Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 66


__ADS_3

Warning 🚫 25+


Untuk yang bocil minggir dulu daripada membuat hati keruh jadi di skip saja🤣


"Berarti dia menipu ku!!" Umpat Marco dari dalam mobil. Dia memutuskan untuk mengintai sendiri setelah gagal menghubungi Jim. Namun, kedatangan Lisa dan Bu Eka membuatnya menahan diri dan memilih mengintai di dalam mobil dengan pintu mobil terbuka separuh.


Padahal obrolan tidak terdengar, tapi sayu-sayu Marco mendengar ucapan Bu Eka dan Lisa yang menyebut nama Daniel. Marco menyimpulkan bahwa, Daniel tidak amnesia dan menipunya selama ini.


"Haha, kau pasti sangat ketakutan hingga harus berbohong seperti itu Daniel!!" Umpat Marco." Kenapa kau tidak merebut lagi hartamu!! Apa kau selemah itu!! Lihat saja!!! Kali ini aku benar-benar akan menyingkirkanmu!!" Marco melajukan mobilnya cepat, meninggalkan bahu jalan rumah Daniel.


Sementara di dalam rumah, Daniel kembali berusaha merajuk Bella agar tidak marah lagi karena kedatangan Lisa tadi. Bella memasang wajah masam, sementara Daniel duduk di sampingnya dengan manik yang tidak berkedip. Menatap ke istri kecilnya menombol remote televisi tidak beraturan sebelum akhirnya meletakkan pada meja.


Praaaak!!!


"Kenapa begitu sih Kak?!!" Protes Bella merasa tidak nyaman dengan tatapan Daniel.


"Mulai hari ini aku hanya akan melihatmu."


"Tapi malah aneh!" Jawab Bella salah tingkah.


"Mau bagaimana lagi sayang. Kamu tidak percaya pada perkataan ku. Aku tidak berselera dengan wanita manapun, aku hanya mencintaimu." Jawab Daniel kembali menjelaskan. Bella terdiam, dia masih kesal, apalagi melihat keseksian Lisa dengan make up tebalnya. Meskipun Daniel berulang kali mengatakan jika dia tidak tertarik. Namun itu tidak membuat Bella percaya." Apa kamu akan percaya jika kamu sudah mengandung anakku." Bella menoleh cepat. Membalas tatapan Daniel dengan tegang. Mengingat opini yang di bacanya tadi, membuatnya merasa tidak siap jika selaput darahnya robek.


Ahhh pasti sakit, apalagi... Bella menatap ke milik Daniel sehingga membuat pemiliknya ikut menatapnya.


Daniel terkekeh, dia bisa menebak bagaimana fikiran Bella sekarang yang mungkin sudah mendapatkan info soal malam pertama.


"Sudah tahu jawabannya?" Tanya Daniel masih tertawa lepas. Bella menegakkan pandangannya, menatap Daniel dengan mata bulatnya.


"Itu Kak, emm memangnya sesakit apa sih? Apa seperti teriris pisau." Kedua tangan Daniel terulur kemudian mencubit lembut pipi Bella.


"Kamu mengemaskan sekali, bagaimana mungkin kamu berfikir aku tertarik pada wanita lain."


"Ihhh! Jawab pertanyaanku tadi Kak."


"Menurut kamu, apa aku tahu sayang? Aku juga tidak mengerti bagaimana rasanya. Ini juga pertama bagiku, emm menurut buku yang pernah ku baca. Sakit sedikit tapi setelah itu.. Hehehe.. Aku juga sebenarnya gugup memikirkan itu." Jawab Daniel memang tidak tahu menahu tentang masalah itu. Dia pernah membaca novel, itupun milik temannya yang tidak sengaja terbaca saat masih duduk di bangku kuliah.


"Aku takut Kak." Ucap Bella lirih. Dia tidak memahami bagaimana sakitnya jika sesuatu yang sempit dan kecil, harus di masukkan sebuah benda yang sudah terbayangkan akan sebesar apa.


