
Bella terkejut ketika melihat semua jajaran guru hadir di sana. Dia menoleh, menatap Daniel tidak percaya dengan senyum mengembang.
"Apa aku salah lihat." Gumam Bella.
"Hanya untukmu sayang. Jadi sekarang, kamu tidak perlu takut di keluarkan." Jawab Daniel tidak ingin membuat hati Bella menjadi was-was.
"Astaga anakku cantik sekali." Ucap Bu Erna merangkul Bella erat. Dari sekian banyak guru, Bu Erna yang tidak lain wali kelasnya memiliki hubungan dekat dengan Bella.
"Terimakasih Bu." Bella membalas rangkulan hangat Bu Erna.
"Ibu jadi tahu kenapa kamu tiba-tiba memutuskan untuk jadi seorang Ibu." Bella tersipu malu seraya tersenyum sesekali menunduk." Tapi Ibu serius Bella. Tidak masalah jika nanti kamu lanjutkan kuliah." Tatap Bu Erna hangat.
"Sudah ku katakan jika aku ingin menjadi seorang Ibu." Daniel tersenyum mendengarnya begitupun Bu Erna.
"Bu maaf, antriannya panjang jadi bisakah Bu Erna menggeser sedikit badannya." Protes si kepala sekolah.
Berita soal pernikahan Bella gempar. Bagaimana tidak, sebab Bella menikah dengan Daniel, pemilik Dans grup yang sejak lama menjadi donatur tetap di sekolah tersebut.
Atas permintaan Daniel, Lucas datang ke sekolah untuk meminta izin agar Bella tidak lagi khawatir. Tentu saja pihak sekolah mengizinkannya, sebab mereka menganggap jika Daniel orang yang cukup penting apalagi sekolah Bella juga hampir selesai.
.
.
.
Acara berlangsung meriah, sangat meriah dengan kejutan-kejutan sederhana yang Daniel berikan. Bagi Daniel, tidak ada yang lebih membahagiakan dari hari ini. Melihat istri kecilnya tertawa lepas menyambut kedatangan tamu undangan yang memberikan ucapan selamat.
"Selamat ya Bella, ini dari kami." Erin menyodorkan sebuah kado cukup besar setelah acara usai dan hanya menyisakan relasi Daniel yang tengah berbincang tidak jauh dari sana.
"Sudah ku bilang tidak perlu kado." Tolak Bella tidak ingin merepotkan.
"Ini spesial. Buka saja hehe."
"Hm.. Kado dari sahabat itu spesial Bella." Sahut Nara menimpali.
Bella membuka kado sederhana itu dari sekian banyak kado yang di dapatkan. Sebuah album foto terdapat di dalamnya. Bella mengambilnya setelah meletakkan kotak. Dia membuka album yang memperlihatkan kebersamaan ketiganya dari masa kecil hingga sekarang.
"Ini luar biasa.." Puji Bella terharu." Untuk apa membuat ini." Mata Bella mulai berkaca-kaca seolah dia tahu maksud dan tujuan kedua temannya membuatkan album foto itu.
"Jangan lupakan kami Bell hiks. Kami takut kamu melupakan kami sehingga kami membuatkan itu sebagai kado."
"Biar kamu mengingat kalau kita ini sahabatmu." Ucap Sari menimpali.
"Sudah ku katakan aku tidak akan kemana-mana." Bella memeluk ketiga sahabatnya erat.
"Sayang kita sebaiknya pulang. Ini sudah pukul 10." Suara Joy memecah tangisan ketiga sahabat yang saling berpelukan.
"Hm sepertinya dia sudah tidur."
"Biar aku." Joy mengangkat tubuh Abel dan menggendongnya.
"Kenapa tidak menginap saja Kak." Tanya Bella merasa kasihan pada Abel.
"Rumah kami dekat Bel dan lagi, kami tidak ingin menganggu malam indah kalian hehe." Nara mengeluarkan sesuatu dari tas kecil bawaannya." Kado dariku. Em selamat ya. Semoga kita bisa akrab setelah ini." Bella berdiri seraya memeluk Nara erat. Keduanya memang sudah akrab meskipun baru saling mengenal.
