pada pundak.


Saat dorongan terakhir terjadi, secara spontan Bella mengigit pundak itu. Melampiaskan rasa sakitnya dengan bulir air mata yang mulai menetes. Ada sesuatu yang lain tengah berada di bawah, sebab Daniel sudah berhasil menerobos dinding pertahanannya.


Daniel mendorong pundak Bella lembut, merasakan pundaknya yang basah karena air mata.


"Maafkan aku." Ucapnya memohon, membelai telinga Bella menambahkan kekuatan untuk tetap melanjutkannya.


"Cepat Kak." Pintanya ingin menuntaskan semuanya. Daniel mengusap lembut sudut matanya kemudian memberikannya rangsangan untuk memudahkannya bergerak.


Tangan Bella mencengkeram kuat, merasakan sensasi sakit namun nikmat saat Daniel menumbuk miliknya.


Rasanya sungguh luar biasa, hingga beberapa kali Bella meminta Daniel menambah tempo gerakkannya.


Ranjang berdecit, ikut menikmati penyatuan yang tengah berlangsung. Decitan itu semakin terdengar cepat, di iringi dengan suara erangan dan rintihan yang kian keras.


Tubuh Daniel ambruk, saat pelepasan sudah di dapatkan. Kepalanya menoleh, melihat istri kecilnya meringkuk dengan keringat yang membanjir tubuhnya.


Daniel merengkuh tubuh kecil itu untuk membisikan ucapan terima kasih atas malam ini.

__ADS_1


"Kita mandi sayang." Ucap Daniel seraya memakai celananya. Di melirik ke arah noda darah yang begitu banyak mengotori sprei. Apa dia terlalu kecil? Kenapa darahnya sebanyak ini? Daniel berdiri kemudian menghampiri Bella di sisi ranjang satunya.


"Aku lemas Kak." Jawabnya pelan.


"Kita langsung tidur?"


"Ini kotor." Daniel mengambil dress lalu mendudukkan Bella dan memakainya.


"Aku akan menggantinya." Daniel mengangkat tubuh Bella dan mendudukkannya di kursi.


"Kotor sekali Kak." Bella menatap ke pahanya yang ada noda darah.


"Hmm sebentar, biar ku bereskan spreinya."


"Sudah ku bilang aku belum selesai." Ucap Bella lagi membuat Daniel tersenyum seraya fokus mengganti sprei." Darahnya banyak sekali." Imbuhnya lagi.


"Iya sayang kamu belum selesai." Jawab Daniel tidak ingin Bella terlalu memikirkan soal selaput darahnya yang sudah robek." Aku menaruh ini dulu." Daniel membawa sprei kotor dan kembali dengan baskom juga handuk kecil.


"Mau apa Kak." Tanya Bella ketika melihat Daniel duduk di bawah.


"Diamlah." Daniel membersihkan noda darah di paha juga milik Bella dengan handuk tersebut, membuat wajah Bella memerah karena malu.


"Sebenarnya aku bisa sendiri." Tapi sakit sekali.. Seringai Bella ketika merasakan nyeri pada bawah perutnya.


"Sudah bersih." Daniel berdiri lalu membuka lemari untuk mengambil celana bersih dan pembalut." Aku tidak tahu cara memasangnya." Bella mengambilnya dengan cepat.


"Ahh memalukan." Gumamnya kesal.


"Tidak boleh malu, aku sudah melihat semuanya."


"Tetap saja malu."


"Pasangkan cepat." Bella melirik malas dan memasangnya." Sini biar ku bantu sayang." Tawar Daniel ketika pembalut sudah terpasang.


"Aku bisa." Bella menunduk namun terhenti ketika nyeri kembali terasa." Ahh sakit.." Eluhnya. Daniel menarik nafas panjang kemudian merebut celana itu dan membantu Bella memakaikannya." Biar aku." Bella berdiri dan menaikkan celananya dengan bantuan Daniel.


"Kita tidur." Daniel mengangkat tubuh Bella lagi dan membaringkannya di ranjang." Kamu lapar sayang?" Bella menggeleng seraya fokus menatap langit-langit. Tubuhnya terasa kaku dan nyeri setelah tadi.


"Kak Daniel makan saja." Imbuhnya pelan.


"Hm ku bawa ke sini, mungkin saja kamu mau."


"Iya." Daniel mengecup pipi Bella sejenak kemudian keluar untuk mengambil makanannya. Saat kembali, Bella sudah tertidur pulas dengan bibir setengah terbuka.


.


.


.


.


.


Daniel terjaga, ketika mendengar suara gemeletuk gigi saling bertabrakan. Wajahnya berubah panik, merasakan suhu tubuh Bella terasa meningkat bahkan sangat panas.


