Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 71


__ADS_3


Happy reading 🥰


Daniel tersenyum, mendapati Bella duduk di ruang tengah dengan keadaan berantakan. Rambutnya terlihat basah dengan hanya mengunakan handuk kimono.


"Ganti baju dulu lalu bersantai sayang." Pinta Daniel merajuk.


"Tidak ada baju yang baik. Semuanya rusak!" Jawab Bella ketus.


Sudah lama dia tidak melakukan kemarahan seperti sekarang karena sikap Bastian yang menuntutnya untuk jadi gadis yang kuat. Tapi sikap Daniel melemahkan nya, seolah memaksanya untuk bergantung pada lelaki dewasa yang tengah duduk di sampingnya.


"Kita beli setelah ini."


"Aku tidak mau keluar rumah."


"Beli secara online."


"Aku tidak mau!!"


"Terus mau apa? Kamu baru saja sembuh, nanti kalau demam lagi bagaimana?" Daniel mendekap tubuh Bella dari samping dan tidak perduli dengan kata-kata ketus yang Bella lontarkan. Baginya, apapun yang Bella lakukan syah saja, asal tidak berhubungan dengan lelaki lain atau sesuatu yang membahayakan untuk Bella.


"Bukankah aku sudah bilang jangan dekat-dekat!"


"Aku tidak mau kamu sakit lagi jadi biar ku hangatkan." Bella tidak bergeming seraya mengerucutkan bibirnya.


Tok tok tok..


"Sebentar sayang." Daniel melepaskan dekapannya dan rasanya Bella tidak rela.


"Pakai baju dulu Kak." Protes Bella melihat Daniel bertelanjang dada.


"Kamu tidak pakai, jadi aku juga tidak mau." Bella ikut berdiri lalu menyeret Daniel kembali ke kamar dan mengambil kan baju sembarangan.


"Pakai ini."


"Tidak mau."


"Jika itu Ibu-ibu kampung bagaimana?" Daniel tersenyum dalam hati, merasakan kecemburuan Bella yang mulai mengikatnya.


"Biar ku lihat dulu." Secepat kilat Daniel berjalan pergi keluar lalu menutup pintu kamar agar Bella tidak mengikutinya.


Bella panik dan langsung menggedor-gedor pintu, dia tidak rela jika tubuh Daniel terekspos di luar apalagi sampai di lihat wanita lain.


"Kak buka cepat!!" Teriak Bella kebakaran jenggot. Gedoran terdengar semakin cepat dengan teriakan Bella yang terdengar lirih.


Daniel tersenyum, lalu meraih kaos yang tergantung di kamar mandi dan memakainya. Dia berjalan keluar tanpa memperdulikan Bella yang tengah mengumpat di dalam kamar.


"Paketnya Kak." Daniel mengambil tiga kotak ayam krispi.


"Berapa?" Baru saja Daniel berucap, dia mendengar kegaduhan yang berasal dari dalam.


Braaaakkkkk!!!


Bella menendang pintu kamar hingga rusak, sehingga dia langsung menyusul dan mendapati Daniel tengah berdiri di depan kurir pengantar dengan menggunakan baju.


Daniel cepat-cepat menyelesaikan pembayaran sementara Bella terpaku dan baru sadar, jika Daniel kembali mengerjainya.


Ahh malu sekali... Umpatnya memutar tubuhnya lalu berjalan dan berdiri di depan kamar, menatap lekat ke arah pintu kamar.


"Apa yang terjadi..." Tanya Daniel pelan. Melongok, menatap pintu kamar yang rusak bahkan roboh.


Cepat-cepat Daniel meletakkan kotak ayam krispi, lalu mengangkat tubuh Bella dan mendudukkannya di sofa.


"Apa ada yang terluka." Daniel memeriksa tangan dan kaki Bella yang terlihat baik-baik saja.


"Apa Kak Daniel sudah tahu jika itu tadi kurir?" Tanya Bella lirih, dia merasa tidak enak karena Daniel mungkin akan menilainya sebagai gadis yang kasar.


