
Bella menahan rasa gatal pada sekujur tubuhnya. Bra dan celana yang tidak di ganti, di tambah dengan baju murahan yang di pakai, sungguh membuatnya merasa tidak nyaman. Apalagi makanan yang di makan adalah masakannya sendiri, itu semakin menambah penderitaannya.
"Aku sudah Kak." Tolak Bella saat Daniel akan menyuapinya lagi.
"Kamu makan sedikit sekali."
"Tubuh sekecil ini, mana mungkin bisa makan banyak." Jawab Bella lirih.
"Tapi ini sangat sedap sayang."
Meskipun sedap, aku bosan dengan bau masakanku sendiri...
"Habiskan jika sedap." Bella tersenyum sejenak kemudian beralih menatap keluar jendela. Ingin sekali dia menggaruk punggungnya, namun dia tidak enak melakukannya di hadapan Daniel.
"Pasti ku habiskan sayang."
"Aku boleh meminjam ponsel?" Tanya Daniel pelan.
"Pakai saja. Tidak perlu bertanya."
"Hmm.." Bella meraih ponsel yang tergeletak di meja makan lalu mengirimkan pesan singkat untuk Sari.
💌Gawat!
💌Gawat apa?
💌Aku tidak memiliki baju dalam. Tolong bantu aku.
💌Mari membelinya. Kebetulan aku juga ingin membeli sesuatu.
💌Aku izin Kak Daniel dulu.
💌Langsung saja seperti biasa.
💌Ini wasiat dari Kak Bas. Jadi harus ku lakukan.
💌Oke aku tunggu.
Bella menghapus pesan yang di kirimkan, lalu beralih menatap Daniel dengan ponsel yang masih di genggam.
"Kak." Tutur Bella pelan.
"Hm.."
"Sari ingin mengajakku pergi sebentar, apa boleh."
"Kemana?"
"Membeli sesuatu."
"Ku antarkan." Bella menarik nafas dalam-dalam dan tahu jika jawabannya akan seperti itu.
"Dia mau pergi berdua."
"Tidak boleh jika berdua."
"Kenapa tidak boleh?" Protes Bella sedikit meninggikan suaranya.
"Tidak ada alasan."
"Hanya sebentar. Please.."
"Mari ku antarkan." Bella melirik malas dan kembali mengirimkan pesan singkat untuk Sari.
💌Tidak boleh. Dia lebih parah dari Kak Bastian.
💌Besok saja sepulang sekolah.
💌Dia akan menjemput.
💌Besok ada rapat kok, jadi pulang lebih awal.
💌Wah serius.
💌 Iya hehe.
💌Tapi aku tidak memiliki uang.
__ADS_1
💌Aku ada. Tenang saja.
💌Oke. Sampai jumpa besok pagi.
Karena merasa senang, Bella lupa menghapus isi chatnya dan langsung meletakkan kembali ponselnya.
"Jadi atau tidak?" Tanya Daniel memastikan.
"Tidak. Sari ingin keluar berdua tapi, ya sudah."
Tok..Tok..Tok...
"Biar ku buka."
"Aku ikut." Bella berdiri dan mengekor di belakang Daniel seraya menggaruk punggungnya yang gatal.
Cklek...
"Pak Imron? Ada apa?" Tanya Bella mengenal Pak Imron yang tepat tinggal di sampingnya dan hanya berbatas jalan selebar empat meter.
"Ada tamu Nak Bell, sudah sejak tadi dia menunggu di depan rumah. Bapak merasa kasihan jadi Bapak ke sini." Daniel melangkah keluar bersama Bella dan melihat Kenan berdiri di samping mobilnya. Pandangan Kenan sudah tertuju pada rumah Daniel, sehingga dia langsung melangkah mendekat.
"Oh iya Pak. Dia, teman saya." Jawab Bella lirih.
"Ya sudah Bapak permisi." Pak Imran tersenyum sejenak kemudian berjalan pergi bersamaan dengan datangnya Kenan yang sudah berjalan memasuki pekarangan rumah.
Berarti anak laki-laki ini yang di sebut Bastian tempo hari..
"Siapa saja yang tahu letak rumahmu sayang?" Tanya Daniel lirih. Menatap tajam ke arah Kenan.
"Dia saja. Sari dan Erin di paksa untuk menunjukkan rumahku."
"Kamu tinggal di sini Bella?" Tanya Kenan ramah.
