
Duuuh senyumnya ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Happy reading 🥰
Andra kembali dengan wajah lelah. Tangan kanannya membawa sebuah durian yang di dapatkannya bersusah payah. Dia bahkan rela tidak pulang, hanya karena ingin melakukan perintah dari Joy untuk memenuhi keinginan Nara.
"Ini Tuan." Andra memberikan satu buah durian sehingga Nara langsung mengalihkan pandangannya.
"Seharusnya bukan Andra yang membeli itu. Tapi kamu sayang!!" Protes Nara tidak juga berhenti berprotes.
Di tengah perdebatan, ponsel Andra berdering. Dia segera mengangkatnya sebab itu dari Roy.
"Ada apa Roy?
"Nona Bella sakit.
"Sakit?
Sudah bisa di tebak jika Roy dan anak buahnya di kerahkan untuk memantau Daniel dan Bella. Alasannya tidak lain karena Marco masih berkeliaran hingga mungkin bisa membahayakan keselamatan mereka.
Nara segera merebut ponsel Andra dan menerima panggilan dari Roy, setelah mendengar ucapan Andra tadi.
"Siapa yang sakit.
Andra membiarkannya saja, sementara Joy hanya mampu menarik nafas panjang.
"Nona Bella Non.
"Sakit apa?
"Saya tidak tahu. Tadi sempat pingsan tapi sudah di atasi Pak Daniel.
Nara mengakhiri panggilan dan memberikan ponselnya pada Andra.
"Aku ingin menjenguk Adikku, sayang." Pinta Nara.
"Iya oke." Jawab Joy tidak lagi ingin melawan karena kericuhan yang terjadi kemarin akibat durian yang sulit di dapatkan." Makan ini dulu, kemudian kita ke sana." Imbuh Joy pasrah.
"Aku sudah tidak berselera. Aku akan memandikan Abel dan kita ke sana." Nara melangkah menaiki tangga sementara Andra dan Joy saling melihat.
"Sabar Tuan." Ucap Andra tersenyum. Meski lelah terasa, namun sekalipun Andra tidak keberatan melakukan tugasnya walau harus mengabaikan urusan pribadinya.
"Kau tidak kesal. Aku saja sangat kesal. Aku sudah berkeliling kota dan kau sudah ke luar kota. Tapi saat kita sudah mendapatkannya, dia bilang tidak berselera." Andra tertawa kecil di ikuti oleh senyuman tipis yang Joy perlihatkan." Aku sudah pernah merasakannya saat Abel masih di dalam perut. Itu melelahkan tapi, aku semakin mencintainya. Ahh cinta membutakan segalanya. Sebaiknya aku mandi daripada dia kembali mengomel lagi." Joy berdiri dan berjalan lemah menaiki tangga. Andra menarik nafas panjang lalu duduk. Dia segera melakukan panggilan ke Ella, sebab ketidakpulangannya semalam.
.
.
Setelah membeli buah-buahan, Joy melajukan mobilnya menuju rumah tua Daniel. Joy segera mendorong pagar berkarat dengan tangan kanan menggendong Abel.
"Kenapa sepi sekali." Gumam Nara mendahului Joy untuk melangkah.
"Mungkin saja istirahat." Jawab Joy mengikuti langkah Nara.
Nara tidak mendengar, dia langsung mengetuk pintu namun tidak ada pergerakan.
"Mungkin pergi sayang." Ucap Joy menurunkan Abel.
"Mobilnya di rumah." Nara kembali mengetuknya lagi dan lagi hingga saat dia kembali akan mengetuk, gagang pintu bergerak dan menampilkan keadaan Daniel yang sedikit berantakan.
Joy melongok, begitupun Nara. Keduanya menarik kesimpulan jika Daniel mungkin sedang melakukan sesuatu yang seharusnya terjadi.
Astaga... Aku ingin menyentuh istriku sekarang juga! Joy yang sudah lama menjadi penjahat ranjang. Sangat hafal dengan keadaan yang di perlihatkan Daniel sekarang. Dia bahkan sempat menatap ke arah bawah, melihat milik Daniel yang masih sedikit mencuat.
