
Aku sempat membencinya, tapi ternyata Kakak ini baik.. Batin Monik masih berjalan beriringan menuju kelasnya.
"Aku Bella, kamu siapa?" Tanya Bella ramah.
"Aku Monik Kak."
"Saranku, tidak perlu menyukai Kenan atau siswa populer lain. Geng Sisca itu sedikit gila. Jika ingin belajar dengan tenang, akan lebih baik tidak berpacaran dulu." Ujar Bella menyarankan. Dia merasa kasihan melihat Monik yang terlihat masih sangat polos dan pasti akan menjadi makanan empuk untuk Sisca dan gengnya.
"Kak Bella suka dengan Kak Kenan?" Bella terkekeh mendengar itu.
"Tidak. Ambil saja kalau kamu mau. Aku hanya sekedar memberikan saran agar kau tidak terlibat dengan Sisca dan kacung-kacungnya. Aku sudah memiliki seseorang." Kak Daniel...
Wajah Bella memerah hanya dengan menyebut namanya dalam hatinya. Ada rindu yang langsung menjalar hingga dia menginginkan waktu berjalan cepat agar bisa cepat menjumpainya.
"Siapa Kak?" Tanya Monik ingin tahu.
"Yang pasti bukan bocah SMA. Kelas mu 10A kan?" Bella berhenti tepat di depan kelas Monik.
"Iya Kak, terimakasih ya. Em.. Boleh minta kontaknya Kak Bella?"
"Tentu saja asal jangan di berikan pada siapapun." Monik tersenyum lalu merogoh sakunya dan memberikan ponsel mahalnya pada Bella.
"Iya. Ini untuk diriku sendiri." Bella mengangguk dan mulai mengetik nomernya.
"Hmm ini." Bella kembali memberikan ponselnya." Telefon aku jika terlibat masalah seperti tadi." Imbuh Bella ramah.
"Terimakasih ya Kak."
"Sama-sama. Bye." Bella menepuk pundak Monik lembut kemudian berlalu pergi.
Kak Bella baik sekali... Monik tersenyum menatap kepergian Bella lalu masuk ke dalam kelas.
.
.
Bella duduk lemah di hadapan Erin yang tengah makan. Selain masalah SPP, pertemuan dengan Marco juga membuat hatinya langsung tidak baik.
Aku yakin ini ada campur tangannya. Ku fikir dia sudah melupakan aku, tapi ternyata lelaki sialan itu masih berada di sekitarku..
"Tidak jadi membayar SPP?" Tanya Monik saat melihat kartu SPP di tangan Bella.
"Uangnya kurang. Besok saja."
"Kurang berapa? Katanya di potong 20 persen."
"Aku harus membayarnya penuh." Mata Erin membulat mendengar itu.
"Kok begitu sih Bell? Memangnya ada masalah apa? Bukankah peringkat mu sangat bagus, tapi kenapa malah tidak dapat beasiswa?" Bella hanya tersenyum. Dia tidak mau bercerita masalah Marco pada Erin ataupun orang lain.
"Aku tidak tahu Rin." Tidak apa, masih ada uang dari Ayah yang bisa ku pakai sementara.. Setelah aku mendapatkan penghasilan, biar uangnya Kak Daniel pakai untuk keperluan perusahaan..
"Aneh tapi. Kamu tidak makan?" Tawar Erin membaca raut wajah tidak baik Bella.
"Tidak lapar, nanti saja."
Matanya menjelajah sekitar dan menangkap sosok yang sangat di bencinya tengah memperhatikannya dari jauh. Dengusan terdengar hingga membuat Bella memutuskan berdiri.
"Ke mana lagi?" Tanya Erin mendongak.
"Ke kelas. Aku duluan ya." Bella langsung melenggang pergi daripada harus melihat sesuatu yang membuat perasaannya semakin kesal.
