
Bella merasakan sensasi aneh, ketika bibir Daniel menempel di punggungnya meski masih terhalang baju. Bulu kuduknya langsung meremang sehingga membuat matanya terpejam dan berusaha mengendalikan perasaan anehnya.
"Kak jangan begitu.." Cegah Bella lirih.
"Why? Apa yang kamu rasakan?" Daniel tersenyum, melirik ke bulu halus pada tengkuk Bella yang mulai berdiri.
"Sedikit aneh."
"Kamu menikmatinya, ini termasuk ujian praktek juga." Tangan Daniel terangkat lalu menyentuh lembut lengan Bella naik turun secara berulang-ulang." Diam dan rasakan agar kamu tidak kaget nantinya." Kini dagu Daniel sudah bertumpu pada pundak Bella. Memperhatikan ekspresi Bella yang tengah mengendalikan nafasnya karena keanehan yang terjadi akibat sentuhan Daniel.
"Kak serius ini aneh sekali. Apa di sini ada penampakan? Kenapa aku merinding." Daniel terkekeh dan menghentikan aktivitasnya. Ada rasa tidak sabar untuk bisa mendapatkan malam pertamanya. Namun, hiburan yang di sunguhkan Bella terasa lebih menyenangkan dari itu.
"Iya ada. Maka dari itu kamu tidak boleh sendirian. Astaga sayang.. Aku menyanyangimu." Daniel mengecup pipi Bella sejenak kemudian berdiri." Kita mandi, lalu membeli tisu sekalian makan malam." Bella meraih lengan Daniel dan ikut berdiri.
"Memasak sendiri lebih hemat Kak."
"Aku tidak mau kamu mendengar gosip jadi sebaiknya jangan berbelanja dulu."
"Biarkan saja Kak. Yang penting aku tidak melakukan itu."
"Tetap saja sayang. Buat hatimu nyaman oke. Ayo." Untuk pertama kalinya, Bella membalas rangkulan Daniel dengan melingkarkan tangan kanannya ke punggung Daniel, meski tangan kecilnya tidak bisa menjangkau seluruhnya.
***************
"Aku tidak mengerti tentang jalan fikiran Marco! Bukankah seharusnya dia lupakan saja Bella. Untuk apa merekrut orang yang mungkin bisa membahayakan posisi kita." Eluh Fanny seraya bermanja pada dada bidang Jim.
Keduanya masih berhubungan, sebab Fanny menutupi perselingkuhan mereka dengan sangat rapi. Dia sampai menyuruh orang lain untuk mengawasi Bella sehingga dia bisa bebas bercinta dengan Jim yang mulai menjadi candunya.
"Memang seharusnya seperti itu. Takutnya lama-lama Daniel mengingat semuanya lalu kembali mengambil hartanya."
"Aku juga berfikir seperti itu Jim, tapi Marco tidak percaya."
"Kamu harus bertindak cepat. Agar harta itu bisa berbalik nama menjadi milikmu."
"Aku juga ingin begitu tapi aku tidak mengerti bagaimana caranya" Jim tersenyum tipis seraya memainkan anak rambut Fanny.
"Cari tahu di mana dia menyimpan berkas perusahaan juga surat rumah. Setelah kau dapatkan, akan ku bantu menggantinya menjadi namamu."
"Kamu bisa?" Fanny duduk tegak. Dia merasa bersemangat saat tahu jika Jim bisa mengurus itu semua.
"Itu hal yang gampang."
"Oke. Aku akan mencarinya dan setelah itu kita bisa menguasai harta Daniel." Fanny kembali memeluk tubuh Jim seraya membayangkan jika suatu hari nanti seluruh harta Daniel bisa jatuh ke tangannya.
Aku akan pergi ke luar negri jika harta Daniel bisa menjadi milikku..
.
.
.
.
.
.
Satu Minggu kemudian...
Rumah lama Jonathan
Andra terlihat mengemas barang-barangnya untuk kembali ke Palembang. Tidak adanya kabar tentang Daniel, membuatnya memutuskan untuk pulang daripada harus menunggu tanpa ada kejelasan.
Beberapa kali Andra datang berkunjung ke rumah Daniel, berharap mendapatkan kabar. Namun, penyambutan Marco terasa semakin tidak ramah.
Ada rasa curiga terbesit ketika raut wajah Marco memasang wajah tidak suka saat Andra datang. Bukankah seharusnya Marco menjamunya dengan baik, apalagi Andra sudah bercerita tentang kedekatannya dengan Daniel.
