Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 79 Apa ini termasuk mengidam?


__ADS_3


Happy reading 🥰


Sejak tahu kehamilannya, tingkah laku Bella semakin terlihat aneh. Bella yang biasanya bersikap tegas dalam bertindak. Kini berubah menjadi gadis yang lemah bahkan sangat mudah menangis.


"Serius.. Aku kangen kalian. Kalian kemana saja sih. Hiks hiks hiks.." Erin dan Sari saling melihat. Mereka ingat jika baru saja mampir dua hari yang lalu tapi kenapa Bella malah menangis di hadapannya seperti sekarang.


"Iya maaf Bell. Kita sibuk persiapan kuliah soalnya masih ospek jadi banyak barang yang perlu di siapkan."


"Paling tidak mampir sebentar saja. Aku kesepian di rumah dan Kak Daniel berubah jahat karena tidak memperbolehkan aku keluar." Protes Bella terdengar lembut.


"Itu karena janinnya masih kecil jadi tidak boleh banyak keluar." Jawab Sari yang mengerti keterangan itu dari Daniel. Dia sengaja memanggil kedua sahabatnya untuk menemani sebab takut jika Bella merasa kesepian padahal ada Bik Minah di rumah.


Mengidam yang di rasakan Bella bukan soal makanan tapi perubahan pada sikapnya sekarang. Itu membuat Daniel harus ekstra sabar menanggapi kekesalan Bella yang tidak beraturan dan berarah.


"Itu hanya alasannya saja Sar. Buktinya sampai sekarang Kak Daniel tidak datang. Pasti dia mengobrol dengan staf wanitanya atau relasi wanitanya."


Bukannya Kak Daniel berpamitan satu jam? Ini bahkan masih lima belas menit berlalu.. Kenapa Bella seperti ini..


"Tadi pamitnya satu jam Bella, ini masih lima belas menit jadi belum waktunya pulang apalagi terlambat." Jawab Sari pelan.


"Aku mengantuk hoaaammm..." Bella menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"Ya sudah tidur. Kita tidak akan pulang sebelum Kak Daniel datang." Jawab Erin dengan tatapan aneh ke arah Bella.


"Aku tidak mau tidur jika Kak Daniel belum pulang."


"Hm kita nonton film saja dulu."


"Aku mengantuk Sar bukan mau menonton film."


"Maksudku sambil menunggu Kak Daniel pulang."


"Aku tidak mau menunggu." Bella meraih ponselnya yang tergeletak di meja dan berniat menghubungi Daniel.


Sementara Daniel sendiri, masih menemui para investor asing. Pertemuan bahkan baru di mulai karena keterlambatan yang tidak terduga.


Drrrrrtttt.... Drrrrrtttt... Drrrrrtttt...


"Excuse me for a moment." Ucap Daniel meraih ponselnya dan mulai merasakan hawa tidak enak ketika tertera nama beloved wife di ponselnya. Nama itu Bella tulis sendiri dengan emot lucu yang berada di kedua sisi tulisan.


"Halo sayang. Apa yang terjadi?


"Aku mengantuk Kak.


"Ya sudah tidur saja.


"Tidak mau. Pulang Kak cepat. Ini sudah waktunya.


Lucas tersenyum tipis, sudah dua Minggu ini Daniel tidak bisa fokus dalam berkerja karena panggilan dari Bella yang menginginkan masalah sepeleh. Untung saja para relasinya mengerti keadaan itu. Sehingga kedatangan Daniel yang hanya sebentar dia anggap sudah lebih dari cukup.


"Waktunya apa? Ini baru di mulai sayang pertemuannya. Em kamu tidur dulu, setelah selesai aku akan pulang. Bukankah di sana sudah ada Erin dan Sari.


"Waktunya tidur. Waktunya apalagi. Pokoknya pulang ya pulang. Jika tidak pulang berarti Kak Daniel tidak mencintaiku. Hiks.. Sekarang kak Daniel berubah jahat seperti sinetron di televisi.


Tut..Tut..Tut...


Daniel tersenyum aneh dan menggenggam ponselnya erat seraya menatap ke dua investor yang ada di hadapannya.


"What happened Mr. Daniel?" Tanyanya menyadari raut wajah tidak baik Daniel.


