Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 43


__ADS_3

"Maaf lama, aku kesulitan menemukan lokasinya. Tidak ku sangka orang sesukses Bastian tinggal di pinggiran kota seperti ini." Ucap Lisa dengan tatapan nakalnya ke arah Daniel.


Bella menyadari tatapan mata Lisa yang menjijikkan. Bella merasa menyesal, karena sesuai tebakan jika Lisa memang berusaha merayu Daniel.


"Ku antar ke pusaran Kak Bastian langsung." Bella meraih lengan Lisa dan berusaha mengiringinya untuk menuruni anak tangga namun Lisa tidak mau bergerak.


"Ini sudah terlalu sore Bell. Bukankah di kuburan terlihat menakutkan."


"Masih ada sinar matahari Kak, jadi tidak perlu takut." Jawab Bella asal. Padahal dia sendiri tidak pernah tahu bagaimana rasanya ada di pemakaman waktu sore hari.


"Meski begitu aku takut. Bagaimana jika Dimas ikut." Daniel terkekeh dalam hati. Dia tahu Bella berusaha mencegahnya untuk ikut.


"Kita berdua saja Kak. Aku berani." Tolak Bella cepat.


"Ini sudah sore Bella dan pasti setibanya di pemakaman mataharinya sudah tenggelam."


"Aku tahu ini sudah sore sebab Kak Lisa ke sini waktu sore. Jika siang tadi Kak Lisa ke sini, mungkin tidak akan terlalu malam untuk ke pemakaman." Jawab Bella mulai kesal. Sikapnya yang cenderung tegas selalu saja bisa mengambil langkah seperti sekarang.


"Aku kan kerja."


"Ya sudah. Datang waktu libur saja. Sekarang Kak Lisa pulang, nanti matahari akan menghilang jika Kak Lisa tidak cepat pulang." Lisa mengerutkan keningnya melihat perubahan sikap dan ucapan Bella padanya.


Daniel begitu senang, karena sesuai perkiraannya, Bella tersulut api cemburu ketika melihat sikap Lisa sekarang. Apalagi Lisa begitu cantik dengan riasan dan seragam minimnya.


"Kamu bisa saja Bella. Selain kamu cantik, kamu juga suka bercanda."


"Aku tidak sedang bercanda Kak. Jika tidak ingin ku antar sekarang, sebaiknya Kak Lisa pulang. Tidak perlu mencari alasan untuk bisa mendekati Kak Dimas." Jawab Bella tegas.


Gleg...


Lisa menelan salivanya kasar. Tujuan utamanya begitu cepat terbongkar namun bukan Lisa namanya jika menyerah begitu saja.


"Hehe wajar saja Bell. Em Dimas tampan dan aku suka." Bella menatap tajam ke arah Daniel yang tidak bergeming sejak tadi. Lalu beralih menatap Lisa yang terus-menerus menatap Daniel dan berusaha menggodanya.


"Dia tidak suka wanita, sebaiknya Kak Lisa pergi." Bella menarik tangan Lisa kasar dan memaksanya untuk turun. Postur tubuh yang berbeda tidak membuat Lisa bisa bertahan. Meski tubuh Bella kecil, dia sudah terlatih untuk menjaga diri sementara Lisa hanya mampu bersolek.


"Tidak suka wanita?" Lisa masih menatap Daniel yang sejak tadi diam dan menonton.


Kak Daniel hanya boleh menyukai ku..


"Iya." Bella membuka pintu mobil Lisa dan memaksanya masuk." Pulang Kak. Jangan pernah datang ke sini lagi dan mengunakan pusaran Kak Bastian sebagai alasan!" Imbuh Bella ketus.


"Aku memang pacar Kakakmu."


"Kakakku tidak pernah punya pacar! Aku tahu itu."


"Tidak masalah jika memang Dimas tidak menyukai wanita. Aku akan membuatkannya suka." Jawab Lisa memaksa.


Braaaakkkkk!!!


Bella menutup pintu mobil Lisa kasar hingga membuat Lisa berjingkat.


"Pergi!" Pinta Bella setengah berteriak.


"Aneh sekali."


"Terserah jika kau bilang aku aneh. Pergi dari sini atau ku panggil orang kampung untuk memaksamu pergi." Ancam Bella tegas.


Lisa memasang wajah masam namun saat menatap Dimas, dia kembali tersenyum.


Braaaakkkkk!!!


Bella mengebrak kaca mobil Lisa sehingga membuat Lisa cepat-cepat memundurkan mobilnya dan melaju pergi.