"Iya maafkan aku." Telinga Bella berdengung, mendengar permintaan maaf Daniel yang tengah duduk di bawahnya." Aku hanya ingin menjahili mu agar kamu tidak marah lagi." Imbuhnya tertunduk penuh sesal.


"Kenapa Kak Daniel yang minta maaf." Ucap Bella lirih." Aku memang gadis yang kasar dan tidak sabaran." Daniel mendongak, menatap wajah tidak baik Bella sekarang.


"Kenapa berbicara dengan nada seperti itu sayang?" Daniel beranjak dan duduk di samping Bella.


"Pintunya jadi rusak dan bukankah itu mengerikan."


"Biar saja. Rumah ini akan ku robohkan sebentar lagi."


"Kenapa di robohkan?"


"Sesuai keinginanmu. Ku renovasi agar kamu betah tinggal di sini. Jangan bersedih seperti itu hanya karena pintu yang rusak. Sekalipun kau merobohkan rumah ini, aku tidak pernah menganggap kamu mengerikan." Daniel mendekap tubuh Bella erat dan mencium puncak kepalanya." Kita makan oke. Aku pesan ayam krispi 3. Satu untukku dan dua untukmu." Bella membalas pelukan itu sejenak, melupakan kekesalan yang Daniel buat karena hasratnya yang tidak tersalurkan. Tapi mana mungkin dia bisa berlama-lama marah, jika suaminya begitu manis dalam memperlakukannya.


Rasa marahnya seketika menghilang, saat Bella mulai menguyah makanannya dari tangan Daniel.


"Enak sekali." Bella mempercepat kunyahan nya saat merasakan ayam krispi yang sama lezatnya dengan pemberian Bastian." Beli di mana Kak." Imbuh Bella ingin tahu.


"Di sini." Daniel menunjukkan struk pembelian pada Bella.


"Ini ayam yang sering di belikan Kak Bastian. Tenyata beli di sana." Daniel tersenyum dan menyadari sikap kekanak-kanakan Bella yang di perlihatkan sekarang. Hanya dengan memberikan makanan kesukaannya, hati Bella kembali membaik bahkan terlihat sudah melupakan kekesalannya tadi. Mirip seperti anak kecil, yang tidak memiliki dendam dan gampang memaafkan hanya dengan hal sederhana.


"Mau jalan-jalan setelah ini?"


"Tidak." Bella menggeleng cepat.


"Masih kesal?"


"Tidak."


"Terus. Apa yang iya?"


"Makan dan tidur. Besok sekolah." Jawab Bella membuka lebar mulutnya namun bibir Daniel membungkamnya hingga membuat matanya membulat. Segera saja tangannya terangkat dan menjauhkan wajah Daniel." Ish Kak Daniel!!" Celotehnya merebut kotak makanan." Biar aku makan sendiri." Daniel terkekeh melihat Bella duduk menjauhinya.


Daniel menggeser tubuhnya agar lebih dekat dan malah melahap pipi Bella dengan sebuah gigitan lembut. Bella berdiri dengan sorot mimik wajah kesal.


"Kak Daniel semakin gila saja."


"Ya. Aku ingin memakan mu sekarang juga. Makan tidak boleh berdiri." Daniel menarik pinggang Bella agar kembali duduk di tempat semula.


"Kak Daniel makan sendiri saja, daripada menggangguku."


"Aku tidak akan melakukannya lagi, sini ku suapi." Daniel kembali merebut kotak makan Bella.


"Aku bisa makan sendiri."


"Hm aku percaya, tapi aku ingin. Buka mulutnya aaa." Bella tidak bergeming karena takut kejadian tadi terulang lagi.


"Nanti begitu lagi. Aku tidak suka makan di ganggu." Ucap Bella merengek.


"Janji tidak lagi. Ayo buka mulutnya.."


"Awas ya."


"Iya sayang." Perlahan Bella membuka mulutnya dan Daniel kembali menyuapinya." Besok aku mulai ke perusahaan." Tutur Daniel berpamitan.


"Iya Kak. Pasti senang." Bella melihat raut wajah Daniel yang bahagia.


"Hm. Tentu saja. Kamu jadi Nyonya Daniel." Wajah Bella memerah mendengarnya, bukan karena hidup layak yang akan di dapatkan. Tapi, kebahagiaan Daniel sudah cukup membuat perasaannya lega.