"Katanya istrimu sakit." Segera saja Joy menarik Nara untuk menempel padanya. Dia tidak ingin Nara tergoda pada Daniel yang terlihat semakin tampan dengan keadaannya. Itu terdengar gila! Tapi kecemburuan Joy memang sangat berlebihan.
"Darimana kalian tahu? Maaf aku sedang beristirahat tadi. Silahkan masuk." Daniel tersenyum, melemparkan sapaan pada Abel bahkan mengandengnya masuk.
"Kamu tidak memikirkan apa yang aku fikirkan kan sayang?" Tanya Joy pelan, menatap Daniel dari belakang.
"Sudah wajar, mereka pengantin baru. Kau bahkan tidak pernah absen meminta itu." Joy menarik nafas panjang mendengar kenyataan jika Nara juga menyadari keadaan Daniel sekarang.
"Bagaimana mungkin dia bisa bercinta dengan gadis kecil itu." Eluh Joy tidak habis fikir.
"Kau membicarakan Adikku! Dia akan jadi wanita hebat nanti!!" Jawab Nara melenggang masuk, meninggalkan Joy yang tentu saja merasa kalah.
"Kasihan sekali gadis itu." Gumam Joy memikirkan sesuatu yang memang sudah terlihat. Bella dengan miliknya yang kecil dan Daniel? Itu menguntungkan untuk milik Daniel dan sedikit menyakitkan untuk milik Bella yang harus menyesuaikan ukuran benda asing yang masuk.
Bella yang sudah membersihkan diri, buru-buru berjalan ke depan dan tersenyum menyambut kedatangan Abel, Nara dan Joy.
"Astaga Abel."
"Kak Bella." Abel berlari kecil dan memeluk Bella tanpa rasa canggung.
"Bagaimana keadaanmu Bell?" Tanya Nara memastikan.
"Hanya kelelahan Kak." Bella mengandeng Abel lalu memangkunya.
"Biar aku." Daniel mengambil alih Abel dan memangkunya karena merasa kasihan pada Bella yang mungkin masih lemas.
"Jangan terlalu sering memintanya, dia masih kecil. Jika kau terus memintanya dia akan sakit seperti sekarang." Daniel dan Bella saling melihat sementara Nara terkekeh.
"Kamu tahu maksud dari Joy Kak." Tanya Nara memastikan.
Daniel tersenyum sedangkan Bella tertunduk malu setelah menyadari pembahasan yang di katakan Joy tadi.
"Rajin minum vitamin sebab bukan hanya hati yang tegang tapi otot juga Bell. Jika sedang melakukannya, rileks saja, jangan tegang. Ikuti alurnya agar kamu tidak sakit seperti sekarang." Ucap Nara menyarankan.
"Bagaimana bisa tidak tegang Kak." Jawab Bella polos.
"Mungkin ini hanya penyesuaian saja, nanti juga akan terbiasa." Nara mengangkat tangannya dan mengusap lembut pipi Bella sebentar.
"Padahal Abel ingin nasi goreng buatan Kak Bella." Gumam Abel menyelah.
"Ku buatkan ya." Tawar Bella.
"No Abel. Kak Bella sedang sakit, lain kali saja." Tolak Nara merasa kasihan pada Bella.
"Tidak ada makanan enak di sini. Rasanya sangat buruk Mommy." Joy menarik nafas panjang, Abel memiliki sifat kedua orang tuanya sehingga selera makannya mirip seperti Nara.
"Nanti Mommy masakkan di rumah."
"Yeaaaaaaa.. Nasi goreng buatan Mommy sangat buruk." Ketiganya tersenyum, mendengar kepolosan Abel ketika sedang bercerita.
"Biar ku buatkan Kak."
"Merepotkan sekali Bell. Maaf ya."
"Tidak sama sekali."
"Aku bantu ya."
