Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 75


__ADS_3

Bella berdiri untuk mengumpulkan ulangan harian yang hampir setiap hari di selenggarakan. Meskipun tidak belajar, nyatanya Bella tidak merasa kesulitan. Dia masih selalu menjadi siswa nomer satu yang mengumpulkan ulangan seperti sekarang.


Sore ini aku akan fitting baju pengantin... Rasanya sangat menyenangkan...


"Bella.." Ucap Bu Erna untuk kesekian kali.


"Iya Bu." Kenan memperhatikan, meski dia lebih banyak diam daripada biasanya.


"Ke sini sebentar." Bella mengurungkan niatnya untuk duduk lalu berdiri di hadapan Bu Erna.


"Ada yang salah Bu?"


"Tidak ada. Emm.. Kamu tidak ikut mendaftar ke lomba sains yang di selenggarakan bulan depan?" Tanya Bu Erna tidak melihat nama Bella padahal biasanya Bella selalu aktif mengikuti kompetisi seperti itu.


"Tidak Bu." Jawab Bella cepat.


"Jika menang, kamu akan di rekomendasikan masuk perguruan tinggi terkemuka, tanpa biaya sepeserpun."


"Saya tidak berminat Bu."


"Apa karena biaya? Jika karena itu, para guru mau menanggung nya." Rajuk Bu Erna ingin Bella kembali membawa nama baik sekolah.


"Saya tidak mau kuliah setelah lulus."


"Kenapa begitu? Kamu sangat berbakat Bella. Ibu yakin akan banyak penawaran beasiswa untukmu agar kamu bisa tetap kuliah." Bu Erna menyangka jika Bella tidak bersemangat karena masalah biaya. Apalagi setelah pencabutan beasiswa miliknya yang terlihat ganjil, membuat Bu Erna turut khawatir jika semangat belajar Bella menurun.


Bella tersenyum dengan pipi merahnya, mendekatkan wajahnya dan mulai membisikkan jawaban yang membuat Bu Erna melongok di buatnya.


"Kamu serius Bella." Tanya Bu Erna lirih.


"Iya Bu. Em saya hanya ingin lulus saja."


"Sayang sekali Bella. Kamu sangat pintar dan Ibu yakin jika nantinya akan jadi orang sukses."


"Sukses tidak harus berpendidikan tinggi Bu. Terimakasih perhatiannya." Bella mengangguk sebentar kemudian kembali duduk di bangkunya.


Apa yang membuat Bella merubah cita-citanya.. Aku masih ingat jika dia dulu sangat ingin menjadi wanita hebat tapi kenapa dia malah bilang ingin jadi seorang Ibu.. Tapi.. Ibu juga wanita hebat.. Bu Erna menatap ke arah Bella yang tengah duduk bersantai, menunggu teman yang lain menyelesaikan mengerjakan ulangan.


*******************


Daniel keluar mobil dengan wajah sumringah. Dia mendapatkan kekuatan ekstra pagi ini, apalagi percintaan panasnya semalam dan tadi pagi berputar-putar di otaknya.


"Pagi Pak Daniel."


"Pagi juga Pak." Jawabnya ramah seraya terus melangkah ke arah lift untuk menuju ke ruangannya yang berada di lantai lima.


Baru saja pintu lift terbuka, dia di kejutkan dengan para staf wanita yang berkumpul untuk membaca pengumuman baru.


"Pagi Pak." Sapa Putri ingin mengkonfirmasi soal pengumuman tersebut.


"Iya Pagi."


"Apa pengumuman itu benar Pak?" Tanyanya sopan.


"Hm iya. Satu Minggu lagi, seragam baru akan saya bagikan. Apa ada masalah?"


"Ti tidak Pak. Ini jadwal untuk hari ini." Daniel mengambil map dari tangan Putri.


"Em peraturannya di tambah lagi." Daniel mengembalikan map pada Putri.


"Apalagi Pak?"


"Kosongkan jadwal dari jam setengah satu sampai setengah dua sebab saya harus menjemput istri saya pulang sekolah." Putri melongok mendengar itu. Kemarin dia sempat tidak percaya ketika gosip itu menyebar dengan cepat.


Beruntung sekali anak SMA itu.. Aku yang sejak dulu mengidolakannya malah tidak pernah dia lihat..


"Bisa di mengerti?"


"Eh iya Pak siap."


"Hm.." Daniel tersenyum dan masuk ke ruangannya.


