
Setiap langkah kehidupan yang terlalu indah, selalu Daniel persembahan kan untuk Bella. Meski terkadang ada sedikit tetes air mata harus keluar dan semakin mengeratkan hubungan keduanya tanpa celah.
Sembilan tahun berlalu...
Kini umur Demian 10 tahun. Dia tumbuh menjadi anak yang tampan juga cerdas. Dua sisi baik dari Daniel dan Bella kini menjadi miliknya sehingga Demian menjadi idola di sekolahnya.
"Bagaimana sekolahmu sayang?" Tanya Bella seraya menyiapkan makanan untuk Demian.
"Tentu saja Ian jadi juaranya." Jawab Demian berbangga.
"Ingat untuk selalu rendah diri." Demian mengangguk-angguk tanpa membalas ucapan Daniel padanya." Kamu dengar ucapan Papa?" Imbuh Daniel membaca gelagat tidak baik dari Demian.
"Dengar Pah. Iya Demian ingat, tidak boleh sombong, harus rendah hati. Begitu kan?" Bella melihat dua orang yang memiliki wajah sama di hadapannya secara bergantian. Pertengkaran kecil kerapkali terjadi, sebab Daniel selalu saja khawatir dengan Demian yang mungkin akan menjadi anak Badung jika tidak di arahkan dengan baik.
"Itu bukan sekedar ucapan Nak. Harus kamu lakukan dan praktekkan."
"Siap Pah." Demian berdiri seraya meminum sisa susunya.
"Hei belum habis." Protes Bella.
"Sudah terlambat Mamaku sayang. Aku berangkat dulu ya. Muuuach." Demian menciumi pipi Bella dan Daniel secara bergantian. Dia menjinjing tas sekolahnya dan berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
"Sudah ku bilang. Jangan terlalu di manjakan sayang." Eluh Daniel merasa takut dengan kekhawatirannya.
"Dia anakku satu-satunya Kak." Sampai saat ini, Bella masih menyebut Daniel dengan panggilan itu, karena Daniel yang menginginkannya.
"Meski begitu sayang. Dia laki-laki, kamu harus lebih tega padanya." Bukan tanpa alasan Daniel berkata demikian. Memang Demian memiliki paras yang sama dengannya tapi sifat Demian cenderung meniru Bella yang notabenenya berwatak keras.
"Aku tidak bisa." Daniel tersenyum hangat. Menatap wajah cantik Bella yang lebih terlihat berisi dan semakin membuat Daniel merasa gemas meski pernikahan mereka sudah sangat lama berjalan." Aku benci kau tatap seperti itu Kak! Kenapa sih? Apa aku sekarang lebih mirip karung goni??" Daniel terkekeh mendengar kecurigaan Bella yang selalu saja terlontar setiap hari.
"Kamu paling cantik dan masih paling cantik. Dulu, sekarang dan selamanya." Jawab Daniel mengecup pipi kanan Bella.
"Serius Kak Daniel." Bella tersenyum seraya menyantap sajian di hadapannya." Apa aku harus berdiet?" Imbuhnya lagi.
"Aku serius. Tidak perlu berdiet." Bella bergegas menggeser piringnya lalu beranjak dan menempelkan bokongnya pada paha Daniel.
"Suapi Kak." Rengek Bella.
Daniel menggeser piringnya dan lebih mendahulukan keinginan istrinya.
"Berat Kak." Tanya Bella seraya menguyah.
"Tidak sayang. Badan sekecil ini, berat apanya." Bagi Daniel, Bella malah terlihat mengemaskan dengan tubuh berisi nya.
__ADS_1
"Kak Daniel meledek. Kecil apanya?"
"Milikmu yang kecil dan selalu menjepit."
"Jangan bahas itu Kak. Kita sedang makan." Bella tersenyum, memandangi wajah Daniel yang tidak berubah sedikitpun. Postur tubuhnya bahkan sama. Tinggi, tegap dengan kulit yang lebih terang darinya.
Namun ada satu perubahan yang terjadi setiap harinya dan paling terlihat menonjol. Itu adalah, rasa sayang dan perhatian Daniel yang berubah lebih banyak setiap harinya. Membuat Bella merasa sangat nyaman berada di sisinya.
Apalagi Demian sekarang sudah remaja. Membuat mereka sering menghabiskan waktu berdua seperti saat awal pernikahan.
"Happy anniversary sayang." Ucap Daniel tersenyum, memandangi wajah Bella dari lampu redup ruangan. Di depan keduanya terdapat cake dengan lilin angka bertuliskan lima belas.
"Happy wedding anniversary too." Jawab Bella seolah kembali jatuh cinta lagi dan lagi pada sosok dewasa di hadapannya.
