Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 46


__ADS_3

"Aku tidak bisa ke gudang hari ini.


Ucap Daniel dalam pembicaraan di telepon, sesekali matanya melirik spion. Ada mobil yang membuntutinya dan Daniel menebak jika itu Marco.


"Ada seseorang yang mengikutiku.


"Hm baik Tuan. Tidak masalah, hati-hati.


"Iya tentu saja.


Daniel meletakkan ponselnya dan fokus menyetir. Dia sengaja hanya berputar-putar untuk mengelabuhi Marco yang memang sedang mengikutinya.


Jika kau anggap aku lemah, itu tidak benar Marco.. Aku hanya tidak ingin berurusan dengan manusia pengkhianat seperti kalian


Flash back


"Kita harus membunuhnya agar hartanya bisa menjadi milik kita." Daniel berdiri di samping pintu, mendengarkan dengan jelas obrolan antara Fanny dan Marko yang tidak juga sadar dengan keberadaannya sekarang.


"Terlalu beresiko, relasi Daniel begitu banyak. Rencana itu akan terendus dan bisa membahayakan kita." Jawab Marco yang awalnya tidak setuju.


"Kita rancang seolah itu kecelakaan. Daniel itu payah! Dia terlalu lemah dan baik pada orang sehingga gampang di kelabui."


Jadi ini rencana mereka.. Sebelumnya Daniel memang sudah tahu tentang kebusukan keduanya. Beberapa kali Daniel memergoki perselingkuhan mereka namun tidak menduga jika Marco bukan hanya mengincar Fanny tapi hartanya. Kalian akan mendapatkannya...


Daniel melangkah pelan, meninggalkan kamar apartemen dengan hati kalut. Kedua orang yang cukup dekat dengannya mengkhianatinya bahkan tega merencanakan pembunuhan hanya demi harta.


.


.


Pagi harinya, Daniel mengintip orang suruhan Fanny yang sengaja memutus pedal rem mobilnya. Dia sengaja tidak berbuat apapun untuk menghilangkan jejak agar Fanny dan Marco tidak lagi mengincarnya.


Daniel yakin jika akan baik-baik saja meski mungkin luka yang di dapatkannya akan parah. Daniel ingin pasrah dan menyerahkan semuanya pada Tuhan untuk nyawanya yang akan di pertaruhkan nantinya.


Tok...Tok...Tok...


Daniel menjauh dari sisi jendela lalu mengacak-ngacak rambutnya sendiri agar terlihat baru bangun tidur. Itu di lakukan untuk mengelabuhi para penghianatan yang berada di sekitarnya.


Cklek...


"Sayang.." Ucap Fanny menyerbu Daniel dengan pelukan namun Daniel mendorong lembut tubuh Fanny seraya memasang wajah datar.


"Sudah ku bilang jangan begini." Protes Daniel lembut.


"Selalu saja begitu. Antar aku berbelanja." Ajak Fanny sengaja berkata demikian. Itu di lakukan, supaya Daniel tidak curiga pada kecelakaan yang terjadi nanti jika mungkin dia bisa selamat.


"Nanti ada rapat Tuan." Sahut Marco mulai bersandiwara.


"Kamu dengar sendiri kan. Aku ada rapat."


"Beri aku uang jika begitu." Dengan manja, Fanny membuka telapak tangannya. Daniel mengambil ATM dan meletakkannya pada telapak tangannya.


"Ambil itu sebagai ucapan perpisahan kita."


"Apa maksudmu?"


"Kita putus. Lupakan soal rencana pernikahan kita dan ambil ATM itu sebagai gantinya." Daniel mengambil bulpen dari saku Marco lalu menuliskan nomer pin-nya.


Ini lebih berharga dari lelaki tidak normal ini!!


"Oke baik terserah!!" Fanny pergi dari hadapan Daniel seraya memasukkan ATMnya ke dalam tas.


"Aku mandi dulu. Tunggu aku di bawah." Marco menahan Daniel yang akan menutup pintu kamarnya.


"Maaf Tuan. Hari ini sangat banyak pertemuan yang di hadiri jadi saya tidak bisa mengantarkan Tuan ke rapat itu." Jawab Marco beralasan. Daniel tersenyum tipis sebab dia sudah tahu jika Marco akan mengatakan hal itu.


"Oke tidak masalah Marco, aku akan berangkat sendiri nanti."


"Baik Tuan permisi."


"Hmm.." Daniel menutup pintu kamarnya dan kembali mematung dengan perasaan hancur. Dia masih ingat bagaimana dia memungut Marco yang hanya seorang penjual kopi di jalanan.


