Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 63


__ADS_3

Mobil Daniel tidak juga melaju pergi, Bella pun terpaksa masuk. Apalagi Erin dan Sari juga tidak terlihat batang hidungnya, sehingga membuatnya harus mencarinya terlebih dahulu, untuk mengajaknya membolos sesuai dengan rencana awal. Sisca yang baru saja masuk setelah sakitnya, langsung menghampiri Bella yang berjalan sendirian.


"Bella tunggu.." Teriak Sisca. Langkah Bella terhenti sebentar meski dia kembali berjalan." Hei tunggu dulu." Sisca meraih pundak Bella namun Bella menyingkirkannya.


"Apa!" Jawab Bella ketus.


"Dih! Selalu saja kau seperti itu."


"Karena setiap kali bertemu denganmu, kau selalu saja membicarakan hal yang tidak penting."


"Ini penting." Imbuhnya menyakinkan.


"Buruan!! Katakan."


"Elena pindah sekolah."


"Lalu?"


"Harusnya hari ini aku mencari seseorang untuk jadi kaki tanganku tapi, aku menawarkan ini padamu." Bella tersenyum penuh ejekan menatap Sisca." Kau akan dapat keuntungan dari itu. Sekolahmu menjadi tenang, bebas biaya sekolah..."


"Stop! Hentikan omong kosong itu Sisca!" Selah Bella merasa jika obrolannya memang tidak penting.


"Aku merasa baik-baik saja bersekolah di sini. Lalu maksudmu dari keuntungan itu apa?" Sisca menarik nafas panjang sebab membenarkan apa yang Bella ucapkan. Bella tidak gampang di tindas atau di bully. Meskipun dia tidak pernah membalas itu dengan kekerasan, tapi dia selalu punya cara untuk kabur dari masalah seperti itu.


"Kau bisa bebas biaya sekolah."


"Aku tidak tertarik! Minggir!" Bella melewati Sisca begitu saja.


"Ish! Di tawari perkerjaan enak malah tidak mau! Dasar bodoh!!" Umpat Sisca memutuskan ke kantin untuk memberikan pengumuman bahwa dia akan mencari seorang kaki tangan.


.


.


Bella tersenyum, ketika melihat Erin dan Sari sudah menunggunya di luar kelas dengan tas yang masih menggantung di kedua pundaknya.


"Telat lagi? Ku fikir tidak jadi." Eluh Erin melirik ke arah jam yang tergantung di kelas. Bel pelajaran di mulai akan berbunyi lima menit lagi, namun Bella baru menampakkan batang hidungnya.


"Maaf. Bukankah kalian tahu jika aku tidak pernah bangun pagi."


"Iya..Iya yuk buruan." Ketiganya berjalan ke belakang sekolah karena tidak mungkin jika harus melewati pintu gerbang depan." Ahh tinggi sekali Bell, aku tidak bisa." Bella melihat sekitar yang terlihat bersih. Semua bangku tidak terpakai di letakkan pada gudang agar anak-anak tidak menyalahgunakannya seperti apa yang akan di lakukan Bella sekarang.


"Katamu lelaki itu selalu datang ke sekolah. Bukankah lebih baik kau menunggu saja Bell." Ujar Sari merasa tidak sanggup untuk memanjat.


"Lalu aku harus berseteru di lingkungan sekolah? Apa begitu maksudmu." Erin dan Sari tersenyum seraya saling melihat.


"Iya. Tapi ini tinggi Bell."


"Injak aku di sini." Bella menepuk kedua pundaknya untuk memberikan arahan.


"Mana tega Bella. Kau kecil sekali."


"Aku kuat sialan!! Jika kita tidak segera memanjat, kita akan kepergok! Kalian mau." Jawab Bella setengah berbisik.


Dengan ragu-ragu Erin akan memanjat pundak Bella tapi suara seseorang menghentikan langkahnya.


"Biar ku bantu." Sahut Samuel yang sejak tadi melihat kegiatan ketiganya. Bella menoleh namun kembali fokus menatap dinding pagar sekolah.


"Jangan hiraukan dia." Ucap Bella menyuruh Erin melanjutkan kegiatannya.


"Aku serius membantu." Samuel memperlihatkan kunci pintu pagar samping." Daripada harus memanjat, bukankah lebih baik lewat pintu." Bella menarik nafas panjang, menatap lemah ke arah Samuel.