"Hmm.. Yuk Abel." Dengan penuh semangat, Abel turun dan langsung meraih jemari kecil Bella. Ketiganya berjalan ke arah dapur, meninggalkan Joy dan Daniel.
"Kau masih ku pantau. Aku mendapatkan laporan jika istrimu sakit jadi aku ke sini." Daniel tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Maaf Joy merepotkan."
"Itu bagus untuk mereka. Aku sudah lama tidak memberikan perkerjaan sehingga mereka begitu bersemangat."
"Bagaimana dengan Marco?" Tanya Daniel ingin tahu kabar Marco sekarang.
"Sesuai permintaanmu. Aku membiarkannya hidup tapi, dalam pengawasan Erik."
Marco yang tidak sadar sedang di awasi, berjalan keluar apartemen setelah semalaman tidak keluar. Dia berjalan menuju parkiran dan mendengus ketika mendapati ban mobilnya kempes.
"Ah sial sekali, padahal lapar." Eluhnya melanjutkan langkahnya menuju pos penjagaan." Pak di sini ada bengkel mobil mewah terdekat." Tanyanya memperhatikan sekitar.
"Ada Pak. Masuk saja ke perumahan yang ada di belakang apartemen ini. Di situ ada bengkel mobil khusus untuk para Sultan. " Tanpa berterimakasih, Marco berjalan pergi ke depot yang ada di seberang jalan.
__ADS_1
Erik berjalan santai mengikutinya dan mengambil dompet yang terselip di saku belakang celananya, dengan modus menabraknya.
Sebenarnya Joy tidak memerintahkan itu, tapi mendengar cerita dari Roy. Membuat Erik ingin memberi Marco pelajaran agar tahu caranya berterimakasih pada orang yang sudah mengangkat derajatnya.
"Ahh maaf Tuan." Dengan cepat Erin menyelipkan dompet Marco ke saku jaketnya.
Marco yang hampir terjungkal, tentu merasa sangat marah dan geram.
"Bagaimana sih!! Jalan lihat-lihat dong." Umpatnya kasar.
"Iya tadi tersandung jadi maaf." Erik mengeluarkan dompet Marco dan mengambil beberapa lembar uang dari sana. Marco terlalu bodoh untuk menyadari sehingga dia malah tersenyum saat Erik memberikan beberapa lembar uang padanya." Ganti rugi Tuan." Imbuh Erik santai. Dia memasukan kembali dompetnya seraya tersenyum ke arah Marco.
Wah sepertinya orang kaya... Lumayanlah buat makan... Batin Marco seraya menerima uang tersebut tanpa rasa curiga.
"Lain kali hati-hati ya."
"Iya Tuan maaf." Marco melanjutkan perjalanannya sementara Erik berhenti seraya menatap Marco dengan senyuman simpul.
Marco makan dengan santai, lalu membayar makanannya dengan uang pemberian Erik. Setelah makan, dia langsung melajukan mobilnya menuju bengkel terdekat. Rasanya sungguh merasa beruntung sebab ada ATM yang terletak di samping bengkel tersebut sehingga Marco tidak harus jauh-jauh mengambil uang dulu. Dia duduk santai, seraya membaca majalah. Butuh waktu cukup lama. Sebab bukan hanya satu ban yang kempes, melainkan dua.
Beberapa saat menunggu. Marco beranjak ketika montir mulai mengisi angin pada bannya. Dia berjalan ke ATM yang terletak di samping dan terbelalak menyadari jika dompetnya menghilang entah kemana.
Tiiiiiiinnnnnnn...
Sontak Marco menoleh ke arah Erik yang ada di seberang jalan. Kaca mobil di turunkan separuh seraya menunjukkan dompet Marco yang ada di tangannya.
"Kau!!!" Teriak Marco terpaku.
"Silahkan menikmati hari-hari mu Tuan." Sambil melambai, Erik melajukan mobilnya.
"Copet!!!!" Teriak Marco berusaha menyusul tapi tentu saja gagal." ATM ku!! Sial sekali!!" Umpatnya menjadi sorotan sekitar.