"Hm, kau lihat kan! Rumahku tinggal puing-puing." Jawab Bella selalu ketus terhadap Kenan.
"Nada bicaramu lembut sekali padahal aku membawakan kebahagiaan untukmu." Daniel menarik nafas panjang dan mulai terbakar cemburu.
"Pulanglah. Kita masuk Kak." Bella meraih lengan Daniel dan hendak menggiringnya masuk.
"Bawa kembali uangmu!" Jawab Bella tegas tanpa bertele-tele bahkan tanpa basa-basi.
"Aku ikhlas."
"Tidak. Terimakasih. Jika aku tidak menyukaimu, mana mungkin aku menyukai uangmu. Jangan datang lagi ke sini, aku benar-benar muak melihatmu!! Ayo Kak." Bella menggiring Daniel untuk masuk rumah dan menutup pintu keras.
Braaaakkkkk!!!
"Ach!! Seksi sekali. Sikapmu membuatku semakin ingin mendapatkanmu. " Gumam Kenan menatap sekitar." Jika Bella tinggal bersama dia, berarti mereka memang saudara. Astaga.. Melegakan sekali. Aku fikir lelaki itu kekasihnya, jika kekasihnya? Tidak mungkin mereka tinggal berdua seperti itu. Aku akan sabar menunggunya.." Dengan senyum sumringah, Kenan berjalan keluar pekarangan rumah Daniel untuk segera pulang.
Sementara di dalam rumah. Daniel duduk lemah dan merasa payah, setelah mendengar kenyataan jika dia kalah dengan anak SMA yang lebih bisa menjamin kehidupan Bella.
"Tidak perlu mendengarkan dia Kak." Bella tahu jika Daniel pasti merasa tersinggung dengan kejadian tadi.
"Itu fakta sayang. Aku juga sangat ingin berkata demikian jika memang aku mampu." Jawab Daniel pelan." Bukankah aku terlihat sangat payah?" Bella menoleh ke Daniel yang tengah tertunduk lesu.
"Hm payah. Lalu bagaimana?" Jawab Bella ketus." Mau terus mengeluh seperti itu?" Imbuh Bella memasang wajah kesal sehingga Daniel menoleh ke arahnya.
"Kamu tidak bisa menerima keadaanku?"
"Tidak!" Jawab Bella membalas tatapan mata Daniel tajam." Apa Kak daniel ingin aku bersamanya?" Daniel menelan salivanya kasar dan mulai membayangkan jika sampai Bella pergi darinya.
"Tidak sayang. Jangan katakan itu. Aku akan membuatmu senyaman mungkin berada di sisiku."
"Apa bisa jika Kak Daniel pesimis seperti itu?! Alasan aku mau menikah karena surat itu dan aku merasa yakin dengan pilihan Kak Bastian. Meskipun aku memang sedikit susah di atur, tapi sekalipun aku tidak pernah meragukan pilihan Kak Bastian. Lalu, fikirkan, jika Kak Bastian melihat pilihannya seperti ini." Daniel tersenyum, dia sadar jika tujuan Bella berkata demikian hanya ingin membuatnya lebih berkerja keras dan bersemangat untuk bangkit.
"Aku tidak akan mengecewakan Kakakmu sayang. Aku tidak akan menyerah dan membiarkanmu pergi dari hidupku." Daniel meraih jemari Bella erat lalu mencium punggung tangannya.
"Ah bohong! Pengaruhku tidak sebesar itu." Jawab Bella ketus.
"Aku dapat tambahan kekuatan darimu." Bella menarik tangannya kasar.
"Aku perlu bukti, bukan hanya ucapan." Daniel meraih pergelangan tangan Bella saat dia akan berdiri.
"Akan ku buktikan. Jangan pergi dan marah seperti itu?"
Mana mungkin aku pergi, aku tidak punya tujuan tempat tinggal. Semoga dengan ini Kak Daniel bisa lebih bersemangat untuk bangkit. Jujur saja, aku merasa kasihan melihatnya putus asa seperti itu. Aku menginginkan dia tersenyum dengan mata sipitnya...
__ADS_1
"Aku tidak punya rumah. Memangnya mau pergi kemana?" Jawab Bella pelan.
"Lalu?"
"Cuci piring Kak ish!!" Bella melirik malas ke arah Daniel yang kembali tersenyum ke arahnya. Dia lelaki paling tampan yang pernah ku temui. Asal setia, aku tidak masalah jika harus hidup kesulitan bersamanya...
"Sudah tidak takut?"
