Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 61


__ADS_3

"Tuan saya ingin bicara empat mata." Ucap Lucas tertunduk. Keadaannya sangat berantakan sehingga membuat Daniel langsung merasakan sesuatu yang ganjil.


"Sayang kamu masuk dulu ya." Pinta Daniel pada Bella yang sebenarnya berniat akan pergi ke pemakaman.


"Iya Kak." Perlahan, Bella masuk rumah. Namun tidak sepenuhnya masuk sebab dia berdiri di samping pintu, menguping pembicaraan keduanya.


Daniel menoleh untuk memastikan Bella benar-benar sudah masuk ke dalam rumah. Pandangannya beralih pada Lucas yang terlihat tertunduk lesu tidak berdaya.


"Apa yang terjadi Lucas?" Tanya Daniel lirih.


"Gudang terbakar Tuan." Mata Bella membulat mendengar itu, begitupun Daniel." Ada seseorang yang sengaja membakarnya." Daniel masih tidak bergeming dan terdiam. Itu membuatnya terpukul hingga dia memutuskan untuk duduk di teras." Aku minta maaf Tuan. Ampuni aku." Lucas tertunduk dan semakin tidak berdaya. Menatap wajah Daniel yang kembali putus asa.


Aku bahkan sudah tidak memiliki uang sepeserpun..


"Bagaimana bisa?" Tanya Daniel lirih.


"Ada seseorang yang memukulku dan saat aku bangun. Api sudah membesar dan para warga sudah berkerumun."


Ini pasti ulah lelaki itu!!! Batin Bella memutuskan untuk masuk. Dia tidak ingin Daniel memergokinya menguping pembicaraan.


"Ahhh Tuhan..." Eluh Daniel mencengkram erat kepalanya." Apa tidak ada yang bisa di selamatkan Lucas?" Rasa pusing langsung menjalar sebab Daniel tidak tahu harus mengambil langkah seperti apa. Itu uang terakhirnya dan tidak ada lagi dana.


Dan jika dia mengambil pinjaman. Bebannya akan semakin berat, mengingat Marco masih berada di sekitarnya.


"Stok pengiriman untuk hari ini bahkan hangus Tuan." Lucas mengeluarkan dompetnya dan meletakkan ATM pada meja." Ada sekitar 700 juta Tuan. Saya hanya bisa bertanggung jawab dengan memberikan itu. Saya sungguh minta maaf untuk semuanya." Daniel menarik nafas panjang dan mencoba bersikap tenang.


"Tidak bisa Lucas. Dana itu tidak cukup bahkan sangat kurang."


"Apa tidak sebaiknya kita meminjam ATM di kotak itu dulu Tuan. Jika perusahaan sudah berdiri Tuan bisa mengembalikannya lagi." Daniel menatap tajam Lucas. Saat dia menyinggung soal kotak hitam peninggalan Bastian yang sebenarnya masih tersimpan rapi di suatu tempat.


"Jangan membahasnya!! Bukankah aku sudah memperingatkan mu!!" Sorot mata Daniel menandakan jika dia sangat marah saat Lucas membicarakan kotak tersebut." Itu bukan hakku! Kau paham Lucas? Aku pantang memakai uang itu! Ini peringatan terakhir untuk mu! Jangan pernah membahasnya apalagi sampai dia tahu soal itu!!" Ucap Daniel berbisik namun penuh penekanan.


"Maafkan saya Tuan. Saya hanya sekedar memberikan saran."


"Aku ingin ke lokasi tapi tidak hari ini. Jika memang sudah tidak dapat di pertahankan lagi. Akan ku siapkan gaji untuk para karyawan."


"Biar ku urus untuk hal itu."


"Tidak Lucas. Ini tanggung jawabku." Aku sudah tahu jika ini semua tidak akan mudah selama Marco ada di sekelilingku. Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu Joy... Aku tidak tahu menahu tentang bagaimana caranya menyingkirkan seseorang. Aku kesulitan dalam hal itu. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa gangguan darinya. Tapi aku tidak tahu caranya..


