Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 34


__ADS_3

Daniel sengaja memancing Bella agar dia mengakuinya sebagai pacar, meski sebenarnya keduanya sudah menikah. Ada rasa tidak rela, saat melihat Bella berdekatan dengan Kenan, walau terlihat jelas jika mereka berjalan berempat.


"Lalu bagaimana?" Tanya Daniel.


Mana mungkin aku malu karena Kak Daniel Tua? Dia lebih menarik daripada mereka..


"Aku masih sekolah dan tidak berniat berpacaran. Itu alasan yang sering ku lontarkan. Lalu sekarang aku memiliki pacar, bukankah itu terdengar aneh." Jawab Bella lirih. Bagaimana jika Erin dan Sari tahu kalau aku sudah menikah? Ahh Tuhan, jangan sampai seperti itu..


"Tidak ada salahnya berubah Bell." Sahut Erin ikut merasa senang.


"Hm iya." Sari ikut menimpali.


"Sebenarnya aku tidak masalah jika harus backstreet sayang. Tapi, kalau kamu tidak mengatakan sudah memiliki pacar.." Daniel menarik nafas panjang. Merasakan perasaan yang di rasa keterlaluan. Ingin sekali dia bersikap dewasa sebab Bella sudah menjadi istrinya. Namun tidak dapat di pungkiri jika rasa cemburu begitu menganggu perasaannya." Maaf tidak dewasa hehe.. Aku hanya merasa cemburu." Erin dan Sari tersenyum, begitupun Bella.


"Aku juga selalu mengatakan itu tapi itu tidak bisa menghentikan mereka."


"Itu karena tidak ada bukti Bell, jadi mereka menganggap kamu sedang bercanda." Daniel mengangguk-angguk." Tapi aku pastikan Bella tidak akan macam-macam Kak." Imbuh Erin menjelaskan.


"Terimakasih. Aku akan coba untuk tidak cemburu."


Apa Kak Daniel kesal padaku.. Bella melihat sebentar raut wajah Daniel yang terlihat baik-baik saja. Daniel bahkan tersenyum, melantunkan lagu lirih seraya menatap fokus ke depan. Sepertinya tidak.. Tapi aku tidak pernah berbuat macam-macam. Apalagi sekarang aku sudah menjadi miliknya...


"Sudah sampai."


Bella menoleh, melihat Daniel memarkir mobilnya tepat di toko bra dan celana. Bella menoleh ke arah Erin dan Sari dengan raut wajah bertanya-tanya.


"Kita pulang saja Kak." Pinta Bella jelas merasa sangat malu jika membeli itu bersama dengan Daniel.


"Maaf sayang. Aku melupakan itu. Sekarang belilah. Jika tidak, gatal pada punggung mu semakin parah." Erin dan Sari memperlihatkan giginya yang rata. Keduanya tidak memahami hubungan Bella sejauh apa dengan Daniel.


Bella membuat penasaran saja hehe..


Bella tidak bisa berkutik, rasa malunya sungguh berlipat-lipat. Selain malu untuk membeli, dia juga malu karena ketahuan tidak berganti dalaman berhari-hari.


Aku ingin menyayat wajahku sekarang juga..


"Berapa ukurannya, biar ku belikan." Tawar Daniel membuat Bella menatapnya. Erin dan Sari juga melongok dan merasa tidak percaya.


"Belikan? Serius? Kak Daniel tidak malu?" Daniel mendekatkan bibirnya pada telinga Bella dan berbisik.


"Untuk apa malu membelikan keperluan untuk istriku." Mata Bella melebar, sementara Daniel mengangkat kepalanya tersenyum menatap wajah panik Bella dari samping.


Aku benar-benar gila!!! Umpat Bella tidak mampu melihat wajah Daniel sekarang.


"Kak Daniel tunggu di sini ya." Ucap Bella terpaksa mengiyakan, daripada Daniel yang harus masuk ke dalam toko dan membelikannya baju dalam.


"Hmm iya." Daniel mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang." Ini cukup?" Bella menolak lembut tangan Daniel yang terulur.


"Aku punya. Ayo.." Bella membuka pintu mobil dan segera turun. Di ikuti oleh Erin dan Sari.


Aku berjanji akan membahagiakanmu setelah perusahaanku berjalan lancar sayang...


Daniel kagum dengan pengertian yang Bella tunjukkan meski tanpa berucap. Baginya itu sudah lebih dari dewasa. Mengingat umur Bella yang masih belia dan seharusnya tidak berfikir sejauh itu.


