
"Ini iritasi Tuan, jika tidak segera di obati akan semakin parah." Ucap dokter menuturkan. Bella turun dari ranjang lalu duduk di samping Daniel yang tengah mendengarkan keterangan dokter.
"Penyebabnya Dok?"
"Mungkin baju yang Nona kenakan tidak nyaman." Bella menarik nafas panjang karena membenarkan itu. Dia memang jarang membeli baju. Namun, ketika membeli baju, dia selalu teliti dan tidak pernah sembarangan." Ini resep obat yang harus di tebus." Dokter menyodorkan secarik kertas resep." Saya sarankan untuk memakai baju longgar yang nyaman agar bercak merahnya cepat menghilang." Daniel mengambil kertas resep lalu berdiri.
"Terimakasih Dok, permisi."
"Sama-sama."
Setelah keluar dari ruangan dokter. Daniel segera menuju apotik untuk membeli obat. Bella sejak tadi diam, tidak bergeming karena merasa bersalah. Iritasi seperti ini sudah pernah terjadi, sehingga seharusnya dia lebih berhati-hati.
"Kita beli baju dulu." Ucap Daniel seraya melajukan mobilnya keluar dari area rumah sakit.
"Maaf Kak." Jawab Bella lirih.
"Maaf untuk apa?"
"Seharusnya aku tidak membeli baju di sana sehingga harus membuang uang untuk pergi ke Dokter." Daniel tersenyum mendengar itu. Dia memang tengah kesulitan tapi baginya, kebutuhan Bella adalah tanggung jawabnya.
"Aku tahu kamu berniat baik sayang, tidak perlu minta maaf. Biasanya kamu beli baju di mana?"
"Aku pakai bajumu saja Kak." Daniel terkekeh mendengar jawaban dari Bella." Aku serius. Tapi selalu di tertawakan seperti itu." Imbuh Bella bergumam.
"Sudah ku katakan jika aku masih mampu jika membelikan baju saja."
"Uang dari Pak Ahmad ku tinggalkan di rumah."
"Pakai uangku saja. Itu untuk jajan."
"Hmm..." seharusnya bukan hanya baju tapi bra dan celanaku juga perlu di ganti. Aku akan bertahan sampai besok..
.
.
.
Daniel memarkir mobilnya di salah satu Plaza yang ada di kota tersebut. Sebelum turun, tidak lupa dia mengenakan masker untuk mengantisipasi kekhawatirannya tentang Marco dan Fanny.
"Ini terakhir kali aku melihatmu memakai celana pendek itu." Protes Daniel tidak menyukai pandangan sekitar. Dia merasa jika banyak mata lelaki yang melihat ke bagian paha Bella yang terbuka.
"Tidak menarik Kak." Celetuk Bella berprotes.
"Apa yang tidak menarik?"
"Pahaku." Daniel menarik nafas panjang seraya mengeratkan genggamannya.
"Banyak yang melihatnya sayang, bagaimana mungkin tidak menarik. Apa kamu sering memakai celana semacam ini?" Bella menggeleng pelan. Semua celana pendeknya hanya sebatas di bawah lutut, sementara yang di pakai sekarang jauh di atas lutut." Tapi aku merasa kamu terbiasa memakai itu?" Imbuh Daniel lemah.
"Bukan terbiasa, tapi terpaksa." Jawab Bella lirih." Apa aku harus menutupinya seperti ini?" Bella meletakkan tangan kirinya di depan bagian bawah tubuhnya." Bukankah semakin aneh!" Daniel tersenyum dan membenarkan itu.
"Aku hanya tidak rela jika banyak orang melihat milikku seperti itu." Wajah Bella memerah, mendengar suara lembut Daniel berkata jika dia adalah miliknya.
__ADS_1
Aku ingin tahu, sejauh apa kesabaran Kak Daniel hehe .. Dia suamiku, astaga.... Rasanya seperti mimpi, memiliki suami secepat ini bahkan sesuai kriteria.
Keduanya masuk di sebuah toko baju terdekat, untuk mempersingkat waktu agar tidak terlalu malam pulangnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pegawai ramah.
"Dress untuk istri saya." Jawab Daniel tersenyum di balik masker.
"Celana saja Kak." Protes Bella.
"Dress lebih bagus untuk seorang wanita."
"Aku masih gadis." Pegawai yang mendengar itupun sempat tersenyum mendengar perdebatan keduanya. Dia memperkirakan jika pasangan yang sedang di layani bukankah suami istri.
Anak zaman sekarang, masih pacaran saja bilangnya suami istri..
"Tapi biasakan memakai dress, itu bagus untuk kesehatan."
"Kesehatanmu Kak." Runtuk Bella membuat Daniel terkekeh.
"Kenapa aku?" Tanya Daniel kebingungan.
"Kalau memakai dress akan mudah melayang jika terkena angin. Pokoknya aku mau celana saja." Protes Bella menolak.
"Ya sudah sayang. Aku hanya senang melihat seorang wanita mengenakan dress. Itu terlihat sangat cantik." Bella terdiam sejenak mendengar alasan yang Daniel ucapkan." Em maaf. Tidak jadi dress, tolong carikan atasan dan bawahan saja." Imbuh Daniel mengubah pilihannya.
"Baik sebelah sini."
"Katanya tidak suka?"
"Cepatlah, sebelum aku berganti fikiran." Bella meraih pergelangan tangan Daniel lalu mengiringinya ke gantungan dress yang terletak tidak jauh dari sana. meskipun aku hampir tidak pernah memakai dress tapi ya sudah. Paling tidak, aku bisa membuatnya senang dengan hal sederhana ini..
"Pilih sayang." Bella mengambil satu lalu menunjukkannya pada Daniel.