"Nona Daniel." Sahut Bella.


"Hehe iya. Kamu masih kecil jadi tidak pantas di panggil Nyonya, tapi Nona."


"Jadi, Kak Daniel tidak bisa menjemput ku?"


"Bisa sayang. Untuk masalah itu, aku tidak akan pernah absen meski sibuk." Bella mengangguk-angguk seraya menguyah.


"Jika sibuk. Aku tidak masalah pulang sendiri."


"Tidak. Lebih baik rapat ku wakilkan daripada kamu harus pulang sendirian."

__ADS_1


"Jangan terlalu khawatir Kak. Aku bisa menjaga diri sendiri daripada Kak Daniel nanti terlalu lelah." Tolak Bella sedikit ingin bebas dan bisa bersenang-senang dengan kedua temannya seperti yang di lakukan ketika Bastian masih hidup dulu.


"Kenapa sih? Kamu keberatan?"


"Sudah lama aku tidak jalan bersama kedua temanku." Daniel menarik nafas panjang. Menyadari jika gadis seumuran Bella sedang melewati masa terindah mereka. Bebas, tidak ada beban, berjalan-jalan bersama teman dan melakukan kegiatan lain yang menyenangkan.


"Biasanya bagaimana?" Tanya Daniel terpaksa mengatakan itu meski dia tidak rela jika harus membiarkan Bella berkeliaran sendiri.


"Asal bersama Erin dan Sari, Kak Bastian mengizinkan aku keluar."


Kasihan juga.. Aku tidak boleh egois dan merenggangkan sedikit ikatan ku agar dia bisa sedikit bebas dan menikmati masa mudanya..


Daniel terdiam sesaat, mencoba mencerna keinginan istri kecilnya yang memang masih berumur belasan tahun.


"Malam tidak boleh dan hanya sampai pukul tiga, jika melebihi waktu itu, aku tidak memperbolehkannya." Bella menelan makanannya kasar. Matanya bulat menatap Daniel, dia tidak percaya dengan apa yang di dengar hingga bibirnya terbuka sedikit menatap Daniel lekat.


"Serius Kak." Tanyanya memastikan.


"Hm iya. Pulang sekolah saja, kalau malam tidak boleh keluar kecuali bersamaku."


"Wahhh. Terimakasih." Bella menyerbu Daniel dengan pelukan sehingga membuat Daniel tersenyum.


"Hanya sampai jam tiga sore ya." Bella melepaskan pelukannya seraya tersenyum.


"Iya janji sampai jam tiga." Ucapnya mencium pipi Daniel secara bergantian.


"Astaga.. Aku mirip seorang Ayah." Gumam Daniel sangat senang mendapat perlakuan itu karena sikapnya yang memang mengayomi.


"Kak Daniel bilang apa sih." Bella kembali duduk di tempatnya semula.


"Itu menyenangkan. Habiskan makanannya, lalu ganti baju dan tidur." Bella mengangguk-angguk, sesekali tersenyum, karena esok dia bisa kembali menikmati waktu bersama kedua temannya seperti hari-hari sebelumnya.


***************


"Kau kenal mereka?" Tanya Fanny saat baru saja masuk ke apartemen.


"Tidak. Aku tidak mengerti siapa mereka." Jawab Marco dengan wajah garang. Dia merasa sangat kesal dengan ancaman yang di lontarkan Joy meski tidak menyurutkan niatnya untuk menghancurkan hidup Daniel lagi.


Marco terlalu bodoh, hingga langsung memikirkan niat buruk tanpa mengetahui seluk beluk tentang siapa yang di hadapinya sekarang.


"Mereka sok sekali." Marco duduk seraya mendengus, di ikuti oleh Fanny.


"Lalu bagaimana ini? Surat-surat bahkan sudah hangus terbakar dan aku belum mendapatkan apapun." Marco menoleh cepat, menatap Fanny tajam.


"Kau bahkan sudah menghabiskan milyaran rupiah hanya untuk berbelanja! Bagaimana mungkin kau bilang tidak mendapatkan apapun!!" Fanny melirik malas dan membenarkan itu semua.