Marco melirik ke arah bengkel, terlihat jika mobil miliknya sudah selesai.
"Mobilnya sudah siap Kak." Ucap montirnya setengah berteriak.
Marco tersenyum aneh, dia tidak tahu harus membayar biaya bengkel dengan apa. Perlahan, tangannya merogoh saku celananya yang terdapat uang 150 sisa dari uang makan.
Ku jual saja sekalian...
Marco berjalan perlahan masuk bengkel dengan langkah ragu menuju ke arah kasir bengkel tersebut.
"Totalnya lima belas juta tujuh ratus Kak." Raut wajah Marco terlihat biasa saja, sebab dia mengerti berapa harga mobil mewah tersebut.
"Maaf saya tadi habis kecopetan, apa bisa menjual mobil ini sekalian."
"Ti.."
"Kau jual berapa?" Sahut si pemilik bengkel. Marco tersenyum merekah, dia merasa mendapatkan jalan keluar dengan menjual mobil itu.
"Mobil itu baru ku beli satu bulan lalu Pak jadi saya pasang harga lima ratus juta."
"Apa surat-suratnya lengkap." Mata Marco melebar, dia baru ingat jika surat mobil sudah hangus terbakar.
"Rumah saya baru saja terbakar Pak. Jadi, surat-suratnya sudah hangus." Jawab Marco pelan.
"Wah kalau seperti itu, saya takut belinya. Nanti barang curian."
"Bukan Pak, ini benar-benar mobil saya." Ucap Marco menyakinkan.
"Mana saya tahu." Marco kebingungan karena ATM yang berisi uang milyaran rupiah sudah di bawa kabur Erik yang di kiranya seorang pencopet.
"Tolong Pak. Beli berapa saja, asal saya dapat uang." Si pemilik bengkel melirik malas ke arah Marco. Entah kenapa dia tidak merasa kasihan, seolah peka jika lelaki berkulit coklat itu memanglah seorang penipu.
"Dua puluh juta, saya bayar."
"Yah Pak, saya belinya tujuh ratus juta masak di bayar segitu." Rajuk Marco memelas.
"Tidak mau ya sudah. Masalah bannya akan saya gratiskan. Bukannya ketemu 35 juta. Itu sudah mahal." Kening Marco berkerut seraya menatap mobil mewah dambaannya waktu masih menjadi pedagang kopi di jalanan.
"Hm baik Pak." Jawab Marco terpaksa melepasnya. Hanya itu satu-satunya jalan untuk bertahan hidup.
"Tunggu di sini, saya ambil uangnya." Marco hanya mengangguk, lalu berjalan perlahan mendekati mobilnya. Dia mengusapkannya body mobil itu, untuk mengucapkan salam perpisahan.
Bella melirik ke arah Daniel dan Lucas yang sedang berbincang masalah perusahaan. Sementara dia sendiri tengah makan buah yang sudah Daniel kupas untuknya.
Sesekali tangannya bermain lincah di layar ponselnya, untuk membalas para costumernya yang sudah naik menjadi 55 orang. Itu hanya costumer pilihan yang tidak berbelit-belit dalam memesan. Sementara costumer yang terlalu banyak bertanya, di abaikan begitu saja.
Menguntungkan sekali, hanya pasang iklan langsung dapat uang. Astaga, jumlah transferan hari ini sudah lima ratus ribu lebih hehe... Bagaimana jika aku jadi agennya.. Jadi agen? Batin Bella mulai memikirkan itu meski dia tidak berniat untuk bicara dulu pada Daniel. Dia tahu jika Daniel tidak akan setuju. Kalau bisa stok barang sendiri, berapa untungnya. Astaga Tuhan... Jiwa pembisnis mulai mengalir. Padahal meski tanpa berkerja, Daniel sudah pasti bisa memenuhi semua kebutuhannya.
"Ah pasti banyak." Gumam Bella membuat Daniel dan Lucas menoleh bersama.
