
"Apa maksudmu Lisa!!!" Jawab Marco kasar. Dia tentu merasa tersinggung dengan kenyataan yang di lontarkan Lisa.
"Bukannya ini perusahaan Pak Daniel? Lalu kenapa jatuh di tanganmu." Lisa tidak perduli dengan ucapan Bu Eka dan terus saja berprotes. Dia ingin Daniel kembali memimpin dan membuatnya bersemangat untuk berkerja.
"Sudah ku bilang jika Pak Daniel menyerahkannya padaku!!!"
"Cukup Lisa!!" Cegah Bu Eka membungkam mulut Lisa cepat." Pokoknya kami menurut pesangon kami Pak. Jika tidak, kami tidak segan-segan berprotes!!" Bu Eka menyeret paksa Lisa untuk keluar, di ikuti dengan yang lain.
"Mangkanya Pak jangan jahat-jahat! Meskipun kita cuma staf biasa. Tapi apa jadinya perusahaan tanpa karyawan. Ambruk Pak!" Ucap Putri yang juga melangkah pergi meninggalkan Marco yang tidak bergeming. Dia membenarkan itu semua namun tidak juga mengakui kesalahannya.
"Ya pergi saja semua!!! Aku juga bisa hidup tanpa perusahaan ini." Marco tertawa lepas, mengingat jika harta Daniel masih sangat banyak, bahkan masih cukup untuk menopang hidupnya hingga 10 tahun mendatang.
**************
Pukul sembilan pagi, Bella terjaga dan segera duduk saat tidak melihat Daniel di atasnya. Dia ingat jika terakhir kali tengah tertidur di pangkuan Daniel. Sehingga wajah panik langsung di perlihatkan.
"Kak Daniel!!" Ucapnya setengah berteriak.
"Apa yang terjadi?" Jawab Daniel yang ternyata tengah tidur di sampingnya.
Bella malu sendiri namun tidak mau mengakui. Lirikan malas kembali di perlihatkan, menatap Daniel yang sudah duduk di sampingnya.
"Tidak ada." Bella kembali berbaring karena tubuhnya masih terasa lemah.
Daniel memeriksa suhu tubuh Bella yang sudah normal meski wajahnya masih terlihat pucat.
"Syukurlah, aku tadi ketiduran sebentar." Daniel kembali berbaring, dia ingin menuruti apa yang jadi permintaan Bella. Tangan kanannya menelusup ke bawah kepala dan mendekap tubuh Bella erat.
"Jangan dekat-dekat Kak, nanti tertular." Bibir yang tidak kongkrit dengan perbuatan, sebab Bella membalas dekapan itu.
"Ini bukan sakit biasa, jadi tidak akan tertular." Daniel meraih dagu Bella lalu mengangkatnya sedikit dan menciumnya lembut.
Bella tersenyum dalam hati, membayangkan penyatuannya semalam meski nyeri masih terasa ketika dia bergerak.
"Terimakasih untuk semalaman." Manik keduanya saling beradu, saling menatap begitu dalam. Daniel mengecup bibirnya lagi dan lagi, membuat wajah Bella memerah.
"Iya Kak sama-sama."
"Aku akan jarang memintanya sayang."
"Untuk sekarang Kak, karena masih sakit."
"Paling tidak, sampai kamu lulus. Semoga saja tidak hamil, sebelum kamu bisa lulus." Bella menempelkan bibirnya ke pipi berahang keras itu dan menghirupnya kuat-kuat.
"Aku tidak memikirkan sekolah lagi." Jawab Bella lirih. Mengutarakan keinginannya yang sudah berbalik 99 derajat.
"Jangan begitu sayang."
"Jika sudah lulus, aku ingin fokus ke pernikahan kita Kak."
"Hm maka dari itu, untuk saat ini, fikirkan sekolah dulu, agar bisa lulus."
"Aku akan lulus meski sebenarnya aku sudah tidak peduli." Tidak dapat di pungkiri jika Daniel merasa bahagia mendengar itu, tapi dia juga tidak ingin memupuskan harapan Bella untuk lulus dengan nilai terbaik.
