
Daniel mendekat tanpa di minta. Membantu menaikkan resleting gaun yang melekat pada tubuh Bella.
"Kenapa tidak minta bantuan." Tutur Daniel lembut. Melihat istri kecilnya dari pantulan cermin, terlihat begitu manis mengenakan gaun yang menyesuaikan umurnya.
Daniel tidak ingin Bella tumbuh dewasa lebih cepat. Rasanya dia menikmati kebersamaan mereka langkah demi langkah, meski terkadang harus melalui paksaan yang manis.
"Aku bisa Kak." Jawab Bella dengan wajah memerah. Menyadari jika Daniel tengah memperhatikannya dari pantulan cermin." Ini aneh." Eluhnya mencari alasan memalingkan wajah.
"Nanti juga terbiasa, seperti dress yang kamu pakai."
"Hm.. Tapi..." Ucap Bella tertahan saat menyadari jika dia tidak bisa memakai riasan wajah. Bella memutar tubuhnya dan menunjuk wajahnya sendiri." Ini Kak hehe ..." Daniel menelungkup wajahnya lalu mencium bibirnya sejenak.
"Sudah cantik."
"Tidak pucat?"
"Bibir mu merah sekali, mana mungkin pucat." Bella mengangguk-angguk seraya tersenyum aneh." Aku akan berganti kemeja.."
Glek!!!
Mata Bella langsung membulat dengan bibir setengah terbuka. Melihat Daniel menanggalkan kaosnya di hadapannya.
Angannya berfantasi liar, berseluncur ke otot-otot perut Daniel. Tapi itu sesaat sebelum Bella sadar dan membalikkan tubuhnya memunggungi Daniel.
"Duuuuh Kak! Kenapa tidak dari tadi ganti baju!" Protes Bella belum tahu jika dia masih bisa melihat Daniel dari pantulan cermin. Langsung saja Bella menundukkan wajahnya meski terkadang matanya melirik sebentar.
"Bagaimana bisa berganti baju jika kamu berdiri di situ sayang."
Ahh ya! Bodoh!!!
Secepat kilat, Bella meminggirkan tubuhnya dan akan melangkah pergi namun Daniel mencegahnya.
"Pakaikan baju untukku." Pinta Daniel menggoda. Dia membuka lemari dan mengambil kemeja yang setara dengan warna gaun Bella.
"Pakai sendiri."
Tap!!!
Pintu lemari di tutup, Daniel memutar tubuh Bella agar menghadap ke arahnya.
"Aku bahagia jika kamu yang memakaikannya." Daniel mengetahui titik lemah Bella. Dia memang sedikit keras hati namun tidak pernah mengingkari janji.
"Jangan manja Kak. Nanti kemalaman."
"Tenang saja. Aku menyewanya untuk satu malam. Ayo sayang pakaikan." Rajuk Daniel lembut membelai telinga.
"Hmm iya..." Bella meraih kemeja Daniel dengan tatapan tidak fokus. Saat Bella akan memasukkan lengan Daniel pada kemejanya, tubuh Daniel malah mundur." Kak!! Serius tidak?" Celetuk Bella tentu merasa kesal.
"look at me, Baby.. Aku tidak mau kamu memakaikannya dengan berpaling seperti itu. Ayo.." Daniel menarik pergelangan tangan Bella agar mendekat.
Bella yang sejatinya ingin melakukan namun malu untuk mengawali, terpaksa di tuntun Daniel untuk melakukannya.
"Lihat seperti ini." Daniel kembali menelungkup wajah Bella dan memandanginya.
"Terlalu banyak aturan."
"Hm iya. Lakukan agar cepat selesai."
Dengan tatapan fokus, Bella memakaikan kemeja sesuai keinginan Daniel. Dia paham dengan tujuan Daniel sehingga tidak akan berguna jika berprotes terlalu panjang.
"Ini milikmu, kenapa harus malu." Tutur Daniel yang juga tengah fokus pada Bella.
"Apa sih Kak."
"Bukankah aku suamimu? Itu berarti aku milikmu." Bella tidak bergeming. Menahan malu seraya fokus mengancing kemeja agar perkerjaannya cepat selesai.