"Terimakasih Kak."
"Hm iya. Aku pulang dulu. Kasihan Abel."
"Ya Kak hati-hati." Joy hanya tersenyum sejenak seraya mengangguk kemudian berjalan mengikuti langkah Nara.
"Kami merasa hadiah kami tidak berarti." Gumam Erin.
"Ini paling berarti, kalian bicara apa sih. Bella tetap jadi Bella, tidak akan ada yang berubah."
"Rumah ini bahkan mirip istana Bell."
"Lalu kenapa?" Jawab Bella ketus." Merasa tidak pantas? Untuk apa membuat ini." Menunjukkan album foto.
"Iya kami minta maaf. Kami pulang ya."
"Terimakasih waktunya juga hadiah nya. Jangan berfikir macam-macam. Jika ingin main, ke sini saja." Pinta Bella.
"Sampai jumpa di sekolah."
"Bye Bella." Setelah berpelukan keduanya melangkah pergi.
Bella kembali duduk dengan masih melihat album foto dari temannya. Seusai melihat, dia membuka kado pemberian Nara yang ternyata berisi sebuah cincin berlian yang sangat indah.
"Padahal bantuan dari mereka sudah cukup." Gumam Bella melirik ke arah meja yang penuh dengan kado yang serupa.
Bella meletakkan kado milik Nara dan mengambil beberapa kado lalu membukanya. Matanya terasa panas, melihat sebagian besar kado berisi kunci rumah, mobil dan yang paling kecil kunci motor.
"Ini benar-benar gila." Gumam Bella untuk kesekian kali." Katanya Kak Daniel tidak menerima hadiah lalu ini?" Bella kembali meletakan kado yang di ambil karena merasa jika semua tidak masuk akal.
"Biar Bibik bereskan Non." Sahut wanita separuh baya yang sudah berdiri di hadapan Bella.
"Siapa ya?"
"Saya Minah Non, panggil Bik Minah saja. Saya asisten rumah tangga di sini. Biar Bibik bereskan ke kamar kadonya." Jawab Bik Minah ramah.
"Ya sudah Bik. Terimakasih ya."
"Iya Non. Permisi." Bik Minah membawa semua kado lalu menaiki tangga menuju lantai dua.
Bella mengalihkan pandangannya ke arah Daniel yang mulai mengantarkan kepergian tamu terakhir ke depan rumah. Hanya ada beberapa orang yang masih tersisa di luar, bersiap untuk membereskan dekorasi pesta.
"Ku rasa kado ini yang paling bagus." Bella berdiri dan meraih kotak pemberian Sari dan Erin. Dia berniat akan ke kamar barunya untuk pertama kali. Tapi suara Daniel mencegah.
"Itu akan melelahkan sayang."
"Kamu terlalu lama Kak. Aku ingin istirahat." Eluh Bella cukup risi dan tidak nyaman.
"Apa aku harus mengusir mereka? Itu sangat tidak sopan."
Segera, Daniel mengangkat tubuh Bella lalu mulai berjalan menuju tangga.
"Katamu tidak boleh ada kado?" Tanya Bella melingkarkan tangan kanannya ke leher, sementara tangan kirinya membawa kado.
"Sudah ku tulis di undangan tapi mereka tetap membawa itu."
"Aku sudah melihat isinya dan sedikit gila." Daniel tersenyum dan tahu dengan maksud Bella.
"Seperti rumah yang berhadapan dengan rumah kita sayang. Mungkin itu rumah pemberian sehingga mereka tidak tinggal di sana." Bella mengangguk-angguk.
"Sayang sekali ya Kak."
"Hm mau bagaimana lagi. Selain tidak sesuai selera, tubuh mereka hanya ada satu dan sangat tidak mungkin untuk menempati semuanya."
Daniel menurunkan Bella di depan sebuah kamar. Saat Daniel membukanya, Bella terkesima melihat dekorasi yang terlihat indah dengan lampu redupnya.
"Ini kan bukan malam pertama kita Kak?" Tanya Bella dengan mata berbinar-binar.
