Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 21


__ADS_3

Bella masuk perlahan ke dalam rumah lalu menguncinya, dia terpekik kaget karena ternyata Daniel menunggunya di balik pintu tersebut.


"Apa yang Kak Daniel lakukan?" Protes Bella seraya mengerutkan keningnya.


"Menunggumu. Makan mu belum selesai sayang." Daniel merangkul kedua pundak Bella dan menggiringnya untuk kembali duduk." Apa itu?" Tanya Daniel perihal bungkusan yang Bella bawa.


"Baju seragam dan baju ganti." Raut wajah Daniel berubah, lagi lagi dia merasa payah karena tidak dapat menyediakan kebutuhan Bella dengan cepat." Mungkin setelah ini aku akan merepotkanmu Kak." Tutur Bella lirih.


"Merepotkan apa?" Daniel menyodorkan satu sendok makanan dan Bella langsung melahapnya.


"Beli seragam dan baju, Kak Daniel kan tahu tidak ada yang tersisa."


"Aku tidak merasa repot dengan itu." Jawab Daniel yang matanya kembali menyipit karena tersenyum.


"Bukan itu saja.."


"Aku tahu sayang." Sahut Daniel cepat. Dia menatap Bella hangat, tangannya terangkat lalu mengusap pipinya lembut." Itu tanggung jawabku. Kamu tidak perlu ikut memikirkannya.." Tubuh Bella mematung dan perlahan menunduk, namun Daniel mengangkat sedikit dagunya agar Bella membalas tatapannya.


"Ah Kak, kenapa kau melihatku seperti itu." Bella menampis tangan Daniel dan menutupi wajah Daniel dengan tangannya.


Astaga... Hampir saja, aku bisa mendapatkan bibir merahnya... Bella mendengus mendengar suara tertawaan dari Daniel. Dia akan menggeser tubuhnya tapi Daniel dengan cepat memegang pinggangnya erat.


"Maaf sayang, aku terbawa suasana. Jangan menjauh, ini belum habis." Bella menghembuskan nafas berat agar perasaannya yang menegang hilang.


Itu sangat mempesona... Ya Tuhan... Kenapa aku tidak cepat lulus agar jika aku khilaf tidak akan jadi masalah.. Fikiran Bella mulai kotor. Membayangkan Daniel mencumbunya dengan dengan deru nafas khas dari Daniel yang mulai menempel pada ingatan Bella. Suara terlembut dari seorang lelaki, bahkan sikap dan tingkah lakunya pun mulai Bella sukai.


"Ingat ya Kak, aku masih sekolah meski aku istrimu." Runtuk Bella berpura-pura kesal, padahal dia sangat menyukai ekspresi wajah Daniel tadi.


"Ingat sayang. Jika aku lupa, tampar saja wajahku agar aku sadar dan mengingatnya lagi." Jawab Daniel kembali menyuapi Bella." Tapi jika berciuman mungkin tidak apa." Bella tersedak mendengar kata-kata itu, hingga Daniel harus beranjak untuk mengambil minum.


"Kita baru mengenal beberapa hari lalu, kenapa langsung membahas ciuman." Protes Bella.


"Jadi, kalau satu bulan lagi, apa aku boleh menciummu?" Daniel terkekeh melihat wajah tegang Bella yang kembali di perlihatkan.


"Entahlah Kak, kenapa membahas itu terus."


"Aku tidak mengerti, biasanya aku tidak pernah menginginkan itu. Mungkin kamu terlalu cantik sehingga membuatku memikirkan hal-hal yang tidak-tidak." Bella terdiam seraya terus mengunyah.


Kak Daniel lelaki dewasa. Sudah pasti dia memikirkan hal seperti itu..


"Kak Daniel tidak makan?" Bella ingin mengganti topik pembicaraan.


"Setelah ini aku makan."

__ADS_1


"Biar ku makan sendiri yang ini." Bella mengambil satu kotak lagi setelah melihat kotak pertama sudah habis.


"Hm kita makan bersama lalu beristirahat, besok kamu sekolah pagi. Aku akan membicarakan perihal kebakaran itu agar pihak sekolah tahu."


"Iya Kak." Jawab Bella lirih. Dia kembali memikirkan soal tidur sendiri yang harus di lakukannya malam ini. Ingin sekali Bella mengutarakan rasa takutnya namun dia merasa malu dan enggan berbicara. Aku pasti bisa...


Pukul delapan malam. Setelah mengganti sprei, Daniel membawa sprei kotor keluar kamar, meninggalkan Bella yang masih duduk di pinggiran tempat tidur.


Daniel meletakkan sprei kotor di belakang lalu langsung berjalan menuju kamar Lucas dan masuk. Terlihat Lucas masih menghadap layar laptopnya, sementara Daniel duduk lemah di kursi kayu.


"Tuan tidur saja. Saya nanti bisa tidur di luar." Ucap Lucas pelan.


"Apa menurutmu kebakaran itu sengaja di lakukan?" Tiba-tiba saja, Daniel membahas itu. Dia berfikir demikian karena banyak warga berkata mencium bau bensin.


"Saya tidak mengerti Tuan." Lucas menutup laptopnya lalu menggeser kursinya dan menghadap Daniel." Saat saya sudah datang, api sudah membesar." Daniel menarik nafas panjang. Dia tidak bisa berbuat apapun, apalagi untuk melapor pada pihak berwajib yang pasti akan membutuhkan biaya.


