Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 62


__ADS_3

"Kenapa sih?" Tanya Erin melihat wajah lesu Bella saat Daniel baru saja melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan.


"Aku bingung harus memulai cerita darimana." Bella berjalan masuk, di ikuti oleh Erin dan Sari.


"Cerita saja Bell, ada apa sih?" Bella duduk lemah di ruang tamu dan mulai menceritakan masalah Daniel yang membuatnya ikut terbebani.


"Kapan kamu bertemu lelaki jahat itu Bell?"


"Dia sering datang ke sekolah."


"Itu kenapa aku merasa aneh dengan beasiswa mu yang di cabut tiba-tiba." Sahut Erin menimpali.


"Dia berusaha menekanku agar aku meninggalkan Kak Daniel." jawab Bella lemah.


"Kenapa jadi serumit ini ya Bell. Jahat sekali orang itu."


"Ya memang jahat!! Dia fikir aku akan lemah hanya karena masalah itu." Tiba-tiba melintas sebuah rencana." Mau membolos bersama besok." Bella tersenyum tipis menatap kedua temannya secara bergantian.


"Mau kemana?"


"Sudah ikut saja. Aku tidak akan bisa fokus bersekolah jika belum membuat wajah lelaki itu menjadi lebam."


"Kau serius? Apa tidak takut?" Jawab Erin mengingatkan.


"Persetan dengan takut atau tidak! Aku hanya ingin memberi tanda mata untuk wajahnya agar perasaanku menjadi lebih baik." Erin dan Sari saling melihat seraya tersenyum aneh." Ahh kalian tidak setia kawan." Imbuh Bella dengan nada lemah.


"Iya iya besok bolos. Tapi aku tidak bisa memanjat." Jawab Sari terpaksa mengiyakan.


"Itu masalah gampang. Aku bantu." Erin semakin tersenyum aneh lalu menatap ke arah lantai dua yang terlihat masih mengerikan karena kotor.


"Lantai dua kelihatan kotor sekali ya Bell." Tanyanya pelan.


"Memang belum di bersihkan."


"Pasti ada..."


"Tidak ada hal seperti itu. Aku tidak pernah menjumpai hal yang ganjil di sini." Jawab Bella yang memang tidak pernah menjumpai hal ganjil meski rumah tua itu terlihat seram.


"Lalu lantai dua?"


"Kata Kak Daniel terlalu kotor jadi dia malas membersihkannya dan lagi, aku hanya tinggal berdua saja jadi, tempat ini sudah cukup." Erin dan Sari tersenyum seraya masih sesekali melihat ke lantai dua." Aku tadi bertemu Bu Dina." Imbuh Bella membuat Erin dan Sari langsung antusias.


"Wah terus?"


"Ya begitu. Ada perdebatan, tapi aku tidak serius menanggapinya. Selain dia orang tua, tujuanku ke sana hanya untuk memberi peringatan."


"Aku bicara begitu juga karena kasihan padamu Bell. Kata Mama, Bu Dina itu keterlaluan kalau membicarakan kamu."


"Sebentar lagi anaknya juga akan hamil!!" Erin dan Sari terkekeh. Mereka bertiga kerapkali menjumpai anak Bu Dina berpacaran dengan cara tidak sehat.


"Nyumpahin kamu Bell?"


"Bukan nyumpahin, tapi itu ucapannya sendiri yang berbalik ke arahnya!!" Erin dan Sari mengangguk setuju. Ketiganya pun berbincang akrab. Sejak Bella menikah, mereka sudah jarang punya waktu mengobrol bertiga seperti sekarang. Sementara Daniel sendiri, tengah melihat fokus ke arah mesin miliknya yang sudah hangus terbakar. Temboknya bahkan runtuh karena ledakan yang terjadi beberapa kali. Lucas yang merasa sangat bersalah, hanya tertunduk lesu di samping Daniel.


