
"Siapa tadi sayang?" Tanya Daniel saat sudah berada di mobil.
"Yang pasti bukan teman. Temanku hanya Sari dan Erin." Jawab Bella tegas." Kenapa? Mereka cantik ya?" Bella memutar tubuhnya menghadap ke arah Daniel yang mulai melajukan mobilnya.
Bella menyadari jika dia tidak pintar bersolek seperti Sisca dan Elena. Selain Bastian tidak menyediakan uang, Bella juga tidak menyukai hal seperti itu. Dia tidak mau repot dengan perawatan yang pasti akan membutuhkan ketelatenan dan waktu banyak.
"Cantik?" Daniel menoleh sejenak dan memperlihatkan senyum khasnya.
Rasanya kenapa kesal! Saat dia menyebut Sisca cantik!
"Itu karena mereka pintar merawat diri, tidak sepertiku." Bella duduk tegak seraya memasang wajah malas.
"Ku fikir bukan temanmu sayang." Bella kembali menoleh dan mengerutkan keningnya.
"Bukan teman?"
"Hm ya." Daniel tersenyum seraya mengangguk." Terlalu tidak alami untuk dandanan anak sekolah. Mereka terlihat mirip tante-tante daripada anak sekolah." Bella bernafas lega mendengar komentar yang di lontarkan Daniel padanya.
"Tapi mereka populer di sekolah hanya saja, suka membully. Aku tidak suka." Tutur Bella menimpali.
"Jadi, mereka yang membully kamu dulu." Bella menoleh cepat ketika mengingat kejadian itu.
"Aku melupakan itu. Astaga... Aku akan mencari pelakunya besok."
"Tidak sayang!" Sahut Daniel.
"Kenapa tidak?"
"Aku tidak ingin kamu terlibat perkelahian. Tidak baik seorang gadis bertengkar."
"Tapi Kak.."
"Tidak ada tapi untuk istriku yang manis." Daniel kembali membuat wajah Bella memerah." Jika ada kejadian seperti itu, bilang padaku biar ku urus. Aku tidak ingin tangan kecilmu ikut bertindak." Daniel meraih jemari Bella dan menggenggamnya.
Sangat mirip Kak Bas.. Tapi rasanya lebih berdebar saat Kak Daniel yang mengucapkan. Bella menarik nafas panjang saat mengingat dugaan buruknya pada Bastian yang selalu mengatur hidupnya. Aku selalu menyebutnya menyebalkan. Nyatanya, dia ingin melindungi aku.. Bella membuang muka, tiba-tiba saja hatinya terasa sesak. Tidak dapat di pungkiri jika dia merindukan Bastian yang tidak mungkin lagi bisa di temui.
"Apa yang terjadi?" Tanya Daniel menyadari jika Bella mulai terisak.
"Perkataanmu selalu saja sama dengan apa yang di katakan Kak Bas dulu. Menyebalkan sekali!" Bella mengusap kasar air matanya." Bukankah seharusnya aku tidak berfikir macam-macam tentangnya Kak. Aku selalu menebak-nebak sesuatu yang buruk tentangnya tapi, hiks hiks.. Aku tidak bisa lagi bertemu dengannya." Tangan Daniel beralih mengusap kepala Bella lalu menekannya agar bersandar pada pundaknya.
"Itu untuk pembelajaran. Tidak semua hal bisa kita nilai di satu sisi sebab kita tidak mengerti isi hati seseorang. Terkadang, apa yang kita lihat buruk tetapi ternyata memiliki arti baik seperti peraturan yang Bastian terapkan padamu." Bella tidak bergeming dan membenarkan itu." Sudahlah sayang. Ada aku, menyesal boleh tapi jangan menangis." Terdengar suara perut Bella membuat Daniel terkekeh sehingga Bella langsung mengangkat kepalanya dari pundak Daniel.
"Lapar Kak."
"Iya. Aku mendengarnya, kita beli apa?"
Ayam krispi.. Aku rindu ayam yang sering di bawa Kak Bas..