"Yang penting lulus saja. Untuk masalah nilai, itu nomer dua. Paling tidak gelar S3 sudah kamu sandang. Itu sudah cukup untuk bekal menjadi seorang Ibu."
"S3 hehe.." Daniel tersenyum.
"Tahu maksudku?"
"Iya tahu." Jawab Bella tertawa lirih." Kak, aku ingin buang air kecil tapi aku takut jika masih sakit." Daniel langsung duduk lalu berdiri.
"Tidak baik menahan buang air kecil. Ayo ku antar." Daniel berjalan menghampiri Bella yang sudah duduk dan menurunkan kedua kakinya.
"Apa sobeknya akan sembuh dalam semalam Kak." Ucap Bella membayangkan jika bagian dalam miliknya tengah terluka.
"Pasti sudah sembuh sayang." Daniel mengulurkan tangannya dan langsung di sambut.
Bella terlalu takut, sehingga membuatnya berdiri pelan-pelan sekali. Ingin sekali Daniel terkekeh namun dia tidak melakukannya, dia takut Bella tersinggung.
"Masih sakit?" Tanya Daniel saat Bella tidak juga melangkahkan kakinya.
"Hanya sedikit hehe. Tapi, jika buang air kecil pasti akan sakit Kak." Protesnya lagi.
"Itu beda jalur sayang." Daniel merangkul kedua pundak Bella dan mengiringinya berjalan ke arah kamar mandi.
"Tapi aku takut Kak."
"Mau ku bantu?"
"Tidak Kak." Bella masuk ke dalam kamar mandi lalu membuka penutup toilet dan duduk. Pintu kamar mandi di biarkan terbuka, sehingga Daniel bisa melihat bagaimana ekspresi Bella ketika buang air kecil itu berlangsung.
Astaga sayang hehe.. Batin Daniel terkekeh, melihat Bella memejamkan matanya dengan raut wajah tegang.
Bella bahkan harus menahan nafas saat itu terjadi, lalu menghembuskan nya kasar. Dia melihat pembalut yang masih bersih sebab darah yang keluar memang efek dari malam pertamanya.
"Apa sebanyak itu darahnya?" Gumamnya membersihkan miliknya, lalu membuang pembalutnya, tanpa merasa risih pada Daniel yang tengah memperhatikannya sejak tadi." Kak aku sudah bersih, berarti darah kemarin karena selaput yang robek itu." Seharusnya Bella sudah tidak mempertanyakan itu pada Daniel yang juga tidak tahu apa-apa soal itu.
"Iya sayang. Mungkin seperti itu."
"Banyak sekali ya Kak."
"Karena kamu masih terlalu kecil." Bella meliriknya malas, dia tidak lagi suka di sebut kecil.
Bugh!
"Aku tidak kecil!!" Protesnya mengerucutkan bibirnya seraya memukul perut Daniel lembut.
"Iya maaf aku lupa, mungkin milikku yang terlalu besar." Jawab Daniel asal, dia tidak tahu harus menjawab apa.
Milik Kak Daniel.. Bella meraih lengan Daniel dan memegangnya erat dengan sebuah remasan saat fikirannya kembali mengingat kejadian semalam. Memang sakit tapi rasa sakitnya lain..
"Masih pusing?"
"Lemas Kak."
"Itu karena kamu hanya makan sedikit. Ku pesankan sesuatu ya."
"Hm iya." Daniel mengambil ponselnya setelah mendudukan Bella di tepian ranjang. Dia tersenyum, melihat aplikasi driver online yang mungkin tidak lagi di butuhkan sehingga dia menghapus aplikasi tersebut.
Aku tidak sabar menunggu pertemuanku dengan Joy nanti...
************
Paris 🗼
Abel terlihat membantu Nara berkemas, sementara Joy hanya duduk melihat. Beberapa tarikan nafas berhembus karena Joy tidak pernah membayangkan jika dia akan bertemu dengan Daniel lagi.