"Nanti. Kamu tinggal saja denganku." Ucap Daniel lirih. Hatinya yang begitu lapang membuatnya tidak menyalahkan Lucas atas semua yang terjadi.


"Biar aku kembali membantu Pak Salim saja Tuan."


"Lalu siapa yang membantuku?" Lucas menatap lemah ke arah Daniel.


"Tidak ada yang bisa ku kerjakan di sini Tuan."


"Hm memang. Aku memutuskan untuk mencari perkerjaan saja."


"Terus untuk apa saya tetap tinggal?"


"Agar Bella tidak curiga." Daniel membalas tatapan Lucas dengan sorot mata penuh rasa putus asa.


"Kenapa tidak bercerita saja Tuan?"


"Aku tidak ingin membebaninya."


Aku semakin merasa bersalah. Bukankah seharusnya perusahaan itu sudah sanggup menghasilkan jika aku tidak teledor dan menghancurkan semuanya...


*****************


Bu Dina dan beberapa Ibu-ibu mendatangi rumah Pak Ahmad. Karena kejadian tadi pagi, Bu Dina menjadi sangat emosi dan memprovokasi Ibu-ibu agar Bella di usir dari kampung itu.


"Ini sebenarnya ada apa ibu-ibu?" Tanya Pak Ahmad di temani oleh istrinya.


"Kampung kita bisa kena sial kalau Bella masih tinggal di sini Pak." Seolah sudah tahu, Pak Ahmad saling melihat satu sama lain.


"Jadi ketua RT itu yang tegas donk Pak. Masak ada warganya melakukan hal tidak benar di diamkan saja sih?"


Waduh.. Saya harus bilang apa pada warga...


"Bella gadis baik-baik Ibu-ibu, tidak mungkin dia berbuat macam-macam." Sahut Bu RT. Dia sudah mengetahui jika Daniel dan Bella syah sebagai pasangan suami-istri.


"Ah Bu RT dari kemarin belain Bella terus! Sebaik-baiknya orang, kalau sudah terkena bujuk rayu setan bakal lupa diri!!"


"Ibu-Ibu tidak kasihan dengan Bella? Dia tinggal sendiri loh Ibu. Kalau ada Pak Daniel, paling tidak ada tempat untuk bernaung." Bu RT masih berusaha membuat emosi ibu-ibu meredah.


"Kami kasihan! Tapi ya, harus jaga sopan santun juga!!"


Letak rumah Pak Ahmad yang cukup dekat dengan rumah Daniel, membuat Bella dan kedua temannya mendengar kericuhan mengingat pintu rumah terbuka lebar.


"Iya pokoknya Bella harus di usir kalau tidak. Suruh dia mengontrak rumah sendiri." Erin menatap ke arah Bella begitupun Sari.


"Kasihan Pak RT Bell." Gumam Erin membaca raut wajah binggung Pak RT.


"Kak Bastian juga kasihan."

__ADS_1


Bella berjalan masuk, untuk mengambil buku nikahnya dan ingin membeberkan rahasia yang di tutupinya selama ini. Rasanya, itu jalan satu-satunya sebab dia tidak ingin membuat Bastian ikut tercoreng nama baiknya.


"Hei, kau mau apa?" Cegah Erin saat melihat surat nikah di genggaman tangannya.


"Mengakhiri semuanya. Jika mungkin aku yang di pandang buruk, itu tidak masalah. Tapi jika Kak Bas.."


"Kau yakin? Kau bisa di keluarkan dari sekolah jika ketahuan sudah menikah." Sahut Sari menimpali.


"Menjadi seorang Mama, tidak membutuhkan ijazah tinggi." Bella tersenyum simpul lalu melanjutkan langkahnya di ikuti oleh Erin dan Sari yang masih merasa binggung dengan jawaban Bella.


"Nah ini dia biang keladinya!!" Ucap Bu Dina saat melihat Bella berdiri di belakang kerumunan.


"Kamu harus kontrak rumah sendiri atau pergi dari sini Bell." Sahut lainnya.


