Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 29


__ADS_3

"Biar aku." Daniel menggeser bak cucian dan mulai mencuci dengan tangannya. Dia tidak tega melihat tangan kecil Bella melakukannya." Besok kita beli mesin cuci ya." Imbuhnya tersenyum.


"Aku biasa melakukannya manual jika di rumah, mesin cuci tidak terpakai karena tidak bersih." Jawab Bella kembali beralasan. Sangat tidak penting membeli mesin cuci. Uangnya bisa di pakai untuk kebutuhan lain..


Sesekali Bella menggaruk punggungnya yang terasa semakin gatal. Dia mencoba menahannya meski rasanya sangat tidak nyaman.


Perlahan, tangan Bella akan mengambil baju kotor dan berniat menguceknya namun dengan sigap, Daniel menyingkirkan tangan Bella lembut.


"Lihat saja, tanganmu terlalu kecil untuk melakukan ini."


"Aku terbiasa melakukannya di rumah."


"Kebiasaan itu harus di rubah. Sekarang, kamu duduk saja biar aku yang lakukan. Aku cukup senang kamu temani, apalagi ini.." Daniel tersenyum dan menunjuk pipinya." Bantu aku dengan itu hehe." Wajah Bella berubah memerah hanya dengan membayangkan tengah mencium pipi Daniel.


"Lebih baik aku mencuci sendiri jika begitu." Tolak Bella yang sebenarnya ingin melakukannya.


"Ya sudah jika tidak mau. Mungkin kamu masih malu sayang. Akan ku tunggu sampai kamu mau melakukan itu tanpa ku suruh." Bella menoleh dan menatap wajah Daniel yang tengah tersenyum dari samping.


Dia lelaki yang baik, tapi kenapa Tuhan memberikan dia cobaan seberat itu? Apa hanya karena ingin mempertemukan kami? Jika memang itu alasannya, kenapa Tuhan tidak merangkai pertemuan yang indah saja. Sehingga aku tidak harus melihatnya kesulitan seperti sekarang..


Cup...


Mata Bella melebar, menyadari wajah Daniel sudah berada di dekatnya dan memberikan sebuah kecupan singkat di pipi. Itu membuatnya kaget sehingga dia tidak sempat berkata satu katapun.


Cup...


"Apa yang kamu fikirkan?" Tanya Daniel lembut.


"Kak Daniel.." Jawab Bella terbata.


"Memikirkan aku? Astaga manis sekali." Jawaban dari Daniel semakin membuat Bella panik dan menyebabkan dia memundurkan tubuhnya. Bangku kecil yang di duduki bergeser, tubuh Bella oleng lalu Daniel mencoba menangkapnya dan..


Bruuuuuuukkkkk!


Tubuh Daniel hampir menimpanya jika tangan Daniel tidak menahannya. Sementara Bella sendiri langsung memasang perlindungan dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Astaga sayang, ceroboh sekali.." Ucap Daniel mengangkat kepala Bella dengan satu tangannya.


"Kak Daniel sih!" Runtuk Bella langsung berdiri.


"Kenapa dengan aku? Apa kepalamu baik-baik saja." Daniel memeriksa kepala Bella sehingga dada bidangnya berada tepat di hadapannya.


"Tidak apa." Bella memundurkan tubuhnya pelan membuat Daniel tersenyum menanggapinya." Aku kaget karena ulahmu Kak." Imbuhnya berpura-pura memeriksa bajunya dengan menunduk.


"Itu juga karena ulahmu." Bella menegakkan pandangannya.


"Kenapa aku?"


"Memikirkan apa hingga tidak merespon obrolanku?"


"Em itu, lupa." Jawab Bella pelan.


"Benar-benar lupa atau pura-pura lupa." Goda Daniel lagi.


"Benar-benar lupa!" Daniel terkekeh mendengar nada bicara Bella yang meninggi." Selalu saja. Kak Bas juga sering menertawakan aku seperti itu." Daniel melangkah mendekati Bella dan mengantikan tertawaannya dengan senyuman hangat.


"Itu sangat mengemaskan hehe."


"Hm .. Cepat selesaikan. Aku mau mandi dan beristirahat sejenak."


"Tinggal membilasnya dan selesai. Tunggu.." Daniel kembali duduk untuk menyelesaikan cuciannya sementara Bella masih berdiri terpaku.


Getaran hebat kembali di rasakan saat tadi Daniel tepat berada di atasnya. Membayangkan itu membuatnya memikirkan fantasi kotor hingga Bella menggelengkan kepalanya seraya menarik nafas panjang.

