Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 47


__ADS_3

"Kenapa pertanyaan anda selalu saja seperti itu?" Protes Bella.


"Daniel berkata itu tadi. Aku yakin jika dia hanya berbohong."


"Berbohong apa?" Bella ingin mencari tahu kebenaran tentang pertemuan Marco dengan Daniel.


"Aku tahu kalian bertetangga, tapi tidak seharusnya dia membohongiku hanya untuk melindungi mu agar tidak di dekati lelaki lain." Ada senyum membingkai di bibir Bella. Dia merasa Marco belum mengetahui jika Daniel mengingat semua kejahatannya.


Pasti Kak Daniel pura-pura amnesia?


"Jika tersenyum, berarti aku benar." Bella melirik tajam dan mengganti mimik wajahnya.


"Salah! Dia memang kekasih saya!!" Marco terkekeh penuh hinaan meski sorot matanya tidak dapat menipu jika sebenarnya dia kembali merasa iri." Saya harus masuk kelas." Marco meraih lengan Bella sehingga terpaksa Bella menampisnya dengan sangat kasar.


"Astaga.. Tegas sekali."


"Bisakah anda tidak menganggu saya!" Tatap Bella tajam.


"Tidak bisa. Apa yang kamu sukai dari Daniel?" Pertanyaan Marco semakin membuat emosi Bella meletup-letup.


"Itu bukan urusan anda."


"Hidupmu akan sulit jika bersamanya. Sayang sekali, kamu sangat cantik dan berprestasi. Kamu bisa mendapatkan seseorang yang lebih dari dia. Apa kamu menyukainya hanya karena pesan dari Kakakmu?"


"Kenapa anda perduli dan untuk apa anda membahas sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan sekolah?" Tanya Bella dengan nada tinggi.


"Aku yakin kamu hanya terpaksa menyukainya. Kamu masih terlalu lugu dan tidak mengerti bagaimana kerasnya hidup. Hidup di dunia ini itu butuh uang, bukan hanya perasaan dan tanggung jawab." Bella terdiam, mendengarkan celotehan Marco yang di rasa tidak berarah." Tinggalkan Daniel. Ikut bersamaku, kamu tidak akan kekurangan apapun dan tinggal di istana yang megah, bukan di rumah tua yang buruk itu." Bella terkekeh mendengar itu. Sekarang dia mengerti tujuan Marco mengejarnya sejak kemarin itu apa.


"Rasanya akan ada lagi orang semacam Kenan."


"Kenan? Siapa?"


"Orang gila semacam dirimu."


"Aku serius."


"Aku juga serius. Aku tidak tertarik dengan tawaranmu. Aku suka petualangan dan tinggal di rumah tua. Itu membuat adrenalin ku tertantang untuk mencari penampakan di sana." Marco menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar.


"Hidupmu akan sulit jika memilih dia."


"Hm oke." Bella tersenyum dan akan beranjak.


"Akan ku buat kau mengemis padaku nanti." Bella menoleh dan tersenyum tipis.


"Fikirkan itu hanya dalam mimpimu Tuan."


"Itu akan jadi kenyataan, lihat apa yang bisa ku lakukan agar kau bisa meninggalkan lelaki miskin itu."


"Kau juga harus melihat kenyataan jika nanti aku tidak akan meninggalkan Kak Daniel apapun yang terjadi." Jawab Bella tegas dengan sorot mata tajam. Membuat Marco semakin ingin dan ingin menjerat gadis kecil di hadapannya." Tidak semua kebahagiaan bisa di ukur dengan kekayaan termasuk apa yang sedang kau rasakan sekarang. Kau memang memiliki segalanya Tuan, tapi ku rasa kau belum memiliki kebahagiaan. Dan mungkin selamanya tidak akan memiliki kebahagiaan!" Bella mendorong pundak Marco dengan telunjuknya lalu melenggang pergi menuju ke kelasnya.


"Apa benar dia gadis SMA!!" Gumam Marco menatap geram ke arah Bella." Lihat saja apa yang bisa ku lakukan nanti!" Umpatnya seraya mengambil kartu asuransi dan mematahkannya.


