
Daniel tersenyum, menatap Bella yang tertidur di pangkuannya. Makanannya bahkan belum tersentuh tapi Bella lebih memilih tidur setelah ciuman panas yang terjadi sedikit lama.
Aku tahu kenapa Bastian tidak memperbolehkannya berpacaran.. Dia sering lupa diri jika sedang bersentuhan fisik seperti itu...
"Sayang ini sudah sore. Kamu tidak makan siang?" Tutur Daniel lirih. Dia tidak benar-benar membangunkan Bella meski memang hari sudah menjelang sore.
Bella tidak juga bergeming. Daniel menutup laptopnya lalu mengusap-usap rambut Bella lembut untuk membangunkannya dengan sentuhan-sentuhan seperti yang di lakukannya tadi pagi.
"Sayang.. Aku takut kamu sakit jika tidak makan." Ucap Daniel lagi. Dia menyentuh sekitar telinga Bella dengan lembut sehingga membuat tubuh Bella mengelinjang.
Dengan mata tertutup, dia menyingkirkan tangan Daniel dari telinganya. Itu menggelikan tapi matanya masih tidak ingin terbuka. Daniel tidak berhenti dan terus saja melakukannya, dia merasa khawatir jika Bella sakit.
"Makan dulu lalu tidur lagi."
"Aku tidak mau makan." Jawab Bella bergumam.
"Nanti perutmu sakit sayang." Bella tidak merespon. Dengkuran halus kembali terdengar sehingga membuat Daniel terkekeh melihatnya. Wajah polos itu begitu konyol untuknya dan sanggup mengalihkan dunianya yang tengah berada di antara kegelapan.
Kepalanya di tundukkan, lalu memandangi wajah Bella berlama-lama. Daniel kembali menempelkan bibirnya dan membungkam bibir mungil itu hingga pemiliknya membuka mata.
"Jika begini langsung bangun." Bella memang menikmatinya tapi dia bergegas duduk karena merasa malu meski kantuk masih sangat terasa.
"Apaan sih Kak. Katanya tadi di suruh tidur." Gumam Bella mengucek-ngucek matanya.
"Makan dulu sayang. Bukankah kamu belum makan siang?" Daniel meraih kotak makanan dan membukanya.
"Iya belum. Tapi aku masih mengantuk."
"Biar ku suapi, agar tidak mengantuk." Sebenarnya Bella merasa malu dengan kejadian tadi. Namun rasanya di harus membiasakan diri untuk bisa menerima kejutan sederhana nan manis yang selalu Daniel berikan setiap harinya.
"Hm. Kak Daniel sudah makan?" Tanya Bella basa basi.
"Sudah sayang. Kamu tidak bangun-bangun jadi aku makan duluan. Apa hari ini ada ulangan harian lagi? Kenapa wajahmu selelah itu?"
Bella menguyah pelan, mengingat pertemuannya dengan Marco dan uang SPP yang harus di bayar penuh.
"Iya Kak. Setiap hari ada ulangan." Jawab Bella lirih.
Daniel memberikan sebuah amplop putih cukup besar ke pangkuan Bella. Jemari kecilnya meraih amplop tersebut dan menatap Daniel penuh tanya.
"Apa ini?"
"ATM. Aku baru membuatkannya tadi. Uang dari Ayah sudah ku masukan ke tabunganmu. Jika memang kamu takut menghilangkannya, sebaiknya tidak perlu di letakkan dompet, letakkan di rumah saja."
Bella tersenyum senang, bukan karena isi dalam Atmnya. Tapi dengan rekening bank itu dia bisa menjalankan bisnis online.
"Senang sekali hehe." Daniel tersenyum karena suapannya tidak di respon oleh Bella.
"Hehe iya Kak." Bella langsung melahap makanan dari tangan Daniel.
"Beli sesuatu yang kamu sukai dengan uang itu."
"Hanya untuk membayar SPP Kak. Aku sudah tidak mendapatkan kompensasi lagi."