Daniel merasa tidak ada gunanya berpura-pura lupa ingatan. Dia yakin jika kebakaran itu adalah ulah dari Marco sebab dia memang tidak memiliki musuh satu pun.


Tujuannya berpura-pura amnesia, tidak lain ingin menghindari Marco agar tidak lagi menganggu hidupnya. Tapi rasanya itu tidak bisa, sebab yang di incar sekarang adalah harta Daniel yang paling berharga, yaitu Bella.


Sementara Daniel masih berbincang dengan Lucas. Bella tengah berada di kamar dan ikut terbebani dengan musibah yang kembali Daniel dapatkan.


Aku yakin orang sialan itu yang melakukannya..


.


.


.


.


Cklek...


Pintu terbuka, Bella mengubah mimik wajahnya dan berpura-pura tengah berbaring seraya memainkan ponselnya. Dia terpekik kaget, ketika Daniel tiba-tiba berbaring di sampingnya seraya memeluk tubuhnya erat. Kepalanya di tenggelamkan pada samping pundaknya seolah tengah meminta kekuatan.


Apa Kak Daniel akan bercerita atau tidak...


"Meskipun jelek, bukankah lebih nyaman tidur di sini sayang." Ucap Daniel mencium pipi Bella sejenak lalu berbaring posisi terlentang.


Dia tidak akan bercerita jadi sebaiknya aku pura-pura tidak tahu..


"Iya Kak. Apa Kak Lucas habis jatuh tadi?" Bella menumpukan kepalanya pada lengan Daniel dan memiringkan tubuhnya menghadap ke arahnya.


"Iya sayang. Tadi sudah ku suruh berobat." Jawab Daniel lirih dengan sorot mata penuh rasa putus asa.


Seharusnya aku bisa sedikit berbangga diri karena perusahaan berkembang dengan cepat. Tapi sekarang? Semua kembali hancur dan aku tidak tahu harus bagaimana lagi.. Hanya tersisa uang 30 juta setelah ku transfer untuk gaji para pegawai..


"Em begitu.." Tangan Bella melingkar di perut berotot Daniel dan berpura-pura memejamkan mata di pundaknya." Aku masih mengantuk Kak." Gumam Bella ingin memberikan ruang bagi Daniel agar perasaannya bisa membaik.


"Tidur jika begitu. Tapi kita belum sarapan pagi."


"Kak Daniel lapar?"


"Tidak seberapa, aku pesankan sesuatu agar kamu makan dan melanjutkan tidur."


"Nanti saja Kak. Temani aku, jangan pergi." Ucapan dari Bella memberikannya kekuatan, sehingga hatinya berangsur membaik.


"Ini serius istriku, Bella?" Goda Daniel tersenyum. Bella membuka mata bulatnya seraya memperlihatkan giginya yang rata.


"Bukankah semalam kita sama-sama tahu perasaan masing-masing."


"Sudah tidak canggung?" Daniel memainkan anak rambut Bella dan memandangnya dengan penuh cinta.


"Hanya sedikit."


"Semoga yang sedikit itu cepat menghilang."


"Hm... Aku benar-benar ingin tidur." Bella kembali memejamkan matanya dan membenamkan kepalanya di dada bidang Daniel.


Daniel tersenyum, seraya bersenandung kecil seperti yang biasa di lakukan ketika menidurkan Bella saat malam hari.


Sepertinya aku harus mencari perkerjaan...


Bella mendengar tarikan nafas berat berhembus sehingga dia mampu merasakan bagaimana putus asa nya perasaan Daniel sekarang.


Jika berkerja. Aku tidak harus mengeluarkan modal..


Aku ikut sakit melihatmu Kak...


"Sudah ku bilang. Jika belum tidur jangan memejamkan mata." Protes Daniel.


"Masih berusaha."


"Katanya mengantuk, kenapa berusaha?" Bella merasa sia-sia dan memutuskan untuk duduk.


