
Happy reading 🥰
Bu Eka memincingkan matanya, mencoba menyakinkan jika gadis yang sedang berbincang dengan satpam adalah Bella, gadis yang di ketahui istri Daniel.
Kalau salah bagaimana? Aku tidak yakin... Bu Eka memutuskan untuk masuk lift seraya membawa berkas yang di minta Daniel.
Fikirannya sedikit kalut, ingin kembali untuk memastikan namun dia tidak yakin. Bu Eka takut salah orang mengingat umurnya hampir separuh Abad.
Kalau iya bagaimana? Tapi, pura-pura saja tidak tahu. Pak Daniel juga tidak akan sadar nantinya.
"Ini berkas yang Pak Daniel minta." Daniel tersenyum lalu mengambil berkas tersebut seraya melirik jam dinding yang ada di atas pintu ruangannya.
"Bagus." Daniel menandatangani berkas dan kembali memberikannya pada Bu Eka." Berikan pada direktur pemasaran agar perusahaan ini kembali normal." Bu Eka tersenyum dan mengambil lagi berkasnya.
"Permisi Pak." Ketika akan beranjak, suara Daniel menghentikan nya.
"Tunggu Bu Eka." Bu Eka urung melangkahkan kakinya.
"Ada yang salah Pak?"
"Tidak. Em bukankah Bu Eka akan ke bawah."
"Iya Pak. Untuk memberikan berkas ini lagi."
"Saya boleh minta tolong?"
"Tentu saja. Apa yang bisa saya bantu?"
"Bilang pada satpam depan, jika sekitar pukul dua sampai jam tiga, mungkin istri saya akan datang ke sini. Dia mengenakan seragam jadi jika ada ciri-ciri tersebut. Tolong hubungi saya dulu." Bu Eka langsung mengingat potret soal Bella yang tengah berbincang tadi. Kedatangan Bella yang lebih awal, membuat Daniel terlambat untuk memberikan perintah pada satpamnya sehingga terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
"Em maaf Pak. Saya tadi melihat seorang gadis sedang berada di pintu masuk lobby. Sepertinya dia tidak di perbolehkan masuk sebab..." Belum sempat Bu Eka selesai menjelaskan, Daniel sudah beranjak dari tempat duduknya untuk memastikan jika itu benar-benar Bella.
Sementara Bella sendiri, hilang kesadaran karena kelelahan akibat panas terik setelah perjalanannya. Apalagi kondisinya belum sepenuhnya baik paska sakit kemarin. Bukan daya tahan tubuh yang melemah, tapi tubuh Bella masih menyesuaikan diri dengan otot tegang saat percintaan dengan Daniel berlangsung.
"Non.. Aduh Non kok malah pingsan." Si satpam tentu merasa binggung, melihat tubuh Bella tidak bergerak dengan posisi duduk.
"Astaga sayang." Pekik Daniel langsung melepaskan jaket Bella untuk menutupi paha yang tidak sengaja tersingkap.
Si satpam menelan salivanya kasar, menyadari jika gadis itu tidak sedang berbohong pada nya tadi. Rasa sesal langsung menjalar, dia tentu takut Daniel akan marah padanya.
"Maafkan saya Pak. Saya tidak tahu jika dia Adik Bapak."
"Dia istri saya. Tolong ambil mobil saya." Si satpam melongok, berhenti bernafas sejenak karena gadis kecil yang di kiranya tengah mengada-ada ternyata istri dari bosnya.
Mampus aku.. Di pecat deh sebentar lagi. Jika tahu dia istri Pak Daniel, ku suruh masuk saja!! Umpatnya tidak sadar jika sejak tadi Daniel menyodorkan kunci mobil padanya.
"Bisakah Bapak membawa mobil saya ke sini!!" Pintanya sedikit berteriak sebab sejak tadi Daniel tidak mendapatkan respon.
"Baik Pak." Bergegas saja satpam itu meraih kunci untuk membawakan mobil yang berada di parkiran, sementara Daniel mencoba menyadarkan Bella namun tidak berhasil.
Daniel menjadi sorotan, saat mulai mengangkat tubuh Bella dan mendudukkannya di dalam mobil.
