
Andra mengutus Roy untuk mengikuti Bella, karena ingin mengorek info soal siapa Marco sebenarnya. Roy mengintai dari jauh, memperhatikan Bella yang belum juga menyadari jika lelaki yang bersama Bella adalah Daniel. Seolah takdir sudah berpihak padanya, Roy mengabari Andra tentang letak rumah yang di fikirnya milik Bella.
"Rumahnya ada di kampung duku gang 5 nomer 12 Tuan.
"Aku ke sana.
Andra langsung menuju lokasi di mana Bella tinggal. Dia sampai rela meninggalkan Ella seharian hanya untuk mencari info tentang keberadaan Daniel.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau tertarik pada gadis SMA?" Tanya Roy seraya berdiri tegap di samping mobil mewahnya.
"Ada pertunjukkan spektakuler tadi. Aku hanya ingin menggali info soal Marco, itu saja. Aku merasa Bella tahu banyak tentang siapa Marco hingga melakukan adegan yang terlihat luar biasa." Roy tersenyum tipis begitupun Andra.
"Apa perlu ku temani?"
"Pesankan tiket untuk nanti malam."
"Bukankah sebaiknya kau tinggal beberapa Minggu di sini agar tidak bolak-balik naik pesawat?" Jawab Roy memberikan saran.
"Tidak. Kasihan Istriku. Kau boleh kembali ke rumah lama nanti aku menyusul." Andra melangkah mendekati rumah Daniel. Membuka pagar berkarat yang tidak bergembok.
Andra sempat melihat ke mobil sederhana Daniel yang terparkir di depan rumah, sebelum menaiki lima buah anak tangga dan mengetuk pintu yang terlihat lapuk.
Andra mengangkat tangannya dan mulai mengetuk. Namun tidak ada respon sehingga Andra kembali mengetuknya lagi dan lagi.
Apa tidur? Rumahnya sepi sekali. Apa dia tinggal sendiri...
Berbagai pikiran terbesit hingga Andra memutuskan untuk pulang dan kembali esok. Tapi langkahnya terhenti, ketika mendengar teriakan Pak Imron.
"Coba ketuk lagi Pak. Jika mobilnya di pekarangan berarti orangnya di rumah." Ujar Pak Imran setengah berteriak.
"Saya datang besok saja Pak, takut menganggu." Andra menuruni anak tangga lagi, berniat untuk pulang saja.
"Tidak mungkin jika Pak Daniel tidur, soalnya tadi baru datang. Mungkin sedang ada di..."
"Pak Daniel? Maksud Bapak yang tinggal di sini adalah Pak Daniel?" Tanya Andra tersungging senang. Meski dia sadar jika nama Daniel tidak hanya satu. Tapi paling tidak, ada sedikit harapan jika lelaki yang tinggal di rumah tersebut adalah Daniel yang di cari.
"Iya Pak Daniel. Memangnya kenapa Pak?"
"Tidak apa-apa Pak. Terimakasih, biar saya coba ketuk lagi." Andra memutar tubuhnya dan melangkah dengan bersemangat. Bukan hanya ingin mendapatkan laporan, tapi Andra juga merasa rindu dengan Daniel. Lelaki baik dan tampan dengan sejuta senyuman.
Andra kembali mengetuk pintu rumah Daniel dengan sangat bersemangat. Dia tidak perduli jika perbuatannya akan menganggu. Kalau mungkin Daniel yang di dalam bukan seseorang yang di cari. Paling tidak, dia akan bertemu Bella untuk mengorek informasi tentang Marco.
Gagang pintu bergerak pelan, rasanya sungguh tidak sabar menunggu pintu tersebut terbuka. Saat pintu benar-benar terbuka lebar, Daniel terpaku begitupun Andra.
Keduanya tidak langsung saling menyapa karena merasa terkejut dengan seseorang yang berdiri di hadapannya. Daniel tidak percaya jika Andra tengah berdiri di depannya, begitupun Andra yang merasa sangat senang karena ternyata Daniel masih hidup.
"Andra!!"