"Sudah Kak.." Bella mundur perlahan untuk menghindari posisi berbahaya. Tapi yang di lihat semakin membuat mata hatinya buta.
Daniel begitu terlihat tampan dengan kemeja sederhana yang di pakainya. Apalagi saat tangannya terangkat untuk merapikan rambutnya membuat Bella kembali menegang.
"Sudah siap kan. Kita berangkat."
Langsung saja Daniel meraih jemari kecil itu. Mengiringinya keluar dari kamar tanpa dia sadari jika pemilik tangan itu tengah mengendalikan perasaannya.
Sumpah demi apapun, Kak Daniel tampan sekali... Sementara aku buruk sekali!! Bagaimana mungkin aku tidak memakai riasan saat berkencan dengan lelaki dewasa seperti Kak Daniel? Ahh rasanya semakin buruk saja..
"Kak sepertinya akan hujan lagi?" Ucap Bella pelan. Ingin sekali dia membatalkan acara kencan pertama mereka. Bella merasa sangat payah bahkan tidak pantas untuk di ajak berkencan.
"Tidak apa sayang." Jawab Daniel seraya mengunci pintu. Dia memasukkan kunci tersebut ke dalam saku celananya lalu menggiring Bella turun menuju ke mobil.
"Kalau hujannya deras."
"Jika masih hujan air, itu tidak jadi masalah. Masuklah." Daniel membuka pintu dan dengan terpaksa Bella masuk.
"Memangnya hujan apalagi kalau bukan air?" Protes Bella pelan.
"Seperti hujan api atau hujan batu."
"Mana mungkin Kak."
"Memang tidak mungkin jadi jangan berprotes."
Bella menatap keluar jendela. Itu lebih baik, daripada harus memandang wajah tampan yang duduk di sampingnya.
Suasana malam yang begitu ramai, membuat bibir Bella tersungging. Dia sangat jarang menikmatinya jika Bastian tidak mengajaknya. Memang terkadang Bella sesekali pergi bersama Erin dan Sari. Tapi jika untuk keluar malam, Bastian membatasinya.
Jangan akhir pekan! Jangan di tempat ramai carilah tempat yang biasa...
Bella kembali tersenyum mengingat peraturan Bastian yang masih di ingatnya.
"Ho hotel!!" Bella memutar tubuhnya menoleh cepat ke arah Daniel.
"Iya hotel hehe. Kita bermalam di sini."
Tujuan Daniel semakin membuat Bella gugup, gelisah dan tegang. Apalagi yang bisa di lakukan di dalam hotel jika bukan..
"Kak.. Katanya makan malam." Protes Bella.
"Iya. Makan malam di dalam hotel maksudnya." Daniel tersenyum dan fokus mencari tempat parkir yang cukup penuh." Aku tahu kamu belum siap bertemu dengan siapapun, jadi aku reservasi salah satu kamar untuk satu malam." Daniel menarik tuas rem lalu melepaskan sabuk pengaman.
"Malam malam kan di restoran Kak.." Daniel tidak menjawab pertanyaan itu lalu turun.
Apa Kak Daniel ingin itu.. Aku saja sedang datang bulan..
Cklek...
Daniel mengulurkan tangannya lembut seraya tersenyum dengan mata sipitnya.
"Apa tidak bisa di batalkan saja?"
"Tidak bisa. Ayo, atau mau ku gendong." Tawar Daniel berharap Bella langsung keluar dan cara itu ampuh. Bella meraih lengan Daniel dengan tangan dinginnya.
"Sebenarnya kita mau apa sih Kak." Tanya Bella bergetar.
"Honeymoon sayang.." Mata Bella membulat dengan bibir setengah terbuka. Daniel menggiringnya masuk meski Bella berusaha berhenti berjalan.
"Apa Kak Daniel sedang menggodaku lagi?" Tanya Bella pelan, mengingat suasana hotel yang ramai.
"Tidak. Reservasi atas nama Dimas."
"Sebentar Tuan." Beberapa saat menunggu, pegawai hotel memberikan sebuah kunci.
Daniel tersenyum, merasakan jemari dingin Bella sekarang.
"Jangan tegang." Ucap Daniel berusaha menenangkan.
