Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 41


__ADS_3

Bella terpaksa meminta izin kepala sekolah untuk mengurus kartu asuransi. Pihak sekolah mengizinkannya dan tidak mempermasalahkan itu sehingga Bella bisa pulang cepat.


Braaak!!!


Bella menutup pintu mobil, dia kaget melihat lelaki asing di dalam mobil yang setahunya milik Daniel.


Apa aku salah orang? Pikir Bella memundurkan tubuhnya.


"Maaf Om salah." Ucap Bella saat kaca mobil turun.


"Masuk. Ini aku."


"Kak.."


"Masuk sayang." Bella segera masuk. Menatap aneh ke arah Daniel yang tengah menyamar.


"Ku fikir aku salah masuk Kak. Kenapa tidak bilang dulu."


"Semalam kan aku sudah bilang ingin menyamar." Bella terkekeh dan baru mengingat itu.


"Astaga iya lupa. Tapi serius, Kak Daniel terlihat berbeda."


"Lucas yang mendadani ku."


"Em begitu.."


"Panggil aku Dimas ya."


"Iya Kak beres."


Daniel melajukan mobilnya dengan perasaan yang tidak terarah. Dia tentu masih merasa sakit atas penghianatan Marco, meski dia tidak ingin Bella datang ke sana sendirian.


Aku harap, Marco tidak ada di tempat, agar dia tidak membahas pertemuanku kemarin.. Tapi jikapun nanti bertemu, ya sudah. Itu bukan masalah besar, aku akan menjelaskan alasannya pada Kak Daniel.


Setibanya di perusahaan, Daniel mengajak Bella bertemu dengan resepsionis, untuk mendapatkan pengarahan meski sebenarnya dia tahu di mana ruangan yang harus Bella masuki.


"Saya Adiknya Bastian." Lisa yang kebetulan ada di sana, menoleh ke arah Bella cepat. Dia mempunyai jalan untuk bisa mengenal Daniel yang tengah menyamar sebagai Dimas.


Lisa langsung tertarik pada Daniel yang terlihat begitu dewasa dengan kumis dan jangkung tipis palsu yang Daniel kenakan.


Astaga.. Tubuhnya bagus dan kumisnya membuatku menjerit..


"Adik Bastian?" Ucap Lisa menggulang.


"Hm iya."


"Astaga.. Aku pacar Kakakmu dulu." Bella mengerutkan keningnya." Aku sedang sakit saat itu, jadi aku tidak bisa datang melayat. Bolehkah aku bermain ke rumahmu cantik." Lisa mengusap pipi Bella lembut dan berpura-pura ramah.


"Untuk apa Kak?"


"Aku ingin mengunjungi pusaran Bastian." Bella menoleh ke arah Daniel untuk meminta persetujuan. Daniel mengangguk seraya tersenyum.


"Hm boleh Kak."


"Terimakasih ya. Em apa keperluanmu ke sini?" Beberapa kali Lisa melemparkan senyuman ke arah Daniel meski tidak di tanggapi.


"Mengurus kartu asuransi Kak Bas."


"Ouch.. Ku antarkan ya." Lisa memegang lengan Bella lembut." Biar ku antarkan." Ucap Lisa pada resepsionis sebelum mengiring Bella masuk ke dalam lift. " Namaku Lisa, kalau kamu?" Tanya Lisa berniat ingin mengenal Daniel lewat bantuan Bella.


"Aku Bella Kak, dan ini Kak Dimas." Lisa mengulurkan tangannya dan di sambut langsung oleh Daniel.


"Lisa."


"Dimas."


"Kamu saudara Bella?"


"Tidak. Aku hanya tetangganya, Bella tinggal bersamaku sekarang." Jawab Daniel menjelaskan.


"Tinggal bersama?" Pintu lift terbuka dan ketiganya pun keluar dan berjalan mengikuti Lisa.


"Rumahku kebakaran Kak, itu kenapa aku mengurus kartu asuransi Kak Bastian."


"Astaga. Kenapa aku tidak mendengar berita itu. Em akan ku bantu, soalnya Bu Eka biasanya berbelit-belit." Lisa tersenyum ke arah Daniel lalu mengetuk pintu sebuah ruangan.