"Tidak sayang. Masalah SPP biar jadi tanggung jawabku."
"Apa bedanya Kak. Itu juga kebutuhanku."
"Beda sayang. Berapa kurangnya?" Tanya Daniel dengan wajah serius.
"Ada ini." Mengangkat amplop pemberiannya.
"Itu khusus untukmu dari Ayah. Masalah SPP itu tanggung jawabku. Kita ambil uang setelah ini."
"Aku bingung Kak. Apa bedanya sih?"
"Pakai uang itu untuk bersenang-senang. Masalah uang SPP itu tanggung jawabku." Bella masih tidak mengerti dengan maksud Daniel sehingga dia menatap Daniel dengan wajah penuh tanya.
"Aku masih tidak mengerti."
"Tidak perlu di mengerti. Coba lihat kartu SPP kamu?"
"Hm sebentar." Bella beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil kartu SPP di dalam tasnya." Nih Kak." Bella memberikan kartu SPP dengan lembut.
Rasanya aku mirip seorang Ayah hehe... Menyenangkan juga meski ini nominal cukup besar untuk setiap bulannya..
"Besar kan. Jadi pakai uang itu saja." Sahut Bella mengira jika Daniel merasa keberatan.
"Tidak sayang. Apa perlu aku bayarkan untukmu besok?"
"Tidak Kak." Jawab Bella dengan cepat dengan raut wajah panik. Dia tidak ingin Daniel tahu jika Marco masih berada di sekelilingnya bahkan sering mengancamnya.
"Kenapa panik sekali."
"Aku hanya tidak ingin kamu membuat ricuh di sana, apalagi sampai bertemu Sisca!!" Jawab Bella beralasan.
Daniel mengangguk lalu kembali mengambil kotak makanan. Dia tidak pernah menaruh curiga, sebab dia bercermin pada dirinya yang selalu berkata jujur.
"Kita ambil uang setelah mandi."
"Lalu uang ini." Tarikan nafas kembali berhembus dari hidung mancung Daniel.
"Kamu bisa membeli baju, tas sepatu atau apapun yang kamu inginkan."
"Ah entahlah. Ini berputar-putar." Jawab Bella kesal.
"Uangmu adalah uangmu sayang, sementara uangku adalah uangmu. Paham tidak?"
"Tidak." Daniel kembali terkekeh membuat Bella melirik malas ke arahnya. Dia mengambil kotak makan dari tangan Daniel lalu melahapnya sendiri.
.
.
.
Bella berdiri di samping Daniel yang tengah mengambil uang. Sambil menunggu dia memperhatikan sekitar dan terlihat antrian panjang di belakang.
"Lihat apa?" Daniel meraih pundak Bella lalu merangkulnya.
"Antriannya panjang sekali."
"Mungkin hari ini banyak yang menerima gaji."
"Pasti senang sekali." Gumam Bella membayangkan jika dia nanti bisa menghasilkan uang sendiri." Aku juga ingin berkerja seperti itu Kak." Imbuhnya tersenyum.
"Tidak boleh sayang. Kamu harus duduk manis di rumah atau kuliah. Aku tidak akan memperbolehkan mu berkerja." Daniel memasukkan uang ke dalam dompet, lalu mengiring Bella keluar dari ruangan ATM yang berukuran kecil itu.
"Kenapa tidak?"
"Fikirkan soal tugas istri." Bella menarik nafas panjang, dia merasa jika keputusannya untuk berjualan online secara sembunyi-sembunyi adalah keputusan yang tepat." Jika kamu berkerja, lalu siapa yang menjaga anak-anak kita." Wajah Bella memerah hanya dengan membayangkan jika suatu hari nanti, dia bisa memberikan anak untuk Daniel.
"Kak Bella.." Sahut Monik menyapa.
Bella menoleh ke arah sumber suara. Monik berdiri di sana dengan lelaki separuh baya.
"Monik.." Jawab Bella tersenyum.
"Hai Kak.." Monik melirik ke arah Daniel, dia mengangguk sebentar lalu tersenyum. Apa dia pacar Kak Bella? Astaga tampan sekali...
