
Happy reading 🥰
Bella tersenyum, ketika tubuhnya di hempaskan pada rajang dengan Daniel ada di atasnya. Tubuh Daniel terekspos bebas, sementara seragam Bella masih melekat dengan keadaan berantakan.
"Apa yang sedang kamu tertawakan sayang?" Tanya Daniel dengan suara parau. Dia terlihat lebih tampan karena rambutnya yang berantakan.
"Aku tidak sedang tertawa Kak."
"Lalu ini." Daniel menyentuh bibir Bella dengan telunjuknya lalu beralih mengusap-usap pipinya lembut seraya memandanginya.
"Aku hanya tidak percaya bisa bersamamu Kak." Hati Daniel kembali mengeluh. Dia tidak suka ketika Bella berkata seperti sekarang. Seolah Bella masih menganggapnya sesuatu yang terlalu indah dan menganggap dirinya sendiri sebagai sesuatu yang kurang indah.
"Bisakah kamu tidak membahas itu sayang. Hampir setiap hari aku berkata jika kamu paling indah, paling cantik tapi kenapa kamu masih juga belum percaya jika Daniel ini sangat menyukaimu." Bella mendorong dada Daniel untuk menjauh sehingga kini dia duduk dengan raut wajah masam.
Jangan lagi Tuhan.. Milik Daniel seketika layu, mulai memikirkan cara bagaimana bisa merajuk istrinya yang hampir setiap hari salah faham.
"Kak Daniel bosan padaku." Sesuai tebakan, Bella berkata itu. Daniel tersenyum melihat sosok kecil yang duduk di sampingnya membetulkan seragam yang berantakan.
"Bukan bosan, tapi..."
"Protes terus berarti bosan." Bella berdiri dan membuka lemari dengan sedikit kasar. Sementara Daniel masih pada posisi yang sama. Tersenyum dan mengikuti langkah Bella dengan maniknya.
Aku bahkan sudah menyentuhnya setiap aku ingin, sebanyak yang aku ingin tapi itu tidak membuat dia percaya jika aku sangat mencintainya..
Kesabaran Daniel yang tidak wajar sangat berguna untuk menghadapi sifat Bella yang ternyata sangat labil. Apalagi sudah sejak lama dia berusaha untuk menjadi dewasa karena didikan Bastian. Namun Daniel seolah menyuruhnya untuk kembali seperti dulu. Menjadi Bella yang manja, labil, ingin di mengerti dan selalu bergantung.
"Aku tidak pernah bosan." Daniel fokus menatap Bella yang tengah berganti baju di hadapannya tanpa rasa malu." Kenapa di ganti? Bukankah kamu tahu jika aku suka bercinta dengan seragam sekolah itu." Bella melemparkan seragamnya pada Daniel sehingga membuat Daniel terkekeh.
"Ambil saja dan bercinta dengannya."
"Astaga sayang. Aku semakin mencintaimu." Bella memperlihatkan mimik wajah kesal padahal hatinya begitu berbunga-bunga. Mendengar kata cinta dari Daniel yang terlontar meski dia tengah marah seperti sekarang.
Dengan bertelanjang dada Daniel berjalan mendekat, sementara Bella duduk di sofa dan menyalakan televisi. Daniel duduk di sampingnya, menatap ke arahnya fokus bahkan sangat fokus.
Bella menoleh, menatapnya, dengan kening berkerut namun matanya menjadi silau, terpesona dengan paras tampan Daniel, suaminya.
Bagaimana caranya membuat Kak Daniel marah ya hehe..
"Melihat apa." Bella membuang muka, tidak ingin mengakui kekagumannya." Hm lanjutkan marahnya, nanti jika sudah tidak marah, bangunkan aku." Daniel berbaring dengan kedua kaki bergantung pada pinggiran sofa. Kepalanya di tumpukan pada paha Bella karena kehilangan cara untuk merajuknya.
Krrrrrruuuuuukkkkkkk..
