
Mata Bella menyipit, mendengar sayu suara Sari dan Erin yang tengah mengobrol dengan Daniel.
"Sepertinya Sari dan Erin.." Gumamnya masih belum sadar. Namun setelah satu menit berlalu, Bella terduduk dan melihat jendela sudah terbuka." Aku sekolah." Cepat-cepat Bella berdiri lalu berjalan tanpa alas kaki. Menghampiri Daniel yang ternyata sudah masuk ke dalam rumah." Mana temanku Kak?" Tanya Bella panik.
"Mereka berangkat dulu."
"Kenapa tidak menunggu." Eluh Bella.
"Kamu bahkan belum mandi. Cepat mandi, nanti ku antarkan."
"Iya cepat." Bella menarik pergelangan tangan Daniel. Tujuannya tidak lain karena dia ingin Daniel mengantarkannya mandi.
Daniel merasa jika kehidupannya sekarang terasa sangat menyenangkan, meskipun nyatanya dia tengah berada di masa keterpurukan. Kehadiran Bella membuat setiap detik dan menit lebih berharga seperti sekarang.
Daniel tersenyum tipis, melihat Bella makan dengan lahapnya di dalam mobil. Untung saja pagi itu Daniel berinisiatif membuat sandwich sehingga Bella bisa sarapan pagi.
"Lalu ayam krispinya bagaimana?"
"Di makan sepulang sekolah Kak. Sebenarnya aku biasa tidak sarapan." Jawab Bella seraya mengunyah.
"Harus sarapan dulu. Aku hanya bisa membuat sandwich, itupun tidak tahu rasanya seperti apa."
"Enak kok hehe.."
"Jangan lupa obatnya." Bella bersyukur Daniel mengingatkan tentang obat itu, padahal dia melupakannya.
"Terimakasih ya Kak." Bella mengambil obat lalu menelannya tepat saat Daniel berhenti di depan gerbang sekolah." Aku pergi." Daniel meraih lengan Bella saat akan beranjak keluar dari mobil.
"Beri aku.." Ucap Daniel menunjuk pipi.
Bluuuss...
Wajah Bella tentu memerah, mendengar permintaan sederhana Daniel. Dia tidak melakukannya, dan hanya menarik nafas panjang seraya duduk tegak.
"Bagaimana jika nanti saja." Tolak Bella masih sangat malu untuk mengawali sebuah ciuman.
"Tidak. Aku maunya sekarang. Itu untuk bekal." Rajuk Daniel membuat Bella menoleh.
"Bekal?" Daniel mengangguk.
"Bekal untuk mengawali hari." Bella tidak bergeming meski dia ingin sekali melakukannya. Sikapnya yang tegas terkadang melemah, seolah lelaki dewasa di sampingnya bisa mengendalikannya.
"Aku sudah telat." Jawab Bella beralasan.
"Maka dari itu cepat sayang." Daniel mendekatkan pipinya dengan sebuah senyuman simpul.
Tarikan nafas berat kembali berhembus bersamaan dengan lirikan kedua manik Bella ke arah pipi kanan Daniel.
Dia suamiku... Ahh berat sekali...
Dengan gerakan kaku, Bella mulai mendekatkan bibirnya lalu menempelkannya sebentar pada pipi Daniel.
"Sudah!" Daniel duduk tegak, lalu memutar tubuhnya dan menelungkup wajah Bella. Dia memberikan beberapa ciuman di wajah sehingga membuat wajah Bella merah padam.
"Terimakasih. Belajar yang rajin. Ingat sayang, jika ada yang menganggu, bilang jika kamu sudah memiliki pacar."
"Hm ya. Emm boleh aku pergi?" Tanya Bella tersenyum aneh.
"Iya. Sampai jumpa nanti siang."
Cklek..
Daniel membukakan pintu mobil sehingga Bella langsung turun.
