Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 50


__ADS_3

Lisa terus mengikuti laju mobil Daniel dari jarak aman. Keingintahuan Lisa semakin besar setelah melihat wajah Dimas yang di kiranya mirip Daniel, atasannya juga idolanya.


"Apa ada orang yang mirip sekali? Apa Dimas sudah mencukur kumis dan jangkungnya? Apa itu memang Pak Daniel? Astaga aku penasaran." Gumam Lisa fokus menatap jalan dan mobil Daniel.


Sementara Daniel sendiri langsung turun menunggu dengan bersandar pada body mobil. Lisa bergegas memakai jaketnya, tidak lupa dia mengambil masker dan mengikat rambutnya, agar Daniel tidak mengenalinya.


"Untung saja ada jaket di situ." Lisa memakai maskernya lalu turun berjalan menghampiri Daniel." Maaf permisi.." Ucap Lisa membuat Daniel menoleh. Ahhh di dia benar-benar Pak Daniel. Bagaimana mungkin Pak Daniel memakai mobil jelek seperti ini? Dan kenapa dia tidak ke perusahaan dan malah mengurus gudang tua itu?


Berbagai pertanyaan terbesit, meski Lisa masih ingin menyakinkan jika lelaki di hadapannya adalah Daniel.


"Iya. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Daniel ramah.


Dari suaranya memang mirip.. Jika aku bertanya namanya langsung, malah jadi aneh..


"Apa di sekitar sini ada ATM Kak."


"ATM ya?"


"Iya.. Saya baru saja pindah jadi tidak tahu." Tanya Lisa beralasan.


"Saya tidak seberapa tahu. Mungkin Nona bisa bertanya pada satpam sekolah itu."


Aku benar-benar yakin dia Pak Daniel..


"Pak.." Daniel melambai ke arah satpam sekolah.


"Ada apa ya?"


"Em apa di sini ada ATM terdekat Pak?" Tanya Lisa terpaksa bertanya itu agar Daniel tidak merasa curiga.


"Ada Non. Di ujung jalan sebelah kanan, dekat toko roti." Lisa mengangguk-angguk namun matanya melirik Daniel yang terlihat, tampan.


"Em terimakasih ya Pak, mari Kak." Lisa tersenyum di balik masker lalu berjalan menjauh menuju mobilnya yang terparkir di belokan. Dia tidak ingin Daniel mengenali mobilnya sehingga dia memarkirkannya sedikit jauh." Serius mirip sekali. Astaga Tuhan, apa benar dia Pak Daniel tapi, untuk apa dia hidup seperti sekarang dan tidak pernah ke perusahaan? Ah entahlah. Aku harus cari tahu lebih jauh lagi. Aku takut itu hanya orang yang mirip saja." Lisa kembali masuk ke dalam mobil dan mengakhiri pengintainya hari ini karena adanya janji dengan sang Mama.


.


.


Bella berdiri di depan kelas IPS menunggu Erin dan Sari yang belum keluar dari kelas. Sambil menunggu dia membuka pencarian di ponselnya untuk mempelajari bagaimana jual beli online bisa berjalan.


"Hai Bella." Sapa Sisca yang masih belum menyerah. Matanya melirik ke arah ponsel mahal Bella." Wah itu mahal." Bella melirik malas dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Kau tidak bosan jadi penjilat?" Jawab Bella ketus.


"Jahat sekali sih. Santai saja Bell. Aku boleh ikut pulang kan." Ucap Sisca lagi.


"Tidak!" Jawab Bella cepat.


"Kau kaku sekali sumpah."


"Daripada kau, tidak tahu malu."


"Pengen dekat saja Bell, duhhh! Pelit sekali. Kak Daniel juga bukan Kakak kandungmu." Tarikan nafas panjang berhembus. Bella sangat bosan mendengar ucapan Sisca berulang-ulang.