"Kenapa aku mendadak lemah ya Kak." Daniel terkekeh membaca raut wajah gugup Bella.
"Jangan berfikir macam-macam dulu sayang."
"Ini hotel Kak. Apalagi yang bisa di fikirkan?" Daniel tidak memberikan jawaban, dia menempelkan kartu dan pintu terbuka dengan sendirinya." Aku lemah." Tolak Bella mematung dan tidak ingin masuk.
"Kamu membuatku tidak sabar." Daniel mengangkat tubuh Bella lalu menutup pintu dengan kaki kanannya.
"Tidak sabar apa?"
"Lihat sendiri." Daniel menurunkan tubuh Bella lembut.
Dekorasi kamar bernuansa romantis, membuat Bella terpaku. Warna lampu sedikit redup dengan sebuah meja makan di tempatkan pada samping jendela lengkap dengan sofanya.
Angin sepoi-sepoi terasa berhembus menerpa tubuhnya, karena jendela kamar hotel yang tepat menghadap sebuah danau buatan yang terletak di belakang hotel.
"Wahh keren hehe.." Daniel mengangkat tangannya dan mengusap kepala Bella lembut." Pasti mahal Kak." Protesnya untuk kesekian kali.
"Jangan bicarakan itu." Daniel mengiring Bella melangkah maju, untuk menikmati pemandangan di balik jendela yang sangat indah.
"Serius Kak Daniel.. Ini indah sekali."
__ADS_1
"Syukurlah jika kamu suka." Daniel menekan lembut pundak Bella untuk duduk, di ikuti oleh dirinya. Tangannya menelusup masuk ke sela belakang punggung Bella untuk mengeratkan posisi duduk keduanya.
"Kak Daniel tahu darimana tempat ini?"
"Tidak ada sayang. Aku mencarinya sendiri."
Hujan mulai turun sehingga suasana semakin syahdu. Keduanya tidak bergeming dan hanya menatap fokus ke danau buatan di hadapannya selama beberapa menit.
"Hujan Kak."
"Iya sayang. Bukankah tidak masalah jika hujan?"
"Hm iya.." Bella mengangguk pelan dengan perasaan yang semakin menegang.
"Kita bisa makan santai di sini. Bukankah ini lebih baik daripada terlalu formal."
Lebih tegang bukan lebih baik..
"Sudah lapar?" Tanya Daniel lembut.
"Belum.." Daniel mengganti posisinya, dia memutar tubuhnya menghadap ke arah Bella.
"Aku punya sesuatu untukmu." Daniel mengeluarkan kotak perhiasan berwarna putih. Bella memasang wajah aneh dengan detak jantung yang semakin tidak terkendali.
"Apa itu?" Tanyanya lirih.
"Aku belum memberikan ini saat pernikahan kita dulu." Daniel membuka kotak tersebut dan terdapat sebuah cincin juga sebuah kalung.
"Aku tidak apa-apa Kak."
"Memang tidak masalah, tapi ini adalah lambang pengikat." Daniel mengeluarkan sebuah cincin lalu meletakkan kotaknya di atas meja.
"Berjanjilah." Daniel mengeluarkan jari kelingkingnya. Bella tidak banyak bertanya dan menyelipkan jari kelingking kecilnya." Jangan saling meninggalkan, harus saling menjaga dan semoga hubungan kita akan tetap hangat untuk selamanya." Bella menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Daniel kembali membuatnya jatuh ke dalam jurang hatinya.
"Iya.." Jawab Bella setelah beberapa saat terdiam.
"Kamu milikku dan aku milikmu. Jangan pernah di lepas apapun yang terjadi." Daniel meraih jemari kecil itu dan mendorong cincinnya masuk ke jari manisnya. Tangannya terulur untuk mengambil kalung dan memakainya ke leher Bella.
"Kalau sekolah Kak?"
"Pakai saja sayang."
"Jika ada yang bertanya?"
"Bilang pada mereka jika kamu sudah bertunangan." Bella mengangguk lalu menunduk, memandangi jari manisnya yang semakin indah setelah sebuah cincin melingkar di sana.