"Bye sayang.." Ucap Daniel melambai dengan pintu mobil masih terbuka.
"Hehe bye Kak.." Bella menoleh sejenak untuk membalas lambaian tangan Daniel sebelum akhirnya masuk.
"Aku benar-benar kembali muda." Daniel memakai masker kemudian melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah.
Bella berjalan santai menuju kelasnya dan tiba-tiba saja Samuel menghadang langkahnya.
"Hai Bella." Sapa Samuel ramah.
"Hai, ada perlu?"
"Aku hanya ingin tahu keadaanmu, aku tidak melihatmu beberapa hari ini." Samuel masih sangat tertarik pada Bella meski dulu Bastian mengaku sebagai pacar Bella.
"Aku memang tidak masuk."
"Hm begitu." Samuel tersenyum manis dengan manik menatap Bella lekat.
"Sudah? Aku mau ke kelas."
"Tunggu." Cegah Samuel.
"Apa lagi?"
"Siapa lelaki yang bersamamu kemarin? Bukankah Kakakmu sudah meninggal? Aku merasa jika lelaki kemarin bukan pacarmu yang di toko roti itu." Bella menarik nafas panjang seraya melirik malas.
"Anggap saja aku sudah berganti pacar. Aku pergi. Dah." Bella melambai sejenak kemudian melangkah pergi meninggalkan Samuel yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Entahlah Bella, kenapa aku menyukai sikap acuhmu. Aku juga tidak perduli jika kamu sudah memiliki pacar, selama janur kuning belum melengkung, aku akan tetap berharap." Samuel tersenyum, kemudian berjalan menuju kelas yang berlawanan arah.
Setibanya di kelas, Bella duduk di bangkunya dan meletakkannya tasnya tanpa perduli dengan Kenan yang duduk di belakangnya.
"Pagi Bella." Sapa Kenan seperti pagi-pagi sebelumnya.
"Hm..." Bella duduk bersandar dan tidak melakukan apapun sebab buku sekolah belum di dapatkan.
"Aku fikir kamu belum masuk sekolah, aku melihat Erin dan Sari tadi." Bella tidak menjawab, mencoba mengacuhkan obrolan.
Kenan berdiri lalu mengangkat kursinya dan meletakkannya di samping Bella dengan posisi duduk menghadap.
"Kamu tidak mendengarku?"
"Aku bosan mendengar mu." Kenan malah memperlihatkan senyuman.
__ADS_1
"Minggir Ken." Usir salah satu siswa yang akan lewat.
"Di sana masih ada jalan." Kenan menunjuk jalan kosong di samping Bella.
"Kalau mau bucin jangan di sekolah. Sialan!!!" Umpatnya terpaksa mencari jalan lain.
"Bucin hahaha." Kenan terkekeh mendengar panggilan baru untuknya.
"Bukan bucin! Tapi kau gila!" Bella mengambil tasnya dan pindah duduk." Bisakah kita bertukar tempat duduk." Tanya Bella ramah.
"Hm boleh." Bella duduk di tempat berbeda sementara tempatnya sekarang di duduki siswi lain. Saat Kenan akan menyusul, guru bimbingan sudah datang sehingga Kenan langsung kembali ke tempatnya.
Kalau aku sudah lulus. Aku akan berkata pada Kenan jika aku sudah menikah!! Menyebalkan sekali jika harus menghadapi kegilaannya setiap hari...
************
"Aku tidak bisa mendatangkan bahan dalam jumlah besar." Gumam Daniel seraya melihat beberapa mesin yang mulai di operasikan.
"Tidak apa-apa Tuan. Kita berjalan pelan-pelan saja. Sudah ada enam karyawan yang mau berkerja di sini. Semoga setelah ini, akan ada orang baru agar mesinnya bisa berproduksi semua." Daniel mengangguk-angguk, kemudian berjalan ke salah satu mesin untuk bertanya-tanya.
