Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 51


__ADS_3

"Bagaimana dengan perusahaannya?" Tanya Pak Salim lirih. Dia begitu bahagia melihat anak semata wayangnya sudah menikah walaupun sedang berada di keterpurukan.


"Masih berusaha berdiri Yah." Jawab Daniel lemah.


Tangan Pak Salim terangkat dan mengusap punggung Daniel lembut. Dia mengerti tentang kesulitan yang sedang menimpa Daniel sekarang.


"Kita pulang saja. Bantu Ayah mengelola perkebunan jika Bella sudah lulus nanti." Tawar Pak Salim. Dia sudah seringkali mengucapkannya meski Daniel tidak pernah mau.


"Tidak Yah." Pak Salim menarik nafas panjang. Dia tahu jika Daniel akan menolak keinginannya.


"Jika begitu, biar Ayah yang tanggung biaya hidup Bella sementara waktu agar kamu bisa fokus pada perusahaan." Daniel menoleh lalu tersenyum, memandangi wajah keriput Pak Salim.


"Aku berterimakasih sebab Ayah memikirkan itu. Tapi dia istriku dan sudah seharusnya jika aku bertanggung jawab atas hidupnya. Meskipun aku nantinya akan kesulitan, aku akan berusaha Yah. Sudahlah, tidak perlu terlalu memikirkan aku. Doakan saja semua bisa kembali normal."


Pak Salim terkadang tidak memahami, tentang sifat batu Daniel, yang tidak pernah mau menerima bantuannya sejak dia menamatkan pendidikannya.


"Ayah ini orang tuamu Nak. Bagaimana Ayah tidak memikirkan hidupmu jika kamu kesulitan seperti ini." Jawab Pak Salim berusaha merajuk.


"Aku lelaki Yah, bukan seorang gadis. Bukan aku tidak ingin di bantu, tapi sekali aku bergantung pada sesuatu. Aku pasti ingin mengulangnya lagi dan lagi." Pak Salim terdiam seraya mengangguk-angguk." Jika aku bergantung pada Ayah. Apa jadinya istriku nanti? Mungkin dia akan menyesal karena menikah dengan lelaki yang hanya sanggup menjadi benalu. Aku mohon Yah, jangan bahas ini lagi. Aku akan membahagiakan anak gadis Ayah itu. Aku berjanji, Ayah masih ingat bagaimana janji seorang Daniel." Daniel tersenyum, begitupun Pak Salim. Tangannya kembali terulur dan menepuk-nepuk punggung Daniel lembut.


"Rasanya waktu berjalan cepat Nak. Bagaimana mungkin kamu bisa berfikir sedewasa itu."


"Umurku memang sudah tua." Meskipun kesulitan, Daniel ingin menghapus kekhawatiran Pak Salim dengan senyumannya.


"Jaga anak gadis Ayah dengan baik."


"Tidak perlu Ayah minta. Aku akan menjaganya dengan baik."


Sementara di kamar, Bella yang tidak sepenuhnya belajar. Mendengar dengan jelas obrolan antara Daniel dan Pak Salim.


Ada rasa bangga terlintas saat mendengar ucapan tegas Daniel saat menolak bantuan dari Ayahnya. Namun ada rasa sedih, sebab Bella ikut terbebani melihat kesulitan yang Daniel alami.


Kak Daniel saja bersemangat jadi aku harus bersemangat...


Bella tersenyum lalu mulai mengerjakan PR nya. Sesekali tangan kecilnya memeriksa ponselnya karena tidak sabar menunggu kabar dari Sari yang menjanjikannya perkerjaan.


Drrrrrtttt...


💌Ini nomer Kak Emi Bella. Kamu chat sendiri ya, tadi aku sudah bilang padanya dan dia menyuruhku memberikan nomer ini untuk lebih jelasnya.


💌Iya. Terimakasih.


💌Oke.


Bella kembali meletakkan ponselnya dan melanjutkan belajar. Setelah PR selesai, Bella segera mengirimkan pesan singkat pada Emi.