Daniel memakai maskernya, lalu keluar dan bersandar di samping mobil seraya memperhatikan Bella dari sana.


"Sejak kapan Bella?" Tanya Erin pelan.


"Apa?" Bella pura-pura tidak paham dengan pertanyaan Erin.


"Kak Daniel. Astaga, bagaimana rasanya berpacaran dengan lelaki dewasa?" Bella menarik nafas panjang sebab sebenarnya dia tidak ingin membahas itu.


"Untuk apa menceritakan itu."


"Paling tidak, berbagi pengalaman."


"Hmm.. Kita kan jomblo akut hehe." Sahut Sari menimpali.


"Sama seperti aku dan Kak Bastian, tidak ada bedanya. Aku menganggap Kak Daniel sebagai Kakak meskipun dia menganggap aku sebagai pacar." Bella masih merasa malu untuk mengakui jika dia beruntung memiliki Daniel.


Bukan hanya tampan dan baik tapi tingkah laku juga tutur katanya begitu lembut menyentuh hatinya.


"Tidak seru nih."


"Apa yang seru?"


"Paling tidak berikan kami jawaban yang menyenangkan. Seperti hati berdebar, gugup atau apa? Masa iya rasanya sama seperti Kak Bastian?" Jawab Erin menjelaskan.


"Memang sama." Bella menjulurkan lidahnya lalu beralih ke bagian celana.


"Dia pasti berbohong." Ucap Sari berbisik.


"Iya karena ketahuan."


"Hmm.. Nih." Tanpa sepengetahuan Bella, Sari mengeluarkan uang dari sakunya begitupun Erin. Mereka berencana patungan untuk membayar belanjaan Bella sekarang. Erin mengumpulkan uangnya dan berjalan menghampiri Bella lalu memberikannya.

__ADS_1


"Dari kami." Erin tersenyum begitupun Sari.


"Aku punya." Tolak Bella merasa tidak enak. Apalagi kedua temannya bukan dari keluarga kaya.


"Kamu boleh menolak pemberian Kak Daniel tapi ini dari kita." Erin memaksa Bella untuk menerima uang nya hingga membuat Bella merasa terharu.


"Terimakasih. Tapi aku benar-benar punya." Jawab Bella dengan mata berkaca-kaca." Kemarin Pak Ahmad memberikan uang juga sembako untukku." Imbuh Bella menjelaskan.


"Itu untuk keperluan lain. Ayolah Bella, kami menyanyangimu. Bukankah kita sudah berjanji untuk saling membantu." Erin mengangkat kedua tangannya dan mengusap sudut mata Bella lembut.


"Iya. Orang tua ku juga menambah uang jajan biar kita bisa jajan bersama."


Bella tersenyum, memandangi kedua temannya secara bergantian. Dia sungguh beruntung memiliki dua sahabat yang sangat baik dan seorang suami seperti Daniel.


Kak Daniel, Erin dan Sari? Hidupku begitu sempurna karena adanya mereka..


"Oke ku terima. Terimakasih ya." Bella memeluk kedua temannya sejenak.


"Sama-sama."


"Hm sama-sama. Selesaikan, lalu pulang. Kasihan pacar mu jika menunggu lama." Goda Sari, yang akhirnya membuat ketiganya tertawa.


***************


"Saya sangat ingin bertemu Pak Daniel." Marko menarik nafas panjang dengan amarah yang meluap meski tidak dapat dia perlihatkan di depan relasinya.


"Beliau berada di luar kota." Jawab Marko tersenyum.


"Di kota mana? Mungkin saja, saya ada perkerjaan di sana jadi sekalian menemui Pak Daniel." Marko terdiam sejenak, untuk memikirkan alasan yang tepat.


"Kuasa penuh sudah di berikan pada saya Pak. Jadi tidak perlu khawatir."


"Hm saya tahu. Saya tidak sedang membicarakan bisnis ini. Selain sebagai rekan, tapi saya menganggap Pak Daniel sebagai kawan. Saya sangat ingin bertemu dengannya." Marco mengangguk-angguk dan masih memikirkan alasan yang tepat.


"Pak Daniel sedang berlibur, jadi beliau tidak mau di ganggu." Terdengar tarikan nafas berat berhembus keluar dari bibir relasi Marco. Dia sangat kecewa mendengar itu.


"Begitu." Relasi Marco mengambil bulpen dan membubuhkan tanda tangan pada berkas di hadapannya." Apa nomer Pak Daniel ganti? Saya tidak bisa menghubunginya." Imbuhnya seraya menutup berkas.


