
"Kak.." Teriak Bella dari dalam kamar mandi. Pintunya memang sengaja tidak di tutup sempurna agar Daniel bisa mendengar panggilannya.
"Aku masih di sini sayang."
"Jangan meninggalkan aku, awas ya." Ucap Bella begitu takut jika harus mandi sendiri di rumah yang menurutnya terlihat menyeramkan.
Daniel tersenyum seraya menarik nafas panjang karena merasa sangat bahagia pagi ini.
"Tuan." Tiba-tiba Lucas keluar dari balik pintu membuat Daniel sedikit berjalan mendekat agar Lucas tidak bisa melihat Bella yang tengah mandi.
"Ada apa?"
"Mesin akan datang pukul satu siang." Lapornya.
"Hm aku akan ke sana siang nanti."
"Baik Tuan permisi." Lucas tersenyum sejenak kemudian pergi. Fikiran Daniel kembali kalut karena memikirkan perusahaan yang bahkan sangat minim dana.
Hanya ada empat milyar.. Jika ku bayarkan mesin, hanya tersisa satu milyar.. Apa bisa cukup? Tarikan nafas terdengar berhembus begitu berat. Ingin sekali Daniel meminta bantuan sang Ayah namun dia pantang melakukan itu.
Meskipun Daniel merupakan anak satu-satunya, sekalipun dia tidak pernah meminta hasil dari perkebunan kelapa sawit.
Daniel ingin berdiri sendiri tanpa bantuan. Seperti keinginannya saat masih kuliah dulu.
Ayah sudah berkerja keras untuk menyekolahkan aku. Setelah aku lulus, aku tidak ingin merepotkannya lagi.
Begitulah prinsip hidup Daniel yang di terapkan hingga sekarang. Dan ketika kesuksesannya sudah pada titik tertinggi, seseorang hadir dan menghempasnya ke bawah hingga dia kembali jatuh.
Braaaakkkkk!!
Daniel menoleh, dan tersenyum ketika melihat Bella keluar dengan rambut basahnya. Seketika kekalutan pada hatinya musnah, saat melihat gadis kecil di hadapannya.
"Aku fikir Kak Daniel meninggalkan aku." Bella berjalan pelan menghampiri Daniel.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, tapi kamu juga tidak boleh meninggalkan aku." Bella mengerutkan keningnya menatap aneh ke arah Daniel.
"Kak Daniel bicara apa sih? Maksudku di kamar mandi." Bella berusaha mengalihkan pandangannya dan berpura-pura mengeringkan rambutnya.
"Aku tidak ingin kamu meninggalkan aku. Bukankah sudah jelas?" Bella melirik malas, meski dia sangat menyukai nada bicara Daniel yang sangat lembut membelai telinga.
Bagaimana mungkin ada lelaki di ciptakan berbicara dengan suara selembut itu dan wajahnya? Tampan.. Ahh aku tadi berciuman dengan dia. Dan rasanya aku malas kuliah agar bisa... Mata Bella membulat, memikirkan niat kotor yang tiba-tiba saja melintas. Ah tidak! Dasar otak kotor!!! Runtuknya menggelengkan kepalanya.
"Aku lapar sayang." Bella menegakkan pandangannya ke arah Daniel.
__ADS_1
"Aku masakkan sesuatu."
"Hm terimakasih." Daniel merangkul kedua pundak Bella dan menggiringnya ke dapur yang letaknya tidak jauh dari sana.
"Sama-sama Kak. Em aku tidak biasa bangun pagi. Jika besok sekolah, bagaimana dengan sarapanmu?"
"Kita beli saja. Biar ku bawakan." Daniel mengambil handuk dari tangan Bella." Aku akan meletakkan ini sebentar lalu kembali lagi." Gerakkan Daniel tertahan karena tangan Bella meraih lengannya.
"Jangan lama-lama." Daniel kembali memperlihatkan senyum indahnya." Maksudku.. Taruh handuk dan kembali. Aku takut berada di sini sendiri.." Ucapan Bella semakin pelan sebab Daniel tidak juga mengalihkan pandangannya." Kak ish!" Dengan wajah memerah, Bella berpaling dan membuat Daniel semakin merasa gemas.
"Ku letakkan nanti saja." Bella melepaskan pegangannya perlahan lalu mulai membuka kulkas dengan gerakan kaku.
Tuhan! Tuhan!! Kenapa rasanya jantungku meloncat keluar.. Ini melelahkan tapi aku...
Tap!!
Duhh!!
Setelah menutup pintu kulkas. Bella membentur dada bidang Daniel yang ternyata tengah berdiri di belakangnya. Fikiran Bella yang tidak fokus, membuatnya bertindak bodoh seperti sekarang.
"Ahh Kak Daniel.." Eluhnya memegang dahinya lembut.
"Sakit?" Tangan Daniel terangkat lalu memeriksa dahi Bella sehingga membuat tangan Bella turun dengan sendirinya. Pandangan Daniel fokus pada dahinya sementara Bella sendiri tidak fokus karena jantungnya seolah di buat berkerja keras oleh Daniel.
"Tidak sakit." Bella memundurkan tubuhnya hingga membentur kulkas.
"Terlalu dekat." Bella beranjak pergi untuk meletakan bahan-bahan.