"Ini malam pertama kita tinggal di sini."
Bella masuk di ikuti oleh Daniel. Dengan sedikit kesulitan, Bella memeriksa setiap sudut kamar. Terdapat ruang makan kecil dengan kulkasnya bahkan kamar mandi juga ada di dalam lengkap dengan bak mandi dan shower nya.
"Jika seperti ini, aku tidak akan keluar kamar hehe." Kekeh Bella memutar tubuhnya melihat ke Daniel yang duduk bersantai di sofa. Hari yang cukup melelahkan tapi sangat menyenangkan." Bajunya bagaimana Kak?" Tanya Bella ingin mengganti gaunnya.
"Ada di lemari sayang." Daniel kembali berdiri untuk mengambilkan baju." Tunggu di situ, biar ku bantu melepaskannya." Pinta Daniel seraya cepat-cepat mengambil sembarangan baju agar Bella tidak menyusulnya.
"Baju ini sangat tidak nyaman."
"Hmm." Daniel menurunkan resleting sehingga gaunnya jatuh meski masih tertahan oleh lengan Bella. Entah kenapa Daniel tersenyum dan malah membuang baju yang di ambilnya sembarangan.
Kepalanya menunduk dengan bibir yang mulai di tempelkan pada pundak Bella. Tangannya terulur untuk menurunkan lengan gaun agar terlepas sempurna.
"Hangat sekali." Gumam Bella memiringkan kepalanya. Membiarkan gaun berharga ratusan juta itu terinjak oleh kaki keduanya.
"Ini malam pertama kita, bukankah besok kamu masih libur sekolah sayang."
"Hm Kak." Bella yang sudah terbiasa, langsung merespon sentuhan Daniel.
__ADS_1
"Kita bisa melakukannya semalaman." Daniel terus mencumbu seraya melepaskan jas yang di kenakan sekarang.
"Kak Daniel tidak lelah."
"Lelah. Tapi ini malam pertama kita." Bella membalikkan tubuhnya, menatap Daniel yang sudah bertelanjang dada.
"Malam pertama kita sudah satu bulan yang lalu di lakukan Kak."
"Setiap malam kita melakukannya."
Daniel melahap bibir mungil itu seraya menggiring Bella menuju ke ranjang yang sudah di hias sedemikian rupa.
Daniel menindihnya dengan bibir saling bertaut, saling melahap, dan beradu lidah. Setelah puas pada bibir, perlahan bibir Daniel mulai turun, meninggalkan bibir Bella yang basah dan beralih pada lehernya.
"Kak emmtt."
"Ya sayang." Jawab Daniel di selah cumbuannya.
"Kenapa masih saja enak, padahal kita sering melakukan ini." Tanya Bella konyol. Sontak Daniel mengangkat kepalanya dari leher Bella dan tersenyum.
"Jika di bandingkan dengan ayam krispi?" Bella terkekeh seraya berfikir.
"Lebih enak ini. Jangan berhenti Kak." Bella menekan tengkuk Daniel untuk kembali mencumbu lehernya dan beralih pada dua gundukan miliknya." Ah Kak.." Lenguh Bella yang sangat di sukai Daniel. Dia suka dengan panggilan Bella padanya dengan suara khasnya yang manja.
Pemanasan yang begitu singkat, sebab milik Daniel kini sudah memasukkan miliknya dan mengerakkan pinggulnya naik turun. Bibir Bella terbuka lebar, menikmati milik Daniel yang memenuhi lubang miliknya bergerak membentur dinding rahim.
Keringat kian banyak mengucur, seiring dengan gesekan kulit yang saling menempel. Rasanya tidak ada lelah untuk bercinta, sebab keduanya benar-benar melakukannya semalaman penuh dengan posisi yang bermacam-macam.
"Kak ah aku lelah sekali.." Eluh Bella menginginkan Daniel berhenti. Sebab keduanya tadinya berniat untuk mandi bersama namun Daniel kembali memasukkan miliknya.