Bibirnya tersungging, ketika Emi merespon pesannya dengan cepat. Emi menjelaskan bagaimana sistem dropship berjalan dan itu mudah untuk di pahami Bella yang notabenenya memiliki otak cerdas.


💌Aku masukkan grup ya Bell.


💌Oke Kak. Terimakasih.


💌 Sama-sama.


Wah.. Harus membuat akun dulu untuk berjualan hehe .. Aku bersemangat sekali...


Drrrrrtttt...


Bella mengklik undangan grup dan melihat produk yang akan di jualnya nanti. Sambil bersenandung kecil, Bella melihat-lihat foto produk dan keterangan yang tertera.


Mudah sekali.. Besok aku akan membuat akun Vesbook di sekolah.. Aku tidak ingin Kak Daniel tahu...


"Sudah selesai? Kenapa main ponsel?" Bella menoleh seraya tersenyum aneh, melihat Daniel tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.


"Sudah Kak. PR nya sedikit kok." Bella membereskan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Ganti baju kita pergi, mumpung masih sore." Ajak Daniel langsung menutup pintu. Dia duduk di pinggiran tempat tidur dan mengambil satu tumpuk uang. Setelah itu, dia meletakkan uang sisanya ke dalam laci.


"Pergi ke mana?"


"Beli baju untukmu."


"Ahh malas." Jawab Bella beralasan.


"Ayah akan memarahiku jika tidak melakukannya."


"Itu alasanmu saja Kak. Sudah ku katakan jika baju itu tidak penting. Aku juga bisa mencuci setiap hari lalu di pakai lagi."


"Kamu yang sedang beralasan." Sahut Daniel. Bella tertawa aneh sebab membenarkan ucapan itu. Dia memang tidak banyak memiliki baju setelah kebakaran rumahnya. Tapi, dia juga tidak mempermasalahkannya." Ayolah sayang. Tidak boleh ada penolakan." Daniel berdiri lalu membuka pintu lemari dan mengambil baju juga celana untuk Bella." Ganti baju, kita pergi." Imbuhnya meletakkan baju ke pangkuan Bella.


"Serius aku sedang malas keluar Kak."


"Ayolah.." Daniel memaksa Bella untuk berdiri.


"Badanku tiba-tiba lemas Kak." Canda Bella membuat Daniel merasa gemas.


"Ahh benarkah sayang. Sini biar ku atasi." Daniel merapatkan tubuhnya lalu meraih tengkuk Bella dan mencium bibirnya berulang-ulang.


Karena seringnya Daniel menunjukkannya perlakuan manisnya seperti sekarang, membuat Bella merasa terbiasa. Dia tertawa kecil dan membiarkan bibir Daniel menciumnya begitu banyak.


"Masih lemas?" Tanya Daniel belum juga berhenti, namun kali ini ciumannya terasa begitu lembut hingga Bella mulai terbuai.


"Masih Kak, malah sekarang bertambah lemah." Sesuai keinginan, Bella tidak lagi memejamkan matanya ketika tengah berciuman. Itu membuat perasaannya kian menguat.


"Ayolah sayang. Demi Ayah, agar dia merasa senang." Rajuk Daniel memperhatikan setiap inci wajah Bella dan masih sesekali menciumnya.


"Apa Ayah yang menyuruh?" Tanya Bella dengan kedua tangan yang bergelayut pada pundak kekar Daniel.


"Hm iya.. Pulangnya kita beli sesuatu untuk makan malam. Bagaimana?"


"Oke. Balik badan." Bella berdiri tegak dan memutar tubuh Daniel agar membelakanginya.


"Tanpa di suruh aku juga belum ingin melihatnya sayang hehe." Canda Daniel terkekeh.

__ADS_1


"Aku juga belum siap Kak." Bella menanggalkan dress-nya lalu menggantinya dengan baju yang di pilih Daniel tadi.


"Jadi, kapan kamu siap?" Tanya Daniel asal bicara, meski Bella selalu menanggapinya dengan serius.


"Setelah lulus. Apa terlalu lama? Bukankah Kak Daniel sering bertanya itu?"


