Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 78 Positif+


__ADS_3

Ujian sudah selesai di gelar. Membuat Bella lebih sering di rumah sementara kedua temannya mulai sibuk mendaftar untuk kuliah. Terkadang, dia ikut Daniel ke perusahaan. Tapi terkadang dia memilih di rumah sebab Daniel akan pergi jika ada rapat penting saja.


"Biar Bibik Non." Bik Minah akan merebut pisau dari tangan Bella namun di tolak.


"Tidak Bik. Hari ini biar aku yang memasak. Ini juga sudah mau selesai kok." Jawab Bella seraya menyajikan hidangan yang sudah matang ke meja.


Setelah semua beres, Bella kembali ke atas untuk menganti dress-nya lalu turun lagi menunggu kedatangan Daniel yang sudah berada di perjalanan.


Baru saja Bella berjalan ke depan, mobil Daniel terdengar terparkir. Bella segera mempercepat langkahnya untuk menyambut kedatangan Daniel.


"Kenapa lama sekali Kak." Protes Bella menyerbu." Cium dulu." Bella mendongak, mengerucutkan bibirnya ke arah Daniel padahal mereka belum sepenuhnya masuk ke dalam rumah.


Tanpa berprotes Daniel melakukan meski dia sedikit aneh. Biasanya Bella selalu tidak mau melakukan sentuhan fisik berlebihan jika berada di luar sekalipun di teras rumah. Namun sekarang, dia meminta itu sendiri.


"Tadi sedikit mengobrol masalah pribadi jadi agak lama sayang." Tangan Bella melingkar erat pada pinggang Daniel, sangat erat seolah tidak ingin terlepas.


"Kak Daniel tidak nakal kan?"


"Tidak sayang. Semua yang ada di sana lelaki."


"Aku sudah memasakkan sesuatu Kak. Langsung makan ya, biar tidak bolak-balik naik turun."


"Iya oke."


Keanehan lain terjadi. Bella selalu mengambilkan makanan untuk Daniel jika sedang makan di rumah. Tapi kali ini, dia malah duduk di paha kanan Daniel dengan kepala di sandarkan pada pundaknya.


"Kamu lelah?" Tanya Daniel menebak jika Bella kelelahan.


"Tidak Kak."


"Terus? Kenapa begini?" Bella tidak bergeming dan malah mengeratkan kalungan tangannya." Jika lelah sebaiknya tidak memasak atau kamu bilang padaku biar aku beli di luar." Imbuh Daniel.


"Aku hanya ingin saja." Daniel tersenyum sebab suara cempreng Bella tiba-tiba menghilang.


Kenapa lagi istriku...


Dengan satu tangan Daniel mengambil sajian di hadapannya, Bik Minah yang melihat itu langsung mengambilkan minuman dan menuangkannya pada gelas.


Gleg!!


Daniel mengunyah makanannya pelan, sangat pelan sebab rasanya sedikit aneh.


Apa yang salah? kenapa rasanya begini..


"Bagaimana Kak, enak Kan?" Tanya Bella masih menyandarkan kepalanya di pundak.


"Iya sayang enak sekali." Terpaksa, Daniel melahapnya meski makanan di hadapannya terasa buruk. Dia takut berprotes dan menyebabkan Bella kesal padanya." Kamu tidak makan?" Tanya Daniel lirih.


"Kak Daniel suapi?" Daniel menoleh, menatap ke Bella yang suaranya berubah lembut.


Tidak ada yang salah? Apa dia sedang berpura-pura? Batin Daniel tentu bertanya.


"Kenapa Kak. Tidak mau melakukannya."


"Mau sayang." Daniel menyendokkan makanannya pada mulut Bella." Bagaimana?" Dia ingin Bella merasakan keanehan masakannya sendiri tapi sepertinya Bella tidak merasakan itu.


"Hm enak." Daniel tersenyum aneh. Dia bingung, apa lidahnya yang salah atau lidah Bella yang salah.


"Makan lagi jika enak."


"Tidak Kak, perutku terasa aneh." Daniel tersenyum. Ucapan Bella sekarang menguatkan tebakannya.


