
Di rumah milik Daniel yang sudah berganti alih menjadi rumah Marko, seseorang berjaket hitam menerobos masuk setelah mendapatkan izin dari satpam depan.
Marko yang kebetulan akan keluar, langsung menghampiri lelaki yang ternyata orang suruhannya.
"Sudah beres Tuan." Lelaki itu memperlihatkan video rumah Bella yang terbakar.
Marko tersenyum, sebab tenyata dia sengaja membakar rumah Bella untuk menjadikannya bahan ancaman agar Bella mau menerima bantuannya.
"Bagus sekali. Sudah kau pastikan jika semuanya hangus tidak tersisa?"
"Sudah Tuan." Marko mengeluarkan amplop coklat dan memberikannya pada si lelaki.
"Pergilah ke luar kota. Aku tidak ingin ada yang mengendus perbuatan ini." Si lelaki mengangguk dan segera pergi dari halaman luas rumah Marko. Hahahaha... Setelah ini, aku akan hadir menjadi pahlawan agar dia merasa berhutang budi dan bisa membayar itu semua dengan berkerja di sini seumur hidup. Aku tidak akan membiarkan perusahaan manapun memilikinya...
Kejahatan yang sama juga sudah di lakukan Marko pada Daniel. Berpura-pura baik dan patuh, tapi nyatanya Marko merenggut semuanya secara perlahan tapi pasti. Semua kekayaan Daniel dari rumah, properti dan perusahaan kini beralih menjadi atas miliknya.
************
Bella hanya bisa menatap terpaku rumah peninggalan orang tuanya yang sudah habis terbakar tidak tersisa. Sementara Daniel dan Lucas, tengah memeriksa jika mungkin masih ada barang yang masih bisa di selamatkan.
"Apa ATMnya bisa di selamatkan Kak?" Tanya Bella lirih.
"Semua sudah hangus tidak tersisa sayang.."
"Bagaimana ini.." Gumam Bella dengan mata berkaca-kaca. Memikirkan bagaimana jadinya kehidupan kedepannya mengingat Daniel masih berusaha bangkit dari keterpurukannya.
"Apa Nak Bella tadi memasak waktu akan pergi?" Tanya salah satu tetangga.
"Tidak Pak."
"Pakai LPJ?" Tanyanya lagi.
"Iya Pak."
"Tadi ada bau minyak."
"Sepertinya bensin." Sahut yang lainnya.
"Sebaiknya laporkan polisi saja Nak. Apinya itu cepat sekali membesar seperti ada sesuatu yang mudah terbakar di dalam." Bella menatap lemah ke Daniel dan Daniel membalasnya dengan senyuman hangat.
"Untung saja sudah menikah." Bella melebarkan matanya ke arah si tetangga yang sempat menjadi saksi.
"Pak bukankah.."
"Oh iya astaga.. Kelepasan Nak Bell, maafkan Bapak." Bella tersenyum meskipun dia merasa kesal. Sebelum meminta para tetangganya menjadi saksi, Daniel sudah menyiapkan dana lebih agar ketiga saksi mau tutup mulut.
"Lain kali hati-hati Pak." Tutur Daniel ramah.
"Iya Nak Daniel. Maaf, maklum sudah tua." Daniel tersenyum dan menggiring Bella berjalan ke rumah tua miliknya.
"Mereka sudah tua sayang, jadi pelupa."
"Hm iya Kak." Jawab Bella pelan.
"Tenang saja. Aku akan mencari pinjaman untuk merenovasi rumah agar kamu bisa betah dan merasa nyaman." Bella menghentikan langkahnya begitupun Daniel.
"Fokus ke perusahaan saja Kak."
"Aku takut kamu tidak betah."
"Daripada berhutang." Bella melanjutkan langkahnya dan mulai memasuki rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya.
__ADS_1
"Aku bisa membayarnya ketika perusahaanku sudah beroperasi."
"Tidak Kak." Tolak Bella." Lama-lama aku akan terbiasa." Daniel menarik nafas panjang karena merasa jika dirinya sangat payah.