"Hai.. Em sedang berbelanja." Ucap Bella menunjuk mini market yang ada di samping ATM.
"Iya, dengan Papah. Em Pa ini Kak Bella yang aku ceritakan tadi."
"Terimakasih ya sudah membantu Monik tadi." Bella merasa sungkan karena ternyata Monik menceritakan itu pada Ayahnya.
"Astaga Om, sudah seharusnya begitu."
"Mari mampir jika berkenan, rumah kami ada di Komplek permata hati." Tawar Pak Zian, Ayah Monik.
Pak Zian terus saja melihat ke arah Daniel yang sepertinya cukup familiar dalam ingatannya meski dia sendiri lupa.
"Mungkin lain kali Om."
"Panggil Om Zian."
Zian??? Daniel juga merasa familiar dengan nama juga paras Zian.
"Iya Om Zian, kapan-kapan saya mampir jika ada waktu."
__ADS_1
"Pasti Kak Bella sibuk persiapan ujian ya." Tebak Monik yang ternyata gadis yang sangat menyenangkan.
"Iya hehe. Em kami permisi dulu. Bye Monik. Sampai jumpa di sekolah ya." Bella tersenyum sejenak kemudian mengiring Daniel menuju ke mobil mereka.
"Siapa lelaki yang ada di samping Bella?"
"Mungkin kekasihnya Pa. Aku juga tidak tahu." Zian terus saja memperhatikan mobil Daniel hingga menghilang dari pandangannya.
"Adik kelas?" Tanya Daniel seraya menyetir.
"Hm. Cantik kan dan putih." Jawab Bella mengakui jika Monik sangatlah cantik.
Daniel yang sudah membaca situasinya, langsung tidak melontarkan pertanyaan lagi. Dia malah bersenandung kecil, seraya sesekali melirik ke arah Bella yang terlihat tidak melihat ke arahnya.
Bella yang kembali di selimuti rasa cemburu, menyadari tingkah konyol Daniel yang entah bertujuan untuk apa. Meskipun suaranya memang terdengar merdu, namun melihat ekspresinya sekarang berhasil membuatnya tersenyum.
"Besok akhir pekan. Kamu mau pergi ke mana sayang?" Tanya Daniel saat sudah melihat Bella tersenyum.
"Biasanya aku pergi bersama Monik dan Sari, itupun sepulang sekolah."
"Kita pergi berdua. Agar kita semakin dekat."
"Kita sudah dekat Kak." Protes Bella merasa jika hubungannya dengan Daniel sangatlah dekat, bahkan lebih dekat dengan hubungannya bersama Bastian dulu.
"Berarti agar lebih erat."
"Ya. Terserah Kak Daniel saja."
"Bukankah menyenangkan. Besok pertama kalinya kita bermalam Minggu hehe." Daniel sengaja berkata demikian, agar perasaan Bella kembali membaik setelah pertemuannya dengan Monik tadi.
"Apa bedanya Kak. Kita selalu berdua kan."
"Tentu ada bedanya sayang. Besok kamu akan rasakan bedanya seperti apa."
Apa itu berarti kencan? Hehe.. Bicara apa sih? Kak Daniel kan Suamiku, setiap hari juga sudah berkencan. Tapi, ini memang pertama kalinya aku bermalam Minggu dengan seseorang...
"Kak bakso abang-abang." Ucap Bella tiba-tiba.
"Kamu mau?" Daniel meminggirkan mobilnya.
"Iya. Pasti enak Kak."
"Ya sudah kita beli." Daniel turun di ikuti oleh Bella. Keduanya menghampiri gerobak bakso yang tengah berhenti di pinggir jalan." Bang bungkus dua ya. Lontongnya di pisah." Ucap Bella memesan.
"Iya Non siap." Jawab si Abang Bakso bersemangat.
"Duduk dulu." Daniel mengambil kursi plastik berwarna merah dan meletakkannya tepat di belakang Bella. Sementara dia sendiri duduk berjongkok di samping Bella.
