Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 22


__ADS_3

Bella menatap fokus, pada Daniel yang tengah menata tempat tidur untuk mereka berdua. Ketegangan luar biasa kini menjalar pada sekujur tubuh Bella seolah Daniel memintanya untuk melakukan malam pertama.


Aku bahkan tidak pernah tidur berdua sekalipun bersama Kak Bastian..


Tarikan nafas berhembus berkali-kali, apalagi kini Daniel sudah selesai menata dan tengah berdiri di hadapannya.


"Sudah siap sayang."


"Iya Kak." Bella duduk perlahan di pinggiran tempat tidur. Daniel kembali memperlihatkan senyumnya lalu berjalan menuju ke sisi ranjang lainnya. Dia segera duduk dan berbaring seraya menatap Bella yang belum juga bergerak.


"Masih takut dan tidak percaya?" Bella menoleh lalu tersenyum aneh. Seharusnya dia tidak lagi khawatir karena sebelum ini, Daniel sudah berjanji untuk tidak berbuat macam-macam.


Jika mungkin ranjangnya sedikit lebar tidak akan jadi masalah.. Ini ranjang berukuran standar dan aku takut khilaf nanti... Perlahan, Bella menaikkan kakinya lalu berbaring dengan gerakan kaku.


Daniel memiringkan tubuhnya dan malah menatap Bella dari samping. Rasa bahagia yang di rasakan sungguh tidak sanggup di ibaratkan dengan kata-kata. Dia sangat bahagia, melihat Bella bisa berbaring di sampingnya dan dia menginginkan itu terjadi sepanjang waktu.


Jika melihatnya seperti ini.. Beban beratku menghilang seketika.. Aku tidak mengerti jika cinta seajaib ini.. Aku tidak masalah jika harus hidup kesulitan asal dia berada di sisiku.. Tunggu aku bangkit lagi sayang, setelah itu terjadi. Aku akan memberikan yang terbaik hanya untukmu..


"Masih tidak bisa tidur?" Tanya Daniel lagi.


"Nanti akan tidur sendiri Kak."


"Aku besok sudah mulai datang ke gudang jadi jika aku terlambat menjemput, tunggu aku sampai datang." Tutur Daniel menjelaskan.


"Aku bisa pulang bersama Erin dan Sari."


"Tidak sayang."


"Aku berjanji akan langsung pulang."


"Sudah ku bilang jika aturannya akan berbeda. Tunggu aku menjemputmu."


"Hm iya.." Tubuh Bella masih tetap pada posisi yang sama. Menatap lurus dengan kedua tangan menutupi tubuhnya.


"Aku sangat lelah hari ini. Sebaiknya kamu cepat tidur, agar aku juga bisa tidur." Pinta Daniel sesekali menguap.


"Jangan tidur dulu Kak." Jawab Bella seraya menoleh lalu kembali berpaling ketika melihat wajah Daniel terlihat semakin tampan.


"Maka dari itu tidurlah.. Aku akan menunggu hingga kamu tidur." Bella memejamkan mata dan berusaha untuk tidur namun rasanya sulit karena dia merasa berada di tempat asing. Daniel tersenyum lalu mengangkat tangan kanannya dan meraih jemari kiri Bella lalu menggenggamnya. "Jangan berprasangka buruk. Aku ingin kamu merasa nyaman agar kamu cepat tidur." Bella terdiam dan tidak berkomentar. Merasakan detak jantung yang semakin berpacu meski tidak dapat di pungkiri jika genggaman hangat tangan Daniel menenangkan perasaannya.


Dia suamiku bukan orang lain.. Dia suamiku bukan orang lain.. Bella berusaha menyakinkan hatinya jika seseorang yang di sampingnya adalah suaminya yang memang seharusnya tidur di sampingnya. Lalu perlahan kantuk mulai menyerang, mata bulatnya perlahan menyipit masih menatap fokus ke langit-langit kamar.


Daniel sendiri sengaja diam, agar Bella cepat mendapatkan kantuknya dan bisa beristirahat cepat. Beberapa menit berlalu, terdengar dengkuran halus keluar dari bibir Bella.


Perlahan, dari beranjak untuk memastikan jika Bella benar-benar tidur dengan cara mengusap lembut dahinya seraya menyingkirkan anak rambut yang menutupinya.


Daniel memperhatikan setiap inci wajah Bella, tersenyum sendiri tanpa berkata-kata dan bersuara. Menikmati deru nafas Bella yang berhembus mengenai wajahnya.


Aku merasa kamu sangat cantik sayang...


Daniel cepat-cepat menutup mulutnya ketika dia akan menguap. Dia takut membangunkan Bella dan menganggu waktu tidurnya. Tiba-tiba, Bella memiringkan tubuhnya hingga kepalanya membentur dada bidangnya. Daniel mengecup kening Bella sebentar dan perlahan memundurkan tubuhnya. Dia kembali berbaring dengan posisi berlawanan sehingga keduanya saling menghadap.