Daniel segera duduk lalu menempelkan tangannya pada dahi Bella yang masih memejamkan mata.


"Maafkan aku.." Daniel langsung menebak jika sakit yang di derita Bella akibat dari pertempurannya semalam.


"Kak dingin sekali."


"Tunggu sayang." Daniel berdiri untuk mengambil piyama miliknya. Dia tidak memikirkan ini sebelumnya. Dia hanya membelikan baju tidur berbentuk dress pada Bella, sehingga baju itu tidak akan berguna jika di pakai dalam keadaan sakit seperti sekarang." Pakai ini biar tidak terlalu dingin." Daniel mendudukan tubuh Bella dan menarik dress-nya lalu menggantinya dengan piyama berlengan panjang plus celananya." Tubuh mu seperti api sayang. Maafkan aku." Bella tidak bergeming dan kembali berbaring. Dia bosan mendengar Daniel meminta maaf meski bibirnya tidak dapat berprotes." Kita ke dokter ya." Bella menggeleng dengan masih memejamkan mata.


"Beli obat saja Kak. Aku tidak mau ke dokter." Gumam Bella pelan.


"Tidak boleh beli obat sembarangan, kita pergi ke dokter ya." Bella memegang lengan Daniel untuk mencegahnya pergi.


"Aku tidak mau ke dokter." Protesnya lagi.


"Aku tidak tahu."


"Lalu bagaimana sayang? Demam nya sangat tinggi."


"Tunggu sampai pagi saja."


"Aku ambilkan kompres." Daniel melepaskan pegangan tangan Bella." Tunggu sebentar sayang." Imbuhnya berjalan keluar kamar mengambil air untuk mengompres.


Beberapa saat kemudian, Daniel kembali dengan baskom dan handuk kecil. Dia duduk di pinggiran ranjang lalu menempelkan handuk basah di kening Bella.


"Aku tidak akan melakukannya lagi." Gumam Daniel merasa menyesal meski tidak dapat di pungkiri jika dia sangat bahagia.


"Melakukan apa Kak." Tanya Bella. Daniel menoleh, melihat Bella masih memejamkan matanya namun jemari kanannya memegang erat tangannya.


"Semalam sayang. Rasanya tubuh mu belum siap menerima itu semua."


"Aku siap Kak." Sahut Bella cepat." Jangan bicara macam-macam. Jika sudah sembuh, aku akan memberikannya lagi. Sekarang aku ingin tidur dulu, mataku rasanya panas." Daniel tersungging seraya membetulkan selimut sementara tangan satunya di genggam.


Aku akan memintanya jika hasratku sudah berada di ubun-ubun. Aku kasihan melihatnya sakit seperti ini..


Daniel memutar tubuhnya agar dia bisa duduk tegak. Punggungnya bersandar pada ranjang, berusaha untuk tetap terjaga meski kantuk memang terasa.


Beberapa menit memang matanya terbuka menutup, hingga akhirnya dia ikut terlelap dengan posisi duduk.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya....


"Bellaaaaa.." Panggil Erin setengah berteriak namun tidak ada jawaban dari dalam. Biasanya selalu ada Daniel yang membukakan pintu jika Bella masih tidur." Apa tidak ada di rumah?" Ucap Erin seraya melihat ke arah Sari untuk meminta pendapat.


"Mobilnya ada di rumah kok Rin."


"Tapi biasanya Kak Daniel yang keluar jika memang Bella masih tidur. Bellaaaaa." Teriak Erin lebih kencang.


Sementara di dalam rumah, Bella terjaga karena panggilan tersebut. Dia melihat ke atas, menatap ke Daniel yang tertidur dengan posisi terduduk.


"Kak.. Kak Daniel.." Panggil Bella lemah. Daniel menggeliat lalu menguap dan menoleh menatap Bella.


"Ada apa sayang.."


"Bella..." Suara Erin masih saja memanggil.


"Temanku Kak." Daniel baru ingat jika Bella sakit, dia kembali memeriksa dahi Bella yang masih demam.


"Sebentar sayang." Dengan raut wajah khawatir, Daniel keluar untuk menemui Erin dan Sari yang ternyata membawa sebuah bungkusan di tangan. Itu kenapa mereka tidak juga pergi karena merasa belum menyampaikan amanat." Maaf kesiangan." Daniel segera membuka gembok yang melilit pintu pagarnya.


"Maaf Kak menganggu." Jawab Erin tersenyum, menatap Daniel yang masih berantakan namun tetap saja terlihat tampan.


"Tidak menganggu. Aku malah tidak akan bangun jika bukan kalian."


"Bella masih tidur?"


"Dia sudah bangun tapi sedang tidak enak badan."