__ADS_1


Bella segera duduk, ketika melihat Daniel menoleh ke arahnya. Dia tidak mempermasalahkan ciuman yang di berikan Daniel, tapi akibat dari ciuman itu membuat hatinya bergetar hebat. Terlalu hebat hingga bisa mengikis akal sehatnya.


*************


"Tapi kami hanya bisa menawarkan gaji di bawah standar." Ucap Lucas ketika ada seseorang yang langsung melamar pekerjaan padahal tulisan lowongan baru saja di pasang.


"Tidak apa Pak. Saya sudah lama menganggur dan membutuhkan perkerjaan. Ini lamaran perkerjaannya." Ucapnya menyodorkan map coklat. Lucas mengambil map coklat dan memeriksa berkas yang di berikan


"Berarti anda tahu mesin?"


"Iya Pak. Tapi saya belum pernah berkerja jadi tidak memiliki pengalaman." Lucas mengangguk-angguk seraya tersenyum.


"Kamu saya tempatkan sebagai mekanik. Sambil menunggu karyawan lain, besok kamu sudah boleh berkerja untuk mengecek mesin-mesin. Bagaimana?" Lucas kembali memasukkan berkas pada amplop coklat tersebut.


"Serius langsung di terima?"


"Iya asal kamu setuju dengan gaji kecilnya."


"Tidak masalah Pak. Astaga... Saya senang sekali." Raut wajahnya terlihat bahagia karena sudah lama dia tidak berkerja sejak lulus dari SMK." Kalau boleh tahu, berapa karyawan yang di butuhkan? Apa harus memiliki keterampilan khusus." Imbuhnya bertanya.


"30 orang. Tidak ada keahlian khusus. Mereka hanya perlu ulet dan jujur dan yang penting, bisa menerima gaji kecil itu."


"Kalau saya mengajak teman saya bagaimana Pak?"


"Asal teman kamu mau tidak masalah."


"Tapi dia hanya memiliki ijazah SMP?"


"Suruh dia menemui saya besok." Lelaki itu mengulurkan kedua tangannya dan mencium punggung tangan Lucas.


"Terimakasih Pak, besok saya ke sini bersama beberapa teman saya."


"Tidak perlu begini." Lucas menarik lembut tangannya, dia merasa tidak enak mendapatkan perlakuan itu.


Semoga setelah ini. Tuan kembali mendapatkan kesuksesannya lagi.. Sementara biar aku yang memasarkan produknya untuk mempersempit biaya..


*************


Tok...Tok... Tok...


Bella dan Daniel saling melihat ketika mendengar suara ketukan pintu. Baru saja Bella akan berbaring, suara ketukan mengurungkan niatnya untuk beristirahat.


"Akan ku lihat."


"Aku takut Kak." Bella cepat-cepat beranjak dari tempat tidurnya lalu mengekor berjalan ke depan.


Cklek...


"Maaf menganggu..." Ucap Pak Ahmad, ketua RT setempat.


"Tidak Pak silahkan masuk."


"Saya hanya ingin memberikan ini." Menunjuk ke arah kardus besar yang di letakkan di bawah. Pak Ahmad juga salah satu yang menjadi saksi pernikahan antara Bella dan Daniel, sehingga dia sudah tahu jika Bella tinggal di rumah Daniel sekarang.


"Apa itu Pak."


"Ini sumbangan dari warga sini untuk Nak Bella, saya yang berinisiatif menggalang dana tersebut. Maaf jika lancang, saya hanya merasa kasihan dengan Nak Bella yang harus kehilangan segalanya." Ucap Pak Ahmad menjelaskan. Apalagi Bastian selalu aktif memberikan suntikan dana untuk desa, sehingga membuat hati Pak Ahmad tergerak untuk memberikan bantuan kecil itu.


"Astaga Bapak, jadi merepotkan. Saya sudah memiliki dia." Dengan manja Bella meraih lengan Daniel dan memegangnya erat.


"Mohon di terima Pak Daniel dan Nak Bella. Biar warga merasa senang dan ini juga termasuk amanah dari mereka." Bella terdiam dan tidak berani mengambil keputusan. Dia takut Daniel merasa tersinggung menerima bantuan tersebut sehingga dia menyerahkan keputusan pada Daniel.


"Sayang bagaimana?" Tanya Daniel lirih.

__ADS_1


"Aku tidak masalah tapi keputusan ada padamu." Jawab Bella.