Manik Marco mengikuti kemana langkah Bella pergi, sampai dia tidak sadar jika sejak tadi Samuel juga tengah memperhatikan gerak-geriknya.
.
.
"Bagaimana dengan hari ini." Pertanyaan itu selalu terlontar ketika Bella baru saja masuk ke dalam mobil.
"Baik Kak. Seperti biasa. Tapi aku lapar.." Erin tersenyum, dia juga ikut merasa senang dengan adanya Daniel di hidup Bella. Meskipun Daniel belum sesempurna pangeran berkuda putih yang sanggup memberikan istana. Tapi dengan adanya Daniel sudah sangat membantu daripada Bella harus hidup sendirian.
Paling tidak ada seseorang di samping Bella yang bisa di buat untuk sandaran..
"Mau membeli apa?" Tanya Daniel mulai melajukan mobilnya.
"Aku suka memasak sendiri."
"Tidak sayang. Sebelum ujian selesai, kamu tidak boleh terlalu lelah." Tolak Daniel merasa tidak tega. Apalagi akhir-akhir ini wajah Bella terlihat sangat lelah sepulang sekolah.
"Hanya masak untuk dua orang, tidak akan lelah." Jawab Bella pelan.
"Hatimu yang akan lelah hehe. Kamu tidak berselera setiap kali memakan masakanmu sendiri."
"Asal makan, asal kenyang." Daniel menarik nafas panjang lalu membelokan mobilnya ke sebuah rumah makan.
"Seharusnya antar aku pulang dulu Kak." Sahut Erin merasa tidak enak.
"Apa kamu ada kegiatan setelah ini?" Daniel mulai melepas sabuk pengaman.
"Tidak ada."
"Kita makan bersama jika begitu." Daniel membuka pintu mobil di ikuti oleh Bella dan Erin.
"Apa sebaiknya aku pulang naik angkot saja Bell?" Bisik Erin bertanya.
"Tidak perlu. Bukankah Kak Daniel yang bilang sendiri untuk makan bersama."
"Jangan sungkan. Astaga, anggap aku Kakakmu." Bella menoleh cepat mendengar itu. Entah kenapa dia merasa tidak suka saat Daniel berkata demikian pada gadis lain, tidak terkecuali, Erin.
Raut wajahnya berubah datar, dengan raut wajah sinis. Rasa curiganya bahkan belum sepenuhnya hilang, namun Daniel kembali menambah itu dengan memperbolehkan gadis lain menganggapnya sebagai Kakak.
"Bungkus saja Kak." Sahut Bella tiba-tiba.
"Di bungkus?" Tanya Daniel mengulang.
"Hm di bungkus. Aku ingin cepat sampai rumah dan beristirahat." Bella kembali membuka pintu mobil lalu masuk.
Erin tersenyum aneh kemudian ikut masuk ke dalam mobil. Dia sangat hafal jika Bella tengah kesal sekarang, mengingat hubungan keduanya terjalin begitu lama.
Pintu kembali terbuka, Daniel berniat bertanya tentang menu apa yang harus di pesan.
"Aku terserah, asal bisa di makan." Jawab Bella singkat tanpa memandang ke arah Daniel.
"Kamu marah?" Tanya Daniel memastikan tebakannya. Dia sedikit hafal dengan sikap Bella jika sedang merasa kesal.
"Tidak.. Cepat pesan lalu pulang." Daniel mengalihkan pandangannya ke arah Erin untuk meminta pendapat lewat isyarat.
"Aku juga ingin cepat pulang Kak." Sahut Erin menimpali.
"Oke. Aku akan memesan dengan cepat. Tunggu di sini." Daniel menutup pintu mobilnya lembut, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah makan yang terlihat cukup sepi.
"Maaf Bell, jika aku menganggu." Ucap Erin lirih membuat Bella merasa tidak enak sendiri. Dia baru sadar jika sikapnya sangat kekanak-kanakan, namun tidak dapat di pungkiri jika dia merasa sakit hati ketika melihat Daniel memberikan perhatian pada gadis lain.
