
Happy reading 🥰
Setelah kepulangan Nara dan Joy. Daniel menyuruh Bella kembali beristirahat karena wajah pucat nya belum juga membaik padahal vitamin sudah di konsumsi.
"Aku sudah baik-baik saja Kak." Tolak Bella tersenyum.
"Wajahmu masih pucat." Bella memutar tubuhnya, melipat kedua kakinya dan menghadap ke arah Daniel.
"Jadi, Kak Daniel bisa ke perusahaan lagi?" Tanya Bella antusias.
"Hmm, aku akan memberikan hidup layak untukmu nanti."
"Itu tidak penting Kak. Aku tidak masalah hidup seperti apapun Kak. Aku hanya tidak ingin melihatmu bersedih."
"Apa sikapku membebani mu sayang." Daniel menarik lembut kaki Bella dan meletakkan di pahanya lalu memijatnya lembut.
"Bukannya aku yang membebani." Jawab Bella lirih, menatap fokus pada tangan Daniel yang tengah memijat.
"Aku tidak pernah merasa begitu."
"Aku yang merasa tidak enak." Bella memajukan tubuhnya membuat Daniel langsung melingkarkan tangannya ke punggung bawah Bella.
"Aku Suamimu." Secepat kilat Daniel mengangkat tubuh Bella." Ada yang ingin ku tunjukkan padamu." Daniel berjalan masuk ke dalam kamar lalu mendudukan Bella di pinggiran tempat tidur. Dia duduk berjongkok lalu menarik sebuah bungkusan dari bawah kolong ranjang.
"Apa itu Kak?" Tanya Bella penasaran.
Daniel hanya tersenyum lalu membuka bungkusan dan mengeluarkan kotak berwarna hitam peninggalan Bastian. Tentu saja Bella melongok melihat itu, dia menurunkan kakinya namun Daniel cepat-cepat berdiri untuk mencegah.
"Kak itu kan." Tanya Bella terbata.
"Milikmu, hakmu, pergunakan dengan baik untuk keperluan mu." Bella memasang wajah kesal, dia tidak menyangka jika Daniel menyembunyikan itu semua padahal dia tengah kesulitan.
Bugh!
"Menyebalkan sekali kamu kak!" Umpatnya kesal.
"Menyebalkan apa?"
"Bukankah seharusnya kamu bisa memakai uang ini!!" Daniel meletakkan kotak hitam itu dan memeluk tubuh Bella erat.
"Aku akan memakai dress jika melakukannya." Jawab Daniel dengan nada lembut.
"Kau fikir aku tidak ikut memikirkan ini semua Kak! Jika ada uang itu, tidak mungkin aku ikut merasa bersedih." Daniel mengangkat tangannya lalu membelai rambut Bella lembut.
"Itu kenapa aku menyembunyikannya. Kamu akan memaksaku memakai uang itu." Daniel merasa beruntung atas inside kebakaran itu. Dia jadi bisa menyembunyikan uang yang memang bukan haknya pada Bella, sehingga Bella tidak lagi mengungkit uang tersebut.
"Uangku adalah uangmu Kak."
"Uangmu adalah uangmu sayang, aku sedikitpun tidak punya hak untuk itu."
"Ternyata Kak Daniel keras kepala ya." Daniel tersenyum dan masih menikmati pelukan hangatnya.
"Lelaki harus berprinsip agar bisa membangun biduk rumah tangga yang baik. Jika aku tidak menegakkan prinsip ku, bagaimana mungkin aku bisa jadi kepala keluarga kedepannya." Bella mendorong dada Daniel lembut.
"Jika aku ikhlas kan tidak masalah."
"Aku tidak mau. Itu uangmu dan akan tetap jadi uangmu." Bella duduk di tepian ranjang, lalu membuka kotak yang bahkan masih utuh." Kamu marah?" Daniel duduk di pinggiran tempat tidur lalu melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Bella seraya menciumi pundak belakang Bella.
"Kesal Kak! Aku bahkan tidak tahu, uang ini harus ku apakan?"
"Bagikan dengan teman-teman mu daripada kamu memberikannya padaku. Kamu masih kecil tapi uangmu sangat banyak sayang." Ucap Daniel terkekeh.
"Simpan lagi." Bella memutar tubuhnya dan memberikan kotak itu pada Daniel sehingga pelukan tangan Daniel terlepas.