"Saya mohon Pak Daniel. Kami tidak bermaksud menghina atau merendahkan. Kami hanya ingin meringankan beban Nak Bella saja. Apalagi mengingat jika Pak Bastian sering menyokong dana untuk pembangunan desa ini. Sehingga saya rasa, ini hanya bantuan kecil saja." Daniel menarik nafas panjang. Dia sebenarnya tidak ingin menerima bantuan tersebut. Tapi, dia juga tidak bisa berbohong, jika dia memang membutuhkannya.


"Baik saya terima Pak."


"Syukurlah.." Jawab Pak Ahmad tersenyum hangat.


"Sampaikan terimakasih saya pada para warga."


"Tentu saja Pak Daniel. Baik jika begitu, saya permisi." Pak Ahmad tersenyum kemudian berjalan pergi. Daniel mengambil kardus tersebut dan membawanya masuk.


"Apa isinya Kak?" Tanya Bella penasaran.


"Kita buka." Daniel meletakan kardus tersebut di atas meja dan membukanya. Terdapat sembako di dalamnya dan sebuah amplop coklat.


"Lumayan Kak, bisa untuk makan satu bulan." Daniel tersenyum dan tidak ingin membuat Bella merasakan jika hatinya merasa teriris.


Dunia benar-benar sudah berputar jauh, dulu aku selalu memberikan bantuan dan sekarang aku yang menerima bantuan saat aku sudah memiliki seseorang di sampingku..


"Iya sayang. Bukalah, ini milik mu." Daniel mengambil amplop dan menyerahkannya pada Bella.


"Milikku, milikmu juga." Bella membuka amplop yang berisi uang sejumlah tiga juta." Uang." Bella menyodorkan uangnya ke hadapan Daniel.


"Simpan untuk jajan di sekolah."


"Harga mie ayam dan bakso di sekolah hanya 10 ribu. Bawa uangnya Kak dan beri aku seperlunya." Bella kembali memasukkan uang ke dalam amplop.


"Meski begitu simpan saja untuk jajan."


"Biar ku simpan untuk belanja ya." Daniel terdiam dan sangat kagum dengan sikap dewasa yang di tujukan Bella padanya. Padahal gadis di hadapannya hanya anak SMA yang seharusnya memikirkan kesenangannya sendiri.


"Apa Kakakmu yang mengajarkan ini?" Bella mengangguk.


"Tidak boleh boros katanya." Jawab Bella lirih.


"Itu bukan boros sayang. Jika kamu ingin membeli baju lagi dengan uang itu tidak masalah."


"Baju bisa di cuci lalu di pakai lagi. Tapi untuk perut? Itu lebih penting hanya dari sekedar baju."


Ya Tuhan.. Aku melihat sisi lain dari gadis kecil di hadapanku ini. Dia masih sangat polos, tapi pemikirannya begitu dewasa.. Bagaimana cara Bastian mendidiknya?


"Kak.."


"Hmm.." Daniel menunjukkan senyum dengan mata sipitnya.


"Katanya mau memeriksa sesuatu? Aku juga ingin beristirahat sebentar." Ucapnya mengingatkan.


Untuk saat ini, aku hanya bisa diam sebab aku memang tidak memiliki apapun yang bisa kamu banggakan..


"Hm hampir lupa ayo." Daniel merangkul kedua pundak Bella dan mengiringinya ke dalam kamar.


"Ingat Kak, jika aku ketiduran. Jangan di tinggal pergi. Jika memang Kak Daniel ada perlu, bangunkan aku dulu." Daniel tersenyum menatap Bella yang mulai berbaring di tempat tidur.


"Iya aku ingat itu."


"Tapi aku hanya ingin berbaring sebentar saja."


"Lakukan sayang. Aku akan memeriksa sesuatu." Daniel menunduk dan mengecup kening Bella sejenak." Selamat beristirahat." Imbuhnya tersenyum lalu berjalan ke meja kecil dan sebuah laptop yang ada di atasnya.


Gatal sekali.. Kainnya sangat tidak nyaman.. Eluh Bella yang akhirnya memiliki kesempatan untuk menggaruk punggungnya. Matanya sesekali melirik ke arah Daniel yang mulai fokus pada layar laptopnya. Aku lapar dan ingin makan ayam krispi... Semoga usaha Kak Daniel cepat bangkit dan bisa membelikanku ayam krispi setiap hari seperti kak Bastian...


Penolakan yang di lontarkan Bella semata-mata terpaksa di lakukan. Apalagi, saat dia tidak sengaja mendengar lirih percakapan antara Daniel dan Lucas soal gaji minimum yang bisa di berikan, membuatnya semakin merasa kasihan pada Daniel dan tidak ingin menambah beban hidupnya.

__ADS_1


~Riane


__ADS_2