"Masih takut. Temani." Rengek Bella membuat hati Daniel bergetar hebat.
"Istriku.." Daniel mengangkat tangan kanannya dan mengusap pipi Bella lembut." Biar aku yang lakukan." Daniel berdiri dengan tangan terulur dan Bella langsung menyambutnya.
"Biar aku Kak. Baju sekolahku juga belum di cuci."
"Kamu menunggu saja saat aku melakukannya." Keduanya berjalan beriringan menuju ke belakang.
"Aku terbiasa melakukan itu sendiri. Bukankah itu perkerjaanku."
"Jika aku sudah kembali berjaya. Ku sewa pembantu untuk melakukan itu. Kamu hanya perlu mengurusku dan memasakkan sesuatu yang enak. Jadi untuk saat ini, biar aku yang lakukan." Daniel membereskan piring kotor lalu meletakkannya pada cucian dan langsung mencucinya.
"Biar aku yang cuci baju." Ucap Bella berdiri di samping Daniel dan melihat.
"Kamu tunggu saja, biar aku yang melakukan."
"Aku mau mencuci bajuku sendiri."
"Tidak ingin ku temani?" Goda Daniel.
"Maksudku mencuci dengan tanganku sendiri."
"Kita lakukan bersama." Sambil mencuci piring, Daniel menoleh dan mengecup puncak kepala Bella sebentar.
Kata Kak Bastian, perkerjaan rumah adalah tanggung jawab istri? Tapi kenapa Kak Daniel mau melakukannya...
*************
"Tidak ada yang target lakukan seharian ini Tuan." Lapor Jim berbohong. Sebab seharian ini dia bersama dengan Fanny di apartemen yang baru di beli oleh Fanny. Sudah bisa di tebak jika kini Fanny menduakan cinta Marko dengan Jim, kaki tangannya.
"Apa dia di rumah itu terus dan tidak keluar?"
"Iya Tuan. Mungkin karena masih berkabung jadi dia tidak berselera untuk keluar." Marko mempercayai itu begitu saja karena kesibukan yang padat.
"Hm ya sudah." Marko berdiri dan membawa tas kerjanya untuk bergegas pulang. Jim menyeka keringat yang keluar sebab takut kebohongannya terbongkar. Namun, Fanny menjamin jika hubungan mereka tidak akan terendus oleh Marko, asal mereka sama-sama bungkam.
"Syukurlah, Tuan percaya." Gumam Jim tersenyum lega." Jika begini, selain aku mendapatkan perkerjaan, aku juga akan mendapatkan kepuasan." Imbuhnya melangkah keluar ruangan.
.
.
"Kemana saja seharian ini?" Tanya Marko saat melihat Fanny baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.
"Tidak kemana-mana. Aku sedang malas." Jawabnya ketus.
"Siapa percaya itu! Aku tahu kelakuanmu seperti apa. Lihatlah tagihan kartu kreditmu." Marko meletakkan beberapa lembar kertas tagihan di atas meja rias.
"Astaga pelit sekali! Aku tahu sebanyak apa uang yang bisa di hasilkan dari perusahaan itu. Ini tidak sebanding!!" Jawab Fanny geram.
"Tapi tidak seperti ini juga. Bagaimana mungkin kau habiskan uang ratusan juta dalam satu hari. Apa saja yang kau beli?"
"Itu bukan urusanmu! Aku berhak menikmati hasil kerja kerasku mengelabuhi Daniel dulu! Kau ingat itu kan! Jika bukan karena aku yang mengelabuhinya, kau akan ketahuan!" Fanny berdiri dan menunjuk pundak Marko kasar.
Marko tidak bergeming dan membenarkan itu. Dia tidak akan berhasil tanpa Fanny yang bertugas mengelabuhi Daniel agar dia tidak merasa curiga pada setiap laporan yang di berikan Marko.
"Beri aku ATM pribadi." Fanny membuka telapak tangannya ke hadapan Marko.
"Masih kurang?"
"Tentu saja! Terus saja berprotes jika kau menginginkan kehidupanmu yang dulu!!" Ancam Fanny.
Tak!!!
Marko meletakannya sebuah ATM pada meja rias seraya menatap tajam Fanny. Dia semakin muak melihat perubahan sikap Fanny yang begitu buruk.
Jika aku bisa menyingkirkan semua bukti kejahatan yang ku lakukan, aku akan bisa menyingkirkan wanita sialan ini dengan mudah..
~Riane
__ADS_1