
Daniel meraih tisu, lalu tersenyum seraya membersihkan bibir Bella yang terkena noda saus. Bella menoleh dan kini manik keduanya bertemu, saling melempar senyuman.
Seolah dunianya beralih sesaat, Bella mendadak tidak mendengar suara sekitar dengan tatapan yang hanya terfokus pada senyuman khas Daniel.
"Bella.." Suara sapaan Kenan membuat Bella tersadar. Dia menoleh cepat ke arah Erin dan Sari dengan wajah gugup.
"Apa yang kalian lihat!" Tanya Bella benar-benar tidak ingin temannya mengetahui jika dia memiliki hubungan spesial dengan Daniel.
"Tatapan kalian sungguh hangat." Jawab Erin tertawa kecil bersama Sari.
"Hangat apa?" Daniel tersenyum dan mulai mengaduk mie ayamnya.
"Astaga ternyata benar kamu." Sapa Kenan yang baru saja sampai setelah teriakannya di lantai dua.
Tak!!
Bella meletakkan sumpitnya kasar, selera makannya hilang ketika mendengar suara Kenan yang menurutnya sangat membosankan. Sejak dia menjadi siswi baru di sekolah tersebut, Kenan selalu saja menganggunya setiap hari tanpa libur.
"Katanya rumahmu kebakaran." Tanya Kenan. Bella mengambil teh manis di hadapannya lalu meminumnya habis. Sementara Erin dan Sari tidak berkomentar sebab tahu akan apa yang terjadi selanjutnya.
"Lalu!" Jawab Bella ketus.
"Jika perlu sesuatu, bilang padaku." Tawar Kenan. Daniel menarik nafas panjang, dia tidak bisa berkata apapun mengingat masih berada di lingkungan sekolah.
"Kau tahu yang ku perlukan?" Tutur Bella menekan kata-katanya.
"Apa? Aku siap membantu."
"Yang ku perlukan hanya tidak ingin melihat wajahmu sepanjang waktu!! Aku harus pulang, kita lanjutkan obrolannya di rumah. Ayo Kak." Bella melangkah pergi sementara Daniel masih berdiri di tempat yang sama. Melihat lurus ke Kenan dengan tatapan menusuk.
Saat Kenan akan berjalan mengikuti Bella, tangan kanan Daniel menarik belakang seragam sekolahnya.
"Biar ku rajuk dia untuk kembali." Ucap Kenan tidak juga mengerti jika lelaki di hadapannya tidak menyukai sikapnya.
Daniel menggiring Kenan lalu menekan pundaknya untuk kembali duduk. Tekanan yang lembut namun cukup membuat pundak Kenan terasa nyeri.
"Aku tidak menyukai keributan. Tapi, aku selalu serius dengan ucapan ku." Nada bicara Daniel terdengar lembut namun terasa sedikit menusuk. Sementara Erin dan Sari yang ada di hadapan keduanya hanya menatap tidak bergeming." Jangan menganggunya. Dia milikku." Daniel memperlihatkan senyumannya lalu mengangkat kedua tangannya dari pundak Kenan.
"Bella berkata kau Kakaknya, bagaimana mungkin kau bilang jika Bella milikmu."
"Sebaiknya kamu belajar yang rajin dan melakukan kewajiban selayaknya seorang pelajar." Daniel menepuk pundak Kenan hingga Kenan hampir terjungkal di meja." Terimakasih jamuannya. Temui Bella di rumah nanti." Daniel tersenyum sejenak, kemudian memakai maskernya dan melangkah pergi.
"Astaga sikap Kak Daniel terlihat cool." Tutur Erin bergumam.
"Iya. Benar-benar idaman.." Sahut Sari.
"Sebenarnya siapa Daniel?" Tanya Kenan seraya memijat kedua pundaknya terutama pundak sebelah kiri. Nyeri hebat di rasakan padahal Daniel hanya menyentuhnya dengan lembut.
