Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 83 Antara hidup dan mati


__ADS_3


Happy reading 🥰


Sudah dua hari ini, Bella mengeluh punggungnya yang terasa sakit hingga dia kesulitan untuk tidur. Meskipun Daniel selalu memperlihatkan senyuman, tapi hatinya sungguh kalut menunggu hari demi hari yang berjalan. Apalagi kelahiran Bella sudah masuk waktunya dan tinggal menunggu saja.


"Tidak boleh di pijat sayang." Jawab Daniel mengusap punggung bawah Bella.


"Rasanya sangat kaku Kak." Eluh Bella bersandar lemah pada pundak Daniel.


"Memang sudah waktunya sayang, mungkin dia sedang memposisikan dirinya." Ya Tuhan.. Aku tidak tega.. Itu kenapa seorang Ibu memiliki kedudukan tertinggi di dunia. Mereka rela sakit hanya demi melahirkan satu kehidupan..


Mata Bella membulat, ketika tiba-tiba ada sesuatu yang keluar dari miliknya. Cepat-cepat dia meraba apa yang ada di dalam dress.


Basah...


"Basah Kak." Pekik Bella.


Daniel duduk tegak dan menyadari jika air ketuban merembes ke tempat tidur mereka.


"Sudah waktunya sayang."


"Ach Kak.." Bella meringis kesakitan saat nyeri datang untuk pertama kalinya.


"Ayo." Daniel mengangkat tubuh Bella dan menyuruh Bik Minah untuk membuka pintu mobil.


Meskipun sakitnya terasa datang dan pergi, namun raut wajah Bella sekarang sudah sanggup membuat Daniel semakin tidak tega.


"Tarik nafas sayang, buang perlahan." Ucap Daniel seraya fokus menyetir.


"Hiks sakit sekali.." Eluh Bella seraya mendesis. Daniel meraih ponselnya untuk memberi kabar pada Pak Salim dan Lucas lewat sebuah pesan.


"Kamu harus kuat sayang."


Tak!!


Daniel meletakkan ponselnya sedikit kasar. Tangannya meraih jemari Bella dan menggenggamnya.


Ya Tuhan aku tidak sanggup melihat dia seperti ini.. Wajah Daniel kian menegang. Mendengar rintihan suara Bella semakin sering terdengar.


Setibanya di rumah sakit, Bella segera di tangani dengan Daniel yang ada di sampingnya. Kesakitan yang luar biasa, membuat Bella tidak bisa berfikir jernih. Dia mendadak tuli, tidak sanggup mendengar kata-kata semangat yang Daniel lontarkan terus-menerus.


Satu jam


Dua jamp


Tiga jam


Hingga petang, Bella masih tidak ada perubahan. Kepala bayi tertahan karena jalan yang di lalui terlalu sempit.


"Tuan bisa bicara sebentar." Ucap Dokter Ira mengiring Daniel untuk menjauhi ranjang.

__ADS_1


Sebelumnya Dokter Ira sudah menawarkan untuk mengambil jalan operasi caesar karena keadaan pinggul Bella yang sempit. Namun Bella menolak, dia bersih kukuh ingin melahirkan secara normal karena tentu merasa takut jika membayangkan perutnya akan di belah.


"Saya akan mengambil tindakan operasi Tuan. Nona Bella sudah tidak sanggup mengejan. Jalan lahir tidak bisa terbuka lagi karena pinggulnya terlalu sempit. Saya takut terjadi sesuatu dengan bayi juga Ibunya jadi.."


"Lakukan yang tebaik Dok." Sahut Daniel cepat. Dia juga merasa tidak tega melihat keadaan Bella yang bahkan tidak merespon ucapannya. Sejak tadi Bella hanya menangis hingga kedua matanya terlihat bengkak." Bolehkan saya menemani hingga operasi selesai." Pinta Daniel memohon.


"Saya akan mengaturnya. Suster, siapkan ruang operasi." Daniel kembali ke sisi ranjang, menggenggam jemari kecil yang sejak tadi tidak merespon ucapannya. Sesekali dia menoleh ke arah luar, melihat Pak Salim juga turut merasa kasihan.


Selamatkan mereka ya Tuhan....


Karena sakit yang luar biasa, membuat Bella tidak lagi memikirkan jarum suntik yang melubangi tangannya untuk di masukkan selang infus, bahkan saat Dokter menyuntikkan cairan anastesi pada punggungnya Bella tidak juga merespon itu semua.


Kesadarannya kembali, ketika bius pada separuh tubuhnya berkerja sebab sakit yang di rasakan seketika hilang. Dengan sesegukan,dia melihat ke arah Daniel yang duduk tepat di samping kepalanya.


"Kak ini." Bella mengangkat tangannya yang sudah terdapat selang infus.


"Tidak apa sayang." Daniel mengusap-usap kening Bella agar Bella bisa merasa tenang.


"Aku tidak mau di operasi." Rengek nya kembali menangis.


"Nona harus tetap tenang ya agar tekanan darahnya normal." Pinta seorang perawat yang sejak tadi mengecek tekanan darah Bella.


Namun lagi-lagi Bella tidak mendengar, dia terlalu takut membayangkan sesuatu yang memang telah di lakukan pada perutnya. Hingga kesadarannya menghilang dan membuat Daniel merasa panik setengah mati.