"Astaga Pak, jika bukan satpam yang memberitahu. Saya tidak tahu Pak Marco ke sini." Marco menoleh ke arah kepala sekolah lalu berjalan menghampirinya.


"Beasiswa untuk Bella ku cabut berserta semua keringanannya."


"Loh kok begitu Pak?"


"Itu keputusan ku. Dia tidak layak mendapatkan itu." Marco melangkah pergi meninggalkan kepala sekolah yang masih di buat binggung dengan perkataan Marco.


"Aku baru tahu kalau Pak Marco itu plin-plan. Kemarin bilang begitu, sekarang bilang begitu. Duhhh pusing jadinya. Bagaimana mungkin siswi berprestasi seperti Bella tidak mendapatkan tunjangan?" Umpat kepala sekolah berjalan menuju kantornya yang berada tidak jauh dari sana.


.


.


.


Bella bisa belajar dengan tenang ketika mendapatkan laporan dari Sari jika Daniel menjawab panggilannya. Itu berarti Daniel baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu yang serius.


Ya Tuhan, kenapa orang jahat itu malah mengancam ku seperti itu? Apa kurang cukup dia merebut kebahagiaan Kak Daniel dan sekarang dia ingin berulah lagi?


"Bella.." Suara Bu Erna membuyarkan lamunan Bella.


"Ya Bu." Jawab Bella gagap.


"Kamu tidak pulang?" Bella baru sadar jika dia tertinggal sendiri di kelas.


"Astaga iya Bu." Bella membereskan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Ku fikir ke mana." Sapa Erin dan Sari masuk ke dalam kelas. Bu Erna tersenyum kemudian berjalan keluar kelas.


"Ya di kelas." Jawab Bella seraya mengalungkan tasnya lalu berdiri.


"Siapa lelaki tadi?"


"Tidak penting."


"Dia tampan."


"Tidak!" Sahut Bella cepat." Dia buruk dan hatinya sangat busuk. Kalian jangan sampai tertarik padanya. Sialan!!!" Imbuh Bella seraya mengumpat lirih.


"Iya iya.." Jawab Sari lemah.


"Jangan ceritakan pada Kak Daniel." Tutur Bella berubah lemah.


"Beres Bell." Erin merangkul kedua pundak Bella begitupun Sari.


Di depan pintu gerbang, Daniel sudah menunggunya bersama dengan Sisca dan Elena yang memaksa untuk ikut.


"Aku ada keperluan setelah ini, jadi tidak bisa." Tolak Daniel.


"Ayolah Kak. Kita janji tidak akan merepotkan." Rajuk Sisca sementara Elena hanya diam dan mampu melihat saja.


"Tidak bisa maaf."


"Please Kak." Sisca meraih lengan Daniel dengan kedua tangannya dan dengan cepat Bella menyeretnya mundur.


"Apaan sih! Bukannya tadi sudah ku bilang tidak bisa main." Sahut Bella ketus. Dia cukup kesal dengan kedatangan Marco di tambah dengan tingkah laku murahan Sisca yang memuakkan.


"Hanya sebentar saja. Bukannya kita teman?"


"Omong kosong! Sikap murahan mu membuat kau selalu berkata omong kosong untuk melancarkan aksimu itu. Kita pergi Kak." Pinta Bella dengan kedua tangan mendorong lembut punggung Daniel.


"Biar ku bukakan pintu mobilnya."


"Aku bisa." Bella membuka pintu mobil, Daniel tersenyum lalu berjalan menuju sisi lain mobil namun tidak langsung masuk.


"Kau pelit sekali sih Bell. Hanya berkenalan saja tidak boleh dan malah menyebutku murahan. Kau menjelekkan namaku."

__ADS_1


"Astaga..." Eluh Bella pelan. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk dan malah menatap fokus ke arah Sisca." Hari sangat melelahkan." Bella menghampiri Sisca lalu merangkul kedua pundaknya erat, sangat erat hingga membuat Sisca ingin melepaskan diri." Perasaanku sedang tidak baik Nona. Jika kau terus saja berceloteh, aku bisa saja menampar mulutmu itu agar kau tidak lagi bisa berkomentar." Bisik Bella menekan rangkulan tangannya.