************
Hingga petang, Putri tidak juga beranjak dari tempatnya sekarang. Dia menunggu kedatangan Marco yang sejak tadi belum keluar ruangan. Ingin rasanya dia pulang saja, tapi takut kemarahan Marco semakin parah jika dia tidak menyampaikan tentang pembatalan proyek tadi siang.
Apa ku telepon saja? Batinnya akan menyentuh gagang telepon tapi mengurungkan niatnya.
"Loh Non Putri?" Sapa satpam yang sedang berkeliling.
"Eh Pak satpam." Putri tersenyum aneh. Bukan hanya lelah tapi dia tengah mempersiapkan diri untuk menerima gertakan dari Marco nanti.
"Kok belum pulang Non. Pantesan tadi nggak lihat."
"Nunggu Pak Marco keluar."
"Pulang saja Non. Kalau ada perlu, besok pagi saja." Jawab satpam memberikan saran.
"Tidak Pak."
"Sudah jam delapan loh Non."
"Hehe iya.."
Cklek...
Pintu ruangan Marco terbuka. Dengan raut wajah gelisah, Putri menghampirinya dan di balas Marco dengan tatapan tajam.
"Maaf Pak." Satpam yang ada di sana, masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Ada apa?"
"Investor yang datang dari Bali membatalkan proyeknya."
"Bali?" Gumam Marco terdiam, mencerna pembicaraan Putri.
"Iya Pak tadi..." Belum sempat Putri menyelesaikan perkataannya, Marco dengan tega menampar wajahnya hingga terduduk di lantai.
"Itu proyek milyaran rupiah bodoh!!! Bagaimana bisa mereka membatalkan proyek itu!!!" Satpam langsung berjalan menghampiri untuk jadi penengah.
"Berkas-berkas tidak ada Pak juga konsepnya." Putri berusaha berdiri meski pipinya terasa panas.
Marco yang baru menyadari kesalahannya, melenggang keluar begitu saja tanpa meminta maaf pada Putri.
"Gila memang Pak Marco!!" Eluh Putri.
"Iya. Kapan Pak Daniel kembali ya. Bukan hanya Non Putri, saya saja sering kena marah kok."
"Kalau ada kerjaan lain, aku keluar saja Pak." Putri beranjak untuk mengambil tasnya lalu melenggang pergi menuju lift.
*************
Perih sekali... Eluh Fanny meringis kesakitan. Jim baru bermurah hati sehingga hari ini dia di lepaskan dari ikatannya.
"Makan sayang." Jim meletakan kotak makan di meja.
"Iya terimakasih." Daripada membuat masalah. Fanny segera mengambil kotak makan lalu melahapnya.
"Jika kamu menurut, aku akan membebaskan mu." Gumam Jim tersenyum.
"Iya sayang. Maafkan aku." Luka sayatan yang ada di bahu Fanny memperlihatkan jika Jim tidak sedang main-main. Dia serius akan menghabisi nyawa Fanny jika meninggalkannya pergi." Aku boleh pulang?" Tanya Fanny seraya mengunyah.
"Boleh. Untuk mengambil baju kan, besok kembalilah."
"Iya. Aku masih ingat janji untuk tinggal di sini." Fanny berusaha bersikap senetral mungkin agar Jim memperbolehkan pulang dan kabur.
"Jalankan rencana kita. Aku sudah semakin kesal dengan Marco sialan itu!!"
"Dia menyukai Bella, ini sedikit sulit."
"Aku yakin kamu bisa. Bella hanya anak ingusan, masak kamu kalah?"
Fanny kembali mengingat Daniel dan masih sangat menginginkannya. Fanny tengah mencari ide agar bisa terlepas dari Jim sehingga dia bisa melancarkan aksinya untuk mendekati Daniel lagi.
"Hm iya." Dalam sekejap, kotak makan terlihat kosong. Fanny bukan rakus tapi sudah dua hari ini Jim hanya memberikannya sedikit makanan." Aku akan bersiap untuk pulang." Jim berdiri dan membuka lemari untuk mengambilkan baju ganti.
"Pakai baju ini, untuk menutupi lukamu."
Tidak waras sekali lelaki ini!!!
"Iya. Tapi, Ayahku tidak akan perduli meski tidak di tutupi." Fanny mengenakan kaos panjang yang Jim berikan." Aku pulang dulu ya." Fanny mendekatkan bibirnya dan mengecup sebentar bibir Jim.