Daniel meraih jemari Bella yang memang sengaja di kosongkan untuk momen malam ini. Itu sudah biasa mereka lakukan, sebab setiap tahun Daniel selalu memberikan sebuah cincin baru untuk menghiasi jari manis milik Bella.
"Bukankah sudah terlalu tua melakukan ini." Tanya Bella lirih, memandang cincin indah yang terpasang di jari manisnya.
"Kita akan terus melakukan ini selama masih bernafas dan meskipun nantinya ada salah satu dari kita pergi terlebih dahulu. Berjanjilah untuk tidak saling meninggalkan."
"Jangan lagi Kak. Aku tidak mau membahas itu." Jawab Bella dengan mata mulai berkaca-kaca. Membayangkan hal itu, sungguh sangat membuatnya sakit mengingat semua anggota keluarganya di pisahkan karena kematian.
"Bukankah ini janji kita pada setiap tahunnya." Daniel menggeser tubuhnya dengan tangan terulur dan menyeka sudut mata Bella yang mulai berair.
"Aku hanya ingin mengulang janji kita setiap tahunnya."
"Aku selalu ingat itu Kak." Daniel mendekapnya lembut, menenggelamkannya pada dadanya hingga acara makan malam terhenti sesaat.
"Kenapa malah bersedih? Ini hari anniversary kita. Ayolah sayang kita rayakan. Aku merindukan momen ini sebab setelah melewatinya aku merasa kembali muda." Bella mengangkat kepalanya seraya tersenyum. Kedua tangannya terulur dan mulai membuka kancing kemeja yang Daniel kenakan." Tidak makan dulu?" Tanya Daniel dengan jantung berdebar. Rasanya sungguh sama seperti awal pertemuan mereka.
"Kita bercinta dulu Kak lalu makan." Daniel berdiri seraya mengangkat tubuh Bella bersamanya
"Sudah siap?" Tanya Daniel lembut.
"Sangat siap." Setelah jawaban dari Bella terlontar, Daniel langsung melummat bibir Bella dengan sangat kasar. Tubuh Bella di hempaskan di atas ranjang namun entah kenapa Bella malah terkekeh dan sesekali tersenyum menggoda.
"Aku berjanji kamu tidak akan bisa berjalan besok pagi." Ucap Daniel melucuti pakaian Bella kasar bahkan menyobeknya.
Ini adalah tema percintaan yang selalu di lakukan setiap tahunnya di hotel yang sama seperti yang mereka datangi setiap tahunnya.
Malam yang panjang, sepanjang gerakan keduanya yang tidak berhenti hingga menjelang pagi.
"Ahh Kak Daniel sakit sekali." Dessah Bella meski bibirnya tersungging menatap wajah Daniel yang berkeringat dan berantakan.
__ADS_1
"Sudah ku katakan jika kau tidak akan bisa berjalan setelah ini. Ah sayang kenapa pagi begitu cepat datang. Aku masih ingin ini. Egh ah ah."
"Cepat selesaikan. Panas sekali Kak." Daniel juga tersungging, menatap Bella terlihat berantakan di bawah tubuhnya yang masih belum berhenti bergerak. Itu membuatnya bersemangat, hingga gerakkannya pinggulnya semakin tidak terkendali. Daniel menggerang nikmat, terkulai di sisi Bella dengan nafas tersengal. Hanya sebentar begitu, sebelum akhirnya dia kembali merengkuh tubuh Bella yang tengah tertidur pulas tanpa aba-aba.
Aku ingin menua dan mati di waktu yang sama Tuhan.. Aku tidak ingin membuatnya bersedih dan selalu memikirkan ini..
Keinginan yang sama, janji yang sama, tempat yang sama. Yang berbeda hanyalah, rasa cinta yang semakin menguatkan setiap harinya, mengakar di dasar hati masing-masing.
End ....
Aku ucapkan terimakasih untuk dukungannya...
Waktunya...
Kuotanya...😁😁
Karena sudah menyisikan sedikit waktu untuk membaca novel receh ku ini..
Jika memungkinkan, aku akan buat cerita tentang Demian yang rencananya akan masuk ke dunia entertainment..
Bagaimana ceritanya....
Aku juga masih mencari😁😁
Sambil mengisi waktu kalian yang terbuang...
Jika berkenan.
Mampir ke ceritaku yang baru ya..
Di tunggu jejaknya...
Salam sayang Daniel❤️Bella
Visual Isabella, meski matanya kurang bulat tapi aku melihat Bella seperti ini karakternya 😁👇
Selamat tinggal juga untuk Daniel 😭yang nanti akan berubah nama menjadi Demian 👇👇👇
Terimakasih sekali lagi...
__ADS_1
Love you all 😍🥰🥰🥰🥰