Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 26


__ADS_3

Bella duduk menunggu, seraya memperhatikan Daniel yang tengah sibuk mengurus kedatangan mesin. Sesekali Daniel melihat ke arah Bella yang tengah fokus memainkan game di ponsel miliknya dan sesekali juga, pandangan keduanya bertemu ketika tidak sengaja melakukan hal yang sama.


Seharusnya dia bisa duduk di rumah tanpa harus ikut datang ke gudang kotor ini...


"Tuan.." Lucas menepuk pundak Daniel lembut ketika laporannya tidak di terima Daniel dengan baik.


"Ya kenapa?"


"Tanda tangan." Lucas menyodorkan selembar kertas. Daniel mengambil bulpen dari tangan Lucas dan membubuhkan tanda tangan di sana. Lucas tersenyum lalu memberikan surat tanda terima pada sopir pengangkut.


"Uangku sangat tipis." Ujar Daniel pelan.


"Saya tahu Tuan. Berapa gaji yang bisa Tuan tawarkan?"


"Mungkin separuh dari jumlah gaji normal." Jawab Daniel seraya menghembuskan nafas berat.


"Saya akan membuat pengumuman lowongan agar mesin bisa beroperasi."


"Lalu bagaimana dengan dirimu?" Daniel menatap lemah ke arah Lucas.


"Maksud Tuan?"


"Gajimu akan sama seperti mereka." Lucas tersenyum tipis.


"Jangan fikirkan saya dulu Tuan. Saya masih memiliki simpanan uang untuk biaya hidup saya. Jika Tuan berkenan, saya akan memberikan simpanan saya sebagai tambahan dana." Tarikan nafas kembali terdengar, sehingga Lucas bisa membaca kebingungan perasaan dari Tuannya.


"Terimakasih atas bantuannya. Aku sudah cukup terbantu dengan tenaga yang kau berikan."


"Itu karena anda tetap jadi Tuan saya yang harus saya patuhi dan penuhi keinginannya." Pandangan Daniel beralih pada Bella." Tuan boleh pulang. Kasihan Nona Bella." Imbuh Lucas.


"Aku akan membalas kebaikanmu jika perusahaan ini berhasil."


"Saya tahu Tuan orang yang selalu menghargai kerja keras seseorang. Tanpa Tuan ucapkan, saya yakin Tuan akan melakukan hal itu."


"Baik. Aku pulang dulu. Jika ada apa-apa, hubungin aku."


"Baik Tuan." Daniel tersenyum lalu menepuk lembut pundak Lucas dan berjalan menghampiri Bella.


"Kita pulang sayang."


"Sudah?" Daniel mengangguk dan mengulurkan tangannya.


"Ahhh.. Kesemutan.." Eluh Bella mengurungkan niatnya untuk berdiri." Sebentar Kak." Bella memberikan ponselnya. Daniel mengantongi ponsel tersebut lalu duduk berjongkok di hadapan Bella.


"Mana yang kesemutan?"


"Nanti akan hilang sendiri." Bella merasa tidak enak melihat Daniel berjongkok di bawahnya.

__ADS_1


"Apa ini?" Daniel tidak mendengar penolakan Bella dan menyentuh telapak kaki kanan Bella.


"Agh! Jangan di sentuh!" Pekik Bella merasakan sensasi aneh saat Daniel menyentuhnya.


"Jika tidak di sentuh, tidak akan cepat sembuh."


"Bukan sakit tapi aneh!!" Runtuk Bella memegang erat pundak Daniel yang tepat berada di bawahnya seraya memejamkan matanya.


Lucas tersenyum melihat pemandangan manis di hadapannya, sementara Daniel terkekeh melihat wajah aneh yang Bella tunjukkan sekarang.


"Ini agar cepat sembuh." Bella mendesis untuk menahan teriakan sementara Daniel terus memijat kaki Bella lembut.


Satu menit kemudian, kaki Bella sudah bisa di gerakkan. Daniel berdiri lalu kembali mengulurkan tangannya. Bella meraih tangan kekar itu dan menggenggamnya erat.


"Bagaimana?" Tanya Daniel memastikan.


"Sudah Kak."


"Kita pulang."


"Hmm.." Bella meraih lengan Daniel lalu memegangnya erat dengan kedua tangannya, dia masih menyesuaikan kakinya setelah kesemutan tadi.


"Apa kita mampir beli ayam krispi?" Perut Bella berbunyi hanya dengan mendengar nama makanan kesukaannya.


"Tidak Kak." Tolak Bella ingin menghemat pengeluaran dengan memakan masakannya sendiri.


Alasan apa yang harus ku lontarkan.. Batin Bella tengah memikirkan alasan yang tepat agar Daniel tidak merasa curiga dengan penolakannya.


"Masakanku lebih enak rasanya, asal Kak Daniel mau menyuapiku." Jawab Bella lirih. Hatinya bergetar ketika ucapan itu terlontar. Dia merasa malu dan gugup, juga sedikit aneh ketika mengatakan sesuatu yang baru pertamakali keluar dari bibir mungilnya.


Kenapa mulutku bisa berkata ucapan sialan semacam itu!! Runtuk Bella dalam hati.