"Memang bukan. Aku tidak suka melihatmu dekat dengan Kak Daniel karena dia kekasihku!" Bella sangat terpaksa mengucapkan itu agar Sisca tidak lagi menganggunya dan bertanya soal Daniel. Bella sudah merasakan cemburu dan tidak ingin ada wanita lain mencoba menggoda atau sekedar berada di dekat Daniel.


"Kekasih? Pacar maksudmu?"


"Ya! Berhentilah menanyakannya terus dan terus! Aku tidak suka! Kau tahu itu!!" Sisca terkekeh mendengar itu. Tentu dia tidak percaya sebab Bella dan Daniel tinggal bersama.


"Kau bercanda? Apa kau berkata itu hanya agar aku menjauh."


"Aku serius! Dia milikku! Aku cemburu melihatmu menanyakannya terus." Tatap Bella tajam membuat Sisca memundurkan sedikit tubuhnya. Dia tidak pernah melihat Bella berbicara dengan raut wajah seserius sekarang.


"Kalian tinggal bersama hei Bella. Jika mungkin sebagai Kakak angkat masih bisa di cerna, tapi jika kau anggap Kak Daniel kekasih? Kau murah sekali.." Sisca yang sudah sedikit lelah karena pendekatannya tidak pernah berhasil, tentu tersulut emosi. Sifat aslinya muncul karena sebenarnya hingga detik ini, Sisca memang masih membenci Bella.


"Aku tidak perduli kau sebut aku murah. Jauhi dia!! Jangan menanyakan perihal Kak Daniel padaku. Dia milikku!!" Bella mendorong pundak Sisca sejenak dan akan melangkah pergi.


"Ku fikir kau suci Bella, ternyata hanya sok suci." Teriak Sisca seraya tertawa renyah.


Bella mengacungkan jari tengahnya ke arah Sisca kemudian berjalan pergi bersama Erin dan Sari yang baru saja keluar kelas.


"Sial!! Ku fikir dia suci ternyata hanya seorang gadis tidak benar!" Umpat Sisca masih tidak mengalihkan pandangannya ke Bella.


"Siapa maksudmu?" Sahut Samuel ingin tahu.


"Bella! Idolamu! Kau tahu jika lelaki yang biasa menjemputnya itu bukan Kakaknya?"


"Hm tahu." Jawab Samuel santai.


"Mereka tinggal berdua dalam satu atap. Apa seperti itu gadis idaman mu?"


"Bukankah kau tahu jika Bella habis terkena musibah? Meskipun mereka tinggal berdua asal tidak melakukan sesuatu yang buruk. Kenapa kau perduli sekali sih?"


"Aku bukan perduli."


"Lalu sikapmu?" Samuel tersenyum tipis.


"Mereka pasti melakukan hal yang tidak-tidak."


"Orang buruk selalu berfikiran buruk tentang orang lain juga."


"Aku buruk maksudmu?" Jawab Sisca ketus. Dia tidak menerima kenyataan yang di lontarkan Samuel padanya.


"Jika kau berada di posisi Bella bagaimana?" Sisca mendengus seraya melirik malas." Meskipun mereka berpacaran dan melakukan sesuatu. Itu bukan urusanmu Sisca. Akan lebih baik kau berkaca pada dirimu sendiri daripada harus mengurus hidup orang lain dan semakin membuatmu terlihat buruk." Imbuh Samuel berusaha membela.


Samuel memang sangat menyukai Bella. Tapi sejak dulu hingga sekarang, dia tidak pernah memaksakan kehendak. Dia tetap suka dengan caranya sendiri. Samuel yakin jika dia berjodoh, Tuhan akan memberikan jalan. Dan jika tidak? Mungkin dia memang hanya bisa mengaguminya saja.


Hanya sekali, Samuel mencoba memaksakan kehendaknya dengan berpura-pura memacari Fransisca. Namun, yang di dapatkan bukannya perhatian Bella. Tapi rasa muak karena dia harus berpura-pura bersikap manis pada Sisca. Samuel sudah memutuskan untuk tetap diam, memantau dan memperhatikan Bella tanpa sepengetahuannya.