Lucas melihat itu, menjadi ingat saat dulu Daniel merintis perusahaan yang sekarang di ambil oleh Marco.
Daniel bahkan mau turun tangan untuk meninjau, menyapa ramah para pegawai yang akan menjadi bagian dari perusahaannya.
Seharusnya Tuan tidak perlu turun tangan, di sana sudah ada pegawas gudang..
Aku tidak hanya akan meninjau. Tapi aku juga ingin menjadi lebih akrab dengan orang-orang yang akan menjadi bagian dari perusahaan ini..
Sikap rendah hati yang di tujukan Daniel, membuat dia sangat di segani bukan dari kalangan atas saja tapi bawah juga. Banyak dari relasinya yang ingin menjadikan Daniel menantu, tapi Daniel tidak tertarik melakukannya karena memang hatinya belum tersentuh.
***Saya memiliki anak perempuan cantik Pak, mungkin saja Bapak mau berkenalan agar Pak Daniel ada yang mengurus.. Bukankah itu akan baik untuk kerja sama kita..
Bapak bisa saja. Emm.. Maaf, saya masih ingin sendiri dan ingin fokus pada perkerjaan***..
Puluhan alasan Daniel lontarkan sebab tidak hanya satu atau dua orang dari relasinya yang menawarkan itu. Beberapa dari mereka memang menginginkan kedudukan Daniel, tapi beberapa yang lain, menilai jika Daniel memang pantas menjadi suami idaman.
"Bagaimana Tuan?" Tanya Lucas berdiri di samping Daniel.
"Doakan saja semuanya lancar."
"Untuk sementara biar saya yang memasarkan produknya."
"Ganti nama ku menjadi Dimas, aku tidak ingin Marco mengendus keberadaanku."
"Siap Tuan."
"Hm bagus." Daniel merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Dia berniat memeriksa jam. Namun karena layar ponsel yang tidak terkunci, membuatnya menombol menu pesan dan menemukan obrolan antara Sari dan Bella." Aku harus menjemput Bella." Ucap Daniel memasukkan lagi ponselnya.
"Bukankah jam satu Tuan?"
"Ada rapat. Aku serahkan semuanya padamu."
"Baik Tuan." Daniel menepuk pundak Lucas lembut kemudian berjalan keluar gudang.
************
"Hm baik Bu permisi." Bella membawa buku cukup banyak. Dia berjalan perlahan keluar dari kantor dan di sambut oleh Erin dan Sari yang memang sudah menunggu.
"Biar ku bantu Bell." Erin mengambil dua buah buku dan membawanya begitupun Sari.
"Kita hanya punya waktu tiga jam. Setelah membeli itu, kita langsung pulang ya, tidak boleh mampir-mampir." Ucap Bella seraya berjalan.
"Iya. Takut sekali sih Bell. Apa Kak Daniel peraturannya sama dengan Kak Bastian?"
Lebih ketat...
"Aku tidak enak saja jika merepotkannya." Sari dan Erin mengangguk-angguk.
"Terus? Sampai kapan kamu tinggal di rumahnya? Meskipun Kak Bastian berwasiat begitu, bukankah tidak boleh tinggal serumah tapi belum menikah."
Glek...
Bella menelan salivanya kasar seraya tersenyum aneh. Dia memikirkan jawaban yang tepat agar Sari dan Erin tidak curiga jika sebenarnya dia sudah menikah.
"Aku sudah izin Pak RT hehe."
"Meskipun sudah izin, bukankah tidak boleh Bella. Apalagi Kak Daniel belum menikah. Itu gawat hehe.."
"Belum nikah, tampan lagi." Sahut Erin menimpali.
"Pak RT sudah mengizinkan aku."
"Berarti dia bukan saudaramu?" Sahut Kenan yang tengah menguping pembicaraan mereka sejak tadi.
"Dia lagi.." Gumam Bella memasang wajah malas.