Daniel begitu terenyuh pada sikap jujur Marco yang mengembalikan tas miliknya. Bahkan saat Daniel akan memberikannya upah, Marco dengan sopan menolak itu.


Aku memberikannya kehidupan tapi dia ingin menghancurkan hidupku..


Daniel bergegas mengganti baju tidurnya dengan jas. Dia tidak perlu mandi sebab setelah ini nyawanya mungkin akan melayang.


Jika aku tidak pergi jauh, mereka tidak akan pernah berhenti dan terus memburuku..


Daniel menuruni anak tangga dengan membawa kunci mobil di tangannya. Seluruh isi dompet di tinggalkan dan hanya menyisakan sebuah ATM pribadinya.


Seolah sudah bersiap mati, Daniel memasuki mobil tanpa memperhatikan kanan kirinya. Dia merasa yakin jika Marco dan Fanny sedang mengintainya.


Dan benar, baru saja mobilnya melaju pergi meninggalkan rumah, sebuah taksi membututi kepergiannya.


Aku yakin Tuhan tidak akan mengambil nyawaku begitu saja..


Daniel mulai tidak bisa mengendalikan laju mobilnya. Beberapa kali klakson di bunyikan agar mobil sekitar menghindar dari benturan akibat mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Daniel melepaskan setir mobil begitu saja, tangannya malah fokus pada gagang pintu dan menggenggamnya erat. Saat mobil tidak terkendali dan menghantam bahu jalan. Daniel mendorong pintu mobil dan meloncat keluar hingga mobil terguling beberapa kali sementara dirinya kehilangan kesadaran karena benturan pada aspal jalan.

__ADS_1


"Aku harus melihatnya." Ucap Fanny setelah tertawa renyah bersama Marco untuk keberhasilan rencananya.


"Sebentar saja, jangan lama-lama."


"Iya sayang." Fanny keluar taksi dan berdiri di samping tubuh Daniel yang sudah bersimbah darah.


Flash back off


Daniel memutuskan untuk pulang saja karena tidak adanya tujuan. Dia memarkirkan mobilnya dan segera masuk rumah.


Tidak berapa lama kemudian, mobil Marco terparkir di bahu jalan. Dia segera turun lalu masuk ke pekarangan rumah Daniel. Marco akan membuktikan sendiri tentang keadaan Daniel yang sebenarnya.


Aku yakin kamu masih tidak mengingat semuanya...


Marco tidak tahu, jika Daniel sudah mencium kebusukannya bersama Fanny, sehingga dia berfikir jika Daniel sekarang masih tidak mengingat apapun.


"Permisi." Ucap Marco setengah berteriak.


Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka dan memperlihatkan senyum Daniel.


"Siapa ya?" Ucap Daniel berpura-pura memasang wajah bingung.


Apa dia sedang berpura-pura? Tebak Marco dalam hati.


"Bella ada?" Tanya Marco basa basi. Dia ingin mengantarkan kartu asuransi milik Bella untuk di jadikan alasan.


"Jika jam segini dia sedang bersekolah." Marco mengangguk-angguk, seraya terus membaca raut wajah Daniel yang berusaha menipunya.


"Bersekolah? Em jika begitu, kartunya saya antarkan saja ke sana."


"Biar saya bawa." Sahut Daniel cepat. Marco mengurungkan niat untuk melangkah dan kembali berdiri di hadapan Daniel." Bella tanggung jawab saya. Em Kakaknya sendiri yang sudah menyerahkan tanggung jawab tersebut." Imbuh Daniel menimpali.


"Em begitu." Jika dia mengingat semuanya, tidak mungkin dia bersikap seperti sekarang. Rasanya dia memang masih amnesia dan itu berarti properti milikku masih aman.. "Tapi aku benar-benar ingin memberikannya langsung padanya." Daniel menghembuskan nafas berat, menahan rasa cemburu yang bergemuruh di dalam hatinya.


"Jangan menganggunya jika sedang berada di lingkungan sekolah. Lebih baik anda titipkan pada saya."


"Tidak, tidak. Saya akan memberikannya sendiri lalu pergi. Aku berjanji tidak akan menganggunya. Permisi."


"Tunggu." Rasa cemburu yang tidak bisa terbendung, membuat Daniel harus mengambil langkah sekarang." Saya tidak suka jika Bella berdekatan dengan lelaki lain." Imbuh Daniel mulai menyuguhkan tatapan tajam untuk Marco.


