Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 60


__ADS_3

Semoga suka


Happy reading 🥰


Lucas berhenti, menyadari sekelebat bayangan melintas. Dia berniat pergi ke rumah Daniel malam ini untuk memberitahu sebuah kabar bahagia.


Besok pagi, ada investor yang akan datang untuk melakukan kunjungan. Jika investor itu merasa puas, kemungkinan mereka akan mau membiayai pembangunan perusahaan yang mulai mengalami kenaikan.


Klik!


Lucas menyalakan lampu pada ponselnya untuk memeriksa kekhawatirannya tentang sekelebat bayangan tadi.


Bugh!!!


Seseorang memukul Lucas hingga pingsan dan menyeret tubuhnya menjauh dari perusahaan, sementara dua lainnya membawa jirigen besar yang berisi bensin.


Seperti rencana sebelumnya, Marco menyuruh tiga orang untuk melancarkan niat buruknya. Dia ingin membakar habis gudang milik Daniel, agar tidak lagi bisa membiayai hidup Bella.


"Beres? Lakukan dengan cepat." Bisik seseorang yang baru saja kembali dari menyingkirkan tubuh Lucas.


Dengan cepat mereka menguyur area gudang dengan bensin. Ketiganya melakukannya dengan begitu cepat dan proporsional mengunakan sarung tangan karet untuk menghilangkan jejak.


Setelah bensin sudah di guyur rata, tiga buah jirigen tambahan di letakkan pada tengah gudang agar api bisa menyala dengan sempurna.


Pemantik api di nyalakan, dengan senyum jahat, ketiganya melemparkan pemantik itu lalu pergi meninggalkan area gudang yang pasti akan terbakar dengan cepat.


Kobaran api yang besar, membuat para warga bisa melihatnya dengan jelas meski posisi gudang itu terletak jauh dari pemukiman.


Mereka berbondong-bondong datang ke lokasi dan menghubungi pemadam kebakaran sementara Lucas belum sadarkan diri.


Tap!!!!


Marco meletakkan amplop coklat tebal pada meja yang berisi uang.


"Pergilah ke luar kota malam ini juga!!" Pinta Marco. Ketiga orang itu saling melihat seraya tersenyum.


"Beres Bos, semua aman. Permisi." Mereka mengambil amplop coklat dan pergi keluar dari rumah Marco.


"Hahaha,, Rasakan kamu Daniel!!! Kau memang lelaki bodoh dan payah!! Bella akan menyadari itu dan segera lari ke arahku." Marco tersenyum jahat. Membayangkan jika Bella segera bersimpuh untuk memohon pengampunan nya.


Itu akan segera terjadi .. Dan setelah itu terjadi, aku akan bisa memilikimu seutuhnya Bella...


****************


Bella membungkam mulutnya cepat ketika bunyi sendawa keluar dari sana. Daniel kembali terkekeh melihat mata bulat Bella yang tengah menatap.


"Ahhh kelepasan Kak. Maaf tidak sopan." Ucapnya merasa tidak enak.


"Tidak perlu malu jika melakukan sesuatu yang kamu anggap tidak sopan."


"Itu menjijikkan Kak."


"Tidak ada yang menjijikkan sayang. Em.. Setelah kamu lulus, kita buat resepsi pernikahan untuk kita." Bella menguyah lagi seraya mengangguk-angguk.


"Sederhana saja Kak. Buat menandai saja agar warga tidak menyebutku istri simpanan hehe." Dulu Bella memang sempat tersinggung dan marah pada perkataan warga yang sembarangan menyebutnya sebagai istri simpanan.


Namun seiring berjalannya waktu, dia tidak perduli itu apalagi Daniel sudah tidak memperbolehkannya keluar untuk berbelanja sementara waktu.


"Kita buat yang spesial. Karena itu terjadi satu kali dalam seumur hidup."


