
Padahal hanya ikan goreng dan sambal, tapi rasanya sangat sedap..
Daniel mengagumi masakan sederhana Bella yang sangat menggoyang lidahnya. Bella sendiri makan ayam krispi yang sudah di hangatkan dengan fikiran kalut gara-gara mendengar celotehan para tetangga tentangnya.
"Enak?" Tanya Daniel membuka pembicaraan sebab sejak tadi Bella diam.
"Iya Kak enak." Jawabnya singkat.
"Selain ayam krispi, apalagi yang kamu sukai."
"Aku suka semua makanan tapi ayam krispi spesial." Daniel mengangguk-angguk seraya mengunyah ikan pelan dengan sorot mata fokus menatap Bella." Kak.. Em itu.. Aku boleh bertanya tapi jangan marah?" Imbuh Bella pelan.
"Aku tidak pernah marah, apalagi denganmu."
"Kak Daniel, serius belum memiliki istri?" Daniel terkekeh mendengar itu hingga tersedak. Bella menuang air untuk Daniel meski dia kesal dengan tertawaan Daniel sekarang.
"Apa yang kamu dengar? Katakan sayang? Kenapa kamu bertanya itu?" Tanya Daniel setelah meminum satu gelas air.
"Aku tidak masalah jika para tetangga membicarakan soal kita yang tinggal bersama, sebab aku memang tidak ingin pernikahan kita tersebar. Tapi... Jika aku di sebut istri simpanan! Bukankah ibu-ibu itu keterlaluan?" Jawab Bella bercerita panjang lebar.
"Aku memang punya istri." Bella membulatkan matanya membalas tatapan Daniel. Dia menelan makanannya kasar untuk melontarkan protesan.
"Kak Daniel menipuku!!" Daniel malah memasang senyuman, menikmati wajah panik Bella sekarang." Jika tahu begini, aku tidak mau menikah dengan Kak Daniel!!" Umpat Bella jelas merasa kesal karena dia tidak ingin di sebut istri simpanan.
"Jika kamu tidak menikah denganku, bagaimana aku bisa mempunyai istri?" Bella mengganti wajah paniknya dengan tarikan nafas panjang.
"Kak Daniel nih, aku fikir benar-benar ada." Jawabnya pelan.
"Mungkin kelihatan aneh, tapi aku benar-benar belum menikah tapi untungnya sekarang sudah." Daniel mengangkat tangan kirinya dan mengusap puncak kepala Bella lembut.
"Beruntung apa? Menikahnya tidak sempurna kan." Bella kembali melanjutkan makannya." Bukannya kita mirip berpacaran Kak? Pasti itu memberatkan mu." Bella menebak demikian sebab Daniel adalah lelaki dewasa yang pasti sudah menginginkan sentuhan fisik lebih dari sekedar berciuman.
"Aku tidak keberatan sayang. Kita berpacaran sampai kamu lulus kuliah."
Aku sudah tidak lagi ingin kuliah, itu akan memberatkan Kak Daniel nantinya..
"Aku ingin berkerja saja jika lulus." Daniel menoleh cepat, mendengar keputusan Bella.
"Kenapa begitu?"
"Ingin pegang uang sendiri Kak hehe." Jawab Bella asal.
"Tidak perlu berkerja. Doakan usahaku lancar, agar kamu bisa kuliah."
Itu akan menambah beban saja dan rasanya aku juga tidak menginginkan itu...
"Aku sudah tidak berniat kuliah." Daniel menarik nafas panjang mendengar itu. Dia bisa menebak jika mungkin Bella merasa tidak yakin karena keadaannya yang sulit.
Lagi lagi Daniel merasa payah. Ingin sekali dia bisa membesarkan usahanya sekarang namun itu mustahil terjadi. Selain dana yang sangat minim, sebuah perusahaan juga butuh waktu untuk bisa berkembang.
Kediaman Daniel, membuat Bella menoleh dan membaca wajah bingung yang di perlihatkan Daniel padanya.
"Aku ingin menjadi istri yang baik setelah lulus nanti Kak." Imbuh Bella ingin mengelabuhi.
