
Jangan lupa like ya😁😁
Happy reading 🥰
Daniel melajukan mobilnya pelan, menuju ke gudang seperti biasanya. Bibirnya tersungging dengan sendirinya, ketika kejadian manis semalam terlintas. Daniel sampai tidak menyadari, jika sejak tadi mobil Marco tengah mengikutinya dari belakang.
Marco ingin menyelidikinya sendiri, meninggalkan pekerjaan utamanya untuk mengurus perusahaan Dans group. Dia sampai harus memakai mobil butut untuk melancarkan pengintainya agar tidak terendus.
"Oh jadi di sini.." Marco cukup terkejut melihat Daniel masuk ke dalam gudang yang cukup besar. Dia melepaskan jas yang di pakai dan meraih kaos biasa untuk melakukan penyamarannya.
Marco berjalan keluar mobil dan mendekati gudang. Terdengar bunyi bising mesin dari dalam. Saat seseorang keluar, Marco langsung menghampirinya untuk bertanya.
"Pabrik baru ya Bang?" Tanyanya ramah.
"Iya Bang."
"Masih butuh lowongan?"
"Wah.. Kemarin sih banyak Bang. Sekarang mesinnya sudah terisi semua." Marco mengangguk-angguk seraya tersenyum.
"Siapa pemiliknya?"
"Saya tidak tahu Bang, soalnya saya baru bergabung dua hari ini."
"Em terimakasih ya."
"Sama-sama." Marco kembali ke mobilnya dan melepas kaos lusuhnya.
"Sebelum Bella bisa ku dapatkan! Jangan berharap kau bisa hidup tenang Daniel!!" Umpatnya mulai memikirkan rencana jahatnya.
***********
"Ini Pak. Saya bayar untuk dua bulan ke depan." Bella menyodorkan kartu SPP pada kepala sekolah.
"Sudah di bayar Bella, jadi tinggal kartunya saja." Tangan kepala sekolah akan meraih kartu namun dengan cepat Bella mengambilnya.
"Siapa yang membayar?!" Tanya Bella penuh penekanan.
"Dia tidak ingin si sebutkan namanya."
"Siapa Pak? Bagaimana mungkin tidak bisa di sebutkan namanya." Tutur Bella tegas.
"Sudahlah Bella. Bapak mohon terima saja. Tidak perlu di perpanjang lagi."
"Kakak saya masih mampu Pak. Jika itu beasiswa untuk siswa berprestasi, saya dengan senang hati menerima. Tapi jika bantuan untuk saya pribadi. Tolong katakan siapa?"
Kepala sekolah memasang wajah bingung. Dia ingin bicara namun sudah berjanji. Tapi jika dia tidak bicara, Bella sudah pasti akan marah.
"Samuel. Berjanjilah untuk tidak memarahinya." Bella bernafas lega saat kepala sekolah menyebut nama Samuel.
Ku fikir lelaki itu ...
"Tidak Pak." Bella mengambil uang dari dalam kartu, dan memberikan kartu miliknya pada kepala sekolah." Saya permisi." Bella bergegas keluar, untuk mencari keberadaan Samuel.
Langkahnya semakin di percepat ketika dia melihat Samuel tengah berbincang dengan beberapa temannya di taman sekolah.
"Bisa kita bicara Sam." Ucap Bella tanpa basa-basi.
"Ehemmm cie..." Ledek teman-temannya.
Sudah menjadi rahasia umum jika Samuel menyukai Bella sejak dulu. Sehingga teman-temannya meledek Samuel seperti sekarang. Sementara Samuel sendiri tidak merespon ledekan itu dan berjalan menghampiri Bella.
"Uangmu." Bella meletakkan gulungan uang pada saku seragam Samuel.
"Jangan tersinggung, aku hanya membantu." Jawab Samuel menjelaskan niat baiknya.