"Maaf Pak Daniel." Daniel tidak menjawab dan langsung meraih kunci dan melajukan mobilnya ke klinik terdekat." Mati aku. Pasti di pecat." Gumamnya.
"Memangnya ada apa sih Pak." Tanya resepsionis yang ikut melihat.
"Gadis itu ternyata istri Pak Daniel, saya tidak tahu."
"Istri? Bukankah gadis itu masih SMA?" Si resepsionis tentu merasa kaget.
"Kalau masalah itu sih wajar. Daripada zina, pacaran tidak jelas, bukankah lebih baik menikah muda."
"Ya tapi kenapa mesti gadis SMA padahal aku lebih pantas Pak." Bukan hanya Lisa, tapi banyak dari staf di perusahaan itu yang mengidolakan Daniel meski tidak segila Lisa.
"Berhenti bergosip!!" Sahut Bu Eka."
"Eh Bu Eka."
"Mau istri Pak Daniel masih TK atau SD, itulah pilihannya. Jangan merasa lebih baik tanpa berkaca dahulu. Kembali berkerja, kau tidak bersyukur Pak Daniel bisa berkerja lagi?" Si resepsionis tertunduk karena Bu Eka memang wanita yang tegas dan banyak di takuti para staf.
"Ya bersyukur Bu."
"Maka dari itu! Berkerja dengan baik dan jangan membahas hal tidak penting seperti itu!!"
"Iya Bu." Si resepsionis tersenyum aneh kemudian kembali berjalan masuk.
"Aku pasti di pecat setelah ini." Bu Eka mengalihkan pandangannya pada Si satpam yang terlihat lesu.
"Pak Daniel tidak akan sembarangan memecat, jadi tidak perlu takut." Jawab Bu Eka berjalan masuk, di ikuti oleh si satpam yang berusaha berfikir soal Daniel yang memang berhati baik.
.
.
.
"Tekanan darahnya sedikit rendah Pak di tambah dehidrasi karena panas." Ucap Dokter setelah memeriksa Bella.
"Tidak ada sakit yang serius Dok?"
"Tidak ada Pak." Daniel bernafas lega mendengar itu.
Bella yang baru saja sadar tengah berada di klinik, langsung duduk dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Daniel.
"Bawa aku pergi Kak, kenapa di bawa ke sini! Nanti aku di suntik!!" Celotehnya meski tubuhnya masih terasa lemas.
"Belum boleh Nona. Besok baru boleh pulang setelah di berikan cairan untuk memulihkan stamina." Kalungan tangan Bella semakin erat hampir mencekik leher Daniel.
"Aku tidak mau?! Aku mau pulang pokoknya aku mau pulang." Kedua kaki Bella bahkan sudah terikat kuat pada pinggang Daniel dan bersiap untuk pergi.
"Dia takut di suntik Dok, apa tidak bisa rawat jalan saja?" Meskipun Daniel merasa tercekik tapi dia mencoba memahami dengan ketakutan Bella sekarang.
"Jika tidak di infus tidak akan maksimal Pak penyembuhannya."
"Aku mati saja Kak!! Aku tidak mau!! Lebih baik aku mati!!" Teriak Bella membuat Daniel tersenyum aneh begitupun si dokter yang tengah tersenyum tipis.
"Saya mohon Dok." Pinta Daniel lirih.
"Hm baik." Dokter tersebut kembali duduk ke kursi kerjanya untuk membuatkan resep.
"Sudah dengar? Tidak jadi di infus." Rajuk Daniel berbisik.
"Aku masih lemas, tapi jangan bilang dokter Kak. Ayo pulang saja, aku takut di suntik." Jawab berbisik. Daniel terkekeh dalam hati melihat sikap Bella sekarang.
"Iya. Tapi jangan begini. Pindah ke punggung ya." Bella merenggangkan kalungannya dan melepaskan ikatan kakinya. Daniel segera berbalik meski kedua tangan Bella masih menggalung di lehernya.
"Kak ayo cepat pergi." Pintanya membelai telinga Daniel.
"Tunggu resep dulu." Daniel mulai berjalan ke meja dokter untuk mengambil resep obat yang harus di tebus.