"Benarkah?" Daniel tersenyum seraya mengangguk.


"Ini dari Mama Kak."


"Astaga.. Terimakasih."

__ADS_1


"Sama-sama. Boleh kita menengok sebentar."


"Boleh sekali. Mari."


Daniel berjalan masuk di ikuti oleh Erin dan Sari, keduanya di giring ke kamar. Bella terlihat memejamkan mata meski tidak tidur.


"Apa kemarin kehujanan Kak? Biasanya Bella kuat kok." Tanya Erin bergumam.


"Iya. Dia jarang sakit dan tidak pernah tiduran hingga berantakan seperti itu." Imbuh Sari menimpali.


"Tidak pernah bukan berarti tidak bisa." Sahut Bella lirih.


"Ya ampun beb.." Erin mendekati ranjang dan duduk di pinggiran ranjang, dia memeriksa dahi Bella yang terasa panas." Panas sekali. Kamu harus ke dokter." Tutur Erin menggoda, dia tahu Bella takut pergi ke dokter karena jarum suntik.


"Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh minum obat dan sembuh."


"Sepertinya tidak bisa, ini sangat parah Kak." Jawab Erin tersenyum. Daniel berdiri di ambang pintu karena tidak mengerti situasinya sementara Sari langsung menyusul Erin masuk.


"Astaga iya panas sekali. Ini perlu di suntik dan di infus." Mata Bella terbuka lalu berusaha duduk meski pusing hebat menyerang.


"Agh!! Sakit sekali, aku tidak kuat." Bella kembali berbaring sementara Erin terkekeh bersama Sari." Jahat sekali kalian!!" Umpatnya.


"Bercanda Bell." Sari membuka tasnya dan mengeluarkan kotak obat yang selalu di bawa." Untung aku bawa ini." Sari mengambil obat penurun panas." Cepat sembuh ya, tapi harus makan dulu." Imbuhnya berdiri lalu memberikan obat pada Daniel." Ini obat yang biasa di minum Bella Kak." Daniel tersenyum dan menerimanya.


"Tapi kalau tetap tidak sembuh ya terpaksa di bawa ke dokter."


"Aku mati saja jika di bawa ke dokter!!".


"Itu benar sayang." Jawab Daniel lirih.


"Aku tidak mau! Aku mati saja jika di bawa ke dokter."


"Apa yang terjadi?" Daniel duduk di sisi ranjang satunya.


"Dia takut jarum suntik Kak Daniel." Jawab Erin tersenyum.


"Sejak semalam sudah akan ku bawa ke dokter tapi dia tidak mau."


"Dia tidak akan mau Kak. Kita pergi dulu ya Bell. Cepat sembuh." Erin mencium pipi Bella sejenak kemudian berdiri." Permisi Kak Daniel." Imbuhnya.


"Terimakasih ya."


"Sama-sama Kak." Setelah Erin dan Sari pergi, Daniel kembali membetulkan selimut Bella.


.


.


.


.


"Sudah cukup.." Tolak Bella saat Daniel menyodorkan bubur yang di belinya dengan memesan.


"Setelah ini minum obat, satu kali lagi."


"Tidak Kak. Kepalaku pusing sekali." Eluh Bella bersandar lemah pada pundak Daniel.


"Hm minum obat ya." Daniel meletakkan mangkuk bubur lalu menyiapkan obat di telapak tangannya. Bella mengambilnya lalu meminumnya dan kembali berbaring.


Jika aku sakit. Kak Daniel tidak akan bertemu Nona Nara.. Di luar dugaan, Bella masih memikirkan itu. Dia sangat tidak rela melihat Daniel akrab dengan wanita lain.


Bella melingkarkan tangannya pada paha kanan Daniel, memegangnya erat karena tidak ingin Daniel pergi diam-diam.


"Aku akan mandi sebentar sayang." Izin Daniel tidak di dengarkan. Bella masih tidak bergerak bahkan membalas ucapan Daniel." Aku tahu kamu tidak tidur." Imbuh Daniel membiarkan saja tangan Bella melingkar di pahanya. Dia meraih sisa bubur Bella dan memakannya.


"Aku pusing." Jawab Bella singkat dan begitu lirih.


"Iya aku tahu. Jadi, aku boleh mandi sebentar?" Tanyanya mengulang.


"Mau kemana mandi! Bukankah gudangnya sudah terbakar? Aku tidak mau Kak Daniel keluar hari ini apalagi untuk menemui Nona Nara!!" Jawab Bella seraya memijat kepalanya yang hampir pecah. Daniel meletakan mangkuk bubur dan memijat kepala Bella lembut.


"Apa hatimu sakit sayang?"