"Pak Daniel!!"
Dengan suara cukup keras, mereka menyebut nama masing-masing lalu berpelukan erat. Bella yang mendengar teriakan tersebut, tentu langsung tertarik dan berjalan untuk memeriksa siapa yang datang.
"Terimakasih Tuhan.. Aku di pertemukan olehmu." Rasanya beribu-ribu syukur Daniel panjatkan untuk sekarang. Dia sempat menitikkan air mata karena masalah yang menghantam keras kehidupannya akan berangsur membaik karena kehadiran Andra.
"Astaga Pak, saya fikir anda meninggal." Jawab Andra bergumam.
"Silahkan masuk." Daniel melepaskan pelukannya dan mengiring Andra duduk dengan akrab." Bagaimana mungkin kamu menganggap aku meninggal?" Imbuh Daniel ingin tahu.
"Saya dan Ella datang ke rumah Pak Daniel tapi di sana hanya ada Marco." Daniel mengangguk dengan raut wajah berubah.
Bella mengintip dan membulatkan matanya melihat Andra duduk akrab bersama Daniel, suaminya. Dia masih ingat jika Andra yang sudah menolongnya masuk ke dalam perusahaan sehingga dia memutuskan untuk masuk kembali karena takut perbuatannya terbongkar.
"Duuuh! Kok Om itu ada di situ sih? Apa dia akan mengadu pada Kak Daniel? Gawat ini!! Aku ketahuan berbohong lagi." Bella duduk dengan raut wajah khawatir. Sementara Andra sendiri, melupakan itu dan masih membahas perihal rumah Daniel yang sekarang di tempati Marco.
Andra mengangguk-angguk, mendengar cerita Daniel dari awal hingga akhir. Apa yang di tebak selama ini memang benar adanya. Marco merebut semua harta Daniel dan ingin menguasainya hingga mengharuskannya melakukan segala cara untuk menyingkirkan Daniel.
"Sudah bisa saya tebak jalan ceritanya Pak."
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika dia masih berada di sekitarku. Aku sudah sempat membangun lagi perusahaan kecil tapi dia membakar habis pabrik itu karena kini Marco mengincar harta berhargaku." Andra mengerutkan keningnya mendengar itu.
"Harta berharga?" Tanya Andra mengulang.
"Hm Istri ku." Senyum Andra mengembang mendengar itu." Sayang..." Panggil Daniel setengah berteriak tapi tidak ada jawaban sebab Bella berpura-pura tidak mendengar.
"Mungkin sibuk Pak."
"Dia sedang di kamar mandi tadi. Aku penasaran, apa yang membuatmu datang ke sini?" Andra kembali tersenyum mengingat kejadian di perusahaan yang melibatkan Marco.
"Apa istri Pak Daniel memiliki adik perempuan?"
"Tidak. Kami hanya tinggal berdua. Dia memiliki Kakak tapi sudah meninggal dunia."
"Roy melihat gadis SMA masuk ke rumah ini dan gadis itu tadi terlibat perkelahian dengan Marco." Daniel menarik nafas panjang mendengar itu. Dia paham siapa yang di maksud oleh Andra.
"Sebentar.." Daniel beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan masuk dan mendapati Bella berpura-pura tidur di atas sofa." Sayang.." Panggilnya duduk di bawah seraya menatap fokus pada raut wajah Bella." Aku tahu kamu tidak tidur sayang. Bangun dan tanggung jawab dengan perbuatan mu hari ini." Perlahan Bella membuka matanya seraya tersenyum aneh.
"Aku kesal. Itu saja." Jawab Bella singkat. Manik Daniel yang menusuk membuatnya memutuskan untuk duduk.
"Kamu pergi kepadanya tanpa sepengetahuan ku?"
"Hm. Aku membolos karena ingin memukulnya." Jawab Bella pelan. Dia sungguh sangat takut dengan wajah serius Daniel saat ini.
"Apa yang membuatmu datang ke sana?" Andra yang merasa penasaran, beranjak dari tempat duduknya dan memperhatikan keduanya dari ambang pintu.
