
Dugh!
Punggung Bella membentur daun pintu dengan lembut saat Daniel mendekatkan wajahnya. Bella merasa jika wajahnya sangat konyol sekarang. Rasa gugup dan malu bercampur aduk hingga membuat detak jantungnya berpacu cepat.
"Kenapa kamu selalu saja mundur seperti itu sayang?" Tanya Daniel tersenyum, menatap Bella yang tertunduk, dengan kedua tangan di silangkan di depan dada.
"Aku tidak mengerti, Kak Daniel sedang apa sih." Protes Bella merasa terpojok.
"Tatap aku jika memang kamu tidak memiliki perasaan."
"Bukankah itu wajar. Kita baru saja bertemu satu minggu lalu." Jawab Bella pelan.
"Aku merasa kamu memilikinya sejak aku menyentuh bibirmu itu." Daniel menyentuh bibir merah Bella dengan ujung telunjuknya, lalu turun hingga ke dagu dan mengangkatnya sedikit, sehingga memaksa Bella untuk menegakkan pandangannya.
Manik keduanya bertemu dan saling menatap hangat. Senyum Daniel membingkai melihat itu, membaca apa yang ada di dalam mata Bella yang seolah berkata menginginkannya.
"Tidak..."
"Katakan iya sayang.." Sahut Daniel menyela ucapan Bella." Aku tidak sedang merayu. Aku benar-benar tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Aku memikirkanmu sepanjang waktu sejak pertama kita bertemu. Tapi aku sungguh ragu mengungkapkannya, aku merasa tidak pantas dan takut kamu menolak perasaanku. Namun sekarang..." Daniel mendekatkan wajahnya, membuka sedikit bibirnya dan menempelkannya pada bibir Bella.
Dia ingin mencari jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan bukan dari lisan Bella, namun caranya membalas sentuhannya sekarang.
Manik Bella berubah sayu, membalas tatapan manik Daniel yang menghipnotis. Perlahan, kedua tangannya turun. Sehingga Daniel mendorong sedikit tubuhnya rapat tanpa celah.
Bibir Bella terbuka dengan nafas berat berhembus saat Daniel mulai memperdalam ciumannya. Tangan Bella terangkat dan menggalung erat pada lehernya lalu menekannya kuat.
Bella lupa diri dan menginginkan Daniel menyentuhnya sekarang. Fikiran untuk melanjutkan sekolah meluntur karena menginginkan sentuhan yang lebih dari ini.
"Kak.. Kenapa berhenti.." Protes Bella saat Daniel mengangkat kepalanya dari wajahnya.
"Kita berpacaran. Oke." Jawab Daniel membuat Bella mengerutkan keningnya.
"Berpacaran apa? Bukankah kita sudah menikah?" Kalungan tangan Bella masih tidak terlepas karena Bella tidak berniat melepaskannya.
"Hm menikah. Tapi sentuhannya sebatas berpacaran, kamu harus lulus kuliah lalu beri aku anak." Bella melebarkan matanya mendengar itu.
"Kak Daniel mempermainkan aku!" Dengus Bella melepaskan kalungan tangannya dan membuang muka.
"Kita tidak sedang bermain-main, kita sepasang suami istri."
"Lalu untuk apa Kak Daniel melakukan itu tadi jika bukan ingin mempermainkan." Tubuhku rasanya sangat panas.. Astaga Tuhan, aku sedang berkata apa sekarang!!!
"Untuk mengetahui perasaan masing-masing."
"Hm ya sudah. Singkirkan tangan Kak Daniel." Jawab Bella lirih. Bukankah seharusnya memang berpacaran dulu.. Memalukan sekali!
"Marah?" Bella menggeleng pelan seraya kembali menunduk.
"Sudah mendapatkan jawaban yang Kak Daniel cari?"