"Lepas.." Ucap Sisca mulai merasakan nyeri pada pundaknya." Oke aku diam." Imbuhnya tidak bisa menyingkirkan tangan Bella dari pundaknya.


"Baik sekali." Bella tersenyum lalu mengangkat tangannya dan menepuk punggung Sisca hingga tubuhnya terdorong ke depan." Tunggu apa Kak." Tanya Bella kembali membuka pintu mobil.


"Masuk dulu."


"Hm.." Bella masuk di ikuti oleh Daniel.


"Bukankah hanya Kakaknya? Kenapa Bella begitu sih." Gumam Sisca memijat pundaknya.


"Sudah jelas bukan. Dia tidak suka kau dekat dengan Kak Daniel. Bukankah kau tadi merayu Kenan?" Sahut Elena melirik malas.


"Ya namanya juga usaha jadi sama-sama jalan. Kurang apa sih aku?"


"Kurang kerjaan. Aku pulang dulu, aku ada acara keluarga setelah ini."


"Eh tunggu."


"Apalagi?"


"Nanti malam antar aku ke rumah Kak Daniel, kita bawa makanan dan buah agar mereka bisa menerima kita." Elena menarik nafas panjang karena tidak kuasa menolak. Ayahnya akan marah jika sampai Sisca melapor.


"Oke terserah. Duluan ya."


"Hm hati-hati. Wah... Ku belikan saja makanan dari restoran mewah, pasti Kak Daniel mau menerimanya." Sisca masuk ke dalam mobil jemputan seraya bersenandung kecil.


Di mobil...


"Kak Daniel suka sekali ya di kelilingi gadis-gadis belia." Ucap Bella menatap keluar kaca mobil.


"Satu gadis sudah cukup sayang. Tidak perlu gadis-gadis." Erin dan Sari tersenyum, mereka ikut bahagia sebab rasanya Bella sudah memiliki rasa cemburu.


"Kenapa tidak masuk ke mobil saja tadi."


"Aku takut kamu di ganggu lagi dengan teman laki-lakimu."


"Aku singa betina, mana mungkin ada yang menganggu. Tanya Erin dan Sari jika tidak percaya."


"Hehe iya Kak."


"Berarti aku penjinak singa?" Erin dan Sari terkekeh sementara Bella hanya tersenyum tipis.


"Terserah mau menyebut apa."


"Emm.. Aku antar sampai gang saja ya. Setelah ini ada keperluan." Ucap Daniel seraya melihat Erin dan Sari dari spion mobil.


"Iya Kak. Seharusnya tadi tidak perlu di antar jika memang sibuk."


"Tidak apa." Daniel berhenti di samping gang.


"Terimakasih ya Kak, sampai jumpa besok Bell."


"Iya hati-hati."


Setelah Erin dan Sari turun, mobil kembali melaju. Bella menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Emosinya sedikit terkuras hari ini sehingga dia sedikit lelah.


"Capek?" Tanya Daniel lembut.


"Sedikit Kak. Hari ini ada ulangan harian mendadak." Daniel tersenyum lalu menurunkan jok tempat duduk Bella.


Kenapa Kak Daniel tidak bercerita??


"Hmm.." Bella menyandarkan punggungnya dengan menatap ke luar kaca mobil." Kenapa tidak langsung pulang? Aku ingin tidur." Tanya Bella lirih.


"Kita membeli ponsel untukmu agar bisa berkomunikasi." Bella beralih menatap Daniel dari samping.


"Tidak perlu Kak. Aku jarang menggunakan ponsel."


"Aku merasa tidak nyaman jika temanmu menelfon dan mengingatkan aku seperti tadi sayang. Sebenarnya aku tidak pernah lupa menjemputmu tapi, jika kamu memiliki ponsel. Kamu yang akan mengingatkan aku, bukan temanmu." Padahal tujuan Daniel membelikan ponsel bukan itu. Dia ingin selalu terhubung dengan Bella meski saat sedang bersekolah. Rasa khawatirnya akan ancaman Marco menghantui, sehingga Daniel tidak ingin lengah dan bisa membuatnya kehilangan Bella.