"Apa iya? Maaf sayang, mungkin aku lupa."


"Cih! Terlalu banyak alasan." Runtuk Bella namun tersenyum." Sudah Kak."


Daniel membalikkan badannya dan memandangi Bella yang sudah berganti baju. Rambut yang mulai terlihat lebih panjang, membuat Daniel merasa jika Bella semakin cantik setiap harinya.


"Rambutmu cepat panjang?" Tangannya terangkat dan mulai membelai anak rambut yang ada di sekitar dahi.


"Iya Kak. Aku sebenarnya risih jika sudah sampai pundak." Bella membetulkan ikatan rambutnya, namun Daniel malah mengambil tali pengikat rambut.


"Lebih cantik begini." Daniel meraih sisir dan merapikan rambut lurus Bella.


"Ini gerah Kak." Protes Bella memang tidak pernah memanjangkan rambut hingga sepundak.


"Tidak akan gerah karena kamu mencintaiku." Bella tersipu mendengar kebenaran yang di rasakan sekarang.


"Apa ini kurang panjang?" Tanya Bella ingin tahu. Tujuan utamanya tidak lagi mendapatkan nilai terbaik. Namun bisa segera lulus dan membahagiakan lelaki dewasa yang berdiri di hadapannya.


"Hm lebih panjang lagi, jangan pernah memotongnya. Tapi jika kamu tidak ingin, ya sudah sepanjang ini cukup, asal tidak terlalu pendek. Kita berangkat." Daniel mencium kening Bella sejenak lalu meletakkan sisirnya.


"Rambut pendek itu simpel Kak. Tidak perlu waktu banyak untuk menyisir." Daniel merangkul pundak Bella dan mengiringinya berjalan keluar.


"Apa kamu malas menyisirnya?"


"Iya, sedikit. Aku kurang telaten."


"Biar aku yang menyisir jika memang begitu."


"Hm asal kamu bahagia Kak." Jawab Bella lirih.


"Kamu juga harus bahagia."


"Aku bahagia." Bella mengeratkan pegangan tangannya lalu menghentikan langkah Daniel dengan menarik lengannya." Tidak pamit Ayah Kak?" Imbuhnya melihat ke kamar yang dulu di tempati Lucas.


"Ayah sedang beristirahat. Aku tadi sudah pamit, kita langsung berangkat saja."


Keduanya saling memandang lalu berjalan keluar. Pak Salim membuka pintu kamarnya sedikit lalu mengintip keduanya seraya tersenyum.


Sudah Ayah katakan, tidak ada sesuatu yang kebetulan.. Semua musibah atau keberuntungan, sudah di gariskan oleh Tuhan dan pasti memiliki tujuan. Semoga kalian berdua bahagia dan mampu melewati ini semua..


****************


Marco cepat-cepat menutup laptopnya saat Fanny tiba-tiba menerobos masuk. Dengan wajah gugup, dia melihat ke arah Fanny yang sudah berdiri di sampingnya.


"Coba ku lihat." Fanny menggeser laptop dan membukanya. Terlihat begitu banyak foto Bella tersimpan di sebuah file." Astaga. Untuk apa kau menyimpan foto gadis ini Marco!" Tanya Fanny dengan nada bicara meninggi.


"Bukankah kau tahu jika aku sedang mengintainya?"


"Jika iya. Kau bisa apa?!!" Jawab Marco tegas.


"Oh begitu.. Terus saja melakukan itu, jika ingin video panas kita tersebar." Ancam Fanny.


"Sebar saja! Lakukan yang kau sukai! Aku tidak perduli. Jika perusahaan hancur, bukan aku saja yang rugi tapi kau!!" Marco menunjuk kasar sehingga membuat Fanny semakin geram.


Sial!! Kenapa dia malah balik mengancam?


"Aku masih mencintaimu Marco! Kenapa kau tidak juga mengerti." Perkataan itu keluar begitu saja. Padahal saat bersama Jim, Fanny seringkali mengumpat tentang Marco. Dia juga tidak paham, kenapa masih ada rasa kesal ketika dia mengetahui jika Marco ternyata menyukai Bella.