Terdengar bunyi perut Bella meronta. Daniel menahan senyum bahkan berpura-pura mendengkur.
"Kak kok malah tidur sih?" Gumam Bella memandang wajah Daniel yang tengah menutup mata. Dengkurannya semakin terdengar keras dan suara perut Bella kembali meronta." Kak Daniel! Aku lapar! Katanya beli ayam krispi." Imbuhnya tanpa menyentuh. Egonya berperang sehingga tangannya masih ragu-ragu menyentuh Daniel untuk membangunkannya.
Tiba-tiba terlintas ide, agar bisa membuat Daniel bangun dari tidurnya sekarang.
"Ach!! Aduhh! Perutku sakit sekali!!" Teriak Bella memegang perutnya seraya mendesis. Daniel panik, dia segera bangun dan memeriksa keadaan Bella.
"Bukankah biasanya kamu makan di sekolah sayang. Kenapa sampai sakit?" Tanya Daniel baru menyadari jika Bella kembali menemukan titik lemahnya.
"Mau menggerjaiku. Tidak bisa ya Kak." Ledek Bella mulai tersenyum, seolah kejadian tadi sudah di lupakan hanya dengan melihat wajah konyol Daniel sekarang.
"Ku fikir benar-benar sakit sayang." Daniel merengkuh tubuh Bella seraya mengambil ponsel yang tergeletak di meja." Sudah ku pesankan." Imbuh Daniel kembali meletakkan ponselnya.
"Aku sudah makan tadi, bukankah Kak Daniel yang belum makan." Bella bersandar manja, seraya melihat acara televisi yang berlangsung.
"Sudah tidak marah?" Bella menarik nafas panjang mendengar itu.
"Marahnya di lanjut nanti. Aku mau makan ayam krispi." Daniel tersenyum, menyadari sifat kekanak-kanakan Bella yang di tunjukan.
Daniel membuat Bella begitu nyaman, karena dia mampu menjadi sosok Ayah, Kakak, teman, sahabat dan seorang suami.
"Pakai baju Kak, jika kurirnya wanita bagaimana." Protes Bella berusaha mengikat Daniel kuat.
"Ambil pesanannya jika begitu."
"Aku malas. Kakiku tiba-tiba lemah." Daniel mengangguk-angguk seraya tersenyum. Memainkan ujung rambut Bella yang mulai memanjang.
"Ya sudah tidak perlu di ambil." Bella duduk tegak dan menatap Daniel dengan matanya yang bulat.
"Aku lapar Kak. Tinggal ambil baju saja." Daniel seolah tidak mendengar dan menyadarkan punggungnya pada sofa." Ish! Kak Daniel menyebalkan sekali." Umpatnya beranjak dari tempat duduknya.
Daniel melirik, melihat Bella membuka lemari untuk mengambilnya baju dan kembali duduk.
"Nih Kak." Bella meletakan baju pada pangkuan Daniel." Kak.." Panggil Bella lagi sebab Daniel tidak bergeming.
"Tanganku tiba-tiba lemas sayang." Bella melirik malas lalu memakaikan kaos yang sudah di ambil.
"Kak Daniel jadi manja sih!!" Runtuknya.
"Tidak. Aku tahu peraturan, hanya kau yang boleh manja."
"Lalu ini! Pakai baju saja tidak mau. Apa maksudnya? Mau pamer biar di goda dengan kurir nantinya!!"
"Memangnya kamu tahu jika kurirnya wanita? Bukankah itu hanya tebakan saja sayang."
"Tahu!!" Jawabnya ketus bersamaan dengan bunyi bel pintu." Itu pasti ayam pesanannya Kak." Imbuh Bella bersemangat jika itu menyangkut ayam krispi.
"Iya mungkin. Tunggu ya." Daniel mencium pipi Bella sejenak kemudian berjalan untuk membuka pintu.