"Itu salah Kak Daniel sendiri." Jawab Bella melirik malas.
"Aku yang bersalah?"
"Hm.. Iya. Aku tahu lelaki jahat itu yang sudah membakar gudang perusahaan mu kan?"
"Sejak kapan kamu tahu hal ini?"
"Sejak Lucas datang." Daniel menunduk dan menumpukan keningnya pada lutut Bella." Kenapa sih Kak? Tidak bisa jujur saja. Apa karena aku masih bocah? Jadi Kak Daniel tidak ingin berbagi denganku?" Imbuh Bella ingin Daniel selalu terbuka dan membagi semua rasa bahagia juga sedih yang menimpanya.
"Aku takut menganggu sekolahmu."
Ohhh astaga... Apa gadis ini istri Pak Daniel?
"Itu alasan Kak Daniel saja." Daniel terkekeh dan mendongak menatap ke arah bibir Bella yang mengerucut.
"Ceritakan. Apa yang kamu lakukan di sana?"
"Membuatnya pingsan." Daniel kembali menarik nafas panjang. Dia mengingat ucapan Bastian yang pernah berkata, jika emosi Bella masih sangat labil dalam bertindak." Dia pikir tangan kecilku itu tidak berguna. Rasakan sendiri akibatnya!!" Daniel meraih jemari kecil Bella dan menggenggamnya.
"Tidak sakit?" Daniel memperhatikan kedua tangan Bella yang mungkin saja terluka.
Bella tentu tersenyum, melihat raut wajah Daniel yang tidak marah padanya.
"Kak Daniel tidak marah?" Tanya pelan.
"Itu pantas untuknya meski seharusnya bukan kamu yang melakukannya. Kita ke depan, aku ingin mengenalkan seseorang yang akan bisa membantu kita kedepannya." Bella tersenyum aneh, ketika menyadari Andra berdiri di ambang pintu.
"Dia.." Ucap Bella menunjuk. Daniel menoleh dan segera berdiri.
"Apa dia istrimu Pak?" Tanya Andra berjalan menghampiri keduanya.
"Iya dia istriku.." Daniel mengulurkan tangannya dan Bella menyambutnya lalu berdiri.
__ADS_1
"Kamu mengenal dia Kak?" Tanya Bella lirih.
"Dia teman lamaku."
"Andra.." Andra mengulurkan tangannya.
"Bella Om, eh harus panggil siapa?" Bella menyambut uluran tangan Andra sebentar.
"Om saja Nona Bella. Saya sudah tua dan akan memiliki anak setelah ini." Bella tersipu ketika Andra membicarakan soal anak. Ingin sekali dia memberikan itu untuk Daniel yang sangat di cintanya.
"Iya Om."
"Bagaimana ceritanya hingga Pak Daniel menikah dengan Nona Bella?"
"Ceritanya sangat panjang, mungkin lain kali aku menceritakannya padamu."
"Silahkan duduk Om. Biar aku buatkan minuman." Tawar Bella tersenyum sejenak kemudian berjalan masuk.
"Dia cantik Pak. Hanya saja masih kecil." Canda Andra duduk di ikuti oleh Daniel.
"Dia cinta pertamaku."
"Astaga.. Manis sekali."
"Aku tidak ingin kehilangan dia. Aku tidak mempermasalahkan soal perusahaan yang di ambil. Asal Marco bisa pergi dari hidupku, aku ikhlas meniti semuanya dari nol." Andra mengangguk-angguk seraya tersenyum.
"Sudah ku peringatkan untuk tidak terlalu baik Pak. Banyak sekali penjilat di dunia ini. Jika Pak Daniel tidak jeli dan selalu menganggap semua orang sebaik Bapak. Akibatnya, hidup Pak Daniel sendiri yang akan hancur." Daniel menarik nafas panjang dan membenarkan ucapan tersebut.
"Aku lemah dalam hal itu. Aku tidak peka pada seseorang yang benar-benar baik atau berpura-pura baik."
"Itu karena Pak Daniel terlalu baik."