"Ini menganggu saja." Daniel meletakkan kotak di bawah lalu berbaring dan mengajak Bella ikut serta. Tangan kanannya di jadikan tumpuan kepala, sementara tangan kirinya melingkar lembut di perut rata Bella.
Bella terpekik kaget, tapi juga suka. Dia memandangi wajah tampan suaminya berlama-lama dan sesekali mengusap lembut pipinya. Daniel tersenyum dan mengecup bibir Bella berkali-kali, berulang-ulang hingga Bella tertawa kecil.
"Kenapa sih Kak." Bella memajukan tubuhnya, merapatkannya sampai tidak ada celah.
"Aku merasa sangat bahagia hari ini. Memilikimu seutuhnya, mendapatkan lagi perusahaan dan bertemu sahabat lama. Rasanya sungguh luar biasa sayang."
"Aku juga Kak." Jawab Bella ikut merasa bahagia hanya dengan melihat senyum merekah Daniel.
"Juga apa?"
"Bahagia." Daniel menunduk, melahap bibir Bella dengan sedikit nafas berat. Saat menyadari hasratnya tersulut, Daniel menjauhkan wajahnya namun Bella malah menekan tengkuknya kuat, membuka sedikit bibirnya dan menempelkannya di leher Daniel.
"No Baby.." Lenguh Daniel baru merasakan cumbuan hangat tersebut.
"Kenapa tidak Kak." Tanya Bella polos.
"Aku tidak ingin kamu hamil."
"Aku ingin." Jawab Bella lirih dengan membuang semua rasa malunya. Tujuannya hanya ingin membuat Daniel bahagia apalagi setelah melihat keluarga kecil Jonathan tadi.
"Jiwamu masih sangat muda sayang. Itu kenapa Bastian memberikanmu peraturan begitu ketat. Kamu labil sekali, berbuat sesuatu tanpa memikirkan kedepannya." Jawab Daniel memberikan pengertian pada Bella.
"Kedepannya aku akan hamil. Aku sudah memikirkan itu." Daniel tersenyum dan merasa sangat gemas.
"Terimakasih untuk semalam, aku ingin mengulangnya lagi tapi setelah kamu lulus."
"Tidak mau ah! Curang!!" Runtuk Bella mendorong tubuh Daniel menjauh darinya.
"Curang apa? Itu untuk kebaikanmu sayang."
"Tidak baik! Awas ya! Jangan menyentuhku hingga aku lulus!!" Tunjuk Bella kasar lalu berdiri dan berjalan menuju lemari untuk mengambil baju.
"Kenapa begitu sayang?" Protes Daniel berjalan menghampiri Bella.
"Jauh-jauh! Jangan mendekat!" Daniel terkekeh dan Bella meliriknya malas.
"Ayolah jangan bercanda. Kita boleh berciuman dan berpelukan kok."
"Malas ya malas!!" Bella menyilakan kedua tangannya di dada.
"Kamu manja sekali sayang. Aku suka, terus saja seperti itu."
"Aku tidak suka!!" Bella akan berjalan keluar namun Daniel menangkapnya dari belakang.
"Kamu boleh manja, tapi jangan marah." Bella meronta, berusaha melepaskan diri tapi tidak bersungguh-sungguh." Sudah ku bilang jika kamu akan memintanya lagi meskipun sakit." Daniel menyeret tubuh Bella lembut lalu membantingnya di ranjang.
"Aku mau mandi Kak." Ucap Bella beralasan, padahal dia ingin Daniel menjamahnya saat ini juga.
"Tidak boleh ada yang mandi seharian ini." Daniel menyikap dress milik Bella dan mengusap pahanya seraya menatapnya lembut. Dia tengah menikmati wajah Bella yang mulai terbawa suasana.
"Kak jangan.." Ucap Bella tidak sesuai dengan keinginannya.
__ADS_1
"Kamu akan mendapatkannya." Daniel menyingkirkan rambut Bella dari lehernya, kemudian mulai mencumbunya dengan tangan aktif membelai, mengusap, menekan milik Bella yang mulai berkedut.
Bella tersenyum dan sesekali bibirnya terbuka ketika lenguhan lolos dari sana.
"Kak." Protes Bella ketika jari telunjuk panjang Daniel masuk ke lubang miliknya." Kenapa itu?" Imbuhnya.
"Untuk sementara waktu sayang. Jika aku sudah tidak bisa menahannya lagi, baru kita lakukan seperti yang kemarin lagi."
"Itu kecil.." Jawab Bella lirih.
"Astaga sayangku. Nakal sekali, jadi kamu ingin yang besar?" Tanya Daniel ingin sekali terkekeh.
