
"Katamu ingin menyelidikinya sendiri tapi kenapa menyuruhku." Eluh Elena ketika baru saja masuk ke kamar Sisca
"Aku tadi ada kepentingan jadi terpaksa menyuruh mu. Bagaimana?" Elena meletakkan ponselnya yang sedang memperlihatkan rekaman Bella yang ternyata tinggal bersama Daniel." Jadi benar? Mereka bersaudara?" Tanya Sisca memastikan.
"Iya. Mana mungkin tidak bersaudara tapi tinggal di satu atap."
"Astaga. Jadi si handsome itu Kakaknya?" Elena mengangguk pelan. Dia tahu jika Sisca pasti akan menyukai Daniel sementara dia juga menyukainya.
Dia selalu saja membuatku tersingkir.. Serakah! Dulu saja saat aku menyukai Samuel dia juga bilang suka.. Sekarang. Saat aku menyukai Kakak Bella, dia juga suka! Dasar tidak punya harga diri..
Sudah lama Elena memendam perasaan kesalnya pada Sisca. Namun dia tidak dapat melakukan apapun. Ayahnya berpesan padanya untuk menuruti semua perintah Sisca, sebab keluarga Sisca sudah berjasa bagi keluarganya.
"Aku harus mendekati Bella besok agar aku bisa jadi Kakak ipar yang baik." Gumam Sisca mulai merencanakan sesuatu.
"Kau tidak malu melakukan itu. Bukankah kau tidak suka pada Bella." Elena berharap Sisca mengurungkan niatnya dan mencari target lain.
"Demi Abang tampan, tidak apalah hehe."
"Rasanya terlihat aneh jika kau langsung mendekati Bella tanpa sebab."
"Tenang saja. Bukan Fransisca namanya jika tidak memiliki 1000 cara." Elena melirik malas dan memilih makan cemilan di hadapannya.
1000 cara tapi gagal semua dan juga murahan!! Kapan Sisca akan sadar dari sifat murahannya. Aku sudah bosan jika harus selalu berdiri di belakangnya untuk menuruti apapun kemauannya..
*************
"Wah ini lontong sayur Kak. Mama Erin berjualan ini di pasar, Kak Daniel mau?" Tawar Bella membongkar satu persatu rantang yang tersusun.
"Bagaimana tadi?" Tanya Daniel untuk kesekian kalinya. Dia sangat tertarik dengan obrolan yang di bahas Bella bersama temannya.
"Sudah ku katakan membicarakan pelajaran." Bella berbohong, karena selama dua jam mengobrol. Mereka hanya meledek Bella dengan pertanyaan perihal malam pertama.
"Hm begitu." Jawab Daniel yang sebenarnya tahu tentang pembicaraan ketiganya." Lalu pendapat mereka bagaimana sayang?" Daniel duduk sementara Bella menyiapkan lontong sayur.
"Tentu saja terkejut Kak. Setidaknya, mereka tidak perlu percaya gosip itu." Bella meletakkan satu piring lontong sayur ke hadapan Daniel." Pernah coba tidak?" Tanya Bella ingin mengganti topik pembicaraan.
"Aku sudah lupa rasanya. Dulu Mama sering membuatnya." Bella tersenyum kemudian duduk saling berhadapan. Daniel menggeser tempat duduknya sehingga keduanya duduk berjajar.
Ahh jantungku akan kembali berkerja keras jika begini..
"Coba dulu Kak." Untuk menutupi rasa canggungnya, Bella menyuapi Daniel meski tanpa melihat ke arahnya.
"Hmmmmm.. Sedap." Puji Daniel bergumam." Jika di tempat umum, panggil aku Dimas ya." Daniel mulai memakan sajian sederhana di hadapannya.
"Kenapa Kak?"
"Aku tidak mau orang jahat itu menemukanku." Bella mengangguk-angguk mengingat lelaki yang sudah merebut perusahaan milik Daniel.
"Iya. Siapa namanya Kak?"
"Marco sayang. Maaf, tujuanku menikahimu cepat karena alasan itu juga." Bella menoleh dan merasa tertarik dengan pembahasan yang di lontarkan Daniel.
"Jadi Kak Daniel berbohong jika menyukaiku."
"Tidak. Tunggu penjelasan ku dulu." Jawab Daniel menyelah.
"Lalu?" Tanya Bella lirih.
"Sejak awal melihat mu, aku memang sudah tertarik. Sesuai ucapan ku kemarin aku ingin mengutarakan perasaanku tapi, aku merasa tahu diri akan umurku." Bella kembali menyendok makanannya dan memasukkannya pelan ke dalam mulutnya." Aku memang menyukaimu sayang walaupun tidak seharusnya pernikahan ku lakukan secepat ini. Saat kamu pingsan, Lucas berkata jika Marco ingin menarik mu ke perusahaannya sehingga aku tidak ingin itu terjadi dan memilih cepat-cepat mengikatmu. Selain wasiat itu, aku juga tidak ingin kehilanganmu, sebab Marco serigala berbulu domba dan bukan orang baik." Bella terdiam seraya menguyah makanannya pelan.