"Maaf Aden, kursinya cuma punya satu." Ucap Abang Bakso merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Bang." Jawab Daniel ramah." Tidak apa kan sayang." Tanya Daniel berbisik.
"Tidak apa bagaimana?" Jawab Bella binggung.
"Ramah dengan penjual bakso." Goda Daniel terkekeh.
"Tidak lucu!!"
"Tapi aku merasa lucu melihatmu." Daniel meraih jemari Bella dan menggenggamnya." Dingin sekali, biar ku hangatkan." Tentu saja Bella menolak karena merasa sungkan.
"Apaan sih Kak." Runtuk nya tidak membuat Daniel berhenti. Dia malah menciumi punggung tangan Bella berkali-kali.
"Aku cemburu, jangan terlalu ramah. Oke." Bella melirik malas ke Daniel yang tengah tersenyum.
"Ini Non." Secepat kilat, tangan Daniel meraih bakso.
"Berapa Bang?"
"30 ribu saja."
"Ambil kembaliannya." Daniel memberikan pecahan uang 50.
"Terimakasih Aden, semoga rezekinya lancar."
"Terimakasih juga doanya Bang." Daniel tersenyum sejenak kemudian melenggang pergi dengan tangan yang masih menggenggam jemari Bella." Sepertinya akan hujan sayang." Ucap Daniel seraya membuka pintu mobil.
"Mungkin saja Kak. Biar ku bawa." Bella merebut bungkusan bakso kemudian masuk.
"Pas sekali." Gumam Bella tersenyum.
"Iya sangat pas." Sahut Daniel menimpali.
"Pas apanya Kak?"
"Aku hanya meniru saja. Memangnya apa yang pas?"
"Makan bakso Kak."
"Oh iya. Aku pernah mencoba satu masakan gerobak tapi lupa namanya." Ucap Daniel bercerita.
"Bagaimana bentuknya?"
"Ada bumbu kacang berwarna hitam. Di dalamnya ada lontong, sayur, dan tahu juga telur. Tapi aku lupa namanya."
"Tahu Tek Tek Kak."
"Ah iya.. Nona Nara mengenalkannya padaku." Daniel menoleh, dia tidak sengaja menyebut nama itu sehingga sudah bisa di pastikan jika raut wajah Bella kembali berubah." Dia istri temanku sayang." Imbuh Daniel menjelaskan.
"Spesial sekali kelihatannya." Daniel memarkir mobilnya dengan tarikan nafas panjang. Rasanya dia harus kembali merajuk istri kecilnya yang tengah cemburu lagi.
Tanpa menunggu Daniel membuka pintu, Bella keluar menerobos gerimis membuat Daniel cepat-cepat menyusulnya.
"Kamu bisa sakit nanti." Daniel bergegas membuka pintu." Aku menutup pagar dulu, kamu cepat ganti baju ya." Pinta Daniel kembali menerobos hujan sementara Bella masih mematung di ambang pintu.
**************
📝📝📝📝📝📝📝NB. Jika tidak suka di skip aja ceritanya 😩 daripada ninggalin komentar yang tidak enak di pandang mata😭Aku sudah berusaha buat cerita sesuai dengan imajinasi ku. Kalau menurut beberapa orang tidak menarik ya itu wajar🙏Tinggal hapus dari favorit, tanpa meninggalkan jejak noda hitam🤣
Memang pendapat orang berbeda-beda ya..
Tapi masalahnya, yang nulis otaknya lemah🤭Ada komen nggak enak dikit rasanya fikiran langsung AMBYAR...
Aku mohon ya teman-teman 🙏
Ini hanya hiburan..
Jangan di buat baper hehe 🙏
Suka di baca, nggak suka ya di skip. Kayak pas ninggalin mantan pacar.