"Apa yang banyak sayang?" Bella tersenyum aneh ke arah Daniel seraya meletakannya ponselnya.
"Banyak nyamuk Kak." Jawab Bella asal.
"Sebaiknya kamu ke ruang tengah saja. Di sana ada obat nyamuk elektrik nya."
"Tidak mau." Lucas merasa sungkan dan mengakhiri pembicaraannya.
"Besok pengumumannya langsung saya tempelkan Tuan."
"Iya Kak. Itu harus, wajib!!" Sahut Bella menimpali.
"Siap Nona. Permisi." Lucas mengangguk sebentar kemudian melangkah pergi. Daniel membereskan berkasnya dan menggeser tubuhnya mendekati Bella.
"Harus habis ya." Ucapnya seraya memeriksa berkas yang ada di tangannya.
"Makan buah membuat perutku tidak nyaman Kak."
"Itu saran dari dokter sayang. Em sebentar, aku memeriksa laporan ini." Jawab Daniel berharap Bella diam sebentar untuk memberikannya waktu.
"Aku takut perutku sakit." Bella tidak mendengarkan ucapan Daniel yang terlontar terakhir kali.
"Sebelum makan buah, makan nasi jadi tidak akan sakit."
"Meskipun sudah makan nasi, tapi kalau buahnya sebanyak ini ya kembung Kak." Daniel tersenyum kemudian menutup berkasnya pelan. Rasanya Bella tidak memahami jika dia membutuhkan sedikit waktu untuk meneliti laporan tersebut.
Daniel meletakkan berkasnya di atas meja dan memutar tubuhnya ke arah Bella yang masih memakan potongan buah. Bella tentu merasa aneh dengan sikap Daniel, sehingga matanya membulat membalas tatapan hangat tersebut.
"Sudah selesai memeriksa?" Tanya Bella pelan.
"Kamu sudah lebih baik?" Bella mengangguk.
"Antar aku untuk membeli beberapa jas." Daniel berdiri, meraih berkasnya dan mengulurkan tangannya ke arah Bella.
"Aku malas keluar." Jawab Bella tidak menyambut uluran tangan Daniel.
"Aku tidak mau pergi sendiri."
"Katanya angin malam tidak bagus."
"Nanti ku hangatkan." Bella menarik nafas panjang mendengarnya. Tangannya meraih uluran tangan Daniel setelah mengantongi ponselnya.
"Memangnya tidak punya jas Kak?" Celoteh Bella berjalan beriringan menuju kamar untuk berganti baju.
"Kalau punya, aku tidak akan beli sayang. Besok kita cari apartemen untuk tinggal, sementara rumah ini akan ku renovasi." Bella melongok dan terpaku, seraya melihat Daniel yang sedang memilihkan baju hangat untuknya.
"Secepat itu Kak?" Tanya Bella terbata.
"Dalam hitungan menit, perusahaan itu sudah bisa menghasilkan milyaran rupiah dan langsung terkirim ke rekeningku."
"Serius!!" Bella begitu antusias hingga senyumnya terlihat merekah.
"Hm. Itu hal yang wajar sayang. Pakai ini saja. bajunya tidak perlu di lepas, agar kamu tetap hangat." Daniel memberikan sebuah jaket dan celana untuk Bella.
"Wah itu jumlah yang banyak sekali." Lagi lagi Bella tidak mendengarkan perintah Daniel sehingga membuat Daniel memakaikan jaket tersebut pada Bella.
"Memangnya kamu tidak tahu berapa jumlah gaji Bastian dulunya." Dengan telaten, Daniel memakaikan jaket tersebut sementara Bella masih asik memikirkan pembahasannya.
"Tidak tahu Kak."
__ADS_1
"Ya sudah tidak perlu di bahas. Apa ini juga ku pakaikan." Daniel mengangkat celana panjang yang di bawanya.
"Biar aku." Bella meraihnya lalu memakainya. Daniel tersenyum dan menaikan resleting jaket yang Bella kenakan sekarang.
"Hm ayo."