"Bukankah tadi pagi baik-baik saja?"


"Sejak pagi sudah begini. Habiskan Kak, aku ingin tidur siang."


"Hm.." Daniel mempercepat makannya. Dia ingin membalas kejahilan Bella dengan berekspresi biasa saja ketika makanan aneh itu melewati tenggorokannya.


Tapi, melihat raut wajah Bella sekarang membuat Daniel ragu jika Bella sedang mengerjainya.


Dengan hati bertanya-tanya, Daniel menaiki tangga sementara Bella masih tidak melepaskan kalungan tangannya bahkan setelah sampai di dalam kamar.


"Sayang."


"Hm."


"Apa yang terjadi dengan mu?" Tanya Daniel terpaksa duduk di pinggiran tempat tidur sebab Bella masih tidak mau melepaskannya.


"Aku rindu Kak." Jawab Bella berbisik.


"Hehe." Daniel terkekeh pelan." Kenapa berbisik seperti itu?" Bella tidak menjawab dan tidak bergerak." Sayang." Panggil Daniel memastikan tebakannya. Dia sangat hafal hembusan nafas Bella ketika sedang tidur. Daniel mencoba melepaskan kalungan tangan Bella dan mengangkat kepalanya dari pundak." Astaga sayang." Gumamnya memandangi Bella yang memang sudah tidur.


Dengan perlahan Daniel melepaskan diri dari Bella dan menidurkannya secara hati-hati di atas ranjang.


Dasinya di kendurkan, menatap ke Bella yang bahkan mendengkur lembut.


"Kenapa tidak tidur saja jika mengantuk, kasihan sekali." Daniel mengambil selimut dan menutupi tubuh Bella hingga ke atas perut. Dia sendiri menanggalkan bajunya, menggantinya dengan baju santai.

__ADS_1


Pandangannya tidak terlepas dari Bella, sebab siang ini ada yang salah dengan sikap Bella padanya.


Mungkin dia lelah. Sebaiknya aku memeriksa berkas, mumpung dia sedang tidur..


Satu jam...


Dua jam...


Tiga jam...


Empat jam...


Bahkan sampai pukul enam malam, Bella tidak juga bangun sehingga membuat Daniel setengah mati merasa khawatir.


"Sayang.." Daniel berbaring di samping Bella, terpaksa membangunkannya seraya memegang dahinya yang mungkin demam." Kamu tidak mandi sayang?" Ucap Daniel menepuk-nepuk pipi Bella lembut.


"Biarkan aku tidur sedikit lama Kak.." Gumam Bella sangat tidak masuk akal sebab dia sudah tidur hampir lima jam lamanya.


"Kamu sakit?"


"Aku mengantuk, bukankah aku sudah bilang tadi."


"Ini sudah malam. Kamu tidak bangun."


"Ah Kak Daniel bercanda. Aku baru tidur lima menit lalu bagaimana mungkin sudah malam." Daniel terkekeh, dia menyangka jika Bella tengah berpura-pura.


"Aku serius sayang. Ini sudah malam, lihat sendiri." Daniel membantu Bella untuk duduk dan melihat ke jendela kamar yang sudah gelap.


"Malam Kak."


"Iya memang sudah malam. Kamu tidak mandi?" Bella malah kembali berbaring.


"Aku mengantuk. Mengantuk sekali, mataku rasanya berat." Eluhnya memejamkan mata.


"Kamu sakit?" Tanya Daniel lagi. Dia ikut berbaring seraya mendekap tubuh Bella.


"Aku mengantuk bukan sakit." Daniel kembali memeriksa dahi Bella yang terlihat normal." Kak Daniel singkirkan." Dengan mata tertutup Bella menyingkirkan tangan Daniel dengan nada bicara lembut.


Sejak hari itu, keanehan terus terjadi. Masakan Bella yang tadinya sedap berubah menjadi aneh. Dia menjadi mudah menangis dan ingin menempel pada Daniel kemanapun dia pergi.


"Astaga Kak Daniel!!" Teriak Bella dari arah samping rumah. Suara isakan yang terdengar membuat Daniel mempercepat langkahnya.


"Apa yang terjadi." Tanya Daniel panik.


