Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 48


__ADS_3

Bella dan Daniel saling melihat, dengan wajah berkeringat. Bibir keduanya terlihat merah dan sesekali terkekeh merasakan masakan yang di belinya dari pasar begitu pedas.


"Berhenti jika tidak kuat Kak." Goda Bella makan sedikit lambat. Mulutnya terasa terbakar namun dia tidak ingin berhenti.


"Masih kuat sayang. Memang pedas, tapi sedap sekali." Daniel meraih tisu untuk kesekian kalinya hingga tumpukan tisu bekas berserakan di atas meja.


"Biasanya tidak sepedas ini."


"Mungkin cabe sedang murah." Bella terkekeh begitupun Daniel.


"Iya mungkin. Ahhhhh aku menyerah Kak." Bella membereskan bungkus nasi dan memasukkannya ke kantung kresek. Tidak lupa dia membereskan tisu yang berserakan di meja." Tisunya jadi habis Kak." Bella berdiri lalu mencuci tangan.


"Nanti kita beli." Daniel membereskan sisa makanannya dan membuangnya ke sampah. Bergegas dia berdiri di samping Bella untuk mencuci tangan bersama.


"Hm iya."


"Kamu sering membeli makanan itu?"


"Tidak juga, jika Mama berbelanja ke pasar saja dan sudah dua tahun terakhir aku tidak pernah merasakannya lagi." Jawab Bella mengeringkan tangannya dengan serbet.


"Berarti dulu kamu sering ke pasar."


"Hehe sesekali, soalnya aku tidak pernah bangun pagi." Daniel mengambil sedikit air lalu mengusapnya ke sekitar bibir Bella yang masih terdapat bumbu merah masakan tersebut. Bella terdiam dan membiarkannya, dia mulai terbiasa dengan perhatian kecil namun manis yang sering Daniel tunjukkan padanya.


"Kita operasikan ponselnya." Setelah tangannya bersih, Daniel merangkul kedua pundak Bella dan menggiringnya ke ruang tengah.


Keduanya duduk berjajar. Daniel mengeluarkan ponselnya dan ponsel yang baru di belinya tadi. Terlihat perbedaan yang begitu jauh sebab ponsel milik Daniel masih terbilang mahal.


Bella hanya diam melihat saat Daniel mulai mengeluarkan kartu SIM dan memasukkannya ke ponsel yang baru di belinya tadi.


"Loh bukannya tadi sudah beli kartu sim card untukku Kak?" Tanya Bella mulai berprotes.


"Hm iya." Daniel mengambil sim card baru dan memasukkannya ke dalam ponsel miliknya." Ini untukmu dan ini untuk ku." Bella melongok, saat Daniel malah memberikan ponsel mahal miliknya.


"Aku yang itu saja. Aku jarang membawa ponsel Kak."


"Ini terlalu kuno untuk anak sekolah sepertimu, jadi biar aku yang pakai."


"Aku tidak merasa kuno."


"Sudahlah. Pakai yang itu biar aku pakai yang ini. Email-nya tidak ku hapus jadi kalau seandainya ada pesan baru. Tolong beritahu aku." Bella membolak-balikkan ponsel dengan tatapan tidak fokus.


Ya Tuhan.. Apa semua orang dewasa semanis Kak Daniel?


"Sayang..."


"Iya.. Akan ku beritahu. Em Kak Daniel yakin? Aku tidak masalah pakai yang itu. Soalnya mungkin Kak Daniel butuh ruang yang besar untuk menyimpan file penting?"


"Ada laptop. Sudahlah, di larang berprotes." Daniel mengambil ponsel dari tangan Bella lalu meletakkannya di atas meja." Tidur, bukankah tadi mengantuk." Daniel menepuk-nepuk pahanya sendiri.


"Sudah hilang karena kepedasan." Bolehkah? Hehe... Aku masih malu jika harus bermanja-manja dengan Kak Daniel tanpa di suruh dulu...


Tiba-tiba Daniel sudah mengiring kepala Bella agar bersandar di pundaknya. Bella tersenyum sebab saat ini dia memang ingin melakukan itu.


"Baik, kita menonton televisi saja." Daniel merangkul kedua pundak Bella dan menyalakan televisi." Ada PR tidak?" Tanya Daniel mengingatkan.


