Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 54


__ADS_3

Kenan masih terpaku, melihat kepergian mobil Lucas yang mulai melaju. Luka lebam di wajahnya baru saja sembuh, namun itu tidak menyurutkan niatnya untuk mendekati Bella, cinta pertamanya.


"Tunggu.." Ucap Kenan setengah berteriak, ketika melihat Daniel akan menutup pintu pagar.


Bella yang tengah berada di ambang pintu, memasang wajah kesal saat menyadari keberadaan Kenan yang sudah tidak di jumpai nya beberapa hari lalu.


Ku fikir dia sudah pergi..


Bella menuruni lima anak tangga, berjalan menghampiri Daniel yang berdiri saling berhadapan dengan Kenan.


"Kau lagi?" Tatap Daniel tajam. Bocah di hadapannya begitu terlihat dewasa dengan setelan kemeja mahalnya." Apa masih kurang kemarin?" Kenan tersenyum, dia tidak merasa takut pada Daniel yang terlihat tenang tapi mengerikan ketika sudah bertindak.


"Jika aku ke sini, berarti aku belum menyerah bukan." Jawabnya tegas.


"Ku fikir kau mati." Sahut Bella berdiri di samping Daniel.


"Aku tidak akan mati secepat itu sebelum bisa mendapatkamu." Daniel mengepalkan tangannya kuat. Ingin sekali dia menghantam wajah Kenan sekarang agar tidak bisa melontarkan rayuan lagi pada Bella, istrinya.


"Sebaiknya kau kembali bersekolah Ken, agar kegilaan mu bisa di kendalikan."


"Kau membenci bocah SMA. Aku tidak mau bersekolah dan sekarang aku sudah menjadi lelaki dewasa untukmu." Bella terkekeh sementara Daniel menarik nafas panjang.


Kebucinan Kenan sungguh di luar dugaan. Tingkat ketidakwarasannya sudah melampaui batas. Hingga membuatnya melakukan hal gila seperti sekarang.


"Ayahmu setuju kau tidak bersekolah?"


"Setuju tidak setuju, keputusan ada di tanganku. Bukankah sudah ku katakan jika aku lelaki bukan bocah? Jadi aku bisa mengambil langkah untuk hidupku sendiri."


Perkataan Kenan, memicu gelak tawa untuk Bella. Membuat giginya yang rata terus saja di perlihatkan.


"Kau memang bocah. Ini sudah terlihat dari sikapmu sekarang."


"Tega sekali kau berbuat itu Bella. Aku kurang apa sih?" Ada rasa kesal terlintas di hati Kenan atas sikap Bella yang di tunjukkan sekarang. Namun apa daya, Bella sudah lama menghuni hatinya hingga dia harus menutup mata dan kekesalannya. Dengan harapan sebuah pembalasan indah yang akan Bella berikan suatu hari nanti.


"Sebaiknya kamu pulang." Sahut Daniel merangkul kedua pundak Bella. Manik Kenan fokus pada sentuhan Daniel, bersamaan raut wajahnya yang berubah.


"Aku cemburu hei Bella. Jangan mau di sentuh dengan lelaki ini." Ucap Kenan menunjuk kasar Daniel." Dia hanya berpura-pura lembut, tapi kau tidak tahu jika dia lelaki yang sangat kasar!" Imbuhnya mulai melontarkan hasutan.


"Jangan bicara omong kosong Ken. Sebaiknya kamu pulang. Ini sudah malam."


"Omong kosong?! Apa dia tidak bercerita jika dia memukulku seminggu yang lalu?" Bella mendongak menatap Daniel untuk mencari jawaban." Aku sampai masuk rumah sakit dan butuh waktu lama untuk memulihkan wajah tampanku ini." Imbuhnya memuji dirinya sendiri dengan kalimat yang membuat Bella mual sesaat.


"Benar begitu Kak?" Tanya Bella. Kenan tersenyum, dia berfikir jika sebentar lagi Bella akan simpatik padanya.


"Dia terlalu banyak bicara. Aku tidak suka dia mengganggu mu."