"Hati-hati sayang."
"Berarti aku malam ini tidur rumah dulu sekalian berkemas."
"Iya. Apa perlu besok aku jemput?"
"Tidak perlu. Aku terlatih berkeliaran sendiri. Sampai jumpa besok." Fanny tersenyum sejenak, kemudian melangkah pergi dengan berbagai umpatan yang terlontar dalam hati.
************
"Ini semua gara-gara kau Sam!!!" Umpat Kenan saat memasuki toilet terakhir yang harus di bersihkan.
Karena pertengkaran yang terjadi tadi siang. Sam dan Kenan memilih kerja bakti daripada harus di skors. Guru BK memberikan hukuman membersihkan semua toilet yang ada di sekolah.
Perkerjaan itu harus benar-benar bersih sebab hukuman akan di tambahkan jika Samuel dan Kenan tidak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.
"Kenapa aku? Bukankah kau yang memukulku duluan." Kenan menatap geram dengan menggenggam alat pel di tangannya.
"Kau menggoda milikku." Sontak Samuel terkekeh mendengar itu sebab dia tahu jika Bella sudah memiliki kekasih.
"Milikmu? Kau bermimpi. Bella milik kekasihnya."
"Kekasihnya? Siapa? Kau tahu jika Bella punya kekasih?" Samuel mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ya. Lelaki yang mengantarkan dia setiap pagi itu kekasihnya."
"Itu Kakak angkatnya."
"Kakak angkat? Apa ada di zaman sekarang. Tapi wajar, dia tampan, dewasa, lalu kita?!! Bukankah sudah rahasia umum jika Bella menyukai lelaki dewasa." Samuel duduk, untuk beristirahat sejenak di ikuti oleh Kenan yang mulai percaya cerita Samuel.
"Mereka tinggal berdua. Bukankah itu tidak boleh dan Bella sangat anti pacaran. Bagaimana mungkin dia tergoda dengan lelaki putih itu."
__ADS_1
"Kalau masalah tinggal berdua, itu urusan pribadi mereka. Namun jika kau meledek lelaki itu? Sebaiknya kau berkaca Ken, hehe."
"Berkaca apa?!!" Ucap Kenan tidak terima, dia duduk lemah dengan tarikan nafas panjang.
"Dia tampan, sopan, dewasa, gadis manapun sudah pasti ingin berada di sampingnya." Raut wajah Kenan berubah geram saat sosok Daniel melintas. Dia juga merasa salah menilai Samuel yang memiliki fikiran lebih luas darinya.
"Tapi miskin!! Rumahnya bahkan buruk sekali."
"Ahhh entahlah. Kau sudah terbakar cemburu jadi fikirannmu sangat panas." Samuel berdiri dan hendak melanjutkan sisa hukumannya.
"Itu fakta. Seharusnya Bella bisa melihat, mana yang lebih bisa membahagiakannya."
"Berarti kau memang belum tahu arti dari bahagia sesungguhnya." Kenan berdiri karena merasa tidak terima." Kau bahagia sekarang? Dengan mobil mewah dan kekayaan yang mulai kau pamerkan di sekolah?" Imbuh Samuel tersenyum tipis.
Kenan terdiam. Dia malu jika harus menjawab tidak merasa bahagia meski kehidupannya sangat berkecukupan. Awalnya dia menyangka jika sang Mama meninggalkannya karena alasan kebangkrutan sang Ayah. Tapi setelah menilai dari sudut pandang Bella. Kenan sadar, jika tidak semua wanita seperti Mamanya.
"Bahagia itu dari sini." Samuel menunjuk dada Kenan." Meskipun kamu hidup kesusahan tapi melewatinya dengan orang yang tepat, kau akan merasa bahagia. Saran ku, jangan terlalu menganggu Bella. Dia akan semakin membencimu. Aku juga menyukainya. Tapi aku tidak egois seperti dirimu. Kita selesaikan agar bisa cepat pulang." Samuel berjalan masuk ke dalam toilet, sementara Kenan hanya terpaku melihatnya.
Sudah hampir tiga tahun dia menyukai Bella dan berharap akan berbuah manis di akhir. Tapi rasanya itu sangat sulit, apalagi setelah mendengar pencerahan dari Samuel.