Bagaimana mungkin Daniel memiliki kaki tangan tidak sopan seperti Marco..
"Jika masih ingin tinggal, jangan pulang dulu sayang." Ucap Ella melipat baju dan memasukkannya ke dalam koper. Ella membaca raut wajah Andra yang gusar dan sering melamun sejak kemarin.
"Kita kembali saja. Aku tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama. Dan lagi, aku sudah menitipkan pesan pada Roy dan Erik jika seandainya mereka melihat jika Daniel sudah kembali."
Selain memikirkan perusahaan, Andra juga memikirkan keadaan Ella yang sedang hamil. Andra tidak ingin mental Ella terganggu ketika dia mengenang kejadian buruk yang terjadi beberapa tahun lalu.
Burhan, Ayah Ella. Di temukan meninggal dengan tangan dan kaki terikat di ranjang rumahnya. Jika bukan karena bau bangkai yang berasal dari mayat Burhan, mungkin jasadnya membusuk di rumah itu dan tidak di temukan hingga sekarang.
"Itu bukan alasan sayang. Di sana sudah ada yang mengurus." Andra tersenyum, lalu duduk di samping Ella seraya mengusap perut Ella yang mulai membesar.
__ADS_1
"Ibu hamil tidak boleh stres. Di sini terlalu banyak kenangan buruk. Aku tidak ingin kamu stres dan akhirnya menganggu bayi kita." Ella tersenyum membalas tatapan manik Andra.
Sejak menikah hingga sekarang. Andra memperlakukannya begitu baik bahkan sangat baik meski Ella sangat sulit untuk hamil.
Bisa di pastikan jika janin yang di kandung Ella adalah anak pertama mereka, sehingga perhatian Andra dua kali lebih besar daripada biasanya.
"Ya sudah, aku menurut saja."
"Hmm.." Andra menutup koper lalu mengangkatnya." Kamu tunggu di sini dulu." Imbuhnya berjalan melenggang keluar kamar.
NB. Jika tidak mengerti Andra siapa? Baca novel pertamaku"" CINTA SANG PENGUASA""", biar nggak binggung 🤭😁Tapi maaf, itu novel terlalu fulgar jadi kalau ada anak di bawah umur, mendingan di skip saja🤣🤣
**************
Bella menarik nafas panjang, saat melihat nominal yang tertera pada kartu SPP nya. Beasiswa benar-benar sudah di cabut, sehingga dia harus membayar SPP penuh.
"Em Bella." Ucap Bu Erna yang sudah berdiri di ambang pintu kelas.
"Ya Bu." Bella memasukkan kartu SPP ke dalam tas dan berjalan menghampiri Bu Erna.
"Begini Bella. Para guru sepakat untuk patungan agar kamu bisa membayar SPP seperti biasanya. Pak kepala sekolah sudah berusaha mengajukan proposal ke perusahaan lain tapi belum ada kabar. Hanya saja, mungkin potongannya tidak bisa 50 persen. Em hanya 20 persen." Kata Bu Erna lirih.
"Saya tidak apa-apa Bu. Saya tidak mau merepotkan." Jawab Bella menolak.
"Sudah seharusnya begitu Bella. Kami para guru tahu kalau kamu sudah banyak membawa nama baik sekolah tapi malah tidak mendapatkan beasiswa. Apalagi sekarang kamu tinggal sendiri, jadi Ibu dan para guru ikut kepikiran. Kami tidak mau, hanya karena SPP yang terlalu besar, kamu sampai putus sekolah."
"Saya punya Kak Daniel Bu." Jawab Bella tersenyum meski rasanya dia juga sedikit pusing memikirkan biaya hidup dan biaya sekolah yang pasti akan merepotkan Daniel.
"Meski begitu. Dia bukan Kakak kandungmu. Em kamu hanya perlu membayar tiga juta setiap bulannya." Bella tersenyum tipis sebab menurutnya itu masih nominal yang cukup besar untuknya.
Perusahaan Daniel memang sudah berjalan, namun penjualan produk masih sangat sedikit. Apalagi mengingat jika Daniel harus memasarkannya dengan sembunyi-sembunyi dari Marco yang mungkin saja bisa menghancurkan perusahaannya lagi.
"Berikan saja jatah beasiswa saya untuk Bella Bu." Sahut Samuel yang tidak sengaja mendengar obrolan.