"Tentu saja sudah." Tangan Daniel kembali terangkat lalu mengusap sekitaran bibir Bella yang basah." Kita hanya boleh berciuman, tidak boleh lebih dari itu." Imbuhnya memperlihatkan senyuman khasnya.
__ADS_1
"Aku tidak meminta lebih." Bella menyingkirkan tangan Daniel lalu berjalan melewatinya dengan wajah merah padam.
Daniel memutar tubuhnya, memperhatikan Bella dari belakang seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Benar saja, langkah Bella berhenti tepat di ruang tengah rumah tersebut.
Rumah ini masih menyeramkan untukku.. Aku sudah tidak memiliki wajah...
Perlahan, Bella memutar tubuhnya lalu kembali melangkah menghampiri Daniel yang masih berdiri di tempat yang sama. Beberapa menit berjalan, tidak ada ucapan apapun. Bella tertunduk sementara Daniel tersenyum menatapnya.
"Kak Daniel ish..." Eluh Bella bergumam.
"Kenapa? Katakan?" Tanya Daniel pura-pura tidak paham dengan maksud Bella.
"Serius Kak Daniel tidak tahu?" Bella menegakkan pandangannya dan Daniel masih dengan senyum yang sama." Ya sudah." Runtuk Bella kembali membalikkan badannya bukan karena kesal. Dia takut hatinya tidak kuat menerima perlakuan itu.
"Sudah apa?" Secepat kilat, kedua tangan Daniel sudah menggalung lembut di leher Bella dan menempelkan punggung Bella pada dadanya.
"Sudah hentikan." Kedua tangan Bella ikut terangkat, berpura-pura ingin melepaskan kalungan tangan Daniel dari lehernya.
"Bagaimana mungkin bisa berhenti sayang." Tolak Daniel memejamkan mata dan menghirup aroma rambut Bella kuat.
"Mana mungkin aku bisa memasak jika begini."
"Hm aku lapar." Terdengar hembusan nafas berat sehingga membuat Daniel terkekeh. Dia baru menyadari jika ini sangat menyenangkan.
"Oke. Terserah saja."
"Kita berpacaran." Ucap Daniel lagi.
"Iya tahu. Akui aku sebagai pacarmu jika berada di sekeliling teman-temanmu." Bella terdiam. Permintaan itu rasanya berat karena Bella sangat anti pada pacaran.
"Aku tidak pernah berpacaran sejak dulu."
"Kemarin kita menikah dan hari ini kita jadian." Ucap Daniel asal. Ada perasaan cemburu yang masih terasa setelah kedatangannya di sekolah tadi. Rasanya sungguh tidak rela jika besok Bella sudah mulai bersekolah lalu bertemu dengan teman lelakinya terutama Kenan.
"Kak Daniel seperti anak kecil saja."
"Ini masalah perasaan sayang. Hm bagaimana?"
"Iya. Jika ada yang bertanya, jika tidak aku diam saja."
"Oke. Deal." Daniel melepaskan kalungannya lalu memutar tubuh Bella agar menghadap ke arahnya." Terimakasih." Kepalanya menunduk, lalu mulai memberikan ciuman pada kening, dua pipi dan kecupan singkat pada bibir." Masakkan sesuatu untukku istriku..." Imbuhnya tersenyum.
"Hm antarkan."
"Iya ayo.." Daniel merangkul kedua pundak Bella lalu menggiringnya ke dalam.
"Aku mau berganti baju dulu, tapi tunggu di luar dan jangan mengintip."
"Lakukan." Daniel membukakan pintu kamar untuk Bella.
"Tetap di situ Kak, jangan meninggalkan aku."
__ADS_1
"Hm siap." Bella melangkah perlahan masuk ke kamar yang menurutnya terlihat paling menyeramkan dari ruangan lainnya.
Berganti baju dan keluar... Saat sampai di ambang pintu, nyali Bella menciut. Dia benar-benar merasa takut dengan hal yang berhubungan dengan mistis atau tempat seram. Bella sampai rela tidak membuka jendela kamarnya dulu, hanya ingin menghindari ketakutannya akan rumah yang saat ini di tempati.