"Dasar bucin!!" Umpat Sisca pergi dari hadapan Samuel.


"Bucin? Hehe.." Samuel tertawa kecil lalu berjalan menuju parkiran.


.


.


Bella berusaha menyembunyikan rasa kesalnya ketika sudah berdiri di hadapan Daniel. Seperti biasa, Daniel membuka pintu untuknya lalu dia masuk di ikuti oleh Erin dan Sari.


"Bagaimana hari ini?" Tanya Daniel mulai melajukan mobilnya. Dia menoleh lalu tersenyum.


"Banyak ulangan Kak, kan mau ujian." Jawab Bella asal. Erin dan Sari yang sudah di larang untuk berkata macam-macam, lebih memilih diam dan mendengarkan.


"Bagaimana dengan kalian?" Daniel tersenyum dari pantulan spion menatap ke Sari dan Erin secara bergantian.

__ADS_1


"Iya Kak, ujian tinggal tiga bulan lagi jadi ulangan harian terus." Bella tidak sepenuhnya berbohong, ulangan dadakan sering di adakan karena ujian akan datang dalam waktu dekat.


"Harus semangat ya. Rajin belajar, jangan banyak bermain. Kalau selesai ujian boleh bermain."


Iya Kak... Jawab Erin dan Sari bersama sementara Bella hanya tersenyum tipis seraya fokus menatap jalan.


Setelah Sari dan Erin turun, Daniel melajukan mobilnya masuk ke pekarangan rumahnya. Bella turun tanpa menunggu Daniel membuka pintu. Dia duduk di teras seraya melihat Daniel menutup pintu pagar.


"Kamu lelah sekali sayang?" Tanya Daniel setengah berteriak.


Rasanya aku ingin cepat lulus agar tidak lagi memikirkan biaya sekolah..


"Hei.. Memikirkan apa?" Tiba-tiba saja Daniel sudah berdiri di depan Bella.


"Memikirkanmu.." Canda Bella berdiri.


"Semoga kamu selalu melakukannya sepanjang waktu."


"Ayo masuk kak. Seragamnya gerah." Eluh Bella dengan nada manja.


Tidak sampai satu bulan, tapi Bella sudah terbiasa dengan keberadaan Daniel. Bahkan keberadaannya sudah menjadi candu bagi Bella. Merengek, meminta sudah Bella lakukan sesekali. Itu karena sikap Daniel sendiri yang sangat membuat Bella cepat nyaman. Sesuai janjinya, Daniel bisa menjadi apapun untuknya. Orang tua, Kakak, kekasih dan teman, meski terkadang Bella belum terbiasa menerima sentuhan dari Daniel selayaknya seorang istri.


Keduanya masuk dan langsung menuju kamar untuk berganti baju. Setelah berganti baju, Bella meraih dompet kecilnya karena ingin berbelanja ikan segar di tempat biasa namun Daniel kembali mencegah.


"Mau kemana?" Daniel merangkul kedua pundak Bella.


"Beli ikan Kak."


"Kita pesan saja. Kamu terlihat lelah sayang." Daniel menggiring kedua tangan Bella untuk memeluknya.


"Kak Bastian tidak mengajarkan ku bermalas-malasan." meski Bella berkata demikian, namun nyatanya dia bersandar lembut pada dada bidang Daniel.


"Sekarang kamu bersamaku, bukan Bastian."


"Iya tahu." Nyaman sekali.. Memeluknya membuat beban hidupku langsung menghilang.. Ahh masa bodoh dengan biaya sekolah.. Bukankah Sari akan bertanya pada Kak Emi? Aku akan berjualan online sambil mengasah kemampuan merketingku...


Bella mengeratkan pelukannya, tersenyum dan menghirup kuat aroma tubuh Daniel.


"Kita keluar untuk makan, bagaimana?"


"Aku malas Kak. Aku ingin tidur."


"Jika malas kenapa mau membeli ikan?"


"Itu dekat. Aku beli ikan lalu memasakkan untukmu dan tidur."