Apa selama ini aku egois?? Kenan berjalan lemah masuk kedalam toilet seraya berusaha merenungi kesalahannya.
****************
PARIS 🗼
Nara berdecak, seraya menghampiri Isabelle yang terlihat mengutak-atik laptop milik Joy. Itu kerapkali terjadi bahkan terkadang Abel menghapus beberapa email yang masuk di sana.
"Astaga sayang." Ucap Nara lembut. Dia meraih laptop dan melihat ke arah Abel seraya tersenyum." Mana laptop kamu? Bukankah Mommy bilang jika tidak boleh membuka laptop Daddy seperti ini." Meskipun Jonathan dan Nara tinggal di Paris. Tapi mereka selalu menggunakan bahasa Indonesia jika mengobrol dalam satu lingkup rumah. Mereka ingin Abel tidak melupakan bahasa negaranya sendiri.
"Not exciting."
"Apa yang tidak seru? Mau di hukum?" Tawar Nara mencubit pipi Abel lembut.
"Sorry Mom."
Joy dan Nara di karuniai satu orang anak perempuan yang kini sudah berumur empat tahun. Kehidupan keduanya sangat hangat, sebab Joy tinggal di sebuah kota kecil yang terletak di Prancis.
"Oke Mommy maafkan." Nara meraih laptop berwarna pink lalu meletakkannya di hadapan Abel." Main dengan ini. Oke." Abel tersenyum dan mulai memainkan game di dalam laptop tersebut.
Nara duduk di sampingnya, untuk memeriksa file yang mungkin sudah di buka oleh Abel. Hingga matanya menangkap sebuah pesan dari sebuah email. Tangan lentiknya mengklik email tersebut dan membaca pesan yang memang sudah di baca oleh Abel sebelumnya.
Kak Daniel...
Nara bergegas berdiri setelah memastikan semua pintu terkunci. Dia berjalan menuju kamar utama yang memperlihatkan Joy tengah tertidur pulas di atas tempat tidur.
"Sayang. Bangun." Ucap Nara dengan tega membangunkan Joy yang bahkan baru saja tidur. Joy tidak bergeming dan hanya mengganti posisi tidurnya." Hm.. Oke.. Aku akan keluar untuk membeli sesuatu di mini market." Sontak Joy terduduk mendengar itu. Dia masih jadi suami yang super posesif bagi Nara. Meskipun nyatanya mereka ingin hidup tenang di Paris. Tapi Joy tidak bisa menghilangkannya rasa khawatirnya jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
"Ayo ku antar." Joy meraih kunci mobil dan berdiri.
"Dengar dulu? Duduk sini." Joy kembali duduk tanpa perlawanan.
"Apa yang harus ku dengar sayang?"
"Bacalah.." Nara meletakkan laptop pada pangkuan Joy.
"Ahh dia!!" Tentu saja Joy mengumpat. Rasa kesalnya pada Daniel seakan mendarah daging hingga sekarang. Apalagi Nara sengaja memakai Adel sebagai alat untuk merajuknya pergi ke Korea dua Minggu lagi, hingga membuatnya semakin geram dan langsung menutup laptop cepat." Itu hanya akal-akalan si Daniel sialan itu!!" Nara tersenyum dan masih menyukai jika Joy cemburu buta seperti sekarang.
"Aku merasa itu benar. Ayolah sayang, bukankah kita sudah bertahun-tahun menikah, tapi kenapa kamu masih saja benci padanya?"
"Tentu saja. Wajahnya mirip Eun Wo sialan itu! Bagaimana jika Adel tahu wajah si Daniel?? Bukankah kalian akan menduakan ku lagi?" Nara terkekeh seraya memegang erat lengan Joy.
"Adel juga bilang jika Eun Wo Oppa itu tampan hehe. Tapi, aku mohon pastikan kebenaran email itu."
"Aku yakin tidak terjadi sesuatu dengannya. Dia hanya mencari perhatian agar kita bisa pergi ke Indonesia." Nara terdiam untuk memikirkan cara agar hati Joy bisa luluh.
"Paling tidak balas email-nya."