"Aku hanya tidak ingin berprasangka buruk saja."
"Apa salahnya waspada Pak."
"Mereka hampir menghilangkan nyawaku."
"Sekarang, nyawa mereka yang akan terancam." Daniel menoleh cepat ke arah Andra yang juga tengah menatapnya.
"Aku hanya ingin menyingkirkannya agar tidak menganggu hidupku bukan membunuhnya." Jawab Daniel lirih.
"Hmm.. Besok malam Tuan Joy tiba di sini. Pak Daniel bisa bicara langsung dengannya perihal bantuan semacam yang bisa di berikan." Raut wajah Daniel berubah sumringah mendengar kabar tersebut.
"Joy akan datang?"
"Tentu saja Pak. Atas permintaan Nona Nara tentunya."
"Apa kamu bercerita padanya?"
"Nona Nara membaca email yang Pak Daniel kirimkan sehingga dia memutuskan untuk ke Indonesia selama satu bulan."
"Nona Nara?" Sahut Bella membuat senyum Daniel memudar.
"Iya. Nona Nara."
"Oh jadi Kak Daniel mengirim email untuk Nona Nara?!!" Nada bicara Bella membuat Andra tersenyum aneh menatap Daniel.
"Bukan ke Nona Nara sayang, tapi ke Jonathan tapi di baca oleh Nona Nara." Bella meletakkan nampan sedikit kasar hingga membuat Andra berjingkat kaget.
"Aku tidak ingin Kak Daniel bertemu dengan Nona Nara! Awas ya!!" Bella berjalan pergi dan menutup pintu kamar keras.
Braaaakkkkk!!!
"Menyenangkan sekali. Pak Daniel bisa merasakan kecemburuan anak SMA." Ucap Andra tersenyum.
"Akan butuh waktu lama untuk merajuk."
"Saya ingin bertemu dengan Joy dan berbicara langsung tentang bagaimana keinginanku." Andra mengangguk sebentar lalu mengeluarkan kartu nama dari dompetnya.
"Ini kartu nama saya Pak Daniel. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi saya." Daniel langsung mengambil kartu nama tersebut.
"Tentu saja. Aku akan menghubungimu." Andra berdiri, di ikuti oleh Daniel.
***********
Putri, terpaksa menunggu Marco sadar meski dia masih sedikit kesal dengan kejadian yang terjadi semalam. Dia yang tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi tadi, malah di jadikan tumbal oleh teman-temannya.
Putri terlihat duduk menegang di sofa, sementara Marco masih berbaring dan belum sadarkan diri. Wajahnya penuh lebam, meski tidak tampak karena kulit coklatnya.
"Egh...." Mata Putri melebar, mendengar rintihan keluar dari bibir Marco. Dia sangat takut terkena marah namun mau bagaimana lagi? Putri sudah di tugaskan, dan harus bertanggung jawab.
Putri beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Marco dengan wajah ketakutan.
"Sudah sadar Pak." Tanyanya pelan.
"Agh!! Sakit sekali!!" Umpat Marco membuat Putri sedikit berjingkat seraya memegang dadanya yang kecil.
Duhhh!! Kirain marah!!
Marco mengedarkan matanya, melihat ruangan rumah sakit lalu tatapannya berhenti pada Putri yang tengah melihatnya dengan wajah ketakutan.
"Siapa yang membawaku ke sini!!" Segera saja Putri mundur ketika Marco mulai duduk dengan wajah geram.
"Satpam perusahaan Pak yang membawa. Tidak mungkin saya karena tubuh saya kecil." Jawab Putri konyol.
"Memangnya aku sakit apa hingga di bawa ke sini!!!"
"Em Pak Marco pingsan setelah ... Di pukul seorang gadis SMA.. Hahahaha, kenapa aku melewatkan itu, seharusnya aku melihatnya..
"Setelah apa!!!" Bentak Marco kembali membuat Putri berjingkat.
"Setelah di pukul Pak." Jawab Putri cepat.
Marco terdiam, mengingat kejadian tadi pagi. Aneh, sebab dia masih saja tersenyum dan tidak merasa marah dengan apa yang di lakukan Bella padanya.