"Benar kan? Dia ini sok lemah lembut tapi sangat arogan." Sahut Kenan menimpali.


"Untung hanya wajah, bukan kaki yang patah." Kenan menarik nafas panjang. Bella kembali mematahkan angan-angan indahnya." Pulanglah.. Kami ingin tidur." Daniel menggembok pagar meski Kenan masih berdiri tidak bergeming.


Sorot matanya menatap lemah ke arah Daniel dan Bella yang melenggang masuk rumah.


Apalagi yang bisa ku lakukan untuk membuktikan keseriusanku ini. Eluhnya mulai berjalan menjauhi pagar, menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.


"Aku sudah putus sekolah karena dia. Tapi dia masih saja menyebutku bocah!" Kenan membuka pintu mobil kasar lalu menutupnya.


Braaaakkkkk!!!


"Aku ingin tahu apa perkerjaan lelaki tua itu! Mobilnya saja butut! Lalu apa yang kau sukai hei Bella!!" Kesalnya hati, membuat Kenan tidak memperkirakan belokan mobilnya hingga menabrak bak sampah di depan rumah Pak Imran dan mengeluarkan suara gaduh." Agh! Tidak! Ini semua gara-gara lelaki tua itu!!!" Sebelum pemilik rumah keluar, Kenan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Daniel meraih pergelangan tangan Bella ketika akan memeriksa keluar. Rasa cemburu kian membesar, membuat Daniel merasa tidak ikhlas ketika melihat Bella berbicara dengan lelaki lain.


"Suara apa ya Kak."


"Dia hanya sedang mencari perhatian. Buatkan sesuatu untukku sayang." Tangannya merangkul pundak kecil itu erat lalu menggiringnya ke dapur.


"Tidak ada bahan Kak."


"Buatkan nasi goreng saja. Apa kamu ingin memakan sesuatu?"


"Pintunya saja sudah di kunci."


"Bisa di buka lagi."


"Aku juga malas keluar. Takut bertemu dengan mantan Kak Daniel lagi." Nafas berat berhembus, ada setitik rasa kesal terbesit. Mengetahui fakta jika gadis miliknya sulit melupakan rasa cemburunya.


"Aku malas membahas itu sayang." Daniel duduk lemah, dia menuang air putih ke gelas besar lalu meneguknya habis.


"Itu karena Kak Daniel tidak jujur padaku." Bella beranjak dan mulai membuka kulkas, untuk membuatkan pesanan Suaminya meski hatinya sedang di liputi rasa cemburu.


"Tidak jujur apa sayang?" Ada rasa tidak terima. Daniel beranjak dari tempatnya untuk menghampiri Bella yang tengah menyiapkan bahan.


"Apa saja yang sudah Kak Daniel lakukan dengannya?" Pertanyaan itu sungguh memuakkan. Dia berusaha mengatakan kejujuran tapi Bella tidak juga percaya.


"Tidak ada." Bella melirik malas dan mulai memotong bawang di hadapannya.


"Tidak normal sekali Kak. Bagaimana mungkin tidak melakukan apapun! Kakak tadi cantik sekali, siapapun yang memandang pasti ingin menyentuhnya."


Kedua tangannya bertumpu pada meja, dengan tubuh kecil Bella berada di dalamnya. Kepalanya di tundukkan hingga bibirnya membelai lembut rambut tebal Bella.


"Aku memang ingin menyentuhmu sekarang juga sayang.." Nafas Daniel terdengar berat. Menyeruak masuk ke sela butiran rambut tebalnya hingga sanggup menyentuh daun telinganya.

__ADS_1


Tubuhnya sontak menghindar tapi dia lupa jika tengah berada pada posisi yang salah.


Kini punggungnya membentur dada bidang Daniel. Matanya membulat dengan nafas yang terbuang kasar.


Jantungnya kembali berpacu, nafas berat Daniel membuat kewarasannya di obrak-abrik.


"Katanya lapar?" Tanya Bella lirih. Berharap Daniel menghentikan kegiatannya sekarang.


"Katamu ingin di sentuh. Kamu tahu tidak?"


"Ta tahu apa?"