Bella bahkan sempat menerka-nerka berapa besar milik Daniel dengan jemari kecilnya, itu cukup membuatnya sesak bernafas mengingat miliknya yang hanya mampu mengeluarkan cairan.


"Nanti kamu tidak akan takut jika sudah melakukannya. Aku berharap kamu tidak lagi menunda itu sayang. Aku benar-benar sangat ingin dan tidak sabar menunggu kamu bersih."


"Memangnya sebesar apa sih Kak." Daniel kembali terkekeh lalu menelungkup wajah Bella dengan kedua tangannya dan menciumi sekitar wajahnya.


"Sayang.."


"Hmm.."


"Serius kamu mau berkenalan dengannya?"


"Dengan siapa?" Tanya Bella polos.


"Yang kamu bicarakan tadi." Daniel menarik nafas panjang. Merasakan miliknya mulai berkedut hanya dengan membayangkannya saja. Bella kembali menunjukkan wajah tegangnya pada Daniel." Dia bangun hanya dengan membayangkannya saja." Imbuh Daniel yang miliknya mulai mengeras.


"Bangun?"


"Hm.." Daniel menunjuk miliknya dengan isyarat mata sehingga Bella kini menatap sesuatu yang terlihat mencuat keluar.


Gleg!!!


Bella menelan salivanya kasar, dia baru menyadari itu hari ini.


Kemana saja kemarin? Hingga aku baru menyadari jika Kak Daniel memiliki senjata itu... Ah bodohnya aku. Apa benda itu selalu seperti itu ketika kita sedang berciuman?


Greppp!!!


Daniel meraih jemari Bella lalu meremasnya lembut.


"Mau menyentuhnya? Sebagai perkenalan." Cepat-cepat Bella menarik tangannya namun Daniel tidak membiarkannya dan malah mencium punggung tangannya lembut.


"Aku takut Kak." Jawab Bella lirih tidak terdengar.


"Aku pastikan dia tidak akan meloncat ketika kamu sentuh sayang." Rajuk Daniel sudah setengah mati menahan hasrat sementara Bella masih tidak bergeming memikirkan ketakutannya.


Tanpa aba-aba, Daniel melahap bibir mungil di hadapannya. Lidahnya langsung bermain bebas di dalamnya karena posisi bibir Bella yang terbuka.


Bella menikmatinya, membuat Daniel memajukan sedikit tubuhnya untuk memperdalam ciumannya.


Remasan tangan kian menguat, sehingga Daniel mengunakan kesempatan itu untuk memperkenalkan miliknya yang sudah menegang.


Bella menggelengkan kepalanya pelan, saat tangannya menyentuh milik Daniel meskipun hanya menempelkannya di balik celana yang di pakai.


"Ini yang akan masuk?!! Keras sekali!! Pasti sakit Kak." Protes Bella menegang.


"Kamu mencintaiku sayang?" Tanya Daniel dengan suara parau. Tatapan matanya terlihat sayu seolah tengah memohon Bella untuk lebih berani dalam bertindak.


"Iya Kak tapi.."


"Ini melelahkan sayang, pegang lah agar lelah ini tidak berlanjut." Pinta Daniel dengan nafas memburu. Kepalanya di sandarkan pada pundak Bella seraya menempelkan bibirnya pada lehernya dan meninggalkan sedikit jejak di sana.


Bella menggila, merengkuh erat kepala Daniel untuk tetap melanjutkan kegiatannya. Tanpa di tuntun lagi, tangan kirinya meremas milik Daniel hingga membuat Daniel tersungging di selah pemanasan nya.


"Ah good Baby." Bella semakin bersemangat, mendengar suara lenguhan Daniel begitu merdu membelai telinga.


Bella meremasnya semakin kuat, seiring dengan gigitan lembut yang Daniel berikan pada lehernya.