"Berarti Ibu-ibu juga harus melakukan hal yang sama." Jawab Bella santai. Dia sama sekali tidak takut melihat Ibu-ibu yang tengah menatapnya tajam.


"Maksud kamu apa." Bella menunjukkan dua buah buku nikah. Miliknya dan milik Daniel.


"Kak Daniel suamiku, bagaimana kalian tidak memperbolehkanku tinggal bersamanya?" Ibu-ibu itu saling melihat dan bergumam. Bu Dina yang merasa tidak percaya, langsung meraih buku nikah tersebut dan melihatnya.


"Bisa saja ini palsu! Sekarang kan banyak pemalsuan surat nikah seperti ini." Ucap Bu Dina berusaha menghasut.


"Itu bukan palsu. Saya saksinya." Sahut Pak Ahmad menimpali." Ada beberapa warga yang tahu jika Nak Bella sudah menikah. Tujuannya menutupi pernikahan ini adalah, karena Nak Bella merasa malu dan tidak ingin pihak sekolah tahu." Sesuai janji, Pak Ahmad baru mampu berbicara saat Bella sudah mengakui pernikahannya sendiri.


"Wah kok begitu Pak. Kenapa harus malu daripada mengundang kericuhan seperti sekarang." Bu Dina hanya bungkam saat mengetahui fakta jika Bella adalah istri Syah Daniel.


"Saya masih kecil Bu, jadi saya malu." Jawab Bella tegas.


"Tapi kami jadi mikir macam-macam Nak Bell."


"Sebenarnya saya tidak masalah di bicarakan macam-macam, tapi pembicaraan ini sudah membawa nama baik Kakak saya jadi saya terpaksa bicara jujur."


"Sudah jelas kan semuanya? Saya sebagai ketua RT meminta pengertian dari para warga untuk merahasiakan pernikahan ini, paling tidak sampai Bella lulus SMA." Ibu-ibu mengangguk-angguk seraya tersenyum lega.


"Siap Pak RT, itu masalah gampang." Kerena merasa kalah, Bu Dina memberikan surat nikah pada Bella lalu pergi begitu saja.


"Syukurlah jika begitu, semuanya saya harap bubar."


"Maaf ya Nak bell." Beberapa dari mereka meminta maaf sementara beberapa yang lain pergi begitu saja.


"Akhirnya Nak Bella mau jujur juga." Ucap Bu RT tersenyum hangat.


"Maaf ya Pak Bu sudah merepotkan."


"Tidak apa-apa Nak Bell." Jawab Bu RT ramah.


Bersamaan dengan itu, mobil Daniel terparkir di depan rumah. Bella yang melihat itu, langsung beranjak pulang setelah berpamitan dengan Pak Ahmad dan istrinya.


"Syukurlah, sudah selesai Bell." Gumam Sari ikut merasa senang.


"Kenapa tidak dari dulu saja."


"Biang keroknya tidak berkomentar dan langsung kabur." Erin dan Sari tertawa begitupun Bella.


"Seru sekali? Apa yang terjadi." Tanya Daniel ikut tersenyum meskipun dia tidak tahu tentang apa yang di tertawakan ketiganya.


"Habis nonton drama kolosal Kak." Tanpa sungkan, Bella meraih jemari Daniel dan menggenggamnya.


Ada rasa rindu, membuat Bella tidak sengaja menunjukkan sikap manjanya dan melupakan kedua temannya yang malah merasa sungkan.


"Em kita permisi ya Bell, Kak Daniel sudah datang." Ucap Erin pelan.


"Kita lanjutkan." Jawab Bella namun, genggaman tangannya tidak juga terlepas.


Aku tidak ingin membuat hati Bella kembali buruk..


"Kita sudah ada janji. Bukan begitu Sar."


"Iya. Em Minggu depan kita main lagi. Bye Kak Daniel, sampai jumpa besok Bella."