Aku baru sadar jika lelaki jahat itu dulu Bos Kak Bastian...
"Kamu marah?" Tanya Daniel lembut.
"Tidak Kak. Jadi itu alasan kenapa Kak Daniel langsung menikahiku?"
"Aku baru pertama menyukai seseorang dan aku tidak ingin Marco mengambilnya dariku. Mungkin terdengar egois, tapi semakin hari aku semakin menyanyangi mu." Ucap Daniel kembali menyakinkan Bella jika dia tidak berniat buruk.
"Aku akan mengingat nama itu."
"Terimakasih sayang."
"Sudah seharusnya begitu Kak hehe. Pakai kerupuk lebih enak Kak" Bella membuka kerupuk dan meletakkannya di tengah.
Aku terpaksa berbohong, karena sebenarnya aku baru pertama kali merasakan makanan semacam ini.. Batin Daniel.
Biasanya masakan Mama Erin sedap. Tapi kenapa sekarang terasa aneh? Ah biar saja, yang penting Kak Daniel bilang sedap.
Sesekali keduanya saling memandang dan melemparkan senyuman sebab memang ada yang salah dengan masakannya.
***********
"Astaga Erin.." Teriak Mama Erin setelah mencicipi masakan yang besok akan di bawa untuk berjualan.
"Kenapa Ma?"
"Kenapa masakan Mama seperti ini. Kamu tambahkan apa tadi?"
"Kata Mama bubuk kunci."
"Kunci!!!" Mata Mama Erin melebar mendengar itu.
"Iya. Mama bilang bubuk kunci jadi ku tambahkan dua sendok."
"Ya Tuhan Nak. Mama bilang bubuk kencur bukan kunci. Lihat sendiri rasanya?" Mama Erin menyodorkan satu sendok sayur dan Erin langsung memakannya dengan kening berkerut.
"Aneh Ma."
"Jelas saja aneh! Ini untuk sayur bayam. Apa sudah kamu antarkan pada Bella tadi?"
"Sudah." Jawab Erin pelan.
"Kasihan Bella. Kalau seperti ini jadi terbuang sia-sia. Makanya, kalau Mama masak itu ikut bantu biar tahu kalau sayur bersantan tidak butuh kunci."
Flash back
Siang itu Mama Erin ada perlu ke saudaranya. Dia berpesan pada Erin untuk menambahkan bubuk kencur agar sayurnya bertambah sedap. Namun karena Erin tidak fokus, sehingga dia tidak sengaja mengambil bubuk kunci.
__ADS_1
"Ahhh sial ini bubuk kunci." Gumam Erin saat itu." Apa bedanya, pasti sama saja." Erin kembali meletakkan bubuk kunci dan menambahkannya dengan bubuk kencur tiga sendok makan sehingga sudah bisa di pastikan jika masakannya terasa aneh.
Flash back off
"Sudah terlanjur Ma. Bagaimana dong?"
"Minta maaf dengan Bella. Nanti dia berfikir jika Mama tidak niat memberikannya makanan."
"Hmm..."
Erin beranjak menuju kamarnya. Dia meminta nomer Daniel ke Sari dan mengirimkan pesan singkat.
💌Kak. Aku Erin. Bisa bicara dengan Bella sebentar.
Seharusnya Erin bisa langsung menelfon tapi dia takut menganggu setelah mengetahui kenyataan jika Daniel adalah suami syah Bella.
"Sayang. Erin ingin berbicara denganmu." Daniel memberikan ponselnya pada Bella yang tepat berada di sampingnya karena keduanya tengah menonton televisi.
"Apa lagi ya Kak." Bella mengambil ponsel dari tangan Daniel.
"Telfon saja supaya jelas."
"Hmm.." Bella segera menghubungi kontak Erin.
"Maaf Bella.
"Maaf apa?
"Sayurnya tadi ada kesalahan teknis hehe.
Bella tersenyum seraya melirik ke arah Daniel yang fokus melihat televisi.
"Kenapa begitu?
"Biasa Bell. Tadi Mama pergi, terus titip pesan buat aku. Karena aku terlalu pintar, sehingga bumbu yang aku masukkan salah.
Bella terkekeh mendengarnya, Daniel menoleh dan ikut tersenyum meski dia tidak paham dengan masalahnya.
"Kau sengaja meracuniku.
"Tidak Bella astaga. Mama menyuruhku minta maaf. Dia takut kamu berfikir macam-macam.