Goodnight Baby...


Daniel mulai memejamkan mata dengan perasaan damai. Rasanya begitu cepat hingga dia menganggap jika semuanya hanyalah mimpi. Memiliki teman hidup dalam waktu singkat tanpa perkenalan membuat Daniel membenarkan ucapan jika jodoh memang sudah di atur sedemikian indah oleh Tuhan.


.


.


.

__ADS_1



Entah pukul berapa Bella terjaga. Namun posisi keduanya sudah sangat tidak aman. Bella menoleh pelan dan melihat Daniel tertidur pulas tepat di sampingnya. Kepalanya bahkan sudah bertumpu pada bahu Daniel dengan tangan kanan melingkar pada perut ratanya.


Sepertinya masih malam... Bella tidak melawan dan membiarkan semuanya pada posisi yang sama. Tangannya kembali menutup bagian depan tubuhnya dengan raut wajah tegang menatap langit-langit kamar. Perlahan, kepalanya menoleh ke arah Daniel berharap rasa takutnya akan hilang agar dia kembali bisa tidur.


Nafasnya berhembus berat, memandangi wajah tampan Daniel dan membuat senyumnya membingkai di wajahnya.


Sudah ku katakan, jika dia lebih tampan dari teman sekelas ku.. Aku merasa sangat beruntung... Perlahan, Bella memiringkan tubuhnya. Dia ingin menghilangkan rasa takutnya dengan memandang fokus ke Daniel. Itu terbukti ampuh, sebab mata Bella kembali mulai meredup dan kembali melanjutkan tidurnya.


.


.


.


.


Keesokan harinya..


Terhirup aroma kopi menyeruak masuk ke hidung Bella sebab Daniel sudah duduk di ambang jendela dengan kopi di tangannya. Sesekali, pandangannya beralih pada Bella yang terlihat masih tidur, meski bau kopi memenuhi kamar berukuran kecil itu.


Pagi ini begitu indah.. Daniel mengingat, saat tadi membuka mata, wajah Bella berada di dekatnya dengan posisi tangan yang saling memeluk. Sampai kapan dia akan tidur seperti itu? Aku juga tidak tega membangunkannya..


Mata Bella menyipit menatap sekitar, nyawanya belum sepenuhnya kembali sehingga dia merasa asing dengan tempat tidurnya sekarang.


"Sudah pukul delapan sayang.." Sapa daniel sehingga Bella langsung terduduk seraya membulatkan matanya.


"Jam berapa Kak?"


"Delapan."


"Serius?!!" Bella menyikap selimut lalu berdiri dan meraih ponsel Daniel yang tergeletak. Keningnya berkerut, ketika layar ponsel memperlihatkan pukul 08:05." Kenapa aku tidak di bangunkan." Protes Bella kesal.


"Peringkat ku akan turun jika terlalu banyak membolos."


"Aku sudah menyuruh temanmu untuk mengizinkan kamu membolos satu hari lagi." Daniel mengusap lembut rambut Bella dan mengecup puncak kepalanya sejenak.


"Jadi mereka ke sini tadi?" Tanya Bella seraya memundurkan tubuhnya sedikit.


"Iya ke sini." Daniel melangkah maju." Kamu juga masih berkabung jadi mungkin tidak masalah." Bella kembali mundur karena posisi yang tidak aman namun tangan Daniel meraih pinggangnya dan merapatkannya pada tubuhnya.


"Kak Daniel sedang apa." Bella berusaha mendorong tubuh Daniel meski dia tidak bersungguh-sungguh melakukan. Jika dia berniat, mungkin dengan mudah dia akan terlepas dari dekapan Daniel.


"Pagi ini aku semakin mencintaimu.." Telinga Bella yang tepat berada di dada bidangnya, membuatnya mendengar dengan jelas detak jantung Daniel yang tidak beraturan.


"Aku mau mandi."


"Sebentar, tanganmu jangan seperti ini." Daniel menggiring tangan Bella untuk membalas pelukannya.


"Kak.."


"Sebentar sayang." Mata Daniel terpejam dengan bibir tersungging merasakan getaran hebat pada hatinya yang membuatnya begitu nyaman." Aku tahu ini akan sulit, tapi aku benar-benar ingin membahagiakanmu." Mata Bella melebar dan sedikit mendongak ke atas, memperhatikan wajah Daniel yang masih memejamkan matanya.


"Sulit apa?" Tanya Bella pelan.


"Aku belum bisa memberikan kehidupan yang layak."


"Kak Daniel bilang apa?" Daniel merenggangkan pelukannya sehingga keduanya manik mereka bertemu.


"Aku serius. Aku sedang mengalami masa sulit sayang."