"Hati-hati ya." Erin dan Sari melambai kemudian melangkah pergi." Kaku sekali Kak." Protes Bella seraya mendongak.


"Bukankah kamu berkata, tidak boleh terlalu ramah." Bella menarik nafas panjang mengingat larangannya sendiri.


"Memiliki sebuah hubungan ternyata membingungkan." Keduanya beriringan masuk ke dalam.


"Bingung kenapa sayang?"


"Cemburu tapi kalau Kak Daniel kaku seperti tadi, malah terlihat aneh Kak." Tutur Bella bergumam.


"Terus bagaimana?"


"Entahlah Kak, bingung juga." Daniel menutup pintu lalu berjalan menuju ruang tengah.


"Tidak masalah jika aneh, asalkan kamu tidak marah sayang." Ada tarikan nafas berat, ketika Daniel menyandarkan punggungnya di sofa.


Bella yang melihat itu, semakin merasa kasihan melihat wajah lelah Daniel sekarang.


"Kenapa sih Kak." Protes Bella membuat Daniel menegakkan posisi duduknya dan menatap Bella.


Bella sendiri, berharap Daniel bisa jujur dengan masalah yang terjadi. Tapi nyatanya, dia masih menutupi semuanya dengan sebuah senyuman hangat.


"Di gudang panas sekali tadi." Genggamannya tangannya di eratkan lalu mengecup punggung tangan Bella sebentar dan menurunkannya lagi.


Iya karena habis terbakar jadi panas! Kak Daniel kenapa tidak jujur saja sih?


"Mau ku belikan es jus?" Ucap Bella menawari.


"Memangnya ada yang jual?"


"Ada Kak, biar sekalian aku membeli ikan untuk makan siang."

__ADS_1


"Tidak sayang. Sudah ku katakan jika tidak perlu berbelanja dulu apalagi setelah kejadian tadi." Daniel merasa kasihan, jika Bella harus mendengar gunjingan tetangganya.


"Kita bebas sekarang Kak. Em.. Aku sudah mengakui pada semua orang tentang pernikahan kita." Jawab Bella lirih.


"Benarkah?" Bella mengangguk seraya tersenyum." Bagaimana jika pihak sekolah sampai tahu sayang." Daniel merasa senang tapi dia juga takut jika pihak sekolah sampai tahu.


"Pak Ahmad sudah berkata pada orang-orang untuk tutup mulut sampai aku lulus sekolah."


"Meski begitu, kamu harus tetap berhati-hati. Aku ingin kamu lulus SMA dengan baik sayang."


"Iya Kak. Kalau begitu, aku akan berbelanja untuk makan siang nanti." Daniel berbaring dan menarik tubuh Bella ikut bersamanya.


"Tidak. Ini kan hari Minggu. Kamu harus beristirahat, dan bermalas-malasan." Kedua tangan Daniel merengkuh tubuh kecil Bella seraya memejamkan matanya.


Bella mencari posisi nyaman dan terdiam, membiarkan tubuh Daniel mendekapnya erat meski jantungnya mulai berdetak tidak beraturan.


Aku semakin ingin mengacak-acak wajah lelaki sialan itu!! Umpat Bella dalam hati. Dia juga ikut merasakan keputusasaan yang di rasakan Daniel sekarang.


Tok...Tok...Tok...


Daniel membuka matanya dan merenggangkan dekapannya sehingga Bella bisa duduk.


"Mungkin Lucas sayang, biar aku buka." Daniel berdiri dengan malas, menuju ke arah pintu dan membukanya.


Cklek...


Daniel memasang wajah geram, melihat Kenan berdiri di balik pintu dengan beberapa bungkusan belanjaan.


"Kau?!!" Ucapnya di tekan karena kekesalan yang terjadi akibat kebakaran masih bersemayam.


"Aku datang dengan damai Kak." Jawab Kenan lembut. Obrolannya dengan Samuel semalam, membuatnya sadar jika cinta itu tidak harus memiliki.