Bella sudah merasa senang dengan kehidupannya sekarang. Dia tidak mengharapkan lebih setelah kematian Bastian satu Minggu lalu. Kehadiran Daniel di hidupnya sudah sangat membantunya setelah dua kejadian berat menimpanya.
"Jangan berbohong. Aku akan berusaha jika memang kamu ingin kuliah." Bella tersenyum seraya menggelengkan kepalanya dan membalas tatapan manik Daniel.
"Aku tidak berbohong."
"Aku tidak ingin cita-cita mu terhenti."
"Cita-citaku sudah berubah." Bella kembali duduk tegak, hatinya tidak kuat jika memandang wajah tampan Daniel terlalu lama.
"Lalu apa cita-cita mu?" Tanya Daniel tentu ingin tahu.
"Rahasia Kak." Jawab Bella asal, padahal dia belum memikirkan jawaban untuk pertanyaan Daniel. Dia berdiri dan membereskan piring kotor untuk menghindari tatapan Daniel yang mulai tidak wajar.
Ahhh jantungku berkerja keras setiap harinya...
Bella memutar kerannya pelan, lalu mulai mencuci piring kotor. Ada yang aneh, sebab Daniel tidak mencegahnya.
Keanehan itu terjawab saat kedua tangan Daniel melingkar lembut di perutnya.
"Kak." Pekik Bella tentu merasa terkejut dan berdebar.
"Apa?" Daniel membungkuk lalu menumpukan dagunya pada puncak kepala Bella.
"Aku mencuci piring." Jawab Bella lirih.
"Aku tahu." Mata Daniel terpejam ketika hidung mancungnya mulai menempel ke rambut tebal Bella.
"Kak minggir dulu."
"Bukankah sudah ku katakan jika aku saja yang melakukan itu. Kenapa kamu melanggar?" Bella tertunduk, tangannya bahkan tidak bergerak karena tubuhnya mematung sejak tadi. Kedua maniknya menatap air keran yang mengalir begitu saja seraya sesekali mengendalikan perasaannya.
"Hanya tiga piring Kak." Protes Bella.
"Meskipun tiga, itulah aturannya. Masih ingin melakukannya?"
"Tidak. Lepaskan." Pinta Bella lirih.
"Hmm.." Tangan Daniel beralih pada pundak Bella, tubuh Bella di balikkan dan dengan cepat Daniel mengangkat tubuh Bella dan mendudukkannya tepat di samping tempat cucian.
__ADS_1
Bella menelan salivanya kasar, merasakan posisi yang sangat membahayakan. Dia memundurkan tubuhnya pelan dengan kedua tangan bertumpu di samping tubuhnya. Namun, kedua tangan Daniel yang bertumpu di samping, menghimpit tubuh kecilnya.
"Aku mau turun." Pinta Bella tidak di dengar. Daniel tidak bergeming dan malah menatap ke arahnya lekat.
Bella hanya mampu menghindar dengan menunduk, sebab kedua kakinya sudah terhimpit tubuh Daniel yang semakin mendekat.
"Kak Daniel sedang apa sih." Protes Bella merasakan jantungnya yang berdetak tidak terkendali. Tangan kanan Daniel terangkat lalu memegang dagu Bella dan mengangkatnya lembut.
"Sedang berpacaran." Jawabnya memperlihatkan senyum dengan mata sipitnya. Belum sempat Bella membalas, bibir Daniel sudah membungkamnya." Buka sayang.." Pinta Daniel lembut. Bella menggeleng dan menutup bibirnya rapat." Kenapa tidak?" Daniel kembali tersenyum dan mengecupi sekitar bibir Bella dan berakhir dengan menempelkan hidungnya pada hidung Bella.
Bella memejamkan mata dan menahan nafas sementara Daniel tidak juga mengangkat hidungnya dari sana. Itu sengaja Daniel lakukan agar Bella mau membuka bibirnya seperti sekarang.
"Haaah." Bella membuang nafas kasar sehingga Daniel bisa memperdalam ciumannya.