Terus banyak yang mempermasalahkan soal uang ATM Bastian 🤭🤣
Tunggu jawabannya di akhir cerita, jadi jangan ambil kesimpulan sendiri oke😁
Terimakasih sudah mampir🥰
Salam sayang Riane 🥰🙏🙏🙏📝📝📝📝📝📝📝
Marco membuang kasar nafasnya, saat dia beberapa kali melihat foto yang di ambil Jim dan di kirim melalui ponselnya.
Tentu dia tidak bisa menerima, jika hubungan antara Daniel dan Bella terlihat semakin hangat.
"Aku tidak mengerti! Kenapa dia masih bertahan pada si miskin itu!!" Tangan kekarnya mencengkram kepalanya erat.
Sepanjang waktu, Marco selalu memikirkan cara untuk bisa membuat Bella meninggalkan Daniel. Awalnya, dia menggampangkan semuanya, berkhayal jika Bella akan cepat di dapatkan karena kekayaaan.
Namun, semakin ke sini. Marco sadar, tidak semua hal bisa dia dapatkan secara instan seperti pengkhianatannya dulu. Dia mulai merasa, jika kekayaannya sekarang tidaklah penting.
"Ahh kenapa aku ini." Umpatnya untuk kesekian kali, saat bayangan kebersamaan Daniel dan Bella melintas.
Hatinya binggung untuk memposisikan diri. Seolah dia memiliki dendam pribadi pada Daniel dan tidak ingin melihatnya bahagia. Padahal Daniel yang sudah berbaik hati memungutnya dari jalanan. Memberikannya kehidupan yang layak agar tidak lagi menjadi terhina.
"Bukankah tujuan awal ku adalah hidup bergelimang harta? Tapi kenapa aku jadi memikirkannya sepanjang waktu."
Marco masih belum juga sadar, jika cinta masih di atas segalanya. Matanya belum sepenuhnya terbuka untuk mengerti, kalau saat ini hatinya mulai tersentuh dengan gadis kecil yang sudah menjadi milik Daniel.
************
"Aku bicara serius loh Bu." Ucap Lisa seraya menguyah.
__ADS_1
"Kamu jangan bercanda Lis. Jika memang Pak Daniel, mana mungkin dia menyerahkan masalah perusahaan pada orang yang tidak bertanggung jawab itu." Eluh Bu Eka yang merasa jika kinerja Marco semakin tidak baik.
"Ya aku tidak tahu Bu. Aku kan bilang mirip Pak Daniel meskipun dia Dimas hehe. Asal dia tampan, mau Daniel atau Dimas, aku tidak masalah."
"Jadi kau cuti hanya untuk itu?" Lisa mengangguk seraya menguyah makanannya." Gila kamu Lis." Imbuhnya mengumpat.
"Tergila-gila dengan Dimas."
"Di pecat baru tahu rasa!"
"Di pecat ya keluar Bu. Aku bukan orang susah ya, aku kerja juga untuk mencari lelaki biar aku cepat menikah." Bu Eka menggelengkan kepalanya. Dia memahami Lisa seperti apa orangnya.
"Cari di biro jodoh kalau niatmu masih saja begitu."
"Dihh! Males lah Bu. Tipeku itu yang cakep-cakep, masalah kaya atau tidak, itu nomer dua."
"Terserah Lis, aku mau pulang. Terimakasih traktirannya."
Bu Eka melenggang pergi keluar resto, meninggalkan Lisa yang masih duduk santai di mejanya.
Pertemuan dengan Daniel hari ini kembali melintas. Dia semakin menginginkannya, memikirkan cara lain agar Daniel bisa simpatik padanya.
Sepertinya aku harus melakukan pendekatan dengan Bella. Aku merasa Dimas terikat kuat dengannya. Em mungkin sudah lama bertetangga jadi mereka seakrab itu..
****************
Bella tidak bergeming, menatap ke mangkuk bakso di hadapannya. Daniel menghilangkan selera makannya, tapi dia tidak ingin kembali berprotes. Bella takut jika Daniel membuatnya kembali menegang.
"Mau ku suapi sayang?" Bella meraih sendoknya lalu memakan bakso dengan tidak bersemangat.