"Tanda cinta yang sangat indah. Kamu begitu membenciku Bella, suatu hari nanti kamu akan sangat mencintaiku." Gumam Marco mulai berkhayal.
Oh gadis SMA itu namanya Bella? Bukan cinta tapi ku rasa gadis itu akan semakin membencimu Pak!!
Putri tersenyum tipis, merasakan jika khayalan Marco begitu tinggi. Meskipun tidak melihatnya sendiri, tapi mendengar cerita dari teman-temannya membuat dia yakin jika Bella tidak mungkin menyukai Marco sampai kapanpun.
"Kau menertawakan aku!!!" Putri menoleh dengan wajah panik.
"Eh tidak Pak."
"Urus administrasi nya! Aku mau pulang." Marco berdiri dan mengebas-ngebas jas mahalnya lalu hendak melangkah pergi namun suara Putri mencegah.
"Eh Pak tunggu." Cegahnya pelan.
"Apalagi?"
"Emm, uangnya mana? Aku sudah rugi waktu dan tidak mau rugi materi juga!!! Tarikan nafas kasar terdengar, Marco meraih dompetnya lalu membukanya. Dia melongok, melihat dompet yang kosong begitupun Putri. Marco lupa jika belum mengambil uang cash sehingga tidak ada uang tunai di dompetnya.
"Bayar pakai uangmu dulu, nanti ku ganti!" Marco kembali memasukkan dompetnya dan pergi meninggalkan Putri begitu saja.
"Ahh sial!!! Sudah jahat! Dompetnya kosong!! Nah kan!! Sekarang dia paham jika membutuhkan orang lain untuk hidup!! Sok jahat!! Sok tidak butuh orang tapi berhutang!!! Kalau aku jadi dia!! Pasti malu lah!!" Umpat Putri di sepanjang perjalanannya menuju ke administrasi rumah sakit.
__ADS_1
***************
"Sekali tidak ya tidak Kak!!" Ucap Bella ketus.
"Bertemu dulu dengan Nona, nanti kamu akan bisa akrab seperti saat bersama Sari dan Erin." Rajuk Daniel berbaring di belakang Bella yang tengah memunggunginya.
"Tidak mau dan tidak boleh!!"
"Nanti kamu juga akan bertemu Jonathan, dia Suami Nona Nara. Dia tampan sekali sayang, jadi kamu tidak perlu cemburu." Bella menarik nafas panjang. Rasanya sangat muak ketika mendengar Daniel menyebut nama Nara." Tapi jika ingin lanjut cemburu, ya sudah lakukan. Kamu akan tahu jika Jonathan dan Nona Nara yang akan bisa menolong kita. Tuhan begitu cepat mengabulkan keinginanku sehingga bisa membuat mereka berdua datang ke sini hanya untuk menolongku." Bella mulai tertarik dan memutar tubuhnya menghadap Daniel.
Rasanya, dia ikut merasa bahagia. Melihat senyum Daniel yang di perlihatkan padanya sekarang hingga sanggup mengikis rasa cemburunya meski hanya sedikit.
"Memberikan suntikan dana maksudnya?"
"Itu urutan nomer dua yang sedang ku butuhkan."
"Terus Kak?"
"Dia akan membebaskan kita dari kejahatan yang di lakukan Marco. Aku lemah dalam hal itu sayang. Jika Marco sudah berhasil di hentikan, aku bisa membangun lagi perusahaan meski itu harus berhutang." Daniel mengangkat tangannya dan mengusap rambut Bella yang mulai memanjang.
"Aku bisa Kak. Akan ku singkirkan Marco dari hidup kita jika memang Kak Daniel mengizinkan."
"Aku juga bisa melakukan itu tapi aku tidak ingin ada kekerasan.. Aku mau melumpuhkan Marco dengan cara lain agar dia merasa jerah." Bella melirik malas namun tidak dapat melawan sebab Daniel adalah suaminya.