"Ke makam Kak Bas yuk." Pintanya memutar tubuhnya sedikit. Daniel ikut duduk dan tersenyum menatap Bella.


Aku yakin senyum itu palsu...


"Tidak jadi tidur." Bella menggelengkan kepalanya." Cari sarapan sekalian ya." Bella berdiri seraya membalas senyuman Daniel.


"Iya Kak. Ayo.." Daniel berdiri dan menggiring Bella keluar kamar untuk mengabulkan permintaan Bella berkunjung ke makam Bastian.


**************


Roy berdiri di samping mobil mewahnya, memperhatikan rumah Marco yang terlihat lenggang. Andra menyuruhnya memata-matai Marco untuk mencari kebenaran email yang di kirimkan pada Joy. Tangannya meraih puntung rokok yang ada di bibirnya lalu membuangnya.


Roy kembali masuk mobil, kemudian memarkirnya tepat di depan pagar rumah yang menjulang tinggi. Dia turun dari sana dan berjalan menghampiri si penjaga rumah.


"Apa benar ini rumah Pak Daniel?" Tanya Roy ramah.


Penjaga rumah yang sudah di ancam, merasa binggung harus menjawab sehingga Roy dapat membaca raut wajah bingungnya.


"Kenapa Pak?" Roy menepuk lembut pundak penjaga rumah.


"Tidak apa-apa Tuan."


"Lalu? Apa ini rumah Pak Daniel?" Tanya Roy mengulang.


"Em.. Bukan. Ini rumah Pak Marco." Dengan suara bergetar. Penjaga rumah mengucapkan sesuai dengan perintah Marco.


Wahhh.. Semakin mencurigakan jika begini..


"Saya yakin rumah Pak Daniel ada di sekitar sini."


"Mungkin Tuan salah kompleks." Jawab penjaga rumah tersenyum aneh.


"Tidak mungkin salah. Saya pernah datang ke sini meski saya memang sedikit lupa letaknya." Penjaga rumah mengangguk-angguk seraya memperhatikan ke lantai dua rumah.


Mungkin Pak Marco masih tidur...


"Dulu memang iya, tapi sekarang rumah ini milik Pak Marco." Ucap penjaga rumah yang notabenenya seseorang yang jujur dan tidak pernah berbohong. Mulutnya akan terasa gatal jika mengucapakan kebohongan seperti sekarang.


"Apa Pak Daniel menjualnya?"


"Tidak Tuan. Saya juga kurang paham. Pak Daniel tiba-tiba saja menghilang setelah hari itu. Saya mohon jangan bicara pada Pak Marco karena saya takut kena marah. Saya hanya merasa tidak tahu harus berkeluh kesah pada siapa. Apa Tuan teman baik Pak Daniel?"


"Iya saya teman baiknya. Saya cukup baik mengenal beliau meski sudah beberapa tahun tidak bertemu. Untuk masalah Pak Marco, kamu tenang saja. Selain saya tidak kenal siapa Marco, saya juga tidak mungkin mengatakan hal ini padanya." Penjaga rumah tersenyum lega, meski matanya masih menatap ke arah lantai dua." Marco itu siapa?" Tentu saja hal ini di manfaatkan Roy untuk mengorek info lebih dalam.


"Kaki tangan Pak Daniel."


"Terus kenapa kamu bilang jika ini rumahnya?"


"Itu perintah Tuan. Saya sendiri juga binggung kenapa Pak Marco mengakui jika ini rumahnya."


Astaga... Seperti kisah seorang penghianat..


"Berarti Pak Daniel tidak berlibur?"


"Jika berlibur pasti bajunya akan di bawa. Tapi baju Pak Daniel sudah di buang Pak Marco ke sampah bersama barang-barang lain."


Awalnya penjaga rumah tidak tahu jika bukan karena seorang pemulung yang menanyakan perihal baju bagus yang ada di dalam plastik hitam besar.