"Aku masakan saja Kak." Jawab Bella mengucapkannya dengan separuh hati.
"Hm masakan sesuatu untukku, lalu kamu mau makan apa?"
"Ya masakanku." Ucap Bella pelan.
"Kita beli ayam krispi ya."
"Tidak Kak."
"Itu berarti iya."
Terlalu mahal untuk satu kali makan.. Eluh Bella dalam hati. Namun dia menangkap sesuatu yang membuatnya tersenyum.
"Beli itu saja." Menunjuk ke sebuah gerobak ayam krispi jalanan. Walaupun mungkin rasanya tidak enak tapi ya sudah. Lebih hemat..
"Serius? Mau itu?"
"Iya Kak."
"Hm.." Daniel membelokkan mobilnya karena kebetulan jalanan tidak seberapa ramai. Mobilnya tepat berhenti di samping gerobak tersebut.
"Beli.." Ucap Bella setengah berteriak.
"Iya sebentar Non." Jawab Ibu setengah baya keluar dari warung kecil yang berada tepat di belakang gerobak.
"Kamu mau Kak?" Tanya Bella.
"Boleh juga." Jawab Daniel cepat. Dia ingin Bella langsung istirahat nanti.
"Tinggal ini saja Non. Maklum sudah malam." Bella melihat harga menu yang di tawarkan jauh di bawa resto.
"Saya ambil semua Bu. Boleh Kak?" Bella mendongak menatap Daniel yang langsung mengangguk.
"Duhhh jadi bisa langsung pulang." Senyum keriput di perlihatkan, Ibu penjual segera mengemas pesanan Bella." Semuanya 30 ribu Non." Ucapnya menyodorkan pesanan. Daniel mengambilnya lalu memberikannya uang pecahan 50 ribu." Sebentar kembaliannya."
"Tidak perlu Bu. Terimakasih." Sahut Daniel cepat.
"Permisi.."
"Terimakasih Non, Tuan." Bella dan Daniel kembali masuk ke dalam mobil.
"Kenapa tidak pakai nasi sayang?"
"Penjual seperti itu terkadang tidak menyediakan nasi Kak." Bella menghirup kuat aroma ayam krispi seraya tersenyum.
"Bahagia sekali."
"Ini makanan kesukaanku. Semoga saja enak agar bisa berlangganan."
"Aku tidak yakin saat melihat harganya sayang." Bella membuka bungkusan dan memakannya sedikit.
Matanya melebar, merasakan ayam krispi terasa menggoyang lidahnya. Tangannya kembali mengambil secuil ayam lalu memasukkan pada mulut Daniel tanpa aba-aba, sehingga membuat Daniel sedikit kaget.
"Bukankah enak Kak." Tanya Bella antusias.
__ADS_1
"Hmm iya. Tidak kalah dengan ayam krispi yang di jual di restoran." Daniel mengangguk-angguk dan mengakui jika ayam krispi itu enak.
***********
"Menyusahkan sekali!!"
Tak!!!
Marco meletakkan ponselnya kasar setelah mendapatkan telfon dari salah satu relasinya yang mengutarakan jika dia hanya ingin di temui oleh Daniel.
"Ada apa sih?" Sahut Fanny menatap fokus pada layar ponselnya sebab kini dia tengah berkirim pesan mesrah dengan Jim.
"Relasi sialan!! Dia membatalkan kerja sama hanya karena tidak bisa bertemu Daniel!!"
"Biarkan saja. Masih ada yang lain."
"Kau tahu apa!! Tendernya sangat besar! Kita bisa untung besar jika bisa memenangkan tender itu!!"
"Kenapa kau marah denganku? Meskipun besar, jika dia tidak ingin kau tangani. Memangnya bisa?" Ucap Fanny beranjak dari tempatnya.
Marco menoleh cepat dengan tatapan mata tajam, melihat ke Fanny yang sudah memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Mau kemana?"
"Pulang!"
Memang lebih baik dia pulang saja!
"Hm hati-hati."