"Kamu sudah spesial Kak." Ucapan itu terlepas begitu saja sehingga Daniel menoleh ke arah Bella.


Ahh terlepas...


"Maksudku, em terimakasih sudah mau menerima keadaanku." Imbuh Bella tersenyum aneh.


"Belum ada yang spesial dariku sayang." Bella menelan makanannya kasar sebab obrolannya terasa begitu mendebarkan akibat ulahnya sendiri.


"Intinya aku merasa beruntung ada kamu di sini Kak." Jawab Bella cepat.


"Itu sudah rahasia Tuhan. Hanya itu yang spesial?"


Duh!!! Kak Daniel pura-pura atau apa sih? Bukankah sudah kelihatan jika dia saaaangaaaaaaat spesial. Di lihat dengan mata tertutup pun sudah terasa...


Cup..


Hidung panjang Daniel menempel di pipi merah Bella yang tengah melamun, sehingga membuatnya terpekik kaget saat wajah Daniel sudah ada di hadapannya.


"Apa pertanyaan ku memberatkan mu?" Daniel menegakkan kepalanya namun pandangannya masih tidak beralih.


"Ti tidak... Aku... Lupakan soal ucapan tadi."


"Bagaimana bisa di lupakan. Itu obrolan yang menarik untuk di bahas." Bella terdiam untuk mencari jawaban dari pertanyaan Daniel.


"Emm aku suka lelaki dewasa jadi Kak Daniel kelihatan spesial hehe."


"Oh begitu. Em berarti kamu suka di manja.." Bella kembali membulatkan matanya, menatap ke arah Daniel.


"Bu bukan begitu?"


"Lalu bagaimana? Jika memang suka begitu, aku tidak merasa keberatan."


Kenapa aku selalu saja terjebak dengan ucapan ku sendiri...


"Lelaki dewasa kan bisa mengayomi Kak. Kalau sama-sama bocah kan tidak seru." Jawab Bella pelan.


"Lelaki dewasa belum tentu bisa bersikap dewasa sayang. Itu tergantung dari sifat masing-masing."


"Buktinya Kak Daniel kan dewasa dan banyak mengalah."


"Aku sudah begini sejak dulu."


"Sejak kecil?" Daniel mengangguk dan menatap fokus ke Bella yang tengah memasang wajah serius.


"Aku sering mengalah dan di anggap tidak berani. Padahal aku hanya tidak menyukai pertikaian. Jika ada jalan damai, aku lebih memilih jalan itu daripada harus saling menjatuhkan satu sama lain." Daniel menarik nafas panjang, mengingat terakhir kali pertemuannya dengan Andra beberapa tahun lalu.


Mengalah memang baik Pak Daniel. Tapi jika terlalu mengalah kita bisa terinjak-injak. Kalau Pak Daniel ingin serius menjalani bisnis, saya sarankan untuk lebih memperkuat hati. Bisnis bukan hanya soal keuletan dan keterampilan, tapi kekuatan hati juga. Saya doakan usaha Pak Daniel berhasil tapi tetap waspada terhadap orang sekitar..


Daniel membenarkan ucapan Andra yang memang lebih berpengalaman dan lebih tegas dalam bertindak, tidak seperti dirinya yang selalu menganggap jika semua orang itu baik.


Aku pernah memperingatkan Joy soal pembantunya, tapi sekarang aku terlibat dengan orang sejahat Marco. Rasanya, mengucapkan sesuatu itu lebih mudah daripada melakukannya..


"Itu bagus Kak, tapi jangan terlalu percaya juga. Iya kalau orangnya benar-benar baik, jika hanya pura-pura baik, dia akan menusuk Kak Daniel dari belakang." Daniel kembali fokus menatap Bella.


"Kamu lebih pintar dariku." Pujinya tersenyum.


"Siapa lagi yang memperingatkan ku jika bukan Kak Bastian. Itu kenapa aku tidak memiliki teman kecuali Sari dan Erin."