"Aku memikirkan ini sejak tadi." Daniel menyingkirkan rambut yang menghalangi sekitar leher Bella, lalu dengan cepat menempelkan bibirnya di sana.


Bulu Bella meremang, ingin rasanya tangan kecilnya menekan kepala Daniel untuk memperdalam cumbuannya.


"Kak apa ini?!" Bella menjauhkan wajah Daniel dengan tangan kanannya. Itu tidak sesuai dengan keinginannya, hingga penolakan tangan Bella terasa melemah.


"Kamu tadi melakukan itu sayang. Aku hanya ingin kamu tahu bagaimana sensasinya hehe." Walau hasrat kian membesar, Daniel sekuat hati menutupinya dengan gelak tawa.


"Minggir Kak."


Bella berusaha menghindar dengan membalikkan badannya, dia baru menyadari jika posisinya sekarang lebih membahayakan daripada tadi.


Rasanya... Rasanya... Aku ingin sekarang...


Gleg!!


Salivanya di telan kasar, melewati tenggorokannya yang mulai mengering. Wajah Bella menegang setengah mati, terhimpit tubuh Daniel yang mengiurkan.


Matanya kian membulat saat tangan Daniel mulai menarik tubuhnya untuk lebih merapat.


"Apa kamu tidak percaya jika aku sangat tertarik pada mu?"


"Ti tidak.." Kedua tangan Bella mencengkram erat pinggiran meja marmer, saat wajah Daniel mulai menyeruak masuk di sela rambut dan berhenti tepat di lehernya.


"Lalu kenapa kamu curiga padaku sayang." Hidung panjangnya mulai menghirup kuat aroma leher Bella hingga membuat mata Bella terpejam." Percayalah, aku hanya ingin mencium mu saja. Kamu wangi sekali membuat aku bersemangat." Cengkraman tangan Bella terlepas. Dia mendorong tubuh Daniel dan berusaha menjauhkan wajahnya. Tapi, itu tidak membuat Daniel berhenti menggodanya. Daniel terus-menerus menghimpit tubuh nya, hingga oksigen di sekitar terasa sangat sedikit.


"Ahhhhh.. Perutku." Pekik Bella berpura-pura memegangi perut ratanya. Ide itu terlintas sangat cepat dan berhasil membuat Daniel menegakkan tubuhnya.


"Apa yang terjadi?" Himpitannya merenggang sehingga Bella bisa bernafas lega.


"Perutku tiba-tiba saja sakit." Ujarnya beralasan.


"Kita ke dokter." Bella tersenyum dalam hati, melihat wajah panik Daniel sekarang. Tapi dia tidak bisa mengutarakan kebohongannya karena Daniel akan lebih intim untuk menggodanya nanti.


"Ini sudah biiasa terjadi Kak."


"Hm.." Bella mengangguk." Ketika sedang datang bulan selalu seperti ini." Daniel mengiring Bella untuk duduk.


"Tidak perlu memasak jika begitu." Dia kembali beranjak untuk memasukkan kembali bahan-bahan ke dalam kulkas.


Hehe dia percaya...


"Apa ada obatnya?"


"Tidak ada Kak. Hanya butuh istirahat saja." Bella tersenyum lega, sebab bisa terhindar dari adegan yang mungkin akan membuat nafasnya terhenti.


"Makan dulu." Daniel merogoh ponselnya yang berada di saku celananya." Mau makan apa sayang?" Tanyanya lembut.


"Terserah Kak."


"Hm..." Daniel memesan makanan yang sekiranya bisa menggugah selera.


Perlahan tangannya meletakan ponsel pelan. Maniknya kembali menatap Bella yang tengah duduk di depannya. Tarikan nafas panjang terdengar berhembus, hatinya terbebani memikirkan pembuktian jika dia benar-benar tidak pernah melakukan sentuhan fisik dengan wanita manapun.


"Seiring berjalannya waktu. Kamu akan tahu aku lelaki seperti apa." Tangan kanannya terulur dan meraih jemari kecil Bella lalu memainkannya.