"Entahlah Rin, maafkan aku." Jawab Bella pelan." Ini semakin rumit." Erin memasang wajah serius, dia berfikir jika Bella tengah mengalami prahara dalam rumah tangga.
"Rumit bagaimana sih? Apa Kak Daniel bersikap buruk padamu?"
Bella menarik nafas panjang, untuk menekan rasa malunya dalam-dalam. Akhir-akhir ini dia merasa cemburu berlebihan, padahal hubungan keduanya baru berjalan beberapa Minggu.
"Tidak. Kamu juga tidak menganggu. Aku saja yang sedang sensitif." Erin terdiam sejenak untuk mengartikan kata sensitive menurut Bella.
"Kamu hamil?" Tubuhnya memutar, menatap tajam sahabatnya yang tengah tersenyum aneh.
__ADS_1
"Hamil apa? Aku saja sedang datang bulan sekarang." Tukas Bella tidak terima meski wajahnya memerah.
"Lalu sensitif bagaimana Bell? Aku tidak tahu."
"Itu memalukan untuk ku ceritakan."
"Kenapa harus malu? Katanya kita saudara?"
"Hmm.. Aku, tidak suka mendengar Kak Daniel memuji wanita atau gadis lain." Mata Erin melebar dengan senyuman merekah. Bella melirik malas kemudian duduk tegak, dia tahu jika Erin akan memasang wajah seperti itu.
"Cieeeee cemburu ya.." Ledek Erin mulai terkekeh.
"Memang konyol! Aku juga merasa begitu."
"Wajar kok hehe. Siapapun juga tidak mau Bell. Apalagi Kak Daniel setampan itu, pasti mengundang para wanita..."
"Stop!! Dia datang!!" Mulut Erin langsung bungkam, melihat Daniel kembali masuk dengan membawa dua bungkus makanan.
"Untung saja tidak antri." Daniel segera memasang sabuk pengaman dan melajukan mobilnya.
Bella melirik ke arah Erin untuk memintanya diam. Erin mengangguk pelan, seraya tersenyum. Sementara Daniel sendiri, bingung membaca situasi mobil yang terasa sunyi.
.
.
.
"Ini untukmu." Daniel menyodorkan satu bungkus kotak makanan pada Erin saat dia hendak turun.
"Tidak perlu Kak."
"Sudah terlanjur membeli tiga, terimalah." Bella dengan cepat mengambil kotak itu dan memberikannya pada Erin.
"Sudah terima saja, tidak perlu ada drama." Erin tersenyum aneh dan terpaksa menerimanya.
"Terimakasih ya Bella, Kak Daniel. Sampai jumpa besok." Erin segera turun. Dia menyadari mungkin Bella merasa tidak suka ketika melihat Daniel bersikap ramah padanya. Astaga Bella, hehe.. Cemburunya segitunya.. Tapi aku turut bahagia..
"Bukankah tadi tidak sopan sayang." Tegur Daniel melajukan mobilnya menuju pekarangan rumah.
"Hm iya. Lain kali aku akan lebih sopan terhadap siapa saja, termasuk teman-teman lelaki ku yang ada di sekolah. Jika mungkin bisa, aku akan menganggap mereka seperti saudaraku sendiri." Jawab Bella membuka pintu mobil dan segera keluar.
"Aku salah lagi hehe.." Gumam Daniel membaca raut wajah kesal yang Bella tunjukkan. Dia bergegas keluar mobil, tidak lupa pintu pagar di tutup kembali dan segera berjalan menghampiri Bella yang tengah duduk di teras." Tidak perlu pergi ke sekolah jika begitu." Daniel meraih pergelangan tangan Bella dan mengiringinya untuk masuk.
"Kenapa begitu?" Protes Bella ketus.