"Kita pesan sesuatu." Daniel merogoh ponselnya di saku sementara Bella masih nyaman dengan posisi yang sama. Bersamaan dengan itu, ponsel Bella bergetar.


"Ya Sar?


"Kamu mau pepes ikan Bell?


"Wah?


Bella mengangkat kepalanya dari dada Daniel dan memberi isyarat Daniel untuk tidak memesan dulu.


"Mau tidak? Mama memasak banyak dan menyuruhku mengantarkannya.


"Cepat antarkan. Sekalian sayur bayamnya ya hehe.


"Iya. Aku ke sana.


"Tidak jadi pesan?" Tanya Daniel.


"Sari akan memberi lauk. Bukankah mereka teman yang sangat baik." Daniel tersenyum, meski rasanya sungguh menyiksa perasaannya. Menerima kenyataan jika istrinya harus makan dari uluran tangan seseorang terkadang membuat fikirannya kalut.


Ya Tuhan kapan ini semua harus berakhir.. Aku tidak tega melihatnya makan dari pemberian orang tapi... Aku tidak bisa berbuat apapun sebab aku memang payah..


"Jangan tersinggung Kak." Bella dapat membaca raut wajah Daniel yang sering di perlihatkan. Raut wajah Daniel selalu saja berubah, ketika Bella menerima pemberian dari orang lain seperti sekarang.


"Aku tidak pantas untuk tersinggung sayang. Maaf, jika mimik wajahku sangat menganggu." Daniel mulai menyendok sajian dia hadapannya.


"Mereka hanya ingin membalas kebaikan Kak Bastian saja. Mereka berniat membantuku sebab hanya ini yang bisa mereka berikan Kak. Jangan pernah tersinggung dan memasang wajah itu. Mereka adalah saudaraku." Daniel meletakkan sendoknya dengan senyum mengembang.


"Aku bersyukur memilikimu dan saudara-saudaramu yang manis itu. Bagaimana jadinya jika tidak ada kamu sekarang. Mungkin aku selalu saja mengutuk diriku sendiri karena perusahaan yang belum berjalan lancar."


"Lalu apa jadinya jika tidak ada kamu Kak." Balas Bella masih ingin memberikan dukungan untuk Daniel meskipun dia juga sedang banyak fikiran.


"Tidak akan terjadi apa-apa sayang. Akan banyak orang yang membantu meski aku tidak ada."


"Cih! Kak Daniel mirip Tuhan saja. Kita saling membutuhkan bukan. Aku butuh Kak Daniel dan aku tidak mengerti kenapa Kak Daniel membutuhkan aku yang rasanya hanya merepotkan saja." Canda Bella ingin mencairkan suasana.


"Merepotkan apa?"


"Sudah sering ku sebutkan." Jawab Bella tersenyum meski hidupnya akhir-akhir ini terasa sedikit getir.


"Sudah ku katakan itu tanggung jawabku." Daniel mengeluarkan sesuatu dari saku celananya." Sudah tanggal 7. Ini untuk membayar SPP juga uang jajan mu." Daniel menggeser amplop tersebut tanpa mengalihkan pandangannya ke Bella yang tengah menguyah makanannya pelan.


"Terimakasih Kak." Karena tidak ingin mengecewakan, Bella langsung mengambil uang tersebut. Dia setengah berdiri dan mencium pipi Daniel sejenak lalu kembali duduk.


"Sama-sama sayang. Jika kurang nanti bilang padaku ya." Sikap Bella selalu saja bisa mendinginkan perasaan Daniel meski dia sendiri tidak yakin, apa Bella sedang berpura-pura atau memang benar-benar bahagia?


Bagaimana mungkin kamu memperlihatkan senyum itu...


"Sekarang kita makan." Bella tersenyum dan mulai menyantap makanannya.


Tok..Tok...Tok...


"Biar ku buka sayang." Bella mulai terbiasa tinggal di sana, sehingga kini dia tidak takut jika di tinggal sendirian asalkan tidak terlalu lama.