Tangannya Bella terangkat dan berusaha mendorong tubuh Daniel. Tapi itu hanya terjadi sebentar, sebab kini kedua tangannya memegang erat bagian bawah baju Daniel.
Bella mulai terbawa suasana, apalagi beberapa kali manik keduanya bertemu dengan tatapan sayu. Itu membuatnya semakin merasa pasrah, apalagi sekarang Daniel semakin mendorong tubuhnya sehingga membuat tubuh keduanya menempel.
Tangan Bella bahkan sudah memeluk perut Daniel erat dengan kedua kaki terbuka lebar. Bella mulai menggila, menginginkan sesuatu yang lebih dari ini, hingga tubuhnya di rapatkan tanpa celah.
"Jangan berhenti." Pinta bella dengan wajah memerah saat Daniel menjauhkan bibirnya.
Aku benar-benar tidak waras sudah mengucapkan itu!!! Umpat Bella dalam hati.
Kedua tangannya menekan kuat leher Daniel dengan bibir yang masih saling menempel.
"Kenapa tidak boleh berhenti?" Jawab Daniel masih mengecupi bibir Bella seraya menunggu sebuah pengakuan. Bella tidak bergeming karena merasa malu dengan ucapannya sendiri." Apa kamu sudah mencintai ku sayang." Imbuh Daniel sebenarnya sangat bahagia mendengar perkataan yang Bella ucapkan tadi.
"Memalukan." Gumam Bella menjauhkan wajahnya dan menyembunyikannya ke pundak Daniel.
"Kenapa malu?" Daniel tersenyum dan memberi waktu untuk Bella jujur tentang perasaannya. Tubuhnya di rapatkan dengan tangan terangkat seraya mengusap rambut Bella yang tidak seberapa panjang.
"Entahlah kenapa. Kak Daniel sih!!" Daniel akan mengangkat kepala Bella dari pundaknya namun tangan Bella menggalung erat. Dia tidak ingin memperlihatkan wajahnya pada Daniel. Wajahnya merah padam dan terasa begitu panas bercampur dengan jantungnya yang masih berdetak kencang.
"Aku ingin kamu tidak malu-malu denganku." Bella tidak bergeming dan malah merasa nyaman dengan posisinya sekarang." Tunjukkan wajahmu sayang, kenapa kamu bersembunyi seperti itu." Daniel mendorong lembut pundak Bella sehingga kini keduanya saling berhadapan dengan manik yang saling menatap.
"Kenapa kamu selalu saja menatapku seperti itu Kak." Kedua tangan Bella terangkat dan menghalangi pandangan Daniel.
"Itu menyenangkan, aku selalu ingin melakukan itu." Daniel membiarkan perlakuan Bella padanya." Masih ingin?" Tawar Daniel menunjuk bibirnya." Bella hanya tersenyum dan tidak bergeming." Aku tidak melihatnya sayang." Imbuh Daniel menggoda.
Memang sangat menyenangkan dan berdebar... Apa ini kenapa Kak Bastian tidak memperbolehkanku berpacaran? Aku benar-benar lupa diri karena sentuhannya...
Daniel mendekatkan wajahnya untuk memudahkan Bella melakukannya. Beberapa saat tidak ada pergerakan, meski Bella fokus melihat bibir Daniel.
Tidak apa kan? Dia suamiku...
Perlahan, Bella mulai mendekatkan wajahnya dengan sedikit memiringkan nya. Jantungnya berpacu saat nafas Daniel menerpa wajahnya. Bibirnya terbuka sedikit lalu menempelkannya pada bibir Daniel dan menciumnya lembut. Daniel membalas ciuman itu hingga tangan Bella turun lalu menekan erat tengkuk Daniel.
"Apanya yang cepat?"
"Mencintaiku hehe."
"Aku tidak mengerti jatuh cinta itu bagaimana?" Jawab Bella memang tidak tahu menahu soal itu. Rasa berdebarnya sekarang, juga sering terjadi ketika dia melihat lelaki dewasa lain meski tidak sedahsyat yang Daniel ciptakan.