"Bagaimana caranya kamu mendapatkan kunci itu Sam?" Tanya Erin ingin tahu.


"Aku mencuri duplikatnya."


Tak!!


Samuel melemparkan kunci itu dan dengan sigap Bella menangkapnya.


"Kembalikan padaku besok." Samuel tersenyum lalu pergi saat bel tanda masuk sudah berbunyi.


"Sejak dulu hingga sekarang. Samuel memang sangat sopan dan pengertian, tidak seperti Kenan yang gila itu." Gumam Sari tersenyum menatap kepergian Samuel.


"Berhenti berbicara, ayo cepat." Bella juga mengakui sikap baik dan sopan yang di tunjukkan Samuel padanya. Namun, tetep saja. Bagi Bella, Samuel dan Kenan adalah, bocah.


*************


"Apa tidak sebaiknya berkerja di sebuah perusahaan saja Tuan." Jawab Lucas ketika Daniel memilih berkerja sebagai driver online.


Wajahnya masih tertunduk, mempertimbangkan ucapan yang di lontarkan Lucas namun dia kembali memikirkan Bella yang masih membutuhkan banyak biaya untuk sekolah.


"Aku ingin menghilang dari dunia bisnis dulu." Lucas menatap lemah ke arah Daniel seraya mengangguk pelan.


"Sementara, pakai uangku..."


"Tidak Lucas. Bantuanmu hanya sekedar berpura-pura masih berkerja padaku. Itupun aku tidak bisa memberikamu gaji. Uang sisa upah karyawan, aku peruntukan membayar biaya sekolah Bella." Sahut Daniel menyelah.


"Tuan sangat mencintainya."


"Hm sangat. Aku merasa hanya itu harta satu-satunya setelah Ayah." Bagaimana mungkin Lucas tidak menyerahkan baktinya pada Daniel. Dia begitu kagum dengan sosok Daniel yang mengajarinya ilmu keikhlasan tiada batas.


"Keputusan ada di tangan Tuan sendiri."


"Hm ya. Jika sedang mengobrol berdua, lebih baik kamu panggil aku Daniel saja."


"Tuan tetap akan jadi Tuanku."


Orang yang sama-sama di pungut dari jalanan, namun memiliki kesetiaan yang berbeda. Lucas yang awalnya hanya berkerja sebagai tukang tambal ban karena kesulitan mencari perkerjaan. Di punggut oleh Daniel dan di jadikan kaki tangan tanpa seleksi. Apalagi Lucas memiliki gelar sarjana sehingga membuat Daniel tidak perlu menimbang untuk menjadikannya kaki tangan pribadinya.


Sementara Marco, juga awalnya memiliki kasta yang sama. Daniel memungutnya dari jalan dengan tamatan SMA. Daniel harus membiayai kuliah Marco hingga lulus sarjana, berharap Marco bisa berkerja sebaik Lucas. Namun yang di dapatkan sungguh sangat berbeda.


Lucas masih menunjukkan baktinya untuk Daniel karena rasa terimakasihnya akan kehidupan layak yang di dapatkannya. Sedangkan Marco?


Ada sedikit rasa sesal dalam lubuk hati Daniel. Tapi dia sudah ikhlas pada semua yang terjadi. Dia hanya ingin hidup tenang bersama istri kecilnya namun rasanya itu akan sulit. Rasanya tidak akan ada jalan, selama Marco masih ada di sekitarnya. Seolah menjadi momok baginya, ketakutan akan kehilangan Bella selalu membuat hatinya menjadi risau.


***************


"Tidak boleh masuk Non. Ini bukan area untuk anak sekolah." Cegah satpam saat Bella dan kedua temannya berusaha untuk masuk tanpa ada pendamping." Dan lagi, Pak Marco belum datang." Imbuhnya namun tidak membuat Bella berhenti.


"Ini masalah pribadi Pak. Ayolah Pak, saya tidak mau berbuat kasar karena Bapak orang tua."


"Memang tidak boleh masuk Non. Kecuali, Non ke sini sama pendamping."


"Saya pendampingnya." Sahut Andra merasa tertarik dengan perdebatan yang terjadi di depan matanya. Ada rasa yang mendorongnya untuk menolong Bella yang merupakan istri dari seseorang yang tengah dia cari.