"Hanya sedikit Kak. Nanti malam saja."


"Apa emm.. Marco tidak menemuimu hari ini?" Tanya Daniel lirih. Ada rasa sesak saat menyebut nama itu. Apalagi akibat perkataan Marco tadi, membuat Daniel kembali merasa payah karena hanya sanggup memberikan kehidupan yang sederhana untuk Bella." Sayang.." Panggil Daniel.


"Bisakah kita tidak membahas orang itu Kak?" Daniel menarik nafas panjang sambil terus menepuk-nepuk pundak Bella sesekali mengusapnya.


"Aku juga tidak suka, tapi dia ada di sekeliling kita. Em tadi dia akan mengantarkan kartu asuransi milikmu."


"Berarti dia ke sini." Bella mengangkat kepalanya dan menegakkan posisi duduknya.


"Hmm.." Daniel tersenyum, tangannya terangkat dan mengusap rambut tebal Bella yang tidak seberapa panjang.


"Lalu?" Tanya Bella antusias.


"Dia berfikir jika aku amnesia."


"Syukurlah."


"Apa dia menemuimu tadi?" Tanya Daniel lagi.


"Aku lupa Kak." Bella kembali menyandarkan kepalanya ke dada bidang Daniel. Dia ingin menghindari pertanyaan itu karena tidak ingin Daniel terbebani. Bella bahkan sudah tidak lagi menginginkan uang asuransi yang seharusnya bisa di ambil untuk tambahan biaya hidup.


"Ya sudah jika lupa." Jawab Daniel seraya memainkan jemari kecil Bella." Kamu mencintaiku sayang?" Bella terdiam, dia tahu jika mungkin hati Daniel sedang gusar.


"Hm iya." Ucapnya menahan malu.


Bella memundurkan tubuhnya dengan kedua kaki di angkat. Demi untuk menenangkan perasaan Daniel, dia ingin menekan rasa malunya. Kedua tangan Daniel di giring untuk mendekapnya dan cara itu sangat ampuh sebab Daniel merasa begitu damai.


"Masih malu untuk mengatakannya?" Daniel mengeratkan dekapannya seraya sesekali mengecup puncak kepala Bella.


"Hm iya Kak. Aku bukan gadis yang manis dan ini baru pertama kalinya untukku." Jawab Bella lirih.


"Aku berharap ini juga jadi yang terakhir untukmu."


"Iya. Aku juga."


"Aku sangat mencintaimu." Daniel mengangkat dagu Bella dan mencium bibirnya lembut." Balas aku." Pinta Daniel seraya beradu manik.


Bella membalas ciuman itu dan Daniel kembali membalasnya lagi dan lagi.


"Leherku sakit." Eluh Bella dengan bibir saling menempel dan deru nafas yang mulai memberat.


"Ambil posisi nyaman sayang. Bolehkah? Aku ingin melakukannya sedikit lama." Jantung Bella semakin berpacu mendengar kalimat sederhana itu.


"Bagaimana Kak?" Tanya Bella binggung.


"Duduk sini?" Daniel menepuk paha kanannya.


"Hm.." Bella beranjak dan menempelkan bokongnya di sana.


Keduanya tersenyum seraya beradu manik hingga akhirnya Daniel mengawalinya lagi untuk menghilangkan perasaan canggung Bella.


"Tangannya letakkan di sini agar lebih nyaman." Daniel menggiring kedua tangan Bella agar bertumpu pada pundaknya." Kiss me please baby.." Ucap Daniel menunjuk bibirnya dengan telunjuk.


"Memalukan sekali." Bella tertawa kecil dengan wajah merahnya.


"Aku suamimu sayang. I'm waiting Baby.."

__ADS_1


Bella menarik nafas panjang, memandangi raut wajah Daniel yang tampan. Di tambah dengan bibir sensual dengan rahang kokohnya membuat Bella semakin menegang.


Dia tampan sekali... Bella mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya. Dengan mata terpejam, dia memulai adegan ciuman tersebut.


"Buka matamu. Aku tidak ingin kamu membayangkan lelaki lain saat menciumku." Bella membuka matanya cepat.


"Mana mungkin Kak." Celetuknya menjauhkan wajahnya.


"Maka dari itu, tatap aku jika sedang melakukannya."