"Ini Kak." Sahut Bella cepat.
"Jangan asal memilih."
"Aku tidak mengerti tentang dress seperti ini. Jadi terserah saja Kak, asal bisa di pakai." Daniel tersenyum dan mengetahui fakta jika gadis kecil di sampingnya selalu berfikir dengan ringan.
"Pakai ini di rumah." Daniel menunjukkan sebuah dress tanpa lengan yang begitu minim.
"Ini?"Daniel mengangguk dan tersenyum sebab dia memang sengaja menggoda Bella." Ah buruk sekali Kak. Itu akan membahayakan untuk kita." Daniel terkekeh dengan tangan terangkat seraya mengusap puncak kepala Bella lembut. Maskernya sedikit di turunkan untuk menyeka air mata bahagia yang keluar dari sudut mata Daniel. Hal itu membuat pegawai toko baju melihat dengan jelas bagaimana tampannya wajah Daniel sekarang.
Astaga Tuhan... Tampan sekali.. Puji si pegawai dari dalam hati.
"Pakai ini sekarang." Daniel kembali memakai maskernya lalu mengambil satu dress warna biru berlengan bawah lutut.
"Hm iya." Tanpa pikir panjang, Bella mengambil dress pilihan Daniel lalu masuk ke dalam ruang ganti.
Pegawai toko yang terkesima, masih melihat sosok Daniel dari samping sedang menunggu Bella berganti baju.
Pantas saja dia mau di sebut istri. Lelaki itu tampan sekali dan sudah pasti jika gadis itu mau melakukan gaya pacaran selayaknya suami istri..
__ADS_1
Pegawai itu hanya menebak tentang sudut pandang dirinya sendiri tanpa tahu kenyataannya jika Bella dan Daniel memanglah sepasang suami istri.
"Lihatlah Kak." Ucap Bella memperlihatkan dress yang di pakai." Aku merasa aneh memakainya." Imbuh Bella memainkan bawah dress. Daniel menghampirinya dan memberi isyarat Bella untuk berhenti melakukannya.
"Sangat cantik. Tapi tangannya tidak boleh begini." Daniel menurunkan kedua tangan Bella yang tidak sengaja tengah menyikap dress tersebut.
"Itu kenapa aku tidak menyukai dress. Dia akan terbuka ketika tertiup angin dan lagi, ini bukan gayaku." Bella tersenyum kikuk ketika menyadari jika Daniel tengah menatapnya fokus.
"Coba saja rambutmu lebih panjang sedikit, pasti terlihat sangat sempurna." Gumam Daniel semakin terkagum dengan gadis kecil di hadapannya.
Dress, rambut panjang. Aku tidak menyukai semua itu..
"Jangan di lihat jika tidak sempurna." Bella menutupi kedua mata Daniel dengan tangannya.
"Aku ingin melihatmu." Daniel menyingkirkan tangan Bella dari wajahnya.
"Rambutku tidak panjang."
"Aku hanya sekedar bicara sayang. Kamu cantik dan paling cantik. Kita pilih beberapa dress lalu makan dan pulang." Meski Daniel hanya berkata sekedar bicara, tapi nyatanya Bella memikirkannya.
Aku harus memanjangkan rambut. Sepertinya Kak Daniel suka wanita yang feminim...
"Makan di rumah saja Kak." Ucap Bella menolak saat Daniel berniat untuk mencari tempat makan.
Dia makan sangat sedikit tadi. Aku merasa dia memang tidak berselera makan masakannya sendiri...
"Kita makan di sana sayang." Ajak Daniel menunjuk ke salah satu restoran terdekat.
"Aku tidak menyukai tempat seperti itu. Porsi nasinya sedikit." Jawab Bella mencari alasan.
"Bukankah makanmu memang sedikit?" Bella tersenyum dan memperlihatkan giginya yang rata." Apalagi alasannya?" Imbuh Daniel membalas senyuman Bella seraya mengusap lembut pipinya sebentar. Hingga sebuah sapaan membuat keduanya menoleh.
"Bella.." Sapa Fransisca dan Elena yang kebetulan akan pulang dari perawatan. Bella menarik nafas panjang seraya meliriknya malas. Sementara Sisca dan Elena fokus menatap Daniel yang memiliki postur tubuh sangat tinggi." Apa dia?" Imbuh Sisca berbisik.
"Wajahnya tertutup masker, aku tidak tahu." Jawab Elena pelan.
"Ada perlu?" Tanya Bella seraya memberi isyarat Daniel untuk diam.
"Hanya ingin menyapa. Em dia Kakakmu?" Bella semakin muak melihat wajah Sisca yang kini terlihat di buat-buat.
"Sejak kapan kau mengurus hidupku?"
"Astaga. Aku hanya bertanya, kau kaku sekali sih." Jawab Sisca memperlihatkan senyum indahnya." Serius. Aku ingin tahu, dia siapa?" Menunjuk Daniel.
"Suamiku! Puas!! Cih!!" Umpat Bella menarik lengan Daniel dengan kedua tangannya lalu mengiringinya pergi menjauh dari Sisca dan Elena.
"Segitu saja sombongnya minta ampun!!" Runtuk Sisca berfikir jika apa yang di katakan Bella hanyalah candaan.
"Sepertinya lelaki yang sama. Tinggi sekali dan berotot." Tutur Elena menimpali.
"Aku yakin lelaki itu saudaranya! Sangat tidak mungkin seorang Bella memegang lengan lelaki. Kau tahu sendiri kan bagaimana angkuhnya dia." Elena mengangguk dan membenarkan ucapan tersebut." Kita pulang. Besok saja kita cari tahu." Elena hanya mengangguk dan mengikuti langkah Sisca.
~Riane
__ADS_1