Daniel gelap mata, hingga cumbuannya mulai turun lagi dan lagi. Dia melepaskan jemari Bella yang masih memegang miliknya, lalu menarik kasar kancing dress Bella dan memperlihatkan dua gundukan cukup menggiurkan untuk gadis kecil seumuran Bella.


"Kak.." Bella menutupi dadanya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih memegang milik Daniel meski pegangannya melonggar.


"Tolong sayang, biarkan aku melihatnya." Pinta Daniel lembut.


"Bukankah kamu pernah melihatnya."


"Hm, biarkan aku menyentuhnya." Rajuk Daniel seraya mengatur nafasnya yang memburu. Bella tidak bergeming dan hanya membalas Daniel dengan menatapnya dengan wajah bulatnya.


"Aku tidak bisa, ini masih kotor." Jawab Bella beralasan.


"Ini hanya perkenalan, kamu tidak merasakan sensasi luar biasa ini sayang?"


"Iya tapi..."


Tak!!!


Daniel menarik kasar bra Bella hingga terlepas dan membuangnya kasar. Hasrat yang sudah berada di ubun-ubun membuatnya ingin menuntaskan semuanya meski miliknya memang tidak boleh masuk.


Bella terpekik lalu tergantikan dengan lenguhan panjang ketika bibir Daniel mulai bermain di kedua benda kenyal miliknya.


Nikmat sekali Tuhan... Maafkan aku Bastian...


Bella mendongak dengan nafas tersengal, bibirnya setengah terbuka menikmati sensasi luar biasa yang baru pertama di rasakan. Darahnya berdesir hingga membuat tubuhnya mengelinjang tidak beraturan.


"Tolong bantu aku." Daniel kembali menuntun tangan Bella untuk meremas miliknya lagi. Dia kembali mencumbu kedua benda kenyal milik Bella secara bergantian.


Tangan kanan Bella menekan-nekan kepala Daniel sementara tangan kirinya mencengkram erat milik Daniel dan mulai mengerakkan naik turun.


"Good Baby.." Lenguh Daniel untuk kesekian kalinya merasakan tangan Bella yang mulai aktif bergerak. Bella tertunduk mengendus telinga Daniel dan sesekali menggigitnya.


Daniel semakin bersemangat mencumbu, merasakan miliknya yang mulai berkedut dan membesar. Bersamaan dengan itu, gigitan Bella semakin sering terjadi, seiring dengan rintihan dan deru nafas membelai telinganya.


"Ahh Baby.." Lenguh Daniel menenggelamkan kepalanya pada benda kenyal yang berada di hadapannya sementara Bella mengejang karena pelepasan juga telah di dapatkan.


Perlahan Daniel menyingkirkan tangan Bella dari miliknya yang sudah kembali normal dengan suara tertawa kecil karena kesadarannya kembali.

__ADS_1


Ada rasa malu, berdebar tapi yang paling menonjol adalah, rasa terimakasih untuk gadis kecil yang kini terlihat sangat berantakan.


"Terimakasih sayang.." Daniel duduk tegak mencoba menyembunyikan rasa risih yang terjadi di bawah sana. Dia kembali memasukkan tangan Bella pada dress yang sudah terobrak-abrik separuh.


"Bra ku sampai putus." Protes Bella dengan wajah merah padam.


"Untung bra saja, bukan sofa yang mungkin kakinya akan patah." Ucap Daniel dengan wajah berkeringat.


"Memangnya bisa Kak." Bella menyeka keringat yang ada di sekitar wajah Daniel yang masih mengatur nafasnya. Dia semakin terlihat tampan ketika sedang berkeringat seperti sekarang.


"Sebaiknya kamu membersihkan diri dulu sayang." Pinta Daniel bersandar lemah setelah selesai memakaikan dress Bella sembarangan.


"Apa yang terjadi dengan dia." Dengan sigap Daniel menahan jemari Bella yang akan menyentuh miliknya yang sudah basah dan lengket.


"Ahh jangan sentuh dulu, ini sangat kotor. Kamu tahu." Daniel mencium ujung bibir Bella dan menggigitnya sebentar.