"Aku juga sayang ah.. Tapi ini terlalu nikmat." Kepala Bella di sandarkan tanpa perlawanan meski sesekali lenguhan terdengar dari bibir mungilnya.
"Emm Kak ah enak sekali.." Daniel tersenyum mendengar itu. Baru saja Bella berkata leleh tapi dia kembali mengucapkan sesuatu yang membuat Daniel ingin melakukannya lagi.
"Katanya lelah sayang.." Tanya Daniel seraya terus mengeluarmasukkan miliknya dengan posisi berdiri.
"Iya tapi ah ini enak Kak emm.."
"Terus ucapkan sayang, aku akan sampai.." Gerakan Daniel semakin tidak beraturan seiring dengan cengkraman erat tangan Bella. Erangan panjang lolos, ketika pelepasan sudah di dapatkan beberapa kali.
Kepala Daniel tertunduk, keningnya di tempelkan pada pundak Bella seraya tersenyum dengan kegilaan yang kembali di lakukan malam ini.
"Kenapa Kak Daniel malah tersenyum. Berat Kak, aku ingin mandi dan tidur." Tubuh Bella masih menempel di dinding kamar mandi, hingga Daniel mengangkat kepalanya dan merenggangkan himpitannya.
"Aku sangat bahagia hari ini, itu kenapa aku tersenyum." Sebenarnya Daniel merasa konyol dengan malam ini. Bagaimana mungkin dia bisa ingin melakukan itu lagi dan lagi hingga pukul empat pagi.
Aku sampai membuatnya berantakan seperti sekarang.. Maafkan aku sayang hehe...
Daniel kembali tersenyum, menelungkup wajah Bella dan mencium keningnya.
"Terimakasih ya. Kita mandi lalu tidur."
"Hm.. Tapi aku lapar."
"Biar ku suruh Bibik memasak untuk sarapan kita."
"Iya mandi dulu. Tubuhku lengket Kak." Daniel menyalakan shower, mengguyur kedua tubuh polos yang masih saja belum merasa puas. Itu terbukti dari cara menatap keduanya dan sesekali saling melahap satu sama lain." Kak, jika aku sudah lulus. Apa aku boleh berbisnis." Tanya Bella lirih.
"Bisnis apa sayang? Cukup aku saja. Katamu ingin menjadi seorang Ibu. Apa itu semua sudah berubah?"
"Tidak berubah. Tetap jadi seorang Ibu sambil berbisnis."
"Untuk apa juga melakukan itu? Kamu tidak akan kekurangan setelah ini."
"Iya aku tahu tapi aku melakukan itu bukan karena uang." Daniel tersenyum.
"Lalu untuk apa jika bukan karena uang?"
"Ingin saja Kak."
"Ingin apa?"
"Ya pokoknya ingin. Boleh ya."
"Aku akan memiliki pegawai seperti mu." Daniel tidak mengerti dengan perkataan Bella sehingga dia bingung harus bagaimana menanggapinya.
"Memangnya bisnis apa sayang? Katakan padaku."
"Rahasia hehe."
"Bagaimana bisa mengizinkan jika rahasia."
"Itu kan nanti setelah lulus. Sudah Kak, aku lapar sekali." Protes Bella mengambil handuk kimono yang tergantung. Daniel mengekor dan mengambil handuk miliknya.
"Mau makan apa? Biar aku bilang Bibik."
"Apa saja Kak, lapar sekali."
"Hmm tunggu ya."
"Eh tunggu!" Bella menarik lengan Daniel cepat.
"Kenapa?"
"Kak Daniel mau keluar dengan keadaan seperti ini?" Protes Bella memandangi Daniel dari atas sampai bawah. Itu sangat mempesona tapi membahayakan.
"Iya. Ini rumah kita sendiri sayang. Aku ke bawah sebentar lalu kembali."
"Tidak! Bibik juga kan wanita." Bella menyeret Daniel keluar kamar mandi lalu berhenti di depan lemari." Pakai baju dulu dan keringkan rambut basah Kak Daniel. Aku tidak mau ya Kak Daniel keluar dengan keadaan rambut basah seperti itu. Ingat. Hanya Bella yang boleh melihat, tidak boleh ada wanita lain yang melihat, tidak terkecuali Bik Minah." Celoteh Bella begitu panjang namun terdengar indah membelai telinga Daniel.