Cklek...


Pak Salim dan Lucas berdiri di balik pintu. Daniel menyerbu tangan Ayahnya lalu menciumnya.


"Kenapa tidak bilang?" Tanya Daniel menatap Lucas.


"Saya saja tidak tahu Tuan. Beliau menghubungi saat sudah berada di stasiun." Jawab Lucas menjelaskan.


"Sudahlah. Ayah hanya tidak mau merepotkan jadi berangkat sendiri saja." Lucas membawa masuk tas besar Pak Salim dan meletakkan di atas meja ruang tamu.


"Saya langsung pulang Tuan."


"Tidak makan dulu?"


"Terimakasih Tuan. Permisi."

__ADS_1


Daniel merangkul erat pundak Pak Salim dan menggiringnya masuk setelah mengunci pintu. Bella berdiri dan menyambut kedatangan Pak Salim yang sekarang sudah menjadi Ayah mertuanya.


"Sehat Yah." Ucap Bella langsung mendinginkan perasaan Pak Salim. Keinginannya untuk mendapatkan anak perempuan tercapai sudah.


"Sehat. Kamu sendiri?"


"Hmm sehat juga hehe."


"Menantu Ayah." Wajah Bella kini memerah saat Pak Salim menyebutnya sebagai menantu.


"Makan Yah." Tawar Bella menggeser sebuah kursi.


"Terimakasih." Pak Salim duduk dan menyandarkan punggungnya.


"Besok-besok, bilang Daniel kalau mau ke sini."


"Ayah masih kuat Nak, apalagi untuk bertemu menantu Ayah." Bella tersenyum lalu meletakkan sebuah piring di hadapan Pak Salim.


"Sedikit atau banyak Yah?" Tawar Bella.


"Sedikit saja." Bella menyiapkan nasi juga lauk.


"Seadanya Yah." Tawarnya.


"Hm terimakasih sudah menerima Daniel seadaanya Nak Bella." Bella menoleh seraya tersenyum.


"Ayah bilang apa? Aku yang harusnya berterima kasih karena Kak Daniel mau merawatku."


"Itu sudah tanggung jawab Daniel Nak. Ayah senang melihat kalian rukun." Pak Salim mulai makan sajian sederhana tersebut.


"Karena Kak Daniel selalu mengalah."


"Tidak juga sayang." Sahut Daniel." Aku tidak pernah terbebani dengan sikapmu." Daniel mengakui sikap dewasa yang di tunjukkan Bella selama dua Minggu ini. Meski terkadang sisi kekanak-kanakan Bella masih terlihat, dia sangat tidak mempermasalahkan itu bahkan ingin Bella bisa menghilangkan rasa canggungnya.


"Tidak ada yang lebih membahagiakan dari rumah tangga selain sifat saling mengerti dan memahami."


"Begitu Yah. Aku hanya tahu tugas istri saja, jadi aku takut membuat Kak Daniel bersedih lalu masuk neraka." Daniel terkekeh begitupun Pak Salim.


"Kamu pasti berkata macam-macam?" Pak Salim beralih menatap Daniel.


"Aku hanya tidak ingin dia berkerja terlalu keras Yah. Memasak, mencuci, dia menganggap itu tugas istri jadi aku berkata itu agar dia tidak terbebani." Daniel mengangkat tangannya dan mengusap puncak kepala Bella.


"Berarti kamu membohongiku Kak?"


"Tidak juga Nak Bell. Membahagiakan suami memang tugas istri yang paling penting. Jika untuk perkerjaan rumah tangga, itu tugas kalian berdua." Jawab Pak Salim menjelaskan.


"Hm jadi benar begitu?"


"Kurang lebihnya seperti itu." Bella mengangguk-angguk seraya menguyah.


"Ayah menginap berapa hari? Aku senang jika rumah ini ramai. Kak Lucas sudah tidak mau tinggal di sini." Tanya Bella ramah.


"Hanya semalaman, besok Ayah sudah harus kembali."