"Apa sama seperti milikku?" Daniel tersenyum seraya mengangguk.


"Bersihkan dulu milikmu lalu aku."


"Iya Kak, bajuku juga jadi rusak."


"Nanti kita beli lagi."


"Hmm.." Bella tersenyum kemudian berjalan ke belakang. Sementara Daniel menarik nafas panjang dengan bibir tersungging.


"Aku sudah membayangkan jika akan sangat menyenangkan mengajari gadis polos seperti istriku. Ahh Tuhan, aku tidak sabar menunggunya bersih." Daniel begitu tergiur dengan tubuh Bella yang menurutnya begitu menggairahkan. Dia melupakan rencana awal, yang menginginkan Bella meraih cita-citanya. Apalagi merasakan sensasi bermain di leher dan dada milik Bella membuat kewarasan Daniel terkikis perlahan.


.


.


Bella mengusap-usap lehernya yang merah akibat gigitan Daniel. Sedikit terasa sakit, namun bukan itu masalahnya. Dia binggung bagaimana caranya menyembunyikan noda merah tersebut.


"Bagaimana ya Kak, meskipun rambutku di urai tetap terlihat Kak." Ucap Bella seraya melirik ke Daniel yang baru selesai mandi.


"Maaf sayang. Aku lepas kendali." Setelah memakai baju, Daniel duduk di samping Bella dan menunjuk warna merah pada lehernya.


"Jangan di tekan. Sakit."


"Maaf. Bagaimana jika memakai penutup leher saja?"


"Seperti orang sakit Kak."


"Daripada kelihatan."


"Biar saja, terlihat samar kalau aku tutup pakai rambut."


"Lelah tidak?" Tanya Daniel memainkan anak rambut Bella.


"Makan di luar?"


"Hm.." Daniel mengangguk.


"Pakai masker ya."


"Aku tidak mau bersembunyi lagi sayang."


"Pokoknya pakai masker! Aku tidak mau Kak Daniel mengundang para wanita gatal!" Bella beranjak lalu mengambil masker baru dan memakainya ke Daniel.


"Posesif sekali hehe."


"Tidak suka."


"Sangat suka." Daniel berdiri lalu merangkul pundak Bella." Bagaimana perkenalannya tadi?" Tanya Daniel seraya mengiring Bella keluar kamar setelah mengambil dompet dan kunci mobilnya.


"Membayangkan benda itu masuk saja membuatku ngilu Kak."


"Itu karena Kak Daniel yang memasukkan sementara aku? Lubangnya kecil tapi harus di terobos dengan benda sebesar itu. Ahhh pasti sakit." Daniel terkekeh melihat raut wajah serius Bella sekarang.


"Sakit di awal sayang, nanti akan enak ketika sudah terbiasa."


"Pasti sakit terus Kak."


"Sakitnya menghilang jadi kamu akan berkata, terus Kak terus.."


Bugh!!


Bella memukul perut samping Daniel, namun tidak membuat Daniel berhenti tertawa lepas.


"Kenapa Kak Daniel jadi nakal sekali."


"Aku menyayangimu, bukan nakal." Daniel memojokkannya tubuh Bella dan akan mendekatkan wajahnya namun Bella mendorong dadanya lembut.


"Malu Kak." Daniel tersenyum lalu mencium pipi Bella sejenak kemudian membukakan pintu mobilnya.


"Kamu membuatku gila hingga lepas kendali sayang." Bella tersenyum mendengar itu. Daniel menutup pintu mobil lembut kemudian masuk lewat sisi lainnya.


Keduanya sama-sama tersenyum, sebelum akhirnya mobil menembus gerimis ringan yang mulai turun.


Daniel membelokkan mobilnya, ke sebuah rumah makan yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya. Tidak seperti biasanya, Bella enggan turun sendiri seolah menunggu Daniel membukakan pintu mobil untuknya seperti sekarang.