"Eh tunggu." Bella membuka laci namun tidak menemukan masker di sana." Habis Kak?" Tanyanya menatap Daniel.
"Masker?"
"Iya."
"Aku lupa membelinya."
"Jadi keluar tanpa masker dong." Jawab Bella lemah, seolah tidak rela. Melihat ketampanan suaminya di nikmati sembarangan wanita di luaran sana.
"Aku berjanji tidak akan melirik apalagi melihat. Ayo, takut kemalaman nantinya." Bella menurut saja meski sesekali maniknya melihat Daniel dari samping.
.
.
.
Setibanya di butik, keduanya turun lalu melangkah masuk dan di sambut hangat oleh pegawai yang ada di sana.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan." Tanyanya ramah.
"Saya mencari jas." Segera saja si pegawai mengiring Daniel untuk memilih jas yang tergantung di sana." Apa di sini juga menyediakan baju pengantin untuk pernikahan?" Bella menoleh mendengar pembicaraan Daniel.
"Di butik cabang kami ada Tuan. Sebentar." Pegawai itu pergi dengan membawa jas pilihan Daniel.
"Menikah Kak?" Tanya Bella.
"Hm... Joy hanya di sini satu bulan. Nona Nara menginginkan datang ke pesta pernikahan kita."
"Bagaimana dengan sekolahku?"
"Kamu tenang saja sayang, asal tidak mengudang teman sekelasmu. Mereka tidak akan tahu."
"Hmm.. " Bella mengangguk tanda setuju.
Bukankah ini yang ku inginkan. Biar saja aku di keluarkan dari sekolah nantinya. Aku lebih takut kehilangan Kak Daniel daripada ijazah itu..
"Jika Tuan berminat, bisa menghubungi nomer ini. Di sana sudah ada paket lengkap untuk persiapan pernikahan. Dari gedung, catering, bahkan hiburan.Tuan bisa memilih paketnya sendiri." Daniel mengambil kartu nama tersebut lalu membacanya.
"Baik. Berapa totalnya."
"Silahkan ke kasir Tuan." Setelah menyelesaikan pembayaran, keduanya keluar dari butik tersebut dan kembali masuk ke dalam mobil.
Craaaaaasssshhhhh...
Tanpa di duga, hujan pun turun. Daniel melajukan mobilnya pelan namun hujan terlalu lebat sehingga Daniel mencari tempat persinggahan untuk sekalian makan malam.
"Ramai sekali Kak."
"Kita makan di mobil saja. Kamu tunggu di sini, biar ku pesankan."
"Nanti Kak Daniel basah. Tunggu hujannya sedikit redah." Pinta Bella memegang lengan Daniel dengan kedua tangannya.
"Oke Baby." Bella tersenyum ketika mendengar permintaannya di kabulkan." Seharusnya tadi membawa payung untuk berjaga-jaga." Gumam Daniel memperhatikan air yang mengalir di kaca depan mobilnya.
"Jika langsung pulang Kak?"
"Terlalu lebat sayang. Jalannya berkabut dan itu membahayakan." Bella memejamkan mata seraya menutup telinganya ketika sekelebat cahaya petir melintas.
"Ahh! Aku takut!!" Pekik Bella pindah ke Joy belakang secepat kilat. Daniel bahkan tidak tahu bagaimana caranya Bella bisa pindah secepat itu.
JEEEDAAAAAAARRRRRRR!!!
Gemuruh petir terdengar, Bella membulatkan matanya sementara Daniel tengah melihat ke arahnya.
"Takut petir?" Tanya Daniel memutar tubuhnya menghadap ke arah Bella yang tengah meringkuk.
"Ya jelas takut Kak." Daniel membuka mobil, lalu pindah duduk di samping Bella karena dia tidak cukup kecil untuk pindah ke jok belakang tanpa keluar." Kak Daniel jadi basah kan, kenapa ikut ke sini." Protes Bella duduk tegak dan mengusap rambut Daniel yang basah.
JEEEDAAAAAAARRRRRRR!!!!