Bella menyerbunya dengan isakan tangis seraya memeluknya erat. Lucas yang kebetulan ada di sana, mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang mungkin menyakiti istri Tuannya.


"Apa yang kamu injak sayang? Jangan menakuti ku." Daniel menunduk untuk mencari apa yang di maksud Bella.


"Semut Kak, semut itu ku Injak dan banyak yang mati. Aku tidak mau melihatnya. Bawa aku pergi." Daniel dan Lucas saling melihat. Ingin rasanya mereka tertawa tapi Bella benar-benar menanggapi semuanya dengan serius.


"Oke kita pergi." Daniel mengangkat tubuh Bella dan membawanya masuk ke dalam." Minum dulu." Daniel mengambilkan segelas air seraya menyeka air mata yang keluar.


Ya Tuhan.. Konyol sekali.. Aku ingin tertawa tapi dia menanggapinya dengan serius...


Beberapa hari seperti itu. Keanehan sikap yang Bella tunjukkan semakin terlihat bahkan seolah melekat. Hingga pagi itu, semua terjawab. Bella merasakan mual hebat saat dia melihat bumbu dapur.


Bella membungkam mulutnya dan lari menaiki tangga sehingga membuat Bik Minah menjadi panik.


"Non.." Panggil Bik Minah seraya mengetuk pintu kamar. Tidak ada jawaban, apalagi pintu terkunci dan membuat Bik Minah tidak bisa memeriksa." Aduh sebaiknya aku hubungi Tuan saja." Dengan langkah terburu-buru Bik Minah menuruni tangga dan menelfon nomer Daniel yang tertulis di buku telfon.


"Ada apa Bik?


"Non Bella sepertinya sakit Tuan, saya mau periksa tapi pintunya malah di kunci. Saya khawatir kalau terjadi sesuatu.


"Saya pulang Bik.


Bik Minah meletakan gagang telepon dan kembali menaiki tangga berusaha merajuk Bella untuk membuka pintu. Namun sampai Daniel tiba, Bella belum juga keluar.


"Sayang.. Buka pintu ini aku." Ingin rasanya Daniel mendobrak pintu itu namun dia tahu pintu itu tidak akan mudah di rusak.


Hanya satu kali panggilan, pintu perlahan terbuka dan memperlihatkan Bella tengah menutup rapat mulut dan hidungnya dengan tangan.


Daniel mendorong pintu dan memeriksa bagian tubuh Bella yang mungkin terluka.


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu mengurung diri?" Tanya Daniel dengan wajah panik.


"Aku tidak mau melihat hoeeeek..." Bella kembali membungkam mulutnya dan lari ke arah kamar mandi.


"Mungkin Nona hamil Tuan." Ucap Bik Minah asal menebak. Daniel menoleh dengan senyum mengembang.


"Hamil?" Semoga saja Tuhan...


"Iya Tuan. Sebaiknya di periksakan saja biar tahu benar tidaknya."


.


.

__ADS_1


.


.


"Tidak Kak. Aku takut di suntik. Aku tidak mau ke dokter. Aku sehat tidak sakit hanya saja tadi waktu melihat, hoooooeeeek..." Bella kembali mual membayangkan bawang merah yang tadi di lihatnya di dapur.


"Astaga sayang.. Aku mencintaimu sangat sangat mencintaimu." Daniel semakin yakin jika Bella benar-benar hamil." Kamu tidak akan di suntik, ini hanya pemeriksaan biasa sayang." Imbuh Daniel merajuk.


"Tidak mau Kak. Aku tidak mau. Aku mati saja jika ke dokter." Daniel menarik nafas panjang, mencoba memahami ketakutan Bella akan jarum suntik sehingga dia memutuskan untuk memanggil Nara.


"Apa kamu telat datang bulan Bella?" Tanya Nara duduk di samping Bella sementara Daniel duduk dengan Joy di sofa.


"Iya Kak. biasanya tanggal 2 tapi ini sampai tanggal 25 tidak ada."


"Hm yuk ke toilet." Bella membulatkan matanya.


"Untuk apa?"