Daniel mengulurkan tangannya, lalu Bella menyambutnya cepat dan tidak melepasnya lagi hingga saat memesan, kedua tangan itu masih terlihat saling menggenggam.


"Aku bebek goreng saja Kak." Ucap Bella seraya membaca menu andalan di depot tersebut.


"Berarti bebek gorengnya dua. Minumnya sayang."


"Jeruk hangat."


"Jeruk hangatnya dua."


"Tunggu sebentar ya Kak." Jawab si penjual ramah. Daniel mengangguk pelan, kemudian mengiring Bella duduk di salah satu tempat. Daniel menggeser tempat duduk agar keduanya bisa duduk saling berdekatan ketika tangan Bella terlihat enggan melepaskan genggamannya. Dia malah menambah satu tangannya untuk mencari kehangatan karena hujan yang semakin deras mengguyur.


"Ini yang terdekat sayang." Ucap Daniel memperhatikan sekitar yang tidak seberapa ramai.


"Seharusnya tadi pesan saja Kak. Hujannya semakin deras." Daniel menggeser lagi tempat duduknya agar lebih dekat saat melihat dua orang wanita muda baru saja masuk.


Niatnya sudah sangat jelas, dia tidak ingin mencari masalah dan membuat suasana Bella memburuk sehingga maniknya fokus ke arah Bella.


Kapan aku memiliki dada sebesar mereka.. Sebelumnya, Bella tidak pernah memikirkan itu. Tapi sejak dia menjadi istri Daniel, dia jadi memperhatikan penampilan yang hingga sekarang menurutnya payah.


"Memikirkan apa?" Bella menoleh dan baru sadar jika Daniel fokus melihatnya.


"Tidak Kak. Lama sekali, aku sudah lapar."


"Sabar, mungkin sebentar lagi." Daniel mengusap-usap punggung tangan Bella yang terasa dingin." Bagaimana tadi sayang?" Tanya Daniel pelan.


"Apa yang bagaimana?"


"Perkenalannya? Apa kamu masih takut." Jawaban dari Bella yang kurang memuaskan tadi, membuat Daniel melontarkan pertanyaan itu lagi.


Fikiran Bella menerawang, dia sudah menyentuh benda panjang milik Daniel dan masih tidak sanggup membayangkan jika benda itu menerobos miliknya.


"Ah sakit sekali pasti."


Gleg!


Mata Daniel melebar, dia tersulut hasrat dengan hanya mendengarkan rintihan Bella yang tidak serius itu.


"Jangan katakan itu di sini." Protes Daniel pelan.


"Mengatakan apa Kak?"

__ADS_1


"Yang kamu katakan tadi sayang."


"Yang mana?" Daniel duduk tegak dan menyeka keringat yang ada di dahi.


Entahlah.. Kenapa fikiranku semakin keruh seperti ini!!


Eluh Daniel menatap wajah polos Bella yang memang sedang tidak berpura-pura.


"Kamu sakit Kak." Bella melepaskan genggamannya dan memeriksa dahi Daniel dengan jemari kecilnya.


"Iya sayang. Sebaiknya kita bungkus saja." Cepat-cepat Daniel meraih jemari Bella dan menuntunnya untuk berdiri, lalu berjalan ke penjual untuk membungkus saja pesanannya tadi.


**************


Marco mencengkram kepalanya erat, ketika melihat kenyataan jika hampir 90 persen relasinya memutuskan kerjasama dengan perusahaannya.


Itu sedikit aneh, sebab mereka melakukan itu dengan serentak seolah sudah membuat janji sebelumnya.


"Halo Pak. Bagaimana bisa kerjasamanya di putuskan sepihak?


"Mau bagaimana lagi Pak Marco. Saya sudah kecewa dengan perusahaan Pak Marco yang tidak bisa disiplin dalam berkerja. Jika terus berkerjasama, saya bisa bangkrut!


"Seharusnya musyawarah dulu Pak, jangan seperti ini.