"Maaf sayang." Lucas masuk dengan membawa barang belanjaan dan meletakkannya di atas meja.
"Tidak apa Kak. Oh iya, aku lupa tidak membelikan ayam krispi untuk Kak Lucas."
"Saya sudah makan Nona." Bella merasa aneh dengan panggilan Lucas padanya.
"Kemarin kau panggil aku dengan nama saja. Rasanya itu terdengar lebih baik daripada Nona." Lucas tersenyum mendengar protesan Bella.
"Sekarang Nona istri Tuanku jadi sudah seharusnya saya menghormati Nona. Em ini tagihan untuk pembayaran mesin besok Tuan." Lucas menyodorkan beberapa lembar kertas.
Bella melirik dan memperhatikan nominal tiga milyar hanya untuk pembelian beberapa mesin.
Ilmu Kak Bastian benar-benar bermanfaat.. Sepertinya aku harus berhemat setelah ini. Aku tidak mau menyulitkan Kak Daniel karena kebutuhanku... Bella menarik nafas panjang dan fokus menatap lembaran yang di bawa Daniel. Hingga tanpa sadar, Daniel tengah memperhatikannya.
Daniel meletakkan kertas tersebut karena tidak ingin Bella merasa terbebani dengan urusannya. Tangannya meraih satu kotak ayam krispi lalu membukanya.
"Katanya lapar, kenapa tidak di makan?" Ucap Daniel membuyarkan lamunan Bella." Pasti ingin ku suapi." Goda Daniel mengambil secuil ayam krispi dan menyodorkannya pada mulut Bella.
"Eh tidak Kak, biar ku makan." Daniel menjauhkan kotak ayam krispi, ketika Bella akan mengambilnya. Dia memberikan isyarat pada Lucas untuk membereskan kertas yang ada di meja.
"Saya mau istirahat dulu Tuan, Nona." Sesuai permintaan, Lucas mengambil kertas tersebut dan membawanya masuk.
"Biar aku makan sendiri." Gumam Bella mengunyah suapan dari Daniel tadi.
"Sudahlah sayang." Tolak Daniel kembali menyuapi Bella." Di sini ada tiga kamar tapi yang sudah di bersihkan hanya dua. Untuk sementara, kamu tidur di kamarku biar besok kamar satunya ku bersihkan. Aku akan tidur bersama Lucas nanti." Bella menelan makanannya cepat seraya memperhatikan sekitar yang terlihat menyeramkan. Tembok berjamur dengan barang-barang tua yang ada di sana dan udara yang dingin menusuk sebagai penyempurna.
"Tidur sendiri?" Tanya Bella mengulang.
"Iya sayang. Di sana tidak ada sofa jadi, tidak mungkin bisa tidur terpisah." Mata bulat Bella menatap Daniel yang tepat berada di hadapannya dengan sendok yang penuh dengan makanan.
"Sudah kenyang?" Tanya Daniel tersenyum.
Bella membuka mulutnya lagi namun wajahnya masih terlihat menegang.
Meskipun Kak Daniel bilang tidak ada apa-apa, tapi jika tidur sendiri di tempat ini.. Bella menelan makanannya kasar tapi tidak menceritakan kekhawatirannya. Dan jika tidur dalam satu ruangan... Astaga Tuhan, aku tidak pernah membayangkan ini terjadi begitu cepat. Baru kemarin aku masih gadis dan sekarang harus menikah dengan orang yang baru saja ku kenal...
Cup..
Mata Bella semakin membulat, dia terkejut dengan ciuman hangat yang di berikan Daniel untuk ketiga kalinya.
"Kak ish!" Runtuk Bella mendorong wajah Daniel lembut.
"Memikirkan apa?" Daniel kembali memperlihatkan senyum khas dengan mata sipitnya.
"Tidak." Jawab Bella begitu lirih hingga tidak terdengar." Em, boleh pinjam ponsel Kak." Imbuh Bella bertanya.