"Tentu saja tersinggung. Kakakku masih mampu, tidak perlu memberikan bantuan semacam itu." Tolak Bella selalu bersikap tegas dan cepat dalam mengambil keputusan.
"Aku membantumu sebagai teman. Tidak ada maksud lain."
"Aku tidak berteman dengan lelaki manapun. Kau lupa? Terimakasih niat baiknya." Bella tersenyum tipis kemudian berjalan pergi.
Samuel menatapnya lemah, dia tahu jika kejadiannya akan seperti ini meski dia masih ingin mencobanya.
"Tentu saja. Kau akan menolak itu Bella. Padahal aku sangat ikhlas karena tidak ingin melihatmu kesulitan." Gumam Samuel memasukkan uangnya kedalam saku celana.
"Oh jadi kau masih tidak berhenti?" Sahut Kenan tidak sengaja melihat Samuel berbincang sebentar dengan Bella.
Samuel menoleh seraya tersenyum tipis. Dia tahu siapa Kenan, siswa gila yang tergila-gila hingga semakin gila seperti sekarang.
"Berhenti apa?" Jawab Samuel santai.
"Berhenti mendekati Bella!!"
"Jika aku bisa. Akan ku lakukan." Samuel menepuk pundak Kenan lembut tapi dengan kasar Kenan menampiknya.
"Kau berurusan denganku jika mendekatinya!!!" Kenan yang memang sudah gila, menunjuk kasar ke arah Samuel.
"Turunkan tanganmu. Posisi kita sama! Hanya pengagum, kau tidak sadar hah? Jadi jangan menunjukku seperti itu." Ketidakwarasan Samuel semakin meningkat, dia langsung melayangkan pukulannya, namun dengan sigap Samuel membalas hingga perkelahian tidak terhindarkan.
Para siswa mencoba melerai, tapi Samuel dan Kenan sama-sama tidak mau mengalah. Salah satu murid berlari ke ruang BK untuk melapor dan akhirnya perkelahian pun bisa di hentikan.
"Apa ini!!!" Guru BK melihat raut wajah lebam keduanya, meski Kenan terlihat lebih parah.
"Dia yang mencari masalah!!" Tunjuk Kenan Kasar.
"Aku hanya membela diri Pak." Jawab Samuel menyangkal.
"Kalian sudah kelas tiga!! Kenapa masih membuat masalah!! Ikut Bapak ke kantor sekarang juga." Guru BK berjalan, di ikuti oleh Samuel dan Kenan.
.
.
.
"Bella. Kenan dan Samuel bertengkar merebutkan mu." Ucap siswi yang baru saja datang.
"Kau salah orang." Jawab Bella santai dan tidak ingin terlibat.
"Serius Bell, mereka di panggil guru BK ke kantor."
"Bukan urusanku." Si siswi melirik malas lalu pergi meninggalkan Bella yang memang sangat cuek dan tidak mau tahu.
Erin dan Sari terkekeh, melihat raut wajah datar di hadapannya. Cantiknya memang terlihat standar, tapi Bella termasuk kategori siswa populer karena kecerdasannya dan sikap acuhnya yang tidak pandang bulu. Kaya, miskin, jelek atau tampan! Tidak ada yang bisa meluluhkan hatinya. Tidak seperti kebanyakan siswi populer yang berparas menawan tapi masih tergoda dengan uang dan ketampanan.
"Uhh mentang-mentang ada Bang Daniel hehe.." Canda Erin meledek.
"Tidak juga. Bukankah aku tidak pernah perduli dengan hal seperti itu." Jawab Bella seraya bermain ponsel dan mulai mencoba peruntungannya.
"Itu kenapa mereka semakin mengejarmu hingga gila."
"Yang pasti aku sudah menjawab dengan tegas jika aku tidak menyukai mereka. Hei lihatlah." Bella menggeser tempat duduknya dan memperlihatkan postingan pertamanya.