Pemulung itu memperlihatkan baju milik Daniel yang biasa di kenakan sehari-hari. Penjaga rumah sempat memeriksa dan terkejut melihat isi di dalam kantung plastik hitam tersebut.


"Di buang?"

__ADS_1


"Iya Tuan." Roy mengangguk-angguk dan mengambil dompetnya." Bapak punya ponsel." Tanya Roy mengambil kartu nama miliknya.


"Dulu punya tapi sekarang rusak. Mau beli juga mikir-mikir karena gaji yang di berikan Pak Marco kecil."


"Ini kartu nama saya." Roy menyodorkan kartu namanya dan langsung di ambil oleh penjaga rumah." Sebentar Pak." Roy berjalan ke arah mobil mewahnya dan mengambil sebuah ponsel yang sudah di lengkapi pelacak." Pakai ini." Penjaga rumah melongok, melihat ponsel mahal di hadapannya.


"Untuk saya?"


"Hm iya. Jika ada sesuatu, bisakah bapak mengabari saya?"


"Tapi saya takut Tuan." Roy membaca kepolosan dari penjaga rumah dan dia bisa mengambil kesempatan dari sana.


"Jika Bapak tidak membantu saya, itu sama halnya Bapak menutupi kejahatan Pak Marco. Itu kriminal Pak, bisa saja Bapak di jebloskan ke penjara." Ucapan Roy sontak membuat penjaga rumah ketakutan.


"Jangan Tuan. Anak saya masih ada yang sekolah, kalau saya di penjara, bagaimana nasib mereka."


"Maka dari itu bantu saya."


"Bagaimana caranya Tuan."


"Mudah saja." Roy menjelaskan pada penjaga rumah agar mengawasi kegiatan Marco saat berada di rumah. Dia langsung setuju tanpa perlawanan dengan sebuah gertakan kecil yang Roy lontarkan.


*************


Seusai ke pemakaman, Bella berniat mencari sarapan pagi sederhana di sekitar sana. Daniel melarang hal tersebut, dia tidak ingin Bella kembali mendengar hujatan dari warga sekitar yang selalu berbicara tanpa adanya bukti.


Tapi semua itu tidak sepenuhnya salah, sebab hubungan keduanya terlihat tidak jelas. Tinggal satu atap tanpa ikatan pernikahan, tentu membuat orang-orang berfikir macam-macam dan mengunjing Bella dengan sebutan istri simpanan.


"Bungkus dua ya Bu." Ucap Bella duduk sementara Daniel memutuskan berdiri.


"Habis dari makam Nak." Kata Bu Dina seraya menyiapkan pesanan nasi pecel.


"Iya Bu." Bu Dina melirik ke arah Daniel yang memang terlihat sangat tampan dan dewasa.


Benar kata Ibu-ibu. Bella gadis belia, tinggal satu atap dengan lelaki tampan ini. Bu Dina melirik ke dress yang di pakai Bella sekarang. Kalau tidak melakukan apa-apa ya malah aneh kan. Sayang sekali, padahal Kakaknya orang baik dan sopan tapi adiknya seperti ini. Bukankah lebih baik mencari saudara Mamanya daripada harus tinggal satu atap dengan orang asing..


"Memikirkan apa Bu." Sontak Bu Dina tersenyum aneh dan melanjutkan kegiatannya membungkus makanan.


"Eh tidak Nak Bell."


"Bagaimana perkembangan gosip tentang saya?" Bu Dina langsung memasang wajah aneh seraya tertawa lepas.


"Gosip apa Nak Bell?" Daniel menarik nafas panjang namun Bella malah meraih jemarinya dan mengiringinya untuk menempelkan tubuhnya.


"Ibu pura-pura tidak tahu hehe."


"Benar-benar tidak tahu Nak Bella." Bu Dina kembali melirik ke sikap Bella yang seolah menunjukkan kemesraannya dengan Daniel.