"Sudahlah Kak. Itu masa lalu." Daripada dia melakukan adegan seperti tadi. Akan lebih baik jika aku berpura-pura percaya.


"Syukurlah jika kamu mau mengerti. Kita tunggu makanan datang, setelah makan, kita tidur."


"Hmm.." Bella tersenyum, mengingat saat Daniel sempat menyentuh lehernya. Sensasinya luar biasa, hingga Bella merasa bibir Daniel masih menempel di sana. Terasa hangat dengan deru nafas beratnya.


.


.


.


Keesokan harinya...


"Kita ke gudang dulu sebentar, untuk membuka pintu." Bella mengangguk seraya makan sandwich di tangannya.


"Untung aku bisa bangun pagi Kak." Daniel tersenyum, mendengar kata Untung keluar dari bibir Bella. Mengingat kejadian tadi pagi saat dia susah payah membangunkan Bella hingga rasanya ingin menyerah, membuat kata beruntung, terasa jauh dari kenyataan.


Setibanya di lokasi, Daniel menyuruh Bella tetap di mobil sementara dia pergi untuk membuka pintu gerbang untuk para karyawan.


Daniel menghampiri para karyawan, yang sudah berdiri menunggu di depan pintu gerbang.


"Pagi Pak Dimas." Sapanya ramah. Beberapa orang langsung berdiri ketika melihat keberadaan Daniel.

__ADS_1


"Pagi. Maaf sedikit siang, em Pak Lucas sedang tidak ada di tempat."


"Terus? Siapa yang mengawasi nanti Pak?"


"Saya mau mengantarkan adik saya sebentar. Setelah itu, saya akan kembali ke sini." Beberapa orang saling melihat seraya mengangguk.


"Oh begitu Pak. Siap."


"Terimakasih kerjasamanya." Daniel tersenyum ramah kemudian kembali ke mobilnya.


"Mana ada bos seramah Pak Dimas." Gumam salah satu dari mereka seraya berjalan masuk.


"Nyatanya ada. Bukankah kita beruntung. Meskipun gajinya kecil, tapi kalau bosnya baik ya kita jadi semangat buat kerja." Sahut lainnya menimpali.


"Jangan mikir untungnya untuk kita. Doain, agar produk Pak Dimas terjual habis, biar kita bisa kerja terus."


"Pastilah itu. Orang baik rezekinya di permudah."


Amin.. Sahut semuanya seraya tersenyum, seolah perkerjaan yang mereka lakukan begitu membuat mereka nyaman.


*********


Marco berjalan tenang, menuju ke ruang rapat yang terletak di ujung gedung perusahaan. Hari ini, akan ada pengembangan untuk perusahaan dengan mendatangkan para investor yang berpengaruh besar.


Jika bukan karena nominal yang mengiurkan, mungkin Marco enggan untuk datang.


Dia lebih sering mewakilkan pertemuannya pada sekertarisnya meski surat kuasa masih berada di genggamannya.


Cklek...


Mata Marco langsung melebar, melihat Andra berada di antara para investor.


Marco tersenyum tipis, menyapa para investor yang bisa memberikan suntikan dana untuk pembangunan pengembangan perusahaannya.


Kenapa ada dia? Marco meraih berkas yang sudah di siapkan sekertarisnya. Dia mempelajarinya dan baru menyadari jika Asian Grup juga ikut andil dalam pembiayaan. Bahkan nominal paling besar tertera di sana, sehingga mau tidak mau, Marco harus menyambut Andra dengan baik.


Rapat di mulai, meski rasanya Marco ingin menyingkirkan Andra yang di sebutnya sebagai kerikil tajam.


"Aku baru menyadari jika ini perusahaan Pak Daniel." Marco mengumpat dalam hati. Mencaci maki Andra di dalam sana, walaupun dia tidak mungkin untuk mengungkapkannya.


"Bukannya anda mengurus perkerjaan yang di Palembang?" Sikap Andra yang sok kenal, membuat Marco ingin mengusirnya. Apalagi Andra mungkin bisa jadi pemicu terbongkarnya kejahatannya.


"Masih saya urus. Setelah pertemuan ini saya kembali ke Palembang."


