
"Sayang.." Fanny menerobos masuk dan langsung duduk di pangkuan Marko dengan kedua paha terbuka.
Sudah beberapa hari ini, Marko merasa tidak bersemangat untuk bercinta karena banyaknya perkerjaan. Dia menghadle semuanya sendiri karena tidak ingin bernasib sama seperti Daniel.
Marko seolah berkaca pada kebusukannya sendiri sehingga dia selalu waspada dan tidak mempercayai satu orang pun tidak terkecuali, Fanny.
"Aku sedang sibuk." Tolak Marko fokus menatap layar laptop bahkan tidak merespon perlakuan Fanny.
"Sudah lama kita tidak melakukan itu sayang." Fanny membuka kancing kemeja Marko lalu mengusap dadanya. Dia ingin Marko terangsang dengan sentuhannya.
"Perkerjaanku banyak. Aku lelah." Marko mendorong tubuh Fanny lembut sehingga membuat Fanny merasa kesal.
Kenapa dia sekarang sangat mirip dengan sikap Daniel padaku!!
"Kau terlalu cuek akhir-akhir ini." Eluh Fanny mengutarakan kekesalannya.
"Itu karena aku banyak perkerjaan. Kenapa kamu tidak mengerti juga."
"Ya aku tahu. Tapi aku juga butuh kamu."
"Aku sibuk! Sebaiknya kau pergi berbelanja saja." Fanny mengambil tas kecilnya seraya mendengus. Dia menatap tajam Marko sebelum akhirnya berjalan keluar dan tidak sengaja bertabrakan dengan Jim.
"Maaf Nona." Ucap Jim menunduk.
"Kamu siapa sih? Karyawan baru? Aku tidak pernah melihatmu." Fanny memperhatikan Jim dari atas sampai bawah. Tampan sekali ..
"Saya Jim, kaki tangan Tuan Marko."
"Oh..." Fanny tersenyum tipis menatap Jim penuh gairah. Hal yang sama akan ku lakukan, jika kau bersikap seperti Daniel yang tidak normal itu. " Bisa kamu antar aku pulang Jim?" Rayu Fanny sudah tidak bisa menahan hasrat yang sejak kemarin tidak dapat di penuhi oleh Marko.
"Saya ada tugas memantau seseorang Nona."
"Kau tahu aku siapa?"
"Tidak Nona."
"Aku Stefanny. Calon istri Tuanmu. Apa kamu ingin aku mengadukan perbuatanmu karena kau tidak menuruti keinginanku?"
"Tapi Nona."
"Ikut aku." Fanny menarik lengan Jim agar mengikuti langkahnya menuju mobil.
Jim berfikir mungkin Fanny ingin menyuruhnya mengantarkannya pulang. Namun, mata Jim terbelalak ketika Fanny langsung membuka kancing dress-nya saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Sentuh aku Jim.." Fanny meraba-raba tubuhnya sendiri seraya mengeluarkan suara yang mampu merontokkan pertahanan Jim.
"Tidak Nona, saya.." Jim meraih gagang pintu mobil namun dengan cepat Fanny meraih tangannya dan menyuruhnya untuk meremas kedua gundukan miliknya.
"Sentuh aku cepat. Aku sudah tidak tahan." Tangannya beralih menarik kepala Jim lembut lalu menempelkannya pada lehernya." Iya sayang begitu.." Jim yang sudah pasti tergoda. Langsung menciumi leher Fanny dengan nafas memburu.
"Apa Nona kesepian? Saya takut kehilangan perkerjaan saya."
"Marko tidak pernah menyentuhku. Perkerjaanmu akan ku jamin aman. Tapi, puaskan aku.." Mobil mulai bergoyang. Seiring dengan kegiatan panas yang terjadi di dalam.
**********
__ADS_1
"Kami memberikan kompensasi satu Minggu Bella, jadi tidak perlu khawatir untuk masalah absen." Ujar kepala sekolah menjelaskan.
"Besok saya mulai sekolah Pak. Takut ketinggalan pelajaran."
"Ini saja kami mau melayat ke sana." Bella tersenyum aneh seraya melihat sebentar ke arah Daniel.
"Tidak perlu Pak hehe. Rumah saya sudah hangus terbakar." Jawab Bella pelan. Kepala sekolah mengangguk-angguk dan merasa iba pada Bella yang sudah banyak mengharumkan nama sekolah. Banyak penghargaan sudah Bella dapatkan. Prestasi luar biasa itu, membuatnya terkenal baik di kalangan guru, terutama kepala sekolah.
"Saya turut berduka Bella."
"Terimakasih Pak." Bu Erna datang dengan membawa seragam lengkap.
"Ini seragamnya Bella. Masalah buku, besok saja kalau masuk sekolah agar bawanya tidak terlalu berat." Bella akan menerima seragam tersebut namun tangan Daniel mengambilnya.
"Biar ku bawa." Tatapan Daniel beralih pada Bu Erna." Jadi berapa semuanya Bu?" Tanya Daniel lembut.
Sayangnya aku sudah tua.. Kenapa ada orang setampan ini dengan suara selembut itu..
"Bu Erna..." Suara si kepala sekolah membuat Bu Erna tersadar dari lamunannya.