"Menurutmu kado apa yang pantas kita siapkan untuk Kak Daniel sayang?" Tanya Nara begitu bersemangat.
"Sudah di siapkan Andra sayang. Kita hanya perlu berangkat dan melalui 30 hari yang berat."
"Itu menyenangkan Daddy." Sahut Abel tidak menerima jika Ayahnya berkata demikian." Kita akan bertemu Eun Wo Oppa." Imbuh nya antusias.
"Itu Daniel sayang bukan Eun Wo Oppa milikmu."
"No Dad! Eun Wo Oppa, milik semua orang tapi Daniel Oppa hanya milik Abel. Dia akan jadi pacar Abel." Joy melirik kesal seraya mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
"Panggilan macam apa itu sayang? Menjijikkan sekali."
"Sayang... Ingat dengan obrolan kita semalam?" Sahut Nara mengingatkan. Dia tidak ingin Joy memupuskan harapan Abel yang memang sangat tidak penting.
__ADS_1
"Oh, ya. Daddy merestui hubungan kalian." Nara menarik nafas panjang, mendengar ucapan Joy yang di rasa sangat berlebihan. Dia berdiri dan menghampiri Joy lalu duduk di paha kirinya." Aku salah lagi." Imbuh Joy lemah.
"Abel bahkan tidak mengerti apa yang kamu ucapkan tadi. Lihat sendiri." Joy melihat ke Abel yang fokus berkemas." Aku hanya tidak ingin kamu memupuskan harapannya untuk bertemu idolanya." Jika bukan karena cinta, mungkin Joy sudah mengumpat sejadi-jadinya.
Ah ya! Wanita selalu benar karena mereka memang seorang ratu dan aku seorang raja, yang harus menuruti apapun perintahnya..
"Iya sayang maaf." Ucap Joy tidak bersungguh-sungguh.
"Aku mencintaimu Joy, sangat mencintaimu." Bisik Nara mencium pipi Joy lembut.
"Aku lebih mencintaimu." Saat Joy akan melahap bibir Nara, sorot matanya menangkap Abel yang berdiri menatapnya.
"Lalu kalian tidak mencintaiku?" Tanya Abel polos.
"Come here Baby." Ucap Nara tersenyum. Abel berjalan mendekat dan Nara langsung mendudukkannya ke paha Joy yang satunya." Kami mencintaimu. love you very much." Imbuh Nara membuat Abel tersenyum.
"Is it true Daddy?"
"Of course, Baby. We love you." Joy memeluk keduanya dan menciumnya secara bergantian.
"Abel loves you too."
Nara dan Joy mencium pipi Abel bersama, kemudian melanjutkan aktivitasnya untuk berkemas, mempersiapkan liburannya ke Indonesia.
***************
Marco menatap Roy penuh tanya, mengira-ngira siapa lelaki yang tengah duduk di hadapannya hingga mau membeli semua saham dan perusahaan Dans grup dengan harga tinggi.
Sangat aneh menurut Marco. Sebab, dia baru saja memasang tulisan di jual satu jam yang lalu.
"Apa Anda yakin? Perusahaan itu sudah hancur." Ucap Marco lirih.
"Hm yakin. Apa anda tidak." Roy meletakan koper besar berwarna hitam lalu memperlihatkan tumpukan uang berada di sana." Saya bayar cash." Imbuhnya tersenyum tipis.
"Wah.." Tentu saja Marco langsung tertarik.
Tap!!
Roy menutup koper, menyodorkan surat jual beli juga pengalihan hak milik.
"Tanda tangan dulu Tuan." Roy meletakan bulpen di atas map tersebut lalu menyodorkan pada Marco.
"Anda yakin?"
"Sangat yakin." Jawab Roy untuk kesekian kalinya.
"Saya tidak mau di tuntut setelah ini, sebab saya tidak membuka harga setinggi itu."