"Put Lisa mana?" Tanya Bu Eka.


"Lisa tidak masuk sejak kemarin Bu. Kata Santi, dia tidak ada di rumah waktu mengantarkan surat pemanggilan kerja dan sampai sekarang tidak ada kabar."


"Apa dia liburan? Dasar bodoh. Mungkin dia menganggap jika Marco masih memimpin di sini jadi dia menikmati liburannya."


"Mungkin saja Bu."


"Aku harus lapor Pak Lucas untuk mengisi posisi Lisa." Gumam Bu Eka pergi dari hadapan Putri.


"Meskipun istrinya masih SMA atau SMP, yang pasti aku senang melihat Pak Daniel bisa memimpin lagi." Bukan hanya Putri yang merasakannya tapi semua staf. Mereka sangat bersyukur dengan kembalinya Daniel sehingga tidak harus membuat mereka kehilangan perkerjaan. Meskipun beberapa hari ke depan, mereka akan di buat sibuk agar perusahaan kembali seperti dulu.


********************


Seperti biasa, Bella, Sari dan Erin menghabiskan waktu istirahat di kantin. Senyum Bella kian merekah, membaca pesan singkat yang Daniel kirimkan untuknya. Selayaknya pasangan baru, Bella membalas pesan itu dengan hati berdebar-debar.


"Kak Emi bilang jika kamu hebat sekali Bella." Ujar Sari menikmati mie ayam di hadapannya.


"Hebat bagaimana?" Bella meletakan ponselnya dan mulai makan.


"Produk yang kamu jual sudah sangat banyak. Kak Emi yang sudah bergabung selama satu tahun saja tidak seperti itu."


"Berarti Bella berbakat." Sahut Erin menimpali.


"Hm iya. Kenapa tidak stok barang sendiri saja, itu lebih menguntungkan."


"Hm aku ingin tapi jika sudah lulus itupun kalau Kak Daniel setuju." Bella menghembuskan nafas berat, melihat ke Sari dan Erin secara bergantian." Aku akan menikah dalam waktu dekat ini." Keduanya mengangkat kepalanya menghadap fokus ke Bella dengan bibir terbuka.


"Bukankah sudah?"


"Em maksudku pesta pernikahan."


"Serius Bella? Kenapa tiba-tiba? Kalau pihak sekolah tahu, kamu bisa di keluarkan."


"Kak Daniel yang merencanakan."


"Wah itu indah tapi benar kata Erin. Jika pihak sekolah tahu bagaimana?"


"Jangan sampai tahu." Erin dan Sari tersenyum, menatap ke arah Bella karena turut bahagia.


"Siap-siap mikirin kado nih hehe."


"Datang saja. Tidak perlu kado. Satu bulan ke depan, aku tinggal di apartemen karena rumah Kak Daniel mau di renovasi jadi, em kalian jangan kaget kalau rumah itu akan di robohkan besok."


"Tapi kamu tidak akan pergi kan Bell?" Tanya Sari lirih.


"Tidak. Setelah mendapatkan apartemen yang cocok nanti ku kabari agar kalian bisa berkunjung ke sana." Erin mengangguk-angguk begitupun Sari.


"Syukurlah jika semua sudah membaik."


"Jika butuh sesuatu katakan padaku. Aku yakin Kak Daniel sebaik Kak Bastian." Sari tersenyum aneh. Dia tahu dengan maksud Bella sebab seringnya keduanya meminjam uang pada Bastian.


"Meski begitu kita tidak enak Bella. Takut kamu terkena masalah dan bertengkar dengan Kak Daniel. Jika Kak Bastian Kan, aku sudah mengenalnya lama."


"Kak Daniel ku sangat baik." Erin dan Sari tersenyum menatap Bella yang mulai memerah wajahnya.


"Iya kita tahu kok jika itu Kak Daniel milikmu." Bella terkekeh dan menangkap sebuah pemandangan yang menyejukkan. Dia melihat Kenan dan Monik tengah makan berdua. Bella merasa bersyukur melihat Kenan bisa move on darinya meski dalam kenyataan, Kenan masih mencoba membuka hati yang sudah terlanjur terkunci untuknya.


.


.


.


.


.


Pukul setengah satu tepat, mobil Daniel terparkir di bahu jalan depan sekolah. Dia segera turun dan melangkah mendekati pintu gerbang sekolah tanpa menggunakan masker.