"Bastian sangat baik dalam mendidik mu."


"Itu menyebalkan Kak. Aku tidak bisa bebas tapi, aku tahu itu demi kebaikan ku. Hanya saja caranya sangat salah! Sejak kepergian Mama sikapnya sangat menyebalkan. Mirip Tuan muda yang suka menyuruh seenaknya." Tarikan nafas panjang berhembus. Meskipun bibir Bella berkata jika Bastian menyebalkan tapi nyatanya, dia merindukannya." Kita berkunjung ke Kak Bas besok." Pinta Bella pelan.


"Rindu.." Daniel merangkul pundak Bella erat.


"Iya.."


"Lalu makam Mama ada di mana? Kamu tidak ingin mengenalkan aku padanya?" Daniel berusaha membesarkan hati Bella agar tidak terlalu bersedih.


"Di tempat kelahirannya, dia minta di kebumikan di sana bersama Ayah. Biasanya aku ke sana setiap setahun sekali bersama Kak Bastian karena perjalanan yang di tempuh cukup jauh."


"Selesai ujian kita ke sana. Aku ingin meminta restu pada mereka dan berterimakasih sudah melahirkan anak gadis secantik kamu." Bella tersenyum mendengar pujian itu. Dia tahu jika Daniel tengah berbohong dan berusaha menghiburnya.


"Aku juga ingin ke rumah Ayah dan melihat perkebunannya."


"Setelah ke tempat orang tuamu, kita ke rumah Ayah dan menginap beberapa hari di sana."


"Wahh asyik."


"Di sana perdesaan sayang. Serius bilang asyik?"


"Itu akan menyenangkan Kak. Kita bisa berjalan-jalan sambil menikmati pemandangan." Daniel tersenyum dan mengeratkan rangkulannya. Dia menunduk dan mencium puncak kepala Bella sangat lama sebab rasanya perasaannya semakin membesar untuk gadis kecil sederhana yang duduk di sampingnya.


"Kenapa?" Tanya Bella lirih. Merasakan getaran hebat saat Daniel memperlakukannya seperti sekarang.


"Aku semakin mencintaimu." Rona merah semakin terlihat meski keduanya tengah berada di lampu yang redup. Sekuat hati Bella membunuh rasa malunya dan membalas ucapan Daniel dengan menuntut tangan kiri Daniel agar melingkar ke pinggang kecilnya.


Perlahan, Daniel menurunkan tangan kanannya yang awalnya berada di pundak Bella untuk mengeratkan dekapannya. Kepalanya menunduk lalu menempelkan hidung mancungnya pada pipi Bella dan menghirupnya kuat.


Bella merasa terbuai hingga matanya terpejam. Kedua kakinya di angkat dan punggungnya di sandarkan pada dada bidang Daniel. Menikmati irama detak jantung yang semakin tidak terkendali hingga tanpa sadar kedua tangannya kembali menuntun tangan Daniel untuk mengeratkan lagi pelukannya.


Daniel tersenyum, dia kembali melihat respon tubuh Bella yang mulai menginginkan sesuatu yang lebih dari sentuhannya sekarang. Tubuhnya semakin menempel dengan deru nafas yang sebenarnya sanggup mengobrak-abrik hasrat Daniel.


"Dingin?" Tanya Daniel terus menghirup pipi Bella kuat-kuat.


"Entahlah Kak." Bella yang memang tidak memahami dengan apa yang di rasakan tubuhnya, membuatnya binggung harus menjawab pertanyaan yang Daniel lontarkan.

__ADS_1


Paling tidak, aku bisa menikmati ekspresi wajahnya saat merespon sentuhan ku...


Daniel mulai memainkan bibirnya dan menciumi sekitar telinga Bella. Meskipun dia tidak dapat menuntaskan hasratnya, dia ingin gadis kecilnya bisa lebih berpengalaman ketika suatu saat nanti tiba saatnya melakukan malam pertama.