"Ini resepnya Pak, perbanyak minum air putih, makan buah sayur yang bisa menambah darah."
"Baik Dok. Permisi." Daniel melangkah pergi keluar ruangan dan berjalan ke apotek yang tepat berada di depannya. Keduanya jadi sorotan meski Daniel tidak perduli apalagi Bella masih sesekali menutup matanya yang berkunang-kunang.
Di dalam mobil
Daniel fokus menyetir, sesekali melihat ke arah Bella yang masih memejamkan mata meski dia tidak sedang tidur.
"Sejak kapan kamu di depan perusahaan sayang?" Tanya Daniel pelan. Dia sangat hafal cara tidur Bella sehingga dia bisa tahu jika sekarang Bella belum tidur.
"Pulang sekolah Kak."
"Kenapa tidak telepon?"
"Sudah." Jawabnya sedikit merengek." Kak Daniel tidak mengangkatnya." Daniel menarik nafas panjang, dia bahkan lupa ponselnya ada di mana.
"Maaf sayang. Aku sedikit sibuk hari ini. Kita ke perusahaan sebentar untuk mengambil ponsel ya."
"Ganti seragam staf wanita Kak." Daniel menoleh cepat, ketika tiba-tiba Bella berkata demikian.
__ADS_1
"Maksudmu sayang?"
"Seragam para pegawai mu itu."
"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Daniel tentu bertanya-tanya.
"Ganti yang ganti. Tidak perlu ada alasannya dan tanya kenapa. Ahh pusing sekali, mataku berkunang-kunang."
"Hm, kamu mau desain yang seperti apa?"
"Tidak minim." Daniel tersenyum dan sedikit tahu dengan maksud perintah dari Bella.
"Lalu?"
"Ganti semua dengan celana dan tidak boleh ada yang memakai rok apalagi rok mini." Daniel mengangguk-angguk dan tidak mempermasalahkan itu.
"Ide yang cukup bagus. Nanti akan aku konfirmasi pada bagian itu untuk mengganti seragam para staf wanita."
"Sekarang! Bukan nanti atau besok."
"Oke istriku siap." Daniel membelokkan mobilnya dan sengaja memarkir tepat di depan pintu Lobby.
"Tunggu di sini, aku akan mencari ponsel dan melakukan perintah mu tadi."
"Aku ikut." Sahut Bella cepat.
"Kamu sakit. Aku hanya sebentar."
"Ikut ya ikut." Daniel membuka pintu lalu menghampiri Bella yang berusaha akan berdiri. Segera saja Daniel berjongkok seraya menepuk pundaknya sendiri.
"Naik sayang."
"Tidak malu?"
"Tidak sama sekali." Dengan sedikit terhuyung, Bella melingkarkan kedua tangannya pada leher Daniel.
Satpam yang merasa bersalah, langsung membukakan pintu seraya menunduk penuh sesal.
"Maafkan saya Pak Daniel." Ucapnya lirih.
"Tidak apa Pak. Istri saya memang tidak enak badan." Sesuai tebakan Bu Eka, jika Daniel tidak akan memecat seseorang dengan asal-asalan.
"Terimakasih Pak Daniel."
"Sama-sama." Saat Daniel akan melangkah masuk lift, suara Lucas menyapa.
"Nona Bella kenapa?"
"Kebetulan Lucas, tolong cari ponsel di ruangan saya dan suruh Bu Ira memesankan seragam baru khusus para staf wanita." Lucas mengerutkan keningnya mendengar itu.
"Apa ini bagian dari perubahan baru Tuan."
"Bajunya tidak boleh minim, harus memakai celana dan tidak di perbolehkan memakai rok apalagi yang mini." Sahut Bella cepat. Kepalanya kembali di sandarkan pada pundak Daniel yang tengah tersenyum begitupun Lucas.
"Siap Nona. Sebaiknya Tuan tunggu di Lobby, biar saya ambilkan ponselnya."
"Terimakasih Lucas."
"Sama-sama Tuan." Lucas masuk ke dalam lift, sementara Daniel mendudukan Bella di salah satu tempat duduk di Lobby.