__ADS_1


Suasana sekolah lebih riuh, berbisik-bisik memuji paras Daniel yang semakin sempurna dengan jas yang di kenakan sekarang.


"Kenapa menunggu di sini." Kedua tangan Bella langsung meraih erat lengan Daniel.


"Mobilnya ku parkir di sana agar tidak menganggu jalan."


"Em. Aku duluan ya." Bella melambai ke arah Erin dan Sari.


"Iya Bell, jangan lupa memberi kabar."


"Oke. Bye, sampai jumpa besok. Yuk Kak." Daniel hanya melemparkan sedikit senyuman karena tidak ingin membuat Bella cemburu.


"Bagaimana hari ini." Tanya Daniel mulai melajukan mobilnya.


"Baik. Terus Kak Daniel."


"Setelah ini aku ada rapat sebentar. Lucas sudah menemukan apartemen yang cocok jadi kita pulang untuk berkemas agar renovasi bisa di lakukan."


"Bukan itu maksudku." Tutur Bella lirih.


"Lalu bagaimana sayang?"


"Itu.. Celana." Daniel memperlihatkan senyum khasnya dan baru tahu maksud dari pertanyaan Bella.


"Pengumuman itu sudah di tempel sayang."


"Aku takut Kak Daniel lupa."


"Aku tidak akan melupakan semua ucapan yang keluar dari bibirmu." Daniel meraih jemari Bella dan menggenggamnya lalu memberikan beberapa kecupan." Hari ini aku lebih rindu daripada biasanya. Aku memikirkanmu hingga kehilangan fokus." Bella tersipu dengan degup jantung yang kian menggila. Mendengar ucapan sederhana namun membelai hatinya lembut.


"Kak Daniel sedang menggombal." Jawab Bella menggoda.


"Entah kamu menganggapnya seperti apa tapi, aku benar-benar merindukanmu." Remasan tangan Daniel membuat Bella memahami tentang apa yang di rasakan Daniel.


"Rindu seperti semalam dan tadi pagi maksudnya."


"Kamu tidak?" Daniel merangkul pundak Bella dan mendekapnya dengan satu tangannya.


Bella hanya tersenyum seraya bersandar pada pundak depan Daniel. Sesekali kepalanya mendongak dan menempelkan bibirnya pada dagu dan sekitar pipi. Daniel membalas perlakuan Bella dengan kecupan manis pada bibir dengan mata fokus ke arah jalan.


"Tahan dulu sayang. Akan ku berikan nanti setelah rapat." Meskipun Daniel berkata demikian tapi nyatanya dia melahap bibir Bella lagi dan lagi setelah mobilnya terparkir.


"Aku tidak minta."


"Hm iya. Aku yang harus meminta." Bella tersenyum, merasa senang sebab Daniel mengingat permintaannya. Bibir keduanya saling bertaut, melampiaskan rasa rindunya.


"Katanya ada rapat."


"Hmm..." Daniel mengakhiri ciumannya. Dia membersihkan sekitar bibir Bella yang basah sebelum akhirnya turun dari mobil.


Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini.. Batin Bella merasa bangga, melihat perusahaan yang begitu tinggi menjulang merupakan milik suaminya.


Seorang lelaki yang awalnya tidak di kenal sebelumnya, tiba-tiba saja hadir tanpa peringatan. Mengikatnya dengan wasiat pernikahan gila namun berujung indah.


"Kak Bastian berkerja di sini dulu?" Tanya Bella pelan.


"Iya sayang dan ternyata, Adiknya menjadi jodohku padahal aku tidak mengenal Bastian sebelumnya." Daniel merapatkan rangkulannya ketika kakinya mulai melangkah masuk ke lobby. Dia tidak ingin membuat Bella merasa tersingkir seperti yang di fikirkannya selama ini. Sehingga Daniel menyuruh para staf untuk melontarkan sapaan pada Bella di sepanjang perjalanan.


"Mereka semua tahu namaku Kak." Tanya Bella berbisik.


"Itu wajar, kamu Istriku."


"Selamat siang Nona Bella." Sapa Putri bergegas berdiri.


"Siang juga."


"Dia sekertaris ku." Bella tersenyum aneh mendengar itu. Tentu saja dia tidak menerima jika sekertaris Daniel seorang gadis yang cukup cantik.


"Sekertaris?" Jawab Bella mengulang.