"Sorry. My wife is pregnant. He wants me home." Lucas tersenyum karena tahu jika kejadiannya akan seperti sekarang.


"Oh so sweet. Go Mr.. We are quite happy to meet as we are now. Fulfill the call."

__ADS_1


"I apologize for this. You can talk to my assistant for project problems."


"Okay. We understand." Daniel menjabat kedua investor tersebut lalu beralih menatap Lucas.


"Bawa berkasnya ke rumah untuk ku tanda tangani." Pintanya bersiap pergi.


"Siap Tuan." Daniel mengangguk seraya tersenyum kemudian melangkah pergi meninggalkannya ruang pertemuan.


.


.


Setibanya di rumah. Daniel datang senyuman hangat dan langsung duduk di samping Bella.


"Kak Daniel sudah terlambat sekali." Protes Bella.


"Iya maaf aku terlambat, tadi macet." Erin dan Sari kembali saling melihat. Padahal jarak antara telepon dan kedatangan Daniel hanya 10 menit.


Apa yang terlambat? Batin Erin bertanya-tanya.


Daniel sengaja berkata demikian daripada harus melontarkan alasan yang tidak dapat di terima oleh Bella. Seringnya Bella bersikap seperti sekarang, membuat Daniel bisa menguasai situasinya.


"Kita pulang Bella. Em harus membeli untuk bahan ospek besok."


"Iya Bell. Kita akan sering mampir."


"Hm hati-hati ya. Terimakasih." Baru saja Erin dan Sari beranjak, Bella sudah duduk di pangkuan Daniel." Kak aku ingin ikut ke perusahaan." Ucap Bella lirih.


"Jika simetris awal sudah terlewati, kamu bisa datang ke sana sayang."


"Apa staf wanita masih memakai celana?"


"Iya masih."


"Apa Kak Lisa sudah kembali?"


"Aku kangen Kak. Kamu pergi lama sekali." Beberapa kecupan Bella berikan pada pipi kanan Daniel yang tengah tersenyum.


Ini bahkan belum satu jam tapi dia sudah seperti ini. Si kecil di perutnya sungguh membuatnya berubah...


"Hm bukankah tadi aku bilang jika jalannya macet." Daniel membalas ciuman Bella pada kecupan singkat di bibir.


"Lain kali aku tidak mau kalau Kak Daniel pulang terlambat. Bukannya Kak Daniel tahu aku butuh perhatian." Ucapan ini juga sering Daniel dengar hampir setiap hari.


"Maaf sayang. Lain kali, aku akan lebih perhatian lagi."


"Iya Kak, aku maafkan." Daniel terkekeh dalam hati merasakan sikap aneh Bella.


Jika boleh jujur, Daniel malah menyukai sikap Bella yang seperti sekarang. Lebih manja, lebih tergantung dan paling dominan. Suara Bella berubah menjadi sangat lembut hingga membuat Daniel merasa gemas.


"Terimakasih ya di maafkan. Sekarang kamu tidur, katanya mengantuk."


"Hmm.." Dalam hitungan detik. Bella terlelap dengan dengkuran halus keluar dari rongga hidungnya.


"Astaga.." Daniel tersenyum, tidak habis fikir tapi menikmati setiap apa saja yang Bella lakukan setiap hari." Kalau sudah begini, dia tidak akan bangun jika belum lima jam." Daniel berdiri seraya mengangkat tubuh Bella untuk di pindahkan ke kamar.


Bagaimana mungkin dia tidur dengan posisi ini setiap hari..


Perlahan, Daniel membaringkan tubuh Bella di atas tempat tidur lalu duduk di pinggirannya seraya membetulkan selimut. Dia mengecup bibir Bella sejenak kemudian duduk tegak.


Terkadang ada rasa iba terbesit, sebab Bella terlihat begitu kecil untuk menjadi seorang Ibu. Itu alasan kenapa Daniel tidak pernah mengeluh akan sikap Bella sekarang. Perhatiannya di tujukan untuk rasa terimakasih yang luar biasa besar. Karena telah mau mengandung anak darinya.


.


.

__ADS_1


.


.


Tepat pukul tujuh malam. Bella terduduk seraya mengedarkan pandangannya. Bibirnya tersungging ketika melihat Daniel duduk di sofa dengan fokus menghadap laptop.