Secara refleks, Bella memiringkan kepalanya dengan tarikan nafas berat yang mulai Daniel ingat.


Apa semua gadis seperti ini aromanya hehe..


Kedua kakinya di rapatkan, menahan sebuah rasa aneh yang kembali menjalar di seluruh tubuh Bella.


"Kak.. Kamu mempermainkan aku." Ucap Bella seraya mendesis. Lagi lagi, tangannya menuntun Daniel untuk lebih mengeratkan pelukannya.


"Permainan apa? Aku Suamimu, mana mungkin aku mempermainkan mu." Daniel terkekeh dalam hati namun juga menikmati gerakan tubuh Bella yang semakin tidak terkendali.


"Lalu kenapa tidak.. Menciumku... Ah aku ingin merasakannya lagi. Berciuman sampai aku berkeringat dan itu rasanya sungguh luar biasa..


"Tidak apa?" Goda Daniel.


"Ahh entahlah.." Bella menjauhkan wajah Daniel kemudian berdiri.


Tangan Daniel meraih tubuh Bella dengan cepat hingga dia terpekik kaget. Kedua tangannya bertumpu pada atas sofa untuk menahan tubuhnya yang hampir menimpa Daniel.


"Kamu ingin?" Tanya Daniel lembut.


"Ingin a apa?"


"Berkeringat lagi." Bella tidak menjawab sebab itulah keinginannya.


Daniel mengangkat sedikit bokongnya, lalu melahap bibir Bella yang tentu saja langsung mendapatkan respon. Tumpuan tangan Bella beralih pada pundak Daniel dan melingkarkannya.


Bella menunduk dan mulai membalas ciuman Daniel dengan tubuh yang semakin menurun dan merapat. Daniel berusaha duduk tegak, tanpa melepaskan ciumannya.


Tubuh Bella di tuntun untuk melebarkan kedua pahanya sehingga Daniel memangkunya.


Gaunnya tersingkap dan memperlihatkannya paha terbuka Bella. Perlahan, kedua tangannya terangkat dan mulai mengusapnya lembut. Membuat ciuman keduanya semakin memanas.


Beberapa lenguhan panjang terdengar keluar dari bibir Bella, seiring dengan rangsangan yang Daniel berikan.


Ingin rasanya aku memasukinya sekarang. Dia agresif sekali...


"Kak.." Bella merangkul erat kepala Daniel bahkan mencengkramnya dengan nafas tersengal. Tubuhnya berkeringat padahal di luar sedang turun hujan.


Daniel cukup senang melihat pemandangan di hadapannya, meski nyatanya miliknya sudah sangat menegang.


"Apa katakan?" Daniel menyeka keringat pada wajah Bella.


"Aku mencintaimu..


********************


Lucas di buat binggung dengan tidak aktifnya ponsel milik Daniel. Dia bahkan sudah ke rumahnya namun Daniel sedang tidak ada di rumah.


Ingin rasanya dia menangis, melihat kobaran api yang belum juga bisa di padamkan. Ledakan bahkan terdengar begitu keras dari dalam sementara petugas pemadam kebakaran masih berusaha menjinakkan api.


Maafkan saya Tuan...


*******************


Marco tertawa lepas, membayangkan gudang milik Daniel yang memang sudah terbakar. Namun tertawaan itu musnah, ketika Fanny berjalan ke arahnya dengan keadaan berantakan.


"Tolong aku Marco." Fanny menghampiri Marco lalu memeluknya.


"Apa ini!!" Marco menyingkirkan tubuh Fanny. Dia memandanginya dari atas sampai bawah." Kau habis jatuh." Tanya Marco merasa heran dengan tubuh Fanny yang penuh luka.


"Aku di sekap kemarin hiks." Fanny tidak perduli dan kembali memeluk Marco.


"Di sekap? Oleh siapa? Kenapa mereka tidak membunuhmu saja!!!"