"Tidak jadi Kak." Bella berusaha menyingkirkan tangan Daniel namun gagal.
"Why?"
"Hanya aku yang menikmatinya." Daniel menarik nafas panjang mendengar itu.
"Tapi kamu menikmatinya, itu sudah cukup untuk menekan hasrat ku agar tidak sering melakukannya."
Daniel mulai mengeluarmasukkan jarinya hingga Bella melupakan protesannya. Tubuhnya bergerak tidak beraturan sambil sesekali mendesis hebat.
Daniel memperhatikannya dengan tatapan sayu, ingin sekali dia menggantikan jari itu dengan miliknya. Namun, dia ingin Bella lulus sehingga dia menekan hasratnya dalam-dalam.
"Suaramu seksi sekali sayang." Nafas Daniel ikut memburu hanya dengan mendengar istri kecilnya melenguh. Rasanya sungguh tidak tahan hingga dia melepaskan dress Bella lalu mulai bermain di dua gundukan nya.
"Emm Kak.." Kedua tangan Bella merangkul erat kepala Daniel dan sesekali mengusap-usap rambut tebalnya. Kakinya menegang, seiring dengan gerakan tangan yang semakin cepat." Kak Daniiiell.. Emmm Ahh.." Lenguh Bella panjang, seraya menekan kepala Daniel kuat saat pelepasan berhasil di dapatkan.
Daniel duduk tegak, melahap sisa cairan di tangannya dan berganti memeriksa milik Bella yang masih basah.
Memang masih kecil hehe..
"Kotor Kak." Bella merapatkan pahanya seraya melihat ke arah Daniel yang tersenyum." Kak Daniel meledekku!!" Imbuhnya merasa tersinggung dengan senyuman Daniel.
"Sensitif sekali sih. Meledek apa sayang? Aku hanya merasa wajahmu terlihat lebih segar daripada tadi." Bella duduk dan membetulkan bra miliknya, mengambil dress lalu cepat-cepat memakainya.
Bella kembali terpekik ketika Daniel kembali melingkarkan kedua tangannya ke perut Bella.
"Lepas Kak, aku mau mandi."
"Hm oke kita mandi." Belum sempat Bella menjawab, Daniel sudah lebih dulu mengiringinya berjalan ke arah kamar mandi.
***************
Setelah menidurkan Abel, Nara berjalan menaiki tangga dan menemui Joy yang tengah berbincang dengan Andra.
"Ella tidak ikut Kak?" Tanya Nara hanya menjumpai Bik Yanti.
"Dokter tidak memperbolehkannya berpergian jauh Nona jadi, dia tidak bisa datang." Nara sedikit kecewa, namun dia memaklumi sebab Ella tengah mengandung anak pertama.
"Sebelum pulang kita akan ke rumahmu Kak. Aku ingin bertemu Ella."
"Pintu selalu terbuka untuk Nona dan Tuan."
"Hm. Aku ingin melihat wajahnya." Wajah Nara berubah serius menatap tajam ke arah Andra, tanpa perduli pada Joy yang duduk di sampingnya.
"Wajah siapa?"
"Penghianat itu." Andra mengambil ponselnya lalu memperlihatkan sebuah video saat Marco pergi ke rumah Daniel dan terlibat perkelahian." Aku ingin melihatnya secara langsung Kak." Ucap Nara tidak merasa puas.
"Tidak akan ku izinkan!." Sahut Joy tegas.
"Ini tidak seru sayang, aku tidak puas melihatnya di ponsel."
"Pokoknya aku mau lihat!! Jika kau tidak mau mengantar, biar Andra yang mengantarkan ku." Joy menarik nafas panjang, melihat kedua manik Nara mulai berkaca-kaca. Dia paham, jika mungkin itu pengaruh dari janin yang ada di rahimnya sebab Nara sudah tidak pernah memaksakan kehendaknya seperti sekarang. Dia menjadi lebih sabar ketika menyandang jabatan sebagai Mama.
Ketelatenan Nara sungguh luar biasa dalam merawat, meski terkadang pertikaian manis terjadi saat dua perempuannya cocok dengan sebuah sajian masakan. Tapi selepas dari itu, Nara sudah menjadi seorang Mama yang luar biasa hebat.
"Aku pinjam mobilnya." Joy melebarkan telapak tangannya ke arah Andra.
"Tuan bicara apa." Andra meletakan kunci pada telapak tangan Joy.