"Aku malu. Sudah ku katakan aku malu, bukan ingin membayangkan lelaki lain."


"Buka mata seperti ini saat sedang melakukannya." Daniel mulai mencium dengan manik saling memandang." Mengerti." Daniel menjauhkan wajahnya lagi.


"Kenapa mirip pelajaran praktek saja." Runtuk Bella akan mengangkat bokongnya tapi tangan Daniel mencegahnya.


"Memang sedang belajar. Aku memberi materi dan kamu praktekan."


"Malas Kak." Jawab Bella berpaling.


"Katanya cinta?"


"Iya cinta tapi... Lebih baik aku menjawab soal kimia daripada harus ujian praktek seperti ini." Daniel terkekeh sementara Bella meliriknya malas.


"Itu hanya alasanmu saja karena kamu malu." Bella tidak bergeming dan membenarkan itu." Oke sayang. Itu materinya yang harus kamu ingat. Jika sudah siap, besok ujian praktek ya. Ingat, tetap membuka mata ketika sedang menciumku." Bella kembali melirik malas seraya membuang nafas kasar.


Ini menyenangkan tapi aku benar-benar malu..


**************


Tok...Tok...Tok...


"Masuk..." Seorang wanita muda masuk dengan membawa map.


"Em, ini jadwal pertemuan untuk besok Pak. Hari ini ada beberapa pertemuan yang terpaksa di batalkan karena Bapak baru saja tiba." Ucap sekertaris Marco seraya meletakkan map di atas meja.


"Batalkan semua pertemuan untuk tiga hari ke depan!" Ucap Marco menggeser map nya ke arah sekertarisnya.


"Maaf Pak.. Besok ada jadwal pertemuan dari Tuan Charles. Apa itu juga di batalkan?"


Marco memutar kursi kokohnya dan menatap tajam ke arah si sekertaris yang langsung menunduk.


"Kau tuli!! Jika ku bilang batalkan ya batalkan!!! Keluar!!! Jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan ku!!"


"Ba baik Pak." Si sekertaris mengangguk sebentar kemudian berjalan keluar seraya mengumpat dengan lirih. Saat dia keluar kebetulan Bu Eka akan memberikan laporan dan si sekertaris langsung mencegahnya."Jangan masuk Bu." Tangan Bu Eka di tarik untuk menjauhi pintu.


"Kenapa? Ini berkas penting. Seharusnya ku berikan sejak tadi pagi."


"Aku saja habis kena marah. Pak Marco tidak ingin di ganggu hari ini." Ucapnya pelan.


"Lalu ini?"


"Mendingan Ibu bawa kembali saja. Duuhh hati saya rasanya deg deg-an di bentak seperti tadi." Sekertaris melambai ke arah Lisa yang akan masuk ruangan.


"Kenapa?" Tanya Lisa yang juga akan menyetorkan berkas.


"Jangan. Pak Marco sedang tidak enak hati."


"Seharusnya jangan begini. Namanya kerja ya harus di disiplin. Nanti kalau ada apa-apa kita juga yang kena semprot." Runtuk Bu Eka kesal.


"Kalau aku ya bodoh amat! Bukannya malah enak, tidak perlu menyetor laporan jadi bisa cari ide deh buat godain Kakaknya Bella." Bu Eka dan si sekertaris melirik malas ke arah Lisa.


"Kalau perusahaan ini bobrok ya kita terancam di pecat Lis, duhhh fikiran mu itu lelaki terus."


"Di pecat ya keluar, aku bukan orang susah ya. Wahh bisa santai lagi hari ini." Lisa melenggang pergi sementara Bu Eka dan si sekertaris menggelengkan kepalanya.


*************


"Bagaimana bisa seperti ini Ken." Ayah Kenan merasa kaget dengan luka memar yang cukup parah pada sekitar hidung dan bibir.


Kenan meringis kesakitan bahkan sulit berbicara karena bibirnya membengkak.


"Tidak apa Yah. Agh sakit sekali.."


"Siapa yang melakukannya, bilang sama Ayah."


"Ini masalah lelaki! Ayah tidak perlu ikut campur." Jawab Kenan tidak ingin melibatkan Ayahnya. Dia serius ingin menjadi dewasa untuk Bella sehingga dia harus menyelesaikan semuanya sendiri.