Aku tidak bisa bicara jujur..


"Kau tega sekali sayang." Fanny begitu murah, hingga langsung tergoda dengan Marco yang terlihat dua tahun lebih muda daripada umurnya. Padahal Marco merubah penampilan hanya ingin terlihat menarik di mata Bella.


"Menyingkir kataku!!!" Marco berdiri dengan raut wajah geram. Tidak ada rasa iba atau kasihan pada keadaan Fanny sekarang.


"Cih!! Kau masih suka dengan gadis itu? Apa bagusnya sih?!"


"Kau sadar dengan perkataanmu! Kau bahkan tidak ada apa-apanya dengan dia."


Anak ingusan itu benar-benar sudah merebut semua yang ku miliki!!


Pemenang akan berdiri di akhir bukan di awal. Sekarang kau boleh bersamanya, tapi nanti akan ku pastikan jika Bella segera bisa ku dapatkan...


******************


Keesokan harinya, Bella masih terlelap tidur. Sementara Daniel lebih dulu bangun dan memesan layanan kamar.


Sembari menunggu, dia teringat akan ponselnya yang sejak kemarin tergeletak di atas meja. Daniel tidak menyadari jika ponselnya kehabisan daya dan baru menyadarinya sekarang.


"Layanan kamar." Daniel kembali meletakkan ponselnya dan berjalan untuk membuka pintu.


Seorang pelayan berdiri di depan kamar dengan ekspresi melongok menatap Daniel.


Astaga Tuhan... Dia mirip...


"Maaf.." Tanpa sadar, si pelayan tidak langsung memberikan nampan yang di bawa karena dia termasuk salah satu penggemar Eun Wo.


"Oh astaga maaf." Dia tersenyum aneh dan memberikan nampan pada Daniel.


"Tidak apa." Daniel tersenyum sebentar, berusaha mengurangi sikap ramahnya.


"Asli Indonesia Kak." Tanya si pelayan memberanikan diri. Daniel mengurungkan niatnya menutup pintu karena pertanyaan tersebut.


"Iya.."


"Serius, Kakak mirip sekali.." Bella tiba-tiba muncul dari balik tubuh Daniel membuat si pegawai tersenyum aneh.


"Dia suamiku tidak mirip dengan siapapun. Lakukan perkerjaanmu dengan baik dan jangan menggoda suami orang seperti itu!!" Bella menarik lengan Daniel dan menutup pintu kamar keras.


Braaaakkkkk!!!


"Memang mirip ish!! Beruntung sekali gadis itu. Ahh seharusnya bisa berfoto untuk bisa ku pamerkan pada teman-teman. Ya Tuhan, mimpi apa semalam bisa bertemu dengan Eun Wo Oppa di sini hehe." Pegawai itupun pergi untuk melanjutkan perkerjaannya.


"Sudah bangun sayang." Bella tidak menjawab dan hanya mendongak seraya menatap kesal ke arah Daniel." Kita sarapan, aku sudah memesan makanan untuk kita." Imbuh nya merajuk.


"Makan sendiri!!" Bella berjalan menuju ke meja di mana tas kecilnya terletak di sana.


"Astaga hehe .." Daniel menghampiri Bella yang tengah berkemas." Mau kemana? Aku menyewanya selama dua hari jadi kita bisa di sini sampai nanti malam." Ucap Daniel menjelaskan dan meletakkan nampan berisi kopi dan dua piring sarapan.


"Tinggal sendiri. Aku mau pulang."


"Aku sudah mengurangi sikap ramah ku sayang. Aku tadi merasa tidak sopan jika harus menutup pintu langsung sebab dia bertanya padaku." Daniel duduk seraya menikmati wajah kesal Bella dari samping.


"Terus saja. Lanjutkan! Aku juga akan melakukan hal yang sama."


"Memangnya aku melakukan apa, aku hanya menjawab pertanyaannya bahkan tanpa tersenyum." Bella menarik nafas panjang dan baru menyadari jika apa yang di katakan Daniel itu benar.