"Katanya lapar, bukankah itu membutuhkan waktu?"
"Ah! Membantah lagi. Ya sudah biar aku yang bilang. Tetap di situ Kak." Tunjuk Bella seraya keluar kamar.
"Kapan dia akan percaya jika aku hanya mencintainya." Gumam Daniel memakai baju sesuai perintah Bella.
Beberapa saat kemudian, Bella kembali. Dia berdiri di samping Daniel untuk mengambil dress yang sudah di persiapkan.
"Sudah?"
"Iya." Jawabnya singkat. Daniel memperhatikan dari samping. Bella terlihat bertambah cantik karena rambutnya semakin panjang.
"Ku bantu mengeringkan." Daniel berjalan masuk ke kamar mandi, mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambut Bella. Dia berdiri di belakang Bella dan mulai mengusap rambut itu lembut." Jika semakin panjang, akan semakin cantik." Gumam Daniel lirih.
"Ini pertama kalinya untukku Kak."
"Sebenarnya kamu tidak harus melakukannya sayang. Aku menerimamu apa adanya."
"Hm lalu Kak Daniel jatuh cinta dengan wanita berambut panjang, begitu maksud Kak Daniel." Bella mendengus, mendengar Daniel terkekeh karena ucapannya.
"Aku bicara begitu karena mungkin kamu merasa tidak nyaman sayang. Bukan ingin jatuh cinta dengan wanita berambut panjang."
"Aku nyaman." Meskipun memang sedikit risih..
"Ya sudah jangan di bahas." Daniel meletakkan handuk dan mengiring Bella duduk di meja rias dan mulai menyisir.
"Kenapa tidak boleh di bahas? Katakan saja Kak Daniel suka wanita yang seperti apa?"
"Sepertimu." Jawab Daniel cepat.
"Cepat sekali menjawabnya, kelihatannya Kak Daniel tidak sungguh-sungguh." Bella menatap Daniel dari pantulan cermin begitupun sebaliknya.
"Jika tidak cepat, kamu akan semakin lapar." Bella memperlihatkan giginya yang rata.
"Aku cerewet ya Kak. Maaf."
"Aku suka." Bella berdiri, Daniel merangkulnya lalu menggiringnya keluar kamar.
"Aku belum melihat isi rumah ini seluruhnya."
"Setelah makan kita lihat."
"Mudah sekali Kak Daniel menjawab." Daniel menghembuskannya nafas berat. Mendengar celotehan Bella yang tidak ada habisnya.
__ADS_1
"Karena yang sulit itu menjauh darimu." Daniel menghentikan langkahnya dan menatap Bella dengan senyum khasnya.
"Hehe.." Bella tersenyum aneh." Iya maaf lagi. Mulutku tidak ada remnya." Imbuhnya pelan.
"Tidak apa. Apa yang ingin kamu bicara lagi katakan."
"Aku lapar Kak. Apa masakan Bik Minah enak." Keduanya mulai menuruni tangga. Daniel kembali tersenyum, mendengar pertanyaan yang seharusnya di ketahui jawabannya.
"Bukankah kamu tahu jika kita baru pindah sayang?"
"Oh iya. Berarti Kak Daniel tidak tahu."
"Astaga benar sekali, kamu semakin pintar saja." Cara Daniel memahami tingkah laku Bella, sungguh mampu membuat Bella merasa nyaman.
Celotehan ataupun umpatan sanggup Daniel taklukkan dengan jawaban santai dan senyum hangatnya. Itu terjadi sepanjang hari, sepanjang waktu dan sepanjang detik, hingga Daniel benar-benar bisa melihat bagaimana sifat asli dari Bella yang dulu.
.
.
.
.
.
Dua bulan kemudian...
Hari ini, hari pertama Bella melaksanakan ujian. Daniel membangunkannya pagi-pagi sekali dan tidak ingin Bella terlambat. Dia bahkan memberikan sebuah tantangan untuk mendongkrak semangatnya.