"Suami istri menang harus dekat." Jawab Daniel sudah berdiri di samping Bella.
"Aku belum terbiasa Kak."
"Aku melakukannya agar kamu terbiasa."
"Kak Daniel terlalu banyak alasan." Protes Bella. Daniel terkekeh karena dia sendiri sulit mengendalikan perasaannya.
"Itu karena aku sayang.." Tangan Daniel melingkar lembut ke pinggang kecil Bella dengan posisi menunduk sebab postur tubuh Daniel yang sangat tinggi.
"Serius Kak.. Aku belum terbiasa." Bella meletakkan pisaunya dan mencoba melepaskan tangan Daniel." Ini tidak akan selesai jika Kak Daniel begini." Runtuk Bella kembali membuat Daniel terkekeh.
"Galak sekali, itu kenapa Bastian menyebut kamu singa." Daniel tidak juga melepaskan tangannya dan malah menempelkan dagunya lembut pada pundak Bella. Matanya terpejam dengan bibir setengah terbuka yang perlahan menempel lembut pada pipi Bella.
"Kak.." Panggil Bella mulai mematung. Getaran hebat tentu terjadi pada hatinya apalagi Daniel melakukannya dengan sepenuh hati.
__ADS_1
Beri aku jalan untuk membahagiakan gadis kecil ini Tuhan...
Tangan kanan Bella terangkat dan berusaha menyingkirkan bibir Daniel dari pipinya. Namun, bibir Daniel kini beralih mengecup telapak tangan Bella sehingga membuatnya kembali menurunkan tangannya.
"Kak Daniel!" Meskipun Bella menikmatinya. Namun, dia tidak ingin lupa diri dan menghancurkan keinginannya untuk lulus dengan nilai baik.
"Apa sayang.. Astaga... Suaramu terdengar begitu indah." Daniel mengangkat kepalanya dan tersenyum dengan mata sipitnya.
"Jadi sarapan tidak."
"Tentu saja hehe. Terimakasih tambahan kekuatannya." Daniel kembali menunduk dan memiringkan kepalanya lalu mengecup pipi Bella sebentar.
"Tambahan apa?" Bella menyingkirkan tangan Daniel dari pinggangnya.
"Kekuatan hehe. Cepat masak. Aku sudah lapar, atau kamu mau aku melakukannya lagi." Dengan hati bertanya, Bella meraih pisau dan segera membuatkan sarapan untuk Daniel.
Kekuatan apa? Bella melirik ke Daniel yang tengah duduk di kursi makan sambil fokus menatap layar ponselnya. Wajah Bella kembali memerah kemudian berpaling.
Dewasa.. Atau mungkin terlalu dewasa.. Jantungku bahkan masih bergetar. Dia ternyata nakal sekali. Perjanjian itu tidak berlaku apapun dan bahkan sudah terbakar bersama ATM dari Bastian... Bella memelankan gerakannya, saat fikiran itu terlintas. Jika mungkin ATM itu masih ada, kak Daniel akan bisa fokus pada perusahaannya..
Bukannya mengeluh atau menyesal, Bella malah merasa iba dengan Daniel karena keterpurukan yang terjadi pada hidupnya. Itu karena pelatihan dari Bastian sudah merasuk pada dirinya. Hidup hemat dan tidak berfoya-foya membuat Bella tidak pernah belanja berlebihan seperti yang di lakukan sebagian besar wanita.
Aku tidak akan menyulitkannya...
***************
"Apa kamu bilang?" Tanya Marko mengulang kata-kata kaki tangannya yang menjelaskan, jika Bella tinggal di rumah tua yang terletak di samping rumah Bella.
"Iya Tuan. Sejak kemarin dia tinggal di sana."
"Siapa yang tinggal di sana?" Tatap Marko tajam. Kaki tangan yang baru saja bergabung, membuatnya tidak mengetahui wajah Daniel.
"Hm.. Dua orang lelaki dewasa."
"Aku yakin dia menumpang saja di sana." Gumam Marko mengalihkan pandangannya pada jendela." Lalu, info soal keluarga Bella?" Imbuh Marko sangat ingin tahu seluk-beluk keluarga Bella agar dia bisa masuk melalui sela yang tepat.
"Dia tidak memiliki keluarga di kota ini. Para tetangganya bilang jika semua keluarga Bella berada di luar pulau dan hubungan mereka juga tidak baik sehingga putus komunikasi begitu saja." Marko kembali menatap tajam Jim.
"Kemarin ada seorang lelaki yang mengaku sebagai keluarganya!! Bagaimana mungkin dia tidak memiliki keluarga!!"
"Saya tidak mengerti Tuan.. Tapi, keluarga Bella sudah tidak berada di kota ini." Marko mengangguk-angguk seraya tersenyum tipis. Dia tidak ingin memikirkan Lucas yang saat ini mengaku sebagai keluarganya. Marko lebih percaya pada kaki tangannya dan mendapatkan fakta jika Bella tinggal di kota ini seorang diri.
"Terus pantau! Jika dia berada di puncak kesulitan. Ulurkan tanganmu agar dia bisa berkerja padaku seumur hidup."
__ADS_1
"Baik Tuan." Jim mengangguk sebentar kemudian berjalan keluar ruangan dan di gantikan dengan kedatangan Fanny.
~Riane