Bella menghampiri Daniel dengan wajah masam seraya berdiri menatap tajam.


"Suka ya!" Tanyanya ketus.


"Suka apa?" Jawab Daniel santai.


"Suka mendengar kenyataan jika Kak Lisa menyukaimu."


"Aku sudah berusaha memperingatkan itu sayang." Daniel merasa tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat kemarahan Bella yang di tunjukkan sekarang.


"Kapan Kak."


"Kita masuk." Daniel merangkul pundak Bella dan mengiringinya masuk.


"Jangan menyentuhku.." Bella melepaskan diri dari rangkulan Daniel dan berdiri seraya melihat Daniel yang tengah mengunci pintu rumah.


"Sudah ku katakan jika Lisa berpura-pura baik tapi kamu tidak percaya."


"Aku juga tidak percaya padamu. Kau pasti suka kan dengan wanita dewasa seperti Kak Lisa." Daniel hanya diam, tersenyum, menatap fokus Bella yang tengah memasang wajah kesal." Diam berarti iya." Imbuh Bella memalingkan wajahnya.


"Hm aku suka.." Bella melebarkan matanya mendengar itu.


"Suka dengan Kak Lisa?" Tanya Bella meninggikan suaranya.


"Menurutmu bagaimana?" Jawab Daniel menggoda.


"Tidak boleh Kak. Kau tidak boleh suka dengan Kak Lisa. Kau sudah punya aku." Daniel mengangguk-angguk tanpa membalas ucapan Bella." Kak Daniel." Panggil Bella lagi.


"Apa hm katakan."


"Apa Kak Daniel menggerjaiku seperti tadi."


"Sebaiknya kita mandi, ini sudah terlalu malam." Jawab Daniel semakin membuat Bella mengira jika Daniel menyukai Lisa.


"Tidak. Tunggu dulu." Bella berdiri untuk menghalangi langkah Daniel.


"Apa yang harus aku tunggu."


Sejak dulu Daniel memang ramah namun jahil. Bella belum memahaminya sebab dia baru mengenal Daniel dua Minggu yang lalu.


"Ini belum selesai." Jawab Bella lirih.


"Selesaikan jika kamu menganggap begitu."


"Jangan seperti itu Kak."


"Seperti apa?" Tanya Daniel lembut.


"Sikap Kak Daniel kenapa plin-plan sih."


Kedua tangan Bella perlahan terangkat dan melingkarkannya erat pada perut Daniel.


"Plin-plan seperti apa maksudmu?" Daniel dengan cepat membalas pelukan itu dan mengakhiri kejahilannya sekarang. Rasanya sungguh tidak tega jika harus melihat mata Bella yang mulai berkaca-kaca.


"Kata Kak Daniel menyukaiku tapi kenapa menggoda Kak Lisa seperti tadi." Suara Bella terdengar tengah menahan tangis.


"Aku tidak pernah menggoda siapapun." Daniel mengeratkan pelukannya sehingga jantung keduanya sama-sama berpacu.


"Kak Daniel genit sekali tadi."


Bugh!


Bella merenggangkan pelukannya dan memukul dada bidang Daniel lembut.

__ADS_1


"Hehe.. Seumur hidup aku tidak pernah genit pada siapapun." Daniel mengusap lembut sudut mata Bella yang mulai berair.


"Buktinya tadi."


"Ternyata menyenangkan sekali melihatmu cemburu."


"Kak Lisa cantik, sudah pasti aku cemburu. Mana ponselmu Kak."


"Untuk apa?" Tanpa berprotes Daniel memberikan ponselnya pada Bella


"Memblokir kontak Kak Lisa." Setelah memblokir nomer Lisa, Bella memberikan ponselnya lagi.


"Kita mandi. Ini sudah akan petang." Bella mengangguk pelan dan ingin melupakan kejadian tadi meski mungkin tidak mudah.


"Apa ini cukup kuat Kak." Bella menumpukan kakinya di atas kaki Daniel." Berjalanlah, jika sakit bilang." Pinta Bella masih bergelayut. Dia ingin melupakan kekesalannya atas kejadian tadi.


"Tentu saja kuat." Daniel menunduk lalu mengecup bibir Bella sejenak dan mulai berjalan.


"Ish! Cium lagi." Protes Bella namun dia suka.


"Iya nanti ku cium lagi."


"Bukan itu maksudku."


"Lalu bagaimana?"


"Ahh terserah Kak. Cium lagi tidak apa, asal jangan mencium Kak Lisa."