"Kenapa kau mengungkit itu semua! Bukankah itu hak ku!! Aku ingin sebuah properti yang nyata, seperti rumah! Tanah atau lainnya."


"Mimpi saja jika seperti itu! Kau tahu rumah itu sudah hangus dan rata dengan tanah! Surat tanah juga hilang semua!!" Jawab Marco ketus.


"Kita urus saja, Jim bisa membantu."


"Tidak bisa." Jawab Marco lemah.


"Kenapa?"


"Aku belum membalikkan semuanya atas namaku." Jawab Marco lemah sementara Fanny langsung melebarkan matanya mendengar itu. Dia fikir Marco sudah mengganti semua atas namanya tapi ternyata belum.


"Katamu sudah!"


"Belum." Fanny mendorong pundak Marco kasar.


"Kau kemana saja selama ini!!" Marco terdiam dan tidak bergeming. Dia hanya menarik nafas panjang seraya menyandarkan punggungnya ke sofa. Marco tahu, jika Fanny akan semakin menyebutnya bodoh jika dia mengatakan alasannya." Kau terlalu memikirkan hal bodoh seperti Bella! Itu kenapa kau jadi bodoh dan kehilangan semuanya seperti sekarang!!" Imbuh Fanny tentu saja merasa sangat kesal. Usahanya terasa sia-sia sebab semua properti masih atas nama Daniel.


"Kau yang bodoh!! Cepat keluar!!" Marco berdiri dan menyeret paksa Fanny keluar dari apartemen yang juga milik Daniel. Dia semakin pusing mendengar omelan Fanny yang tidak ada hentinya menyalahkannya.


"Apa maksudmu Marco!! Ini apartemen ku! Kenapa kau usir aku seperti ini!!" Marco menghempaskan tubuh Fanny keluar dan langsung menutup pintu apartemen.


Brraaaaakk!!!!


"Marco buka!!" Teriak Fanny menggedor-gedor pintu tapi percuma sebab ruangan itu kedap udara sehingga Fanny malah jadi tontonan orang sekitar yang kebetulan melintas. Seharusnya kartunya ku bawa saja!? Bodohnya aku!!! Umpat Fanny terpaksa pergi dari sana dan berniat menemui Jim.


*****************


Seperti biasanya, mobil Daniel terparkir di depan gerbang sekolah Bella. Keduanya melakukan ritual yang setiap pagi di lakukan. Saling memberi semangat dengan ciuman singkat nan hangat.


"Jadi, nanti aku tidak menjemput sayang?" Tanya Daniel sebelum Bella membuka pintu mobil.


"Aku akan ke perusahaan Kak Daniel. Aku juga ingin tahu hehe. Boleh kan Kak?"


"Sangat boleh." Daniel kembali mengusap rambut Bella dan mengecup puncak kepalanya.


"Bye Kak." Bella melambai sejenak dan merasakan hal yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Turun dari mobil Daniel rasanya begitu berat, bukan hanya cemburu tapi sebenarnya Bella juga ingin senantiasa bersama Daniel.


"Bye sayang. Sampai jumpa nanti."


"Hmm... Jangan nakal. Awas." Daniel terkekeh." Serius!" Imbuhnya kesal.


"Iya sayang. Tidak nakal, tidak melirik apalagi melihat, memikirkan pun tidak akan pernah."


"Hm bagus. Sampai jumpa nanti." Secepat kilat Bella mencium pipi kanan Daniel kemudian turun dari mobil tanpa melihat lagi ke belakang. Bella selalu saja ingin kembali jika sampai melihat ke belakang, sehingga Bella berjalan terus tanpa menoleh seperti sekarang.


Daniel baru melajukan mobilnya ketika Bella sudah tidak terlihat dari pandangannya. Dia hanya mengenakan kemeja sederhana sebab Daniel tidak memiliki jas untuk menyempurnakan penampilannya.


Selain tidak ada waktu, hari ini dia hanya sekedar meninjau dan meluruskan masalah yang ada di perusahaan Dans grup.