"Apa aku tidak salah dengar?" Ucapan itu bertujuan agar Daniel tidak lagi menawarkan si ayam krispi. Tapi ternyata, hati Daniel tersentuh bahkan merasa sangat bahagia.


"Tidak salah Kak, aku serius hehe.." Sudah ku katakan, jika aku tidak mau membebankanmu Kak...


Daniel membukakan pintu mobil dengan lembut. Tanpa berprotes, Bella segera masuk. Sebelum pintu tertutup, Daniel sempat menyuguhkan senyuman, lalu akhirnya dia berjalan mengitari separuh body mobil dan duduk di samping Bella.


Daniel sempat tersenyum lagi sebelum melajukan mobilnya menuju rumah.


"Kak Daniel bangun jam berapa?" Tanya Bella tiba-tiba.


"Maksud kamu, pagi hari?"


"Hm.." Bella mengangguk pelan.


"Aku terbiasa bangun pagi."

__ADS_1


"Bangunkan aku jika begitu." Bella mengucapkannya tanpa menatap Daniel karena merasa sangat malu.


"Jika tidak terbiasa bangun pagi, aku tidak masalah."


"Aku ingin bangun pagi dan menyiapkan sarapan untukmu." Kenapa aku bisa berkata semanis itu... Bella bahkan tidak sadar dengan apa yang di ucapkan. Itu terjadi begitu saja keluar dari bibirnya. Bella hanya ingin menjalani tugasnya sebagai istri ketika dia berada di samping Daniel. Dan, berubah menjadi siswi teladan jika di sekolah.


"Jika pagi, kita beli saja." Tolak Daniel tidak ingin Bella kelelahan dan kerepotan.


"Kak Daniel tidak mau?"


"Sangat mau sayang. Astaga, aku bahagia sekali mendengar niatmu itu." Daniel memarkir mobilnya di pekarangan rumahnya namun, tidak langsung turun.


"Kenapa tidak mau membangunkan?"


"Kamu masih kecil. Harus sekolah, tidak boleh terlalu lelah agar fikirannmu jernih dan nilaimu bagus." Jawab Daniel melontarkan alasannya.


"Tapi aku istrimu, meskipun kecil." Jawab Bella lirih.


Lagi lagi, sikap Bella sekarang membuat Daniel semakin menyukainya. Entah kenapa dia merasa gemas ketika melihat Bella berkata manja seperti sekarang.


"Aku merasa beruntung Tuhan memberikan musibah yang begitu buruk pada hidupku." Bella menoleh mendengar itu, membalas tatapan Daniel yang sejak tadi memang fokus ke arahnya.


"Kamu kehilangan segalanya Kak, bagaimana bisa merasa beruntung."


"Beruntung, karena itu jalan yang Tuhan ciptakan agar aku bisa menemukanmu." Tangan Daniel terangkat dan mulai mengusap pipi Bella lembut.


Jika mungkin Kak Daniel tidak di sini? Apa jadinya hidupku? Bella juga merasakan perasaan yang sama. Dia merasa beruntung dengan hadirnya Daniel. Bella memang tidak memiliki siapapun di kota itu, bahkan bibi satu-satunya yang di miliki, lebih memilih pergi menjauh hanya karena harta warisan yang jatuh ke tangan Mamanya. Bibi Bella merasa sakit hati dan menyebut Mama Bella orang yang tamak lalu memutuskan merantau ke luar pulau.


Bella membuang nafas kasar, ketika merasakan wajahnya semakin terasa panas. Dia berpaling hingga tangan Daniel terlepas begitu saja dari pipinya.


"Bukankah sebaiknya kita cepat turun agar cepat makan Kak." Tutur Bella ingin menghindari tatapan mata Daniel yang masih tidak beralih.


"Kenapa? Apa hatimu bergetar?" Bella terdiam, menarik nafas panjang seraya tertunduk. Ingin sekali dia berkata jika dia juga tertarik pada Daniel. Namun, dia takut tidak akan bisa melanjutkan sekolahnya jika Daniel mengetahui kalau dia juga menyukainya, bahkan mungkin sudah mencintainya.


"Omong kosong. Kita baru bertemu satu Minggu lalu. Tidak mungkin aku menyukaimu secepat itu." Jawab Bella mengelak.


"Hm begitu.." Daniel keluar lalu berjalan dan membukakan pintu untuk Bella.


Syukurlah dia percaya...


Cklek...


Pintu terbuka, Bella turun lalu berjalan menuju rumah. Sejauh ini, Daniel memperlihatkan sikap biasa saja seolah percaya pada perkataan Bella tadi.


Namun, saat Bella sudah menutup pintu rumah dan membalikkan badan. Terlihat Daniel tengah berdiri di hadapan dengan senyum menawan.


Tangan kanannya terulur, lalu memasukkan kunci pada tempatnya dan memutarnya cepat. Bella menegang hanya dengan gerakan itu, sehingga dengan mudah, Daniel menghimpit tubuh Bella dengan kedua tangan bertumpu pada daun pintu.

__ADS_1


~Riane


__ADS_2