"Tanya sendiri pada Bella. Kita tidak punya hak untuk berkata." Jawab Erin tidak ingin membuat Bella marah.
"Tinggal jawab saja apa susahnya."
"Memang susah. Dia sahabatku." Kenan mengacak-acak rambutnya seraya menatap punggung Daniel yang sudah berjalan menjauh.
"Aku merasa jika dia bukan Kakaknya..." Erin melirik malas ke arah Kenan sementara Sari terus saja makan.
"Itu kenapa Bella membencimu. Apa kau tidak tahu dengan ucapan cinta itu tidak bisa di paksakan."
__ADS_1
"Benci itu beda tipis dengan cinta. Bella akan segera ku dapatkan jika dia sudah sadar kalau aku terbaik untuknya." Kenan berdiri lalu beranjak pergi dengan masih memijat pundaknya.
"Bukankah Kenan semakin gila?" Umpat Erin mulai memakan sajian di hadapannya.
"Sejak dulu dia memang gila."
"Kau tidak penasaran dengan ucapan Kak Daniel tadi? Dia bilang Bella milikinya."
"Mungkin saja agar Kenan berhenti menganggunya." Erin mengangguk dan membenarkan ucapan asal dari Sari.
"Hm benar juga.."
**********
Fransisca dan Elena segera berlari keluar, saat ada beberapa orang temannya membicarakan Bella datang bersama lelaki dewasa yang tampan.
"Mana?" Tanya Sisca kasar.
"Tadi ada di situ."
"Hanya ada duo cupu." Sisca mencari keberadaan Bella yang mungkin masih berada di sekitar area sekolah.
"Mungkin sudah pergi." Sisca mendengus seraya menatap tajam siswi yang memberikannya informasi.
"Kau yakin jika lelaki itu sangat tampan? Karena selera tampan kita itu tentu berbeda." Siswi itu memasang wajah tidak suka mendengar ucapan sombong dari Sisca.
"Terserah. Aku sih bilang jika ketampanan lelaki yang bersama Bella tadi 100 persen sempurna. Dia mirip manequin berjalan."
"Mana mungkin! Bella itu tidak seberapa cantik. Dia tidak akan memiliki kenalan hingga ketampanannya sampai 100 persen!" Siswi itu menarik nafas panjang karena tahu jika ucapan Sisca akan selalu seperti itu.
"Dasar!!" Umpat Sisca menatap lagi ke arah kantin bersama Elena." Kapan anak itu akan kembali ke sekolah." Gumam Sisca.
"Mungkin lama. Kabarnya dia terkena musibah."
"Itu karena dia sudah berbuat buruk. Dia merebut Samuel dan Kenan dalam waktu bersamaan." Elena menghembuskan nafas berat. Sudah sejak dua hari yang lalu, Sisca selalu mengerutu dengan kata-kata yang sama.
"Mungkin." Jawab Elena singkat." Aku akan ke perpustakaan." Elena berjalan pergi meninggalkannya Sisca yang masih berusaha mencari keberadaan Bella.
***********
"Apa dia selalu menganggumu seperti itu?" Tanya Daniel lirih. Matanya fokus menyetir dengan perasaan cemburu.
"Hm.. Aku sampai bosan."
"Bisakah kamu menghindar? Aku tidak suka mendengar dia merayumu." Bella menoleh dan membaca raut wajah Daniel yang tidak biasa.
"Aku selalu menghindar, apalagi sekarang."
"Hm itu bagus. Aku baru tahu jika cemburu itu sangat menyakitkan." Bella menoleh seraya menertawakan Daniel yang tengah cemburu dengan anak SMA.
"Untuk apa cemburu dengan bocah ingusan seperti mereka." Terdengar tarikan nafas panjang berhembus, Daniel meraih jemari Bella lalu menggenggamnya erat.
"Bukankah kamu juga bocah?"