Andra memutuskan untuk pergi ke Surabaya lagi, hanya untuk melancarkan penyelidikannya. Dia tidak perduli jika Marco menyambutnya dengan tidak baik. Yang Andra fikirkan hanya bagaimana caranya mendapatkan titik temu di mana Daniel berada sekarang, agar Tuan dan Nonanya bisa mendapatkan info yang akurat.


Astaga... Gadis pemberani... Puji Andra dalam hati. Dia semakin kagum saat melihat wajah mungil Bella saat keduanya saling menatap seperti sekarang.


"Nah dia pendampingku Pak." Sahut Bella bersemangat.


"Ya sudah silahkan masuk." Ucap satpam lemah seraya melemparkan senyuman pada Andra.


"Terimakasih ya Om." Ucap Bella merasa terbantu.


"Sama-sama. Ada keperluan apa ke sini?" Andra merasa tertarik dengan keperluan seorang gadis SMA di perusahaan yang cukup besar.


Baru saja Bella akan menjawab pertanyaan Andra, dia berjalan melewati Andra begitu saja ketika melihat Marco baru saja masuk bersama Fanny.


Plaaaaaakkkkkk!!!!


Erin dan Sari melongok, begitupun semua pegawai yang ada di sana termasuk Andra.


Banyak dari mereka yang tersenyum melihat kejadian tersebut, mengingat sikap Marco yang tidak baik dan suka marah-marah.


Namun sebagian lagi, merasa penasaran dengan siapa Bella sebenarnya? Hingga berani melayangkan tamparan pada orang yang paling di takuti di perusahaan besar tersebut.


Marco menatap geram sejenak, lalu berubah senang saat melihat Bella berdiri di hadapannya.


Ouch!! Gadisku...


"Maksudmu apa Marco!!!" Tanpa takut sedikitpun, Bella mencengkram erat kerah kemeja dan mendorongnya.


Bukankah dia Bella? Apa maksudnya? Kenapa dia menampar Marco? Batin Fanny bertanya-tanya dalam hati.


"Astaga sayang. Kenapa marah-marah seperti itu hanya karena wanita ini." Ucapan Marco membuat para pegawai beranggapan jika Bella adalah kekasihnya, tapi itu hanya awal. Sebab yang terjadi selanjutnya, akan menjadi hiburan tersendiri bagi pegawai yang sudah pernah Marco maki-maki tanpa sebab.

__ADS_1


"Aku tidak sedang main-main sialan!!!" Umpatnya kembali mendorong tubuh Marco.


"Hei yang sopan." Hadik Fanny berpura-pura membela.


"Aku tidak punya urusan denganmu Nona!!" Tunjuk Bella kasar membuat Fanny tersulut emosi dan berusaha mendorong tubuh Bella namun tangan kecil Bella lebih dulu menamparnya.


Plaaaaaakkkkkk!!!


Andra tersenyum, terpaku dan merasa mendapatkan sebuah hiburan. Pegawai yang lain juga merasakan hal yang sama seolah gadis kecil itu mampu menundukkan orang yang di anggap buruk bagi mereka.


"Kau menamparku!!!"


Plaaaaaakkkkkk!!!


Bella menamparnya lagi dan lagi hingga membuat raut wajah Fanny berubah takut. Dia berjalan mundur, menuju belakang tubuh Marco untuk mencari perlindungan.


"Dia bukan siapa-siapa sayang. Kamu tenanglah." Ucap Marco semakin membuat Bella geram hingga harus meludahi wajah Marco.


"Sayang katamu!! Cih!!! Kau bahkan tidak pantas untuk mengelap sepatuku!!! Bagaimana mungkin kau memanggilku sayang!!!" Satpam tidak mampu bergeming dan malah ingin tertawa lepas.


Aku semakin ingin menundukkannya!!!


"Jangan begitu." Di luar dugaan, Marco masih tidak marah. Dia mengelap wajah yang penuh dengan ludah Bella, lalu tersenyum dan berusaha berjalan mendekat.


"Jangan lakukan lagi!!" Ancam Bella dengan manik menatap tajam ke arah Marco tanpa berkedip.


"Lakukan apa?"