"Mungkin beliau mematikannya."


"Oke. Sampaikan salam ku pada Pak Daniel. Saya permisi." Setelah bersalaman dan memasang wajah palsu. Marco menatap tajam ke arah relasinya yang mulai berjalan keluar Cafe.


"Daniel lagi!!" Umpat Marco duduk dengan kasar di kursi Cafe. Marco membuka laptopnya dan melihat jika hasil penjualan menurun meski hanya satu persen." Baru saja Bastian meninggal beberapa hari lalu, kenapa berpengaruh pada penjualan beberapa hari ini."


Tak!!!


"Marco menelfon, bagaimana ini?" Ucap Jim yang tengah bergerak di atas tubuh Fanny.


"Biarkan saja. Puaskan aku."


"Aku belum membuat laporan tentang gadis itu." Jim akan meraih ponselnya namun Fanny membalikkan tubuh Jim hingga kini dia bergerak di atasnya.


"Ambil fotonya satu saja, lalu berikan informasi palsu padanya." Jawab Fanny seraya menahan nafas yang keluar memburu.


"Katamu aku harus lebih dekat dengannya."


"Gampang! Bangun kepercayaan palsu saja. Tidak perlu berkerja terlalu keras. Aku akan membantumu nanti. Oke sayang." Jim tersenyum seraya menaikturunkan pinggang Fanny agar dia bergerak lebih cepat.


Ini kenikmatan yang hakiki hahahaha...


*****************


"Serius tidak ingin ku antar sampai rumah?" Tawar Daniel saat mobilnya sudah berhenti di bahu jalan depan rumahnya.


"Tidak Kak, ini saja sudah hemat hehe."


"Hm oke."


"Sampai jumpa besok ya Bell. Terimakasih Kak Daniel."


"Sama-sama." Jawab Daniel sementara Bella hanya melambai dan tersenyum.


Setelah Erin dan Sari turun, Daniel melajukan mobilnya lagi memasuki pekarangan rumahnya.


"Tunggu sayang." Daniel keluar dan membukakan pintu mobil, berlanjut menutup pintu pagar rumah." Ayo masuk." Pundak Bella di rangkul dan di giring masuk ke dalam rumah." Lain kali tidak boleh berbohong ya." Tutur Daniel seraya menutup pintu.


"Kak Daniel kan tahu alasannya."


"Tidak boleh malu padaku. Maaf aku tidak peka." Di luar dugaan Daniel malah mengucapkan kata maaf. Itu karena dia merasa bersalah tidak berfikir cepat soal baju dalam Bella yang harus di ganti.


"Kenapa minta maaf Kak. Tidak ada yang salah kok." Daniel berdiri di hadapan Bella lalu mendekapnya erat.


"Tetap saja maaf. Aku rindu sekali." Ucapnya lembut, membuat jantung Bella berkedut.


"Berlebihan Kak. Rindu apa?" Bella mendorong dada Daniel lembut.

__ADS_1


"Rindu berat." Jawab Daniel terkekeh." Aku juga merasa berlebihan tapi aku benar-benar rindu." Bella menarik nafas panjang seraya tertunduk.


"Aku mau mandi lalu memasakkan sesuatu untukmu."


"Bagaimana jika pesan."


"Jadi tidak mau ku masakkan?" Tanya Bella ketus.


"Aku fikir kamu lelah sayang jadi aku menawarkan untuk membelinya."


"Aku tidak lelah. Ayo. Antar aku mandi dan ku masakkan sesuatu." Seperti biasa, Bella menarik lengan Daniel dan menyuruhnya untuk mengantarkannya mandi di rumah yang masih terlihat asing olehnya.


.


.


"Tidak ada bahan yang segar." Gumam Bella melihat isi kulkas. Dia kembali menutup pintu kulkas dan mengalihkan pandangannya ke arah Daniel yang tengah duduk di meja makan dengan laptopnya."Kak." Panggil Bella berjalan menghampiri.


"Iya kenapa?"


"Aku akan keluar sebentar membeli ikan dan ayam."


"Biar ku antarkan."


"Dekat kok." Daniel memperhatikan baju Bella dari atas sampai bawah. Lalu tiba-tiba, dia melepaskan kaos yang di pakai sehingga dia hanya memakai kaos dalam.


Bella melongok, menelan salivanya kasar dan terdiam ketika Daniel memakaikan kaos miliknya padanya. Tentu saja dia terkesima, melihat otot pada lengan Daniel meski tubuhnya masih tertutup kaos berwarna putih itu.