"Jika peringkat dua Kak." Tanya Bella lemah. Dia menjadi pesimis karena sudah tidak pernah aktif mengikuti kompetisi di sekolah.
"Tidur terpisah selama satu Minggu."
"Ish! Kenapa begitu sih." Eluh Bella tidak terima.
Daniel yang sudah menjadi candunya, membuat Bella merasa keberatan dengan hukuman yang Daniel lontarkan jika dia sampai turun peringkat. Jangankan berhari-hari, untuk satu malam saja rasanya ada yang kurang jika Daniel tidak tidur di sampingnya.
"Satu hari saja." Tawar Bella.
"Satu Minggu. Jika peringkat tiga berarti dua Minggu."
"Kak Daniel tega sih?"
Aku tidak tega sayang. Aku juga tidak mampu tapi aku mau kamu bersemangat agar prestasimu tidak turun meski nantinya kamu tidak mau kuliah..
"Bukan masalah tega sayang. Itu sudah perjanjian."
"Kalau aku kedinginan bagaimana Kak, terus sakit. Apa Kak Daniel mau melihatku seperti itu."
"Matikan pendingin agar tidak kedinginan." Daniel terkekeh dalam hati. Melihat raut wajah Bella sekarang.
"Anginnya masuk lewat jendela."
"Di tutup sayang."
"Anginnya kencang jadi jendelanya terbuka sendiri."
"Nanti akan ku tali agar anginnya tidak masuk." Bella melirik malas dan tidak menyentuh sarapannya sedikitpun." Makan cepat, lalu kita berangkat." Bella malah menggeser piringnya menjauh.
"Tidak selera." Daniel mengangguk-angguk.
"Jika tidak makan, jadi satu bulan." Mata Bella membulat dan menarik kembali piringnya.
"Iya nih di makan. Ish! Mengancam terus mirip Kak Bas."
"Jika tidak di ancam kamu tidak melakukannya."
"Nah mirip sekali!!" Runtuknya memasukkan satu sendok penuh nasi goreng pada mulutnya.
"Pelan-pelan, jangan seperti ini." Daniel mengambil satu butir nasi goreng yang menempel di pipi Bella dengan bibirnya.
"Jauh-jauh! Aku sedang serius makan." Bella menggeser tempat duduknya begitupun Daniel.
"Hukuman berlaku jika hasil ujian keluar jadi untuk sekarang kita harus berdekatan."
"Hukuman yang lain Kak, jangan yang itu. Bagaimana jika tidak memakan ayam krispi satu bulan." Jawab Bella kembali melontarkan penawaran.
"No Baby. Hukuman itu sudah tertulis dalam undang-undang jadi tidak bisa asal di ganti."
"Undang-undang apa? Tidak jelas!" Celoteh Bella membuat Daniel terkekeh.
Karena tantangan tersebut, Bella menjadi sangat bersemangat. Dia tidak ingin sampai mendapat hukuman yang pasti akan terasa berat di lakukan. Meskipun tidak yakin, dia terus berusaha dan hari itupun tiba.
Hari di mana hasil ujian akan di umumkan. Wajah Bella terlihat paling tegang dari murid yang lain. Meskipun semua murid di nyatakan lulus namun di sangat takut jika peringkatnya turun.
"Selamat ya untuk kalian semua, karena tidak ada yang harus mengulang dan di nyatakan lulus. Sebelum Ibu membagikan hasil ujian. Ibu mau mengumumkan siapa saja yang dapat peringkat teratas." Jantung Bella berdegup hingga tubuhnya terasa panas dingin padahal hukumannya tidak sampai menghilangkan nyawanya. Tapi itu luar biasa berat, berjauhan dengan Daniel rasanya memang semakin berat bahkan lebih berat dari kematian." Nilai tertinggi jatuh pada... Isabella anessha putri." Bella berdiri seraya berteriak.
"Aaaaggghhhh!!! Yes! Akhirnya aku yang dapat juara." Seisi kelas melongok, melihat sikap Bella yang di rasa aneh sebab dia memang selalu mendapat juara setiap tahunnya. Jadi melihat sikapnya sekarang sungguh terlihat aneh.