"Kau semakin terlihat mirip Daniel! Lelaki tidak normal itu!" Umpat Fanny kesal. Dia tidak menyukai sikap Marco yang sekarang mulai acuh dengannya.
"Perkerjaanku banyak. Bukankah sudah wajar jika aku kelelahan."
"Kenapa tidak kau suruh seseorang membantumu agar perkerjaanmu ringan." Marco tersenyum tipis.
"Apa ada orang yang bisa di percaya? Aku tidak mau berakhir seperti Daniel, bodoh sekali haha." Marco mengingat saat dia menipu Daniel dengan mudahnya, karena Daniel memang tidak pernah berfikiran macam-macam pada siapapun.
"Daripada kau sibuk seperti ini dan tidak ada waktu buat aku."
"Asal kau bisa berbelanja bukankah itu tidak jadi masalah."
"Aku tidak hanya membutuhkan uang!!!" Terdengar dengusan keluar dari bibir Marco.
"Dan aku tidak ingin kehilangan dengan apa yang sudah ku raih!!" Marco menunjuk Fanny dengan kasar." Pergi dan pulanglah daripada kau semakin membuat aku pusing!!" Fanny menatap Marco tajam lalu berjalan keluar kamar.
Langkahnya di percepat ketika dia sudah melihat Jim tengah berdiri menunggu di samping mobil.
"Masuk langsung." Pinta Fanny. Jim masuk di ikuti oleh Fanny dan mobil pun melaju." Sikap Marco semakin tidak bersahabat denganku!!" Umpat Fanny.
"Kenapa memangnya?"
"Sudah ku katakan jika beberapa hari ini dia mengacuhkan aku. Jika tahu begini, dulu aku akan meminta Marco membuat surat kuasa agar dia tidak semena-mena seperti sekarang." Jim mengangguk-angguk seraya tersenyum tipis.
"Dia serakah! Dia tidak mau melakukan itu dan mengabaikan aku! Padahal aku membantunya untuk mencapai semuanya!!"
Tiba-tiba saja Fanny tersenyum, saat terlintas sebuah niat jahat.
"Bagaimana jika kita merebut hartanya sayang." Ucap Fanny penuh antusias.
"Aku tidak sedekat itu dengan Tuan Marco."
"Cobalah untuk dekat. Jika berhasil, saham kita bagi berdua juga semua harta Daniel termasuk rumah dan properti." Jim tersenyum tipis mendengar itu." Kau setuju?" Imbuh Fanny mengulang. Jim mengangguk sehingga membuat Fanny tertawa renyah. Keduanya mulai merencanakan sesuatu untuk Marco seperti apa yang di lakukan Fanny pada Daniel dulu.
***********
"Apa Kak Bastian beli di sana? Rasanya sedap sekali." Gumam Bella seraya makan dengan lahap.
"Hm mungkin saja. Bagaimana dengan punggungmu?" Tangan Daniel meraih obat yang ada pada kantung plastik lalu mengeluarkan isinya." Ada krimnya juga sayang. Ini harus di oles." Imbuh Daniel fokus membaca label obat.
"Di oles?" Tanya Bella mengulang.
"Iya sayang. Jika tidak bisa melakukannya, biar aku yang membantu." Mata Bella membulat seraya menelan makanannya kasar.
"Aku bisa Kak."
"Hm begitu." Daniel kembali memasukkan obat ke dalam kantung plastik setelah mengambilnya satu butir." Setelah makan, minum ini agar cepat sembuh." Daniel memperlihatkan obat di telapak tangannya tanpa tahu jika Bella mulai menegang karena tawarannya.
Di oles Kak Daniel? Astaga Tuhan? Kenapa dokter itu tidak memberikan obat untuk di minum saja..
Bella memakan suapan terakhir, dia membungkus lagi ayam krispi untuk di makan besok.
"Kenapa tidak di habiskan?" Tanya Daniel tidak merasa peka dengan perkataan yang membuat Bella menegang. Itu karena, Daniel memang tidak berniat macam-macam seperti apa yang Bella fikirkan sekarang.