"Aku punya tangan." Jawabnya mulai menguyah. Berapa jumlah wanita yang datang ke hidupnya sebelum aku..
Bagaimana caraku menjelaskannya, jika kekaguman ku pada Nona Nara tidak seperti apa yang ada di dalam fikirannya...
"Kamu punya PR sayang?" Tanya Daniel ingin mencairkan suasana.
"Tidak Kak."
"Setelah ini langsung tidur ya." Bella mengangguk pelan.
Sampai makan malam selesai, Bella tidak banyak berceloteh seperti biasanya. Bahkan ketika tiba waktu tidur, dia malah duduk di kursi belajar seraya memainkan ponselnya.
"Tidak tidur?" Tanya Daniel mengurungkan niatnya untuk berbaring.
"Belum mengantuk Kak. Tidur duluan saja." Daniel beranjak bangun dan menghampiri Bella yang terlihat bermain Vesbook.
"Kesal denganku?" Daniel mengambil kursi plastik lalu duduk di hadapan Bella.
"Tidak. Belum mengantuk saja. Aku tadi kan tidur siang." Alasan itu cukup masuk akal. Sebab Bella memang tidur siang tadi. Namun, terasa dingin, mengingat teman tidurnya adalah lelaki dewasa setampan Daniel.
Seharusnya Bella mempercepat waktu tidurnya, agar bisa bermanja pada Daniel di saat cuaca di luar sedang turun hujan.
"Nona Nara istri temanku sayang. Aku tidak sengaja mengingatnya karena melihat gerobak tadi yang hampir mirip dengan gerobak penjual tahu tek tek." Daniel tidak ingin membahasnya, tapi terpaksa di lontarkan untuk memberikan penjelasan." Mereka juga tidak sedang di sini." Bella mengangguk-angguk seraya fokus melihat ponsel.
"Jika dia di sini?" Tutur Bella tanpa mengalihkan pandangannya pada ponsel.
"Ku kenalkan dia padamu. Dia sangat baik."
"Aku tidak mau kau kenalkan dengan masa lalu mu Kak!"
"Dia istri temanku sayang. Astaga..."
"Lalu untuk apa kau berteman dengan istri temanmu itu hingga sampai membeli makanan berdua." Daniel tersenyum lalu mengangkat tangannya dan mengusap lembut puncak kepala Bella.
"Aku suka melihatmu seperti sekarang. Tapi kadang-kadang aku takut jika nantinya aku tidak bisa menenangkan hatimu."
"Jangan menyentuhku." Bella menyingkirkan tangan Daniel dari kepalanya.
"Kami membelinya bertiga, itupun tidak ada niat buruk sebab tujuanku ingin berteman dengan Jonathan, suaminya."
"Oh jadi kamu ingin akrab agar bisa dekat dengan istrinya? Apa begitu?" Daniel terkekeh membuat Bella semakin geram. Dia meletakkan ponselnya dan berjalan menuju tempat tidur lalu berbaring.
Daniel tidak ingin melewatkan kesempatan itu, dia langsung menyusul Bella dan berbaring di sampingnya.
"Aku terobsesi dengan Jonathan karena pencapaiannya yang sangat sempurna. Caranya berbisnis, mengembangkan perusahaan juga cinta kuat yang di miliki." Bella mendengar itu, meski dia tidak bergeming. Hari ini terasa begitu melelahkan karena beberapa kejadian yang membuat hatinya berkerja lebih keras." Itu saja yang bisa ku jelaskan. Jika kamu masih marah, ya sudah lakukan. Asal jangan meninggalkan aku." Daniel melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Bella dan mendekapnya erat.
Ini sangat melelahkan... Rasanya hari ini banyak hal yang terjadi padaku...
"Sayang.." Panggil Daniel saat ucapannya tidak di respon.
"Hmm.."
"Tidak percaya?"
"Lupakan Kak. Aku hanya sedang lelah." Jawab Bella pelan.
"Aku tidak ingin membahasnya tapi kamu seperti ini." Bella menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengendalikan prasangka buruknya terhadap Daniel.