"Aku juga tidak seberapa paham. Aku hanya merasa senang melihatmu dan ingin membahagiakanmu."
"Apa seperti itu Kak?
"Entahlah. Bagaimana dengan kamu sayang?"
"Aku hanya bersyukur ada Kak Daniel di sini sebab aku memang tidak memiliki siapa-siapa."
"Lalu...?" Bella tersipu, menatap wajah Daniel dari jarak dekat. Perlahan tangannya terangkat dan mengusap bagian depan rambut Daniel.
"Kamu tampan dan aku suka lelaki dewasa. Ku rasa itu memudahkan aku untuk mencintaimu meski aku sendiri tidak mengerti arti dari cinta itu apa?" Jawab Bella lirih seraya masih memainkan tangannya pada rambut tebal Daniel.
"Kita sama-sama belajar. Oke. Sebentar, biarkan aku mencuci itu lalu belajarlah setelah ini." Daniel mencium kening Bella sejenak kemudian melanjutkan cucian piring yang tertunda. Bella memperhatikan dari samping dan merasa kagum dengan kelembutan sikap Daniel yang di tujukan padanya.
Terimakasih Kak Bastian. Ini pilihan yang bagus dan hukuman paling indah untukku.. Aku mulai menyanyanginya, apa itu setara dengan cinta? Ahh entahlah, ini baru pertama untukku begitupun Kak Daniel hehe.. Konyol sekali, aku menciumnya tadi... Agh! Malu sekali tapi sangat menyenangkan..
**************
Jim turun dari mobilnya dan segera di persilahkan masuk karena penjaga rumah tahu jika Jim adalah kaki tangan Marco. Tujuan Jim datang, tidak lain untuk memberikan laporan tentang Bella.
Marco memasang wajah geram, ketika melihat kedatangan Jim yang tengah berdiri di hadapannya.
"Kemana saja kamu!" Tanya Marco dengan nada kasar.
"Tadi saya sedang mengintai Tuan. Ponsel saya letakkan di mobil jadi saya tidak tahu jika Tuan menghubungi saya."
"Lain kali! Selalu bawa ponselmu itu bodoh!!" Umpat Marco.
Kau yang bodoh!!!
"Maafkan saya Tuan."
"Info apa yang kamu dapatkan?" Jim memperlihatkan potret Bella saat keluar rumah untuk membeli ikan. Itu kali pertama Marco melihat sosok Bella.
Cantik... Batin Marco melihat foto itu dari dekat.
"Ini adik Bastian?"
"Iya Tuan."
__ADS_1
"Apa yang dia lakukan seharian ini?" Tanya Marco antusias.
"Bersekolah saja." Jawab Jim asal bicara.
"Apa dia masih tinggal di rumah tua itu?"
"Masih Tuan."
"Apa perkerjaan dari lelaki yang berada di rumah tua itu?"
"Hanya pegawai biasa." Jim kembali memberikan informasi asal-asalan.
"Cari tahu. Di mana dia berkerja? Aku ingin cepat bisa mendapatkan adik Bastian."
"Baik Tuan. Permisi." Jim mengangguk sejenak kemudian melangkah pergi dari hadapan Marco.
"Sungguh di luar dugaan, adik Bastian begitu cantik." Gumam Marco terus saja melihat potret Bella berlama-lama." Aku ingin bertemu dengannya secara langsung. Mungkin saja dia tertarik." Marco berdiri dan menaiki anak tangga, dengan foto Bella di tangannya.
*************
Bella menutup buku tulisnya saat PR sudah selesai di kerjakan. Dia membereskan alat tulis lalu memasukkannya ke dalam tas.
Daniel merasa heran, padahal tadi PR Bella terbilang sulit untuk anak SMA. Daniel bahkan sudah berharap jika nanti Bella bertanya padanya. Namun nyatanya itu tidak terjadi.
"Coba lihat." Daniel mengambil buku tulis yang akan Bella masukkan untuk memeriksa. Pintar sekali, ku fikir dia asal mengerjakan. Daniel kembali menutup bukunya lalu mengembalikannya pada Bella.