"Oke deal. Setelah mandi kamu harus menciumku." Daniel membuka pintu kamar mandi untuk mempersilahkan Bella mandi duluan.


Bella menarik nafas panjang mendengar permintaan sederhana Daniel yang langsung mengoyak pertahanan hatinya.


"Iya akan ku lakukan. Tunggu ya Kak." Bella masuk kamar mandi dan menutup pintunya meski tidak sempurna.


"Serius sayang?" Tanya Daniel setengah berteriak.


"Iya serius." Jawab Bella dari dalam kamar mandi sementara Daniel berdiri di depannya dengan posisi memunggungi pintu.


"Lalu, kapan kita akan mandi bersama."


"Aku tidak mau kalau itu."


"Kenapa tidak? Untuk mempersingkat waktu agar tidak saling menunggu."


"Tidak mau!!" Jawab Bella ketus.


"Iya iya hehe."


Setelah Bella selesai mandi, kini tiba giliran Daniel untuk mandi dengan formasi sama.


"Kak jangan lama-lama, aku takut." Bella selalu saja berkata demikian ketika sedang berjaga di luar kamar mandi.


"Jika takut masuk saja."


"Tidak mau! Semakin hari, Kak Daniel semakin nakal saja."


"Apa tidak terbalik sayang. Aku tidak nakal, aku hanya mengucapkan penawaran." Bella tersenyum, dia mengingat saat beberapa kali dia lupa diri ketika keduanya berciuman sedikit lama.


"Kak cepat.. Aku takut.." Ucap Bella untuk kesekian kalinya.


"Iya ini sudah." Bella menoleh dan melongok melihat Daniel keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada. Rambutnya bahkan masih basah dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Kenapa tidak pakai baju sih?" Protes Bella memalingkan wajahnya.


"Aku lupa membawa baju ganti sayang. Sekarang aku sudah siap."


"Kata kamu akan menciumku?"


"Pakai baju dulu Kak." Daniel terkekeh dan Bella tersenyum tanpa sepengetahuan Daniel.


"Kenapa begitu sih. Ini suamimu loh, kalau berpacaran itu tidak masalah melihat hal yang seperti ini. Paling tidak, belajar terbiasa." Daniel merangkul kedua pundak Bella dan mengiringinya ke kamar.


"Kak Bas saja tidak pernah melakukan itu."


"Aku juga baru sekali." Jawab Daniel santai.


"Lalu untuk apa melakukan itu? Bukankah bisa memakai baju lama lalu berganti di kamar."


"Agar kamu terbiasa melihatnya." Daniel menutup pintu kamar." Ambilkan baju untukku." Tanpa banyak berprotes Bella berjalan ke lemari dan mengambil kaos juga celana." Jangan lupa yang dalam juga sayang." Imbuh Daniel mengingatkan.


Dengan ragu, Bella mengambil celana yang di minta Daniel lalu menjadikannya satu bersama baju dan celana pendek.


"Nih Kak." Bella meletakkan baju di atas tempat tidur.


"Pakaikan."


"Pakai sendiri Kak."


"Aku akan bahagia jika kamu memakaikannya." Bella menarik nafas panjang dan mengingat perkataan Daniel soal tugas istri.


"Kaos saja ya."


"Hm iya. Jika mau yang bawah juga tidak masalah."


"Aku tidak mau." Daniel meraih pergelangan tangan Bella cepat.


"Iya oke. Cepat."


"Hmm." Bella sedikit menunduk karena tidak ingin melihat roti sobek di hadapannya." Menunduk Kak." Pintanya pelan. Kulit tubuh yang saling bersentuhan membuat debaran jantung Bella semakin tidak terkendali.


Sesuai perintah Daniel menunduk, Bella memasukkan lubang kerah pada baju. Gerakkannya tertahan karena dengan cepat Daniel mengangkat dagu Bella dan menyuruhnya menatapnya.


"Apa ini Kak? Cepat pakai." Protes Bella berusaha berpaling namun Daniel tidak membiarkan itu. Tangannya dengan kuat menahan posisinya sekarang sehingga pandangan Bella fokus ke arahnya.


"Lakukan sekarang." Pinta Daniel lembut dengan senyum khasnya.


"Pakai baju dulu." Jawab Bella berusaha menghindari tatapan manik Daniel yang beberapa kali membuatnya lupa diri.


"Aku ingin kamu terbiasa. Meskipun kita tidak akan bersentuhan fisik secara berlebihan. Aku mohon, biasakanlah melihatku. Agar kita nyaman tinggal bersama tanpa ada rasa malu."