"Kau tahu maksudku!!" Marco tersenyum tipis menatap wajah geram Bella yang terlihat mengemaskan ketika sedang marah seperti sekarang.


"Kita bicarakan baik-baik."


"Orang tidak baik sepertimu, tidak akan bisa di ajak bicara baik-baik!!!!"


Bugh!!!!


Satu hantaman membuat tubuh Marco terdorong mundur meski masih berusaha merajuk. Hantaman kedua cukup membuat rahangnya terasa nyeri dan saat hantaman ketiga di layangkan, Marco kehilangan kesadaran dengan darah segar keluar dari sudut bibirnya.


"Brengsek!!" Bella menendang tubuh Marco kemudian berjalan pergi di ikuti oleh Erin dan Sari." Suruh orang itu menuntut ku jika memang perlu!" Ucap Bella lantang seraya menunjuk kasar tubuh Marco.


"Ya!! Kau akan di tuntun lalu di penjara!!" Jawab Fanny yang sebenarnya merasa cemburu pada Bella karena kedekatannya dengan Daniel.


"Silahkan! Aku tunggu Kak. Kita lihat! Siapa yang akan di penjara! Dia atau aku!!" Bella asal bicara lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi. Sementara Fanny yang menyadari akan kejahatannya, langsung merasa takut dengan ancaman tersebut.


Apa Daniel tidak amnesia??? Ke kenapa dia berkata begitu...


Tubuh Marco di biarkan terkapar, karena sifat buruknya. Pegawai lebih memilih berpura-pura tidak tahu, daripada harus menolong Marco yang di anggapnya sebagai bos yang begitu buruk.


"Tolong dia!! Kenapa kalian diam saja!!" Satpam langsung berjalan menghampiri dan mengangkat tubuh Marco dengan bantuan beberapa pegawai lain.


Sebaiknya aku tidak ikut!! Aku harus membicarakan ini dengan Jim. Aku tidak mau di penjara!!!


Fanny memutuskan untuk pergi menemui Jim yang di ketahui nya sebagai psikopat, daripada harus ikut ke rumah sakit untuk mengantarkan Marco.


*************


"Sudah lega?" Tanya Erin saat ketiganya sudah berada di angkot.


"Iya. Memuakkan sekali." Bella mengambil hand sanitizer lalu mengusapnya ke telapak tangannya.


"Lalu kemana kita setelah ini Bell?"


"Kalian bawa jaket?" Keduanya mengangguk." Kita ke Mall, daripada nanti ketahuan Kak Daniel." Imbuhnya tersenyum.


"Wah sudah lama kita tidak pergi bertiga."


"Iya hehe. Aku rindu."


"Iya maaf. Mau bagaimana lagi. Selain tidak ada uang, aku juga merasa tidak enak pada Kak Daniel." Jawab Bella tersenyum saat rindu untuk Daniel mulai membelai hatinya. Kak Daniel sedang apa ya? Pasti di rumah...


"Itu karena Kak Daniel sudah memberikamu sesuatu yang enak hehe."


"Duhh apa maksudnya dengan enak." Wajah Bella memerah, mengingat sentuhan fisik pada percintaan yang mulai memanas akhir-akhir ini.


"Itu Bell, masa tidak tahu."


"Kalau ada yang cocok ya ayuk." Jawab Sari terkekeh.


"Nikah saja langsung." Supir angkot menggelengkan kepalanya mendengar obrolan gadis belia di sampingnya.


"Ya pacaran dulu Bella."


"Jangan ish!!! Serius!! Jangan!!"


"Kenapa sih?"


"Lebih enak menikah!"


"Iya. Kalau menikah itu dapat pahala." Sahut Pak supir membuat ketiganya tersenyum aneh dan menghentikan pembahasannya.


.


.


Setibanya di Mall, mereka turun dari angkot dengan sudah mengenakan jaket sesuai arahan Bella.


"Beli baju yuk Bell." Ajak Erin memandang ke arah Mall yang menjulang tinggi.


"Bajuku sudah banyak Rin. Kita jalan-jalan saja lalu makan dan pulang."


"Aku traktir. Uang pemberianmu dulu masih utuh. Harusnya ku peruntukkan membayar sekolah tapi ternyata Ayah sedang banyak job jadi kita pakai untuk berbelanja saja."