"Not Baby. Tidak! Aku tidak akan terpengaruh."
"Telefon Andra untuk memastikan. Please.."
"Kau masih saja membelanya?"
"Dia baik sayang. Bukankah dulu dia banyak membantu kita. Aku mohon.." Nada bicara Nara membuat Joy melemah. Dia tetap jadi seorang lelaki dewasa yang berotak baja dan berhati batu namun begitu lunak ketika sedang bersama Nara seperti sekarang.
"Hanya menelfon Andra dan untuk memastikannya." Jawabnya lirih.
"Iya.." Bella berdiri dan duduk di pangkuan Joy." Terimakasih ya.." Tangannya menelungkup wajah Joy lalu mencium bibirnya sebagai ucapan terimakasih.
"Apapun hanya untukmu.."
"Tunggu Abel tidur, nanti ku beri ronde selanjutnya." Nara meraih ponsel dan memberikannya pada Joy. Sebelum berbicara Nara menombol pengeras suara agar bisa mendengarkan perbincangan antara Joy dan Andra.
"Kau di mana?
"Di rumah Tuan.
"Palembang?
"Iya. Ada apa?
"Bagaimana keadaan Daniel di sana.
"Pak Daniel?
"Ya ! Orang sialan itu!!
Terdengar gelak tawa keluar dari bibir Andra dan Nara.
"Serius!!
"Maaf Tuan. Em saya kemarin sudah berkunjung di rumah Pak Daniel tapi beliau ke luar kota untuk berlibur. Saya hanya di sambut oleh kaki tangannya yang bernama Marco.
"Bukannya Lucas?
Joy bahkan masih mengingat jika Daniel memiliki kaki tangan bernama Lucas, bukan Marco.
"Bukan Tuan. Mungkin Lucas ikut bersama Pak Daniel.
"Emm ya....
Bella meraih ponsel itu cepat dari tangan Joy. Dia memberi isyarat Joy untuk tidak mengambil ponsel dari tangannya.
"Dia mengirim email untuk meminta bantuan Kak.
"Astaga Nona Nara. Emm email?
"Iya. Dia mengirimnya lewat sebuah email yang entah milik siapa.
"Aku juga merasa curiga dengan kaki tangan Pak Daniel Nona. Tapi, tidak ada alasan kuat untuk menuduh.
"Tolong cari tahu Kak. Libur sekolah kita akan ke sana.
Joy menarik nafas lembut seraya mencengkram kepalanya karena merasa kesal.
"Siap Nona. Jika perlu, menetaplah di Indonesia. Aku rindu melayani Tuan Joy.
"Aku akan memikirkan ide itu.
Joy merebut kembali ponselnya.
"Kabari jika ada sesuatu! Tidak perlu banyak bicara.
Joy mengakhiri panggilan dan melemparkan ponselnya sembarangan.
"Mana janjimu." Joy meraih tengkuk Nara sehingga ciuman panas kembali terjadi.
"Abel sayang."
"Biar di urus Bibik."
"Bibik sedang tidak ada. Dia ku suruh berbelanja."
"Dia akan baik-baik saja." Hasrat Joy yang tidak pernah padam langsung menjalar. Dengan bibir nakalnya dia mulai menjelajahi punggung terbuka Nara hingga lenguhan terdengar keluar.
"Tidak bosan?"
"Ini nikmat. Bagaimana bisa bosan." Joy menurunkan tali bahu pada gaun minim Nara dan bersiap akan melahap isi di dalamnya.
"Mommy...." Teriak Abel membuat Nara berjingkat.
"Abel..." Nara berdiri lalu berjalan keluar kamar, meninggalkan Joy dengan hasrat yang tidak tersalurkan.
Dua orang perempuan yang ku cintai, selalu menguji iman dan kesabaran ku.. Ahh bagaimana aku menidurkannya...
~Riane
__ADS_1
NB. Jika belum tahu Joy 😁Nara🤭 Bisa baca novel pertamaku. Tapi khusus 21+ ya🤣🤣🤣 Soalnya novelnya sedikit somplak 😄😄Banyak adegan tidak pantas. Bahasa tidak lazim jadi bagi yang masih bocil skip saja🤤🥰
Terimakasih dukungannya 🥰😍