Sementara Bella sendiri masih pada posisi yang sama seraya terus memperhatikan sekitar. Dia tidak bergerak sejak lima belas menit yang lalu.


Aku merasa tidak nyaman.. Bella mengusap tengkuknya seraya menarik nafas panjang agar fikiran buruknya menghilang. Namun itu sulit, apalagi suasana kamar lebih terlihat menyeramkan dengan lampu redupnya. Aku pasti bisa..


Kriiiiiiitttttttt...


Bella mengangkat kedua kakinya dan mencoba berbaring di tempat tidur. Kedua bola matanya membulat, menatap langit kamar dan sesekali memperhatikan jendela yang bisa saja terbuka dengan sendirinya.


Braaaakkkkk!!!!


"Kaaaak Danieeeeeel....!!!" Teriak Bella membuat Daniel dan Lucas berlari keluar kamar untuk memeriksa. Pintu kamar terbuka sehingga Bella langsung berdiri dan tanpa sadar memeluk tubuh Daniel erat.


"Apa yang terjadi?" Tanya Daniel membalas pelukan Bella.


"Ada suara di jendela. Pasti hantu!" Lucas tersenyum begitupun Daniel.


Tanpa di suruh, Lucas membuka jendela untuk memeriksa. Terlihat seekor kucing tengah duduk di sana dan mungkin menjatuhkan tumpukan kayu.


"Itu kucing Nona."


Meong....


Lucas kembali menutup jendela lalu menguncinya. Bella menarik nafas panjang, menyadari jika sekarang dia tengah memeluk tubuh tegap Daniel. Apalagi tangan Daniel dengan lembut membalas pelukannya sehingga wajahnya terasa begitu panas. Merasakan malu dan takut yang bercampur aduk menjadi satu.


Detak jantung Daniel bahkan bisa Bella rasakan dan itu berarti Daniel juga merasakan hal yang sama. Sehingga dengan cepat Bella melepaskan pelukannya.


"Lebih baik aku berada di sarang penjahat." Eluh Bella seraya berusaha menghilangkan rasa tegangnya karena pelukan singkat tadi. Lucas tidak ingin ikut campur dan memutuskan keluar kamar.

__ADS_1


"Itu hanya kucing sayang."


"Aku takut." Jawab Bella lirih. Perlahan, kedua tangannya terangkat dan meraih lengan kekar Daniel." Serius Kak. Aku merasa ada yang memperhatikan ketika aku sedang sendiri." Daniel begitu bahagia mendapatkan perlakukan manis Bella sekarang.


"Itu hanya perasaanmu saja. Aku tidak pernah melihat sesuatu yang aneh di sini." Meskipun Daniel ingin sekali menemani Bella. Tapi, dia tidak bisa mengutarakannya langsung sebelum Bella memintanya.


"Tidur di ruang tamu saja." Bella mendongak menatap Daniel.


"Apa bedanya?" Daniel membalas tatapan Bella dengan lembut.


"Aku bisa berlari keluar jika terjadi sesuatu."


"Di sana akan dingin."


"Aku benar-benar takut. Aku tidak bisa tidur." Daniel tersenyum dan rasanya dia harus mengatakan solusi terbaiknya sekarang.


"Apa kamu percaya padaku sayang?"


"Percaya apa?" Jawab Bella lirih.


"Aku tidak akan menyentuhmu." Bella terdiam dan sudah bisa menebak dengan apa yang akan Daniel katakan.


"Kamarnya terlalu sempit Kak." Eluh Bella merasakan keadaan kamar yang hanya bisa di masuki dengan satu ranjang.


"Aku akan membuat kamar yang lebih besar. Sudah ku katakan aku akan mengambil pinjaman untuk merenovasinya."


"Tidak." Jawab Bella cepat." Aku percaya padamu dan jangan merusaknya." Imbuh Bella terpaksa berkata itu. Meskipun dia menginginkan kamar yang lebih besar, tapi dia merasa kasihan jika harus menambah beban untuk Daniel.


"Tentu saja sayang.. Jika memang aku lupa diri, kamu benar-benar boleh menamparku." Daniel sangat senang mendengar itu sehingga dia menjadi lupa diri dan memeluk kembali tubuh kecil Bella.


"Ini sudah lupa." Bella menahan pelukan Daniel dengan kedua tangannya yang di lipat di depan dadanya.


"Aku mencintaimu sayang, aku berjanji akan menjagamu." Daniel mengakhiri pelukannya dengan kecupan pada puncak kepala Bella." Aku akan mengambil bantal tambahan, tunggu di sini sebentar." Bella memegang kembali lengan Daniel.


"Tidak. Aku ikut." Daniel kembali memperlihatkan mata sipitnya dengan senyum khasnya, sehingga Bella ikut tersenyum saat kedua maniknya bertemu seperti sekarang." Matamu menghilang lagi." Tangan kanan Bella terangkat dan menyentuh kelopak mata Daniel dengan telunjuknya.


"Kamu manis sekali." Daniel menggenggam jemari Bella lalu mengecupnya sebentar.


"Kak Bastian sering menyebutku singa betina." Daniel terkekeh mendengar itu dan Bella kembali ikut tersenyum." Aku tidak semanis yang Kak Daniel lihat." Imbuhnya dengan jantung berdebar.


"Kamu paling manis di mataku. Percayalah sayang..."


Aku percaya Kak...

__ADS_1


~Riane


__ADS_2