Daniel tersenyum, melihat kurir wanita berdiri di balik pintu tersebut. Mungkin hanya kebetulan atau perasaan Bella begitu peka dengan kekhawatirannya.
"159 ribu Kak."
"Hm.." Daniel memberikan dua lembar uang seratus." Ambil saja kembaliannya." Imbuh Daniel ramah.
"Terimakasih Kak." Daniel menutup pintu dan membawa tiga kotak ayam krispi.
"Benar kan wanita." Bella langsung merebut kotak dari tangan Daniel dan mengeluarkan isinya.
"Iya, bukankah kamu selalu benar sayang."
"Memang benar." Bella mulai mengigit ayam yang begitu renyah sementara Daniel memperhatikannya.
"Enak sekali kelihatannya, coba satu gigitan."
"Ambil sendiri Kak." Bella mengeluarkan satu kotak lagi dan meletakkannya pada pangkuan Daniel.
"Aku mau yang ini." Secepat kilat Daniel merebut ayam milik Bella dan melahapnya.
"Itu bekas!"
"Ambil yang ini." Daniel mengembalikan kotak ayam ke pangkuan Bella.
"Aneh sekali."
"Setelah ini kita lanjut ya sayang."
"Lanjut apa?"
__ADS_1
"Bercinta."
Daniel selalu meminta itu tanpa rasa ragu. Sesuai permintaan Bella meski terkadang ada rasa takut jika Bella sampai hamil. Namun apa daya, Daniel tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Dia bahkan melakukan itu berulang-ulang seolah tidak pernah merasa puas.
Rasa candu mulai menjalar, mengikat kuat perasaan Daniel hingga cintanya semakin mengakar kokoh. Rindu yang tidak wajar sering di rasakan. Menunggu detik-detik saat Bella bersekolah menjadi lebih berat dari sebelumnya.
Daniel sering kehilangan fokus tapi untungnya ada Lucas yang setia membantu. Menghadle semua perkerjaan dan membiarkan Daniel menghabiskan waktu hanya untuk Bella.
Kehidupan lamanya kembali, bahkan lebih indah karena Daniel tidak lagi sendiri. Dia memiliki Bella, yang siap merepotkannya, membuat harinya lebih berwarna dengan kemarahan manis yang sering terjadi.
.
.
.
.
.
Dua hari sebelum pesta pernikahan...
Pembangunan rumah sudah selesai di lakukan, hanya beberapa hal yang perlu di poles agar rumah tersebut terlihat sempurna.
Sepulang sekolah, Daniel mengajak Bella untuk singgah ke rumah Jonathan karena Abel merasa rindu dengan nasi goreng buatan Bella.
"Mommy. Aku tidak ingin pulang. Aku ingin di Indonesia agar Kak Bella bisa membuat nasi goreng untuk ku." Celoteh Abel. Dia tahu jika seminggu lagi akan kembali ke Paris. Hampir setiap malam Abel selalu berkata itu, padahal biasanya dia merindukan sekolahnya.
"Kamu sudah mengambil libur satu bulan sayang. Jadi harus segera kembali." Jawab Nara.
"Aku mau bersekolah di sini bersama Kak Bella." Andra tersenyum mendengar itu. Dia juga berharap Jonathan bisa menetap sehingga para anak buahnya kembali bisa melayani.
"No Abel. Kita pulang satu Minggu lagi. Bukankah itu perjanjiannya." Sahut Jonathan. Masa lalu yang terlalu kelam membuatnya takut kehilangan keluarganya.
"Aku tidak mau."
"Bagaimana dengan Justin? Kamu tidak merindukannya." Rajuk Nara paham tentang keinginan Joy yang berusaha melindungi privasinya.
"Justin sudah berselingkuh dengan Erika. Abel tidak suka Justin. Sekarang pacar Abel adalah Kak Bella." Semuanya terkekeh mendengar itu tapi tidak untuk Jonathan.
