Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 42


__ADS_3

"Kak aku mau berganti baju." Pinta Bella masih belum bisa melepaskan diri.


"Siapa yang menyuruh duduk di sini? Sekarang sabuk pengamannya terkunci otomatis. Satu jam lagi baru bisa terlepas." Kedua tangan Bella berusaha melepaskan kedua tangan Daniel namun itu pasti tidak mudah." Kecuali satu syarat." Imbuh Daniel lirih.


"Apa itu? Cium?" Tanya Bella ketus sehingga Daniel terkekeh mendengarnya.


"Jika kamu ingin, lakukan saja sayang." Goda Daniel.


"Kak Daniel yang ingin, bukan aku." Bella membuang muka karena malu.


"Kamu tidak?" Tanya Daniel balik bertanya tanpa mengharapkan jawaban. Raut wajah Bella yang memerah membuat Daniel bisa menebak bagaimana isi hati Bella.


Ingin juga tapi, mana mungkin aku mengawalinya...


Daniel menekan lembut tengkuk Bella dan mencium bibirnya sebentar.


"Tapi bukan ini maksudku."


"Lalu ini? Kamu menciumku." Protes Bella dengan wajah semakin memerah setelah ciuman singkat tadi.


"Jika tidak ingin kehilangan, larang aku berdekatan dengan wanita lain." Pinta Daniel membalas tatapan manik Bella dan menikmati wajah merahnya.


"Memang itu tidak boleh Kak."


"Larang aku jika begitu." Pinta Daniel secara gamblang.


"Bukankah kamu suamiku? Kenapa harus di larang sih? Kak Daniel juga tahu kan jika itu tidak boleh di lakukan." Daniel menarik nafas panjang dan mulai tidak mengerti harus memberi Bella pengertian seperti apa.


Jika aku menjahilinya seperti tadi, dia akan kembali membuat jantungku meloncat...


Daniel memikirkan cara untuk memberi Bella pengertian, hingga ponsel Daniel berbunyi dan membuyarkan lamunannya. Dia merogoh ponselnya di dalam saku dan membaca pesan yang tertulis di sana.


💌Ini nomer ku.. Lisa. Maaf, aku hanya ingin dekat dengan Bella.


"Bacalah." Daniel menyodorkan ponselnya ke Bella.


"Kak Lisa." Gumam Bella membaca isi pesan." Dia baik sekali." Imbuh Bella tersenyum.


"Berpura-pura baik." Sahut Daniel membaca gelagat Lisa yang terlihat di buat-buat.


"Memang baik Kak."


"Ya sudah jika kamu menganggap dia baik."


"Akan ku balas pesannya." Bella tersenyum seraya membalas pesannya dan melupakan posisinya yang membahayakan.


💌Iya Kak. Aku save ya. Bella.


💌Oh ku fikir nomer Dimas.


💌Memang nomernya Kak Dimas. Tapi bisa menghubungi ku lewat nomer ini Kak.


💌Oke Bella.


"Nih Kak." Bella menyodorkan ponselnya seraya tersenyum aneh karena kembali sadar dengan posisinya sekarang. Daniel meletakkan ponselnya dan melalui selah itu Bella berdiri dengan cepat lalu berjalan menjauh.


"Kamu sangat pintar melarikan diri."


"Hm iya. Itu keahlian ku." Bella kembali menghampiri Daniel." Antar aku ganti baju Kak." Bella belum bisa menghilangkan rasa takutnya jika harus berkeliaran sendiri di rumah tua itu.


"Oke. Aku menyerah sayang. Aku berharap kamu cepat memiliki rasa cemburu itu." Daniel berdiri dan merangkul kedua pundak Bella lalu mengiringinya ke kamar untuk berganti baju.


"Kenapa kamar lantai dua tidak di tempati Kak?" Bella melepaskan seragamnya sementara Daniel duduk menatap layar laptopnya untuk memeriksa email.


"Di sana sangat kotor sayang. Selain malas membersihkan, terlalu repot jika harus memindahkan perabotan ke atas." Bella mengangguk dan mencari baju dengan santai. Hatinya tidak lagi gusar dan sangat percaya pada Daniel yang pasti bisa menjaga kepercayaannya.


"Em bagaimana dengan rumahku Kak? Surat tanahnya bahkan hangus terbakar." Daniel tersenyum, dia tidak sengaja menangkap pantulan tubuh Bella dari layar laptopnya.


Dia seksi...


"Tidak perlu memikirkan itu, kamu tenang saja."


"Apa tidak bisa, surat tanahnya di urus." Bella sudah berdiri di samping Daniel dengan dress sederhananya.