"Bukankah kamu selalu menggunakan masker Kak. Kenapa di lepas tadi?" Daniel menarik tubuh Bella dan mendudukkannya ke pangkuannya.


"Aku tidak memikirkan itu dan langsung keluar sebab hotel ini cukup ketat dalam menjaga privasi." Bella terdiam dan tidak bergeming. Mengendalikan perasaan bergemuruh karena rasa cemburunya." Paling tidak. Kita mandi dan makan lalu pulang." Imbuh Daniel merajuk.


"Tidak mau! Pulang ya pulang. Aku tidak mau memakan itu! Bukankah dia sudah menyentuhnya?" Paras cantik si pegawai hotel membuat Bella sulit mengendalikan perasaannya." Kenapa kau tidak memakai topeng saja Kak." Daniel terkekeh sementara Bella melirik malas dan kembali berdiri.


"Apa setelah semalam, kamu juga belum percaya jika aku hanya mencintaimu sayang."


"Sudah ku bilang jika aku tidak suka kau berdekatan dengan wanita manapun. Aku merasa rendah karena aku masih kecil. Tidak seperti mereka yang terlihat dewasa dan memiliki tubuh bagus." Tanpa sadar, Bella lepas kendali dan mengutarakan kekesalan hatinya.


Daniel berdiri dan berjalan menghampiri Bella. Kedua tangannya mendekap lembut tubuh Bella dari belakang seraya memejamkan mata dan tersenyum.


"Only you can touch my heart. My little girl.." Gumam Daniel membuat jantung Bella kembali berdebar.


Wajahnya memerah saat menyadari sesuatu yang terjadi semalam. Percintaan keduanya sedikit berbeda dan terasa sedikit panas. Apalagi setelah Bella menyatakan perasaannya, membuat Daniel merasa bahagia hingga hampir lepas kendali.


Gaun Bella sudah di tanggalkan namun saat tangan Daniel menyentuh sesuatu yang mengganjal di milik Bella. Membuatnya sadar jika dia tidak dapat melakukannya sekarang.


"Tunggu aku selesai, aku akan memberikannya agar Kak Daniel tidak bisa pergi dariku." Sungguh di luar dugaan Bella berkata demikian. Cinta tulus yang Daniel berikan benar-benar membuatnya terjatuh di dasar hati milik Daniel. Tidak ada lagi yang terlintas di hatinya kecuali bagaimana bisa mempertahankan semuanya.


"Berikan apa?"


"Malam pertamamu.." Jawab Bella lirih.


"Kamu siap?" Bella mengangguk cepat." Jika hamil?" Imbuh Daniel menggoda.


"Biar saja."


"Tapi aku masih sabar menunggu. Aku juga tidak memikirkan itu." Bella kembali kesal mendengar jawaban Daniel.

__ADS_1


"Karena aku tidak menarik kan!!" Daniel mengeratkan dekapannya lagi saat Bella berusaha melepaskannya.


"Aku menyayangimu, itulah alasannya. Bukankah sudah sering ku katakan."


"Itu tidak masuk akal! Jangan mencari alasan Kak."


"Kamu harus lulus sekolah sayang. Sesuai dengan keinginanmu di awal.."


"Aku sudah melupakan itu." Sahut Bella cepat.


"Kenapa di lupakan?" Bella memutar tubuhnya menghadap ke arah Daniel. Kakinya menjinjit dan menempelkan bibirnya pada bibir Daniel.


"Keinginanku ingin membahagiakanmu Daniel! Bukankah semalam sudah ku katakan jika aku mencintaimu." Bella menjawabnya dengan suara lantang bahkan cenderung berteriak.


Bugh!


Bella memukul dada bidang Daniel lembut dan di balas senyuman lembut pemiliknya.