"Hm ya. Saya juga tidak akan melakukannya sebab saya membelinya dengan kesadaran penuh." Marco menggeser kembali map-nya ketika tanda tangan sudah terbubuh di map tersebut.
Bodoh!! Umpat Roy dalam hati.
Sudah bisa di tebak, jika kebangkrutan Dans grup yang hanya terjadi dalam semalam, adalah permainan dari Andra yang memiliki kuasa cukup besar pada dunia pembisnisan di seluruh Asia.
Cukup dengan membalikkan tangan, dia sanggup membuat satu perusahaan besar jatuh dengan mudah seperti apa yang sudah di lakukan.
Marco tidak menyadari itu. Dia fikir perusahaan itu jatuh akibat dari kesalahannya sendiri. Dia sadar jika dirinya tidak cukup paham dengan dunia bisnis, karena pengalaman yang sangat dangkal.
"Ini menjadi milik anda sekarang." Roy menyelipkan bulpen nya di saku lalu berdiri di ikuti oleh Marco.
"Terimakasih Tuan."
"Sama-sama, saya permisi." Setelah bersalaman, Roy melangkah pergi meninggalkan rumah dan di gantikan dengan kedatangan Fanny, yang terlihat pucat setelah Jim mengurungnya dua hari ini.
"Apa yang terjadi dengan perusahaan?" Marco terkejut dengan kedatangan Fanny, dia berusaha menyembunyikan koper miliknya namun Fanny sudah terlanjur tahu." Apa ini?" Tanyanya dengan mata berkilat.
"Bukan apa-apa." Fanny langsung membuka koper tanpa persetujuan dan tergiur dengan uang yang tertumpuk di dalam.
"Bukan."
Tap!!
Marco menutupnya lagi dan hendak membawanya masuk, tapi tentu saja Fanny tidak membiarkan uang sejumlah satu triliun lepas begitu saja.
"Kau curang Marco! Beri aku separuh dari hasil penjualan! Aku tahu kau sudah menjualnya! Aku dari sana dan bertanya pada satpam depan." Protes Fanny tidak terima dan akan merebut koper.
"Ini uangku!! Jangan kau berani menyentuhnya!!" Marco masih mempertahankan koper yang akan di rebut Fanny.
"Kau sudah memiliki semua properti Daniel!! Jadi biarkan ini menjadi bagian ku!!"
Kedua manusia yang gila harta, saling tarik menarik koper hitam tersebut hingga koper terbuka dan menghamburkan uang yang berwarna putih.
"Apa ini!!" Umpat Marco melongok, begitupun Fanny. Melihat beberapa lembar uang asli sementara yang lain hanya tumpukan kertas folio putih.
"Mana uangnya hei Marco!!" Tanya Fanny kasar.
"Aku di tipu!!" Marco menangkap sebuah tulisan yang tertempel di dasar koper.
Penipu dan tertipu.. Nikmati itu...
"Siapa dia!! Pasti orang suruhan Daniel." Umpat Marco langsung tersulut emosi. Merasakan kenyataan jika uang di dalam koper hanyalah uang palsu.
"Daniel amnesia! Mana mungkin dia!!"
"Dia tidak amnesia!! Dia hanya takut pada kita!!" Marco akan melangkah pergi namun Fanny mencegahnya.
"Apa maksudmu? Daniel tidak lupa ingatan?" Tanya Fanny panik.
"Ya! Itulah kenyataannya!! Aku harus membuat perhitungan dengan Daniel!!!"
"Aku ikut." Marco tidak menjawab dan melangkah pergi bersama Fanny, meninggalkan pekarangan rumahnya, tanpa merasa curiga pada si penjaga rumah yang sudah menyiapkan beberapa jirigen bensin di dalam pos penjagaan.
"Masa lalu buruk harus di hanguskan." Erik tersenyum tipis, melihat mobil Marco sudah jauh meninggalkan kediamannya. Dia keluar dari mobil dengan beberapa orang anak buahnya menghampiri si penjaga rumah yang tengah menunggunya." Sudah kamu ambil surat pentingnya?" Tanya Erik tersenyum.