Menurutnya, ancaman yang terjadi bukan hanya gurauan. Dia sangat takut kejadian dulu terulang hingga hampir merenggut Nara darinya. Jonathan bahkan masih mengingat bagaimana rasanya, sakitnya, ketika Nara mengacuhkannya saat penculikan Pak Anto dulu.
"No no no! Kita tetap akan kembali seminggu lagi!" Abel menoleh cepat saat mendengar nada bicara Jonathan mulai meninggi.
"Abel tidak mau."
"Mau tidak mau kita kembali seminggu lagi. Bukankah Daddy sudah mengabulkan permintaanmu untuk ke sini." Nara menarik nafas panjang membaca raut wajah kesal Jonathan.
"Jangan terlalu keras Joy. Dia hanya anak kecil." Sahut Daniel merasa kasihan dengan raut wajah kecewa Abel.
"Kau tahu apa!! Kau tidak tahu apa-apa jadi sebaiknya kau diam." Bella membulatkan matanya mendengar suara kasar Joy. Sementara Abel mulai terisak lalu pergi meninggalkan ruang tamu.
"Abel tunggu." Rajuk Bella mengikuti langkah Abel ke belakang.
"Oh bagus sekali." Tatap Nara tajam.
"Kau tahu alasanku sayang." Jawab Jonathan merasa menyesal.
"Dia hanya anak-anak Joy! Kau tahu itu kan."
"Aku tidak ingin tinggal di sini dan membahayakan nyawa kalian." Jawab Joy lemah. Daniel menarik nafas panjang, mengingat kejadian bertahun-tahun lalu yang cukup membuatnya bergidik ngeri.
"Lalu apa gunanya kami Tuan." Sahut Andra menimpali." Saya juga ingin Tuan menetap di sini. Bukan hanya saya tapi yang lain. Mereka rindu melayani Tuan seperti dulu. Mereka bahkan sangat bersemangat ketika Tuan menyuruh mereka untuk mengintai Pak Daniel. Maaf jika saya lancang. Tapi saya berjanji, tidak akan terjadi sesuatu pada keluarga Tuan sebab kami siap melayani." Jonathan menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Dia juga rindu memimpin tapi keluarganya terlalu berharga untuk di pertaruhkan.
"Itu semua gara-gara kau!!" Menunjuk ke arah Daniel yang tersenyum tipis ke arahnya.
"Terus saja menyalahkan. Aku menetap di sini, jika kau ingin kembali ke Paris! Silahkan berangkat sendiri!!" Nara berdiri dan berjalan ke belakang untuk memeriksa keadaan Abel.
"Aku membencimu Daniel!!" Teriak Joy geram.
"Silahkan membenci Joy. Sekarang lihat kenyataannya, ibaratnya 10 berbanding 1. Aku juga ingin kamu menetap di sini dan menjadi saudara." Joy menatap Daniel tajam.
"Menjijikkan memiliki saudara sepertimu!!" Meskipun Jonathan berkata demikian tapi dia semakin perduli pada hidup Daniel karena keadaan yang memaksanya.
"Menetap saja Tuan, agar saya bisa membawa istri saya tinggal dan kantor pusat kembali di pindahkan." Imbuh Andra sangat berharap.
"Aku tidak perduli dengan permintaan kalian!!" Jawab Joy menunjuk kasar Andra dan Daniel." Tapi aku lemah menolak dua perempuan itu." Daniel terkekeh dan Andra tersenyum tipis. Sekeras apapun Jonathan, dia akan kalah dengan Nara juga Abel yang di anggapnya lebih penting dari segalanya.
******************
"Apa Abel akan baik-baik saja Kak." Tanya Bella sepulang dari rumah Jonathan.
"Iya jangan khawatir."
"Tapi tadi.."
"Joy memang seperti itu orangnya seperti ayam krispi kesukaanmu, keras di luar dan lembut di dalam."
"Aku saja kaget Kak waktu dia berkata kasar."