"Jika bukan saudara, kau tidak boleh tinggal serumah Bella." Kenan berdiri tepat di samping Bella, sementara Erin dan Sari hanya jadi penonton seperti sebelumnya." Bagaimana jika kau menerima tawaranku? Aku beri bantuan untuk membangun rumahmu kembali." Erin dan Sari melongok mendengar itu.
"Kau jangan terlalu jauh mengkhayal Ken. Itu gombalan paling buruk dari mulutmu yang pernah ku dengar." Sahut Erin yang belum tahu jika Kenan memiliki supermarket yang sudah tersebar di beberapa kota.
"Itu bukan gombalan, aku serius."
"Aku juga serius untuk tidak mau! Jangan melontarkan penawaran itu lagi! Aku tidak tertarik dan sangat tidak tertarik. Paham!!" Bella kembali berjalan dan tentu saja Kenan tetap mengikuti ketiganya.
"Aku bantu membawa bukunya." Tawar Kenan masih tidak menyerah.
"Tidak. Aku kuat."
"Aku tidak akan menyerah meski kau menolak ku."
"Terserah saja!"
"Bukankah lebih baik kamu pergi Ken." Protes Erin menimpali. Sejak dulu dia tidak pernah paham bagaimana ada seorang lelaki yang tidak tahu malu seperti Kenan.
"Tidak perlu hiraukan! Kita pergi!!" Karena kesal, Bella tidak memperhatikan sekitar hingga Sari menepuk pundaknya cepat.
"Bella, Bell." Ucap Sari terbata dengan tatapan fokus ke gerbang sekolah.
__ADS_1
"Apa?"
"Kak Daniel.." Jawab Sari lirih. Bella menegakkan pandangannya, melihat Daniel sudah berdiri menunggu di gerbang sekolah.
Bukankah aku bilang pulang setengah satu.. Darimana dia tahu?
"Katamu mau beli itu dulu."
"Iya, aku juga tidak tahu kenapa dia menjemputku." Jawab Bella pelan.
Walaupun Daniel menjemput, tidak menyurutkan niat Kenan untuk tetap mendekati Bella. Apalagi saat ini Kenan masih menganggap jika Daniel adalah Kakak Bella meskipun Erin dan Sari berkata seperti tadi.
Apa dia akan mengomel seperti Kak Bastian?
Bella berjalan pelan seraya tersenyum aneh. Daniel yang tidak sabar, berjalan menghampirinya dan langsung mengambil buku yang Bella bawa.
"Buku Bella?" Tanya Daniel tersenyum ke arah Sari dan Erin.
"Iya Kak."
"Biar ku bawa." Erin dan Sari menumpukan bukunya ke tangan Daniel." Masuk mobil, ku antarkan." Pinta Daniel. Bella langsung menurut saja dan ingin melupakan niatnya untuk membeli bra dan celana.
Sari dan Erin mengekor sementara Daniel mengurungkan niat untuk melangkah saat mendengar sapaan Kenan.
"Hai Kak."
"Hm hai."
"Kamu mengingat aku?" Tanya Kenan mencoba ramah.
"Ingat."
"Aku berharap kita bisa akrab agar Bella bisa ku jaga ketika berada di sekolah." Sorot mata Daniel terlihat tajam meski wajahnya tertutup masker.
"Kau lupa soal aturan untuk tidak menganggunya?"
"Astaga Kakak. jangan terlalu kaku seperti almarhum." Jawab Kenan terkekeh.
"Aku serius. Itu peringatan untukmu, dia milikku."
Tap!!!
Daniel menepuk pundak kanan Kenan hingga hampir terjungkal. Bella yang takut terjadi keributan, langsung menyusul dan meraih lengan Daniel dengan kedua tangannya.
"Jangan perdulikan dia Kak. Kita pergi." Daniel sempat melemparkan tatapan tajam sebelum akhirnya mengikuti langkah Bella menuju mobil.