"Ya sudah tidak apa. Sudah habis kok. Terimakasih ya.
"Sampaikan juga ke Kak Daniel ya.
"Iya. Sampai jumpa besok.
Bella mengakhiri panggilannya dan meletakkan ponselnya di meja.
"Erin minta maaf karena masakan tadi Kak." Ucap Bella masih merasa konyol.
"Apa yang Erin katakan?"
"Salah bumbu." Bella terkekeh sebab di tahu jika Erin tidak tahu banyak soal bumbu.
"Aku juga Kak."
"Bilang padanya sudah ku maafkan."
"Hm besok akan ku sampaikan."
Tok..Tok..Tok..
Daniel beranjak begitupun Bella. Lucas berdiri di balik pintu sehingga Daniel menyuruhnya langsung masuk.
"Em aku ke depan dulu ya Kak?" Bella tidak ingin menganggu pembicaraan antara Daniel dan Lucas. Dia lebih memilih ke depan seraya memandangi sisa reruntuhan rumahnya.
Tanpa Bella sadari, seseorang tengah memperhatikannya dari dalam mobil mewah.
Seseorang itu adalah Marco. Dia begitu penasaran dengan sosok Bella dan sesuai perkiraan Marco merasa tertarik dengan Bella.
"Tenyata aslinya lebih cantik." Gumamnya terus saja memperhatikan.
Tujuannya kini menjadi bercabang. Selain ingin memiliki Bella untuk perusahaannya, dia juga ingin memiliki Bella untuk dirinya sendiri." Aku harus ganti penampilan, agar Bella bisa tertarik padaku." Marco tersenyum sejenak, kemudian melaju pergi meninggalkan bahu jalan rumah Bella.
"Syukurlah jika begitu." Jawab Daniel saat menerima laporan jika sudah ada dua puluh orang yang mau berkerja di perusahaan kecilnya.
Bella yang mendengar itu, ikut tersenyum dan tentu merasa senang.
Semoga semuanya bisa kembali baik setelah ini..
Hanya lima belas menit mengobrol, Lucas terlihat sudah berdiri dan berjalan keluar.
"Sudah Kak." Lucas berhenti sejenak untuk menjawab sapaan Bella.
"Sudah Nona. Hanya memberikan laporan saja. Sebenarnya bisa menelfon tapi akan lebih baik jika di sampaikan langsung." Bella mengangguk seraya tersenyum." Baik Nona. Permisi." Lucas mengangguk sebentar kemudian melanjutkan langkahnya menuju mobil.
Bella terpekik ketika tangan Daniel tiba-tiba sudah merangkul pundaknya erat.
"Jika di luar tidak takut?"
"Jika ada sesuatu aku bisa berlari."
"Hmm begitu. Kita masuk sayang, udaranya tidak baik."
"Yang menutup pintu pagar?"
"Biar Lucas." Daniel menggiring Bella masuk lalu menutup pintu dan tidak lupa menguncinya. Daniel mematikan televisi sebab jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Langsung tidur Kak?" Protes Bella sebenarnya sedang menghindari krim yang masih harus di oleskan ke punggungnya. Semoga Kak Daniel melupakan itu..
"Ini sudah malam sayang. Besok harus sekolah."
"Em iya."
Daniel menutup pintu kamar tanpa menguncinya. Dia melepaskan rangkulannya dan berjalan menuju lemari untuk mengambil krim.
__ADS_1
Dia mengingat itu...
Bella menghembuskan nafas berat, memandang ke Daniel yang sudah berdiri di hadapannya.
Untung satu kali sehari, jika tiga kali sehari pasti sangat menegangkan..
"Aku sudah sembuh Kak." Ucap Bella menolak.
"Coba ku lihat." Daniel duduk di samping Bella dan membuka sedikit dress tanpa kerah yang Bella kenakan." Belum sembuh sayang." Imbuh Daniel fokus melihat punggung Bella.
"Itu lengket. Aku malas memakainya."
"Tidak lengket kok." Daniel membuka tutup dan mencobanya ke kulitnya." Aku akan menutup mata seperti kemarin. Ya? Agar kamu sembuh." Bella mengangguk pelan lalu memiringkan tubuhnya." Tidak di depan kaca lemari?" Ucap Daniel mengingatkan.
"Tidak Kak. Aku percaya kok."
Sebenarnya bukan masalah percaya atau tidak. Tapi, Bella benar-benar merasa malu melakukannya.
"Hmm.." Bella menoleh ke belakang dan segera mengangkat dress-nya ketika melihat Daniel sudah memejamkan matanya.
Tak!!
Pengait bra di lepas. Daniel tersenyum mulai hafal dengan bunyinya.
"Sudah sayang?"
"Iya."
Daniel mengoleskannya dengan cepat. Dia tidak ingin menodai kepercayaan Bella atas dirinya meski sebenarnya hasrat untuk segera menyentuh Bella mendorongnya kuat.