"Masih tidak berani?" Daniel melangkah maju dan mengiring Bella masuk." Ganti bajumu. Aku tidak akan melihat." Daniel menutup pintu lalu dia sendiri menghadap lurus ke pintu." Ayo cepat sayang.." Tutur Daniel seraya tersenyum.
"Sebentar Kak." Sambil terus melihat ke arah Daniel, Bella menanggalkan bajunya sekarang." Belum! Jangan menoleh!!" Teriak Bella takut jika Daniel menoleh.
"Bukankah seharusnya aku boleh melihatnya?"
"Katanya pacaran!!" Bella masih sangat malu jika harus memperlihatkan tubuh polosnya.
"Oh iya lupa hehe."
"Sudah." Daniel membalikkan badannya dan melihat Bella sudah berganti baju terusan pendek. Memang terlihat cantik, namun Daniel tidak yakin itu akan nyaman.
"Bagaimana rasanya.." Daniel menyentuh ujung baju pada lengan Bella dan mengusapnya." Apakah nyaman sayang?" Imbuhnya memastikan.
"Nyaman kok." Jawab Bella beralasan. Padahal yang di rasakan memang sedikit tidak nyaman karena tekstur kain yang kasar." Ayo Kak, aku sudah lapar." Bella memegang lengan Daniel dan mengiringinya keluar. Aku bahkan sudah tidak berganti bra dan celana sejak kemarin... Aku malu jika harus membeli itu tadi.
****************
"Ken..." Teriak Sisca menghentikan langkah Kenan yang akan masuk ke dalam mobil.
"Apa?"
"Kita perlu bicara." Sisca masih tidak bisa menerima keputusan Kenan yang ingin mengakhiri hubungannya tempo hari.
"Bicara apa? Bukankah sudah jelas jika aku mempermainkan mu kemarin."
"Itu karena Bella sudah mempengaruhi mu!" Jawab Sisca ketus.
"Aku mengenal Bella lebih dulu daripada kamu. Tidak ada yang di pengaruhi di sini. Aku menyukai Bella bukan dirimu." Kenan tersenyum tipis, kemudian masuk mobil dan pergi meninggalkan Sisca yang semakin geram dengan Bella.
"Lihat saja! Jika kau masuk kembali besok, aku akan membuatmu menyesal sudah merebut Kenan dariku!!!"
"Omong kosong." Sahut Samuel tidak sengaja mendengar obrolan antara Kenan dan Sisca.
"Omong kosong apa maksudmu?"
"Kenapa kamu tidak juga sadar Sisca. Ini semua bukan salah Bella, tapi karena sifat gilamu sendiri." Meskipun Samuel tahu jika Bella memiliki pacar saat pertemuannya bersama Bastian dulu. Namun, emosinya tergelitik karena kegilaan Sisca yang tidak beralasan.
"Terserah jika kau mau membela dia. Aku sudah tidak menyukaimu sialan!!!" Sisca mendorong pundak Samuel lalu pergi melewatinya.
"Cantik tapi sedikit gila. Lebih baik aku memiliki pacar berwajah pas-pasan tapi waras. Astaga.. Untung saja aku sudah terlepas darinya.." Gumam Samuel berjalan menuju motornya yang terparkir tidak jauh dari sana.
Sementara di supermarket cabang milik Kenan. Dia tengah menyuruh karyawannya memasukkan banyak bahan makanan ke dalam mobil.
Kenan berniat memberikan bahan makanan tersebut pada Bella sebagai wujud rasa perdulinya. Sebuah amplop berisi uang juga sudah dia siapkan di dalam saku celananya.
Aku yakin Bella tidak akan menolak bantuan ku.. Dia akan membutuhkannya.. Haha itu pasti...
__ADS_1
~Riane