"Sebentar lagi kita akan pulang agar kamu bisa beristirahat." Bella mengangguk dan bersandar lemah pada pundak Daniel dengan mata tertutup.
Rumor tentang Daniel yang seorang gay terpatahkan. Ucapan yang di lontarkan tadi siang, membuat seluruh staf tahu jika Daniel sudah menikah.
Apalagi saat melihat sikap manis yang di tujukan sekarang. Semakin membuat para staf wanita menjerit dan ingin berada di posisi Bella.
"Apa di sekolah sudah seperti ini?" Tanya Daniel memainkan jemari kecil Bella tanpa perduli pada orang berlalu lalang di depannya.
"Aku baik-baik saja tadi. Tapi setelah berjalan menuju perusahaan, tiba-tiba aku lemas. Mungkin karena panas Kak." Jawab Bella lemah.
"Maaf. Lain kali tidak akan terulang. Em jadi hari ini tidak berjalan-jalan?"
"Tidak!" Suara Bella berubah ketus.
"Seragam!" Bella membuka matanya sedikit dan melihat pegawai resepsionis yang tengah memakai seragam minim dan ketat.
"Hanya itu?"
"Iya." Bella mengangguk." Buktinya Kak Daniel melupakan aku kan." Daniel menunduk dan menoleh ke arah Bella.
"Aku tidak pernah melupakanmu?" Daniel menelungkup wajah Bella dengan kedua tangannya dan menyeka air yang keluar dari sudut mata Bella." Apa yang terjadi? Apa aku melakukan salah lagi sayang?" Imbuh Daniel bertanya.
"Sudahlah.." Jawab Bella tidak ingin memperpanjang masalah karena tengah berada di area perusahaan.
"Bagaimana bisa menyudahi, jika hatimu masih terasa sakit."
"Kak Daniel kenapa sok tahu sih." Daniel merapatkan dekapannya saat tarikan nafas berat terasa berhembus. Dia yakin istri kecilnya sedang sakit hati padanya.
"Aku sedikit sibuk karena perusahaan sangat berantakan sayang. Maafkan aku jika mengabaikan panggilan mu tadi." Bella kembali menarik nafas panjang karena perkataan Daniel semakin membuat dadanya sesak.
Entah dia merasa menyesal akan rasa cemburunya yang berlebihan, atau dia merasa terharu pada Daniel yang selalu berkata maaf meskipun dia yang bersalah, yang pasti hati Bella terasa begitu sesak dan sakit.
Bella membenamkan kepalanya, tidak berucap namun mulai terisak. Dia merasa malu pada sekitar, sehingga dia sedang berusaha menahan tangisnya yang entah karena apa.
"Ada apa Tuan?" Tanya Lucas lirih, memperhatikan Bella yang tengah menangis sesenggukan.
"Aku tidak memenuhi panggilannya di telepon." Lucas tersenyum, kemudian mengangguk sebentar dan pergi." Kita pulang, terus saja menangis agar perasaanmu lega." Daniel tidak banyak berkomentar, dia mengangkat tubuh Bella dengan rasa sesal akan sikap acuhnya hari ini.
.
.
.
.
Daniel duduk di bawah, sementara Bella tengah berbaring di sofa. Sesekali tubuhnya berputar untuk memeriksa Bella yang masih tertidur dengan mata bengkaknya.
Apa ponselku rusak.. Padahal aku yakin sudah membunyikannya tapi aku tidak mendengar telepon dari Bella..
Daniel tentu gusar, sangat menyesal dengan apa yang terjadi hari ini hingga membuat Bella sakit.
Tangannya meraih ponsel dan memeriksa pengaturan yang tidak berubah. Daniel mengecilkan volume dering lalu menelfon ponsel miliknya dengan ponsel Bella.
Terang saja aku tidak dengar.. Rasanya ponsel ini tidak bisa berdering dan bergetar...
Daniel meletakan ponselnya lalu kembali berbalik badan untuk memeriksa Bella yang ternyata sudah membuka matanya. Tangan kanannya menutup laptop dan menfokuskan tatapannya pada Bella.