"Wah Bell, menarik sekali promosinya." Puji Erin yang bahkan menjadi tertarik melihat postingan pertama yang baru Bella post.
"Aku hanya mencoba, doakan lancar ya. Nanti ku traktir di restoran bintang lima."
Ketiganya terkekeh mengingat kejadian itu. Mereka bahkan tidak ingin lagi kembali ke restoran yang menyajikan makanan mahal namun sangat sedikit dan tidak sedap.
"Dihh mending di bakso Bang Reza. Sudah ganteng, tidak pelit dan sambil cuci mata terus, kenyang lagi hehe."
"Setuju!" Sahut Sari cepat." Masakan itu bukan kelas kita Bell." Imbuhnya menyantap mie ayam di hadapannya.
"Tidak masalah kelas tapi selera. Itu kenapa banyak orang kaya yang makan di pinggiran jalan. Jika di bandingkan dengan restoran itu, bukankah masakannya kalah telak. Apalagi nasi bungkus yang ada di pasar tradisional. Ahhh sedapnya tangan para ibu-ibu itu hingga membuat masakan sesempurna itu." Bella menelan salivanya kasar, membayangkan enaknya dan pedasnya nasi bungkus yang di belinya bersama Daniel di pasar dulu." Aku akan ke sana sepulang sekolah." Gumam Bella tiba-tiba menginginkan makanan pasar tradisional.
"Kemana Bella?"
"Ke pasar. Beli nasi bungkus, ikut ya, nanti kita makan di mobil Kak Daniel." Erin tersenyum aneh mendengar itu.
"Hehe tidak lah Bell." Jawab Erin pelan.
"Kalian sibuk?" Tanya Bella tidak peka.
"Bukan sibuk, tapi takut membuat kamu marah. Em kita nanti pulang sendiri saja." Ucapan Erin sontak membuat Bella menatap kedua sahabatnya secara bergantian.
Dia merasa tidak enak mengingat kejadian kemarin. Tapi apa daya, Bella juga baru merasakan jatuh cinta. Ingin sekali untuk tidak egois namun rasanya sangat sulit.
"Iya maaf Rin. Maaf sekali. Aku hanya baru merasakan hal seperti ini.." Jawab Bella pelan.
__ADS_1
"Kok maaf sih Bell hehe. Aku tidak apa kok."
"Hm itu bagus malahan. Kemarin Erin bercerita itu padaku. Kami tidak masalah Bella." Sahut Sari menimpali.
"Iya Bella. Santai saja, kita tetap sahabat kok."
"Kak Daniel tuh... Emm memang jahil tapi... Rasanya aku mulai menyukainya.." Dan menginginkan terus bersamanya.. Dia sedang apa sekarang? Apa masih di gudang?
"Siapapun juga suka Bell. Kak Daniel kan tampan, 11 12 dengan Eun Wo Oppa hehehe."
"Bukan tampannya, sudah ku bilang bukan itu. Aku merasa nyaman saja. Kadang-kadang aku juga merasa buruk, kulit Kak Daniel bahkan lebih terang daripada aku." Eluh Bella memperlihatkan lengannya.
"Di rawat Bella."
"Ya pakai produk yang kamu jual Bella, sekalian untuk testimoni." Sari yang bicara asal, kembali di tanggapi dengan begitu bersemangat oleh Bella.
"Wah ide bagus. Tapi..." Ucapnya tertahan.
"Tapi apa?"
"Bukankah membuang waktu?"
"Demi Oppa Daniel hehehehe." Ledek Erin membuat gelak tawa terdengar keluar dari bibir ketiganya.
************
"Ini kemajuan cukup bagus Lucas."
"Iya Tuan meskipun peningkatannya hanya 20 persen tapi mulai merambat naik sebab banyak konsumen mencoba memakai produk kita." Jawab Lucas ikut bersemangat sebab usahanya tidak sia-sia.
"Kamu masih memakai nama Dimas Kan?" Tanya Daniel memastikan.