"Aku hanya tamu di sini." Joy berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Nara." Kita lihat." Nara tersenyum dan menyambut tangan tersebut. Mereka begitu senang karena Joy memenuhi keinginannya.
"Titip Abel ya Kak." Pinta Nara.
"Siap Nona."
"Di mana lokasinya?"
"Perumahan Graha indah raya. Rumahnya berada di paling ujung Tuan."
"Hm ayo sayang." Keduanya berjalan beriringan menuju mobil dan masuk. Sudah pasti jika pengawalan kembali di terapkan. Meskipun tidak ada yang tahu akan kedatangan Joy, namun anak buahnya langsung siaga untuk menyikapi sesuatu yang mungkin terjadi.
Setibanya di lokasi, rumah terlihat tidak tersisa bahkan lebih buruk daripada rumah Bella yang masih meninggalkan bangunan kokoh. Rumah yang di anggapnya milik Marco, rata dengan tanah karena ledakan tabung gas yang anak buah Joy letakkan.
Tidak ada yang menolong Marco, karena perumahan elit yang jarang di huni orang. Satpam depan pun seolah tidak perduli, dia sedikit kesal pada sikap sombong Marco yang beberapa kali kerap di tunjukkan.
Marco bersandar lemah pada samping body mobil mewahnya seraya beradu mulut dengan Fanny yang sejak tadi menyalahkannya.
"Kau sih enak sudah merasakan hasilnya! Sementara aku?!!"
"Bukankah kau sudah berbelanja banyak dengan uang itu! Berikan kunci apartemen Daniel padaku." Marco mengulurkan tangannya.
"Itu apartemenku!! Beli sendiri!! Bukankah uang Daniel masih kau bawa banyak!!"
"Daripada tidak kau tempati, bukankah lebih baik ku tempati." Karena uangnya akan ku fokuskan pada pembalasan dendam ku untuk Daniel.
Marco tidak juga sadar, jika seorang Daniel tidak mungkin bisa melakukan hal sekejam apa yang di lakukan padanya sekarang. Tapi rasa cemburunya pada Bella membuat fikirannya menjadi kalut dan keruh.
"Itu milikku Marco!!" Teriak Fanny geram.
"Ku rasa bukan milik kalian berdua." Sahut Nara yang sudah berdiri di samping keduanya bersama Joy.
Fanny dan Marco menoleh, menatap tajam Joy dan Nara, tanpa tahu jika kedua sosok di hadapannya bisa berubah menjadi senjata yang siap menghabisi nyawanya.
"Siapa kau!!" Marco berdiri tegak, memutar tubuhnya menghadap ke arah Nara dan Joy.
"Aku.. Orang yang membakar rumahmu ini." Jawab Nara gamblang.
Marco terkekeh, begitupun Fanny. Keduanya tidak percaya jika dalang di balik kebakaran itu adalah Joy.
"Kalian menertawakan hidup kalian yang akan hancur sebentar lagi." Imbuh Nara tersenyum sangat ramah namun sorot matanya tajam menusuk.
"Kau fikir aku percaya." Jawab Marco terlalu bodoh untuk percaya." Siapa kalian?" Imbuhnya ingin tahu.
"Tidak perlu tahu kami siapa. Aku hanya ingin melihat bagaimana wajah penghianat. Kau cukup muda dan tampan tapi rasanya, otak mu tidak bisa berkerja dengan baik hingga menjadi tidak tahu diri pada orang yang sudah menolong mu." Fanny dan Marco melebarkan matanya mendengarnya. Mereka sadar jika kedua pasangan yang ada di hadapannya merupakan teman dari Daniel.
Namun itu tidak membuat Marco merasa takut, dia melangkah maju dan hendak membalas ucapan Nara. Tapi dengan cepat Joy menghalanginya dengan tubuhnya.
__ADS_1
"Kau mau apa?"
"Mau bilang. Jika aku tidak takut dan akan melaporkan perbuatan kalian ke polisi." Joy yakin itu sebuah gertakan, sebab tahu. Jika yang harusnya mendekam di penjara adalah Marco.
"Lakukan. Silahkan laporkan, jika kamu ingin menarik pelatuk untuk senjata mu sendiri." Ancam Joy balik.
Marco tidak bergeming, dia tentu merasa takut karena harta itu bukanlah miliknya. Dia bahkan belum sempat mengurus surat rumah atas namanya. Marco terlalu sibuk memikirkan rasa dengki nya pada kenyataan, jika Bella merupakan istri dari Daniel.