Semakin mengiurkan hehe... Angan Bella melayang kesana kemari hingga kecupan singkat bibir membuyarkan lamunannya. Tangan kanannya terangkat dan menyentuh bibirnya sendiri dengan ujung jarinya.


"Kenapa kamu selalu seperti itu?"


"Tidak Kak." Bella baru sadar dengan kaos yang di pakai sekarang." Lalu ini kenapa?" Tanya Bella mengangkat ujung kaos.


"Lengan dress nya terlalu pendek jadi pakai itu. Aku baru mengambilnya tadi." Bella hanya tersenyum dan sangat senang menerima perhatian kecil dari Daniel untuknya.


"Jadi aku boleh keluar?"


"Hm katamu dekat?"


"Iya dekat kok. Aku sering ke sana jika ingin memasak ikan segar." Ucap Bella menjelaskan." Em antar aku sampai ke depan terus jangan tutup pintunya karena aku hanya sebentar." Entah apa maksud Bella dengan sikapnya sekarang. Tapi dia sangat senang melihat Daniel mau menuruti apapun kemauannya meski itu hanya perbuatan sederhana.


"Oke ayo." Sesuai bayangan. Daniel menutup laptopnya tanpa berprotes dan mengantarkan Bella sampai ke depan." Hati-hati sayang." Ucap Daniel setengah berteriak.


"Iya Kak, aku hanya sebentar." Bella membalas lambaiannya sejenak dan berjalan menuju penjual ikan yang terdapat di ujung gang.


Setibanya di tempat, banyak para ibu-ibu berkumpul di depan lapak tersebut dan terdiam saat Bella berjalan mendekat. Dia sempat melemparkan senyuman meski Bella sendiri tidak seberapa mengenal mereka dengan baik.


Kenapa mereka menatapku seperti itu? Fikir Bella terus saja berjalan dan berhenti di sebuah freezer besar yang ada di sana.


"Ada ikan apa saja Pak?" Tanya Bella ramah.


"Lengkap Non geulis." Bella tersenyum dan memilih ikan dan ayam lalu meletakkannya di keranjang depannya.


"Itu saja Pak. Berapa?"


"Beli yang banyak atuh Non. Nanggung nih."


"Itu saja Pak. Siapa yang mau makan?" Si penjual tersebut dan segera memasukkan ikan pilihan Bella ke kantung kresek hitam.


"Semuanya 70 ribu Non." Bella mengeluarkan dompet kecilnya dan memberikan uang pecahan seratus.


"Padahal Kakaknya baik dan sopan loh." Lirih terdengar salah satu tetangga Bella berucap begitu.


"Hust sabar dulu." Ucap lainnya mengingatkan.


"Ini Non kembaliannya."


"Terimakasih Pak." Bella memasukkan kembaliannya lalu berbalik badan dan mulai melangkah pergi." Mari Ibu-ibu." Sapa Bella sebelum berbelok ke gang kecil.


Bella merasa penasaran dengan apa yang di bicarakan Ibu-ibu itu hingga dia memutuskan untuk berhenti dan menguping pembicaraan.


"Sayang sekali ya, padahal masih sekolah sudah tinggal di rumah om-om tanpa menikah."


"Bella anak baik kok Bu, tidak mungkin berbuat aneh-aneh."


"Meskipun baik tapi tetap manusia kan. Ada khilaf nya, nanti takutnya tiba-tiba hamil." Bella menarik nafas panjang mendengar itu. Dia tahu akibatnya akan seperti sekarang sebab dia merahasiakan pernikahannya.


"Kalau hamil ya tinggal nikah Bu.."


"Memangnya si tetangga baru belum punya istri? Kalau sudah punya istri jadi mirip istri simpanan dong." Keenam Ibu-ibu itu tertawa renyah sementara Bella memutuskan untuk pergi saja.


Biarkan saja Bella, tidak perlu di ambil hati... Bella terus saja berkata itu dalam hati hingga sampai di depan rumah Dia menarik pagar pelan untuk memberikan waktu, menghilangkan suasana hatinya yang berubah buruk karena ucapan tadi. Mereka tidak tahu jadi mereka berkata itu...


Bella berbalik badan dan memperlihatkan senyumnya pada Daniel yang menunggu kedatangan di ambang pintu.

__ADS_1


Ini salahku, aku tidak boleh memperlihatkan rasa kesal ku pada Kak Daniel..


~Riane


__ADS_2