"Ibu kan punya anak perempuan, bukankah seharusnya Ibu bisa menjaga mulut." Faktanya, Bella sengaja beli di tempat itu karena sering mendapat laporan dari Erin tentang Bu Dina yang malah mengobarkan api gosip hingga menjadi semakin memanas.


"Tapi kan memang benar begitu Nak Bella. Apa pantas." Akhirnya Bu Dina tersulut ucapan Bella. Daniel menunduk dan membisikkan sesuatu ke telinga Bella namun tentu saja Bella tidak mendengar.


"Itu urusan kami Bu. Saya pastikan Ibu tidak ikut menanggung dosanya karena jarak rumah Ibu yang cukup jauh."


"Bagaimana dengan tetangga sekitar. Itu bisa mengudang kesialan." Bella terkekeh sebab tetangga sekitar sudah tahu tentang pernikahan Bella meski mereka memang bungkam.


"Yang penting kan bukan Ibu yang kena sial."


"Ya tidak bisa gitu Nak Bella. Namanya hidup di kampung itu harus menjaga tata krama. Jangan karena Nak Bella sudah tidak ada orang tua jadi berbuat semaunya seperti sekarang. Bukankah Nak Bella tahu kalau Almarhum itu terkenal baik di sini tapi harus di coreng karena kelakuan nak Bella sendiri." Memang ucapan Bu Nina ada benarnya tapi masalahnya, dia menambahkan bumbu kebohongan pada hubungan Bella dan Daniel hingga gunjingan soal istri simpanan mengudara.


"Memangnya saya berbuat apa sih Bu?"


"Nak Bella kan belum menikah, bagaimana mungkin tinggal satu atap dengan lelaki ini." Menunjuk ke arah Daniel.


"Kita tidak pernah berbuat yang tidak-tidak Bu, bahkan ketua RT juga mengizinkan." Sahut Daniel menimpali.


"Setan itu kuat, bagaimana tidak berbuat macam-macam."


"Apalagi setannya seperti Bu Nina yang hobi bergosip. Itu malah lebih kuat lagi." Bu Dina membulatkan matanya menatap Bella." Berapa nasi pecelnya." Imbuh Bella.


"Ini gratis! Tidak perlu bayar! Saya anggap amal saja sebab saya tidak mau menerima uang dari gadis tidak benar sepertimu!!" Daniel kembali menarik nafas panjang meski Bella terlihat begitu santai.


"Jangan begitu Bu. Nanti saya tidak enak sendiri kalau membuat Bu Dina merugi." Bella membuka dompet kecilnya dan meletakkan pecahan uang seratus ribu.


"Saya tidak butuh!!"


"Sayang.." Ucap Daniel tidak sengaja terlontar sehingga semakin menguatkan tebakan Bu Dina.


"Nah kan ketahuan." Bu Dina kembali menunjuk Daniel dengan tidak sopan." Dia memanggilmu sayang!!" Imbuhnya menggila.


"Kami memang saling menyanyangi." Daniel menepuk dahinya lembut mendengar jawaban Bella.


"Cih!! Menjijikkan sekali!! Kakakmu akan menangis di akhirat kalau lihat kelakuan Adiknya seperti ini!!"


"Kakak saya tersenyum Bu. Jangan menyebar gosip untuk orang yang sudah meninggal. Terimakasih nasi pecelnya ya." Bu Dina meremas uang dari Bella dan membuangnya.


"Ambil uangnya." Bella menoleh dan memungut uang tersebut.


"Ibu jualan kan cari uang, tidak boleh di buang-buang seperti ini." Bella kembali meletakkan uangnya di atas meja.


"Sebelum menilai saya. Nilai dulu anak Ibu sendiri yang sukanya main di pojokan." Bella, Erin dan Sari kerapkali memergoki anak Bu Dina berpacaran di pojok batas kampung tepatnya di bangunan yang sudah terbengkalai.


"Amit-amit anak saya seperti kamu!!"


"Amin gitu loh Bu hehe." Mata Bu Dina semakin menyala.