"Sebaiknya kita pergi." Fanny memegang lengan Marco yang masih terpaku.
"Keputusan bagus. Lari lah sebisa yang kalian mau." Ucap Nara masih memperlihatkan senyumnya." Tapi jika ku lihat kalian masih menganggu hidup Kakak ku! Aku sendiri yang akan memburu kalian sekalipun kalian bersembunyi di ujung dunia!!" Nara tidak main-main. Mimik wajahnya memperlihatkan kengerian yang seharusnya membuat Marco mundur tanpa perlawanan.
Fanny menarik lengan Marco menuju ke mobil, keduanya masuk dan langsung meninggalkan lokasi.
Dia memperlihatkan itu? Kemarahan yang sudah lama tidak ku lihat. Itu berarti, Nara ku benar-benar menganggap jika Daniel adalah keluarganya tapi entah kenapa aku masih saja kesal!!
"Sudah puas?" Tanya Joy lirih.
"Belum. Kelihatannya mereka belum mau berhenti." Jawab Nara masih melihat jalan di mana mobil Marco menghilang di belokan.
"Kamu tenang saja. Mereka tidak akan bisa menyentuh hidup Kakakmu setelah ini." Nara menoleh mendengar itu, melingkarkan kedua tangannya pada lengan kekar Joy dan tersenyum penuh tanya.
"Serius?" Tanya Nara menyakinkan.
"Sebenarnya aku malas terlibat tapi ya sudah, asal dia kau anggap Kakak, aku tidak masalah." Joy mengiring Nara untuk masuk ke dalam mobil.
"Memang sejak dulu, Kak Daniel ku anggap sebagai Kakak." Joy mendengus lalu bersandar lemah di kursi kemudi.
"Aku bahkan tidak suka ketika lidah mu menyebut namanya." Runtuk Joy kesal.
"Iya maaf sayang. Terimakasih ya. Malam ini, aku berikan jatah hingga besok pagi." Joy menoleh cepat, mimik wajahnya berubah. Mendengar penawaran yang Nara ucapkan untuknya.
"Jika hamil, sekali sehari sudah cukup tapi jika kau memaksa ya sudah." Joy mulai melajukan mobilnya sementara Nara terkekeh.
"Itu hanya alasanmu saja sayang."
"Kau tahu itu makanan favoritku." Nara tersenyum, mengangguk-angguk dan paham jika bercinta adalah makanan favorit bagi Joy.
"Sayang aku ingin durian." Tiba-tiba saja hidung Nara mengendus aroma durian padahal sekarang tidak musim durian." Baunya segar sekali ya, aku ingin makan itu sekarang." Imbuhnya menghirup oksigen kuat-kuat.
"Aku tidak mencium apa-apa."
"Aku menciumnya, ayo kita beli."
"Iya, kita cari dulu sebelum pulang." Joy yang tidak tahu jika bukan musim durian, menjawab keinginan Nara dengan sangat santai. Padahal, masalah durian ini. Akan jadi sedikit rumit nantinya.
***************
Daniel tersenyum, menggosok lembut punggung di hadapannya. Keputusan untuk mandi bersama di lakukan, agar Bella menghilangkan rasa canggungnya sepenuhnya. Meskipun saat ini Daniel masih menggunakan celana pendek, namun tatapan manik Bella berusaha menghindar dari tubuh kekar yang kini berdiri di belakangnya.
"Lama sekali Kak." Protes Bella saat menyadari gerakan tangan Daniel yang hanya berputar-putar.
"Semakin lama semakin baik sayang." Bella mengerutkan keningnya lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah Daniel dengan kedua tangan di silangkan ke dada.
"Dingin sekali." Bella menatap tubuh Daniel sebentar, kemudian berpaling.
"Sekarang giliran ku." Daniel memberikan sabun batangan pada Bella, tapi Bella tidak menerimanya.
"Giliran apa?" Tanya Bella terbata.
"Membantuku menggosok." Daniel membaca wajah tegang Bella, sehingga dia memutuskan untuk menggodanya.
"Tidak mau ah.. Aku sudah selesai." Daniel mencegah kepergian Bella dengan menumpukan kedua tangannya pada pundak Bella.
"Kau curang sayang."
"Curang apa? Aku tidak meminta Kak Daniel menggosok punggungku." Celetuk Bella takut khilaf jika tangannya menyentuh tubuh berotot itu.