"Iya Tuan."
"Terimakasih Tuhan." Daniel begitu bersyukur, melihat peningkatan penjualan yang mulai merangkak naik.
Bibirnya tersungging, membayangkan jika sebentar lagi akan sanggup memberikan kehidupan layak untuk istri kecilnya. Tidak ada yang Daniel fikirkan lagi, selain tujuannya demi bisa membahagiakan hidup Bella.
Sementara Marco sendiri, tengah berdiam di ruangannya dan menyusun rencana busuk untuk Daniel. Seharusnya dia tidak ingin terlibat seperti apa yang pernah di bahas bersama Fanny.
Namun Bella mengelitik hatinya. Dia begitu menginginkannya hingga Marco tidak dapat berfikir jernih seperti sekarang.
Tok Tok Tok
Siapa sih!!!
"Masuk.." Ucap Marco ketus.
"Para karyawan sudah menunggu Pak." Putri masuk dengan tertunduk. Dia takut menyulut kemarahan Marco yang akhir-akhir ini semakin tidak terkendali.
"Berikan ringkasan rapat saja. Aku sibuk!!" Jawabnya asal, tanpa memikirkan nasib para karyawan.
"Tapi Pak... Ini.."
"Keluar!!! Untuk apa aku menggajimu jika kau tidak bisa mengurus hal kecil seperti sekarang!!!"
"Ini rapat penting Pak." Jawab Putri mencoba mengingatkan.
"Kau tuli!! Keluar dan berikan aku hasil rapat nanti!!"
"Ba baik Pak. Permisi." Dengan tubuh bergetar, Putri keluar dari ruangan dan di sambut oleh beberapa karyawan yang sengaja menunggunya.
Dia menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Ingin sekali dia menangis mendengar cacian yang selalu di dapatkannya dari Marco hampir setiap hari.
"Kenapa?" Tanya Lisa merangkul pundak Putri.
"Buruk sekali. Dia selalu membentakku seperti itu."
"Dasar Bos gila!! Lalu bagaimana katanya?" Tanya Bu Eka ingin tahu.
"Dia ingin aku menulis hasil rapat nanti."
"Bagaimana bisa? Investor tidak akan mau menemui orang seperti kita."
"Nah kita bisa apa jika bosnya saja seperti itu." Sahut Lisa terkekeh.
"Tahu lah!! Pusing memikirkan Si kampret Marco!!" Umpat Bu Eka yang juga merasa geram.
Kelima karyawan berjalan masuk ke ruang rapat dan di sambut binggung oleh investor yang sudah menunggu sejak tadi.
"Langsung di mulai saja rapatnya Pak." Ucap Putri pelan.
"Di mana Pak Daniel?"
"Pak Daniel tidak ada di tempat."
"Lalu bagaimana bisa berjalan? Kami sudah jauh-jauh datang ke sini untuk membicarakan proyek yang di Bali." Putri melihat ke arah Lisa yang duduk tenang lalu mengalihkan pandangannya ke arah Bu Eka.
"Pak Marco juga sibuk Pak." Jawab Bu Eka, membaca kebingungan dari Putri.
"Pak Marco siapa?"
"Kaki tangan Pak Daniel." Jawab Putri pelan. Hampir saja Lisa terkekeh melihat wajah konyol teman-temannya yang tidak tahu menahu soal apa yang harus di lakukan.
"Aduh bagaimana ini. Kami merasa di permainkan jika begini. Daripada tidak ada hasil. Kami ingin melihat konsep juga berkas untuk pembangunan pengembangan perusahaan yang ada di Bali itu." Beberapa karyawan kembali saling melihat. Itu bukan bagian mereka sebab mereka hanya bawahan yang mengurus masalah ringan saja.
"Kami tidak tahu Pak."
Brakkk!!!