"Bisa." Daniel menutup laptopnya lalu memiringkan tubuhnya menghadap Bella.


"Apa butuh biaya?"


"Zaman sekarang tidak ada yang gratis sayang."


"Hm ya sudah. Lupakan Kak."


"Tanah itu akan tetap jadi milikmu."


"Iya Kak. Lupakan soal pembicaraan itu. Aku akan membeli ikan untuk makan siang." Daniel meraih pergelangan tangan Bella cepat.


"Tidak perlu." Cegah Daniel tidak ingin Bella mendengar gosip tentang hubungan mereka.


"Ikan segarnya sudah habis."


"Ikut aku setelah ini. Pulangnya kita cari makan siang. Bagaimana?"


"Kemana?"


"Ke gudang."


"Wah.. Oke Kak ayo." Bella merasa bersemangat. Dia ingin melihat bagaimana perusahaan kecil Daniel berjalan.

__ADS_1


"Hm ayo."


Mobil Daniel melaju pergi meninggalkan pekarangan, bersamaan dengan mobil Jim yang baru saja datang. Jim mengambil beberapa foto rumah Bella untuk di jadikan laporan asal-asalan yang langsung di kirim ke ponsel Marco.


"Ternyata dia tidak kemana-mana." Gumam Marco saat mendapatkan kiriman foto dari Jim.


Tok Tok Tok


"Masuk." Bu Eka masuk dengan membawa sebuah kartu di tangannya. Bisa di pastikan jika Marco meminta Bu Eka mempercepat pembuatan kartu Bella. Dia melakukan itu untuk mencari alasan agar dia bisa berkunjung ke rumah Bella secara langsung.


"Ini kartunya Pak." Ucap Bu Eka meletakkan kartu di atas meja dengan posisi berdiri.


"Hm keluar!" Jawab Marco kasar. Bu Eka mengangguk sebentar kemudian berjalan keluar dengan raut wajah kesal.


Bukan pemilik perusahaan saja jahatnya minta ampun... Astaga... Setelah ini perkerjaanku semakin menumpuk karena permintaan Pak Marco yang aneh-aneh.. Umpat Bu Eka dalam hati.


Sepulangnya Bella dari perusahaan, Marco menyuruh Bu Eka segera mengurus kartu untuk Bella dan harus selesai saat itu juga. Bu Eka sudah menolak karena banyaknya perkerjaan, namun Marco malah marah dan sempat menamparnya.


Tentu Bu Eka merasa kesal. Dia selalu disiplin dalam berkerja dan tidak hanya sekedar beralasan. Bu Eka memang lebih mendahulukan berkas penting perusahaan daripada hanya mengurus kartu yang seharusnya bisa di tunda.


Namun karena


perintah Marco, Bu Eka tidak berani berprotes meski nantinya dia harus kewalahan sendiri dengan perkerjaan yang amburadul seperti sekarang.


Bisa-bisa perusahaan ini bangkrut jika Marco selalu saja mementingkan dirinya sendiri. Aku harap Pak Daniel segera kembali..


Marco beranjak pergi dan berniat ke rumah Bella untuk mengantarkan kartu asuransi tersebut. Informasi yang tidak akurat, membuat Marco tidak tahu jika saat ini Bella dan Daniel sedang tidak ada di tempat.


Dengan percaya diri, Marco memarkir mobilnya di bahu jalan depan rumah Daniel. Dia membuka pagar berkarat itu lalu berjalan dan berhenti di depan pintu rumah.


Tangannya terangkat dan mulai mengetuk, namun tidak ada jawaban sehingga Marco mengetuknya lagi dan lagi.


"Permisi.." Ucapnya setengah berteriak. Marco mencoba melihat ke dalam rumah dari pintu jendela dan mendapati rumah terlihat kosong." Kata Jim Bella ada di rumah." Gumamnya merogoh ponselnya untuk menghubungi Jim.


"Halo Tuan.


"Kau di mana?


"Di depan rumah Bella.


Jim kembali mengirimkan foto rumah Bella lagi yang memang sudah di persiapkan nya untuk mengelabuhi Marco.


Aku bahkan di rumah Bella. Tapi di foto itu tidak ada aku! Apa dia sedang mempermainkanku!!


"Hm lanjutkan.


Marco menutup teleponnya begitu saja. Dia tidak menegur Jim langsung karena ingin tahu tentang alasan Jim membohonginya.


"Belum apa-apa dia sudah berkhianat!!" Umpatnya melangkah keluar pekarangan rumah Daniel. Baru saja dia membuka pintu mobilnya, Pak Ahmad yang kebetulan lewat menyapa Marco ramah.