"Hanya sementara sayang. Jika perusahaan kembali normal, Lucas akan menghadle semuanya dan dia akan jadi sekertaris Lucas." Bella tidak ingin berdebat di hadapan Putri dan segera menyeret lembut lengan Daniel untuk masuk ke ruangan di hadapannya.


"Istri Pak Daniel kelihatan cemburu, jika aku di pecat bagaimana." Gumam Putri duduk lemah sementara yang terjadi di ruangan memang sesuai bayangan Putri.


"Setelah semua normal, aku tidak harus datang ke perusahaan setiap hari sayang dan aku juga tidak selalu berdekatan seperti apa yang kamu bayangkan."


"Lalu bayangannya seperti apa sih Kak."


"Aku mohon, jangan marah lagi. Aku binggung bagaimana caranya merajuk mu." Daniel memang tidak mempermasalahkan soal emosi Bella yang mudah tersulut. Tapi dia begitu takut kehilangan ide untuk merajuk hati Bella agar kembali membaik.


"Kak Daniel sendiri yang membuat masalah."


"Dia sudah lama berkerja di sini sayang."


"Terus. Aku yang harus mengalah? Begitu maksud Kak Daniel. Dia orang lama dan aku orang baru." Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya tersenyum menatap Bella dari samping. Bukan merasa kesal, namun dia baru merasakan jika memiliki hubungan itu serumit ini.


Setelah semalam dan tadi pagi, dia tidak juga mengerti..


Tok..Tok...Tok...


"Masuk.." Jawab Daniel setengah berteriak. Bella memutar tubuhnya dan memunggungi Daniel.


"Semua sudah menunggu Tuan." Ujar Lucas melirik ke arah punggung Bella.


"Kau bisa mengurus itu untukku Lucas?" Jawab Daniel memberikan isyarat lirikan ke arah Bella.


"Sangat bisa Tuan." Jawab Lucas seraya tersenyum.


"Em baik. Aku akan pulang setelah ini."


"Baik Tuan. Permisi." Lucas pergi namun Bella masih tidak melihat ke arah Daniel.


"Kita pulang saja sayang. Membereskan barang lalu ke apartemen."


"Meskipun pulang. Masalah tidak akan selesai." Daniel menggeser tubuhnya mendekat, memberikan kecupan pada pundak Bella.


"Aku belum makan siang tadi dan sekarang kamu memarahiku." Bella terdiam, kemudian melirik sebentar. Membaca raut wajah Daniel yang tidak pernah merespon kemarahannya.


"Kenapa belum makan?"


"Aku lupa sayang. Hari ini aku sedikit tidak fokus tapi untungnya Lucas bisa menangani semua." Daniel mulai mendekap tubuh Bella dengan kedua tangannya." Apa kau ingin aku memecat semua staf wanita?" Tawar Daniel tidak tahu lagi harus berkata apa." Akan ku lakukan jika itu permintaanmu tapi, fikirkan soal hidup mereka juga." Bella menarik nafas panjang mendengar penjelasan yang di lontarkan Daniel. Jiwa penolongnya tersentuh apalagi mengingat jika kedua temannya ingin berkerja di perusahaan Dans grup.


Bella membayangkan jika mungkin para staf juga memiliki hidup seperti kedua temannya. Ingin mendapatkan gelar untuk perkerjaan bagus demi keluarga.


"Diam mu menyakiti ku sayang." Daniel melepaskan dekapannya dan meraih ponsel sehingga membuat Bella memutar.


"Mau apa?"


"Menyuruh Lucas membuat surat pemecatan."


"Jangan." Bella meraih ponsel Daniel dan meletakkannya di tempat semula.


Aku tahu istriku berhati baik..


"Why? Aku akan menyingkirkan sesuatu yang membuatmu sakit."


"Kita pulang." Bella terlalu malu untuk mengakui keegoisannya sehingga dia memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan.


"Aku serius sayang. Meskipun nantinya mereka mengumpat ku, asal hati mu tidak sakit."


"Aku mau pulang." Bella berdiri di ikuti oleh Daniel.


"Lalu bagaimana."


"Itu berarti selesai!"


Masalah seperti sekarang kerapkali terjadi. Sehingga perlahan, Daniel mulai terbiasa dengan kecemburuan Bella dan selalu tenang dalam menanggapi. Dia tahu, jika semarah apapun Bella, mereka tidak akan saling meninggalkan.


.


.

__ADS_1


Dua Minggu kemudian...