"Maafkan aku." Ucap Daniel penuh sesal seraya memberikan beberapa ciuman pada wajah Bella.
Bella tidak bergeming dan malah mengalihkan pandangannya. Bukan tidak memaafkan, tapi dia merasa malu dengan kejadian tadi.
Ya Tuhan.. Kenapa aku bersikap seperti tadi. Kasihan Kak Daniel pasti merasa malu besok karena sikapku yang kekanak-kanakan.. Seharusnya aku bisa menahan diri, bukankah sudah jelas jika sekarang aku istri nya. Apa pantas istri seorang pemilik perusahaan bersikap seperti tadi.. Runtuk Bella dalam hati. Sesekali matanya melirik ke arah mimik wajah Daniel memandang nya penuh sesal.
"Ya sudah sayang. Jika memang masih marah, tidak masalah. Aku hanya ingin memberitahu jika ponselku sedikit ada masalah. Dia tidak berdering dan itu kenapa aku tidak mendengar panggilan mu." Imbuh Daniel mencoba menjelaskan. Sikap Bella sekarang membuatnya kebakaran jenggot apalagi keadaan Bella terlihat pucat dengan bengkak di kedua matanya.
"Aku lapar Kak." Bella tiba-tiba duduk dengan seringai di wajahnya sebab kepalanya masih terasa berat.
"Aku memesan sate kambing agar kondisimu cepat pulih."
"Hm.."
"Sebentar sayang." Daniel berdiri untuk mengambil sate kambing di dapur. Bella meraih ponselnya yang tergeletak dengan wajah panik. Dia takut Daniel akan memeriksa ponsel yang kini beralih fungsi sebagai alat untuk mencari uang.
Bella tidak ingin berhenti berjualan online meskipun masih dengan cara dropship. Setiap hari, dia bisa menjual beberapa produk kecantikan tanpa mengemas dan repot-repot mengirim. Bella Hanya perlu mengkonfirmasi pesanan dan dia sudah mendapatkan untung yang langsung otomatis terkirim pada rekening yang tempo hari Daniel buatkan untuknya.
Meskipun mungkin keadaan keuangan akan membaik, namun Bella merasa sangat senang bisa mengasah kemampuannya dari buku marketing yang sering di bacanya.
Syukurlah.. Untung ku senyap kan. Bella meletakkan kembali ponselnya ketika Daniel sudah membawa nampan untuk makan siang mereka.
"Makan sayang." Daniel meletakkan nampan lalu mengambil satu piring sate lengkap dengan lontongnya.
__ADS_1
"Aku makan sendiri." Bella mengambil piring dari tangan Daniel.
"Biar ku suapi." Tawar Daniel kembali merebut piring namun Bella malah mengambil piring yang ada di atas nampan.
"Bukankah Kak Daniel belum makan juga. Aku bisa makan sendiri." Daniel meletakkan kembali piring di tangannya.
"Aku tidak lapar, melihat keadaan mu sekarang." Jawabnya lemah. Bella menoleh dan melihatnya dengan mata bulatnya, kemudian kembali fokus pada makanannya.
Rasanya dia serius menanggapi kemarahan ku tadi. Padahal, aku sendiri menyesal melakukan tadi meski.. Seragam staf wanita harus tetap di ganti..
"Nih." Bella menyendokkan makanan ke arah Daniel.
"Sudah di maafkan." Tanya Daniel lirih seraya tersenyum menatap sendu ke arah Bella.
"Aku malu. Jangan di bahas. Ayo Kak, tanganku lelah." Daniel memakan suapan dari Bella lalu merebut piring yang di bawa.
"Malu? Aku minta maaf untuk tadi, aku menyesal hingga membuatmu sakit." Tanpa di minta, Bella membuka mulutnya dan menerima suapan yang di berikan Daniel.
"Sudah ku bilang jangan di bahas."
"Seragamnya tidak jadi?"
"Jadi!! Hish!!!" Jawab Bella cepat dengan tatapan tajam." Aku tidak mau Kak Daniel melihat staf wanita dengan seragam minim itu!!" Imbuhnya seraya memegang kepalanya yang nyeri.
"Jangan berteriak, kamu masih sakit."