"Aku yang memintanya dan sekarang aku memintanya lagi." Bella menunduk, terkadang melirik dengan tangan yang tidak juga turun menutupi." Aku akan bahagia jika kamu melakukannya." Imbuh Daniel merajuk.
"Ish! Kak Daniel mengancam."
"Ya sudah jika tidak ingin membahagiakan ku." Daniel mengangkat kedua tangannya dan akan menggosok tubuhnya sendiri.
"Iya mana." Sahut Bella cepat.
"Tidak sayang. Terimakasih."
"Mana Kak." Tangannya terulur pelan.
"Untuk apa jika tidak ikhlas."
"Aku ikhlas." Bella merebut sabun batangan namun tidak langsung menggosok tubuh Daniel.
"Lama sekali." Daniel meraih pergelangan tangan Bella dan menuntunnya ke dada bidangnya.
"Katanya tidak boleh melakukan itu. Tapi Kak Daniel menyuruhku melakukan ini." Celetuk Bella menggerutu.
"Apa kamu ingin ku masuki hanya dengan menyentuh dadaku seperti sekarang." Bella mendorong dada Daniel lembut dengan tiba-tiba, sehingga membuat Daniel oleng. Secara refleks, tangannya meraih tubuh Bella hingga keduanya jatuh bersama dengan tubuh Bella berada di atasnya.
Daniel terkekeh padahal seharusnya dia merasa sakit, tapi kejadian ini sungguh terasa manis meski punggungnya cukup nyeri karena membentur keramik kamar mandi.
"Lepas Kak!!" Bella menyingkirkan kedua tangan Daniel dari tubuhnya namun karena sabun yang di bawa membuatnya tidak juga bisa bangun. Rasa canggung membuat otaknya tidak bisa memikirkan kenapa dia sampai tidak juga bisa beranjak. Hingga Daniel bangun dan duduk seraya melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Bella.
"Waktunya habis untuk melepaskan diri." Bella mematung, merasakan sesuatu mengganjal pada bagian bawah tubuhnya yang terasa menekan miliknya.
Gleg!
Milik Daniel menegang, karena posisi keduanya yang begitu intim. Bella tersenyum dalam hati, membayangkan jika sebentar lagi Daniel akan memasukkan sesuatu yang keras itu ke dalam miliknya.
Aku yakin Kak Daniel tidak akan tahan.. Bella berubah jahil. Dia menekan-nekan pinggangnya untuk memberikan rangsangan dan mendapatkan keinginannya.
Dia menggodaku hehehe.. Aku sangat ingin sayang tapi.. Daniel berusaha berdiri seraya mengangkat tubuh Bella hingga keduanya berdiri saling berhadapan. Rasa sayangku lebih besar daripada sekedar hasrat ini..
"Kak Daniel ish!!" Bella melemparkan sabun batangan sembarangan kemudian melepaskan diri dari Daniel dan meraih handuk kimono nya. Kak Daniel tidak normal atau apa sih? Kenapa dia tidak memasukkan itu!!
"Marah?" Tanya Daniel sudah berdiri di samping Bella.
"Tahu ah! Jangan dekat-dekat!!"
Bugh!
Bella memukul dada bidang Daniel sebentar kemudian berjalan keluar kamar mandi. Daniel tersenyum, mengusap rambutnya yang basah lalu mengguyur tubuhnya dengan air sebentar dan memutuskan untuk menyusul Bella.
Dia mempermainkan atau apa sih? Menyebalkan sekali!! Padahal posisinya sudah pas! Kenapa tidak di masukkan!! Bella mengobrak-abrik baju di lemari untuk mencari dress-nya. Padahal dress-nya sudah di tangan tapi rasa kesalnya membuat matanya mendadak buta.
"Baju rusak semua!! Tidak ada yang benar!!" Bella melepaskan dress di tangannya dan menutup pintu lemari keras hingga lemari baju lapuk itu bergetar dan hampir menimpanya." Aaaaaaaaaaa..." Pekiknya memejamkan mata tapi lemari tidak juga ambruk sebab Daniel menahannya lalu membetulkan posisinya.
"Astaga sayang, hati-hati." Protes Daniel. Bella membuka matanya dan semakin kesal saat Daniel berada di hadapannya.
__ADS_1
"Biar saja ambruk dan menimpaku! Biar tubuhku ini semakin lurus seperti jalan tol!!!" Umpat Bella kembali keluar kamar entah kemana. Daniel terkekeh, lalu berjalan mengikuti, untuk merajuk pada istri kecilnya.
~Riane..