"Kamu harus terbiasa, dia akan jadi Kakak untukmu juga." Bella mengangguk, mencoba memahami jika seseorang memiliki sifat bermacam-macam.
"Aku sedikit gugup untuk acara dua hari lagi Kak." Ucap Bella lirih. Daniel meraih jemarinya dan menggenggamnya lembut.
"Kita hanya menyelenggarakan pesta sayang. Sudah tidak ada ikrar janji suci lagi. Lalu apa yang membuatmu gugup."
"Lebih baik tidak pakai pesta Kak. Menikah diam-diam seperti kemarin lebih baik."
"Kamu malu menikah denganku?" Bella menoleh cepat.
"Tidak malu hanya gugup." Jawab Bella panik.
"Ada aku jangan gugup."
"Katanya kita akan jadi ratu dan raja satu hari."
"Bukan hanya satu hari. Tapi kamu akan jadi ratu untuk ku selamanya."
Bluuuss...
Wajah Bella memerah dengan jantung berdebar. Dia sudah merasakan itu. Menjadi ratu sejak Daniel mengikatnya dengan janji suci. Meski pernikahannya terasa buruk, namun kehidupan yang Daniel berikan sungguh terasa indah.
Lalu hari itupun datang...
Dengan di temani dua sahabatnya, Bella tengah di bantu untuk memakai baju pengantin yang sudah di siapkan. Beberapa kali nafas berat berhembus, rasanya luar biasa gugup harus tampil dengan gaun indah nan mewah dengan riasan yang sebelumnya tidak pernah Bella pakai.
"Kamu tidak mirip Bella." Ucap Erin berkomentar. Wajah Bella yang belum pernah tersentuh makeup tentu terlihat sangat spesial.
"Ini sedikit tidak nyaman." Eluh Bella merasa risih dengan baju yang hampir menutup mata kakinya.
"Sekali seumur hidup Bella. Tahan sedikit." Protes Sari tersenyum dan turut bahagia.
Cklek..
__ADS_1
Pintu terbuka dan Nara keluar dari sana, menghampiri Bella yang sudah selesai dan siap untuk menemui Daniel.
"Astaga Adikku." Gumam Nara juga merasa terkesan karena riasan Bella membuatnya terlihat begitu cantik." Gugup?" Tanya Nara singkat.
"Iya Kak. Jantungku terus berdebar sejak tadi."
"Ku dampingi, tidak perlu gugup. Ada aku di sini, Kakakmu." Ucapan Nara cukup mengikis rasa gugupnya namun dia teringat sosok Bastian yang tentu sangat di rindukan.
Rasa sesak luar biasa menjalar, membuat isakan tangis tidak terbendung lolos dari sudut mata Bella.
Nara memeluknya lembut, sementara Erin dan Sari malah ikut menangis karena merasa terharu.
"Aku merasakannya Bella. Jangan seperti itu, nanti make up mu luntur." Ucap Erin mengingatkan.
"Iya.. Kita jadi ikut bersedih. Tidak ada gunanya kita ke sini." Sahut Sari menimpali.
"Aku rindu Kak Bastian."
"Kenapa kalian malah menangis." Nara terkekeh dan berusaha menghentikan tangis ketiga anak SMA di hadapannya.
"Aku sendirian Kak." Jawab Bella lirih.
"Ayolah hapus air matanya, Daniel sudah menunggu." Nara mengambil tisu untuk menyeka air mata di sudut mata Bella.
"Iya maaf." Sari dan Erin juga melakukan hal yang sama.
"Ini hari bahagia, tidak boleh ada yang bersedih apalagi menangis. Yang lalu biarlah berlalu, lihat yang di depan saja jangan melihat ke belakang. Aku yakin, semua keluargamu juga ikut bahagia melihatmu sekarang." Ucap Nara menyemangati.
"Iya Kak. Apa makeup ku luntur?"