"Astaga Maaf Pak. Em,, totalnya satu juta tujuh ratus saja Pak. Itu sudah saya potong 50 persen sesuai dengan perintah kepala sekolah." Daniel mengambil dompetnya lalu memberikan 17 lembar uang seratusan.
.
.
Setelah semua selesai, Daniel dan Bella keluar dari ruangan kepala sekolah. Masker kembali Daniel kenakan, dia masih tetap waspada pada Marko yang mungkin saja berada di sekitarnya.
Para siswi yang kebetulan sedang beristirahat, tentu tertarik dengan keberadaan Daniel yang memiliki postur tubuh sempurna meski wajahnya tertutup masker.
"Teman tidak berguna!!" Umpat Bella membuat Sari dan Erin terkekeh.
"Kak Daniel bilang jika kamu belum bangun."
"Iya tapi, kalian setiap hari meninggalkan aku seperti itu."
"Kak Daniel takut masuk kamarmu jadi ya sudah kita berangkat langsung." Bella terdiam seraya melirik ke arah Daniel.
Jika ku bahas ini, rasanya membahayakan...
"Ya sudah aku pulang."
"Eh kok pulang." Protes Erin menahan langkah Bella dengan tangannya.
"Lalu bagaimana. Besok aku baru sekolah."
"Ke kantin yuk, kita makan bersama hehe.."
"Kak." Bella menoleh ke arah Daniel, lalu menyentuh baju pada lengannya dan menariknya pelan.
"Baiklah, tidak masalah." Jawab Daniel dengan suara lembut.
"Sebentar." Bella menggiring Daniel pergi menjauh untuk bicara." Jangan sampai kelepasan." Tutur Bella pelan.
"Apa yang terlepas." Mata Daniel menyipit sehingga Bella bisa menebak jika Daniel tengah tersenyum.
__ADS_1
"Memanggilku sayang.."
"Iya aku tahu." Tangan Daniel terangkat lalu akan mengusap puncak kepala Bella, namun dengan cepat Bella menurunkan tangannya.
"Tuh kan." Protes Bella membuat Daniel menarik nafas panjang karena perasaannya sulit di kendalikan. Seolah sudah menjadi kebiasaan, Daniel melakukan itu tanpa sengaja.
"Maaf. Aku tidak sengaja melakukannya, tangan ini bergerak sendiri sayang."
"Ya sudah pulang saja."
"Aku akan menahannya setelah ini." Bella melirik malas lalu melihat ke arah kedua temannya yang sudah menunggu.
"Janji."
"Iya janji." Jawab Daniel lembut.
"Lebih baik Kak Daniel diam saja nanti." Celotehan Bella tidak membuat Daniel kesal. Namun sebaliknya, dia semakin gemas dan ingin sekali kembali menyentuh bibir merah itu dengan bibirnya.
"Siap sayang."
"Hm awas ya." Bella berjalan ke arah Sari dan Erin di ikuti oleh Daniel.
Rasanya memang aneh.. Kenapa aku suka saat dia berkata cerewet seperti itu.. Apa memang sejak dulu seleraku gadis belia seperti Bella? Mungkin itu alasan kenapa selama ini aku tidak pernah tertarik pada wanita, sebab aku menginginkan seorang gadis..
Meja tempat Bella duduk jadi sorotan, meskipun Daniel belum melepaskan masker yang menutupi wajahnya.
Empat mangkuk mie ayam lengkap dengan teh manisnya tersaji di meja. Padahal Bella mengatakan tidak ingin makan dan berniat sekedar mengobrol.
"Kita traktir Kak." Ucap Erin menawarkan.
Bella menatap Daniel, sebab dia tahu Daniel pasti merasa sedikit keberatan untuk membuka maskernya.
"Kak Daniel tidak suka mie ayam." Tutur Bella mencoba berbohong agar Daniel tidak harus membuka maskernya.
"Aku suka." Sahut Daniel menurunkan maskernya dan sontak hal itu membuat seisi kantin riuh.
Mengingat sangat banyak siswi daripada siswa yang kebetulan berada di sana. Bella menarik nafas panjang sebab rasanya dia sedikit kesal mendengar pujian yang berbisik mengagumi Daniel, suaminya.
"Astaga Kak Daniel akan jadi populer di sini." Daniel tersenyum dan menunjukkan mata sipitnya dengan gigi ratanya.
"Kak Daniel sudah tua, mana mungkin bisa populer di lingkungan sekolah." Jawab Bella ketus.
"Dia masih pantas menjadi anak SMA.."
"Tidak. Mana mungkin." Ucapan itu, mengelitik hati Daniel sehingga dia menoleh. Terlihat raut wajah Bella berubah kesal seolah dia tidak menyukai banyak orang memuji kesempurnaan paras Daniel.
"Jawabanmu kenapa begitu sih Bell." Tatap Sari penuh curiga.
"Begitu bagaimana?" Bella terlihat fokus pada mie ayamnya sementara Daniel sejak tadi melihat ke arahnya tanpa menyentuh mie ayam di hadapannya.
Pemandangan yang terjadi, membuat Erin dan Sari kembali di selimuti rasa ingin tahu. Wajah Bella yang terlihat acuh, sementara Daniel menatapnya dengan begitu hangat.
Ada apa dengan mereka?
~Riane
__ADS_1