"Lelaki apa? Kau itu masih bocah. Ayo bilang Ayah! Siapa yang berbuat ini padamu." Kenan melirik malas seraya berdiri.


"Jika Ayah tidak yakin aku bisa jadi lelaki! Mana bisa Bella yakin padaku!! Aku bukan bocah tapi lelaki! Buktinya aku bisa membangun usaha sampai sebesar itu!!" Kenan akan pergi namun pergelangan tangannya di pegang Ayahnya.


"Meskipun kau sudah punya usaha, tapi fikirannmu memang seperti bocah. Kembali ke tempat tidurmu! Kamu belum sembuh."


Tak!!


Kenan menampis kasar tangan sang Ayah.


"Aku sudah sembuh." Jawabnya seraya melenggang keluar.


"Astaga Tuhan. Aku ingin tahu siapa gadis yang sudah membuat anakku segila itu. Bukankah sudah terlihat jika dia memang mirip bocah. Dia bahkan masih sering marah tidak jelas seperti sekarang." Ayah Kenan menggeleng-gelengkan kepalanya seraya keluar untuk mengurus administrasi.


************


Bella mendongak, menatap Daniel yang tertidur dengan posisi duduk.


"Dia menyuruhku tidur tadi dia sendiri yang tidur." Gumam Bella mengangkat pelan kepalanya dari paha Daniel.


Bella memutar tubuhnya menghadap ke arah Daniel. Tangannya terangkat lalu menyentuh rambut yang berada di sekitar dahinya dan menyingkirkannya lembut.


"Nanti dia bangun hehe." Bella menurunkan tangannya lalu meraih ponselnya. Dia berniat memberi tahu Sari dan Erin tentang nomer barunya.


Tiba-tiba ponsel Daniel bergetar. Bella meletakkan ponsel miliknya dan beralih mengambil ponsel Daniel. Tidak ada nama tertera sebab memang sim card nya baru saja di pindah.


Bella menerima panggilan tersebut namun dia mencoba untuk tidak bicara dulu.


"Hai Dimas.


Bella menarik nafas panjang dan menyadari jika panggilan itu berasal dari Lisa.


"Aku tidak percaya jika kau tidak menyukai wanita. Bisakah kita bertemu tanpa sepengetahuan Bella? Aku ingin bicara empat mata denganmu.


Genit sekali sih!!

__ADS_1


"Halo Dim.


"Aku Bella.


"Oh hehe hai Bella. Em maaf, aku tidak bermaksud berkata itu. Aku hanya ingin bicara empat mata untuk membahas jika aku tidak keberatan meski Dimas tidak menyukai wanita.


"Ya memang tidak suka. Dia hanya boleh menyukai aku. Apa kak Lisa paham?


"Menyukaimu maksudnya?


"Kak Dimas kekasihku jadi dia tidak akan menyukaimu.


Lisa malah terkekeh mendengar penuturan dari Bella.


"Iya aku tahu rasanya seperti apa Bella. Mengidolakan lelaki dewasa itu sangat menyenangkan.


Daniel menyipitkan matanya, dia terbangun karena merasa terganggu dengan obrolan Bella yang cenderung meninggikan suaranya.


"Tidak. Kak Lisa salah. Kak Dimas yang mengidolakan aku, bukan sebaliknya.


Daniel tersenyum mendengar itu dan berusaha tidak ikut angkat bicara.


"Khayalan yang indah Bella. Aku juga seperti itu dulu hingga sekarang. Aku suka lelaki dewasa meski umurku baru 20 tahun.


"Kak Lisa yang berkhayal bukan aku.


"Nanti akan ada masanya kamu menemukan seseorang yang cocok jadi jangan egois untuk mencegah Dimas dekat dengan wanita lain Bell.


"Aku tidak mencegah. Tapi aku sedang menjaga milikku. Sudah ku katakan jika Kak Dimas itu kekasihku jadi dia tidak akan menyukai wanita sepertimu.


"Itu hanya cinta monyet.


"Aku manusia bukan monyet.


Daniel terkekeh sehingga membuat Bella sadar jika saat ini sedang di perhatikan.


Ahh suaraku terlalu keras. Kak Lisa sih!!


"Itu suara Dimas ya?