"Aku tidak!" Marco berdiri dan mengantongi


ponselnya. Dia meraih kunci lalu berjalan melenggang keluar meninggalkan Fanny yang terpaku melihatnya.


"Apa bagusnya gadis ingusan itu! Agh! Kenapa hatiku sakit!!" Fanny meraih ponsel untuk menghubungi Jim.


"Di mana.


"Masih pada perkerjaan lama.


"Kau lihat Bella?


"Hm. Mereka sedang di Mall sekarang.


"Oh. Begitu. Terus awasi daripada nanti Marco curiga.


"Iya sayang.


Fanny mengakhiri panggilannya lalu berjalan keluar dari ruangan Marco. Wajahnya terlihat serius bahkan tidak merespon sapaan para karyawan yang bersiap akan pulang.


Aku jadi penasaran, seperti apa Bella...


***************


Bella menelan salivanya kasar, saat Daniel menggiringnya menuju ke toko bra dan celana. Tentu Bella merasa canggung jika harus membeli barang seperti itu bersama Daniel.


"Ini sudah berat Kak." Ucap Bella lirih. Dia tengah mencari alasan untuk menolak.


"Ini ringan sayang. Jangan banyak beralasan."


"Kak Bastian saja tidak pernah mengantarkan aku membeli ini." Gumam Bella tertunduk. Wajahnya bahkan sudah memerah padahal dia masih membayangkannya saja.


"Aku Daniel sayang, bukan Bastian."


"Tapi kalian sama-sama lelaki."


"Berapa ukurannya? Biar aku belikan jika memang kamu malu." Bella mendongak dan menatap Daniel dengan wajah aneh.


"Sama saja Kak. Apa bedanya? Kamu tetap membeli itu untukku. Biar besok aku bersama Sari dan Erin saja." Tolak Bella tetap tidak mau.

__ADS_1


"Tunggu di sini. Aku akan memperkirakan ukurannya." Daniel melangkah masuk tanpa ragu sehingga otomatis Bella mengikutinya.


"Kak Daniel gila?"


"Aku sangat menyayangimu, bukan karena aku gila. Aku tidak ingin kulitmu iritasi lagi." Dengan santainya Daniel menjawab itu, matanya menyipit karena memang saat ini dia tengah tersenyum menikmati wajah tegang Bella.


"Di sini tidak ada lelaki Kak. Apa tidak malu?"


"Aku tidak pernah malu, selama aku benar. Cepat pilih karena percuma saja jika kamu menolak." Bella menarik nafas dalam-dalam seraya memandangi bra yang tersusun rapi di gantungan. Maniknya melirik ke arah Daniel, yang tengah menatap ke arahnya sekarang." Jika tidak mau memilih, biar aku panggil pegawai tokonya." Imbuh Daniel menunggu.


"Iya. Aku pilih." Perlahan, Bella melangkah maju di ikuti oleh Daniel.


"Belilah beberapa potong sayang, agar kamu tidak harus mencucinya setiap hari."


"Iya Kak. Duuuh.." Daniel terkekeh di balik masker, memperhatikan wajah kesal Bella dari samping.


"Maaf Kakak. Barangnya bisa di titipkan dulu." Ucap pegawai sudah berdiri di samping keduanya. Dia merasa kasihan dengan Daniel yang tengah membawa banyak belanjaan, sehingga dia memutuskan untuk memberitahu Daniel jika ada penitipan barang


"Oh begitu, di mana penitipannya?" Jawab Daniel ramah.


"Di sana Kak." Menunjuk tempat kasir.


"Sayang. Sebentar, aku titipkan barang."


"Iya Kak." Wah kebetulan!! Aku akan memilih dengan cepat....


Bella mengambil kantung belanjaan dan mengisinya dengan beberapa bra juga celana. Sambil sesekali melirik ke arah Daniel yang mulai berjalan ke arahnya, Bella memberikan katung belanjaan pada pegawai yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ini Kak." Ucapnya cepat.