"Masuk." Terdengar suara lirih Bu Eka sehingga Lisa membuka pintu dan ketiganya pun masuk.


"Siapa mereka Lis?" Tanya Bu Eka ketus.


"Adik Bastian. Dia ingin mengurus kartu asuransi yang baru."


"Hari ini aku banyak perkerjaan. Bisa besok datang lagi." Tolak Bu Eka.


"Saya mohon Bu. Em ini saja saya membolos sekolah."


"Kasihan lah Bu Eka. Sudah Kakaknya meninggal, rumahnya kebakaran pula." Sahut Lisa menimpali.


"Kebakaran?" Bu Eka memasang wajah terkejut.


"Iya Bu. Itu kenapa kartu asuransinya terbakar bersama barang-barang saya." Bu Eka menatap Bella iba. Dia memang tidak sedang berpura-pura karena hari ini memang sangatlah sibuk.


"Aku tidak bisa berjanji akan selesai hari ini. Tolong tinggalkan nomer saja biar kamu tidak perlu membolos sekolah lagi." Bu Eka menyodorkan kertas dan bulpen dan Daniel segera menuliskan nomer miliknya." Hm kamu boleh pulang dulu, jika kartunya sudah saya urus nanti saya kabari." Bella tersenyum, seraya menatap Daniel sebentar.


"Terimakasih Bu."


"Bisa pulang sendiri Kan Bell? Aku ada urusan sebentar di sini." Ucap Lisa berniat meminta nomer yang di tulis Daniel tadi.


"Iya Kak. Terimakasih ya. Aku pulang."

__ADS_1


"Hati-hati ya.." Lisa langsung mengambil kertas dan mengeluarkan ponselnya saat Bella dan Daniel sudah keluar ruangan.


"Untuk apa Lis?"


"Tetangga Bella sangat keren. Aku harus berkenalan." Bu Eka menarik nafas panjang. Dia tahu jika Lisa sedikit gila ketika mengagumi seseorang.


"Dulu Pak Daniel, lalu Bastian sekarang tetangga Bella. Aku takut terjadi sesuatu dengan tetangga Bella." Ucap Bu Eka Asal.


"Apa maksudmu Kak ?"


"Pak Daniel menghilang tiba-tiba karena kau menyukainya! Lalu Bastian meninggal secara mendadak saat kau menyukainya dan sekarang tetangga Bella."


"Kau fikir aku pembawa sial?"


"Bukankah sudah banyak fakta yang terjadi."


"Agh! Entahlah. Aku pergi." Lisa melenggang keluar menuju ruangannya, sementara Bu Eka tersenyum karena berhasil mengerjai Lisa dengan ucapannya tadi.


.


.


Syukurlah tidak bertemu Marco...


Baru saja Bella berkata itu, tapi pemandangan di hadapannya membuat matanya membulat. Marco tengah berdiri di ambang pintu masuk perusahaan terpaku menatapnya.


Ahhh aku harus memikirkan alasannya..


Bella mendongak, melihat manik Daniel yang berubah tajam. Entah kenapa Bella takut jika Daniel akan lupa diri sehingga kedua tangannya meraih lembut jemari Daniel.


"Jaga emosi Kak, penyamaran mu bisa terbongkar." Daniel tersenyum mendengar itu dan membuat hatinya merasa tenang.


"Iya sayang. Tenang saja." Aku begitu takut jika Bella tertarik pada manusia itu! Ya Tuhan, cukup perusahaanku saja yang di ambil, jangan dia..


"Astaga Bella." Daniel menoleh cepat ke arah Bella dengan penuh tanya.


Dia tahu nama Bella? Hal itu semakin membuat Daniel merasa ketakutan mengingat Marco juga cukup tampan dengan harta yang berhasil di rebut darinya.


"Maaf Kak. Nanti ku jelaskan." Ucap Bella berbisik.


