Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 45


__ADS_3

"Tadi kan tidak sadar Kak jadi beda cerita." Jawab Bella pelan.


"Jika mata masih terbuka, berarti sadar sayang. Ayo cepat, ini sudah sangat larut, besok kan sekolah." Rajuk Daniel sedikit memaksa. Tentu ada alasan dia melakukannya.


"Tutup mata dulu." Bella tetap tidak mau menaikkan dress-nya jika Daniel belum menutup mata.


"Tidak mau." Tolak Daniel tidak ingin kalah.


"Ya sudah tidak perlu di oles."


"Hm begitu.."


Tak..


Daniel meletakan krim di atas meja lalu berdiri, Bella mengira jika Daniel setuju. Namun ketika Daniel berjalan ke arah pintu, cepat-cepat Bella mengikutinya dan menghadang langkahnya.


"Eh mau kemana Kak?" Tanya Bella panik.


"Tidur di kamar lain."


"Kok gitu sih?"


"Kamu masih malu padaku sayang. Tidak ada gunanya kita tidur bersama. Bukankah beberapa kali sudah ku berikan pengertian soal ini." Daniel tersenyum, menatap Bella yang tertunduk binggung. Aku ingin dia terbiasa denganku... " Baik selamat malam." Daniel mencium puncak kepala Bella dan akan berjalan melewati Bella.


"Iya iya ish! Mengancam terus mirip Kak Bas sih!" Eluh Bella setengah berteriak. Daniel menoleh dan kembali menghampiri Daniel.


"Jika tidak di ancam kamu tidak mau. Ayo kita selesaikan lalu tidur."


"Hmm..." Bella berjalan lemah dan duduk di pinggiran tempat tidur.


Daniel mengambil krim itu lagi dan menunggu Bella yang masih tidak bergerak.


"Sayang.." Panggil Daniel begitu lembut membelai telinga bahkan hati kecil Bella juga ikut tersentuh.


"Aku malu Kak." Bella menegang ujung dress-nya.


Aku juga sama sayang, aku juga tidak ingin melihat itu karena takut lupa diri. Tapi, aku ingin kita begitu dekat tanpa ada celah sehingga aku bisa memiliki hatimu sepenuhnya. Maaf sayang, aku hanya takut kehilanganmu setelah tahu kenyataan jika Marco berada di sekeliling kita..


"Biar ku bantu." Dengan tangan bergetar, Daniel memegang ujung dress-nya Bella dan mengangkatnya pelan. Tarikan nafas berat berhembus, begitupun dengan Bella yang merasa sangat malu hingga wajahnya memerah.


Tentu saja indah... Daniel menelan salivanya kasar, melihat punggung halus Bella meski terdapat beberapa noda merah bekas iritasi.


Tak!


Bella melepas pengait bra. Daniel kembali menarik nafas panjang dan mulai mengoles krim ke punggung terbuka Bella.


"Cepat Kak." Pinta Bella menahan dress di depan tubuhnya agar tidak jatuh.


"Ini sudah cepat sayang."


"Apa berbekas?" Tanya Bella ingin melihat keadaan punggungnya.


"Sedikit sayang, tapi mungkin akan hilang jika sudah sembuh."


"Em iya.."


"Sudah." Daniel beranjak untuk membuang wadah bekas krim, juga ingin menghindari hasratnya yang mulai bergejolak.


Bella cepat-cepat membetulkan pengait bra namun sedikit sulit. Dia sangat gugup hingga tidak bisa melakukan itu dengan cepat seperti sebelumnya.


"Bukankah biasanya mudah?" Tanya Daniel dari sudut ruangan.


"Iya Kak sebentar."


"Ku bantu." Tiba-tiba saja tangan Daniel menurunkan kedua tangan Bella dan membantu membetulkannya.


"Bukan itu Kak, yang paling ujung." Daniel kembali melepas pengait lalu mengaitkannya lagi.


"Yang ini."