"Cari Pak Daniel?" Marco melebarkan matanya mendengar itu. Dia kembali mengingat pertemuannya dengan orang yang di anggapnya sebagai tetangga Bella tadi pagi.


"Iya. Em Pak Daniel kemana ya Pak?" Tanya Marco ramah.


"Jika mobilnya tidak ada, mungkin saja keluar. Ada keperluan penting Pak? Nanti saya sampaikan."


"Tidak Pak. Saya kebetulan lewat dan ingin mampir tapi ternyata Pak Daniel tidak ada." Pak Ahmad yang sudah berjanji merahasiakan pernikahan Daniel dan Bella. Membuatnya tidak membicarakan itu sehingga Marco menyangka jika Bella hanya tinggal bersama Daniel sebagai tetangga saja." Baik saya permisi." Marco tersenyum ramah kemudian masuk mobil dengan raut wajah bertanya-tanya.


Apa mungkin itu Daniel!! Bukankah dia amnesia? Kakinya bahkan patah. Tapi lelaki yang bersama Bella terlihat baik-baik saja meski postur tubuh mereka sama..


Ada ketakutan terpancar dari raut wajah Marco. Jika benar itu Daniel, bisa saja harta yang di milikinya saat ini akan kembali Daniel rebut. Tapi setelah memikirkan pertemuannya dengan Bella tadi, membuat Marco merasa tidak yakin jika itu Daniel.


Aku harus menyuruh orang memeriksa Daniel ke rumah Pak Salim..


***************


"Ahh kenapa memakai namaku." Ucap Bella tersenyum melihat label produk Daniel yang siap di pasarkan.


"Aku ingin saja sayang. Mungkin saja laku keras setelah ini."


"Aku tidak percaya kamu melakukannya Kak." Lucas ikut tersenyum melihat raut wajah bahagia Bella.


"Jadi semua mesin sudah berproduksi?"


"Iya Tuan. Tidak ada kendala sehingga saya sudah mencoba memasarkan produk ke berbagai konsumen." Daniel mengangguk-angguk dan tersebut melihat tumpukan produk siap jual.


"Terimakasih bantuannya."


"Sama-sama Tuan. Senang bisa membantu." Daniel beralih menatap Bella.


"Kita pulang sayang. Sekalian makan siang." Ajak Daniel tidak ingin Bella sakit karena debu di gudang itu sangat banyak.


"Nanti saja Kak. Aku mau di sini." Jawab Bella seraya melihat para pekerja dari jendela ruangan.


"Kelihatannya senang sekali." Daniel berdiri tepat di samping Bella.


"Aku senang untukmu Kak." Bella meraih lengan kekar itu dan memegangnya erat.


"Bukan untukku saja. Kamu juga akan senang jika perusahaan ini bisa berkembang nantinya."


"Harus yakin berhasil."


"Iya sayang." Meski Daniel berkata itu, terbesit ketidakyakinan pada perusahaan yang baru berjalan dua hari. Namun kembali lagi, dia tidak ingin menyerah, dia ingin terus berusaha karena sudah memiliki tanggung jawab membahagiakan seseorang, yaitu Bella


**************


Kebohongan Jim membuat Marco memutuskan untuk berangkat langsung pergi ke rumah Pak Salim. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Pak Salim tinggal seorang diri.

__ADS_1


Untuk memastikan itu, Marco bertanya pada para tetangga dan mendapatkan info yang sungguh mencengangkan.


Pak Salim tidak pernah membawa Daniel ke rumah tersebut. Pak Salim selalu tinggal sendiri. Para tetangga bahkan tidak tahu tentang insiden kecelakaan yang menimpa Daniel dua Minggu lalu.


Apa itu benar-benar Daniel? Lalu kemana Jim pergi sehingga dia memberikan informasi palsu padaku?


Jim sendiri tengah mandi keringat bersama Fanny di apartemen pribadinya. Keduanya masih asyik bercumbu meski sudah beberapa kali mendapatkan pelepasannya.


"Dia tidak setakut yang ku bayangkan. Bagaimana ini? Aku ingin cepat menguasai harta itu." Tutur Fanny seraya memakai baju dalamnya.


"Curi saja. Setelah itu balikkan nama menjadi namamu?" Jim bahkan sudah menganggap Fanny sebagai kekasihnya, bukan kekasih dari Marco.


"Menyusahkan sekali! Seharusnya dia bisa mempercayakan perkerjaannya padamu. Orang itu begitu takut di hianati! Dia berkaca pada kejadian Daniel sehingga dia tidak ingin di bantu siapapun!!"


"Maka dari itu, sebaiknya kamu yang bergerak." Jawab Jim membelai pipi Fanny lalu menciumnya.