Salah satu investor mengebrak meja dengan keras. Bukan tanpa alasan dia melakukannya sebab mereka merasa di permainkan padahal sudah membuat janji bersama Marco yang mengaku sebagai Daniel.
"Kami tidak terima ya!! Ini penipuan namanya!! Kami batalkan proyeknya!!"
Para investor mengambil tasnya lalu berjalan keluar ruangan rapat, sementara para karyawan tidak bisa berbuat apapun dan hanya membuang nafas kasar seraya saling melihat.
"Bukankah sebaiknya kita mencari perkerjaan baru." Gumam Bu Eka.
"Entahlah.." Jawab Putri lemah.
"Hahaha.. Konyol sekali." Sahut Lisa melenggang keluar, di ikuti oleh Bu Eka, Putri dan yang lain.
*************
Daniel tidak bertanya perihal Bella masuk ke dalam mobil sendirian, sementara kedua temannya malah berjalan terpisah menuju ke arah halte.
Bella duduk, dan menyadarkan punggungnya setelah meletakkan tasnya di jok belakang.
"Bagaimana hari ini?" Tanya Daniel mulai menyetir.
"Seperti biasa Kak. Gerah sekali, tapi aku ingin ke pasar." Rengek Bella lirih.
"Pasar?" Bella mengangguk pelan." Ada yang ingin kamu beli." Imbuh Daniel bertanya.
"Nasi bungkus tapi kelihatannya mendung ya Kak." Bella menegakkan posisi duduknya, lalu mendongak sebentar untuk melihat warna langit yang gelap.
"Kita beli, lalu pulang."
"Langsung pulang saja Kak. Besok saja, kan hari Minggu." Tolak Bella takut kehujanan.
"Bukannya kamu ingin memakannya sekarang?"
"Iya. Tapi kalau kehujanan malah basah. Apalagi di pasar kan becek." Daniel tersenyum, melihat celotehan Bella yang mulai menghiasi hari-harinya.
"Kalau hujan, biar aku yang turun." Jawab Daniel cepat.
"Kan bisa besok Kak." Daniel tidak bergeming dan terus melajukan mobilnya menuju pasar meski gerimis sudah mulai turun." Tuh kan hujan. Kak Daniel sih tidak percaya. Balik saja Kak." Daniel masih tidak bergeming dan mulai memasuki area pasar yang terlihat ramai.
"Kamu tunggu di sini." Daniel melepaskan sabuk pengamannya.
"Besok saja." Cegah Bella memegang lengan Daniel dan secepat kilat Daniel mencium bibirnya sebentar, sehingga membuat Bella refleks melepaskan lengan Daniel.
"Hehehe.. Tunggu ya.. I Love you.. Aku hanya sebentar oke."
Daniel keluar mobil, meninggalkan Bella dengan perasaan bergetar. Bibirnya tersungging, melihat Daniel berdiri tidak jauh dari tempatnya, tengah memesan makanan di tengah gerimis ringan yang turun.
"Tenang.. Tenang.. Tenang..." Bella berusaha menenangkan perasaannya akibat pernyataan yang Daniel lontarkan sebelum pergi.
Cklek...
__ADS_1
Pintu mobil terbuka. Daniel meletakkan bungkusan di jok belakang. Bella melirik sebentar ke arah Daniel dengan rambut setengah basahnya akibat gerimis.
Jadi ingat semalaman.. Kenapa rasanya seperti itu yah? Ada yang keluar tapi setelah itu rasanya sangat lega.. Hehehe.. Apa itu yang di maksud...
"Aku samakan lauknya seperti kemarin sayang." Ucap Daniel membuyarkan lamunannya akan ingatan percintaannya semalam.
"Iya Kak. Terimakasih yah."
"Sama-sama sayang. Ke sini.." Daniel merangkul pundak Bella agar menempel padanya.
"Apa ini Kak?"
"Dingin, jika begini sedikit hangat." Jawab Daniel beralasan. Dia membaca raut wajah lelah Bella dan sengaja melakukannya agar Bella bisa beristirahat sejenak.