"Ada perlu apa ke sini? Mencariku?" Marco sempat menatap tangan Bella yang memegang erat jemari lelaki yang baru di lihatnya. Penyamaran Daniel begitu sempurna hingga Marco tidak curiga jika lelaki yang berdiri di samping Bella adalah Daniel, musuhnya.


"Tidak. Saya ada perlu sebentar." Daniel tidak bergeming dan lebih memilih diam. Hatinya sedikit sakit dengan kenyataan di hadapannya meski harus di tekan dalam, karena rasanya Bella menanggapi sikap ramah Marco dengan acuh.


"Biar ku urus untukmu. Apa itu?" Tanya Marco semakin menginginkan gadis kecil di hadapannya.


"Tidak Pak terimakasih. Permisi."


"Tunggu." Cegah Marco membuat Bella berhenti melangkah." Dia tetanggamu? Atau saudaramu?" Tanya Marco dengan manik saling beradu dengan manik Daniel.


"Semakin aneh saja." Jawab Bella mengumpat.


"Sangat tidak penting. Permisi." Marco tersenyum, melihat kepergian Bella dan semakin bersemangat ketika Jim kebetulan datang.


"Katakan. Apa dia tetangga Bella?" Jim melihat ke arah Bella dan kembali mengingat ucapan Fanny yang menyuruhnya memberi informasi asal-asalan.


"Iya Tuan." Jawab Jim tentu mengiyakannya.


"Oh hanya tetangganya. Pantau dia terus." Pinta Marco menuju resepsionis untuk bertanya tujuan Bella ke perusahaan.


"Saya dengar, Nona tadi ingin mengurus kartu asuransi Pak."


"Hm begitu.." Marco mengangguk dan pergi begitu saja masuk ke dalam lift.


**************


"Sejak kapan kamu mengenal Marco?"


"Kemarin. Untung saja kamu sudah memperingatkan saat malam hari, jadi aku sudah tahu jika dia.. Orang jahat itu." Jawab Bella menjelaskan.


"Di mana? Aku bahkan menjemputmu sekolah dan kita langsung pulang." Tutur kata Daniel bahkan terdengar lembut padahal saat ini dia tengah terbakar emosi dan cemburu.


"Di sekolah Kak. Em perusahaan itu yang menyokong dana beasiswa. Dia menawarkan aku perkerjaan setelah sekolah tapi aku menolak meski nantinya beasiswa untukku akan di cabut. Kak Daniel tidak tahu jika perusahaan itu donatur terbesar di sekolahku?" Tanya Bella ingin tahu.


"Aku tidak mengurus masalah kecil seperti itu sayang. Aku tidak tahu dan baru sekarang tahu."


"Aku sudah menolak perkerjaannya Kak."


"Apa alasanmu?" Ingin sekali Daniel mendengar alasan Bella memutuskan menolak beasiswa tersebut.


"Ya kamu Kak. Bukannya kamu membenci lelaki itu? Bukankah itu sudah benar? Apa aku salah?" Tanya Bella lirih. Dia sangat takut membuat Daniel tersinggung apalagi mengingat tugas sebagai istri yang kemarin sore di bahas.


"Aku senang sekali mendengarnya. Aku tidak ingin kamu berhubungan dengan lelaki itu. Dia sangat jahat..."


"Bukan karena jahat.." Sahut Bella cepat." Em karena aku takut membuat Kak Daniel bersedih lalu aku akan berdosa nanti." Daniel tersenyum, meskipun dia asal bicara kemarin tapi nyatanya Bella menurutinya.


"Aku menyanyangi mu."


"Sepertinya aku juga hehe." Ahh malu sekali ingin mengucapkannya.. Iya Kak aku sayang.... Tuhan!! Rasanya sungguh sulit mengucapakan kalimat itu!!


Bella kesulitan mengatakan isi hatinya. Dia baru mengenal cinta beberapa hari ini. Mengenal cinta dari orang asing yang terpaksa harus di biasakan. Tidak ada tujuan lain kecuali cinta itu, sehingga memudahkan Bella untuk mengikuti alur hidup yang sudah mulai di nikmati.


"Tidak boleh terpaksa ya. Harus dari hati." Daniel menyentuh dadanya sendiri seraya tersenyum.