"Sayang!! Sayang!!" Daniel menepuk-nepuk pipi Bella namun tidak ada respon.


"Pasien pingsan Dok."


"Selamat Tuan. Anak anda laki-laki." Daniel terharu hingga menitikkan air mata. Dia mencium kening bayi yang bahkan masih berlumuran darah." Biar saya bersihkan dulu bayinya. Permisi." Suster membawa bayinya pergi lalu dia kembali fokus pada Bella yang belum juga sadar.


"Bayi kita laki-laki sayang, kamu harus kuat agar bisa bertemu dengannya." Bisik Daniel ke arah telinga Bella. Dia terus menerus melakukan itu, berharap Bella segera sadar dan menghantam kekhawatirannya.


"Pendarahan belum berhenti. Bagaimana ini."


"Siapkan kantung golongan darah O." Daniel semakin panik melihat Bella masih belum membuka matanya.


"Maaf Tuan, bisa menunggu di luar, agar kami bisa melakukan tindakan." Tutur salah satu suster. Dia merangkul kedua pundak Daniel untuk berdiri.


"Istri saya bagaimana?" Tanya Daniel terbata.


"Kami akan berusaha dengan maksimal. Mohon tunggu di luar." Pembatas antara perut Bella di ambil. Sebab Bella akan di pindahkan ke ruangan lain untuk memberikan tindakan lebih lanjut.


Sementara Daniel sendiri, mulai menitikkan air mata di pelukan Pak Salim. Lucas juga turut hadir bahkan Nara dan Joy langsung terbang malam ini demi memenuhi janjinya pada Bella.


" Aku lebih memilih tidak memiliki anak daripada harus seperti ini." Gumam Daniel terisak.


"Astaga Nak. Kamu bicara apa? Kasihan anakmu, jangan bicara sembarangan." Jawab Pak Salim mendorong pundak Daniel sehingga keduanya saling bertatapan.


Daniel tertunduk, dia tentu merasa malu dengan air mata yang keluar namun rasanya sungguh luar biasa sesak sampai dia tidak bisa menahannya.


Sementara di dalam alam bawah sadar Bella. Dia tengah duduk sendiri di tempat yang sangat asing. Di sebelah kirinya terdapat sebuah jurang yang memiliki dasar begitu indah, sementara di sebelah kanannya terdapat hamparan gurun yang tidak berbatas.

__ADS_1


Bella berdiri, menatap ke dalam jurang dengan bibir tersungging.


Indah sekali tempat itu.. Fikirnya dalam hati.


"Sayang Bella, kami di sini." Bella mengenal suara itu dengan baik. Suara itu milik Almarhum Ibunya.


"Mama." Bella melangkah lebih dekat dan melihat sang Mama berada di dasar jurang dengan Ayahnya.


"Sini Nak, kami merindukanmu." Bella kembali melangkah dan semakin dekat dengan bibir jurang.


"Aku juga Ma." Suara Bella terdengar menggema, seiring dengan langkahnya yang semakin dekat.


"Lebih dekat Nak. Mama merindukan kamu." Bella tersenyum, merasa terhipnotis dan terus melangkah hingga benar-benar sampai di bibir jurang.


"Kak Bastian.." Senyum Bella kian merekah melihat Bastian juga ada di dasar jurang tersebut." Aku akan ke sana." Hampir saja Bella memutuskan untuk terjun.


"Tidak Bella!!" Cegah Bastian.


"Kenapa tidak?" Tanya Bella terbata.


"Belum waktunya sayang. Mama hanya ingin melihatmu sebentar."


"Iya Nak kamu harus kembali." Imbuh sang Ayah.


"Kembali Bella. Aku akan menghukum mu jika kau sampai melangkah ke sini." Bella berdiam sebab dia belum mengingat seseorang yang menunggunya di dunia.


"Aku ikut kalian saja."


"Jika kau ikut kami, kau tidak akan bisa kembali." Jawab Bastian tersenyum.


"Tidak apa Kak. Aku rindu kalian."


"Kami juga merindukanmu dan mereka juga."


"Mereka? Mereka siapa?" Tiba-tiba terdengar suara bayi menangis dari arah gurun pasir di hadapannya." Bayi siapa itu?" Gumamnya pelan. Matanya membulat ketika suara isakan tangis Daniel juga terdengar." Kak Kak Daniel." Imbuh Bella terbata. Dia kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah jurang dan kedua orang tuanya juga Bastian sudah menghilang dari sana." Ma.. Pa... Kak Bastian.." Teriak Bella merasa bingung.


"Kembali Bella.. Berjalan ke gurun itu. Mereka membutuhkan mu." Tiba-tiba saja suara itu terdengar lirih membelai telinga.


"Aku ingin mencari keluargaku." Bella kembali mendekati bibir jurang namun berhenti ketika suara tangis bayi menggema di sertai isakan tangis Daniel.


"Kamu mau meninggalkan mereka?" Suara tangis bayi terdengar nyaring, memekakkan telinga juga menyentuh hatinya.


"Mama..." Bella membulatkan matanya.


"A a anakku." Bella menjauhi bibir jurang untuk mencari di mana suara itu berasal.


"Mama..." Bella meraba perutnya yang rata.


"Bayiku...!!! Kak Daniel!! Kak Daniel di mana!!!" Bella berlari tanpa menoleh, menembus cahaya yang terbentang di sepanjang gurun tersebut.


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2