"Kalau di rumah juga pakai pendingin kan? Bilang saja hanya beralasan."
"Aku kangen sayang. Rasanya sangat lama menunggu kamu pulang." Jantung Bella semakin berpacu tidak terkendali, namun dia menikmati posisinya sekarang karena rasa lelah setelah bersekolah. Tangannya di selipkan pada lengan Daniel sehingga tangan keduanya saling menghangatkan.
"Besok kan libur." Ucap Bella memejamkan matanya.
"Iya. Kita bisa bersama seharian."
"Setiap Minggu kan begitu." Celotehnya tidak mau kalah.
"Minggu kali ini lain. Rasanya, kita satu langkah lebih dekat. Kamu sudah cemburu padaku, marah, kesal, minta aneh-aneh hehe... Aku senang sekali." Bella mendongak, menatap wajah Daniel yang terlihat begitu bahagia. Itu menandakan jika apa yang di ucapkannya memang sedang dia rasakan.
Aku memang sudah terbiasa bersamanya meski aku masih malu untuk mengawali semuanya...
"Nanti malam kita makan malam di luar." Bella kembali mengambil posisi nyaman.
"Kalau hujan?"
"Menunggu sampai redah. Bukankah besok kamu libur, jadi bisa bangun siang." Jawab Daniel tidak ingin menerima penolakan.
"Setiap hari aku bangun siang Kak."
"Berarti bisa lebih siang lagi. Jika perlu tidak bangun seharian."
"Itu namanya meledek!!"
"Serius sayang. Aku tidak pernah berniat itu. Kamu lupa jika umurku sudah tua, jadi bukan waktunya untuk bermain-main." Bella terdiam dan hanya mengangguk pelan. Keinginannya untuk kuliah semakin menjauh. Alasannya bukan hanya uang, tapi dia menyadari jika Daniel membutuhkan keturunan.
Benar kata Mama. Sehebat apa wanita, setinggi apa jabatannya, namun jabatan paling tinggi adalah menjadi seorang Mama..
"Memikirkan apa?" Tanya Daniel saat menyadari jika Bella terdiam sejak tadi.
Memikirkanmu...
"Sedikit mengantuk." Jawab Bella lirih.
"Sebentar lagi sampai. Kita makan siang lalu kamu tidur. jangan telat makan seperti kemarin. Aku takut kamu sakit."
"Hmm..."
.
.
.
Setibanya di rumah, keduanya pun turun. Hujan yang semakin deras membuat keduanya bersemangat memakan sajian sederhana nan pedas di hadapannya.
"Ahh mataku perih." Eluh Bella memejamkan matanya. Daniel meraih tisu dan mengusap mata Bella dengan tangan kirinya.
"Apa perutmu tidak apa-apa sayang jika makan sepedas ini?"
"Tidak Kak. Sekali-kali, udaranya juga dingin." Daniel yang lebih dulu selesai makan, segera mencuci tangannya lalu kembali duduk di tempat semula.
"Mau ku suapi?"
"Tidak Kak."
"Sebentar sayang.." Daniel beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil sesuatu yang sudah di siapkan sejak tadi." Pakai ini untuk nanti malam." Daniel meletakan sebuah bungkusan di pangkuan Bella.
"Apa ini? Baju?"
"Hm bukalah."
"Kotor." Bella memperlihatkan kedua tangannya yang kotor sehingga membuat Daniel kembali meraih tisu untuk membersihkannya." Gaun?" Mata Bella membulat melihat gaun sederhana yang ada di tangannya.
"Hm.. Aku tadi membeli itu untukmu."
"Hehe..." Bella tersenyum aneh. Memakai dress saja sudah aneh apalagi gaun.
"Kenapa?"
"Aku akan aneh memakai ini Kak."