"Hm iya itu." Bella menurunkan dress-nya cepat." Terimakasih Kak." Ucapnya lirih.


"Sama-sama sayang. Kita tidur."


Bella langsung berbaring di ikuti oleh Daniel. Keduanya memiringkan tubuhnya dan saling menatap seperti malam sebelumnya.


"Masih malu?" Bella langsung mendekat karena tidak ingin Daniel pergi seperti tadi.


"Jika rumah ini sudah baik, aku akan membalas mu Kak." Ucap Bella seraya tersenyum. Bibirnya selalu saja berprotes namun hatinya sangat menyukai sikap Daniel.


"Aku sangat bersyukur rumahku sangat menyeramkan, sebab itu memudahkan proses kedekatan kita seperti sekarang." Daniel merengkuh tubuh Bella erat seraya mengusap lembut punggungnya.


Aku juga bersyukur..


"Apa temanmu masih menganggu kamu sayang?"


"Teman mana Kak?"


"Laki-laki."


"Kenan."


"Entah siapa namanya."


"Aku sudah tidak melihatnya dua hari. Tadi sebelum pergi aku juga tidak melihatnya di kelas. Anak itu benar-benar menyebalkan, dari saat aku menjadi siswa baru hingga sekarang, selalu saja menganggu ku."


"Berarti dia sangat menyukaimu."


"Aku sudah bilang tidak suka."


"Berarti dia tangguh sayang. Tapi aku akan lebih tangguh daripada dia. Sekarang, cepat tidur. Besok sekolah dan sekarang sudah hampir jam sepuluh." Daniel mengangkat dagu Bella lalu menciumi sekitar wajahnya." Selamat malam, semoga mimpi indah." Daniel mencium kembali bibir Bella singkat dan menenggelamkan kepala Bella di dadanya.


"Selamat malam juga Kak." Daniel bersenandung lirih, agar Bella bisa segera mendapatkan kantuknya. Terkadang tangannya mengusap dan terkadang menepuk-nepuk punggung Bella lembut.


Tatapannya fokus pada langit-langit kamar dengan fikiran kalut setelah menyadari jika Marco berkeliaran di sekitarnya.


Apa harta itu belum juga cukup. Kenapa dia masih menganggu hidupku Tuhan..


.


.


.

__ADS_1


.


Keesokan harinya...


"Bella..." Terdengar suara Erin dan Sari memanggil. Daniel menyipitkan matanya, lalu meraih ponsel dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit.


"Ahh aku kesiangan."


Daniel sulit memejamkan mata semalam, sehingga membuatnya kesiangan seperti sekarang. Biasanya dia sudah selesai membersihkan rumah dan memasakkan sarapan sederhana untuk Bella. Meski dia lebih mirip menjadi seorang Ayah daripada suami, namun Daniel tidak keberatan melakukannya.


Dengan lembut, Daniel menarik tangan kanannya lalu beranjak duduk. Dia masih tidak ingin Bella terbangun dan memilih berjalan keluar untuk menemui Sari dan Erin.


"Astaga maaf. Aku kesiangan." Erin dan Sari menelan salivanya kasar, menatap wajah tampan Daniel yang terlihat lebih menawan saat bangun tidur.


Hati Bella benar-benar tangguh. Dia bisa menahan malam pertamanya dengan lelaki menawan seperti Kak Daniel hehe...


"Bella belum bangun Kak?"


"Belum. Sebaiknya kalian berangkat dulu saja." Ucap Daniel ramah.


"Em begitu. Oh ini dari Mama Kak hehe, sebagai permintaan maaf sayur yang salah kemarin." Ucap Erin memberikan bungkusan pada Daniel.


"Wadahnya belum ku kembalikan kemarin tapi sudah di beri lagi. Terimakasih ya."


"Sama-sama. Masalah rantang, tidak apa Kak. Kapan-kapan aku akan mengambilnya. Ya sudah kita berangkat dulu, mari Kak Daniel." Erin dan Sari mengangguk sejenak kemudian berjalan pergi menuju gang.