"Memeriksa apa?" Tanya Bella memasukkan bukunya lalu meletakkan tasnya di bawah meja.
"Tidak apa. Peringkat berapa kamu di sekolah?"
"Satu."
"Sebelumnya?"
"Satu. Peringkatku tidak pernah turun sejak SD." Bella meraih remote dan menyalakan televisi.
"Aku tidak pernah melihat kamu belajar sayang. Lebih dekat sini." Daniel merangkul pundak Bella agar tubuh Bella menempel padanya. Bella membiarkan itu semua sebab dia juga ingin terbiasa menerima Daniel sebagai suaminya.
"Belajar kok."
"Kapan?" Daniel membelai rambut Bella seraya mengecup puncak kepalanya.
"Di sekolah."
"Maksudku, untuk mengulang pelajaran."
"Aku tidak pernah melakukan itu. Aku belajar di sekolah dan membaca buku di sana. Kalau di rumah hanya mengerjakan PR saja." Jawab Bella menjelaskan.
"Pintar sekali." Puji Daniel tersenyum seraya melihat acara televisi.
"Tentu saja." Bella menumpukan kepalanya senyaman mungkin meski jantungnya tetap saja berdebar.
Aku harus terbiasa. Paling tidak, anggap dia sebagai Kakak sendiri..
"Sudah nyaman." Tanya Daniel lirih.
"Banyak yang akan nyaman jika sikapmu seperti sekarang Kak." Daniel menarik nafas panjang dengan tangan yang masih bermain di anak rambut Bella.
"Aku hanya nyaman bersamamu."
"Tidak masuk akal. Aku hanya anak kecil." Wajah Bella memerah mendengar kenyataan manis yang Daniel lontarkan.
"Itu kenyataan yang aku rasakan."
"Itu karena Kak Daniel belum pernah mencoba."
"Aku tidak mau mencoba. Aku yakin Tuhan akan menuntunku untuk bertemu dengan jodohku." Daniel kembali mengingat Jonathan, yang memperjuangkan cinta pertamanya meski harus mempertaruhkan semuanya.
"Bukankah wanita dewasa lebih menarik."
"Menarik tapi tidak mampu memahami, ku rasa itu semua percuma sayang."
"Kamu tampan, pasti banyak yang mau memahami Kak." Jawab Bella asal bicara.
"Tampan tapi tidak punya apapun. Siapa yang mau memahaminya?" Bella mengangkat kepalanya cepat lalu melihat ke arah Daniel.
"Maaf aku tidak bermaksud menyinggung..."
"Tidak sayang itu kenyataan." Daniel malah membalas wajah menyesal Bella dengan sebuah senyuman." Aku hanya takut tidak bisa membuatmu bahagia." Imbuhnya lirih.
"Ahhh tidak menyenangkan!" Jawab Bella ketus." Aku tidak suka jika Kak Daniel menyerah seperti sekarang." Imbuh Bella ingin menyemangati Daniel untuk tidak menyerah.
"Tidak sayang. Aku tidak sedang menyerah. Aku berkata ini karena tahu bagaimana rasanya membangun sebuah usaha dari Nol. Itu akan sulit sebab belum tentu berhasil. Terkadang modal yang kita keluarkan akan terbuang sia-sia ketika produk kita tidak terjual." Ucap Daniel dengan suara lembut.
Bella terdiam dan duduk tegak menatap lurus ke arah televisi. Dia cukup tahu tentang itu karena seringnya membaca buku yang berhubungan dengan tehnik marketing.
Semua berawal saat Bella iseng membaca buku Bastian saat masih kuliah dulu. Bella sering bermain ke kamar Bastian sebab saat itu Kakaknya masih bersikap baik dengannya.
Bella membaca semua buku yang ada di rak buku Bastian dan sejak saat itu dia mulai tertarik meski saat itu Bella masih duduk di bangku SMP.
"Biar ku bantu memasarkannya Kak."
~Riane
__ADS_1