"Bagaimana bisa Kak, aku malu serius. Wajahku rasanya panas."


"Aku melihatnya sayang, itu sangat cantik. Well, lakukan janjimu."


"Pipi?"


"Not baby, but lips."


"Tutup mata."


"Hm Baby. I'm waiting..."


Bella menempelkan bibirnya lembut, sebab posisi Daniel masih menunduk.


"Lebih lama." Daniel menahan tengkuk Bella saat Bella akan menyudahinya.


Bella tidak berani menjawab ucapan Daniel karena dia selalu saja tidak membuka bibirnya langsung.

__ADS_1


"Jika tidak kamu buka, bagaimana kita menikmatinya." Pinta Daniel menghirup kuat aroma hidung Bella yang tengah menahan nafas.


"Yang penting ciuman." Bella dengan cepat menahan bibir Daniel dengan. tangan kanannya.


"Itu kecupan, bukan ciuman. Singkirkan ini.." Daniel menurunkan tangan Bella." Aku menunggu.." Imbuh Daniel menunggu Bella memulainya.


"Pakai baju dulu Kak." Mata Bella membulat dengan jantung berdebar.


"Ini menghalangi?"


"Hm iya, biar ku pakaikan..." Bukan memakainya. Daniel malah melepaskan kaos itu dan melemparkannya sembarangan sehingga tubuhnya kini terekspos bebas." Bu bukan di lepas maksudku.." Ucap Bella dengan suara bergetar.


"Jangan banyak beralasan sayang, leherku sedikit sakit jika kau suruh aku menunduk seperti ini terus. Mana janjimu." Bella masih tidak bergeming sehingga membuat Daniel mengangkat tubuh kecil Bella untuk memudahkannya menepati janjinya.


"Ini akan terjatuh Kak." Bisa-bisanya Bella menahan ikatan handuk yang melilit pinggang Daniel agar tidak terlepas.


Daniel terkekeh dan menganggap jika Bella terlalu banyak alasan.


"Menghindar saja terus agar ini tidak selesai. Lepaskan itu sekarang lalu cium aku dan ini akan selesai." Jawab Daniel sangat terhibur dengan wajah panik Bella.


"Ini akan terlepas dan itu akan semakin membuat mataku sakit." Ucap Bella dengan tangan kanan bergelayut pada pundak tegap Daniel, sementara tangan kirinya memegang ikatan handuk.


"Hm kita akan seperti ini semalaman."


Bella mengatur nafasnya, menatap wajah Daniel yang kini sejajar dengannya. Matanya membulat, dengan bibir setengah terbuka dan mulai menempelkannya pada bibir Daniel sementara tangan kirinya masih memegang ikatan handuk.


Daniel segera membalasnya, sehingga Bella kembali terbuai dengan cumbuan hangat dan deru nafas yang mulai di kenalnya.


Tanpa tekanan pada tengkuknya, Bella terus mendorong kepalanya dan menekan tengkuk Daniel, seolah ingin memberikan isyarat pada Daniel lewat bahasa tubuhnya.


Tangannya kirinya perlahan terlepas, untuk memperkuat tekanan pada tengkuk Daniel agar tidak menghentikan kegiatannya sekarang. Nafas Bella mulai memburu dengan kalungan yang semakin erat. Dia membuka bibirnya lebar untuk memudahkan Daniel memperdalam ciumannya.


Drrrrrtttt... Drrrrrtttt ... Drrrrrtttt...


"Telepon sayang." Ucapan Daniel tidak membuat Bella berhenti. Dia kembali terhanyut dalam percintaan manisnya, sehingga Daniel meraih ponsel tersebut tanpa melepaskan tangannya dari tubuh Bella." Ayah.." Terdengar tarikan nafas berat berhembus keluar dari hidung Bella.


"Angkat." Pinta Bella masih pada posisi yang sama meski kepalanya sudah di sandarkan pada pundak Daniel.


"Sebentar." Daniel duduk di pinggiran tempat tidur, sementara Bella mengangkat bokongnya dan duduk di samping. Maniknya menatap ke pinggang Daniel yang ternyata masih menggunakan celana pendek.


Ku fikir tidak memakai apapun.. Sia-sia aku memegangnya tadi.. Tubuhnya bagus sekali... Bella kembali sadar, jika tadi dia hampir lupa diri kalau tidak ada panggilan dari Pak Salim.


"Ya Ayah.


"Kamu harus berhati-hati.


"Berhati-hati?