"Gadis-gadis yang manis." Gumam Daniel melangkah masuk. Dia meletakan bungkusan kemudian berjalan ke belakang untuk memasak air.


"Kak...." Teriak Bella memanggilnya.


"Ya.." Daniel segera berjalan memenuhi panggilan Bella.


"Di tinggalkan lagi." Eluh Bella duduk di pinggiran tempat tidur dengan kaki menggantung.


"Ada Erin dan Sari tadi."


"Pasti berangkat duluan."


"Hm ayo bangun, kita sarapan. Erin memberi kita sesuatu." Daniel berdiri tepat di hadapan Bella.


"Sebentar Kak." Tangan Bella meraih lembut pergelangan tangan Daniel.


"Kenapa?"


"Kakiku kenapa sakit ya." Ucap Bella seraya menggoyangkan kedua kakinya.


"Hm naik." Dengan cepat Daniel duduk berjongkok di hadapan Bella.


"Tidak Kak, tunggu sebentar saja."


"Ini sudah siang sayang. Ayolah, aku juga sedang memasak air untuk kopi."


"Lima menit." Tolak Bella. Daniel kembali bangun dan duduk tepat di depan Bella sehingga tubuh Bella menggeser ke belakang dengan sendirinya. Kedua tangan Bella di kalungkan pada lehernya sementara tangan lainnya menopang tubuh Bella.


"Memang sukanya di paksa." Daniel berdiri lalu berjalan ke ruang tamu untuk mengambil bungkusan dari Erin.


"Aku menyuruhmu menunggu tapi tidak mau."


"Kamu akan terlambat nanti." Daniel menurunkan Bella tepat di samping meja makan." Aku membuat kopi dulu lalu kita sarapan berdua." Bella mengangguk namun berdiri untuk mengambil piring dan sendok.


"Biasanya aku kuat Kak, tapi kenapa kakiku sakit ya." Ucap Bella seraya menuang lontong sayur dari Erin.


"Jika sedang berciuman jangan terlalu menegang sayang, mungkin itu yang membuat kakimu sakit."


"Aku serius Kak ish!" Bella duduk lemah lalu mencicip lontong sayur yang sekarang terasa sedap.


"Aku juga serius. Em bagaimana rasanya?"


"Enak Kak. Masakan Mama Erin itu enak hanya saja kemarin terjadi kesalahan." Daniel menyendok lontong dan memasukkannya kedalam mulutnya." Enak Kan?" Imbuh Bella.


"Hm sedap sekali. Tangan seorang Ibu memang ajaib." Puji Daniel benar-benar mengakui jika masakan Mama Erin sedap.


"Iya hehe. Aku boleh meminta kopi, aku masih sedikit mengantuk."


"Sebenarnya tidak boleh tapi ya sudah, sedikit saja." Daniel menuang sedikit kopi pada tatakan cangkir. Tidak lupa, dia meniupnya sebentar dan memberikannya pada Bella." Ini.." Bella akan mengambilnya namun Daniel memberikan isyarat untuk langsung meminumnya.


"Terlalu manis Kak."


"Hm.. Semua lelaki memang suka yang manis." Canda Daniel sehingga membuat gelak tawa keluar dari bibir Bella.


************


Mata Sisca berbinar-binar, melihat Kenan dengan jas rapinya menunggu kedatangan Bella. Kini dia kembali tertarik pada Kenan padahal baru semalam dia tertarik pada Daniel.


"Astaga Kenan, kemana seragam mu?" Elena menarik nafas panjang. Dia lebih memilih pergi daripada harus melihat sikap murahan Sisca.


"Aku sudah tidak bersekolah di sini."


"Oh. Lalu kau akan bersekolah di luar negri?"


"Tidak juga."


"Kamu terlihat dewasa."