"Di tabung saja. Jangan boros, itu tidak baik." Sahut Bella menimpali.


"Bajumu itu hanya sedikit Bell, aku kasihan padamu."


"Aku kemarin baru membelinya bersama Kak Daniel." Erin menarik nafas panjang. Keputusan Bella tentu tidak bisa di ganggu gugat apalagi Erin dan Sari bukan dari kalangan kaya.


"Aku tahu maksudmu Bella." Jawab Erin lemah.


"Sangat tahu hehe.."


"Jika memiliki tabungan, kalian tidak akan kebingungan kalau butuh dana mendesak." Apa yang di katakan Bella memang benar sehingga kedua temannya tidak lagi bisa berkomentar.


"Sayang..."


Bella menoleh dengan wajah tegang, dia mengenal suara itu dan bahkan sangat hafal. Sesuai tebakannya, pemilik suara itu adalah Daniel yang tengah berdiri tidak jauh darinya.


Ke kenapa Kak Daniel ada di sini? Apa dia mengikutiku dan jika iya... Apa dia tahu jika aku datang ke perusahaan Marco tadi?


Padahal kenyataannya, Daniel baru saja pulang dari kantor agen driver online untuk mendapatkan perkerjaan. Dia tidak sengaja melihat Bella keluar dari angkot sehingga dia langsung mengikutinya.


"Bagaimana ini Bell." Bisik Erin dengan raut wajah gelisah, melihat Daniel mulai mendekat meski raut wajahnya terlihat biasa saja.


"Kak Daniel.." Ucap Bella tersenyum aneh.


"Astaga... Ini benar kamu? Apa ada rapat di sekolah?" Daniel berdiri tepat di hadapan Bella seraya menatapnya penuh tanya.


"Iya Kak." Jawab Bella pelan.


"Lupa untuk memberikan kabar padaku?" Protes Daniel mulai tidak menyukai jika Bella berkeliaran sendiri tanpa pengawasannya.


"Aku yang mengajak Kak." Sahut Erin tidak ingin Bella terkena masalah.


"Siapapun yang mengajak. Jika memang ada rapat, sebaiknya menghubungiku sayang."


"Aku ingin jalan bertiga, kita sudah lama tidak melakukannya."


"Harus berempat. Ayo." Daniel merangkul kedua pundak Bella dan mengiringinya masuk namun Bella menolak.


"Kita pulang saja Kak." Ucap Bella lirih. Sebab tujuannya ke Mall itu hanya untuk mengisi waktu luang hingga pulang sekolah.


"Iya Kak. Em.. mendadak kita ada keperluan." Sahut Sari tersenyum aneh.


"Memangnya mau membeli apa? Kenapa tidak mau ku antar?"


"Tidak membeli apa-apa. Kami hanya ingin berjalan-jalan."

__ADS_1


"Ya sudah ayo jalan-jalan."


"Pulang saja." Tolak Bella sehingga Daniel berhenti menggiringnya.


"Aku menganggu sekali ya sayang?" Jawab Daniel lemah.


"Tidak Kak. Bukan begitu Rin Sar."


"Hmm Kak. Aman kok hehe."


"Jadi kita pulang?" Bella mengangguk pelan." Oke ayo." Daniel merangkul pundaknya dan mengiringinya menuju ke arah mobil di ikuti oleh Erin dan Sari.


****************


"Aku tidak mencintainya, untuk apa aku melakukan itu." Jawab Jim saat Fanny merajuknya untuk menyekap Bella.


"Itu perintah dari orang yang kau sukai Jim!!!"


"Jangan meninggikan suara seperti itu padaku sayang. Aku benci itu!!" Fanny mendengus ketika mendengar jawaban tidak masuk akal dari Jim.


"Kau tidak menuruti perintahku Jim, itu berarti cintamu luntur."


"Caraku mencintai seseorang itu berbeda sayang. Aku ingin egois untuk orang yang ku cintai seperti dirimu. Aku tidak ingin kau bersama lelaki lain dan daripada aku melihat itu. Akan lebih baik jika kamu mati." Fanny melebarkan matanya mendengar itu dan ada rasa kesal terbesit karena ternyata Jim psikopat yang tidak berguna.