"Untuk besok Kak."
"Memangnya enak?"
"Enak. Di simpan di kulkas dan besoknya di hangatkan." Bella berdiri lalu menaruh ayam krispi di kulkas, sementara Daniel membereskan piring kotor untuk di cuci." Biar aku saja." Ucap Bella menawarkan.
"Tidak sayang. Tunggu di sana setelah ini kita tidur. Obatnya ku letakkan di atas tisu." Bella tersenyum aneh lalu berjalan perlahan ke meja makan. Matanya melirik ke arah Daniel yang tengah mencuci seraya menelan obat yang sudah Daniel sediakan." Sudah? Cuci kaki, gosok gigi dan tidur." Tangannya merangkul kedua pundak Bella untuk mengantarkannya ke kamar mandi.
Setelah selesai, Daniel menggiring Bella ke dalam kamar untuk beristirahat.
"Jika obat oles nya tidak di pakai bagaimana Kak?" Tanya Bella pelan.
"Kalau ingin cepat sembuh harus di pakai sayang. Itu sudah sangat parah, aku takut iritasi nya semakin menyebar." Jawab Daniel duduk di pinggiran tempat tidur sisi lainnya.
Bagaimana aku melakukannya... Bella hanya membolak-balik krim yang ada di tangannya.
"Biar ku bantu. Itu akan sulit." Bella menoleh cepat dengan raut wajah memerah.
"Tidak perlu!" Jawab Bella cepat.
__ADS_1
"Malu?"
"Tentu saja! Bagaimana mungkin tidak malu." Celetuk Bella melirik malas.
"Maka dari itu biasakanlah agar tidak malu. Meskipun kamu masih ingin sekolah, aku ini suamimu sayang. Awalnya akan malu nanti pasti terbiasa." Daniel meraih krim membuat Bella berdiri cepat.
"Apa maksudmu dengan terbiasa?" Tanya Bella panik. Daniel tersenyum simpul menatap wajah tegang Bella sekarang.
"Apa kamu pernah malu saat bersama Bastian?" Jawab Daniel balik bertanya. Bella menggeleng pelan." Aku ingin kamu menganggap aku seperti itu. Tidak ada jarak, seperti saudara meski memang kita bukan saudara." Tutur Daniel memberikan pengertian pada Bella.
"Katanya pacar, sekarang saudara? Mana yang benar Kak?" Protes Bella masih tidak memahami tentang maksud Daniel.
"Hehe.. Semuanya benar, kamu harus menganggap aku teman, pacar, saudara, kekasih dan suami."
"Ah tidak! Tetap saja kau lelaki. Aku malu."
"Bagaimana jika aku melakukan dengan memejamkan mata." Tawar Daniel benar-benar berniat baik. Dia ingin Bella cepat sembuh karena merasa kasihan dengan bercak merah di punggungnya.
"Aku tidak bisa di bodohi.." Daniel terkekeh, gadis di hadapannya ternyata sulit di rajuk.
"Mana mungkin aku membodohi istriku sendiri."
"Bisa saja nanti Kak Daniel mengintip."
"Aku tidak suka mengintip, aku lebih suka melihat. Aku berjanji akan memejamkan mata. Emm... Kita lakukan di depan cermin lemari agar kamu bisa melihat jika aku menutup mata. Bagaimana?" Bella terdiam sejenak, merasakan punggungnya yang memang terasa gatal meski dia tidak berani untuk menggaruk terlalu lama.
"Janji." Daniel menurunkan kedua kakinya dan kini keduanya sejajar sebab Daniel tengah duduk di pinggiran tempat tidur.
"Janji." Daniel mengeluarkan kelingkingnya dan dengan ragu, Bella menyambutnya.
Menyenangkan sekali.. Astaga.. Rasanya aku kembali muda..
"Oke kita lakukan lalu tidur." Daniel berdiri dan meraih pundak Bella, dia mengiringinya tepat di depan kaca lemari." Kita mulai." Setelah membuka penutup krim, Daniel memejamkan mata." Angkat bajumu sayang." Pinta Daniel.