"Pokoknya harus di ganti."
"Hm iya, sudah di urus Lucas."
"Berapa lama jadinya Kak?"
"Seminggu mungkin sayang."
"Lama sekali sih."
"Kan membuat banyak seragam. Aku juga tidak pernah melihat hal seperti itu. Aku hanya ingin melihat mu." Jawab Daniel mencoba mematahkan kekhawatiran Bella sebab Daniel tidak pernah merasa berselera. Jika mungkin dia tertarik pada salah satu staf, mungkin sudah sejak dulu dia menikah.
Sikapnya acuh tapi sangat ramah hingga sikap dinginnya tersamarkan meski rumor tentang ketidaknormalan nya mencuat. Itu terjadi karena Daniel tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Sekali berhubungan dengan Fanny, sikapnya masih terlihat dingin dan acuh. Satu kali pun mereka tidak pernah bersentuhan atau sekedar bergandengan tangan.
Mereka selalu berjalan terpisah, walau sesekali Fanny mencoba meraih jemari tangannya. Daniel menghindar dan tentu hal itu menjadi sorotan publik apalagi para staf wanita yang mengidolakannya.
Bugh!
Daniel tersenyum dan sedikit kaget ketika Bella memukul perutnya lembut.
"Buktinya tadi aku di acuhkan." Daniel menarik nafas dan kembali meruntuki perbuatannya tadi. Dia terlalu fokus pada perusahaan yang berantakan hingga mengacuhkan orang yang terpenting dalam hidupnya.
"Iya maaf. Aku sungguh minta maaf. Perusahaan sedang berantakan dan aku harus meluruskan beberapa masalah."
"Pasti besok juga begitu." Celoteh Bella yang memang masih kesal meski dia menyadari kesalahan sikapnya." Satpam itu bahkan menyuruhku pergi karena Kak Daniel tidak menitipkan pesan jika aku mau datang." Daniel kembali menghembuskan nafas berat. Dia meletakkan piringnya dan merengkuh tubuh Bella erat.
"Aku baru menitipkan pesan tapi Bu Eka sudah memberikan laporan jika ada gadis SMA di depan." Bella baru sadar, jika kesalahan juga terletak padanya yang datang lebih awal dari perjanjian." Ku fikir kamu masih di Plaza untuk bersenang-senang jadi aku baru menitipkan pesan pukul setengah dua lebih." Bella menyadari jika dia juga bersalah.
"Aku teringat rok mini." Bella memposisikan kepalanya senyaman mungkin saat bersandar. Hidung kecilnya menempel pada leher Daniel dan menghirupnya kuat.
Ada rasa rindu terbesit, setelah pertengkaran singkat karena kesalahpahaman. Rasanya Bella ingin memeluk tubuh kekar yang tengah mendekapnya untuk menumpahkan rasa rindu yang di rasa berlebihan.
"Hm akan ku suruh Lucas menetapkan peraturan baru besok sehingga staf wanita di haruskan memakai celana meski seragamnya belum jadi."
"Bukannya aneh Kak jika tiba-tiba."
"Itu perusahaan mu sayang. Kamu boleh menetapkan peraturan asal jangan merugikan para pegawai." Bella tersenyum mendengar itu. Ada rasa bangga ketika Daniel berkata jika itu perusahaan miliknya.
Bella bahkan tidak pernah membayangkan, memiliki seorang suami dewasa, sesuai kriterianya bahkan dia juga pemilik perusahaan terbesar nomer dua setelah Asian Grup.
"Itu perusahaan mu Kak."
"Milikku adalah milikmu." Daniel mengangkat dagu Bella dan melahap bibirnya." Aku sangat rindu, bagaimana dengan kamu?" Tanya Daniel kembali melahap bibir mungil itu lagi dan lagi hingga membuat pemiliknya melenguh.
"Aku kesal tapi rindu juga." Bella sedikit mengangkat bokongnya dan menumpukan nya pada paha Daniel.
Daniel mengusap kaki Bella seraya terus melahap bibir mungil yang mulai terbuka hingga ciuman semakin dalam. Perasaan rindu yang sama-sama di rasakan membakar adegan ciuman kali ini menjadi sedikit memanas.