Sial sekali!! Kenapa ada psikopat bobrok seperti dia!! Maksudnya apa? Mencintai tapi menyiksa!! Dasar gila!!


"Jangan fikirkan anak ingusan itu. Kau harus fokus pada Marco saja. Jika hartanya bisa jatuh ke tanganmu, bukankah kau tidak akan lagi berurusan dengan anak itu. Lalu bonusnya, kita hidup bahagia selamanya." Fanny tersenyum aneh seraya menarik nafas panjang.


Kalaupun aku bisa!! Aku langsung pergi ke luar negri agar psikopat sialan ini tidak bisa menemukan aku!!


"Marco menyukai gadis itu. Mungkin ini akan sulit jika kau tidak membantu menyingkirkan Bella." Jawab Fanny masih berharap Jim bisa membantunya.


"Semua butuh proses sayang. Perlahan tapi pasti, harta Marco akan jatuh ke tanganmu suatu hari nanti."


Fanny menyesal sudah datang ke Jim. Tentu dia merasa muak sebab Jim tidak berguna karena tidak dapat membantunya.


Cih!!! Sial!!! Aku harus terjebak di sini sekarang!!!


Umpatnya mencoba tersenyum saat Jim mulai menyentuhnya. Ingin sekali dia menampis tangannya kasar, meski dia tidak kuasa melakukannya. Fanny tahu bagaimana kegilaan Jim yang sudah di tunjukkan padanya tiga hari yang lalu. Jim bahkan mengancam akan merusak wajahnya agar Fanny senang tiasa bersamanya.


Oke sayang. Aku tidak akan membunuhmu tapi, aku akan merusak wajahmu agar tidak ada orang lain yang mau denganmu kecuali aku..


Kala itu, Jim sudah membawa air keras di tangannya dan bersiap menyiramkannya pada wajah Fanny. Sehingga mau tidak mau, dia harus berpura-pura menurut saja.


Jika aku melaporkan Jim ke polisi? Aku tidak mau kejahatan ku malah di bongkar...


Entah karma atau apa? Tapi Fanny tidak tahu harus berbuat apa untuk menghindari Jim. Marco yang menurutnya bisa di andalkan, malah menginginkan Jim agar membunuhnya. Sementara Ayahnya juga sudah tidak ingin perduli dengan hidupnya akibat ulahnya sendiri.


Cara satu-satunya, aku rebut harta Marco dan segera pergi dari sini!!


******************


"Ini enak Kak." Gumam Bella memakan kue basah yang Daniel beli tadi." Aku suka kue semacam ini karena bisa membuat kenyang tapi, di sini tidak ada yang menjualnya." Imbuhnya terus menguyah.


"Aku belikan sepulang dari mengantarkan kamu ke sekolah agar kamu bisa memakannya sepulang sekolah."


"Tidak perlu Kak. Kalau setiap hari nanti bosan."


"Hm ya sudah. Asal jangan bosan denganku saja." Bella membulatkan matanya dan menelan makanannya cepat.


"Bosan apa sih Kak." Protes Bella tidak terima. Daniel tersenyum dan malah membaringkan tubuhnya. Kepalanya bertumpu lembut pada paha kecil Bella.


"Kamu tidak menyesal menikah denganku sayang?" Tanya Daniel seraya memejamkan matanya.


"Tidak. Kak Daniel mungkin yang menyesal." Bella menunduk, memandangi wajah tampan yang kini tengah memejamkan matanya.


"Aku beruntung memilikimu."


"Kak Daniel ingin menghiburku agar aku tidak terlihat menyedihkan."


Aku yang terlihat menyedihkan bukan kamu...


"Tidak boleh ada yang sedih meski kita sedang kesulitan." Bella tersenyum seraya memandangi cincin pemberian Daniel yang melingkar di jari manisnya. Perlahan tangannya terangkat dan mulai mengusap lembut rambut tebal Daniel dan sesekali memainkannya.


"Iya. Bukankah kita sudah berjanji." Daniel beranjak duduk sehingga usapan tangan Bella terlepas begitu saja.


"Sini." Ucapnya menepuk-nepuk pahanya.


"Kenapa bangun sih Kak." Protes Bella.


"Kamu yang lelah karena pulang sekolah." Daniel meraih kepala Bella lembut dan menekannya agar tidur pada pahanya.


Padahal aku tidak sekolah..