"Itu akan cantik ketika kamu kenakan." Bella tidak bergeming dan membolak-balikkan gaun di tangannya. Itu bukanlah seleranya namun Daniel menginginkannya untuk memakainya.
"Memangnya mau kemana sih? Bukankah lebih baik memakai celana, agar bisa duduk bebas." Protes Bella pelan.
"Dinner. Kamu tahu? Aku sudah reservasi tempat." Bella menoleh cepat karena terkejut. Dia berfikir jika Daniel mengajaknya berjalan-jalan biasa, di taman atau di tempat tongkrongan.
"Pesan tempat?"
"Hm ya. Untuk kita." Senyum Daniel kembali membutakan mata hati Bella sehingga membuatnya berpaling seraya tersenyum aneh.
"Duhh Kak, jadi malu hehe. Aku juga tidak pernah ke tempat seperti itu."
"Aku juga tidak. Ayolah sayang, kita kencan pertama malam ini." Rajuk Daniel ingin memberikan sebuah kejutan kecil.
"Bagaimana jika di taman saja." Tawar Bella merasa gugup jika harus berkencan meskipun bersama suaminya. Dia belum siap untuk mempublikasikan hubungan mereka mengingat dirinya masih sekolah.
"Why?"
"Aku takut ada yang melihat."
"Bukankah jika di taman kemungkinannya lebih besar? Aku pastikan tidak ada yang melihat. Aku khusus memesan tempat itu untuk kita." Bella melirik malas dan kembali memikirkan soal biaya.
"Sayang uangnya Kak, bukankah mahal ya?"
"Sekarang yang terlalu banyak alasan siapa?" Bella tersenyum sejenak.
"Tapi benar mahal kan?"
"Itu untukmu, mana mungkin mahal."
"Hanya semalam saja dan berlalu begitu saja."
"Tidak akan berlalu sayang. Itu momen berharga, mana mungkin berlalu. Meskipun pernikahan kita sederhana, tapi aku tidak pernah melupakan itu. Jadi, jika itu tentangmu, tidak akan ada hal yang berlalu sia-sia dan lewat begitu saja."
Entah Bella harus bagaimana menyikapi sikap dan ucapan Daniel sekarang. Dia merasa sangat bahagia dan tidak sanggup di ibaratkan dengan kata-kata.
Memang ucapan itu terdengar biasa di lontarkan seorang lelaki pada kekasihnya. Tapi karena Daniel mengucapkannya dengan sepenuh hati, membuat hati kecil Bella kembali tersentuh hingga rasanya terjatuh lebih dalam lagi.
"Ya sudah oke." Jawab Bella dengan wajah memerah." Jangan terlalu manis ya. Kepalaku nanti pusing!" Bella beranjak untuk mencuci tangannya sementara Daniel mengekor seraya tersenyum.
"Apa yang manis?"
"Mulutmu Kak. Aku takut kau hanya membual saja."
"Astaga hehe tega sekali."
"Kata Kak Bastian begitu. Semua ucapan lelaki itu hanya bualan karena berusaha ingin mendapatkan sesuatu yang kau miliki. Jika sudah dapat! Dia akan meninggalkanmu." kecuali Pak Daniel!!! Ahh Kak Bastian. Jika kamu masih hidup, mungkinkah kamu merasa bahagia melihatku bersamanya..
"Jika maksudnya mendapatkan hatimu, itu memang benar sayang."
"Iya.." Bella sengaja tidak menyebutkan kata-kata terakhirnya. Dia masih tidak mengerti kenapa Bastian begitu peka hingga sanggup menilai seseorang sampai sedalam itu.
Penilaiannya bahkan lebih baik dari apa yang di bayangkan. Daniel sangat bertanggung jawab, setia, baik, bertutur kata lembut dan bonusnya, parasnya begitu menawan dengan mata sipitnya.
~Riane
🤤🤤🤤🤤
Terimakasih dukungannya 🥰🥰🥰
__ADS_1