"Pak Marco kemana saja? Saya sudah akan memusyawarahkan ini tapi kata Pak Marco sibuk sibuk dan sibuk. Ya sudah, terima kenyataannya. Sudah ya Pak, saya sibuk.


Tut..Tut...Tut...


Marco mencengkram erat ponselnya, dengan wajah geram dia menatap keluar jendela yang tengah turun hujan. Marco baru sadar, jika sudah beberapa hari ini dia fokus memikirkan Bella. Perusahaan di abaikan, dia sering absen untuk rapat meskipun Putri sering berkata jika itu rapat penting.


"Bodohnya aku! Seharusnya aku tidak boleh meninggalkan perkerjaan seperti itu!!" Marco duduk lemah di sofa mahalnya. Bibirnya tersungging, memikirkan sesuatu yang menggelitik hatinya." Daniel terlalu takut Bella ku rebut jadi dia berpura-pura amnesia haha, dasar pengecut!! Dia hanya bisa bersembunyi tanpa melawan. Sangat tidak sesuai dengan wajah tampannya itu!!!"


Tak!!!


Marco melemparkan ponselnya sembarangan ketika menerima kenyataan jika Bella adalah milik Daniel.


"Hanya sedikit tekanan! Kau akan melepaskan gadis itu!! Lihat saja!! Kedua mata Bella akan ku buka lebar!! Agar dia bisa melihat jika lelaki yang bersamanya hanya seorang pengecut yang mampu bersembunyi di belakang." Marco tertawa renyah dengan raut wajah mengerikan.


Penjaga rumah yang berhasil merekam perkataan Marco, langsung berjalan keluar daripada nanti dia terlibat masalah jika Marco memergokinya.


Dia mengirimkan video rekaman pada Roy, orang yang menurutnya sudah membantu keluarganya. Roy menawarkan gaji sangat mengiurkan jika si penjaga rumah mendapatkan info bagus soal Marco.


Roy dan Andra yang masih berada di rumah lama, menerima kiriman video tersebut dan langsung menontonnya.


"Pak Daniel memang mirip seperti itu." Gumam Andra tersenyum.


"Itu karena Pak Daniel orang yang cinta perdamaian."


"Aku tidak mengerti, bagaimana Tuhan menciptakan orang sesabar itu? Jika aku jadi Pak Daniel. Sudah ku jebloskan orang ini ke penjara." Roy tersenyum tipis, menikmati video berdurasi satu menit tersebut.


"Kau tahu lagu yang melegenda itu? Hadapi dengan senyuman.." Roy terkekeh begitupun Andra.


"Lihatlah, orang ini masih tidak berhenti padahal Pak Daniel sudah memberikan pengampunan padanya. Bukankah sebaiknya dia lari saja, daripada harus merebut Nona Bella?" Roy mendecak, kepalanya menggeleng seraya tersenyum memikirkan kebodohan Marco.


"Dia harus bertemu Tuan dan Nona kita, agar di berikan sedikit sentuhan."


"Terlalu ringan. Dia bahkan tidak pantas bertemu Tuan kita."


"Aku harus berangkat. Sudah jam enam." Andra berdiri di ikuti oleh Roy." Bik Yanti sudah ku suruh ke sini besok untuk membersihkan rumah, begitupun Pak Ojon dan Karim." Imbuhnya.


"Hm aku akan tidur di sini malam ini."


"Sampai jumpa besok."


"Hati-hati di jalan." Andra tersenyum sejenak, kemudian melangkah pergi.


***************


Daniel memperhatikan Bella yang fokus makan sementara dia sendiri kehilangan selera makan, merasakan udara dingin yang menusuk tulang juga hasratnya.


Daniel yang baru merasakan bagaimana mendapatkan pelepasannya tadi, seolah ingin mengulang dan itu membuat fikirannya mendadak keruh.


"Kak.." Bella menepuk pipi Daniel yang menatapnya sedikit aneh." Kak Daniel sakit apa sih?" Imbuhnya bertanya.