"Keinginanku juga membuatmu bahagia sayang." Ucap Daniel lembut." Jangan berhenti mengejar cita-cita mu jika itu membuatmu bahagia." Daniel menelungkup wajah Bella dan mencium bibirnya lembut.


"Aku ingin memiliki kedudukan tertinggi." Bella tersenyum dan bergelayut manja pada pundak Daniel.


"Lakukan dan raihlah. Aku benar-benar akan menikmati prosesnya."


"Sekarang sedang berusaha ku raih."


"Apa itu sayang? Katakan padaku."


"Menjadi seorang Mama." Wajah Bella semakin memerah hanya dengan mengatakannya. Jantungnya semakin tidak terkendali saat tatapan keduanya terasa begitu dalam.


"Itu memang kedudukan tertinggi." Daniel tersenyum dan membenarkan ucapan yang di lontarkan Bella.


"Bantu aku meraihnya Kak." Daniel tidak sanggup menjawab, dia memeluk Bella erat dan menenggelamkan kepalanya di dada bidangnya.


"Fikirkan lagi."


"Aku memikirkannya sepanjang waktu."


"Apa kamu siap menjadi Little Mom dan melupakan cita-citamu?"


"Aku siap." Jawaban cepat yang Bella lontarkan membuat Daniel yakin jika Bella tidak sedang asal bicara.


"Terimakasih sayang. Meskipun aku tidak menginginkannya secepat ini, tapi aku sangat bahagia mendengar itu."


"Sama-sama Kak. Kita pulang, aku tidak mau di sini." Bella melepaskan pelukannya dan mengambil tas kecilnya. Tidak ada yang Daniel bisa lakukan kecuali menuruti keinginan Bella.


***************


Paris 🗼


02.30 Malam..


Setelah percintaan panasnya, Nara masih saja terjaga saat mengingat email yang di kirimkan Daniel melalui email. Joy menyadari kerisauan yang di rasakan Nara sehingga nafas beratnya terdengar berhembus.


"Lihatlah, hingga sekarang Andra belum juga memberikan kabar. Bukankah itu berarti tidak terjadi sesuatu yang buruk." Nara duduk dan meneguk air putih yang ada di atas meja.


"Meskipun Kak Daniel tidak pernah serius dalam berucap tapi email itu rasanya sangat serius."


"Aku bahkan tidak mengenali akunnya sayang. Bagaimana bisa kamu anggap itu serius hingga kamu tidak bisa tidur seperti sekarang." Joy berprotes karena rasa cemburunya yang tidak jelas terhadap sosok Daniel." Berhentilah memikirkannya. Itu membuatku muak." Imbuh nya duduk lemah di samping Nara.


"Aku menganggap Kak Daniel teman juga seorang Kakak, tidak lebih."


"Aku tidak suka. Bukankah itu jelas."


"Hm sangat jelas." Nara memegang lengan Joy lembut dan bersandar di pundaknya." Aku hanya tidak ingin orang yang ku kenal mengalami kesulitan sayang. Apalagi orang sebaik Kak Daniel." Joy kembali menarik nafas panjang.


Dia memang baik dan aku membencinya saat Nara ku memikirkannya hingga seperti sekarang.


"Bisa saja itu akun fake sayang."


"Aku tidak merasa begitu. Bukankah kamu tahu jika aku sangat peka."


"Kau membuat hatiku sakit. Aku tidak suka kau memikirkan lelaki sialan itu!!"


"Jika tidak ingin aku memikirkannya. Bukankah sebaiknya kamu yang memikirkannya." Joy menatap lemah. Dia tahu jika apa yang sudah menjadi keinginan Nara wajib dia penuhi.


"Andra belum memberikan info apapun."


"Kita ke Indonesia saat Abel libur sekolah."


"Katanya ke Korea." Runtuk Joy kesal.


"Bukankah sama saja. Di sana dia malah bisa bertemu dengan Eun Wo yang bisa berbahasa Indonesia."