"Aku cemburu sayang. Apalagi?" Daniel menutup pintu dan menguncinya.
"Katamu tidak sopan?"
"Maksudku ucapan mu pada Erin tadi. Jika dengan lelaki lain, kamu tidak boleh terlalu ramah.."
"Lalu kamu sendiri Kak?" Sahut Bella menyela. Wajahnya mendongak dan menatap tajam Daniel sejenak, kemudian berlalu pergi masuk ke dalam.
Bella tengah membayangkan, jika Daniel pasti selalu seperti itu ketika sedang tidak bersamanya. Bersikap ramah, menebar senyum dan menganggap semua gadis adalah Adiknya.
Pasti dia seperti itu jika di luar..
Bella mengunci pintu kamar lalu meletakan tasnya sembarangan. Dia membuka lemari dan mengambil baju yang tergantung.
Tok..Tok...Tok...
"Sayang..." Panggil Daniel dari luar.
"Kenapa tidak semua gadis di panggil sayang.." Gumam Bella mengumpat.
"Kamu marah padaku? Maafkan aku jika memang aku melakukan kesalahan." Bella berdiri mematung, menatap pintu dan mulai melucuti bajunya untuk menggantinya dengan dress.
"Tentu saja marah! Dasar tidak peka." Umpat Bella lirih. Meskipun dia kesal, tapi untuk jujur, Bella belum bisa melakukannya.
Sementara di luar, Daniel setengah mati merasa khawatir saat tidak mendapatkan balasan. Bella sendiri, sengaja tidak membalas ucapan Daniel dengan lantang agar Daniel merasa kebingungan.
"Tidak mungkin Kan jika dia memaksa masuk." Bella merasa jika pintunya masih sangat kokoh namun tiba-tiba..
Braaaakkkkk!!!
Dalam satu dorongan, pintu terbuka padahal Bella belum sempat memakai dress-nya. Sebagai lelaki normal, tentu Daniel merasakan sensasi selayaknya lelaki dewasa. Terpanah, terkejut dan sangat beruntung bisa melihat keindahan yang ada di hadapannya.
Mata Bella membulat, langsung saja dia meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya sembarangan.
"Kak Daniel!!! Kenapa masuk!!!" Protesnya berteriak.
Padahal aku sudah sering melihat itu meski dari pantulan laptop..
"Iya maaf, aku takut terjadi sesuatu." Daniel segera membalikkan badannya seraya terkekeh.
"Itu pasti alasanmu saja." Daniel kembali berbalik badan sebab tidak menerima balasan ucapan bella padanya. Langkahnya terayun pelan menghampiri Bella yang memasang wajah tegang.
"Katakan lagi sayang?" Pintanya lirih.
"Jangan mendekat Kak!!" Cegah Bella seraya berjalan mundur.
"Kenapa tidak boleh. Kamu istriku bukan?"
"Iya tapi, ini belum waktunya." Jawab Bella panik.
"Ini sudah waktunya sejak tiga Minggu lalu." Langkahnya terhenti, ketika melihat tubuh Bella sudah membentur pintu lemari.
"Apa maksudmu Kak."
"Aku ingin itu sejak tiga Minggu yang lalu." Bella menelan salivanya kasar, tenggorokannya mendadak terasa kering.
Dengan cepat, Daniel meraih ujung selimut lalu menariknya lembut. Bella tertunduk, dia merasa jika apa yang di ucapkan Daniel memang benar adanya. Seharusnya dia sudah seutuhnya menjadi miliknya tiga Minggu yang lalu. Namun nyatanya, Bella belum siap melakukannya. Itu terlihat dari caranya memegang erat selimut dengan kedua tangannya, seolah tidak ingin Daniel melihat apa yang ada di dalamnya.
"Tidak Kak.. Aku belum siap.." Ucap Bella bergumam dengan wajah menegang.
"Kelulusanmu tinggal lima bulan lagi sayang, sementara hamil membutuhkan waktu sembilan bulan. Itu cukup untuk menutupi semuanya."