"Sudah bangun." Daniel menutup laptopnya dan berjalan menghampiri Bella. Dia duduk di samping Bella yang masih terlihat lemas.


"Jam berapa Kak." Bella bersandar lemah, melingkarkan tangannya seraya memainkan jemari Daniel.


"Tujuh malam. Tidak perlu mandi, biar ku basuh saja." Bella mengeratkan pegangannya dan tidak membiarkan Daniel pergi." Aku mau mengambil baskom sebentar." Imbuh Daniel takut jika nantinya Bella gatal-gatal.


"Terus kalau Kak Daniel pergi, aku bersama siapa?"


"Hanya sebentar." Jawab Daniel tersenyum. Dia merasa beruntung saat Bella tidur begitu lama. Waktu tidur Bella, Daniel buat untuk memeriksa berkas yang di kirim lewat email nya. Sebab jika Bella sudah membuka mata seperti sekarang, tangannya akan sulit bergerak.


"Kak Daniel keberatan aku tidak mandi?"


"Aku takut kamu gatal-gatal sayang bukan keberatan."


"Aku tidak mau di basuh. Aku mau bicara serius Kak. Aku takut sekali."


"Bicara apa?"


"Aku tidak berselera melakukan itu. Em maksudku melayani Kak Daniel." Ucap Bella lirih. Dia sedikit memikirkan hasrat Daniel yang sudah hampir satu bulan tidak di berikan.


Mereka hanya sering berciuman, tidak lebih. Daniel sendiri tidak ingin meminta itu karena takut melukai janin yang ada di dalam. Sementara Bella, sejak tahu hamil. Dia kehilangan hasratnya akibat tubuhnya yang sering lemas dan mengantuk.


"Kamu sudah melayani aku dengan baik." Bella mengerutkan keningnya tanpa menegakkan tumpuan kepalanya.


"Melayani apa Kak. Bukannya perkerjaanku hanya tidur saja." Bella menyadari perubahan pada dirinya tapi dia tidak sanggup melawan seolah benda kecil itu memegang kendali atas dirinya.


"Sudahlah. Aku tidak masalah dengan itu yang penting kamu sehat juga janin yang ada di dalam."


"Tapi Kak. Aku takut kamu selingkuh nanti."


Dia terlalu sering melihat sinetron itu..


"Aku bahkan lebih sering bersamamu. Apalagi kamu sedang mengandung anakku. Tidak ada waktu untuk memikirkan itu sayang. Sepanjang waktu aku hanya memikirkanmu. Mendoakan mu agar kamu dan dia sehat." Menyentuh perut Bella yang masih terlihat rata.


"Ini mirip kejadian di sinetron Kak. Si wanita hamil dan tidak bisa melayani suaminya lalu suaminya selingkuh dan si wanita di tinggal." Daniel terkekeh mendengarnya. Dia juga sering melihat sinetron itu karena seringnya menghabiskan waktu bersama Bella.


"Itu sinetron sayang. Astaga.. Aku juga tidak mau kena karma karena menelantarkan istriku."


"Itu kisah nyata Kak."


"Iya kisah nyata dan ini kisah kita. Berbeda bukan?" Bella tersenyum mendengar jawaban Daniel.


"Iya Kak. Em, aku tidak pernah melihat Abel."


"Mereka ke Paris sementara waktu. Melanjutkan sekolah Abel dan setelah sekolahnya selesai, mereka pindah ke sini." Raut wajah Bella berubah kecewa.


"Kenapa tidak berpamitan?"


"Mereka terburu-buru sayang. Sebab menunggu Abel tidur."


"Terus? Kak Nara tidak melahirkan di sini?"


"Bukankah dulu kamu cemburu padanya sayang?"


"Itu kan dulu Kak. Jawab aku."


"Em mungkin iya, tapi mereka berjanji akan ke sini jika waktunya kamu melahirkan." Bella mengangguk dengan mata mulai berkaca-kaca. Daniel yang sudah hafal segala sesuatu tentang Bella, lebih memilih diam dan membiarkan Bella yang mungkin ingin menangis.


Apa ini termasuk mengidam??

__ADS_1


~Bersambung...


__ADS_2