"Sudah Tuan." Erik yang sudah memiliki jabatan setara dengan Roy, mendapatkan tugas yang di rasa begitu mudah.
Penjaga rumah menyerahkan surat rumah dan surat-surat lainnya ke tangan Erik.
"Apa Pak Daniel masih hidup?" Tanya penjaga rumah.
"Hm masih Pak. Tuan barumu mencoba membunuhnya. Sebaiknya kau ikut kami saja ke markas untuk sementara waktu sampai keadaan tenang." Jawab Erik menggenggam map yang berisi surat-surat penting.
Penjaga rumah mengangguk setuju. Dia tidak membenarkan perbuatan curang Marco sehingga dia mau melakukan ini semua asal kebenaran bisa di tegakkan. Apalagi mengingat jika Daniel begitu baik dan sopan padanya, sehingga membuatnya ingin membalas budi dengan bersekongkol dengan Roy dan Erik.
"Tuanku hanya Pak Daniel." Erik tersenyum seraya mengangguk-angguk.
"Sudah siap?" Tanya Erik pada anak buahnya.
"Sudah Pak. Area sudah di amankan, CCTV jalan pun sudah di matikan."
Sebenarnya.. Tuan Roy itu siapa sih? Kenapa bisa melakukan ini dalam waktu singkat..
Si penjaga rumah hanya melihat beberapa orang mengangkat jirigen bensin dan menyiramkan pada sekeliling rumah yang lebih mirip istana. Atas permintaan Joy, semua di lakukan.
Joy sangat membenci penjilat, apalagi penjilat itu sudah mampu hidup bahagia di atas orang yang sudah mengulurkan tangan untuknya. Itu membuatnya muak dan sangat muak hingga harus bertindak tanpa sepengetahuan Nara.
*************
Brraaaaakk Braaaakkkkk Braaaakkkkk
Daniel dan Bella terkejut mendengar suara gedoran yang berasal dari pintu.
__ADS_1
"Siapa Kak?" Tanya Bella membulatkan matanya.
"Kamu di sini saja sayang, biar aku yang melihat."
"Tidak aku ikut." Bella berdiri dan meraih lengan Daniel.
"Bukankah kamu masih sakit."
"Sudahlah Kak ayo." Rengek Bella.
"Hm baik ayo." Keduanya berjalan keluar ke arah pintu dan cukup terperanjat saat melihat seseorang yang ada di balik pintu.
Marco dan Fanny tengah berdiri di balik pintu tersebut, menatap tajam ke arah Daniel dan Bella. Marco dengan kecemburuannya begitupun Fanny dengan kecemburuannya yang tidak jelas.
"Kau jangan berpura-pura Daniel!!" Teriak Marco geram dan di balas dengan senyuman getir oleh Daniel.
"Maksudmu apa Marco? Aku tidak mengerti kenapa kau masih saja menganggu hidupku padahal semua hartaku sudah kau rebut." Tentu saja Daniel membalas ucapan itu dengan sangat tenang meski emosi di dalam hatinya meluap-luap.
"Kau tidak amnesia Daniel?" Sahut Fanny.
"Tidak. Aku hanya ingin mengsedekahkan hartaku untuk kalian sehingga aku berpura-pura tidak mengingat semuanya. Lalu? Untuk apa kalian ke sini." Marco menatap geram kedua tangan Bella yang tengah memegang erat lengan Daniel begitupun Fanny.
"Kau yang sudah menipuku kan? Membeli perusahaan itu dengan uang palsu."
"Bukankah kau yang menipu!!" Sahut Bella masih terlalu lemah untuk berteriak." Otak kalian berada di mana hingga sanggup melakukan hal seperti sekarang. Mengebrak rumah orang yang sudah kalian tipu, kalian bakar perusahaannya dan bilang jika si korban menipumu, konyol sekali." Daniel menarik nafas dalam-dalam, menyadari jika lidah Bella lebih pedas dari lidahnya.