Mata Bella membulat seraya tertunduk. Dia bisa saja kabur, tapi Bella tidak ingin melakukannya.
Kak Daniel benar... Jika aku bisa memberikan malam pertamanya, bukankah dia akan menjadi milikku?
Genggaman tangannya pada selimut perlahan merenggang, apalagi kini jarak Daniel sudah begitu dekat sehingga Bella merasa pasrah. Tapi, bukan sepenuhnya pasrah, sebab Bella juga menginginkan sesuatu yang lebih dari sebuah ciuman.
Tangan Daniel mulai terulur, meraih jemari kecil yang masih berusaha mempertahankan selimut yang menjadi penghalang.
Bella yang sudah pasrah, menurut tanpa perlawanan ketika Daniel merenggangkan jemarinya untuk melepaskan satu-satunya penutup tubuhnya.
Kepalanya masih tertunduk dengan wajah memerah karena rasa malu dan gugup yang bercampur aduk.
"Orang bilang. Hasrat seorang lelaki itu begitu besar." Ucap Daniel yang ternyata berniat memakaikan dress untuk Bella." Sulit mengendalikan, apalagi jika sedang berdua bersama gadis polos seperti dirimu." Tarikan nafas panjang berhembus, ketika Daniel mulai membantu Bella memasukkan tangannya ke lengan baju dress yang tadi di ambilnya." Tapi aku bisa, karena aku sangat menyayangimu melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri." Seharusnya Bella menyadari, jika Daniel selalu saja berbuat sesuatu yang menegangkan seperti sekarang.
Aku bahkan sudah berfantasi liar bersamanya.. Malunya diriku...
"Belum waktunya sayang. Kamu harus sabar." Seolah tahu isi hati Bella, Daniel berkata itu seraya tersenyum teduh.
"Bukankah kamu yang tidak sabar Kak?" Aku memang tidak sabar!! Agh!!! Ini melelahkan...
"Aku akan sabar menunggumu lebih dewasa."
"Ya! Kau memang suka wanita dewasa kan?" Tanya Bella mulai kembali tersulut rasa cemburu.
"Bella dewasa bukan wanita dewasa." Bella melirik malas sementara Daniel membalasnya dengan senyuman hangat." Aku berjanji tidak akan ramah pada siapapun setelah ini." Imbuhnya begitu peka dengan perasaan Bella yang tidak menginginkan itu.
__ADS_1
"Aku tidak bilang begitu." Tukas Bella tidak mengakuinya.
"Kamu bilang padaku melewati ini." Menyentuh dadanya sendiri." Aku minta maaf. Oke." Daniel merengkuh tubuh Bella erat sebentar lalu kembali merenggangkannya." Sesuai janji." Imbuh Daniel menunjuk bibirnya.
"Tidak." Jawab Bella merasa malu.
"Tidak ingin berhenti? Aku juga sama."
Secepat kilat, Daniel meraih tengkuk Bella dan menempelkan bibirnya di sana. Ego Bella yang belum juga turun membuat Daniel sedikit memberikan paksaan Bella agar membuka bibirnya sekarang.
Bella menggila, merasakan ciuman kali ini terasa sedikit panas. Tekanan pada tengkuknya terasa sedikit menguat dari biasanya. Daniel menyumpal bibirnya seolah tidak memberikannya selah hingga beberapa kali nafas Bella tersengal-sengal.
"Kita makan ya.." Ucap Daniel dengan bibir yang masih menempel. Dia mengangkat tubuh yang di anggapnya ringan lalu berjalan keluar kamar tanpa melepaskan ciumannya.
*************
"Lepaskan aku Jim!!" Teriak Fanny geram sementara Jim dengan santainya duduk seraya memperhatikannya.
"Terus saja melawan, agar kau di situ selamanya."