"Kepala sekolah melarang Sam, takut jadi masalah nantinya."
Kepala sekolah pernah menjelaskan tentang kemarahan tidak jelas Marco pada Bu Erna. Marco sampai rela datang ke sekolah setiap hari hanya untuk memantau. Kepala sekolah merasa aneh, namun tidak sanggup menolak sebab perusahaan Dans grup memberikan bantuan pembangunan sekolah hampir 90 persen.
"Tidak perlu." Sahut Bella pelan.
"Kamu lebih membutuhkan daripada aku. Pakai nama saya saja Bu tapi dananya berikan pada Bella." Bu Erna mengangguk-angguk dan setuju dengan ide Samuel.
"Nanti Ibu bicarakan dulu dengan kepala sekolah ya. Kalau setuju nanti Ibu kabari."
"Sebenarnya tidak perlu seperti itu." Ucap Bella lemah, dia mulai berjalan di ikuti oleh Sam.
"Sudah ku katakan jika kamu lebih membutuhkan itu."
"Aku tidak mau berhutang budi."
"Hutang budi apa Bella? Aku tidak mengeluarkan biaya apapun. Sudahlah, itu kulakukan karena aku perduli padamu." Bella menarik nafas panjang dan merasa tidak enak. Apalagi penolakan sering di lontarkan pada Samuel yang sudah lama menyukainya.
"Terimakasih jika begitu. Aku duluan." Bella mempercepat langkahnya menuju ke kantin.
Tetap saja dingin.. Apapun yang ku lakukan, tidak bisa membuatmu terkesan Bell.. Ya sudah.. Yang penting aku tidak melihatmu kesulitan...
.
.
.
"Lama sekali Bell? Sudah ku pesankan." Protes Erin menggeser mangkuk mie ayam ke hadapan Bella.
"Hm maaf." Erin dan Sari saling melihat saat menyadari wajah tidak baik Bella.
"Ada apa sih?"
"Tidak ada. Terimakasih ya." Bella tersenyum dan memakan mie ayam di hadapannya. Dia tidak ingin membebani kedua sahabatnya yang sudah banyak membantu.
"Wajahmu tidak bisa menipu Bell." Jawab Sari lirih.
"Hm.. Katanya sahabat? Jangan ada rahasia lah."
"Sudah di bantu Samuel."
"Samuel? Memangnya masalah apa?" Tanya Erin penasaran.
"SPP.. Beasiswa kan sudah di cabut jadi seharusnya bulan ini aku membayar full tapi Samuel mau memberikan jatah beasiswanya." Jawab Bella lirih." Ini rahasia. Okay." Erin mengangguk seraya memasang wajah sedih.
__ADS_1
"Kita tidak bisa membantu Bell. Bukankah seharusnya beasiswaku saja yang ku berikan."
"Tidak. Aku tidak pernah berfikir begitu." Bella sangat tahu tentang keadaan keuangan keluarga Erin dan Sari yang jauh dari kata cukup.
"Dulu saja kamu sering membantu kita." Sahut Erin mengingat seringnya Bastian memberikan pinjaman tanpa perlu di kembalikan.
"Ish! Aku tidak pernah meminta kalian membalasnya." Erin dan Sari menggeser mangkuknya lalu menatap sendu Bella.
"Sabar ya Bell."
"Hm iya. Maaf kita hanya bisa menyemangati."
"Apa sih? Kalian malah membuatku terlihat menyedihkan." Tapi itu memang benar.. Rasanya aku harus mencari perkerjaan.. " Jangan berkata apapun pada Kak Daniel ya." Imbuh Bella mengingatkan.
"Bukankah seharusnya dia harus tahu Bell?"
"Aku tidak ingin membebaninya lagi. Aku sudah cukup senang dia mau merawatku meskipun memang itu tanggung jawabnya. Tapi melihat keadaan keuangannya sekarang, membuat aku merasa kasihan jika harus menambah beban lagi. Aku ingin berkerja saja jika begini."
"Kerja apa Bell. Kita masih sekolah."
"Jualan online mungkin bisa." Sahut Sari asal bicara namun mampu membuat senyum Bella mengembang.
"Wah ide bagus."
"Iya. Sekarang kan banyak Bell, jualan online sistem dropship. Jadi kamu hanya memasarkan saja tanpa harus mengemas."
"Kamu tahu darimana Sar." Sahut Erin ikut antusias.
"Kak Emi berkerja seperti itu di rumah. Lumayan buat tambahan jajan anaknya."