Mobil Daniel berhenti di sebuah kostan, Lucas yang sudah menunggu sejak tadi, langsung masuk ke dalam mobil Daniel sebab mobilnya sudah rusak akibat insiden kebakaran gudang tempo hari.


"Tuan kelihatan sangat bahagia." Tutur Lucas tersenyum.


"Kau juga akan bahagia setelah ini. Kau mau jadi asistenku lagi?" Tanya Daniel seraya fokus menyetir.


"Lalu Pak Salim?"


"Carikan seseorang yang jujur, Agar ada yang membantu Ayah di sana."


"Jika salah satu dari karyawan kemarin Tuan?" Daniel baru mengingat itu.


"Mereka menganggur sekarang?" Lucas mengangguk pelan.


"Mereka tidak berpengalaman jadi sangat sulit untuk mendapatkan perkerjaan. Tapi melihat kinerja mereka kemarin, mereka gampang di ajarkan dan bisa memahami dengan cepat."


"Bilang pada mereka untuk bersabar. Aku akan mendatangkan mesin lagi agar gudang itu bisa beroperasi." Lucas menoleh seraya tersenyum. Dia sangat senang mendengar itu, mengingat pemecatan yang di lakukan secara serentak sehingga Lucas sedikit terbebani dengan wajah tertunduk para karyawan tersebut.


"Hm ya. Gaji yang sesuai standar, tidak minim seperti kemarin." Tentu saja, Lucas sudah bisa menebak jika Daniel akan melakukan itu. Dia pimpinan yang tidak hanya memikirkan isi dompetnya sendiri, tapi juga para buruh yang di anggap tidak penting untuk sebagian para pimpinan. Daniel tidak pernah mengabaikannya, sebab dia menganggap jika para buruh adalah bagian dari perusahaannya.


Tarikan nafas panjang berhembus, ketika mobil mulai memasuki area perusahaan. Dia menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum ke arah satpam yang tengah berdiri menyapanya penuh hormat. Perusahaan kembali seperti sedia kala, seluruh staf di tarik kembali juga relasi yang secara serentak menjalin kerjasama lagi.


Daniel keluar dari mobil, di ikuti oleh Lucas. Kakinya tidak langsung melangkah masuk, dia tersenyum seraya menatap perusahaan yang sebenarnya tidak lagi di inginkan nya.


"Akan banyak perkerjaan setelah ini Lucas. Alihkan semua nomer telfon dengan email yang kemarin sudah ku bicarakan."


"Sudah Tuan. Saya sudah membuat email baru sesuai dengan permintaan Tuan." Daniel mengangguk kemudian mulai melangkah masuk dan di sambut ramah oleh satpam depan.


"Selamat pagi Pak Daniel." Sapanya berdiri tegak dengan kepala sedikit menunduk.


"Pagi juga Pak. Apa kabar Pak."


"Baik Pak. Selamat datang kembali."


"Terimakasih Pak." Daniel tersenyum sejenak kemudian kembali melangkahkan kakinya, kembali menebar senyuman hangat pada setiap staf yang menyapanya dengan hormat.


"Pagi Pak Daniel. Selamat datang kembali." Sapa Putri yang sudah berdiri di depan ruangannya.


"Pagi juga."


"Tidak ada jadwal untuk hari ini Pak." Daniel mengangguk seraya tersenyum.


"Suruh semua staf berkumpul sepuluh menit lagi."

__ADS_1


"Di ruang rapat?"


"Ya."


"Siap Pak." Daniel kembali masuk ke ruangannya di ikuti oleh Lucas.


"Ruangan ku." Gumam Daniel melihat ruang kerjanya yang belum berubah sama sekali. Dia langsung duduk di kursi kokohnya lalu sedikit terpekik ketika ponselnya bergetar." Andra.." Daniel langsung menerima panggilan tersebut.


"Ya halo.


"Saya tidak bisa ke sana Pak. Saya harus mencari durian untuk Nona Nara.


"Iya tidak apa. Terimakasih.


"Perusahaan itu memang milik Pak Daniel. Tidak perlu berterimakasih.


"Meski begitu terimakasih.