"Sebaiknya kau pergi." Daniel akan menutup pintu tapi Samuel menghalangi.


"Dia bersamaku Kak." Sahut Samuel membuat tarikan nafas berat berhembus. Daniel tidak hanya harus menghadapi satu bocah SMA yang cukup tampan, melainkan dua.


"Aku sengaja tidak datang sendiri karena takut Kakak berfikir macam-macam tentangku. Aku benar-benar berniat baik dan memberikan sedikit bantuan untuk Bella." Tutur Kenan menimpali.


Bella yang terlalu lama menunggu, memutuskan untuk menyusul Daniel dan ikut memasang wajah tidak suka ketika melihat Samuel dan Kenan.


"Kalian?" Kenapa kalian ke sini?" Tanya Bella ketus.


"Kami ingin memberikan sedikit bantuan dan untuk meminta maaf atas sikapku selama ini." Jawab Kenan yang memang sudah sadar akan kesalahannya selama ini.


"Sudah ku katakan aku tidak butuh bantuan."


"Jika kamu tidak menerima ini, berarti kamu belum memaafkanku." Jawab Kenan dengan raut wajah memohon.


"Tidak ada yang bersalah. Jadi, tidak perlu ada yang harus di maafkan."


"Aku selalu menganggumu dan membuatmu kesal. Aku minta maaf untuk itu."


"Oh oke. Aku maafkan dan bawa pergi ini semua." Bella menunjuk ke beberapa kantung belanja yang di bawa Kenan dan Samuel.


Daniel terdiam, dia benci harus mengakui jika raut wajah penyesalan Kenan terlihat serius.


"Berarti kamu belum memaafkanku."


"Ini hanya makanan ringan dan minuman saja Bella. Kami tidak ada maksud merendahkan dan benar-benar tulus untuk meminta maaf." Sahut Samuel menimpali.


"Kalian berdua memang hobi memaksa ya." Protes Bella.


"Ku terima." Daniel meraih kantung belanja dari tangan Kenan. Bella mendongak tidak percaya menatap Daniel.


"Kak serius?" Tanya Bella memastikan. Dia ingin menolak karena tidak mau Daniel merasa tersinggung.


"Niat baik tidak boleh di tolak." Jawab Daniel tersenyum hangat." Tapi ingat. Setelah ini, jangan menganggunya lagi." Tatapan tajam masih Daniel sunguhkan meski bibirnya tersenyum tipis.


"Iya Kak. Saya tidak akan menganggu Bella dengan berlebihan lagi."


"Bagus jika begitu."


"Kita permisi ya Kak, Bella. Maaf sudah menganggu." Samuel dan Kenan tersenyum kemudian melangkah pergi.


"Kenapa di terima Kak." Tanya Bella masih melihat ke arah Kenan dan Samuel dari belakang.


"Dia menyesal sayang." Daniel merangkul pundak Bella dan mengiringinya masuk sementara Kenan sendiri merasa begitu sakit melihat kebersamaan antara Bella dan Daniel.


"Cinta pertama yang buruk. Bagaimana mungkin wajah setampan diriku di tolak mentah-mentah selama tiga tahun." Samuel tersenyum tipis seraya menepuk-nepuk pundak Kenan lembut.


"Belum jodoh. Ku dengar ada adik kelas yang menyukaimu."


"Ah! Gadis murahan itu!!"


"Maksudmu apa?"


"Dia menyatakan cinta duluan padaku. Bukankah itu murahan?"


"Itu hal yang biasa Ken."


"Itu murahan dan aku tidak menyukainya. Aku akan terus menjomblo hingga pengganti Bella sudah ku dapatkan." Kenan membuka pintu mobil dan masuk, di ikuti oleh Samuel.


~Riane....


Maaf kemarin tidak update dan ini part-nya agak pendek terus aneh😩


Selain sibuk, dari kemarin aku lagi malas gerakin tangan buat ngetik.


Semoga nanti suasana hatiku membaik..


Terimakasih dukungannya 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2