"Aku tidak terpaksa." Sejak tadi Bella berbicara dengan tatapan fokus ke depan. Dia berusaha menyembunyikan rona merah pada wajahnya meski Daniel sudah melihat itu.


"Hm terimakasih."


"Selalu saja bilang terimakasih."

__ADS_1


"Hanya itu yang bisa ku berikan. Lalu, bagaimana pendapatmu tentang Marco?"


"Jika tidak suka jangan di bahas Kak." Jawab Bella menganggap jika pembahasan soal Marco sangatlah tidak penting.


"Mungkin aku cemburu. Tapi hatiku sakit melihatmu berbicara dengannya."


"Aku bahkan tidak melihat wajahnya."


"Tetap sakit sayang. Aku harap kamu juga merasakan hal yang sama."


"Hal yang sama?" Bella menoleh pelan dengan wajah bertanya-tanya.


"Hm.. Kamu sakit ketika melihat aku berbicara atau berdekatan dengan wanita lain. Aku rasa kamu belum merasakan itu."


"Aku biasa saja Kak, karena ku fikir kamu suamiku dan aku yakin kamu tidak akan meninggalkanku." Daniel mengangguk-angguk, dia tahu jika mereka masih sama-sama belajar. Sehingga Daniel ingin menikmati prosesnya.


"Berarti kamu tidak takut kehilangan aku?"


"Ya takut! Kalau Kak Daniel tidak ada? Aku bersama siapa?" Sahut Bella melebarkan matanya." Memangnya Kak Daniel mau meninggalkan aku?" Imbuh Bella dengan wajah panik.


"Aku hanya manusia sayang. Aku tidak tahu bagaimana kedepannya nanti." Daniel asal bicara karena tujuannya hanya menggoda.


"Tidak Kak!" Bella memegang erat lengan Daniel dengan kedua tangannya." Kak Daniel tidak boleh begitu. Kak Bastian sudah pergi, jika Kak Daniel ikut pergi dan menyukai gadis lain, bagaimana dengan nasibku." Daniel melirik sebentar ke wajah Bella yang mulai berkaca-kaca, namun dia berusaha untuk tidak bergeming seolah tidak perduli." Aku sulit nyaman dengan seseorang dan aku sudah nyaman dengan Kak Daniel." Daniel tidak bergeming dan membuat Bella semakin binggung harus merajuk.


Mobil terparkir di depan rumah, Daniel keluar begitu saja sehingga pegangan tangan Bella terlepas. Dengan cepat dia turun dan menghampiri Daniel yang akan membuka pintu rumah.


Kedua tangannya kembali memegang lengan Daniel erat. Bella sangat takut jika harus hidup sendiri mengingat tidak adanya saudara yang tinggal di kota tersebut. Apalagi kenyamanan yang di hadirkan Daniel sungguh sangat menyentuh hatinya. Membuatnya begitu nyaman melebihi kenyamanan yang di berikan Bastian dulu.


"Kak.." Panggil Bella mendongakkan kepalanya ke arah Daniel.


"Hm..." Daniel masih terlihat acuh. Bella menarik nafas sepanjang-panjangnya untuk mengendalikan perasaan yang bergemuruh di dalam hatinya.


Fisiknya memang kuat tapi rasanya hati Bella tidak sekuat itu. Matanya mulai berair seraya terus mengekor Daniel yang tengah menuju ruang tengah.


Daniel melepas kumis, jenggot dan jangkung palsunya lalu meletakkannya ke kotak yang ada di atas meja. Rasanya sungguh tidak tega, namun Daniel benar-benar ingin tahu apa Bella takut kehilangannya seperti yang di rasakan.


Aku tidak meminta balasan sayang.. Tapi paling tidak, aku tahu sebesar apa perasaan yang hadir dalam waktu sesingkat ini...


"Kak hiks.. Jangan begitu. Kita bahkan sudah berciuman dan tidur bersama. Apa itu tidak cukup untuk mengikat hubungan kita? Aku tidak pernah melakukan itu dengan siapapun hiks, tidak terkecuali Kak Bastian." Sesekali tangan Bella terlepas untuk menyeka air mata yang mulai terus keluar.