Fanny bergerak tidak beraturan berusaha untuk melepaskan diri, namun rasanya sia-sia karena dia tidak cukup kuat untuk itu.
Aku tidak mengerti jika Jim tidak waras!! Bagaimana ini!?? Jika aku tidak bisa keluar dari sini, aku akan membusuk di sini selamanya.
Kebiasaan Fanny berkeliaran dengan bebas, membuat keluarganya lepas tangan. Mereka sudah tidak sanggup membuat Fanny menjadi wanita baik-baik saat terakhir mereka mendengar kabar jika Daniel memutuskan hubungan dengannya.
Awalnya ada harapan, ketika keluarga Fanny mendengar jika anaknya memiliki hubungan khusus dengan Daniel. Sebab mereka tahu bagaimana seluk beluk tentang Daniel yang terkenal baik dan bertanggung jawab.
Terserah! Kau mau kemana juga terserah!! Atau sekalian saja tidak perlu pulang daripada hanya membuat malu orang tua...
Ucapan terakhir itu terlontar dari Ayah Fanny yang merupakan seorang pedagang kecil di pasar, sementara Mama Fanny pergi entah kemana bersama lelaki lain karena tidak mau hidup susah.
Aku harus berpura-pura baik...
"Tolong lepaskan aku Jim." Pinta Fanny lembut." Kamu tidak kasihan padaku?" Imbuhnya merajuk.
"Tentu saja kasihan, aku mencintaimu dan aku tidak ingin kamu pergi dariku." Jim yang memang memiliki gangguan mental langsung luluh dengan kata-kata lembut dari Fanny.
"Apa cinta seperti ini? Sakit sekali." Jim beranjak, menatap pergelangan tangan Fanny yang mulai memerah.
"Itu namanya cinta yang luar biasa bukan. Bukankah lelaki posesif itu keren." Jim tersenyum tipis namun senyum itu pudar ketika melihat ponselnya bergetar.
Dia berjalan menghampiri meja untuk mengambil ponsel dan menerima panggilan dari Marco.
"Ya Tuan.
"Kau di mana?
"Aku masih di apartemen. Maaf, untuk hari ini aku ada keperluan mendadak sampai sore hari.
"Bagaimana sih kamu!! Kau ku gajih bodoh!!!
Kau yang bodoh!!!
"Hm maaf Tuan.
"Cepat selidiki di mana mereka sekarang? Jika mungkin aku bisa melakukannya sendiri! Aku tidak akan menyuruhmu sialan!!!
Panggilan terputus, Jim meletakan ponselnya kembali dengan mata menyala. Dia tentu merasa geram dengan umpatan Marco yang di anggap sebagai saingan untuknya.
"Aku pergi sebentar dulu, untuk memberikan laporan." Tangannya meraih jaket hitam lalu memakainya.
"Buka ikatanku dulu Jim."
"Tidak sayang. Renungkan kesalahanmu kemarin. Aku berjanji akan sebentar." Jim menghampiri ranjang dan mencium bibir Fanny sejenak.
Ingin rasanya Fanny mengumpat namun dia tidak ingin Jim semakin menggila dan membuatnya terikat selamanya.
"Oke aku tunggu."
"Begitu dong.. Aku pergi dulu." Jim tersenyum santai, seolah dirinya tidak melakukan apapun, padahal sudah sangat jelas jika dia tengah menyekap Fanny sejak kemarin." Bye sayang. Baik-baik di sini ya." Jim melenggang pergi keluar kamar apartemen.
"Baik-baik!!! Apa ini yang di sebut baik? Hiks sakit sekali." Eluh Fanny mencoba melepaskan diri dengan menarik kuat ikatan tali namun itu tetap sia-sia. Jim sudah berpengalaman dalam mengikat mangsanya sehingga sudah bisa di pastikan jika Fanny tidak akan bisa lolos begitu saja.