"Saya laporkan kamu ke Pak RT agar kamu di usir dari sini!!" Ancam Bu Dina.


"Silahkan lakukan. Saya juga sumpahi agar anak Ibu menjadi seperti apa yang Ibu tuduhkan pada saya."


"Duhh masih kecil pintar membantah, mau jadi apa kamu."


"Jadi presiden." Daniel tersenyum tipis saat menyadari jika Bella menanggapi semuanya dengan candaan.


"Awas kamu ya Bell. Saya laporkan kamu agar benar-benar di usir dari sini."


"Ibu yang bakalan mengusir anak Ibu sendiri."


"Jangan bicara ngawur kamu!!"


"Kalau saya tidak pernah bicara ngawur Bu. Apalagi hasil yang di unduh dari main di pojokan kampung kalau bukan hamil duluan."


"Jaga mulut kamu Bella!!!"


"Ibu juga harus jaga mulut. Saya tidak pernah berbuat macam-macam tapi Bu Dina menyebar gosip yang tidak-tidak. Terus saja lakukan! Telinga saya sudah tebal! Tapi, bagaimana jika gosip itu mengarah pada anak Ibu sendiri! Haha lucu bukan." Bella meletakkan nasi pecelnya pada meja." Saya juga najis memakan pecel ini." Bella tersenyum lalu mengiring Daniel pergi meninggalkan Bu Dina yang hatinya memanas.


Aku akan mengumpulkan Ibu-ibu untuk melaporkan Bella ke ketua RT!!! Lihat saja Bella!!!


.


.


.


"Jika tahu tujuanmu seperti itu, aku tidak akan menurunkan mu di sana sayang." Ucap Daniel mulai melajukan mobilnya.


"Aku hanya ingin bicara baik-baik Kak, tapi Bu Dina memang seperti itu."


"Jika tahu begitu, kenapa masih di ladeni?"


"Aku juga mau memperingatkannya soal anak tertuanya yang suka main di pojokan hehe." Daniel menggelengkan kepalanya seraya menarik nafas panjang.


"Kalau kamu begitu, dia semakin marah seperti tadi."


"Ahh biar semakin memanas dan terbakar! Erin selalu berkata itu karena mendengar dari Mamanya. Padahal anaknya sendiri yang tidak benar." Daniel tersenyum, menatap bibir Bella yang mengerucut.


"Lalu kita sarapan di mana?"


"Pesan saja. Aku ingin bermalas-malasan seharian." Bella menyandarkan punggungnya dan menatap keluar jendela.


"Hm oke."


Besok Sari akan membawakan produk itu ke sekolah. Jadi aku bisa mencobanya untuk bahan testimoni dan untuk perawatan agar kulitku bisa lebih bersih dari Kak Daniel..


"Kak boleh aku mengambil sedikit uang?" Tanya Bella pelan.


"Uang di ATM?" Bella mengangguk." Ambil saja, biar ku antar." Imbuh Daniel tersenyum.


"Tidak tanya untuk apa?"


"Tidak sayang, itu hakmu."


Tiba-tiba saja ponsel Bella bergetar. Dia mengambilnya dan melihat nomer Erin tertera di layar.


"Di mana?


"Di jalan.


"Aku ke rumahmu tapi mobil Kak Daniel tidak ada.


"Ini mau pulang kok. Em bawa makanan ya hehe.


"Iya buat sarapan.


"Astaga.. Love love buat kamu.


"Kalau di kasih gratis baru love love. Sudah sampai mana? Aku bersama Sari.


"Sedikit lagi. Tunggu ya.


"Oke.

__ADS_1


Bella mengakhiri panggilannya seraya menggenggam ponselnya.


"Tidak perlu memesan Kak. Erin memberikan sarapan gratis."


"Jadi mereka ke rumah?" Senyum Daniel mengembang sebab dia akan dapat kesempatan pergi ke gudang yang terbakar sebentar.


"Iya."


"Kalau aku ke gudang sebentar, kamu tidak apa-apa sayang?" Tanya Daniel pelan.