Daniel tersenyum dalam hati, melihat tangis dari gadis kecil di sampingnya yang tengah menangis untuknya.


"Jika aku memang sepenting itu, apa buktinya?" Bella tidak memahami jika sebenarnya Daniel lebih jahil daripada Kak Bastian.


"Lakukan Kak, jika aku hamil mungkin Kak Daniel tidak akan bisa pergi."


Semua tidak berjalan sesuai keinginan. Daniel ingin Bella memintanya untuk tidak berhubungan dengan wanita lain. Tapi kenyataan yang di lihat sungguh mencengangkan.


Secepat kilat, Bella naik ke pangkuan Daniel seraya melepaskan kancing seragam sekolahnya dengan mata yang masih berkaca-kaca.


Daniel melongok, terpaku dan membiarkan itu terjadi begitu saja sebab dia merasa kaget dan tentu saja menegang.


Kesadarannya kembali dengan tepat, ketika Bella sudah akan melepaskan kancing terakhirnya.


"Tutup lagi? Kenapa kamu lakukan ini?" Ini kali pertama untuk Daniel, hingga tangannya sedikit bergetar ketika mengancing baju Bella satu persatu dengan begitu hati-hati. Bukan tidak ingin menyentuh, tapi dia takut tersentuh karena hatinya tentu akan meledak.


Tarikan nafas berat berhembus, Daniel tengah mengendalikan kewarasannya. Ada niat dalam hati untuk melakukan itu sekarang setelah keindahan yang di lihatnya tadi.


"Kamu terlalu polos sayang. Tidak baik melakukan itu." Gumam Daniel setelah selesai mengancing. Itu melelahkan, lebih melelahkan ketika saat dia berlari marathon.


"Lalu bagaimana? Kenapa tidak baik? Kita sudah suami istri dan itu akan baik."


"Kamu masih sekolah astaga." Daniel menatap Bella yang masih berada di pangkuannya dengan posisi miring.


"Tapi Kak Daniel menuntut itu. Aku benar-benar tidak memiliki siapa-siapa." Bella mengusap kasar kedua sudut matanya.


"Ya Tuhan.. Lelah sekali." Gumam Daniel perlahan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang kecil Bella dan menyandarkan kepalanya pada pundaknya.


"Lelah denganku?"


"Tidak sayang. Aku hanya ingin memberikan pengertian soal cemburu tapi kamu membuatku kelelahan seperti sekarang." Daniel terkekeh dengan kepala yang masih bersandar lembut.


"Apa itu berarti Kak Daniel menggerjaiku tadi!"


"Tidak. Tidak." Daniel mengangkat kepalanya dan menatap wajah kesal Bella. Lingkaran tangannya dia eratkan sehingga wajah keduanya sangatlah dekat." Aku hanya ingin kamu cemburu bukan membuka bajumu seperti tadi." Imbuh Daniel kembali terkekeh. Bella membuang nafas panjang dan mulai mengerti kenapa Daniel bersikap seperti itu.


Aku melakukan hal bodoh lagi.. Memalukan sekali! Fikiranku sangat kotor hingga harus mengajak Kak Daniel berbuat itu.. Dia menjadi tahu sekarang!!


Bella menyilangkan kedua tangannya ke dadanya, dia berusaha mengangkat bokongnya namun tangan Daniel tidak membiarkannya pergi.


Posisinya sangat berbahaya!!! Bagaimana ini!!!


~Riane


Hai reader ter sayang🥰


Hari ini aku sibuk, jadi mungkin bisa update cuma satu kali😩


Terimakasih kasih yang sudah memberikan dukungan..


love you all 😍



Me🤭😄👆👆: Visual Daniel 😚


Itu bayangan ku soal Daniel 🤤🤤Jika kalian berbeda pandangan it's oke 🎉🎉Menurut selera masing-masing 🥰🥰


Terimakasih 🥰🥰🥰

__ADS_1


Sampai jumpa besok🎉🎉🎉


__ADS_2