"Pakai bajumu." Bella memakai kembali bra dan bajunya.
"Beres Kak." Daniel membuka mata lalu berdiri. Dia meletakkan krimnya lagi dan berjalan ke ranjang sisi lain.
"Tidurlah."
"Hmm.." Tanpa berprotes Bella berbaring dengan tubuh yang tidak lagi terlihat kaku. Dia mulai mempercayai Daniel yang pasti bisa menjaga kepercayaannya dengan baik.
Di luar dugaan, Bella langsung memiringkan tubuhnya dengan kepala yang bertumpu pada lengan kekar Daniel.
"Astaga sayangku.." Daniel merengkuh tubuh Bella erat.
"Apa aku lancang Kak?" Tanya Bella lirih dengan kedua manik menatap fokus wajah Daniel. Hanya dengan begitu dia bisa melalui malam berat yang masih terlihat menyeramkan untuknya.
"Lancang untuk apa?" Daniel mengecup ujung bibir Bella.
"Seperti ini." Bella mulai merasakan lagi getaran aneh yang terjadi di tubuhnya.
"Sikapmu." Bella mengangguk dan tersenyum dengan wajah memerah." Tidak sama sekali. Aku ingin kamu nyaman bersamaku." Tangan Daniel terangkat dan mulai mengusap dahi Bella berulang-ulang.
"Aku hanya masih takut Kak.."
"Kalau takut lakukan ini jika sedang tidur."
"Hmm.. Hooooaaaaammmmm.." Bella berpaling sebentar kemudian kembali membalas tatapan manik Daniel.
"Tidurlah."
"Iya sedang berusaha." Jawab Bella beralih menatap bibir Daniel. Ahh pasti menyenangkan hehe tapi tentu berbahaya..
"Memikirkan apa?"
"Tidak Kak." Daniel kembali mengecup bibir Bella untuk kesekian kalinya.
Aku bisa gila jika begini.. Batin Bella.
Rasanya aku tidak ingin berhenti dan ingin melakukannya semalaman.. Batin Daniel.
Lagi! Daniel menunduk dan mengecup bibir Bella. Namun saat akan mengangkat kepalanya, tangan Bella dengan cepat menahannya sehingga bibir keduanya menempel.
"Tidak sayang.." Ucap Daniel yang tengah menahan hasrat sejak tadi.
"Aku merasa gila Kak. Tapi aku ingin itu." Bella semakin merapatkan tubuhnya membuat Daniel harus sekuat hati menahan keinginan normalnya sebagai lelaki dewasa.
"Ingin apa?"
"Ada yang aneh dengan tubuhku ketika berdekatan denganmu seperti sekarang." Daniel melebarkan matanya, mendengar ucapan polos Bella.
Dengan cepat Bella menaikkan kaki kanannya dan membuat dress-nya tersingkap, sehingga pahanya terekspos.
Daniel menelan salivanya kasar, ingin sekali dia mengusap paha itu agar Bella mau melakukan percintaan panas malam ini bersamanya.
"Hanya boleh berciuman." Daniel menurunkan kaki kanan Bella tanpa melihatnya lalu mengunci pergerakan kakinya.
"Kak.." Rengek Bella dengan bibir yang masih saling berdekatan. Kakinya berusaha melepaskan diri tapi kuncian Daniel sulit di lepaskan.
"Hm apa?" Daniel tersenyum dan mencium bibir Bella sedikit lama.
"Kak please." Pinta Bella dengan nada memohon.
"Sudah ku lakukan." Daniel kembali mencium bibir Bella dan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang di inginkan Bella sekarang.
"Aku ingin lebih." Nafas Bella mulai memburu seraya berusaha menyingkirkan kaki Daniel yang mengunci pergerakannya.
"Aku juga ingin. Tapi harus bersabar hingga kamu lulus. Bukankah itu permintaanmu sayang?" Daniel ingin menyadarkan Bella dengan permintaannya sendiri.
"Jahat sekali!! Jangan berdekatan jika begitu!! Hiks..." Umpat Bella. Entah kenapa dia kesal karena tubuhnya sudah setengah mati kepanasan namun Daniel tidak memberikannya.
Daniel melepaskan kunciannya lalu mengusap lembut sudut pipi Bella dan menatapnya sayu.
"Aku hanya ingin menjagamu dengan baik." Ucap Daniel lirih.
Ahhh Tuhan!!! Sial!!!! Apa yang sudah ku lakukan!! Lagi lagi Bella merasa menyesal dengan tingkah lakunya yang sering tidak terkendali seperti tadi. Karena merasa malu, Bella mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Daniel.
"Selamat malam Kak." Ucapnya lirih.
~Riane
__ADS_1