"Pasti melelahkan nantinya, kenapa tidak di hadiri orang suruhan saja?" Andra tersenyum tipis. Dia sudah sedikit paham pada sikap Marco yang seolah ingin memintanya pergi. Hal itu semakin mengelitik keingintahuannya tentang di mana sebenarnya Daniel.


"Tidak juga. Saya sudah terbiasa berkerja selama 24 jam nonstop waktu masih bersama Tuanku dulu. Jadi, tidak perlu memikirkan rasa lelah saya." Canda Andra yang sebenarnya sedang menyindir ucapan tidak sopan Marco.


"Oh begitu."


Tak


Tak


Tak


Jari telunjuk Marco terus saja bergerak menyentuh meja marmer di depannya. Dia tengah menahan rasa kesal dan menginginkan Andra segera pergi dari hadapannya.


"Setelah ini saya ada pertemuan. Sebaiknya anda pergi." Marco tidak sabar dan melontarkan ucapan yang terdengar tidak pantas.


"Tentu saja. Sambutan ini sungguh luar biasa." Andra berdiri, dia mengerti jika Marco tidak menginginkan kehadirannya." Mungkin saya tidak seberapa penting daripada pertemuan yang akan anda hadiri nanti." Mata Marco membulat. Tentu saja begitu, sebab dia takut kehilangan suntikan dana besar yang akan Andra berikan untuk pengembangan perusahaan.


"Bukan begitu. Saya hanya..."


"Senang bertemu dengan anda." Sahut Andra langsung melenggang pergi sementara Marco menatapnya tajam dari belakang seraya mencengkram kepalanya.


"Apa dia akan membatalkan kerjasamanya?" Marco duduk lemah di kursi kokohnya. Dia tidak perduli jika nanti Andra membatalkan kerjasamanya asal kejahatannya tidak terbongkar. Ini sudah cukup! Aku tidak membutuhkan suntikan dana!! Biar saja dia batalkan kerja sama itu. Asal aku aman.


Di mobil


"Menurutmu? Apa dia berbohong?" Tanya Andra masih merasa bimbang dengan kecurigaannya.


"Aku sudah memantaunya selama satu Minggu ini. Dia tidak melakukan apapun dan hanya beraktivitas seperti biasa." Jawab Roy menjelaskan perihal perintah dari Andra." Apa harus di lanjutkan?" Imbuh Roy bertanya.


"Sebenarnya ini tidak seberapa penting. Aku hanya ingin tahu Pak Daniel sedang ada di mana." Roy mengangguk-angguk seraya fokus menyetir." Hentikan saja penyelidikan. Mungkin Pak Daniel memang sedang berlibur. Em.. Sudah kau pesankan tiket pesawat nya?" Mobil berhenti tepat di lampu merah.


"Sudah. Sesuai pesanan."


"Hmm.." Andra menurunkan kaca jendelanya dan menatap keluar dengan tatapan kosong.


Secara bersamaan, Lucas baru saja kembali dari mengantar Pak Salim. Saat lampu merah berhenti, dia menoleh dan melihat Andra yang masih sangat di ingat.


"Pak Andra.." Lucas segera menurunkan kaca mobilnya, mencoba berteriak memanggil Andra yang sudah berlalu pergi." Ahh tidak bisa. Terlalu ramai." Ingin sekali Lucas menerobos lampu merah namun jalanan begitu ramai dan padat.


Sorot matanya terus saja melihat ke arah mobil Lamborghini Aventador yang mulai menghilang di tengah hiruk-pikuk jalanan.


"Pak Andra. Dia bisa menolong Tuanku tapi.." Nafas Lucas berhembus lemah. Dia tidak mungkin bisa mengikuti laju mobil Andra karena kemacetan yang begitu padat." Sebaiknya aku kembali saja." Lucas memutar haluan dan memutuskan kembali. Meskipun dia tidak bisa menemui Andra hari ini. Tapi setidaknya ada setitik harapan untuk Tuannya.


~Riane


Semoga suka❤️❤️

__ADS_1


Terimakasih dukungannya 🥰🥰


__ADS_2