"Astaga.." Marco terkekeh mendengar itu." Meskipun anda di beri wasiat untuk menjaganya, tetap saja jika Bella adalah orang lain bukan." Rasa ketertarikan Marco pada Bella, membuat Marco ingin mendapatkan kesempatan untuk mendekati Bella.


"Dia bukan orang lain."


"Anda bahkan bukan saudaranya."


"Hm dia kekasih saya." Marco melebarkan matanya mendengar itu. Rasa iri dengki langsung menjalar memenuhi otaknya padahal dia sudah merebut semua milik Daniel hingga membuatnya terpuruk seperti sekarang. Rasanya itu tidak cukup, hingga terbesit niat buruk yang mulai melintas di otak busuk Marco.


"Tidak Tuan. Bella milik saya dan kami akan segera menikah ketika dia sudah lulus nanti."


Hati Marco rasanya terbakar mendengar kenyataan tersebut. Meski dia tahu jika Daniel tidak memiliki apapun tapi entah mengapa dia kembali merasa iri pada kehidupan Daniel sekarang.


"Apa perkerjaan anda?" Tanya Marco tiba-tiba.


"Saya belum memiliki perkerjaan." Marco tersenyum penuh hinaan, menatap sekeliling rumah yang menurutnya terlihat buruk.


"Lalu, bagaimana anda bisa membahagiakan dia jika nyatanya anda hanya memiliki rumah tua ini." Daniel tersenyum tipis. Lelaki di hadapannya benar-benar tidak tahu malu hingga merendahkannya tanpa berkaca pada dirinya sendiri.


"Saya memiliki rasa sayang dan tanggung jawab jadi saya rasa, anda tidak perlu repot-repot memikirkan hidup kami selanjutnya."


"Sayang? Tanggung jawab? Memangnya bisa makan dengan itu semua. Saya rasa Bastian salah memilih orang." Ucapan Marco yang tidak terkendali sudah menandakan jika dia tengah terbawa emosi dan cemburu.


"Salah atau benar, dia milik saya. Meskipun saya hanya memiliki rumah tua ini, yang terpenting saya memilikinya."


Marco menatap tajam Daniel, lalu melangkah pergi begitu saja. Daniel sendiri bernafas lega, melihat Marco percaya jika dia masih tidak mengingat semuanya.


Namun ketika dia mengingat nama Bella, hati Daniel kembali gusar. Dia membaca wajah tidak suka dari Marco sehingga Daniel menebak jika bisa jadi, Bella terancam akan di rebut olehnya.


Tuhan.. Seharusnya aku bisa mengatur rasa cemburuku dan tidak berkata seperti tadi. Ada sesal kenapa Daniel tidak memilih bersikap biasa saja daripada harus membuat Marco kesal seperti tadi. Tapi aku yakin, jika Bella hanya milikku. Aku akan mempertahankan milikku apapun yang menghadang nantinya..


************


Erin dan Sari menceritakan tentang pertemuannya dengan Kenan tadi pagi. Bella hanya mengangguk-angguk seraya makan mie ayam di hadapannya.


"Serius Bell, dengarkan aku." Protes Erin menganggap jika Bella tidak menyimak ceritanya.


"Aku sudah tahu Rin."


"Sepertinya kamu tidak serius menyimaknya."


"Itu karena aku bertemu dengannya tadi pagi." Erin tersenyum begitupun Sari.


"Gila kan hehe."


"Terlanjur gila dia."


"Aku tidak bertanggung jawab. Terserah saja, mau dia tidak sekolah atau menjadi preman sekalipun, perduli apa aku."


"Eheemm.. Mentang-mentang sudah ada Oppa Daniel." Goda Erin berbisik.


"Ya jiplakan dari Eun Wo Oppa hehehe. Hidupmu pasti selalu bahagia Bella. Bangun tidur lihat yang cakep-cakep. Pasti langsung segar itu mata." Wajah Bella memerah hingga membuat gelak tawa keluar dari bibir ketiganya.

__ADS_1


"Hussst!! Rahasia."


"Iya. Aman kok."


"Hai Bell." Sapa Sisca langsung duduk tanpa di persilahkan." Rumah Kak Daniel angker ya." Bella menoleh seraya menelan mie ayamnya cepat.


"Angker? Maksudmu?" Bella memberi isyarat Erin dan Sari untuk diam.


"Iya. Aku kemarin mau mampir ke rumah Kak Daniel tapi, ada penampakan jadi aku kabur." Erin menahan tawa bersama Sari sementara Bella terkekeh di dalam hatinya.


"Iya memang angker. Aku saja tidak berani berada di rumah sendiri."


"Kok betah sih Bell tinggal di situ."