**************
Karena rasa perduli yang terlalu besar, Samuel mengikuti kemana Marco pergi. Laju motornya di perlambat, ketika Mobil Marco memasuki kantor pusat Dans grup yang juga merupakan tempat kerja Ayahnya.
Aku akan bertanya pada Ayah, siapa Marco sebenarnya. Kenapa dia seolah-olah mengincar Bella?
.
.
.
.
"Pak Marco itu kaki tangan Pak Daniel, pemilik Dans grup. Tapi posisinya setara sebab dia di berikan kendali penuh di perusahaan." Samuel mengangguk-angguk seraya terdiam sesaat. Dia baru mendengar nama Daniel sekarang sehingga dia belum bisa menebak jika Daniel adalah orang yang di sebut nya sebagai kekasih Bella.
"Kenapa bertanya itu Nak? Apa Pak Marco ke sana tadi? Itu wajar sebab sekolahmu itu berada di naungan Dans grup."
"Iya Pa. Dia di sekolah dan sering ke sana akhir-akhir ini." Terdengar tarikan nafas berat keluar dari bibir Ayah Samuel.
"Itu aneh. Semua pegawai juga mengeluh begitu. Kinerja Pak Marco begitu buruk hingga perusahaan mengalami penurunan omset penjualan."
"Memangnya Pak Daniel kemana Pa?" Tanya Samuel tentu ingin tahu. Dia begitu khawatir terhadap Bella setelah mendengar pembicaraan antara Marco dan kepala sekolah.
"Katanya sih keluar kota tapi Papa juga tidak mengerti kemana. Seharusnya perusahaan tidak di lepaskan begitu saja pada orang semacam Pak Marco."
"Berarti Pak Marco bukan pemilik dari Dans grup."
"Papa tidak mengerti kenapa kamu jadi tertarik sekali mengobrol tentang masalah ini?" Canda Ayah Samuel tersenyum menatap Samuel yang sudah tumbuh semakin dewasa.
"Aku memiliki teman Pa, em seorang gadis."
"Oh lalu.."
"Bukankah Papa tahu jika siswa yang masuk sepuluh besar akan mendapatkan keringanan untuk SPP dan temanku itu tidak mendapatkannya. Lalu tadi, aku tidak sengaja mendengar obrolan antara Pak Marco dan kepala sekolah perihal itu."
"Maksudnya bagaimana Nak?"
"Temanku itu sangat berprestasi, dia selalu mendapat peringkat satu dan banyak menerima penghargaan tapi beasiswanya tiba-tiba di cabut. Aku sudah berinisiatif untuk memberikan jatahku tapi pihak sekolah menolak." Ayah Samuel mengangguk-angguk sebab dia juga merasa bingung.
"Setahu Papa, seharusnya Pak Marco tidak mengurus ke bagian itu."
"Pak Marco sengaja menyuruh kepala sekolah untuk menekan biaya sekolah Bella. Aku hanya merasa kasihan padanya."
"Kasihan atau kasihan." Ledek Ayahnya.
"Aku menyukainya tapi dia tidak menyukaiku jadi aku benar-benar hanya kasihan. Menurut Papa bagaimana? Apa Pak Marco punya dendam pribadi ke Bella? Temanku itu?"
"Bisa jadi seperti itu."
"Kasihan sekali. Dia baru saja kehilangan Kakaknya lalu rumahnya terbakar dan jika aku memberikan bantuan secara terang-terangan, aku takut dia tersinggung." Ucap Samuel bergumam.
"Beruntung sekali si Bella itu hingga membuat kamu memikirkannya sampai begitu." Samuel tersenyum, dia juga ingin melupakan perasaannya dan rasa perdulinya namun itu sulit.
Andai kamu bisa menerima perasaanku Bella, mungkin kamu tidak akan sungkan menerima bantuan dariku..
~Riane
πππ
__ADS_1
Alhamdulillah bisa update...
Terimakasih dukungannya π₯°π₯°