Meskipun Bella sudah berkata demikian namun rasa cemburu Marco sudah membutakan semuanya dan mengikis habis akal sehatnya.
"Kau akan sadar jika dia sangat payah! Dia hanya bisa mengalah dan bersembunyi di balik ketakutannya!!"
"Aku tidak pernah takut, aku hanya tidak suka pertikaian." Jawab Daniel masih ingin membicarakan semuanya baik-baik tanpa ada keributan.
"Itu alasanmu saja Daniel!! Kau tidak ayal seperti seorang perempuan berbentuk lelaki!! Itu kenapa kau selalu beralasan cinta perdamaian dan tidak ingin ada pertikaian!! Itu kau lakukan hanya agar sikap lemah mu tidak terlihat."
"Terserah. Aku tidak perduli dengan ucapan mu itu. Silahkan pergi jika tidak ada yang harus di bicarakan." Bella mendongak, melihat ke arah Daniel yang tengah berusaha mengendalikan emosinya. Ada rasa heran, dengan sikap Daniel yang seperti sekarang. Tingkat kesabarannya tidak normal, seperti bukan manusia.
"Kenapa Kak Daniel tidak seru sih." Protes Bella membuat Daniel menoleh.
"Tidak seru bagaimana sayang?" Tatapan Daniel berubah semakin teduh, membuat kecemburuan Fanny dan Marco semakin meningkat.
"Ya berkelahi atau apa? Bukankah mereka sudah membuat hidup Kak Daniel kesulitan!!"
"Asal bersamamu, kesulitan itu tidak berlaku." Wajah Bella memerah, tersenyum dan begitupun Daniel. Membiarkan dua hati yang terbakar melihat kemesraan keduanya hingga kebakaran semakin membesar.
"Dulu kau tidak pernah begitu saat bersamaku!" Ucap Fanny ketus." Sungguh tidak normal. Kau bisa berubah seperti sekarang karena anak ingusan ini." Tunjuk Fanny kasar.
"Jangan menunjuknya! Dia istriku!!" Daniel memperlihatkan wajah tidak suka ketika mendengar istri kecilnya di rendahkan.
Istri??
Ucap Marco dan Fanny bersama, mereka bahkan tahu jika Bella masih SMA sehingga mereka menganggap itu hanya gurauan. Keduanya terkekeh penuh ejekan menatap tidak percaya ke arah Daniel dan Bella.
"Mereka gila Kak." Gumam Bella.
"Hm. Itu kenapa tidak perlu terlalu banyak berbicara."
Tiba-tiba saja, Marco mencengkram erat kerah kaos Daniel dan mendorongnya sedikit dengan mata menyala merah.
"Ambil semua hartamu dan biarkan dia menjadi milikku." Bella akan meraih pergelangan tangan Marco agar menghentikan perbuatannya, namun Daniel mencegahnya. Dia menyingkirkan tangan Bella lembut dan membalas Marko dengan satu dorongan hingga membuat jatuh terduduk.
"Itu ucapan paling memuakkan yang pernah ku dengar Marco!! Kau fikir istriku semurah itu hingga kau melontarkan tawaran seperti itu!!" Dalam satu detik, suara Daniel berubah kasar. Dia menarik kasar tubuh Marco untuk bangun lalu menghadiahkan satu pukulan hingga membuat Marco tersungkur." Kau boleh menghinaku tapi tidak untuk istriku!!" Daniel menuruni anak tangga dan menghampiri Marco dengan sudut bibir berdarah." Bangun!! Jika kau merasa lebih hebat daripada aku!!" Bella malah tersenyum melihat itu. Dia sungguh senang, melihat Daniel marah untuk membelanya.
Daniel menarik kasar Marco agar bangun. Dia merasa lebih unggul dari semua lelaki yang ada di dunia ini. Daniel tidak suka ada lelaki lain yang berusaha memiliki Bella atau sekedar memikirkannya.