"Kamu punya PR sayang?" Tanya Daniel seraya mengendalikan perasaannya yang bergemuruh.


"Aku kan membolos tadi, jadi aku tidak tahu. Memangnya kenapa Kak?" Tuturnya polos. Bella tidak menyadari wajah gelisah yang terlihat jelas pada raut wajah Daniel.


"Kita langsung tidur ya setelah ini."


"Memangnya Kak Daniel sudah mengantuk, terus kenapa tidak di makan?" Nafas berat berhembus, Daniel mencoba mengendalikan diri tapi rasanya sangat sulit.


Aku ingin memakan mu sayang.. Ah Tuhan, apa yang terjadi denganku? Kenapa aku menginginkan itu sekarang. Rasanya sungguh tidak nyaman...


"Tidur dulu baru makan." Jawab Daniel asal.


"Nanti nasinya basi Kak."


"Jangan fikirkan aku sayang. Habiskan makanannya lalu kita tidur." Manik Daniel menatap bibir Bella yang sedang menguyah, lalu turun ke bagian leher yang masih terdapat noda merah akibat gigitan-gigitan yang di beri oleh nya.


Maniknya belum juga berhenti dan menatap ke dada Bella yang cukup besar untuk seukuran gadis belia sepertinya. Ingin sekali Daniel bermain lagi di sana, membuat Bella mengeluarkan suara yang membuatnya semakin menggila.


Greppp!!!


Daniel mengangkat tubuh Bella dan mendudukkannya ke pangkuannya. Mata Bella melebar, seiring dengan kunyahan yang mulai melambat.


"Kak, aku masih makan." Protes Bella pelan. Apalagi nafas berat Daniel terasa berhembus menerpa tengkuknya.


"Lanjutkan sayang.." Bella menegang, mendengar Daniel menjawab pertanyaannya dengan suara berat. Dia melihat ke bawah, lalu menelan makanannya kasar.


Bella melihat milik Daniel kembali mencuat keluar dan itu cukup membuat Bella takut.


Apa kak Daniel akan langsung melakukannya ketika tahu aku sudah tidak memakai pembalut? Ahh tidak!! Aku belum siap untuk robek!!


Bella berusaha berdiri namun kedua tangan Daniel mencegahnya. Bulu kuduknya meremang saat Daniel mulai mencumbu tengkuk belakang Bella dengan tangan yang mulai aktif membelai.


Kak Daniel tidak boleh tahu jika.. Ah ya Tuhan ini hangat dan nikmat.. Apalah daya? Meskipun Bella berusaha menolak tapi sentuhan Daniel sungguh melenakan dan membuatnya melayang.


"Egh..."


Bella memundurkan tubuhnya, matanya terpejam menikmati cumbuan hangat bibir Daniel yang mulai melunturkan ketakutannya. Dia bahkan menyampingkan rambut panjangnya memberikan kemudahan akses bagi Daniel untuk menyentuhnya.


Tubuh Bella bergerak tidak beraturan, menimbulkan gesekan kulit yang semakin membuat Daniel bersemangat. Dia meraih ujung resleting dress Bella lalu menurunkannya dan memperlihatkan bagian punggung berkilat milik gadisnya.


Tangan Daniel terulur lalu mengeluarkan jari telunjuknya untuk menyentuh bibir Bella sebelum bibirnya bermain bebas di punggungnya.


Bella merespon, dengan mengigit jari telunjuknya saat bibirnya asyik mencumbu punggung terbuka itu lembut.


~Bersambung😂😂😂


Apa Daniel berhasil 🤤🤤


Atau gagal🤣🤣


Di lanjut atau di skip ya...


Kalau lanjut, aku berikan part khusus itu😂😂


Jadi lupakan soal konflik dulu, kita fokus pada malam pertama Bang Daniel😁😁


Sabar ya🤣🤣 Aku lagi berusaha keras untuk membuat malam pertama mereka jadi berkesan🤤


Terimakasih dukungannya 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2