"Kenapa buru-buru Yah." Bella membulatkan matanya menatap Pak Salim.


"Perkebunan tidak bisa di tinggalkan. Tolong ambil tas Ayah." Daniel tersenyum lalu berdiri dan mengambil tas dan meletakkannya di samping Pak Salim.


Dari tas tersebut, Pak Salim mengeluarkan amplop coklatnya sangat besar. Dia tersenyum ke arah Bella dan meletakkan amplop tersebut ke pangkuan Bella.


"A apa ini Yah?" Perlahan, Bella meraih amplop tersebut.


"Uang." Daniel menarik nafas panjang mendengar itu." Daniel tidak mau menerima uang itu jadi Ayah memberikannya padamu." Imbuh Pak Salim tersenyum dengan wajah keriputnya.


"Ba banyak sekali. Ini uang apa?" Tanya Bella terbata.


"Hasil penjualan perkebunan Nak Bell. Daniel selalu tidak mau menerimanya jadi terkumpul sebanyak itu. Untung Lucas mau membantu Ayah mengambilnya jadi terima uang itu untuk keperluan mu." Bella menoleh ke arah Daniel untuk meminta persetujuan.


"Tidak Yah. Aku masih sanggup memenuhi kebutuhannya." Sahut Daniel menolak.


"Ayah tidak memberikannya padamu tapi anak perempuan Ayah." Daniel tersenyum seraya menarik nafas lembut.


"Apa bedanya? Dia istriku."


"Tentu beda. Istrimu sekarang sudah jadi anak Ayah jadi, jangan melarangnya untuk menerima itu. Tidak perlu meminta izin Nak, Ayah berikan itu untukmu bukan untuk Daniel." Bella tersenyum tapi belum mengalihkan pandangannya dari Daniel.


"Kak.. Bagaimana?" Tanya Bella lirih.


"Hm ya sudah sayang. Pakai untuk kebutuhanmu." Daniel terpaksa berkata itu sebab dia juga merasa terbantu dengan uang pemberian Pak Salim.


Perlahan, Bella membuka amplop dan melongok, melihat tumpukan uang begitu banyak berada di dalamnya.


"Banyak sekali Yah." Bella kembali menutup amplopnya.


"Ada lima ratus juta Nak Bella. Sebaiknya di simpan di bank saja. Ayah sengaja memberikan tunai, sebab Daniel tidak akan mau dan banyak alasan untuk menolaknya. Apalagi Ayah dan Lucas juga tidak tahu nomer rekening milik Daniel."


"Li lima ratus juta?" Bella tersenyum aneh dan memberikan amplop coklat pada Daniel." Bawa saja Kak. Aku takut membawa uang sebanyak itu." Imbuh Bella polos. Setelah Stefan menipunya dulu, Bella menjadi trauma membawa uang banyak apalagi tunai.


"Besok ku masukan ke dalam Bank agar kamu bisa membawa Atmnya sayang."


"Tidak. Itu tidak perlu Kak. Sudah ku bilang aku takut. Pegang saja dan beri aku seperlunya."


"Hm oke sayang." Daniel masih ingat alasan Bella tidak mau membawa sebuah ATM.


"Ya sudah. Aku mau mengerjakan PR." Bella berdiri seraya membereskannya piring kotor." Em jika Ayah ingin mengobrol silahkan." Imbuhnya membawa piring kotor sementara Pak Salim dan Daniel saling melihat.


"Sudah tidak takut?" Tanya Daniel memastikan.


"Tidak Kak, asal pintunya tidak di tutup."


"Selamat belajar sayang.."


"Iya. Yah, aku tinggal dulu." Bella tersenyum lalu melenggang pergi masuk ke dalam kamar yang tidak jauh dari sana.


~Riane



Rasanya segar😍😚🤤🤤🤤🤤


Beberapa hari ini sibuk😩


Jadi nggak bisa dobel update 😭


Maaf ya🙏

__ADS_1


Terimakasih dukungannya...


Love you all 🥰🥰


__ADS_2