"Agh!! Aku mohon Tuhan! Deras tidak apa! Asal jangan ada petir!!!" Runtuk Bella kembali menutup kedua telinganya.
"Memangnya bisa berprotes seperti itu?" Sahut Daniel terkekeh melihat wajah konyol Bella sekarang.
"Tuhan kan maha mendengar jadi pasti bisa."
"Hm.. Cukup masuk akal." Jawab Daniel mengangguk-angguk." Sini sayang." Daniel memindahkan kantung jasnya dan menarik tubuh Bella lembut lalu mendekapnya." Lalu, apalagi yang kamu takuti?" Tanya Daniel ingin tahu.
"Hantu, petir dan..." Ucap Bella tertahan. Dia merasa malu, karena dulunya ucapan itu berlaku untuk Bastian, keluarga satu-satunya.
"Dan apa?"
"Kamu Kak."
Bluuuss...
Wajah Bella memerah, seiring dengan tangan kecil yang mulai membalas dekapan tangan Daniel.
"Kalau Kak Daniel?"
"Dulu aku mempunyai tiga ketakutan, tapi sekarang tersisa dua karena Mama sudah tidak ada."
"Apa itu berarti."
"Hmm ya. Aku takut kehilanganmu juga Ayah." Jawab Daniel seraya mengecup puncak kepalanya dan menghirupnya kuat.
Cara Daniel benar-benar ampuh, dengan mengobrol seperti sekarang, membuat ketakutan Bella menghilang meski bunyi petir masih terdengar.
"Sudah sedikit redah sayang. Ku belikan ya, kamu tunggu di sini." Bella tidak langsung menjawab, dia memperhatikan resto yang terdapat banyak muda mudi sedang menghabiskan waktu dengan makan dan bercengkerama.
"Beli bakso saja Kak." Tolak Bella beralasan, dia kembali menatap Daniel dan tidak rela jika harus melihat Daniel jadi pusat perhatian." Atau masak sendiri." Imbuhnya pelan.
"Oke." Jawab Daniel tidak banyak berprotes. Dia keluar mobil lalu masuk kembali dan melihat Bella sudah beralih ke jok depan. Daniel sempat tersenyum dan menyadari jika tubuh Bella begitu kecil meski cukup berisi." Bagaimana rasanya punya tubuh sekecil itu." Imbuh Daniel mulai melajukan mobilnya.
"Ringan dan bisa masuk ke selah terkecil." Daniel terkekeh begitupun Bella yang tengah tersenyum.
"Kita beli bakso di mana sayang?"
"Terserah Kak, asal jangan ramai dan pembelinya harus tua-tua." Gelak tawa semakin terdengar keluar dari bibir Daniel. Dia menjadi tahu dengan penolakan Bella yang biasanya tidak pernah rewel dengan makanan." Jangan lupa besok beli masker Kak." Imbuhnya melirik Daniel dengan malas.
"Iya besok aku akan beli. Terus, ini beli di mana sayang?" Tanya Daniel masih sesekali tertawa kecil.
"Pulang saja! Kak Daniel selalu meledekku seperti itu. Mirip sekali."
"Itu menghibur sekali sayang. Aku bukan menertawakan mu tapi ucapan mu terdengar begitu mengemaskan." Daniel meraih jemari kecil Bella dan menggenggamnya.
"Aku tidak sedang bercanda Kak."
"Oke maaf." Daniel langsung menghentikan gelak tawanya.
"Maaf terus. Lalu maaf lagi."
"Memang salah jadi harus minta maaf."
"Ya terserah Kak Daniel saja."
"Semua terserah padamu sayang. Besok kita ke butik untuk lihat-lihat baju pengantin ya." Bella duduk tegak karena merasa antusias. Dia baru mengingat rencana Daniel untuk melangsungkan pesta pernikahan dalam waktu dekat.
Bersambung....
~Riane
Benar-benar tidak ada konflik ya teman-teman..
__ADS_1
Semoga tidak membosankan ðŸ˜
Terimakasih dukungannya 🥰🥰