"Selama ada Kak Daniel aman-aman saja kok." Jawab Bella asal bicara.


"Iya juga sih. Aku mampir sepulang sekolah ya?"


"Tidak." Tatap Bella tajam.


"Kenapa?"


"Penghuninya tidak menerima orang baru."


"Katamu kalau ada Kak Daniel aman."


"Tidak akan aman jika kau di sana. Sudahlah, jangan main ke rumah Kak Daniel jika ingin selamat." Bella yang tidak mau melanjutkan obrolan, lebih memilih pergi meninggalkanku mie ayam yang masih di makan sebagian.


"Tunggu Bella." Teriak Erin mengikuti langkah Bella bersama Sari.


*************


"Lalu bagaimana keputusannya Pak." Tanya salah satu relasi Marco untuk kesekian kalinya.


Sejak pembicaraannya dengan Daniel, fikirannya menjadi kalut hingga membuatnya tidak fokus seperti sekarang. Apalagi semua rapat dan pertemuan di handle oleh Marco sendiri karena ketakutannya akan penghianatan.


"Pak Marco?"


"Ya apa?"


"Bagaimana setuju atau tidak?" Tanya si relasi lagi.


"Saya sedikit pusing. Bisakah kita bertemu lagi lain kali."


"Tidak bisa Pak, bukankah Pak Marco tahu jika saya jarang ada waktu?"


"Hm begitu." Marco berdiri dan membereskan berkasnya." Proyek ini gagal. Maaf saya permisi." Marco melangkah pergi meninggalkan pertemuan dan membuat para relasinya merasa kecewa.


"Benar-benar payah! Bagaimana mungkin Pak Daniel memperkerjakan orang tidak profesional seperti dia." Umpatnya seraya membereskan berkas." Sia-sia kita datang ke sini." Ketiga relasinya pergi meninggalkan lobby menuju kamar hotelnya masing-masing.


Apa yang ku fikirkan!! Dia tidak memiliki apapun kecuali Bella!!


Tak!!!


Marco meletakkan kasar berkasnya pada jok belakang mobil lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan area hotel. Wajahnya terlihat gusar, harus menerima kenyataan jika gadis yang cukup menarik perhatiannya beberapa hari ini adalah kekasih Daniel.


"Apa dia hanya berpura-pura agar aku tidak mendekati Bella?" Gumamnya mengurungkan niatnya pergi ke perusahaan dan malah memutar arah menuju sekolah Bella.


Setibanya di sana, Marco menerobos masuk karena kebetulan istirahat belum usai. Tentu kedatangan Marco mengudang kericuhan, mengingat Marco memang tampan dengan kulit coklatnya.


"Apa kalian mengenal Bella?" Tanya Marco ramah.


"Oh Bella? Dia ada di taman Kak."


"Terimakasih." Marco melanjutkan langkahnya menuju ke taman sekolah yang terletak di samping gedung utama.


Langkahnya di percepat saat dia melihat Bella sedang bercengkrama bersama Erin dan Sari.


"Bella.." Ketiganya menoleh ke arah Marco yang sudah berdiri di samping tempat duduk.


"Si siapa lagi Bell?" Tanya Erin melongok begitupun Sari.


"Kita pergi." Bella menarik cepat kedua pergelangan tangan temannya untuk berjalan menjauhi Marco.


"Aku tadi ke rumah dan bertemu Daniel." Perkataan itu sontak membuat langkah Bella terhenti.


Kak Daniel? Katanya di gudang? Kenapa malah di rumah. Jika dia sudah menemuinya, apa semua sudah terbongkar? Raut wajah Bella berubah gelisah, tentu dia takut terjadi sesuatu dengan Daniel mengingat Marco adalah orang yang jahat.


"Siapa dia?" Tanya Erin lirih.


"Kalian pergi duluan ya, nanti ku jelaskan. Em Sar, tolong hubungi Kak Daniel"


"Untuk apa?"


"Em bilang untuk tidak lupa menjemput nanti. Sekarang kalian pergi dulu." Ucap Bella mendorong lembut punggung kedua temannya.


"Tapi Bell.."


"Lakukan yang ku perintahkan." Jawab Bella setengah berteriak. Dia memutar tubuhnya lalu berjalan menghampiri Marco." Aku tidak mengerti, kenapa anda bebas berkeliaran di sini." Marco tersenyum mendengar pertanyaan yang menurutnya konyol.


"Anggap saja ini sekolahan ku. Apa benar kamu kekasih dari Daniel?" Tanya Marco tanpa basa-basi.

__ADS_1


~Riane


__ADS_2