Siang ini, Daniel mengajak Bella untuk melihat perkembangan pembangunan rumah yang nantinya menjadi tempat tinggal mereka.


Sebuah bangunan kokoh nan besar berdiri di atas tanah milik Bella dan juga Daniel. Meski masih berbentuk tumpukan batu bata. Tapi Bella memandangnya dengan senyum merekah.


"Besar sekali Kak." Gumam Bella.


"Kita akan menua di rumah ini."


"Kak Daniel saja yang tua." Daniel terkekeh dan di balas Bella dengan senyuman.


"Aku memang sudah tua."


"Itu kenapa Kak Daniel harus mengalah padaku."


"Selalu sayang. Ini akan selesai dua Minggu lagi jadi setelah pesta pernikahan, kita bisa langsung menempatinya."


"Terimakasih Kak Daniel." Ucap Bella lirih, menatap fokus ke arah bangunan yang masih menyisakan kenangan-kenangan indah bersama keluarganya dulu.


"Sudah ku katakan tidak perlu berterimakasih."


"Tetap saja terimakasih." Bella melingkarkan tangannya erat pada pinggang Daniel, menenggelamkan tubuhnya di sana.


"Oke sama-sama. Sepertinya akan hujan, sebaiknya kita pulang sayang." Daniel menggiring Bella untuk kembali masuk ke mobil." Undangan sudah selesai di sebar termasuk ke para tetangga juga rekan kerjaku." Daniel melajukan mobilnya, menerobos gerimis yang mulai turun.


"Mungkin lebih menyenangkan jika bisa mengudang para guru hehe."


"Kamu mau." Tawar Daniel.


"Tidak Kak. Mana mungkin." Daniel mengangguk-angguk seraya tersenyum." Setelah ujian, kita ke Mama ya Kak, sekalian ke rumah Ayah juga." Imbuh Bella lirih.


Bella ingin sekali bisa membagi ceritanya bukan hanya pada Bastian tapi pada pusaran kedua orang tuanya yang berada di luar kota.


"Iya. Bukankah kita sudah merencanakan itu."


"Aku hanya merasa tidak sabar."


"Kamu merindukan mereka?" Bella menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.


"Tentu saja. Bukankah seharusnya mereka bisa bahagia bersama kita." Perasaan sesak langsung menjalar. Tidak adanya pendamping keluarga membuat Bella merasa sedikit bersedih.


"Jika kamu bahagia, mereka akan bahagia." Daniel menghentikan laju mobilnya, ketika menangkap sebuah sosok yang sangat di kenalnya tengah duduk di bawah pohon untuk berteduh." Marco.." Gumam Daniel.


"Bukankah itu lelaki jahat itu." Tanya Bella pelan.


"Bagaimana bisa Joy mengembalikan dia pada asalnya." Meskipun Marco sudah hampir membunuhnya. Tapi nyatanya, Daniel masih merasa iba padanya.


"Maksudnya bagaimana Kak." Daniel tersenyum dan mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Marco dan berakhir sebuah penghianatan." Oh dulunya Marco penjual kopi di jalan." Bella cukup tercengang dan tentu kesal sebab Marco orang yang tidak tahu terimakasih.


"Hm. Mau ikut atau di sini saja." Tawar Daniel sudah memegang pintu mobilnya.


"Kak Daniel mau apa? Dia sudah kembali ke habitatnya jadi tidak perlu di umpat lagi."


"Aku bukan orang seperti itu sayang. Ikut tidak?" Bella yang merasa ingin tahu, memutuskan untuk ikut dan melihat apa yang akan Daniel lakukan.


Daniel berjalan mendekat dengan perlahan dan semakin iba melihat kulit kusam dan baju lusuh yang Marco kenakan sekarang.


Marco yang baru menyadari kedatangan Daniel, langsung menghampirinya dan duduk bersimpuh di hadapannya.


"Maafkan aku Tuan." Bukan tanpa alasan Marco berkata demikian, sebab sejak saat itu anak buah Joy selalu saja mengusik hidupnya. Ingin rasanya Marco datang ke Daniel sendiri untuk meminta maaf namun tentu saja, Erik dan Roy tidak memperbolehkannya.


Mereka bahkan mengancam akan membunuh Marco jika sampai mereka melihat Marco berada di sekitar Daniel.


"Suruh mereka berhenti, saya ingin hidup dengan tenang."