"Sama-sama Pak. Saya sudah menempatkan beberapa orang untuk mengisi jabatan yang kosong. Tuan Joy ingin saya memantau perkembangan perusahaan Pak Daniel sementara waktu. Maaf jika lancang, tapi Tuan Joy belum bisa percaya dan takut jika Pak Daniel teledor lagi.


"Joy sangat menyayangiku hehe.


Andra terkekeh di balik telfon. Dia juga memikirkan hal yang sama dengan Daniel. Meskipun Joy terlihat kasar dalam berucap, namun nyatanya dia sangat perduli pada Daniel.


"Tuanku memang baik.


"Sampaikan salam ku untuk Joy. Aku akan menyempatkan waktu untuk ke sana malam ini.


"Baik Pak.


Daniel tersenyum lalu meletakkan ponselnya. Punggungnya di sandarkan pada kursi kokoh itu seraya memejamkan matanya sejenak.


"Sudah siap Lucas." Daniel tiba-tiba saja sudah berdiri dengan semangat.


"Siap Tuan."


"Kita ke ruang rapat untuk membahas beberapa perubahan yang akan di terapkan di sini. Aku minta kamu merangkum hasil rapat nanti. Apa kamu masih ingat cara kerjanya?" Tanya Daniel ingin memastikan.


"Ingat Tuan."


"Bagus. Kita mulai." Daniel menepuk pundak Lucas lembut lalu melangkah keluar untuk menghadiri rapat karyawan.


*****************


Erin dan Sari begitu antusias, ketika Bella bercerita tentang kebebasannya yang di mulai hari ini. Ketiganya berjalan santai menuju gerbang sekolah untuk bersiap pergi ke Plaza.


"Kalian ku traktir hari ini." Ucap Bella bersemangat.


"Jalan-jalan saja Bell."


"Tidak. Aku serius, aku begitu senang hari ini. Kak Daniel membebaskan ku untuk keluar, dia kembali mendapatkan perusahaannya."


"Wah serius Bella?" Bella mengangguk seraya tersenyum." Aku ingin berkerja di sana setelah lulus kuliah, apa bisa?" Gumam Erin membayangkan.


"Itu bisa di bicarakan dengan Kak Daniel."


"Tapi Rin, di sana baju staf ceweknya ketat sekali ya, meski di bawah lutut. Apa jadinya jika tubuh seperti kita memakai itu? Hehe bukankah bertambah buruk." Ucap Sari terkekeh begitupun Erin namun tidak untuk Bella.


Bella terdiam dan baru mengingat itu. Mengingat jika seragam staf perusahaan yang ketat. Apalagi ketika nama Lisa melintas di otakknya.


"Gawat!!" Ucap Bella melebarkan matanya.


"Apa yang gawat?" Bella meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Daniel namun tidak di angkat, sebab Daniel masih sibuk untuk memantau perusahaan yang lama di tinggalkan.


"Aku harus ke sana. Em kalian pulang saja ya."


"Lalu traktirannya?"


"Lain kali saja atau hari Minggu. Aku duluan." Bella mempercepat langkahnya seraya memesan sebuah taksi untuk ke Dan's Grup.


Bella masuk ke dalam taksinya dengan perasaan terbakar cemburu. Dia membayangkan jika Daniel tengah berada di sekeliling wanita dan melupakannya.


Apalagi seharian ini Daniel tidak menghubungi karena memang sedikit sibuk. Itu membuatnya tidak sabar dan ingin segera datang ke sana.


"Pak cepat sedikit." Pinta Bella dengan raut wajah cemas.


"Ini sudah cepat Non." Bella tidak menjawab, maniknya menatap keluar jendela dengan berkaca-kaca. Rasanya sangat sakit meski hanya membayangkannya saja.


Setibanya di perusahaan, Bella segera turun setelah membayar. Satpam depan yang menjaga pagar membiarkannya masuk, karena memang perusahaan kembali beroperasi seperti biasa. Banyak orang keluar masuk, sehingga Bella tersamarkan karena jaket yang di kenakan sekarang.


"Ehh mau kemana." Cegah satpam penjaga pintu lobby perusahaan.


"Masuk Pak."


"Kamu kan yang tempo hari." Satpam itu melirik ke seragam Bella yang terlihat sedikit.