"Tentu saja. Aku bukan anak ingusan, anggap kita tidak berteman. Sebaiknya kau masuk, aku menunggu Bella." Sisca menarik nafas panjang mendengar itu.


"Bella tidak menyukaimu."


"Perduli apa aku."


"Sebaiknya kamu masuk, gerbang Bapak tutup lima menit lagi." Ucap satpam mengingatkan.


"Cepat sekali sih Pak!"


"Memang sudah waktunya." Pandangan Sisca kembali fokus pada Kenan.


"Serius, kamu tidak mau masuk."


"Aku sudah tidak bersekolah."


"Ahh terserah. Nanti ku hubungi ya. Bye Kenan." Sisca menepuk pundak Kenan lalu masuk.


"Apa Bella tidak masuk sekolah?" Gumam Kenan masih saja menunggu, sementara Bella masih ada di perjalanan.

__ADS_1


"Kita akan telat sayang. Kamu mandinya lama sekali." Eluh Daniel melajukan mobilnya sedikit cepat.


"Aku ada jalan lain Kak." Seringnya terlambat, membuat Bella memiliki cara lain untuk masuk kelas. Jika kebetulan pintu gerbang di tutup, dia lewat jalan samping dengan memanjat pagar setinggi 2,5 meter.


Daniel tersenyum namun tiba-tiba saja raut wajahnya berubah ketika melihat Kenan sudah menunggu Bella di depan gerbang sekolah.


"Biar ku antarkan." Saat Daniel akan memegang gagang pintu mobil, tangan Bella mencegah.


"Ingat jika ini lingkungan sekolah Kak."


"Ingat sayang. Tenang saja, aku bukan orang yang suka menyelesaikan masalah dengan perkelahian."


"Kak Daniel percaya padaku Kan?" Daniel menarik nafas panjang.


"Aku hanya mengantarkan masuk lalu ke gudang."


"Pintu gerbang sudah di tutup. Aku harus lewat pintu samping."Gumam Bella.


"Memangnya ada pintu samping."


"Ada Kak. Sekarang, biarkan aku pergi, akan ku urus dia" Daniel hanya membalas ucapan Bella dengan tatapan lemah.


"Ku antarkan ke pintu samping."


"Ya sudah aku membolos saja dan ikut kamu ke gudang."


"Gudang sangat kotor dan membolos juga tidak baik."


"Biarkan aku turun." Rengek Bella memohon.


"Oke. Tapi, aku boleh menunggumu di sini sampai kamu masuk?"


"Iya Kak." Bella meraih tangan Daniel dan mencium punggung tangannya, tidak lupa satu kecupan singkat pada pipi sebagai penyemangat.


"Sampai jumpa nanti siang." Seperti biasa, Daniel menciumi wajah Bella sebelum melepaskannya turun seperti sekarang.


"Iya. Bye Kak.."


Bella melewati Kenan begitu saja dan tentu Kenan tidak menerima itu semua. Dia menghampiri Bella dan menghadang langkahnya.


"Kamu tidak mengenaliku? Ini aku Kenan." Bella menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya sangat memuakkan jika harus menghadapi Kenan yang tidak bisa menerima penolakannya.


"Astaga Kenan, aku terkejut!" Jawab Bella ketus." Aku telat minggir!!" Imbuh Bella merasakan kekesalan yang berlipat ganda.


"Jangan begitu Bella. Aku melakukan ini hanya untuk mu."


"Maksudmu apa sih? Minggir!! Aku benar-benar telat."


"Aku keluar dari sekolah agar kamu tidak menyebutku anak ingusan." Bella menoleh cepat dengan raut wajah menahan tawa.


"Memangnya apa bedanya, astaga... Konyol sekali." Bella terkekeh mendengar ucapan Kenan yang di anggap sebagai lawakan.


"Kau selalu saja tidak menghargai ku Bella, kenapa sih?"