Sikap keduanya yang berbeda dalam memecahkan masalah, mungkin menjadi alasan kenapa mereka di persatukan dalam ikatan pernikahan. Bella cenderung tidak sabar sementara Daniel, kesabarannya di batas kata normal.
Terkadang Bella tidak mengerti dari raut wajah Daniel yang cenderung biasa saat menghadapi masalah besar. Meskipun dia tengah marah atau cemburu, namun wajahnya terlihat tetap saja teduh.
"Itu tidak seru Kak." Bella duduk seraya melirik malas.
"Aku rasa. Kamu akan cocok jika bertemu Nona Nara." Daniel ikut duduk menghadap ke arah Bella.
"Cocok apanya?"
"Nona punya sisi gelap yang tidak di ketahui banyak orang sayang. Dia lebih mirip seorang psikopat meski dia mampu menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapi."
"Psikopat?? Hah!! Serius Kak? Kak Daniel tidak takut?" Tanya Bella cukup merasa takut dengan cerita Daniel.
"Dia akan berubah jadi mengerikan jika menghadapi orang jahat jadi untuk apa takut. Nona Nara sangat baik sayang, kamu akan senang mengenalnya."
"Bagaimana bisa senang jika psikopat Kak."
"Percayalah padaku. Mau di lanjutkan untuk adegan tadi." Tawar Daniel membuat mata Bella membulat dengan bibir setengah terbuka.
"Tidak. Sudah ku katakan aku tidak mau." Tolak Bella tidak sungguh-sungguh.
"Biar aku yang memulai agar kamu mau."
"Tetap tidak mau! Aku malas." Jawab Bella ketus meski di dalam hatinya ingin sekali Daniel memaksanya untuk melakukan lagi.
"Benarkah? Kamu malas melakukan itu denganku." Daniel mendekatkan wajahnya dan mulai mengecup lembut sekitaran bibir Bella. Tubuh Bella langsung meremang merasakannya. Daniel menegakkan kepalanya dan melihat bulu-bulu halus Bella yang berdiri." Dia berkata ingin." Dengan lembut Daniel membelai lengan Bella naik turun secara berulang-ulang.
Kerongkongan Bella mendadak kering, menahan hasrat yang kembali tersulut dengan sentuhan ringan dari Daniel. Dia mencoba menahannya demi mempertahankan keangkuhan hatinya yang tidak akan berlaku jika menyangkut kata Cinta.
"Jangan di balas jika tidak ingin." Daniel kembali mendekatkan bibirnya dan melahap bibir mungil Bella. Dia mendorong tubuh kecil itu lembut hingga kini tubuhnya berada tepat di atasnya.
Bella kembali tidak bergeming, mencoba menolaknya sekuat hati. Menutup rapat-rapat bibirnya dengan kedua tangan menggepal kuat. Namun, ketika matanya terbuka, dia kembali jatuh lagi. Melihat manik Daniel yang seolah tengah menghipnotis.
Bukan minuman keras tapi sangat memabukkan, hingga membuat keangkuhan Bella mencair menjadi air.
Bibirnya perlahan terbuka, membiarkan Daniel memperdalam ciumannya. Kedua tangannya perlahan terangkat, mencengkram erat kaos Daniel dengan sedikit tarikan lembut seolah tidak menginginkan Daniel menghentikan permainannya.
Kedua bibirnya saling melahap seakan sedang berlomba. Kedatangan Andra hari ini, membuat beban Daniel terasa berkurang sehingga membuatnya lebih bersemangat dari sebelumnya.
"Apa terasa berat sayang." Tanya Daniel dengan suara parau. Bella tidak membalas ucapan Daniel dan hanya memberikan isyarat lewat bahasa tubuh. Bella malah menekan erat tubuh kekar itu agar terus menindihnya.
Tubuh keduanya semakin erat menyatu seiring dengan bibir Daniel yang mulai turun ke bawah. Dari sekitaran dagu dan pipi, kemudian turun ke leher.
Bella mengelinjang tidak beraturan, merasakan sensasi geli di tambah dengan getaran hebat yang terjadi di seluruh tubuhnya. Miliknya terasa berkedut seiring dengan lenguhan panjang yang keluar begitu saja.