"Iya. Maka dari itu biarkan saya masuk." Bella mendengus seraya menyeka keringat yang keluar akibat jarak antara pagar dan bangunan perusahaan sedikit jauh.


"Tidak boleh jika tanpa pendamping Non. Lihat aturannya." Jawab si satpam menunjuk peraturan yang tertempel di dinding kaca.


"Ayolah Pak. Pendamping saya itu Pak Daniel." Ucap Bella berharap si satpam mengizinkannya masuk. Dia tidak ingin mengaku sebagai istri karena masih merasa malu.


"Pak Daniel?" Bella mengangguk seraya melirik malas.


"Iya."


"Beliau tidak berkata jika ada janji. Jadi, jangan berbohong Nona." Bella menarik nafas panjang, mencoba memikirkan cara lain seraya beristirahat sejenak.


"Ayolah Pak. Serius aku sedikit lemas. Panas sekali." Eluh Bella tidak mengerti tentang apa yang terjadi pada daya tahan tubuhnya.


"Ya sudah pulang lalu istirahat."


"Pak Daniel menyuruhku datang ke sini sepulang sekolah. Aku adiknya." Jawab Bella lemah.


"Saya itu sudah lama di sini Nona. Saya tahu jika Pak Daniel tidak memiliki keluarga, apalagi seorang gadis. Beliau hanya memiliki Ayah."


Apa aku bilang jika aku istrinya! Mana percaya.. Astaga kenapa ya tubuhku, lemas sekali.. Bella memutuskan duduk berjongkok seraya meraih ponselnya untuk menghubungi Daniel. Masih tidak ada jawaban, sehingga dia memutuskan untuk memasukkan kembali ponselnya.


"Bilang saja pada Pak Daniel. Bella datang." Ucap Bella lemah. Pandangannya sedikit kabur dan gelap, dia kembali berjongkok dengan keringat dingin membanjiri wajahnya.


"Pak Daniel sibuk. Kamu kenapa?" Tanya si satpam ikut merasa khawatir.


"Lemas Pak, mataku berkunang-kunang. Tolong biarkan aku masuk." Pintanya tertunduk, tarikan nafas berat berhembus beberapa kali.


"Sebaiknya kamu pulang. Saya tidak mau dapat masalah jika kamu pingsan di sini."


"Pak Daniel menyuruhku ke sini. Kuncinya bahkan di bawa dia, bagaimana aku bisa pulang."


"Jangan mengaku-ngaku Nona. Pak Daniel bukan orang sembarangan, jadi saya tidak bisa membiarkan orang sembarangan bertemu dengan beliau." Bella tidak bergeming, karena telinganya tidak lagi bisa mendengar jawaban yang di lontarkan si satpam. Rasa lemas begitu cepat menjalar, kerongkongan terasa pahit dengan bulir keringat yang semakin banyak.


~Riane


Apa yang terjadi dengan Bella?


Apa badannya memang belum sepenuhnya sehat atau ada penyakit lain?


Temukan jawabannya besok hehe😁


Jangan panik dulu ya teman-teman, nggak akan ada konflik berat kok, ringan-ringan saja, asalkan manis 🤭


Semoga otakku tidak buntu😁


Agar bisa selalu update dan tidak membuat kalian bosan membacanya.


Aku pengen buat cerita baru.. Ceritanya sudah pernah ku tulis ke akun lama yang tidak bisa terbuka karena kesalahanku😭Aku lupa sandi email-nya jadi nggak bisa masuk karena ganti ponsel😩


Pengennya aku tulis ulang di sini.


Ceritanya tentang seorang istri yang kecewa atas perubahan sikap suaminya. Lalu dia bertemu dengan seorang lelaki yang menyukainya. Awalnya, si wanita tidak mengaku soal status pernikahan. Hingga si lelaki tahu sendiri tentang kenyataan itu. Si lelaki ingin mundur tapi dia tidak bisa melakukannya apalagi setelah melihat si wanita tidak bahagia dengan pernikahannya. Lanjutannya nanti kalau banyak yang setuju 🤭🤣🤣🤣

__ADS_1


Terimakasih dukungannya 😁


__ADS_2