"Agh! Apa dia punya tenaga dalam? Sakit sekali!!" Eluh Kenan memijat pundak kanannya." Sangat keterlaluan, ku fikir dia bisa di ajak kerjasama. Ternyata, sama seperti Kakak Bella yang dulu." Meskipun mengumpat, Kenan masih saja memperhatikan ke arah mobil Daniel hingga mobil itu melaju meninggalkan area sekolah.
Di dalam mobil, suasana begitu hening, sampai Daniel angkat bicara.
"Kemana kita?" Tanya Daniel melepaskan maskernya dan memperlihatkan senyum khasnya.
"Pulang Kak." Jawab Bella melirik Erin dan Sari dari kaca spion.
Dia akan percaya dengan alasanku tadi, walaupun sebenarnya aku memang sengaja membohonginya. Astaga Tuhan, dia tahu darimana Jika aku pulang cepat.
"Pesan mu belum kamu hapus, jadi aku tidak sengaja membacanya." Daniel mengambil ponselnya lalu memperlihatkan pesan antara Bella dan Sari kemarin.
Ternyata Kak Daniel tahu.. Bella menoleh seraya tersenyum, melihat wajah berseri Daniel dari samping. Di luar dugaan dia tidak marah seperti Kak Bastian..
"Maaf Kak itu.." Jawab Bella terbata.
"Bella akan membeli sesuatu yang memalukan." Sahut Erin cepat.
Aku ingin merobek wajahku sekarang juga!! Umpat Bella dalam hati.
"Memalukan?" Tanya Daniel mengulang.
"Aku tidak bermaksud berbohong tapi apa kata Erin itu benar." Jawab Bella lirih.
Daniel mengangguk-angguk dan mulai menebak. Dia tahu jika ketiga gadis itu tidak akan mau menyebutkannya walaupun dia bertanya nantinya.
"Jika memang malu, nanti aku tunggu di luar."
"Tunggu di mobil saja." Sahut Bella benar-benar malu hingga wajahnya memerah.
"Tidak bisa sayang.." Erin dan Sari melongok mendengar panggilan dari Daniel untuk Bella.
Sayang... Ucap keduanya bersamaan. Bella berpaling dan mencoba menyembunyikan wajahnya dari kedua temannya yang sangat mengerti jika Bella anti berpacaran.
"Bella belum memberitahu?"
"Memberitahu apa Kak?" Tanya Erin melihat ke arah Bella.
"Kita berpacaran."
Ahhh malu sekali. Aku malu akan membeli baju dalam dan Kak Daniel menambahkannya..
"Astaga hehe, akhirnya." Ledek Erin tersenyum menatap Sari.
"Kenapa tidak bercerita dengan kita Bell? Ish! Tidak perlu malu. Rahasia terjamin aman." Tutur Sari menimpali.
"Aku tidak ingin di rahasiakan." Jawab Daniel sangat berharap jika Bella mau mengakuinya sebagai pacar.
"Aku masih sekolah Kak." Sahut Bella pelan.
"Tidak ada salahnya sayang. Hanya berpacaran."
"Iya hehe. Kami ikut senang akhirnya Bella menemukan tambatan hatinya." Bella mendengus kesal karena rasa malu yang bercampur aduk.
"Dia memaksaku!!" Daniel tersenyum mendengar itu." Katakan Kak cepat." Imbuh Bella ingin Daniel mengakui itu agar dia tidak terlalu malu.
"Iya aku memaksanya. Aku sangat mencintainya dan jika tidak di paksa dia tidak akan mau." Bella melirik ke arah kedua temannya yang masih menatapnya dengan senyuman tipis." Mungkin karena umur jadi Bella malu mengakui ku sebagai pacar." Imbuh Daniel yang sontak membuat Bella duduk tegak.
"Bukan begitu!" Jawab Bella cepat seraya memasang wajah panik.
~Riane
__ADS_1