"Iya.." Bella mengangguk-angguk seraya tersenyum." Dan itu kenapa aku tidak suka bocah." Imbuh Bella pelan, merasakan degup jantung yang mulai berpacu cepat.
"Kamu memang hanya boleh menyukai Suamimu. Yaitu aku." Wajah Bella memerah karena memang itu yang akan di lakukannya nanti. Meskipun pernikahan mereka terpaksa, tapi dari awal bertemu Bella sudah tertarik dengan Daniel begitupun sebaliknya.
__ADS_1
Apa Kak Daniel tidak sadar, jika dia memang masuk tipeku..
"Jawab dulu." Pinta Daniel ternyata menuntut jawaban.
"Iya Kak."
"Aku mencintaimu.." Daniel mengangkat tangannya lalu menempelkan bibir hangatnya pada punggung tangan Bella.
"Harus fokus menyetir." Bella menarik tangannya agar hatinya tidak semakin bergejolak.
"Iya sayang. Apa masih jauh tempatnya?" Tanyanya kembali meraih jemari Bella.
"Setelah belokan."
"Hm oke." Daniel membelokkan mobilnya dan memarkirnya di depan toko baju yang cukup kecil. Bella beralasan sudah terbiasa berlangganan di sana. Padahal faktanya, Bella ingin membeli baju semurah mungkin asal bisa di pakai. Tujuannya tidak lain untuk meringankan beban Daniel yang memang sedang kesulitan.
Daniel mengerutkan keningnya, melihat bandrol harga yang terlihat begitu murah. Saat tangannya menyentuh kain pada baju tersebut. Terdengar hembusan nafas berat, dia bisa menebak jika baju itu tidak akan terasa nyaman jika di pakai.
"Sayang.."
"Hm Kak."
"Serius membeli di sini?" Tanya Daniel memastikan.
"Iya. Serius, aku sudah cantik jadi memakai apapun akan tetap terlihat cantik." Ucap Bella asal. Dia bahkan merasa mual saat mulutnya melontarkan sanjungan untuk dirinya sendiri.
Namun, karena kebohongan itu, membuat Daniel tersenyum di balik maskernya. Perlahan, dia melepaskan genggamannya lalu tangannya beralih pada pinggang Bella.
"Kamu memang paling cantik." Pujinya menimpali.
Bella mengangguk seraya mengambil baju seperlunya dan meletakkannya ke meja kasir. Tidak lupa dia mengambil tas dan sepatu untuk di pakai ke sekolah besok.
"Totalnya 370 Kak." Daniel menoleh seraya menatap sendu ke Bella. Dia merasa buruk, melihat kenyataan jika harus membelikan istrinya dengan baju murahan.
"Bayar Kak." Pinta Bella membalas tatapan Daniel.
"Aku berjanji..." Daniel mengurungkan niatnya untuk berkata macam-macam sebab Bella mengisyaratkan agar tidak banyak bicara.
Aku merasa beruntung memilikinya...
Daniel mengeluarkan uang sejumlah 400 ribu dan meletakkannya pada meja kasir. Sambil menunggu, dia merangkul kedua pundak Bella lalu mengecup sebentar puncak kepalanya membuat para pegawai saling melihat satu sama lain karena merasa kagum.
"Meskipun mungkin lelaki itu tidak tampan, bagiku sikapnya sudah sangat tampan." Bisik para pegawai.
"Iya. Sekarang lelaki tampan itu banyak maunya."
"Yang buruk saja banyak maunya apalagi tampan." Ketiganya tertawa kecil seraya melanjutkan perkerjaannya.
~Riane
Maaf jika part-nya sedikit aneh🤣🤣🤣
Hari ini sedikit sibuk tapi berusaha untuk tetap up😁
Terimakasih bagi segelintir reader yang sudah mampi🥰🥰
Salam sayang Riane 🥰🥰
__ADS_1