"Tadi tidak ada pelajaran jadi tidak lelah."


"Jangan merasa paling kuat sebab seharusnya kamu paling lemah di sini."


"Aku kuat Kak."


"Berarti aku harus lebih kuat."


"Kak Daniel membahas apa sih?"


"Entahlah." Daniel menunduk dan mencium sejenak bibir Bella.


"Aku tidak mau tidur." Dengan cepat, Bella duduk dan dengan cepat juga, tangan kanan Daniel meraih pinggang Bella agar posisi duduknya berdekatan.


"Aku sedang butuh ini." Ucap Daniel menepuk-nepuk bibirnya dengan jari telunjuknya.


"Hmm." Bella memejamkan mata dan mengerucutkan bibirnya membuat Daniel terkekeh.


"Hehe.. Aku mau kamu yang mengawali dengan mata terbuka." Daniel mengecup kedua mata Bella secara bergantian.


Bella terdiam, dia masih cukup canggung mengawali sebuah ciuman namun wajah tampan Daniel membuatnya bersemangat. Bella mendekatkan bibirnya dan mulai menempelkannya pada bibir Daniel.


Tubuh Daniel mendorongnya lembut agar Bella bisa mendapatkan posisi nyaman. Tengkuk Daniel di tekan dengan bibir yang saling melahap satu sama lain dengan kedua manik saling memandang.


Bella mendorong tubuh Daniel sedikit kasar, ketika lidah Daniel mulai menyapu hingga ke dalam. Daniel tersungging, melihat gadis kecilnya kembali tidak bisa menahan diri.


Secepat kilat, Bella sudah berada di pangkuan Daniel dengan kedua kaki terbuka. Daniel membiarkan gadisnya terbawa suasana saat tangannya mulai memberikan rangsangan-rangsangan kecil.


Aku mulai menyukai saat melihatnya mandi keringat...


Meskipun Daniel mulai tersulut hasrat yang kian memanas. Namun sekuat hati dia menahan itu semua. Dia malah fokus pada Bella agar bisa mendapatkan pelepasannya.


Kedua jemari Bella kian erat mencengkram rambut belakang Daniel. Membuat permainan bibirnya berubah kasar sebab pelepasan sudah akan datang. Ingin rasanya Bella mengigit bibir bawah Daniel untuk mengekspresikan kenikmatan yang mulai sering di dapatkannya dari Daniel, namun tiba-tiba...


Tok...Tok ...Tok...


"Tidak Kak sebentar.." Lenguh Bella tidak membiarkan Daniel beranjak.


"Ada tamu sayang."


"Aku akan..." Sampai...


Tok...Tok..Tok...


"Akan apa?" Tanya Daniel menggoda. Sebenarnya dia tidak memperdulikan suara ketukan itu. Dia menikmati wajah penuh hasrat yang Bella suguhkan sekarang.


"Entah akan apa..." Bella masih ingin mendapatkan pelepasannya namun suara ketukan pintu terus saja terdengar." Ahhh siapa sih!!" Umpatnya merasa kesal. Hasratnya menjadi menurun karena suara ketukan tersebut.


"Tidak baik begitu sayang." Daniel masih menahan tubuh Bella yang akan beranjak." Tuntaskan. Jangan mengumpat seperti tadi." Pinta Daniel yang sebenarnya ingin melihat Bella mendapatkan pelepasannya.


"Sudah tidak mau. Malas ah. Lepas." Bella melepaskan kedua tangan Daniel lalu berdiri.


Tok...Tok...Tok...


Daniel tersenyum lalu berdiri seraya menatap ke arah Bella." Nanti kita lanjutkan malam hari." Imbuhnya berharap suasana hati Bella kembali baik.


"Aku tidak mau." Bella berjalan ke belakang untuk membersihkan miliknya sementara Daniel berusaha mengendalikan hasratnya agar miliknya bisa tidur kembali.


"Apa dia benar-benar akan memberikan itu ketika sudah bersih?" Daniel tersenyum seraya menarik nafas panjang. Ingin sekali dia memasukkan miliknya agar bisa menyalurkan seluruh hasratnya tapi, Bella masih kotor dan tidak boleh di masuki.


~Riane...


Terimakasih dukungannya 🥰

__ADS_1


__ADS_2