"Bangun Marco, aku sudah memaafkanmu. Tapi, aku tidak tahu apa maksud ucapan mu." Marco bergegas bangun dengan wajah tertunduk.


"Anak buah Jonathan terus saja mengejar saya. Saya benar-benar menyesal dan ingin hidup dengan tenang." Daniel fikir Joy sudah selesai dengan Marco tapi ternyata hingga sekarang Marco masih menjadi target untuknya.


"Akan ku bicarakan dengannya." Daniel melihat ke arah gerobak jualan Marco sekarang." Kau berjualan itu lagi." Imbuh Daniel bertanya.


"Itu tanpa modal jadi saya bisa berjualan." Bella tidak bergeming karena dia merasa jika itu bukan urusannya.


"Aku kasihan melihatmu tapi, perbuatanmu sungguh di luar batas Marco."


"Saya tahu Tuan. Saya memang tidak mengharapkan apa-apa lagi. Saya hanya ingin hidup dengan tenang."


"Aku juga sama. Aku mengikhlaskan harta itu dan ingin hidup dengan tenang tapi kau mengusik milikku lagi." Marco mulai terisak dan menyadari betapa tidak tahu dirinya dia dulu.


"Ampuni saya Tuan. Saya menyesal sangat menyesal."


"Hm ya sudah." Daniel mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu ATM dan apartemen yang dulu di curi oleh Erik." Ambil ini. Aku tidak bisa lagi memberikamu perkerjaan." Dengan tangan bergetar Marco menerima itu.


"ATM ini.."


"Itu milik mu kan."


"Ini milik Tuan." Marco mengulurkan tangannya dan ingin mengembalikannya.


"Itu untukmu. Pakailah untuk membangun usaha, agar kamu tidak lagi melakukan penghianatan seperti kemarin. Rasakan sendiri, bagaimana sulitnya membangun usaha dari Nol." Tangis Marco pecah menerima kebaikan itu. Dia tidak mengharapkan sesuatu selain pengampunan tapi Daniel kembali memberikannya hidup.


"Terimakasih Tuan.."


"Hm. Aku harus pergi. Jaga diri baik-baik." Daniel menepuk pundak Marco lembut kemudian kembali masuk mobil.


Roy dan Erik yang memantau dari jauh berdecak kagum dengan kemurahan hati Daniel pada Marco.


"Dia sungguh seperti malaikat." Gumam Roy tersenyum tipis.


"Aku ingin sekali membunuh tapi sayangnya dia milik Pak Daniel." Roy terkekeh seraya menatap Erik yang tersenyum tipis ke arahnya.


"Kenapa Tuan tidak menetap saja. Aku sangat rindu melayaninya apalagi melihat aksi Nona Nara."


"Aku juga. Aku aku ke markas." Erik tersenyum kemudian masuk mobil miliknya. Sementara di dalam mobil Daniel, Bella juga sangat kagum dengan sifat pemurah yang Daniel tunjukkan tadi.


"Kenapa di beri ATM Kak."


"Itu miliknya sayang."


"Aku tahu itu milik Kak Daniel."


"Bella milik Daniel." Bella tersipu mendengar pujian sederhana itu." Hujan turun lagi." Imbuh Daniel mengalihkan pembicaraan.


"Sudah dua Minggu ini dia selalu turun."


"Hujan ingin aku menghangatkamu." Bella tertawa kecil sedangkan Daniel tersenyum tipis.


"Meskipun hujan tidak menginginkan itu, aku tetap ingin di hangatkan olehmu."


"Dengan seragam itu." Tanya Daniel lirih. Hasratnya langsung tersulut hanya dengan membayangkannya.


"Hm.."


"Sebaiknya kita segera masuk sayang." Daniel memarkirkan mobilnya dengan cepat dan bergegas menggiring Bella masuk ke dalam lift.


Setibanya di apartemen. Daniel menghimpit tubuh Bella seraya kedua bibir saling bertaut. Himpitan merenggang ketika keduanya saling membuka kancing baju masing-masing.


~Bersambung...


Memang konfliknya sudah selesai ya😁


Tinggal hal-hal yang menyenangkan saja..


Bagaimana ya kalau aku tamatin sampai episode 80 saja..


Soalnya fikiranku sudah sering buntu🤣🤣🤣


Kalau berkenan..


Mampir ke novelku yang berjudul Wanita kesayangan Tuan Eldar

__ADS_1


Masih update 3 episode 😁


Terimakasih dukungannya 🥰


__ADS_2