Bella menarik nafas panjang, menatap Daniel yang sudah memejamkan mata. Perlahan, tangannya meraih ujung dress dan mengangkatnya.
"Sudah?"
"Belum Kak." Bella fokus melihat Daniel yang tengah menunggunya.
Tak!!!
Pengait bra di lepas, Bella menahan dadanya dengan lengannya dan memegang dress-nya erat.
"Sudah.." Tutur Bella pelan.
"Maaf sayang.." Daniel menyentuh punggung Bella dengan ujung jarinya agar tidak salah mengoleskannya.
Kak Daniel tampan sekali.. Puji Bella dalam hati, melihat dan merasakan Daniel yang tengah berdiri tepat di belakangnya.
Daniel mulai mengambil krim dengan tiga jarinya lalu mengoleskannya pada punggung halus Bella.
Astaga Tuhan.. Daniel menghembuskan nafas berat merasakan sensasi hatinya yang langsung berkedut ketika menyentuh kulit Bella.
Daniel mempercepat perkerjaannya, dia tidak ingin lupa diri dan membuat kepercayaan Bella runtuh padanya.
"Sudah sayang." Bella cepat-cepat memakai bra dan menurunkan dress-nya.
"Terimakasih Kak."
"Sama-sama, sudah pakai baju?" Tanya Daniel masih memejamkan matanya.
"Sudah." Daniel membuka matanya lalu menutup krim dan meletakkannya di atas lemari.
"Kita tidur oke."
"Hmm.." Bella berjalan mendahului Daniel dan berbaring. Dia semakin yakin jika Daniel akan menjaganya dengan baik setelah kejadian tadi.
Tampan, baik, dan sopan...
Daniel juga berbaring seraya memiringkan tubuhnya menatap Bella yang masih terlihat kaku.
"Besok pulang jam berapa?"
"Setengah satu Kak, tapi kadang sampai jam satu."
"Jangan pulang sendiri, besok aku jemput."
"Teman-temanku juga." Bella menoleh seraya tersenyum.
"Tentu saja." Bella kembali menatap langit-langit kamar." Masih takut?" Bella mengangguk pelan.
"Aku takut dengan hal mistis seperti itu."
"Mau ku peluk?" Bella menoleh lagi dan memasang wajah panik." Hanya peluk, agar tidak takut." Imbuh Daniel.
"Tidak mau! Ish! Kak Daniel semakin kotor saja fikirannya."
Daniel menggeser tubuhnya saat melihat jam ponsel yang menunjukkan pukul setengah sepuluh. Dengan cepat, tangannya mendekap Bella lembut.
"Tidak kotor sayang. Ini sudah malam, aku ingin kamu cepat tidur." Daniel memejamkan matanya namun suara Bella membuatnya kembali membuka mata.
"Kak, jangan tidur dulu." Ucap Bella menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Hooooaaaaammmmm... Aku mengantuk sayang." Goda Daniel berpura-pura mengangkat tangannya dan akan memunggungi Bella.
"Kak! Aku takut." Daniel tersenyum sebab caranya berhasil. Kini tangan Bella meraih lengannya untuk mencegahnya berbalik badan.
"Maka dari itu tidur, besok kamu sekolah bukan." Daniel menelusupkan tangannya ke bawah leher Bella dan mendekapnya.
"Tapi tidak begini." Bella hanya mampu menolak dengan ucapan tanpa mau bertindak. Tidak dapat di pungkiri jika dia menyukai dengan sikap Daniel sekarang.
"Lalu bagaimana, istriku. Katakan?" Bella menarik nafas panjang, menatap sayu ke arah Daniel." Jika takut, di larang berprotes. Diam, lihat mataku, maka kamu akan cepat mendapatkan kantuk mu. Bisa di pahami?" Bella mengangguk pelan, menatap lekat wajah Daniel yang berada di depan matanya.
__ADS_1
~Riane