"Langsung ke kasir saja Kak."


"Em begitu." Bella tersenyum aneh kemudian berjalan menuju kasir.


"Sudah?" Tanya Daniel berdiri memperhatikan Bella.


"Iya." Bella melewati Daniel begitu saja dan meletakkan belanjaannya di meja kasir.


"Cepat sekali."


"Ahh Kak Daniel." Runtuk Bella menutup kedua mata Daniel dengan kedua tangannya. Dia tidak ingin Daniel melihat saat kasir membongkar bra miliknya.


"Hehe, aku tidak akan mengintip. Jangan seperti ini, nanti kamu lelah." Daniel menurunkan kedua tangan Bella lalu memunggunginya.


"Tetap begitu Kak."


"Iya. Astaga.."


"Totalnya tiga juta tujuh ratus Kak." Bella melongok mendengar total dari belanjaannya.


"Be berapa Kak?"


"Tiga juta tujuh ratus." Ulangnya.


"Mahal sekali." Gumamnya mengambil tas belanja dan memeriksa bandrol yang tertempel.


"Kenapa?" Tanya Daniel berdiri di samping Bella.


"Terlalu mahal.. Boleh ku tukar Kak."


"Boleh, silahkan." Bella akan membawa kantung belanjaannya namun Daniel dengan cepat mengambilnya.


"Berapa?" Tanya Daniel mengulang.


"Tiga juta tujuh ratus." Daniel tersenyum di balik masker dan mengeluarkannya kartunya sebab uang tunainya sudah habis.


"Kenapa di bayar Kak? Itu mahal sekali untuk enam potong baju dalam." Eluh Bella berprotes.


"Bagus jika mahal. Aku ingin kamu bisa nyaman memakainya."


"Sayang sekali uangnya."


"Kulitmu sensitif sayang. Daripada harus ke dokter lagi." Bella terdiam karena membenarkan itu.


"Ini Kak." Kasir menyerahkan kartu juga kantung belanjaan.


"Hm.." Daniel tersenyum sejenak seraya memasukkan kembali kartunya." Kita membungkus makanan dan pulang." Bella menyerah dan memilih ikut saja. Keduanya keluar setelah mengambil barang belanjaan di tempat penitipan.


Tanpa mereka sadari, Jim mengikutinya sejak tadi. Mengambil beberapa foto untuk di serahkan pada Marco. Setelah mendapatkan bahan untuk laporan, Jim pulang sehingga Fanny keluar dari persembunyiannya.


Bukan hanya Jim, tapi sejak tadi Fanny juga tengah mengintai kebersamaan Daniel dan Bella. Dia menatap tajam ke arah keduanya. Apalagi mengetahui kenyataan jika sikap Daniel kini berubah manis. Tidak seperti dulu yang cenderung kaku juga acuh.


"Dia bahkan masih menggenggam tangannya dengan membawa belanjaan sebanyak itu!!" Umpat Fanny pelan." Aku tidak yakin itu Daniel! Mana mungkin lelaki tidak normal itu bisa berubah saat bersama gadis biasa itu!!" Fanny terus mengikuti langkah keduanya dengan jaket hoodie yang menutup kepalanya.


"Tempatnya sepi sayang. Apa makan di sini saja, biar Ayah di bungkus." Tawar Daniel sebelum memesan.


"Iya.. Apa Ayah tidak apa?" Bella tersihir dengan aroma ayam krispi yang sudah tercium olehnya.


"Tidak apa. Kita makan di sini lalu membungkus untuk Ayah."


"Setuju Kak."


"Kamu tunggu di meja sambil menunggu pesanan, biar aku menaruh barang di mobil sebentar."


"Iya Kak." Bella langsung duduk di salah satu kursi.


"Sebentar sayang.." Daniel memesan, lalu melangkah keluar dengan membawa belanjaan. Fanny yang ingin memastikan, mengikuti Daniel hingga ke parkiran.


"Daniel." Sapa Fanny sontak membuat Daniel menoleh cepat.


~Riane


Terimakasih dukungannya 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2