"Tentu saja. Besok ku belikan yang baru." Daniel mengambil ponsel dan memberikannya pada Bella.
"Tidak perlu." Tolak Bella. Dia merasa jika ponsel tidak seberapa penting untuknya.
"Kenapa tidak? Jika tidak memiliki ponsel, bagaimana kamu bisa menghubungi temanmu."
"Biar mereka ke sini."
"Lalu, sekarang ingin menghubungi siapa?" Tanya Daniel ingin tahu.
"Sari."
__ADS_1
"Ada keperluan?"
"Untuk meminjam baju." Daniel baru sadar jika semua baju Bella juga ikut terbakar.
"Untuk sementara kamu memakai bajuku dulu, besok sepulang sekolah kita beli."
"Seragam juga.." Ucap Bella dengan nada bicara yang semakin membuat Daniel merasa gemas.
"Besok aku kan ke sekolah, jadi sekalian membeli seragam."
"Bajumu sudah pasti besar. Apa aku sekolah memakai baju itu?" Daniel tersenyum karena membenarkan ucapan Bella.
Tiba-tiba, Bella mendengar teriakan Erin dan Sari tengah memanggilnya. Dia meletakan ponsel Daniel lalu bergegas keluar untuk menemui Sari dan Erin yang sudah berdiri di pintu pagar rumah Daniel.
Aku harus berbohong lagi.. Batin Bella seraya berjalan untuk membuka pintu pagar.
"Aku yakin kamu akan di sini." Erin memeluk Bella erat sementara Sari mengusap punggungnya lembut.
"Kita tadi berjalan-jalan sebentar dan baru mendengar kabar ini dari para tetangga." Sahut Sari menjelaskan.
"Ah sudahlah." Bella mendorong tubuh Erin lembut." Semua sudah habis tidak tersisa." Imbuh Bella lemah.
"Kenapa bicara di sana. Mari masuk." Sapa Daniel sudah berdiri di ambang pintu.
"Mau masuk?" Tawar Bella. Erin dan Sari saling melihat seraya tersenyum aneh. Mereka masih takut jika harus masuk ke dalam rumah tua milik Daniel.
"Kita hanya sebentar Kak." Tutur Erin setengah berteriak.
"Hm ya sudah." Daniel tersenyum kemudian masuk kembali.
"Kita memiliki tabungan agar kamu bisa menyewa tempat tinggal."
"Uang darimu masih utuh Bell." Ucap Sari menimpali.
"Aku tinggal di sini saja. Em aku sudah mendapatkan izin dari ketua RT. Jadi tidak apa, daripada harus membayar sewa." Jawab Bella beralasan.
"Serius kamu tidak takut Bella? Meskipun Kak Daniel mempesona tapi rumah ini terlihat angker." Bella menelan salivanya kasar, karena lagi lagi temannya membuatnya berfikiran macam-macam soal rumah Daniel.
"Aku tidak memiliki uang."
"Kita ada Bell."
Dia suamiku dan sudah seharusnya aku tinggal bersamanya..
"Simpan saja."
"Hm ya sudah." Sari memberikan sebuah bungkusan dan Bella menerimanya.
"Apa ini?"
"Seragam untuk besok. Em hanya seragam itu yang bisa ku berikan." Bella tersenyum seraya membuka seragam itu dengan cepat.
"Astaga.. Terimakasih."
"Sama-sama Bell."
"Dan ini, beberapa baju untuk ganti. Ini sudah yang paling bagus meski mungkin terlihat lusuh untukmu." Bella menyambar cepat pemberian Erin.
"Tidak. Ini bagus. Kalian memang terbaik." Bella merangkul kedua temannya erat.
"Ya sudah Bell, kita pergi ya." Bella melepaskan pelukan seraya tersenyum. Bantuan sederhana itu sudah sangat membantunya.
__ADS_1
"Hm iya.." Erin dan Sari mencium pipi Bella sejenak, sebelum pergi pulang karena hari mulai petang.
~Riane