"Sesak bukan sakit!!" Bella mengangkat sedikit kepalanya dan bertumpu pada paha Daniel.


Apa semua wanita selalu seperti ini? Mengungkit masalah kemarin dan menumpuknya menjadi satu hehe.. Padahal aku sudah menjelaskannya tapi dia tidak juga mengerti..


"Aku tidak akan pergi. Aku hanya mau mandi sayang."


"Untuk apa mandi sih Kak?!! Kenapa terus saja melawan? Aku bilang tidak mandi ya tidak mandi!! Kak Daniel harus di sini." Jawab Bella tidak bisa di ganggu gugat.


"Oke sayang. Istirahatlah.. Jangan marah-marah, aku takut kamu bertambah sakit." Daniel menunduk lalu mengecup sebentar bibir Bella dan kembali duduk tegap.


"Nanti tertular, jangan cium dulu." Protes Bella.


"Iya.." Daniel bersenandung lirih, seperti kebiasaannya sejak awal, agar istri kecilnya bisa segera mendapatkan kantuknya.


****************


Semua staf Dans grup merasa binggung ketika Marco menyuruh semua anak buahnya berkumpul. Beberapa Dari mereka mengumpat dan beberapa lainnya tidak perduli. Namun suasana langsung hening, ketika Marco melangkah masuk ke ruangan.


Tak!!!


Marco meletakkan map dengan sangat kasar. Map itu berisi laporan penjualan yang menurun hampir 99 persen.


"Bagaimana cara kerja kalian!!!" Bentaknya mengebrak meja marmer di hadapannya, sehingga tangannya merasa nyeri meski tidak di tunjukkan karena tentu merasa malu.


"Maksudnya bagaimana?" Jawab Bu Eka sudah sangat lelah dengan kinerja Marco.


"Jika penjualan menurun, bagaimana kalian bisa ku gaji."


"Maaf Pak." Bu Eka yang notabenenya seorang wanita tegas, tidak segan-segan mengutarakan kekesalannya sebab merasa sangat tidak tahan." Bukankah itu salah Pak Marco sendiri. Bagaimana bisa perusahaan berjalan jika semua perangkat penting di handle oleh Bapak sendiri sementara Bapak tidak bisa berkerja dengan baik." Protes Bu Eka membuat semua staf mengangguk-angguk.


"Kau berani berkata begitu!! Memangnya siapa kamu!!"


"Saya memang bukan siapa-siapa Pak. Tapi dari sini, saya bisa menilai jika Pak Marco tidak becus mengelola perusahaan yang seharusnya memang bukan milik Bapak. Sebuah perusahaan tidak bisa berjalan jika Pak Marco mengelolanya sendiri! Jika memang Pak Marco merasa sibuk. Cari orang untuk jadi kaki tangan! Jangan membiarkan kita yang tidak tahu apa-apa harus menerima makian para relasi." Marco mendengus kesal, meski kenyataan itu memanglah benar.


"Kau akan ku pecat jika bicara sembarangan!!"


Tak!!!


Bu Eka melemparkan surat pengunduran diri, di ikuti oleh semuanya.


"Tidak perlu memecat kami! Kami mengundurkan diri!! Siapkan gaji kami juga pesangon sesuai dengan perjanjian awal." Ucap Bu Eka menuntut.


"Kalian mengundurkan diri, jadi tidak mungkin mendapatkan pesangon."


"Itu karena Pak Marco orang baru di sini. Saya bahkan masih mengingat bagaimana isi perjanjian kontrak itu!! Jika ada karyawan yang mengundurkan diri atau di pecat dalam alasan apapun, dia akan dapatkan 50 kali lipat dari besar gaji yang di dapatkan setiap bulannya." Marco menelan salivanya kasar, dia memang tidak tahu menahu soal itu.


"Itu kan aturan yang Pak Daniel buat." Bu Eka dan Lisa tersenyum tipis.


"Memang punya Pak Daniel dan kau mencurinya." Jawab Lisa secara gamblang, membuat Bu Eka menepuk jidat.


Sebenarnya Bu Eka tidak ingin membahas itu, mengingat Daniel yang seolah tidak lagi memperdulikan perusahaan, tapi kebodohan Lisa kembali di tunjukkan.


"Apa maksud mu!!" Bu Eka mencubit paha Lisa.


"Kau ingin di bunuh lelaki gila itu!! Jika iya, katakan macam-macam!!" Bisik Bu Eka memperingati Lisa untuk diam.


~Bersambung..


Updatenya lama jadi terpaksa aku ganti lagi๐Ÿ™๐Ÿ™


Semoga suka โค๏ธ


Terimakasih dukungannya

__ADS_1


__ADS_2