"Yah! Itulah nyatanya. Aku tidak pernah menghargaimu maka carilah orang yang bisa menghargaimu." Bella mendorong pundak Kenan dengan jari telunjuknya hingga tubuh Kenan terdorong ke belakang." Kau membuang waktuku! Sialan!!" Umpat Bella berjalan ke samping sekolah untuk memanjat pagar.


Kenan masih tidak menyerah dan akan mengikuti Bella namun tangan Daniel mencegahnya. Kenan berbalik badan dan melihat Daniel sudah berdiri di hadapannya tanpa menggunakan masker.


"Sudah ku bilang untuk tidak menganggunya." Lagi lagi pundak Kenan terasa nyeri ketika Daniel menumpukan satu tangannya seperti sekarang.


"Aku tahu kau hanya Kakak angkatnya, jadi jangan sok." Kenan menyingkirkan tangan Daniel dari pundaknya.


"Aku bukan sok. Aku tidak suka ada yang menganggu milikku." Kenan tersenyum miring.


"Aku tahu kau hanya Kakak angkatnya dan itu berarti kau orang lain untuknya." Kenan sempat bertanya pada Pak Imran sehingga Kenan mendapat informasi tersebut.


"Aku tidak suka berdebat, apalagi berkelahi. Tapi jika kau masih menganggunya, jangan salahkan aku jika akan bertindak." Ancam Daniel tidak membuat Kenan merasa takut bahkan malah terkekeh.


"Apa kau menyukainya? Ingat ya, aku tidak akan berhenti hanya karena ancaman mu itu. Jangan karena tubuhmu lebih tinggi lalu kau merasa unggul! Aku tidak takut!"


"Lalu bagaimana cara menyelesaikan ini?" Jawab Daniel cepat.


"Kita adu ketangkasan, siapa yang kalah, harus mundur."


"Hm begitu." Daniel mengeluarkan ponselnya lalu mulai merekam suara." Kita sama-sama berucap janji, jika seandainya terjadi sesuatu. Tidak boleh ada yang menuntut pertanggungjawaban sebab kita melakukannya dengan kesadaran penuh. Bagaimana?" Jawab Daniel tersenyum dengan mata sipitnya.


"Hm oke. Aku Kenandres Fahreza tidak akan menuntut jika terjadi sesuatu ketika kita bertarung nanti."


Klik!


Daniel mematikan recorder ponselnya dan kembali mengantonginya.


"Sudah siap?" Tanya Daniel.


"Di sini?"


"Hmm.. Bilang siap lalu kita mulai."


"Siap."


Bugh!!


Tubuh Kenan terpelanting dua meter dengan darah segar keluar dari hidungnya. Satpam yang melihat itu sontak membuka pagar untuk menolong Kenan yang sudah tidak sadarkan diri.


"Tunggu Pak." Teriak satpam mencegah kepergian Daniel.


"Ada apa Pak?"


"Itu bagaimana? Ada CCTV Pak, jika Bapak tidak bertanggung jawab bisa di tuntut." Daniel mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman suara.


"Bukan salah saya Pak, panggil ambulance saja untuk menolong. Permisi." Mulut satpam terbuka dan tidak dapat berbuat apa-apa setelah mendengar rekaman suara tersebut. Dia cepat-cepat menghampiri Kenan lalu mengambil dompetnya untuk mencocokkan nama yang di sebut dalam rekaman suara.


"Aduh. Kalau mau adu jotos, kenapa harus di sini. Menyusahkan saja." Satpam kembali memasukkan dompet Kenan lalu menghubungi ambulance untuk memberikan pertolongan pada Kenan.


.


.


.


.


"Ternyata benar dia!!" Umpat Marco memperhatikan Daniel dari dalam mobil. Raut wajahnya berubah gelisah karena takut jika Daniel kembali mengambil hartanya itu." Sebaiknya ku Ikuti." Mobil Daniel melaju pergi bersama dengan mobil Marco yang tengah mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


~Riane


__ADS_2