__ADS_1


"Aku tidak akan meminta macam-macam." Bella akan berpaling namun Daniel dengan cepat menelungkup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku hanya bisa memberikan kehidupan yang sangat sederhana." Daniel begitu takut jika Bella akan meninggalkannya nanti sehingga dia ingin memberi pengertian pada Bella seperti sekarang.


"Ya sudah." Tangan Bella terangkat dan akan menyingkirkan tangan Daniel namun Daniel belum ingin melepaskannya." Aku tidak apa Kak." Imbuh Bella menyakinkan agar Daniel segera melepaskannya.


"Kamu belum mengerti maksudku."


"Aku mengerti. Aku tidak boleh meminta macam-macam kan?"


"Tidak sayang. Kamu boleh memintanya tapi, jika aku tidak bisa mewujudkannya, jangan pernah marah padaku." Tangan kanan Daniel terangkat lalu pipi Bella berulang-ulang.


"Aku bukan anak kecil yang hobi meminta." Daniel tersenyum dan matanya kembali tidak terlihat sehingga Bella ikut tersenyum.


"Bagiku kamu memang masih kecil."


"Hm memang." Bella menyingkirkan tangan Daniel dari wajahnya.


"Aku akan berusaha mewujudkan permintaanmu semampuku." Tangan Daniel kembali terangkat dan mengusap pipi Bella.


"Kenapa melakukan ini." Bella menyingkirkan tangan Daniel lagi, namun kini jemari Bella malah terkunci karena genggaman tangan kekar Daniel.


"Tidak apa. Aku hanya ingin memandangmu sedikit lama." Wajah Bella memerah, dengan jantung berpacu semakin cepat, merasakan tatapan mata Daniel yang menusuk lembut hatinya.


"Egh Kak jangan begini." Pinta Bella lirih. Dia mulai membaca raut wajah Daniel yang mulai nakal.


"Kamu pernah berciuman?" Bella menggeleng dan mencoba melepaskan kedua tangannya yang terkunci." Aku juga tidak." Dengan gerakan cepat, Daniel melepaskan genggaman tangan kanannya dan mengangkat dagu Bella lalu menempelkan bibirnya pada bibir Bella.


Daniel membuka bibirnya sedikit meski bibir Bella masih tertutup rapat. Tangan kirinya perlahan melepaskan genggamannya dan beralih pada punggung Bella lalu menekannya lembut sehingga tubuh keduanya merapat.


"Aku sangat ingin melakukan ini sekarang.. Tapi jika kamu tidak mau aku akan berhenti." Ucap Daniel dengan bibir yang masih menempel. Sesekali matanya terpejam, merasakan sensasi ciuman pertamanya walaupun Bella masih menutup bibirnya.


"Berciuman.." Tanya Bella lirih. Dia merasakan hal yang sama, menikmati deru nafas Daniel yang menerpa wajahnya lembut.


"Iya sayang.." Bella mengangguk pelan. Daniel tersenyum sesaat kemudian mulai mencium lembut bibir Bella." Buka bibirmu, biarkan aku masuk." Bella yang awalnya menutup rapat bibirnya, perlahan membukanya sehingga Daniel mulai memperdalam ciumannya.


Bella yang baru merasakannya sekarang, langsung terbawa suasana sehingga kedua tangannya menggalung lembut pada leher Daniel.


Ahh Tuhan ini manis sekali.. Saat hasrat Daniel semakin memanas, dia menyudahi ciumannya dengan kecupan singkat.


Kenapa berhenti Kak.. Jika seperti ini, rasanya aku tidak ingin kuliah.. Bella masih mengatur nafasnya yang mulai memburu dengan kedua tangan yang masih melingkar pada leher Daniel.


"Terimakasih.." Ucap Daniel mengusap pinggiran bibir Bella yang basah.


"Iya Kak." Bella menurunkan kedua tangannya perlahan. Dia menginginkan sesuatu yang lebih begitupun Daniel.


"Aku akan menahan itu hingga kamu lulus." Daniel kembali memperlihatkan mata sipitnya." Sekarang kamu mandi dan kita ke sekolah."


"Sekolah?"


"Hm,, membeli seragam baru untukmu agar besok kamu bisa masuk."


"Aku punya dari Sari kemarin."


"Tidak sayang. Kalau hanya seragam, aku masih mampu membelinya."


"Jadi aku mandi?"


"Iya mandi." Bella masih merasa malu jika dia harus bicara jujur soal ketakutannya." Ku antarkan. Oke." Seolah tahu, Daniel langsung menawarkan diri untuk mengantarkannya.


"Iya Kak." Dengan manja, Bella meraih lengan Daniel dan menggiringku keluar kamar.

__ADS_1


Ahh.. Semoga aku benar-benar bisa menahan hasratku hingga dia lulus kuliah...


~Riane


__ADS_2