"Sudah ayo. Tidak boleh malu sama aku ya." Nara menggiring Bella masuk ke dalam kamar mandi untuk memastikan." Kamu buang air kecil dan siram ujung alat ini dengan air itu." Nara memberikan sebuah testpack.


"Pakai air kencing?"


"Hm iya. Aku tunggu di depan ya." Nara mengusap puncak kepala Bella dan keluar dari kamar mandi.


"Bagaimana Nona?" Tanya Daniel tidak sabar.


"Sebentar Kak." Daniel mengangguk seraya tersenyum, menatap perut Nara yang mulai membuncit. Dia sudah membayangkan jika sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah.


Beberapa saat menunggu, akhirnya Bella keluar membawa testpack dengan garis merah dua.


"Astaga.. Selamat ya.." Ucap Nara turut bahagia.


"Jadi aku.." Bella mengusap perut ratanya.


"Iya Bella. Garis dua berarti positif." Bella menatap ke arah Daniel dengan senyum yang sama-sama mengembang." Sebaiknya cepat di periksakan untuk lebih jelasnya." Raut wajah Bella seketika berubah.


"Aku tidak mau Kak." Jawabnya cepat.


"Dia takut jarum suntik Nona." Sahut Daniel.


"Tidak akan ada jarum suntik Bella. Ini hanya pemeriksaan biasa." Tutur Nara menjelaskan. Meski nantinya akan ada hehe..


"Jika ingin janinnya sehat. Sebaiknya segera di periksakan." Sahut Joy mulai merasa perduli.


"Kamu dengar sayang. Tidak akan ada jarum suntik." Ucap Daniel menimpali. Bella menarik nafas panjang, menatap Daniel dengan mata bulatnya. Dia sangat takut jarum suntik tapi, janin di perutnya harus sehat.


Akhirnya Bella mau, meski langkahnya terasa ragu saat kakinya masuk ke ruangan dokter spesialis kandungan.


"Silahkan berbaring dulu Nona." Pinta Dokter Ira membuat Bella panik.


"Apa akan di suntik?" Tanya Bella meraih lengan Daniel dan menggenggamnya erat.


"Hanya di periksa perutnya dan tekanan darahnya." Jawab Dokter menenangkan.


"Kak aku takut." Ucap Bella lirih dengan mata mulai berkaca-kaca seolah sedang berpamitan untuk pergi jauh.


"Tidak akan terjadi sesuatu. Hanya di periksa saja." Setelah menunggu beberapa saat Bella akhirnya mau berbaring.


Dokter Ira segera memeriksa untuk memastikan kehamilan Bella. Terlihat di layar jika rahim Bella melebar dan umur janin di perkirakan menginjak 6-7 Minggu.


"Selamat Tuan. Nona memang sedang hamil tapi tekanan darahnya terlalu rendah. Ini saya beri resep obat untuk di tebus nantinya." Daniel tersenyum seraya menggenggam tangan Bella erat. Rasa sayangnya untuk Bella semakin berlipat-lipat setelah hari itu.


"Apa ada makanan yang perlu di hindari Dok?"


"Semua makanan boleh tapi hindari minuman bersoda dan beralkohol. Saya sarankan untuk tidak banyak berpergian karena ini masih trimester pertama. Buku panduannya mohon di baca untuk lebih lanjutnya." Daniel mengambil mengambil buku panduan dengan resep obat di atasnya.


"Terimakasih Dok."


"Sama-sama Tuan. Satu bulan lagi harus kontrol rutin." Daniel mengangguk seraya tersenyum. Keduanya berjalan keluar ruangan dengan rona wajah bahagia.


Tepat waktu sesuai keinginanku...


"Kita tebus obat lalu pulang."


"Iya Kak. Aku mau tidur." Jawab Bella beberapa kali menguap.


~Bersambung


😁😁😁🀭🀭🀭🀭


Bella akan jadi little momπŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Eh tapi πŸ˜‚πŸ˜‚


Daniel kerepotan nggak ya, ngadepin bagaimana susahnya menuruti Ibu hamil saat menyidam🀣🀣


Tunggu kelanjutannya...

__ADS_1


Terimakasih dukungannya πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2