"Nanti kamu seperti Marco, jika aku berhasil merebut harta itu."


"Aku Jim bukan Marco." Fanny membalas ciuman sehingga hasrat keduanya kembali memanas.


Bukan hanya harta yang ingin Fanny raih, tapi kepuasan juga. Marco sudah menulari kegilaan soal *#** dan itu membuat Fanny menjadi gila ketika sedang bercinta seperti sekarang.


**************


Di tengah acara makan siang, ponsel Daniel bergetar. Dia mengambilnya lalu melihat nama Lisa tertulis di layar ponsel tersebut.


"Untukmu sayang." Daniel mengambil tisu lalu membersihkan tangan Bella yang kotor.


"Siapa?"


"Lisa." Karena terlalu lama tidak di jawab sehingga panggilan berhenti sendiri." Bersihkan dulu." Daniel meletakkan ponselnya dan kembali membersihkan tangan Bella yang penuh dengan minyak karena saat ini dia tengah makan dengan tangannya.


Ponsel kembali bergetar, Bella mengambil ponsel Daniel dan menerima panggilan.


"Halo Kak.


"Boleh aku mampir sepulang kerja?


"Ke pusaran Kak Bas?


"Hm iya.


"Oke Kak mampir saja. Aku tinggal di sebelah rumahku dulu.


"Aku tidak tahu letak rumahmu Bella. Bastian tidak pernah memberitahuku. Kamu shareloc saja daripada aku harus bertanya pada teman-temanku.


"Oke Kak. Nanti kalau tiba di rumah aku shareloc. Aku sekarang masih ada di luar.


"Iya baik. Aku juga pulang pukul empat.


"Hm


"Sampai jumpai nanti.


Bella meletakan ponselnya lalu kembali makan.


"Kak Lisa akan ke rumah sore nanti sepulang kerja." Kata Bella menjelaskan.


"Aku harus menyamar lagi?"


"Iya Kak. Paling hanya satu kali, dia hanya ingin ke pusaran Kak Bastian." Daniel mengangguk-angguk seraya memperhatikan wajah polos bela yang tidak tahu menahu jika Lisa sudah memanfaatkannya. Daniel bahkan tahu, bagaimana bahasa tubuh Lisa yang seolah sedang merayunya.


Bahasa yang sama seperti Fanny saat awal dia menjeratku.. Banyak sekali wanita munafik dan aku bersyukur sudah memiliki gadis polos ini.. Lisa akan membantuku memberikan pelajaran prifasi tentang rasa cemburu..


"Rasanya aneh ya Kak."


"Makanannya?"


"Bukan. Tapi Kak Lisa." Daniel tersenyum seraya menguyah.


"Apa yang aneh?"


"Kak Bastian tidak pernah bercerita jika dia memiliki pacar. Setahuku dia sudah tidak berpacaran selama dua tahun sejak meninggalnya Mama." Jawab Bella melontarkan rasa curiganya.


"Mungkin Bastian tidak bercerita padamu, jadi dia tidak tahu."


"Kak Bastian lebih sering di rumah daripada keluar. Ponselnya bahkan sepi sekali. Jika ada telfon selalu dari teman lelakinya."


"Anggap saja hanya mengaku sayang, jangan fikirkan. Bukankah dia akan ke pusaran Bastian saja, bukan untuk merayuku." Bella menoleh cepat membalas tatapan manik Daniel.


"Merayumu.." Gumam Bella baru memikirkan itu.


Bella memikirkan ucapan Daniel terus-menerus hingga mobil Lisa terparkir di pekarangan rumah. Daniel berpura-pura menatap fokus ke arah Lisa yang sudah keluar dari mobil dengan penampilan dewasanya.


Bella mendongak ke atas, dia begitu kesal melihat Daniel yang tengah melihat ke arah Lisa berlama-lama. Hingga sebuah cubitan cukup keras Bella hadiahkan pada perut samping Daniel.


"Ahhh sakit sayang." Ucap Daniel setengah berteriak sembari memegang perut sampingnya.


"Lebih baik Kak Daniel masuk saja dan jangan memanggilku sayang." Jawab Bella berbisik.


"Kenapa masuk?"


"Dia tamuku Kak."


"Hm baiklah." Daniel akan melangkah masuk namun suara Lisa menyapanya.


"Hai Dimas, hai Bella." Daniel mengurungkan niatnya untuk masuk dan membalas sapaan Lisa dengan senyuman. Bella meliriknya malas dengan hembusan nafas berat keluar dari lubang hidungnya.

__ADS_1


Kak Daniel genit sekali sih!!


~Riane


__ADS_2