"Uangnya bisa untuk kebutuhan lain Kak."


"Kita beli ponsel bekas, asal bisa di pakai."


"Hm ya sudah."


Memang sejak tadi pagi, Bella masih mengantuk dan di tambah dengan perdebatannya bersama Marco sehingga membuat tubuhnya semakin lemah. Apalagi dia mulai terbiasa melihat wajah Daniel sebelum tidur, membuat matanya terasa sangat berat sekarang.


"Hoaaammm.. Mataku berat sekali." Gumam Bella berusaha membulatkan matanya namun sulit.


"Tidur saja dulu." Belum sempat Daniel berhenti bicara, terdengar dengkuran halus sebab Bella sudah mendapatkan kantuknya.


Tiiiiiiinnnnnnn....


Bella langsung berjingkat duduk. Daniel menarik nafas panjang karena merasa kesal pada pengendara yang ugal-ugalan hingga harus membunyikan klakson mobilnya sekeras itu.


"Ahhh... Kepalaku sedikit pusing." Eluh Bella tentu merasa kaget.


"Maaf sayang."


"Kenapa Kak Daniel yang minta maaf. Orang tadi yang membunyikan klakson."


"Iya. Aku berjanji akan sebentar lalu kita pulang agar kamu bisa tidur."


"Iya Kak." Bella meraih air mineral lalu meminumnya.


"Tidak ingin tidur lagi?"


"Pusing Kak."


"Ulangannya sangat banyak ya? Wajahmu terlihat sangat lelah."


"Hm iya, semua mata pelajaran mengadakan ulangan mendadak." Jawab Bella berbohong.


"Semangat sayang." Daniel mengusap puncak kepala Bella lalu memarkir mobilnya di bahu jalan pasar tradisional." Kita sudah sampai. Jika kamu tidak mau turun, tunggu di mobil. Aku hanya akan ke sana." Menunjuk toko ponsel bekas.


"Aku ikut Kak."


"Hm tunggu di situ." Daniel melepaskan sabuk pengaman lalu turun dan membukakan pintu mobil untuk Bella.


Aku sangat kasihan pada Kak Daniel..


Kasihan sekali, dia harus berpanas-panasan seperti sekarang hanya untuk sebuah ponsel bekas saja...


Cukup lama keduanya berdiri sebab jalanan begitu ramai, Bella tersenyum memperhatikan sekitar. Melihat banyak orang berjualan makanan tradisional dan tentunya sangat sedap.


"Melihat apa?" Tanya Daniel ikut tersenyum.

__ADS_1


"Kak Daniel tidak mencium bau sedap ini hehe."


"Kamu mau membelinya?"


"Iya. Untuk makan siang. Dulu Mama sering membungkus makanan itu ketika pulang dari pasar."


"Kita menyebrang jalan dulu lalu membeli ponsel dan membungkusnya."


"Oke Kak." Keduanya menyebrang jalan saat lalu lintas tidak seberapa ramai.


"Duduk situ agar tidak lelah."


"Tidak Kak. Aku ikut saja." Keduanya berdiri di depan etalase kaca.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mencari ponsel bekas yang layak pakai."


"Semuanya layak pakai Tuan."


"Hm coba lihat yang itu." Si penjual langsung memberikan ponsel yang sesuai.


"Ini harganya masih sedikit tinggi Tuan. Saya membelinya dari tetangga saya yang sedang butuh uang jadi ponselnya saya jamin masih bersegel."


"Boleh saya periksa."


"Tentu saja." Pemilik toko membuka ponselnya dan memperlihatkan bagian dalam ponsel yang masih bersegel.


"Berapa?"


"Satu juta lima ratus." Daniel mengambil dompet dan akan membayar.


"Tidak boleh kurang Pak?" Sahut Bella menawar.


"Saya jamin itu masih bagus Non."