"Bukan tapi hantu. Bye Kak Lisa. Nomermu ku blokir ya.


Bella mengakhiri panggilan dan memblokir nomer Lisa agar dia tidak bisa menghubungi Daniel lagi.


"Berisik ya Kak. Maaf, terbawa emosi." Ucap Bella lirih. Dia meletakkan ponselnya di atas meja.


"Kenapa tidak di blokir saja langsung. Mengobrol dengan wanita semacam Lisa, tidak akan ada habisnya."


"Entahlah Kak. Aku akan memberi nomer baruku pada Sari." Bella mengambil ponselnya dan mengetik nomer Sari lalu mengirim pesan singkat.


"Aku malah ketiduran sayang." Daniel menutup mulutnya yang menguap lalu mengusap rambutnya sendiri. Bella melongok, memperhatikannya dari samping saat Daniel melakukan itu.


Benar kata Sari hehe.. Kak Daniel terlihat lebih tampan ketika bangun tidur. Sayang sekali aku selalu bangun kesiangan dan tidak bisa melihat momen berharga ini..


Cup!


Satu kecupan bibir mendarat, membuat mata Bella membulat. Sontak dia menjauhkan wajahnya karena Daniel tidak mengangkat kepalanya.


"Melihat apa? Kenapa selalu saja melamun seperti itu sayang?"


"Tidak sadar Kak." Jawab Bella lirih.


"Dekat sini." Daniel menarik tubuh Bella agar berdekatan dengannya. Kepalanya di miringkan lalu di sandarkan pada punggung sofa dan menatap wajah Bella dari sana.


"Kenapa Kak Daniel selalu melihatku seperti itu?"


"Agar kamu terbiasa dan tidak gugup seperti sekarang."


"Aku tidak gugup." Ucap Bella mengelak.


"Lihat sini dan buktikan." Bella menoleh dan membalas tatapan manik Daniel." Aku merasa kamu paling cantik hehe." Puji Daniel membuat wajah Bella semakin memerah.


"Aku biasa saja Kak." Bella akan mengalihkan pandangannya namun tangan Daniel mencegah.


"Kenapa berpaling sih? Apa aku begitu buruk hingga kamu tidak ingin melihat wajah suamimu ini?"


"Aku yang buruk bukan Kak Daniel. Kulit kita bahkan jauh berbeda." Bella menempelkan tangannya pada lengan Daniel. Terlihat jika kulit Daniel memang jauh lebih terang daripada kulitnya.


"Mungkin aku jarang berjemur jadi pucat seperti ini." Jawab Daniel asal.


"Mana ada Kak. Ini sudah jelas terlihat." Bella berusaha mengalihkan perhatian Daniel namun rasanya itu gagal sebab Daniel masih saja melihatnya dengan berlebihan.


"Tapi kamu memang paling cantik."


"Banyak yang lebih cantik dariku." Jawab Bella tertunduk.


"Buktinya banyak yang menyukaimu karena kamu sangat manis."


"Banyak berapa? Jangan sok tahu Kak."


"Aku tahu sayang. Buktinya kamu menjerat hatiku dalam sekali tatap. Itu membuktikan jika kamu spesial." Bella menghembuskan nafas berat untuk mengendalikan jantung yang semakin tidak terkendali.


"Aku biasa saja."


"Tidak. Kamu luar biasa. Mungkin karena hatimu juga cantik."


"Hatiku tidak cantik. Teman-temanku banyak yang membenciku."


"Mereka iri padamu."


"Iri apa Kak. Ahh bisa tidak jangan menatapku seperti itu." Bella menghalangi pandangan Daniel dengan tangannya namun Daniel malah menempelkan bibir hangatnya pada telapak tangan Bella sehingga Bella menariknya cepat.


"Hehehehe menyenangkan sekali."


"Ish! Kak Daniel nakal sekali." Bella memutar tubuhnya dan memunggungi Daniel.


"Nakal hanya denganmu. Aku berjanji." Kedua tangan Daniel melingkar erat di perut ramping Bella dan menempelkan bibirnya pada punggungnya.


~Riane



🤤🤤🤤🤤🤤🤤🤤

__ADS_1


Ayo ayo yang belum favorit cus di klik❤️biar makin cinta kita hehe🤭🥰


Terimakasih dukungannya 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2