"Aku tidak mengerti masa lalu mu seperti apa. Tapi aku tidak mau mendengar apapun tentang itu." Jawabnya mengutarakan keinginannya.
"Oke baik. Maaf untuk tadi dan sekarang coba lihat aku."
"Malas. Tidur seperti ini saja." Tolak Bella merasa malu saat menyadari sikapnya yang keterlaluan.
"Ini lebih membahayakan, tapi ya sudah.." Daniel mengeratkan dekapannya, kepalanya menunduk dan menempelkan bibirnya pada punggung belakang Bella.
"Kak!!!!" Pekik Bella langsung berbalik badan. Bulu kuduknya meremang padahal masih terhalang baju.
"Hehe..." Bella tidak sanggup marah jika bertatap muka seperti sekarang.
"Sengaja Kan!! Nakal sekali!!" Bella mulai memperlihatkan senyum dengan wajah merahnya.
"Tidak sayang. Tapi memang sangat membahayakan jika posisinya seperti itu."
"Menjauh saja Kak ish! Alasan saja!"
"Aku menghangatkan mu setiap malam, bagaimana bisa menjauh." Ucapnya seraya mencium kening Bella sejenak.
"Pakai selimut bisa Kak."
"Kamu tidak akan bisa tidur tanpaku." Ledek Daniel berusaha membuat suasana hati Bella kembali baik.
"Bisalah."
"Hm aku tidak bisa." Tanpa aba-aba, Daniel kembali mendekap tubuh Bella dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidangnya.
"Belum di coba."
"Aku tidak mau mencobanya." Daniel merenggangkan pelukannya. Bella masih tidak melihatnya sehingga dia langsung mengangkat dagunya lembut." Aku menjadi hafal ketika kamu sedang marah. Apa wajahku terlihat buruk ketika hatimu merasa kesal." Imbuh Daniel ingin tahu.
"Aku malas melihatmu Kak."
"Pejamkan matamu jika begitu."
Secepat kilat, Daniel meraih tengkuk Bella dan melahap bibir mungilnya.
"Pejamkan jika tidak ingin melihat." Ucap Daniel di sela ciumannya.
Bagaimana bisa memejamkan mata? Aku suka ekspresi Kak Daniel yang seperti ini...
Kekesalan Bella musnah, terganti dengan hasrat yang kian membesar karena ciuman Daniel yang melenakan. Dia menekannya kuat, tidak membiarkan bibir itu menghentikan permainannya.
Sementara Daniel sendiri, merasakan hal yang sama dan hampir lepas kendali. Merasakan tubuh Bella yang kian merapat, seolah menantang miliknya yang sudah merespon dengan cepat.
"Ahh tidak Kak." Lenguh Bella dengan nafas memburu. Menatap wajah Daniel yang tengah tersenyum hangat." Ada yang keluar.." Ucapnya polos.
"Kamu kan sedang datang bulan sayang." Jawab Daniel berpura-pura.
"Tidak. Ini lain, lelah sekali. Aku sampai berkeringat." Daniel terkekeh melihat wajah konyol Bella yang baru merasakan pelepasan.
Paling tidak, hatinya kembali baik meskipun aku sendiri merasa tersiksa menahannya...
"Kak... Antar aku ke belakang." Bella langsung berdiri tanpa duduk terlebih dahulu." Ayo Kak cepat. Aku takut tembus lagi." Bella tidak juga mengerti jika Daniel setengah mati menahan hasrat dan berusaha menidurkan miliknya yang menegang.
"Iya.." Daniel berdiri dan bersikap biasa saja. Untung saja dia mengenakan celana yang sedikit longgar sehingga Bella tidak menyadarinya.
"Lambat sekali Kak. Ayo.." Bella menarik lengan Daniel dan mengiringinya keluar kamar.
Dia agresif sekali... Ahhh Tuhan... Aku berharap ini belum masuk musim penghujan..
__ADS_1
~Riane
❤️❤️