"Iya Kak, tidak apa." Jawab Bella tersenyum meski hatinya langsung berubah buruk ketika Daniel mengingatkan pada gudang yang terbakar.


"Hanya sebentar sayang."


"Tapi sarapan dulu ya."


"Nanti saja. Aku pastikan hanya sebentar lalu aku pulang."


"Tidak boleh jika tidak sarapan." Jawab Bella merengek.


"Oke kita sarapan dulu lalu aku pergi." Bella mengangguk-angguk dan kembali menatap keluar jendela.


Aku ingin menampar lelaki sialan itu!!!


***************


Nara mengambil ponsel Joy yang bergetar, sementara Joy sendiri tengah bermain dengan Abel di depan. Saat terlihat nama Andra tertera di layar, Nara menjadi sangat bersemangat menerima panggilan tersebut.


"Halo.


"Nona Nara?


"Hm Kak, bagaimana kabarnya.


"Belum terlalu jelas Nona. Tapi untuk tebakan awal, Pak Daniel memang sengaja di singkirkan Marco.


"Di singkirkan bagaimana?


"Roy sudah mengobrol dengan penjaga rumahnya dan semua bukti mengarah ke sana.


"Berarti Kak Daniel menghilang?


"Hm ya Nona. Entah hanya menghilang atau sudah tidak ada di dunia ini. Roy masih mencari informasi untuk itu.


"Astaga.. Bagaimana mungkin Kak Daniel di perlakukan seperti itu?


"Beliau terlalu baik dan menganggap semua orang baik.


"Kasihan sekali.


"Ini masih belum jelas Nona. Saya mengabarkan karena mungkin Nona menunggu.


"Ya aku memang menunggu.


"Nanti saya kabari lagi jika mendapatkan info baru.


"Iya Kak. Terimakasih ya.


"Iya Nona. Senang bisa melayani.


Nara meremas ponselnya dengan kedua tangannya, dia berjalan keluar kamar untuk menemui Joy yang masih mengawasi Abel mewarnai gambar.


"Apa yang terjadi?" Joy segera berdiri saat melihat wajah cemas Bella.


"Mommy lihat gambar buatan Abel." Abel menunjukkan gambar buatannya dengan tersenyum polos.


"Astaga anak Mommy pintar sekali." Nara tersenyum lepas dan mencium kening Abel sejenak." Abel lanjutkan ya, Mommy mau bicara dengan Daddy." Imbuh Nara menjelaskan.


"Pasti Daddy dan Mommy mau pacaran kan." Nara terkekeh dan duduk di samping Abel.


"Siapa yang memberitahumu?"


"Justin bilang. Jika ada lelaki dan perempuan saling berdekatan, berarti mereka pacaran." Joy menggelengkan kepalanya menatap penuh cinta ke arah Abel.


"Memangnya kamu tahu arti berpacaran itu apa?"


"Close friend."


"Bagus sekali."


"Justin adalah pacar Abel. Dia baik dan selalu membantu Abel."


"Oke. Nanti saja ceritanya. Mommy mau bicara dengan Daddy sebentar."


"Oke Mommy." Nara mengusap lembut puncak kepala Abel kemudian mengiring Joy untuk bicara di luar.


"Tadi Andra menelfon sayang." Ucap Nara pelan.


"Bagaimana kabarnya?" Joy menjawabnya dengan nada malas.


"Kak Daniel menghilang."


"Bagus sekali." Nara menarik nafas panjang, menatap kesal ke arah Joy.


"Jahat sekali. Dia temanmu."


"Sudah tidak. Kita sudah lama tidak bertemu."


"Meski begitu. Jangan setega itu padanya."


"Lalu mau bagaimana lagi jika menghilang?"


"Aku tidak mengerti kenapa kau sejahat itu sayang! Hanya karena merasa cemburu, kau tidak ada rasa perduli pada orang seperti Kak Daniel! Padahal dulu dia tidak pernah memandangmu buruk! Tapi kau selalu memandangnya buruk!" Joy menoleh, melihat manik Nara yang mulai berkaca-kaca.