"Tidak sayang. Ini baik-baik saja." Nara tersenyum seraya membetulkan make-up bella." Sudah siap?" Bella mengangguk pelan." Oke ayo." Nara meraih lengan Bella untuk membantunya berjalan menuju ke ruangan di mana Daniel sudah menunggu.
Pernikahan di lakukan di rumah yang baru Daniel bangun. Rumah yang dulunya tua, berubah menjadi bangunan besar nan megah tidak ayal seperti sebuah istana.
"Kak Daniel. Ratumu sudah siap." Ucap Nara tersenyum. Daniel menoleh dan melihat hal yang sama seperti apa yang di lihat semuanya.
Daniel berdecak kagum, hampir tidak mengenali istri kecilnya yang sudah berubah seperti seorang ratu yang luar biasa cantik.
Untuk pertama kalinya, Bella melihat wajah Daniel yang memerah. Seolah baru pertama bertemu, jantung keduanya berpacu padahal mereka sudah saling mengenal satu sama lain.
"Kamu cantik sekali sayang." Ucap Daniel lembut, melangkah pelan ke arah Bella lalu mengulurkan tangannya.
"Aku biasa saja, Kak Daniel yang terlalu tampan." Bella melontarkannya lagi di hari bahagia mereka.
"Apa ada perbedaan di antara kami Nona." Tanya Daniel ingin menyakinkan jika keduanya cocok.
"Maksudnya bagaimana?" Tentu saja Nara bertanya karena tidak tahu situasinya.
"Dia selalu menganggap aku sempurna padahal dia juga luar biasa." Nara tersenyum tipis dan tahu dengan maksud perkataan Daniel.
Nara tahu, jika memang Bella berparas biasa saja namun tidak jelek. Dia cukup manis dengan wajah polos dan mata bulatnya. Tapi, Nara melihat ada yang lain dari Bella yang entah kenapa dia merasa jika keduanya cocok hidup saling berdampingan.
"Sesuatu yang sempurna itu kini menjadi milikmu Bella. Apa kamu ingin melepaskannya jika memang kamu merasa tidak pantas untuknya." Ucap Nara jadi penengah.
"Tidak Kak."
"Lalu? Untuk apa membicarakan itu. Yang terpenting Daniel sudah menjadi milikmu. Tugasmu adalah menjaganya dan mengikat dia hingga tercekik." Bella tersenyum menatap Daniel yang tetap saja terlalu tampan.
"Jika tercekik mati dong Kak."
"Tidak perlu sampai mati asal erat dan kamu harus tahu, jika Kak Daniel tidak mungkin sembarangan memilih. Aku mengenalnya cukup baik. Dia memang ramah tapi tidak pernah berpacaran. Perkerjaannya dulu adalah menganggu hidup suamiku." Daniel terkekeh mengingat itu." Sampai suamiku menyuruhnya menikah tapi dia berkata belum ada yang cocok. Aku sempat kaget saat Andra berkata jika istri Kak Daniel masih SMA. Tapi, ketika bertemu denganmu. Aku juga merasa jika kamu spesial. Paras itu tidak penting Bella yang terpenting apa yang ada di dalamnya. Cantik, tampan akan menghilang seiring berjalannya waktu, tapi jika kita menyukai seseorang dari hati, itu akan terjaga untuk selamanya." Nara tersenyum menatap keduanya. Dia turut bahagia selayaknya seorang Kakak yang tengah menghadiri pernikahan Adiknya.
"Dia tidak percaya ketika aku bilang jika dia spesial."
"Ah sudahlah. Ayo, tamu sudah menunggu. Joy mana Kak."
"Sejak tadi aku di sini." Nara menoleh dan baru menyadari jika sejak tadi Joy juga Abel tengah duduk di sofa.