"Ah ya! Tentu saja." Umpat Joy kesal.


"Ayolah sayang. Please.." Rajuk Nara tidak perduli dengan wajah masam Joy.


"Itu berat. Bertemu dengan dia lebih dari berat."


"Katanya Apapun hehe." Nara melontarkan ancaman yang menjadi andalannya.


"Kecuali dia."


"Ouc! Mungkin cintamu sudah luntur padaku." Nara mengangkat kepalanya dan memasang wajah kesal.


"Itu tidak benar."


"Buktinya, Apapun tidak berlaku lagi?!" Jawab Nara cepat.


"Masih berlaku sayang." Ucap Joy pelan." Oke. Kita ke Indonesia.." Imbuhnya membuat senyum Nara merekah." Wah sayang, aku semakiiiin mencintaimu." Nara mengusap-usap pipi Joy seraya tersenyum.


"Apapun hanya untukmu jadi, berikan sesuatu yang sepadan dengan Apapun. " Joy menyentuh ujung dagu Nara dan melahap bibir merahnya.


"Aku siap mengandung lagi." Raut wajah Joy berubah. Dia begitu bahagia mendengar kata-kata yang selalu dia tunggu selama ini.


Sebenarnya sudah sejak lama Joy ingin menambah momongan. Namun Nara menolak, dia ingin mengurus Abel tanpa bantuan baby sister. Menikmati menjadi seorang Ibu untuk pertama kali, dan itu sangat membuatnya bahagia.


"Aku masih cemburu sayang. Bagaimana mungkin kamu mengatakan itu dengan mudah hanya agar aku mau ke Indonesia dan membantu Daniel."


"Not Dear. You are wrong!" Nara beranjak dari tempat duduknya lalu menunjukkan sebuah testpack bergaris merah pada Joy.


"You're serious?" Tanya Joy berjalan mendekat.


"Iya. Aku sudah telat 1 bulan." Joy duduk berjongkok lalu menyikap baju tidur Nara dan mengusap lembut perut ratanya.


"Welcome my boy."


"Belum tentu laki-laki sayang."


"Aku tahu dia laki-laki. Kau ingat terakhir kali menyebutku sedang berandai-andai?" Joy berdiri dan merengkuh tubuh Nara erat.


Belum tentu jika dia anak perempuan Joy..


"Lalu Abel lahir hehe, aku tidak mengerti kenapa tebakan mu benar tapi ku rasa itu hanya kebetulan saja."


"Tidak sayang. Dia anak laki-laki kita."


"Jika perempuan." Nara mendongak menatap Joy.


"Berarti ketampanan ku tidak pernah terkalahkan. Sebaiknya kita tidur, ini sudah malam." Joy mengangkat tubuh Nara dan membaringkannya di atas tempat tidur." Kita harus cari baby sister untuk Abel." Imbuhnya seraya ikut berbaring.


"Tidak sayang. Sudah ada Bibik."


"Dia pembantu sayang, bukan baby sister."


"Aku tidak mau. Abel masih jadi urusanku."


"Kamu harus banyak istirahat."


"Mengurus Abel tidak sulit sayang. Aku masih mampu dan tidak perlu menyewa baby sister. He is my son. Tidak boleh ada yang merawatnya kecuali aku, Mommy nya." Joy fikir Nara setuju dengan ide nya. Tapi ternyata, dia masih bersikap egois jika itu menyangkut masalah Abel.


~Riane


Meluncur ke novel pertamaku jika ingin kenal Nara sama Joy😍


Tapi khusus 21+ ya hehe


Novelnya somplak 😄


Banyak adegan tidak pantas bahkan aku yang nulis saja sedikit heran membacanya 🤣🤣🤣🤣


Tapi jangan baper 😄Itu cuma cerita saja hehe, sekedar mengibur dan teman di kala gabut😁


Terimakasih dukungannya 🥰😍😍

__ADS_1


__ADS_2