"Iya bagus Pak. Apa tidak ada potongan?" Bella memberi isyarat Daniel untuk diam dulu.


"Itu sudah murah Non."


"Ayolah Pak. Untuk keperluan sekolah Pak."


"Duh bagaimana ya."


"Paling tidak bisa di pakai untuk beli makan siang hehe." Daniel ikut tersenyum mendengar itu.


"Okelah Non, Bapak potong seratus lima puluh ya."


"Wah, terimakasih Pak. Semoga usahanya lancar.."


"Iya Non sama-sama."


"Jadi?"


"Satu juta tiga ratus lima puluh Tuan."


"Hmm ini Pak." Pemilik toko menghitung uang kemudian mengemas ponsel dan di berikan pada Daniel." Kamu pintar menawar sayang." Ucap Daniel kembali menyebrang jalan.


"Baru satu kali itu Kak."


"Kedengarannya sudah terbiasa."


"Sistem marketing hehe." Daniel terkekeh begitupun Bella." Kan lumayan bisa untuk makan." Imbuhnya mengiring Daniel menuju pedagang nasi dengan lauk menggugah selera." Bu nasinya dua ya di bungkus." Ucap Bella ramah.


"Lauknya apa Non."


"Aku emm.. Ikan ini saja, Kak Daniel apa?"


"Sama sayang." Jawab Daniel memang tidak pernah pergi ke pasar tradisional sebelumnya.


"Ikan ini semua ya Bu. Berapa Bu?"


"25 Non."


"Wah murah sekali hehe, aku punya Kak." Bella mengeluarkan dompet kecilnya dan mengambil uang pas.


Entahlah Tuhan.. Aku tidak sanggup berkomentar tentang gadis yang kau hadirkan di hidupku... Aku belajar tidak mengeluh darinya dan dia menghadirkan kebahagiaan yang sungguh membuat hidupku lebih berwarna...


*************


"Dia memang Daniel." Ucap Marco saat Fanny memperlihatkan beberapa foto yang di ambil Jim.


"Lalu apa rencanamu?"


"Untuk apa? Dia tidak mengingat semuanya. Dia masih amnesia."


"Kamu yakin?" Tanya Fanny mengulang. Dia juga tidak ingin masuk penjara.


"Aku menemuinya tadi. Jika dia tidak amnesia, mungkin dia akan mengambil kembali hartanya ke kita." Fanny mengangguk-angguk dan membenarkan itu.


"Lalu? Kenapa raut wajahmu seperti itu?"


"Dia kekasih Bella. Adik Bastian yang ingin ku perkerjakan di sini."


"Oh begitu." Jawab Fanny dengan santainya." Ya sudah. Rekrut orang lain saja daripada akan membahayakan kita." Imbuh Fanny memberikan ide.


Aku hanya mau Bella sebab rasanya aku ingin memilikinya bukan hanya untuk perusahaan ini..


"Tidak ada yang sepintar dia."


"Pasti ada."


"Aku hanya ingin dia!!"


"Aku tidak mau berurusan dengan lelaki tidak normal itu. Berfikir lah hei Marco! Ini membahayakan kita! Meskipun dia masih tidak mengingat semuanya sekarang." Ucap Fanny menatap tajam Marco.


"Kau tahu apa!!! Kau hanya tahu berbelanja dan bersenang-senang!! Keputusan ada padaku jadi jangan mencoba mengatur ku!!" Jawab Marco tentu tidak ingin kalah.


"Aku memang melakukan ini untuk bersenang-senang. Tapi semua ini sudah cukup! Lepaskan Bella. Cari pegawai lain yang bisa menggantikan posisi Bastian."


"Dia akan menguntungkan untuk perusahaan kita." juga menguntungkan untukku. Aku tidak akan bilang pada Fanny jika aku menyukai Bella. Perusahaan ini tidak lagi penting.. Aku hanya ingin mendapatkan Bella bagaimanapun caranya...


~Riane


Tanganku 🤭🤣🤣🤣


Gpp demi kalian


Terimakasih sudah memberikan dukungan..

__ADS_1


Love you all 😍😚🥰


__ADS_2