"Astaga sayang, kamu tidak bersuara jadi aku tidak tahu." Nara menghampiri keduanya dan mengambil crayon dari tangan Abel." Jadi kotor kan." Nara mengambil tisu basah dan membersihkannya." Ayo sayang, kita akan jadi pendamping bukan." Joy memberi isyarat mata untuk melihat raut wajah Abel." Kenapa?" Tanya Nara menelungkup wajah Abel dengan kedua tangannya.
"Jika Kak Bella menikah, siapa yang membuatkan Abel nasi goreng nanti." Bersamaan dengan itu, Pak Salim masuk dengan jas rapinya.
"Dia marah dan cemburu." Imbuh Joy terkekeh melihat kekonyolan sikap dari anaknya sendiri.
"Akan tetap ku buatkan Abel." Sahut Bella.
"Kak Bella akan melupakan aku dan aku kelaparan." Semuanya tertawa renyah termasuk Pak Salim, Erin dan Sari.
"Itu tidak akan terjadi. Kita menikah bertiga." Rajuk Bella merentangkan kedua tangannya.
"Apakah boleh Mom?" Tanya Abel polos.
"Bagaimana Bella?"
"Tidak masalah Kak. Ayo Abel." Langsung saja Abel berdiri dengan semangat dan berjalan ke arah Bella.
"Tamu sudah menunggu, sebaiknya kita mulai." Ucap Pak Salim menatap ke arah Daniel.
Daniel mengangkat tubuh Abel, agar tangan Bella bisa melingkar di lengannya. Sari dan Erin bertugas mengangkat gaun pengantin yang menjuntai sambil berharap semoga mereka bisa mendapatkan kebahagiaan yang sama nantinya. Sementara Pak Salim, Nara dan Joy berada di belakang untuk menjadi pendamping keluarga sebab Bella memang tidak memiliki seseorang pun di kota ini.
Beberapa kali tarikan nafas berat berhembus seiring dengan genggaman tangan Bella yang kian erat. Menandakan jika dia luar biasa gugup namun Daniel berhasil menghilangkannya dengan bisikan-bisikan yang membuat Bella lebih baik.
Rombongan pengantin datang, di iringi dengan suara riuh para tamu yang turut merasa bahagia. Marco bahkan ikut hadir namun tentu dengan pengawalan ketat oleh Roy dan Erik. Mereka mengancam akan melubangi kepala Marco jika berani berbuat macam-macam padahal Marco sudah menyesal dengan perbuatannya dan memilih berjualan bakso dengan modal pemberian Daniel.
Bagaimana dengan kabar Fanny?
"Makan siangmu sayang." Ucap Jim lembut menatap Fanny dengan rantai di kakinya. Penampilannya sangat berantakan seolah Fanny mirip hewan peliharaan.
Semua berawal dari kepulangan Fanny dari apartemen, dia memaksa Jim untuk mau membantunya merebut kembali harta Daniel dengan menghilangkan nyawa Bella.
Jim menolak, sebab dia hanya bisa membunuh orang yang di cintainya saja. Fanny yang setengah mati merasa kesal, mengumpat Jim dengan kata-kata kotor hingga membuat Jim naik pitam dan menghajarnya habis-habisan.
Semakin keras Fanny meronta maka pukulannya akan semakin bertubi. Fanny menyerah dan memohon pengampunan untuk hidupnya.
"Oke ku ampuni sayang. Tapi tidak akan ku biarkan kau bisa pergi keluar setelah ini." Sejak hari ini, Jim mengurung Fanny hingga sekarang. Membuat Fanny mengingat semua dosa-dosanya terutama pada kedua orang tuanya.
~Riane
Banyak yang nggak mau di tamati ya🤣🤣🤣
Padahal pengennya di tamatin soalnya takut kalian bosen 😁
Tapi ya sudah tetap lanjut saja..
Semoga selalu ada ide setelah ini.. Demi kalian 😙
Jangan lupa mampir ke novelku yang baru...
Di tunggu jejaknya meski masih update 3 bab🤣🤣🤣
Terimakasih dukungannya 🥰
__ADS_1
Love you all 🥰😍