Bella menoleh saat Daniel berkata itu, dia mendekatkan telinganya agar bisa mendengar obrolan via telepon tersebut.


"Iya Nak. Tadi Kirman bilang jika ada seseorang bermobil mewah datang lalu bertanya tentang Ayah. Dari ciri-cirinya, Ayah menduga itu Marco.


"Hm begitu.


"Jangan terlalu bersantai seperti ini Nak. Ayah takut terjadi sesuatu denganmu apalagi sekarang kamu punya tanggung jawab Bella.


Daniel melihat sebentar ke arah Bella dan membenarkan ucapan Pak Salim.


"Iya Ayah aku tahu. Aku akan baik-baik saja di sini. Jika memang begitu kenyataannya, Ayah juga harus hati-hati di sana.


"Bagaimana keadaan istrimu?


"Baik sekali. Dia sudah bisa menerima semuanya.


"Syukurlah jika begitu. Kamu harus lebih kuat Nak, sudah ada Bella yang harus kamu lindungi. Jangan teledor seperti kemarin hingga hampir menghilangkan nyawamu.


"Astaga Ayah. Aku ingat itu.


"Hm, Ayah mau mandi, ini habis dari kebun. Jika butuh sesuatu hubungi Ayah ya.


"Iya baik Yah.


Daniel meletakkan ponselnya dan melihat wajah khawatir Bella.


"Apa karena tadi pagi Kak?"


"Apa maksudmu sayang?"


"Mengurus kartu asuransi."


"Kurasa tidak." Daniel memang takut tapi ketakutannya tidaklah seperti dulu. Aku takut dia mengambil Bella dariku. Astaga Tuhan, apa yang ku fikirkan.. Aku akan berusaha mempertahankan harta berhargaku yang satu ini, bagaimanapun caranya...


************


"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Marco berpura-pura tidak tahu jika Jim sudah menipunya.


"Tidak ada pergerakan Tuan. Seperti biasa, gadis itu hanya sekolah lalu pulang."


Aku ingin tahu apa tujuannya..


"Aku ingin kau cari tahu biodata tentang pemilik rumah itu. Apa benar dia Daniel."


"Daniel?" Sahut Fanny yang baru saja datang.


"Hm ya." Jawab Marco cepat.


"Daniel lelaki tidak normal itu?" Tanya Fanny mengulang.


"Lalu Daniel siapa lagi? Jim kau keluar dulu." Pinta Marco.


"Baik Tuan." Jim melangkah keluar setelah melirik ke arah Fanny sebentar.


"Maksudmu Daniel sudah sembuh dan ingat semuanya? Katamu amnesia berat." Ucap Fanny ikut merasa panik. Dia tentu takut jika kejahatannya terbongkar sebab bukan hanya Marco yang akan mendekam di penjara, tapi dia juga.


"Aku tidak tahu. Dia masih ingat kejadian itu atau tidak. Itu kenapa aku menyuruh Jim memantaunya tapi dia juga menipuku." Fanny menarik nafas panjang mendengar itu. Dia tahu tentang info palsu yang di berikan Jim pada Marco karena itu adalah idenya.


"Menipu?"


"Ya! Dia memberikan informasi palsu padaku."


Wah gawat! Aku harus beritahu Jim nanti..


"Jika dia masih juga tidak bisa memberikan informasi yang akurat. Aku akan memecatnya besok."


Akan aku suruh Jim menyelidiki apa benar itu Daniel. Lelaki tidak normal itu..


"Aku tunggu laporannya besok. Jika benar itu Daniel, kita harus segera menghabisinya agar bangkai kita tidak terbongkar." Fanny melenggang keluar, sementara Marco memasang wajah cemas sejak tadi. Dia tengah memikirkan dua kemungkinan yang bisa saja terjadi.


Bisa jadi dia sembuh tapi melupakan semuanya atau dia sudah sembuh tapi mengingat semuanya dan sedang mempersiapkan amunisi untuk menghancurkan aku..


Marco selalu saja memiliki fikiran buruk. Dia menyamakan semua orang bersifat buruk seperti dirinya, sehingga hidupnya tidak pernah tenang meski bergelimang harta. Padahal nyatanya, Daniel tidak mengharapkan harta itu lagi dan ingin memulai semuanya dari Nol bersama Bella, gadis yang juga mulai Marco sukai.


~Riane


Alurnya memang berjalan melambat ya🤣


Harap bersabar😁❤️❤️

__ADS_1


Terimakasih 😚🥰


__ADS_2