"Kamu menangis?" Tanya Joy panik. Nara berdiri dan menatapnya tajam dengan air mata yang mulai turun.


Jangan lagi Tuhan.. Aku bahkan masih ingat bagaimana sensitifnya perasaannya ketika dia mengandung Abel dulu..


"Kau sudah akan memiliki dua anak. Bagaimana mungkin kau masih tidak punya hati!!" Joy berdiri dan akan meraih jemari Nara tapi Nara menghindar.


"Bagaimana aku tidak cemburu jika kamu perduli sekali dengannya."


"Ya terus saja cemburu! Aku akan pergi ke Indonesia dengan Abel dan membantu Kak Daniel dengan tanganku sendiri!!" Nara berjalan masuk, sementara Joy menatapnya terpaku.


"Tentu saja. Aku kalah telak dengan dua perempuan itu." Joy beranjak mengikuti Nara yang tengah bersama Abel.


"Ke Indonesia Mom? Bukannya ke Korea. Aku ingin bertemu Eun Wo Oppa."


"Di Indonesia juga ada sayang. Kamu mau ikut Mommy kan?"


"Wahh mau." Abel langsung meletakan crayon lalu berdiri." Dad, kita akan ke Indonesia untuk bertemu Eun Wo Oppa." Joy tersenyum aneh dan mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Daddy akan di sini. Dia tidak mau ikut." Sahut Nara menimpali.


"What a jealous Daddy?"


"Ya!" Jawab Nara cepat.


"Even though dad is handsome too. But not confident." Nara terkekeh dalam hati mendengar ucapan polos Abel untuk Joy.


"Hei apa itu? Daddy ikut." Jawab Joy tentu saja mengalah karena rasa cintanya untuk Nara dan Abel yang mampu mengalahkan egonya.


Joy mengendong Abel lalu mencium pipinya sejenak.


"Me and mom love daddy."


"You double daddy."


"No, no, no. We're both just fans of Eun Woo Oppa." Nara tersenyum dalam hati, melihat raut wajah Joy yang tentu saja terpaksa harus mengalah.


Ajaran Mamanya sudah benar-benar merasuk di otaknya.


"Do you understand?"


"Hm yes."


"I love you dad."


"I love you to Baby." Joy tersenyum seraya melihat ke arah Nara." Tell Mama to forgive Dad." Joy menurunkan Abel yang langsung menuju ke Nara. Dia mendekatkan bibir kecilnya dan membisikkan sesuatu.


"Daddy lost and we won." Nara terkekeh sementara Joy menarik nafas panjang.


"Aku akan pesan tiket sekarang. Karena liburan akan datang jadi aku takut sulit membeli tiket."


"Dua hari lagi kita berangkat." Sahut Nara membuat Joy menoleh ke arahnya.


"Sekolah Abel?"


"Hanya kelompok belajar. Jadi aku akan meminta izin pada gurunya libur satu bulan ke depan."


"Tidak boleh begitu sayang. Pendidikan Abel lebih penting."


"Jangan mulai lagi Joy!!" Joy bungkam saat Nara mulai meninggikan suaranya.


"Oke Baby.. Kamu akan dapatkan itu." Nara tersenyum dan memeluk Joy erat.


"Terimakasih sayang." Kakinya menjinjit lalu mencium pipi Joy sejenak." Kamu dengar itu sayang. Kita akan bertemu Eun Wo Oppa sebentar lagi." Abel tersenyum girang begitupun Nara, sementara Joy memasang wajah datar memperhatikan keduanya tanpa ekspresi.


~Riane


Sudah dapat jawaban dari kemanakah misteri dari kotak Bastian kan😁😁

__ADS_1


Simak terus ceritanya, karena akan ada jawaban dari pertanyaan yang terselip di hati kalian😄😄😄


Terimakasih dukungannya 🥰🥰


__ADS_2