Daniel sendiri menjadi lupa diri dan terus mencumbui leher Bella dengan tangan yang terus aktif mengusap paha terbuka Bella yang sudah tersingkap.
"Tidak Kak..." Bella mencengkeram erat punggung saat pelepasan sudah di dapatkan. Bersamaan dengan itu, tangan Daniel menyentuh milik Bella yang masih memakai pembalut dan membuatnya menghentikan aktifitasnya.
Ahh Tuhan.. Aku ingin memasukinya sekarang juga. Daniel memasang wajah datar, berusaha menahan hasrat yang terasa memanas. Namun ketika sorot matanya menatap raut wajah Bella yang berkeringat, membuatnya merasa cukup senang sehingga sebuah senyuman langsung membingkai di wajahnya.
"Apa yang tidak?" Tanya Daniel. Miliknya berangsur normal dan tidak menegang lagi.
Bella tersenyum kecil dan kembali menyembunyikan wajahnya yang mungkin terlihat menggelikan. Dia bergelayut lembut pada leher Daniel dan menenggelamkan kepalanya di pundaknya.
"Sudah sampai?" Tanya Daniel lagi.
"Sampai apa Kak?" Jawabnya masih tidak ingin menunjukkan wajah puasnya.
"Entah sampai ke mana sayang. Kita mandi bersama." Sontak Bella mengangkat kepalanya dan menatap tegang Daniel dengan mata bulatnya.
"Ma mandi bersama?" Daniel mengangguk seraya tersenyum." Aku belum siap Kak." Imbuhnya segera mendorong tubuh Daniel kemudian duduk.
"Berarti belum siap untuk itu."
"Untuk apa?"
"Memberikan itu sayang. Kamu lupa pembicaraan kita di hotel?" Wajah Bella semakin menegang dan bingung harus bagaimana menolaknya.
"Itu kan malam pertama, bukan mandi bersama." Jawabnya pelan.
"Apa bedanya? Aku juga sudah pernah melihatnya."
"Iya tapi...."
"Tidak apa-apa sayang jika belum siap." Daniel berpura-pura memasang wajah kecewa. Dia menurunkan kedua kakinya sementara Bella menatapnya lemah." Aku hanya tidak sabar saat kamu menjanjikan itu. Maaf ya, aku tidak akan memintanya lagi." Goda Daniel langsung membuat Bella kebakaran jenggot.
"Kak Daniel mau kemana?" Daniel sengaja tidak menjawab dan akan beranjak namun tangan Bella dengan cepat mencegahnya.
"Iya oke ayo.." Jawab Bella cepat. Daniel terkekeh dalam hati. Dia sangat bahagia mendengar itu meski sebenarnya dia tidak akan bisa marah walaupun Bella menolaknya.
Harusnya Bella bisa membalas itu semua, tapi karena kepolosannya, membuatnya berfikir jika Daniel benar-benar marah padanya.
"Ayolah Kak." Bella beranjak lalu berdiri di hadapan Daniel. Tangannya melingkar lembut pada pundaknya sambil terus fokus menatap wajah tampan di hadapannya.
"Ikhlas melakukannya?" Tanya Daniel lembut.
"Iya ikhlas. Tapi aku masih kotor."
"Tidak apa." Daniel mengangkat tubuh kecil itu, kemudian berdiri dan mulai berjalan menuju ke kamar mandi.
~Riane
Akan ada part khusus saat Daniel mendapatkan malam pertamanya...
Kapan ya🤣🤣🤣
Aku juga gag tahu 😂😂😂Sabar saja, nanti juga sampai ke adegan itu..
Mungkin konfliknya cuma ada di sini...
Selebihnya hanya menceritakan kebucinan antara Bella dan Daniel..
__ADS_1
Aku emang gag bisa buat cerita yang beratus-ratus episode, takut malah muter-muter jadi mending bikin cerita baru jika sudah akan sampai 100 bab😁😁
Terimakasih dukungannya 🥰🥰