Secepat kilat Daniel menindih tubuh Bella yang masih mengenakan seragamnya tadi. Beberapa kali Daniel melepaskan ciuman dan memperlihatkan senyumnya. Namun Bella kembali tidak bisa menahan diri dengan menekan lembut tengkuk Daniel agar tidak melepaskan ciuman tersebut.
Rok sekolahnya tersingkap dengan atasan seragam yang terangkat dan memperlihatkannya perut ratanya, membuat Daniel semakin bersemangat.
"Kak." Bella mencegah tangan Daniel yang akan menarik atasan seragamnya." Nanti rusak." Imbuhnya konyol.
"Aku merasa ini sangat menyenangkan sayang. Dan aku merasa jika otakku benar-benar tidak waras. Kenapa aku lebih bergairah melihat Bella menikmati sentuhan ku dengan seragam sekolah ini..
"Menyenangkan apa?" Tanya Bella mengecupi pinggiran bibir Daniel yang tengah menertawakan dirinya sendiri.
"Bercinta dengan mu sangat menyenangkan. Aku mencintaimu."
"Aku juga Kak." Bella meraih pinggang Daniel dan merapatkannya.
"Katakan dengan jelas."
"Aku juga mencintaimu."
"Aku lebih mencintaimu." Daniel kembali melahap bibir Bella dengan miliknya yang pasti sudah menegang sejak awal.
Bella merasakan itu, hingga kembali menginginkan Daniel melakukan malam keduanya sekarang.
"Tidak sayang. Kamu sedang sakit." Cegah Daniel merasakan bahasa tubuh Bella yang tidak ingin melepaskan lingkaran tangannya pada pinggangnya.
"Kak ayo." Daniel sungguh ingin melakukannya tapi dia kembali tidak tega melihat keadaan Bella juga masih menginginkan Bella lulus sekolah.
Gerakan Bella semakin nakal, dia menekan pinggangnya hingga milik Daniel yang mengeras bersentuhan dengan milik Bella yang sudah basah dan siap di masuki.
"Ah sayang kamu nakal sekali sekarang." Lenguh Daniel dengan suara parau. Dia menikmatinya, hingga bibirnya setengah terbuka dengan nafas memburu." Kau membuatku tidak tahan sayang." Daniel gelap mata hingga bibirnya mulai mencumbu leher Bella dan memberikan beberapa tanda. Bella mengelinjang sesekali mendesis dengan kedua tangan yang mulai membuka kancing baju seragamnya karena menginginkan Daniel bermain di dua gundukan miliknya.
Tok.. Tok.. Tok...
"Siapa?" Ucap keduanya bersama.
Tok..Tok..Tok...
"Tunggu sayang."
"Kak tidak." Bella tidak ingin melepaskan penyatuannya karena sudah setengah jalan.
"Ada tamu sayang."
Tok.. Tok.. Tok...
"Siapa sih!!" Eluh Bella kesal.
"Tidak baik begitu. Nanti kita lanjutkan. Oke." Ucap Daniel merajuk." Lepaskan sayang. Please Baby.." Tangan Bella merenggang dan Daniel segera duduk, tidak langsung berdiri. Dia ingin menidurkan miliknya sebentar karena tidak mungkin dia keluar dengan miliknya yang mencuat." Sebaiknya kamu berganti baju sayang. Agar fikiran ku semakin gila saja. Pasti menyenangkan bercinta dengan seragam sekolahnya itu. Ahh Tuhan..
"Iya Kak. Ini juga basah." Bella berdiri dengan tangan bertumpu pada pundak Daniel.
"Kuat berjalan?"
"Iya Kak."
Tok.. Tok.. Tok...
"Cepat buka Kak." Pinta Bella berjalan perlahan ke belakang sementara Daniel beranjak bangun untuk membuka pintu.
~Riane
Sudah puas belum😁
Bab nya hanya menceritakan mereka saja malahan🤣
Mau bagaimana lagi😁Itu tergantung ide yang ada di otak..
Semoga suka dan tidak bosan😭
__ADS_1
Terimakasih dukungannya 🥰