"Pukul aku." Pinta Daniel tersenyum getir begitupun Marco yang tidak juga sadar akan kesalahannya. Dia masih berusaha mengangkat tangannya tapi dengan cepat Daniel membalasnya hingga membuat Marco tidak sadarkan diri.
Daniel menaiki lima anak tangga dan menyeret kasar Fanny untuk pergi dari rumahnya.
"Bawa pergi lelaki sialan itu!! Jika tidak ingin aku menguburnya hidup-hidup!!" Fanny meraih lengan Daniel berharap bisa merajuknya.
"Aku bisa lebih baik dari istrimu itu." Daniel mendorong tubuh Fanny hingga terduduk di bawah.
"Kau bahkan tidak pantas menjadi pembantuku!!" Umpat Daniel menggiring Bella berjalan masuk.
"Agh! Apa bagusnya gadis bau kencur itu!!" Fanny bangun lalu berjalan menghampiri Marco." Marco bangun!!" Teriaknya geram seraya menendang-nendang tubuh Marco hingga tanpa sadar jika Pak Imran melihatnya.
"Astaga.. Kenapa membuat keributan di rumah orang. Itu siapa Nona?" Tanya Pak Imron penuh selidik.
"Si pemilik rumah yang membuat dia begini." Pak Imran menatap pintu rumah Daniel yang tertutup.
"Jangan melemparkan kesalahan Nona. Jelas-jelas saya melihat Nona yang menendang-nendang lelaki ini. Jika mau cekcok, di rumah Nona sendiri, jangan di pekarangan rumah orang seperti ini." Fanny mendengus. Dia terpaksa meminta bantuan Pak Imron untuk mengangkat tubuh Marco ke mobil daripada harus terlibat masalah.
Sementara di dalam rumah, Daniel mengintip dan bernafas lega ketika Fanny sudah pergi dari bahu jalan depan rumahnya. Dia melangkah ke ruang tengah kemudian duduk di bawah sofa di mana Bella berbaring.
"Siapa yang membeli Dans grup?" Gumamnya merasa penasaran.
"Jangan membahas masalah perkerjaan dulu."
"Sebaiknya beristirahat di kamar sayang." Ucap Daniel seraya menoleh.
"Bosan Kak di kamar."
"Hm kita sambil melihat televisi ya."
"Iya." Daniel tersenyum kemudian meraih remote untuk menyalakan televisi.
"Biasanya membeli obat apa jika kamu merasa lemah seperti sekarang." Daniel menuntun kedua tangan Bella untuk melingkar di pundaknya.
"Aku tidak pernah begini sebelumnya." Bella menempelkan bibirnya ke punggung Daniel dan menghirupnya kuat." Aku ingin tidur seharian Kak, rasanya terus mengantuk." Daniel memutar tubuhnya sehingga kalungan tangan Bella terlepas.
"Itu karena kita saling berdekatan." Jawab Daniel mengusap lembut dahi Bella dan menginginkan Bella mendapatkan kantuknya.
"Aku tidak mengerti."
"Sehat dulu. Nanti ku beritahu artinya."
"Kenapa tidak sekarang?"
"Tidak." Daniel beranjak kemudian berbaring di samping Bella hingga membuat Bella terhimpit.
"Sempit Kak."
"Iya sayang. Sempit seperti milikmu." Mata Bella membulat mendengar itu sementara Daniel terkekeh.
"Tempatnya Kak, bukan itu."
"Lebih sempit lebih enak. Tidurlah, di larang berprotes." Daniel mendekap tubuh kecil itu erat, dengan rasa penasaran yang bersarang di otaknya.
Siapa yang membeli Dans grup...
~Riane
Minta pendapat 😁
Ini ceritanya di perpanjang atau masih ingin berlanjut hingga Bella memiliki anak bahkan mungkin kuliah 🙂
Atau buat judul baru lagi biar tidak bosan😁Kalau sampai sini, mungkin mentok episode 90 ke atas, tapi jika lanjut mungkin 100 lebih😁
Terimakasih dukungannya 🥰
__ADS_1