"Bilang pada Kak Emi bagaimana caranya?"
"Oke nanti ku sampaikan. Sekarang kita makan dulu dan tidak boleh ada yang memasang wajah melow." Ketiganya tertawa renyah, melanjutkan makan mie ayam yang sempat tertunda.
***************
Lisa yang mulai terobsesi dengan Daniel, mencoba menguntitnya diam-diam. Dia sampai mengambil cuti panjang agar bisa melancarkan aksinya sekarang.
Postur tubuh Daniel yang mengiurkan juga wajah tampannya, membuat Lisa bersemangat ingin mendapatkan hati Daniel bagaimanapun caranya.
Lisa belum juga tahu, jika Dimas merupakan Daniel sebab Daniel selalu keluar rumah dengan maskernya. Tujuan Daniel memakai itu, agar dia bisa pergi ke perusahaan kecilnya yang terletak tidak jauh dari rumah.
"Apa dia berkerja di sini?" Gumam Lisa terus memantau dari dalam mobilnya. Berbagai cemilan bahkan sudah di siapkan sebab Lisa memang sedikit gila jika sudah menyukai seseorang.
Sementara di dalam gudang, Daniel tengah berada di ruangannya seraya menatap layar laptopnya. Lucas masuk dan duduk di hadapannya untuk membicarakan perkembangan perusahaan.
"Sangat sulit Tuan. Jika Tuan memakai nama Daniel, mungkin produk ini bisa langsung di terima para investor." Tutur Lucas lemah.
"Tidak. Tetap gunakan nama Dimas. Aku tidak ingin Marco mengetahui ini."
"Saya rasa itu akan sulit Tuan. Mereka fikir produk ini belum teruji jadi mereka belum mempercayainya. Jika mengunakan nama Tuan Daniel mungkin bisa memudahkan pemasarannya."
"Kau benar. Tapi jika memakai namaku, mereka akan bertanya-tanya tentang perusahaan Dans grup. Aku ingin hidup tenang Lucas, meskipun sulit, aku minta kau jangan sampai menyebut namaku." Daniel benar-benar sudah merelakan perusahaan besarnya dan tidak ingin lagi terlibat masalah dengan Marco.
Bukan hanya perusahaan kecilnya yang terancam tapi Bella juga terancam di ambil oleh Marco, jika dia tidak menghilangkan jejak sebersih mungkin.
"Saya yakin jika produk ini akan bisa mengalahkan produksi dari Dans grup Tuan, jadi Tuan tidak perlu takut untuk itu."
Tak!
Daniel menutup laptopnya lalu menatap tajam ke arah Lucas. Tidak biasanya Daniel bersikap seperti itu, karena memang dia selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
"Aku sangat tahu itu. Aku sangat yakin bisa mengalahkannya." Lucas tertunduk bahkan tidak berani menatap ke Daniel yang mulai meninggikan suaranya." Sudah ku katakan jika sekarang lain cerita. Aku sudah memiliki Bella. Aku hanya ingin hidup tenang bersamanya. Tanpa ada campur tangan masa lalu yang melibatkan Marco. Aku tidak perduli jika dia mengambil semuanya, asal jangan mengambil dia dariku. Tolong Lucas. Aku minta dan mohon padamu. Jangan pernah membahas hal ini lagi. Jika memang kamu merasa keberatan dengan kesulitan ini. Kau boleh mundur sekarang. Biar aku yang handle semuanya!" Daniel menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Tidak Tuan. Saya minta maaf sudah lancang. Setelah ini saya berjanji tidak akan membahas ini lagi. Saya akan berusaha lebih keras agar produk kita bisa di kenal." Jawab Lucas dengan nada penuh penyesalan.
"Maaf... Maaf atas ucapan kasar ku tadi. Tapi aku serius, jika kau ingin pergi, lakukan saja."
"Tidak Tuan. Saya tidak akan pergi, apapun yang terjadi."
"Hm.. Terimakasih." Daniel menutup laptopnya dan berdiri." Aku harus menjemput Bella." Daniel menepuk pundak Lucas lembut dan berjalan keluar tanpa menggunakan masker.
"Bukankah itu Pak Daniel?" Gumam Lisa melebarkan matanya melihat Daniel berjalan ke arah mobilnya dan masuk.
~Riane
🤤🤤🤤🤤
__ADS_1
Terimakasih dukungannya
Love you all 😍😚🥰