"Bukankah memang setiap tahunnya kamu yang juara Bell." Ucap Kenan tersenyum. Itu konyol tapi dia terhibur.
Bella tersadar, dia kembali duduk seraya tersenyum aneh.
Mereka akan menyebutku gila hehe!! Aku terbebas dari hukuman!!
Seusai hasil ujian di bagikan, seluruh siswa di perbolehkan pulang. Kenan mengekor, karena ingin membicarakan sesuatu dengan Bella.
"Tunggu Bella." Bella berhenti dan Kenan berdiri di sampingnya." Ku temani sampai ke kelas Erin dan Sari." Imbuhnya pelan.
"Oke." Jawab Bella seraya berjalan.
"Setelah ini kamu kuliah di mana?"
"Bukankah kamu tahu jika aku sudah menikah." Kenan menarik nafas panjang. Hatinya tercabik mendengar itu. Dia bahkan tidak makan selama dua hari ketika berita pernikahan Bella tersebar.
"Hm aku ingin datang tapi para guru tidak memperbolehkannya."
"Tidak apa."
"Benar-benar tidak mau kuliah?" Tanya Kenan yang sebenarnya ingin satu kampus dengan Bella. Tidak masalah jika memang Bella sudah milik orang lain. Paling tidak, jika mereka kuliah satu kampus. Kenan masih bisa berjumpa dengan Bella.
"Aku belum memikirkan itu. Kenapa sih?"
"Hehe tidak apa. Em kita masih berteman kan Bell."
"Tentu saja. Kamu kenapa sih Ken?" Tatap Bella heran.
"Aku hanya ingin izin untuk main ke rumahmu sesekali." Bella terdiam mendengar itu." Aku akan mengajak Samuel agar suamimu tidak salah faham. Em hanya sekedar berkunjung sebagai teman." Imbuhnya.
"Oke boleh kok. Aku tinggal dulu ya. Erin dan Sari sudah menungguku." Bella tersenyum kemudian berlari kecil menghampiri kedua temannya.
"Sakit sekali hiks!" Gumam Kenan mengusap sudut matanya, menatap Bella yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Bukankah kau sudah bersama Monik." Sahut Samuel tiba-tiba sudah berdiri di samping Kenan.
"Aku tidak bisa. Aku terpaksa berhubungan untuk melampiaskan kekesalan ku." Samuel menarik nafas panjang. Dia juga merasakan hal yang sama. Penantian selama tiga tahun harus berakhir kekecewaan dengan berita pernikahan Bella. Hanya saja, Samuel bisa menyembunyikan semuanya dengan sangat baik. Mendinginkan otaknya agar sadar, jika mencintai seseorang itu tidak perlu harus memiliki.
"Asal dia bahagia. Kita akan menemukan orang lain suatu saat nanti. Pulang yuk. Beri aku tumpangan, motorku di bengkel." Samuel merangkul kedua pundak Kenan erat dan mengiringinya ke parkiran sekolah.
Sementara Bella sendiri, langsung berlari kecil ketika melihat Daniel sudah menunggunya di depan pintu gerbang sekolah. bahkan Erin dan Sari di abaikan.
"Aku menang Kak." Teriak Bella seraya bergelayut manja pada tubuh Daniel tanpa perduli dengan tatapan sekitar.
"Syukurlah. Selamat sayang." Daniel memberikan ciuman singkat di pipi membuat para siswa melongok, kagum, iri, ingin berada di posisi Bella.
Aku memikirkan ini dan takut jika termakan ucapan ku sendiri.. Bukan hanya Bella yang takut, tapi Daniel juga merasa takut jika hukuman itu benar-benar terjadi.
"Kita pulang dan merayakannya. Panggil temanmu." Bella melepaskan kalungannya dan melambai ke arah Erin dan Sari, mengajaknya makan-makan untuk merayakan hari bahagianya.
~Riane
Semoga tidak bosan😁🤧
__ADS_1
Terimakasih dukungannya 🥰